Saturday, October 11, 2014

MERESPONI DENGAN “PANTAS” UNDANGAN SUKACITA ALLAH (Matius 22:1-14)



Bahan Khotbah Minggu, 12 Oktober 2014
Oleh. Pdt. Alokasih Gulo, M.Si

22:1     Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:
22:2     “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.
22:3     Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.
22:4     Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.
22:5     Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,
22:6     dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.
22:7     Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.
22:8     Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
22:9     Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.
22:10   Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
22:11   Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.
22:12   Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.
22:13   Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
22:14   Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”




KONTEKS PERUMPAMAAN
A.    Konteks Sebelum Teks
Teks ini merupakan perumpamaan yang terakhir dari tiga perumpamaanberturut-turut tentang penghakiman terhadap Israel (mulai pasal 21:28), terutamakepemimpinannya. Para pendengar tetap sama: Yesus berbicara kepada mereka lagi [terutama “imam-imam kepala dan orang-orang Farisià psl 21:45] dalam perumpamaan...” (22:1a). Ada koneksi yang jelas antara tiga perumpamaan: Masing-masing memiliki “tokoh yang berotoritas” (ayah, pemilik tanah, dan berturut-turut raja). Putra” atau anak” muncul dalam ketiga perumpamaan dimaksud. Perumpamaan dua dan tiga memiliki kesamaan kedua dalam hal kelompokhamba dan hukuman berat terhadap mereka yang menentang anak (21:41, 22:7).

B.     Konteks Sesudah Teks
Perumpamaan ini mempersiapkan jalan bagi empat hal-hal berikutnya yang kontroversi(22:15-46; membukakomentar pada 21:23-27), yaitu pertentangan antara Yesus(dan otoritas-Nya) dan orang-orang ke mana Dia mengarahkan tigaperumpamaan-Nya. Perumpamaan dan hal-hal kontroversi ini bersama-samamempersiapkan kecaman Yesus terhadap orang-orang Farisi dan ahli Taurat dipasal 23.

UNDANGAN PERJAMUAN KAWIN (SEJAJAR DENGAN LUKAS 14:16-24)
Dalam Lukas tuan rumah adalah seorang laki-laki,”, sedangkan dalam Matius adalah “raja.” Lukas berbicara hanya tentang “suatu perjamuan besar.” Dalam Matiusdisebutkan bahwa raja merencanakan “suatu perjamuan kawin” untuk anaknya. [Bentuk gamoß/ muncul delapan kali dalam 22:1-14. Secara umum, bentuk plural gamoi menunjukkan perayaan/perjamuan, berbeda dari pernikahan/perkawinan itu sendiri]. Selain itu, makandi Matius disebut ariston, “sarapan” atau “makan siang”,sedangkan dalam Lukas disebut deipnon, “makan petang/malam, makanan utama (menjelang malam)”. Dalam dinamikanya, perjamuan kawin dalam Matius jugaberlangsung di malam hari (22:13, melemparkannya ke luar ke dalam kegelapan”) oleh karena keterlambatan para tamu yang datang kemudian setelah undangan yang pertama ditolak, serangan atas kota mereka, dan penyebaran undangan baru (undangan kedua).

A.    Undangan Pertama dan Kedua
Adalah suatu adatkebiasaan pada saat itu (dan masih kebiasaan di Timur) bahwa ada undangan awalyang akan disebarkan bagi para tamu, diikuti oleh undangan kedua ketika pestasudah siap. Praktik ini tercermin dalam kedua perumpamaan(meskipun istilah yang agak berbeda) ... lihatLukas 14:16-17; Matius 22:3-4.

Ada perbedaan penting antara kedua Injil:
1.    Tempat. Dalam Lukas orang dalam kota itu yang pertama kali diundang (14:21), dan kemudian (seperti masih ada ruangbagi orang lain) mereka yang tinggaldi luar kota (“pergilah ke semua jalan dan lintasan,” ay. 23). Di Matius, tidak ada ruang untuk undangan lebih lanjut bagi orang di kota tersebut; dalam menanggapi perilakumereka yang menolak undangan pertama, sang raja menghancurkan kota mereka.
2.    Orang-orang. Dalam Lukas undangan yang baru pertama-tamaditujukan kepada orang miskin, orang cacat, orang buta dan lumpuh” (14:21), dan kemudian ternyata orang-orang tanpa pembedaan (v. 23). Dalam Matius raja secara tegasmembuat undangan untuk semua: “... pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu” (ay. 9). Hampir sama dengan Lukas, tetapi cara Matius mengeja kelengkapan undanganadalah dengan mengatakan bahwa para pelayan berkumpul semua orang yang bisa mereka temukan, jahat dan baik” (ay. 10).

