Monday, December 24, 2012

Kalau Juruselamat Sudah Datang, Apa Lagi yang Kita Takuti? (Lukas 2:8-11)

Renungan Natal 25 Desember 2012
Oleh Pdt. Alokasih Gulo


Ay.
Luka 2:8-11
Lukas 2:8-11
2:8
Ba so gubalo ba danöra andrö, si mörö ba danö, manaro biribirira ba zi bongi.
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
2:9
Ba i’ondrasi ira mala’ika Zo’aya, ba ifasui ira haga Zo’aya, ba oi si wa’ata’ura.
Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
2:10
Ba imane khöra mala’ika andrö: “Böi mi’ata’ufi. Hiza sa, uturiagö khömi wa’omuso dödö sabölöbölö, si rugi niha fefu dania.
Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
2:11
Me no tumbu khömi Zangorifi andrö, bongi andre, Keriso So’aya ba mbanua Dawido
Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.


·         Gembala pada zaman dulu, termasuk pada zaman perjanjian baru, dianggap sebagai salah satu kasta/kelompok/kelas masyarakat yang rendah. Mereka tinggal di luar kota dan tidak diperkenankan terlibat dalam banyak kegiatan atau peristiwa penting. Tetapi, kepada siapakah para malaikat memberitakan berita baik? Siapakah yang mendengar nyanyian bala tentara surga yang memuji Allah? Yaitu gembala. Bertolak belakang bukan? Mereka yang disingkirkan oleh masyarakat justru menjadi orang yang pertama mendengar berita baik itu. Atau lebih tepatnya, kepada orang-orang yang disingkirkan itulah Allah justru memberitakan berita baik, yaitu bahwa Juruselamat telah lahir.


·         Kita hidup saat ini di dunia yang penuh dengan tragedi atau penuh dengan berbagai peristiwa yang memprihatinkan, menyedihkan, memilukan, dan menakutkan. Berita sukacita itu dibutuhkan oleh dunia pada umumnya, dan setiap orang pada khususnya. Mengapa? Karena hidup kita selalu dibayangi oleh penderitaan, kesedihan, dukacita, kegelisahan, keuatiran, dan ketakutan. Kisah Natal seperti diceritakan oleh Injil Lukas ini bukan hanya sekadar berita BAIK, melainkan berita TERBAIK bagi dunia. Hal ini terlihat jelas dari perkataan malaikat kepada para gembala tersebut: “...aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (ay. 10-11).


·         Tahun yang lalu, saya mendapatkan SMS ucapan selamat Natal dari seorang teman, katanya: “Kalau dunia ini kekurangan hanya kebutuhan hidup sehari-hari maka Allah tentunya mengutus ahli ekonomi bagi kita ..., kalau kebodohan saja masalah dunia ini, maka Allah akan mengutus orang yang pintar atau orang yang pendidikannya tinggi (profesor) bagi dunia ini ..., namun, bukan itu semua masalah dunia kita. Masalah utama kita adalah bahwa dunia telah jatuh dalam berbagai bentuk dosa, dan karenanya kita membutuhkan orang yang mampu membebaskan kita dari perbudakan dosa itu, kita membutuhkan orang yang mampu memulihkan  dan mendamaikan kita. Itulah sebabnya Allah mengutus anak-Nya Yesus Kristus bagi kita, bukan ahli ekonomi, bukan kaum intelektual atau profesor, bukan juga ahli bedah, atau ahli kecantikan, dll. Kita sudah dikuasai oleh keduniawian, persaingan tidak sehat, kegelisahan, kekuatiran, dan ketakutan, dan itu semua berhubungan dengan “masalah hidup” dalam pengertian yang luas (fisik, mental/jiwa, psiko-sosial, dan spiritual). Dalam konteks itu kita membutuhkan Tuhan Yesus, karena hanya Dialah yang memampukan kita melewati segala bentuk “tragedi” dunia ini. 