B.     Respon (Tanggapan)
           1.      Menolak Undangan
Ada hubungan yang erat antara tiga tamu dalam Luk. 14:18-20 dan tiga tanggapan dalam Mat. 22:5-6 (di mana orang pergi ke ladangnya, untuk bisnis,dan “sisa” lainnya menangkap pelayan raja). Tetapi ada perbedaan yang luar biasa dalam hal “cara”masing-masing memberi respon. Dalam Lukas, para tamuagaknya telah menerima undangan awal. Setelah menerima undangankedua, para tamudengan sopan meminta maaf karena tidak bisa memenuhi undangan tersebut dengan alasan sesuatu baru saja terjadi” (“baru saja membeli ladang/lembu,” atau “baru saja menikah”). Tetapi dalam Matius kedua undangan(yang pertama dan kedua) ditolak sama sekali; dan nampaknya tidak ada sedikit pun tanda kesopanan: “tetapi mereka menolak untuk datang” (ayat3b); “tetapi mereka tidak mengindahkannya” (ay. 5a). Juga tidak ada buktiadanya keadaan/alasan khusus yang tidak dapat dihindari (seperti dalam Lukas). Dengan jelas disebutkan dalam Matius: “ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya” (ay. 5b-6). Kedua perumpamaan ini menggambarkan ketidakpedulian dankesibukan para tamu dengan hal-hal lain; Matius sendirian menyaksikan permusuhan terhadap raja dan hamba-hambanya.

Asumsi awal yang mendasari perumpamaanini adalah bahwa semua orang ingindiundang ke perjamuan kawin. Demikianlah perjamuan kawin di kota-kota Palestina sertadalam Kerajaan Surga. Tak seorang pun di zaman Yesus yang menolak undangan pesta pernikahandan terutama pada perjamuan eskatologisdalam Kerajaan Surga. Penolakan terhadap undangan ini berarti dengan sengaja menolak panggilan kasih karunia Allah, dan itulah yang dilakukan oleh umat Israel dan Yahudi pada zaman Yesus. Penolakan terhadap undangan untuk datang ke perjamuan kawin ini ada hubungannya dengan penolakan terhadap Yesus beserta jalan damai dari Tuhan.

Kesimpulan dari bagian pertama dari perumpamaan tentang undangan ini adalah tentang undangan kepada semua orang, Yahudi dan bukan Yahudi, kaya dan miskin, ..., untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sayang sekali, banyak orang yang dengan sengaja menolak undangan itu, menolak kasih karunia Tuhan, menolak merayakan sukacita ilahi dalam Kerajaan Surga. Penolakan dengan berbagai versi ini dapat ditemukan di segala zaman, tempat, dan konteks. Bukan hal baru lagi sekarang kalau banyak orang yang dengan sengaja, atau mencari-cari alasan untuk tidak peduli terhadap undangan atau ajakan untuk merayakan sukacita ilahi dalam Kerajaan Surga.

            2.      Orang tanpa Pakaian Pesta
Matius 22:11-14 tidak memiliki kesejajaran/perbandingandalam perumpamaan Lukas. Pakaian Pesta” (Yun. endyma gamou) tidak berarti “pakaiankhusus, dipakai pada acara-acara perayaan, tetapi pakaian yang baru dicuci... pakaian kotor dimaksud dianggap sebagai penghinaan terhadap tuan rumah”.

Tamutanpa pakaian pesta menerima kecaman keras. Orang akan mengira, bahwa ia miskin dan tidak punya cukup uang untuk membeli pakaianpesta untuk dipakai. Khusus untukperjamuan kawin dalam Kerajaan Surga, kita harapkan dia akan disambut dengan baik, bahkan tanpa pakaian yang layak sekali pun. Perlakuan keras yang tak terduga yang ia terima dari tuannya mirip dengan perumpamaan tentang talentadimana hamba dengan satu talenta juga “dilemparkan ke kegelapan yang paling gelap” (Matius 25:30). Hukuman yang diberikan tampaknya berlebihan untuk pelanggaran tersebut. Oleh karena itu, perumpamaan ini membutuhkan refleksi mendalam dan hati-hati.