·         Memang, sebagai manusia yang penuh dengan keterbatasan dan kelemahan, kita pantas takut, pantas gelisah dan kuatir. Namun, kalau Pembela kita sudah datang, kalau Penyelamat kita sudah datang, untuk apa kita takut, untuk apa kita

·      Banyak orang dalam hidup ini selalu merasa “kecil” hanya karena tidak mempunyai banyak dalam ukuran dunia, hanya karena merasa banyak kelemahan atau kekurangan, hanya karena secara ekonomi dia lemah, hanya karena pendidikannya rendah, hanya karena status sosialnya rendah, atau juga karena sering dianggap “kecil/rendah” oleh masyarakatnya. Namun, berita sukacita yang disampaikan oleh malaikat pada hari ini, menegaskan bahwa kita tidak perlu merasa “kecil” dengan alasan apa pun, kita tidak perlu merasa “rendah” dan tidak berguna apa pun latar belakangnya. Sekali lagi, kalau Pembela dan Penyelamat kita sudah datang, apa lagi yang kita takuti?


Selamat Natal


Sunday, December 23, 2012

Dari yang Terkecil Muncul Pemimpin Besar (Mikha 5:1-5)


Renungan Minggu Adven IV (Minggu, 23 Desember 2012)
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo


Selamat Hari Ibu!

Alkitab BIS
5:1
TUHAN berkata, "Hai Betlehem Efrata, engkau salah satu kota yang terkecil di Yehuda! Tetapi dari engkau akan Kubangkitkan seorang penguasa untuk Israel yang asal usulnya dari dahulu kala."
5:2
Jadi, TUHAN akan membiarkan umat-Nya dikuasai oleh musuh-musuh mereka sampai wanita yang ditentukan untuk menjadi ibu penguasa itu telah melahirkan Dia. Sesudah itu orang-orang sebangsanya yang berada di pembuangan akan dipersatukan kembali dengan bangsa mereka.
5:3
Apabila penguasa itu datang, Ia akan memerintah umat-Nya dengan kekuatan dan kekuasaan dari TUHAN Allahnya sendiri. Umat-Nya akan hidup dengan aman, karena semua orang di seluruh dunia akan mengakui kebesaran-Nya,
5:4
dan Ia akan memberikan kedamaian. Apabila tentara Asyur menyerbu negeri kita dan mendobrak pertahanan kita, kita akan mengerahkan pemimpin-pemimpin kita yang terkuat untuk memerangi mereka.
5:5
Pemimpin-pemimpin kita itu akan mengalahkan Asyur dengan kekuatan senjata, dan menyelamatkan kita dari tangan mereka.


Menjadi yang terkecil tentu kuranglah membahagiakan. Mendapat bagian kecil dalam suatu pembagian juga kurang menggembirakan (ingat misalnya distribusi bantuan kemanusiaan, saling berebut, jangan sampai mendapat bagian yang sedikit atau terkecil). Atau, menjadi kaum minoritas sebenarnya kurang menyenangkan (bandingkan misalnya dengan keberadaan orang-orang Kristen di Indonesia, atau keberadaan kaum Muslim di Amerika). Dan, sesuatu yang menyakitkan apabila yang terkecil itu diabaikan oleh orang-orang dekatnya, oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pembelanya. Memang, ada istilah “kecil itu indah”, tetapi ketika ia diabaikan, disingkirkan, didiskriminasi, dipandang sebelah mata, ditindas, dan mungkin saja diperas seperti sapi perah, tentu yang dirasakan bukan lagi “ke-indah-an” melainkan “ke-sakit-an” dan “ke-pedih-an”.

Perasaan yang kurang menyenangkan seperti itulah yang juga dirasakan oleh sebuah kota kecil di Yehuda pada zaman nabi Mikha, yaitu kota Betlehem Efrata. Kota ini memang sebuah kota kecil di antara kota-kota lain di Yehuda pada waktu itu; karenanya kota ini kurang diperhatikan dan diperhitungkan secara politik, sosial-ekonomi, bahkan agama. Secara politik dan ekonomi, kota ini tidak dapat memberikan harapan yang menggembirakan bagi para penguasa pemerintahan dan agama pada waktu itu, dan karenanya kota ini tidak mendapat tempat yang signifikan di hati para penguasa. Jadi, kita bisa membayangkan kalau secara sosio-psikologis para penduduknya merasa tidak berdaya menghadapi situasi sulit seperti itu, dan pada akhirnya mereka hanya berserah saja pada “nasib”.