Normakomunitas Yahudi pada abad pertamaadalah bahwa setiap orang memakai pakaian pesta untuk perjamuan kawin. Artinya, datang pada perjamuan itu tanpa memakai pakaian pesta akan menjadi suatu penghinaan terhadap tuan rumah (fangosiwawöi, fango’aya), dan hal ini tidak bisa ditolerir. Hal itu akan menjadi tanda ketidakpedulian terhadap tradisi dan adat. Nampaknya, bagian ini hendak mengatakan bahwa orang yang tidak memakai pakaian pesta tersebut telah menunjukkan penghinaannya terhadap tuan rumah sekaligus ketidakpedulian atau pengabaiannya akan hukum, dalam hal ini dapat dihubungkan dengan ketidakpedulian terhadap Taurat dan berbagai hukum yang terkait dengannya (ingat, pembaca awal Matius adalah keturunan Yahudi). Perumpamaan ini nampaknya terhubung dengan Khotbah di Bukit: “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Mat. 5:18).

Tidak memakai pakaian pesta dalam perumpamaan ini ada hubungannya dengan “keangkuhan” dari setiap orang yang menganggap diri telah berada dalam pesta tersebut, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengubah hal itu atau yang dapat mengusirnya, yaitu anggapan bahwa dia boleh datang untukmerayakan pesta dimaksud sesuka hatinya dengan caranya sendiri. Tanggapan pemilik pesta terhadapnya sungguh tanpa ampun. Jadi akhirperumpamaan ini adalah panggilan kebangunan untuk siapa saja yang cukup sombong dengan berpikir bahwa toh kita telah otomatis menjadi anggota Kerajaan Surga, dan karenanya peduli amat dengan keinginan tuan rumah. Harapannyaadalah bahwa orang-orang yang telah dipanggil ke perjamuan juga harus memperhatikan hal-hal ini, yaitu “melakukan keadilan, belas kasih, mengasihi dan berjalan dengan rendah hatibersama Allahsebagaimana dikatakan Yesus dalam Mat. 23:23.

C.    Keluasan Panggilan Allah
Undangan raja dalam perumpamaan ini sungguh luas: pertama kali disampaikan di seluruh kota, kemudian di sekitarnya. Yesus menyimpulkan perumpamaan-Nya tentang undangan ini dengan kata-kata, Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (ay. 14). Kata-kata ini sangat penting untuk memahami 13 ayat terdahulu. Untuk saat ini kita mengamati suatu kesaksian bahwa panggilan Allah ditujukan kepada semua. Kata “banyak” (polloi) dalam ayat ini tidak hanya meliputi mereka yang berkumpul setelah penghancurankota, tetapi juga mereka yang diundang sejak awal. Rangkaian undangan sesuai dengan deklarasi Allahakan kebenaran Kerajaan-Nya dan Putra-Nya, yaitu pertama-tama kepada Israel dan kemudian ke negara-negara non-Yahudi.

Pertama-tama memang undangan sang raja untuk masuk dalam sukacita pestanya ditujukan bagi umat Israel (bnd. Mat. 15:24), tetapi undangan itu kemudian ditujukan juga kepada setiap orang tanpa pandang bulu dari berbagai bangsa (bnd. Mat. 4:23-25). Kita sudah pasti bagaimana umat Israel, orang-orang Yahudi, terutama para pemimpinnya, dengan sengaja menolak para nabi Allah sejak zaman PL, mereka bahkan menolah Putra Allah, yaitu Yesus hingga membunuh-Nya tanpa ragu. Penolakan umat Israel dan Yahudi ini justru telah membuka “jalan” yang lebih luas bagi bangsa-bangsa di segala tempat dan konteks, untuk masuk ke dalam pesta sukacita Kerajaan Surga. Hal ini merupakan anugerah Allah, diberikan dengan cuma-cuma, gratis, “murah” tetapi tidak “murahan”.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...