Namun, siapa sangka saudara-saudari, kalau ternyata dari kota kecil yang pengharapannya hampir sirna inilah kemudian muncul pemimpin besar, pemimpin yang pemerintahannya jauh melampaui batas-batas wilayah Israel dan Yehuda. Siapa sangka saudara-saudari, kalau ternyata kota kecil ini kemudian menjadi pusat perhatian internasional karena dari padanyalah bangkit pemimpin terbesar itu. Siapa sangka, kalau ternyata dari yang terkecil muncullah pemimpin besar.

Dan, kemunculan pemimpin besar inilah yang dijanjikan oleh Tuhan Allah ketika para pemimpin Israel/Yehuda pada zaman nabi Mikha berpesta-pora melakukan korupsi, ketika para nabi palsu bersibuk-ria menawarkan jasanya, ketika para imam berubah menjadi fasik, ketika para pedagang semakin tidak jujur, dan ketika para hakim suka menerima suap. Janji pengharapan inilah yang disuarakan oleh nabi Mikha ketika pada waktu itu praktik ketidakadilan terjadi di mana-mana, ketika penindasan para petani dan penduduk desa semakin menggila, ketika keserakahan, kekikiran, kebejatan dan penyembahan berhala semakin menguasai umat dan para pemimpin Israel/Yehuda, dan ketika mereka terus bersikeras melakukan kejahatan. Berita sukacita tentang munculnya pemimpin besar inilah yang kemudian menjadi pokok pemberitaan nabi Mikha setelah dia mengecam bangsa Israel/Yehuda pada waktu itu, setelah ia meramalkan kejatuhan Israel dan ibu kotanya Samaria (Mi 1:6-7) dan juga kejatuhan Yehuda dan ibu kotanya, Yerusalem (Mi 1:9-16; Mi 3:9-12).

Lalu, apakah kata-kata penghiburan dalam teks ini hanya semacam shock therapy bagi kaum terkecil itu? Atau hanya semacam obat penenang saja seperti pernah dikatakan oleh sosiolog Karl Marx bahwa agama itu hanyalah sekadar obat bius bagi manusia?  Bisa ya bisa tidak! (Dalam sejarah gereja juga kita dapat melihat bagaimana agama khususnya gereja sering melakukan pemberitaan yang sifatnya hanya membius atau menina-bobokan manusia). Namun, saat ini kita bisa mengatakan bahwa penghiburan itu tidak sekadar shock therapy, juga tidak sekadar obat bius! Mengapa? Karena janji pengharapan itu telah tergenapi melalui kedatangan Kristus ke dunia.

Sekarang, penghiburan seperti apa yang disampaikan kepada kaum terkecil ini? Janji pengharapan seperti apa yang dinubuatkan itu? Yaitu bahwa akan muncul seorang yang memerintah Israel/Yehuda (ay. 1). Seperti apa orang yang memerintah itu? Dan bagaimana akibat dari kedatangannya itu?
-          Ia sudah ada sejak dahulu kala. Jadi rencana kedatangan-Nya bukan rencana yang sporadis atau musiman, bukan rencana asal-asalan, bukan rencana yang tidak pernah ditepati. Dan sekarang pemimpin besar itu datang setelah sekian lama umat Tuhan dibiarkan untuk dikuasai oleh bangsa lain, yaitu Asyur (ay. 2) karena kekerasan hati mereka dan karena pemberontakan mereka terhadap Allah.
-          Ia akan bertindak dan akan menggembalakan umat Tuhan dalam kekuatan TUHAN, dan dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya, sehingga umat-Nya yang berada di pembuangan akan kembali ke tanah leluhur merek (ay. 2), dan mereka dapat hidup dengan aman dan tanpa gangguan, sebab kebesaran nama-Nya itu telah membuat bangsa-bangsa lain di bumi menyegani-Nya, dan karenanya mereka tidak akan mengganggu lagi umat yang dipimpin-Nya itu (ay. 3). Hal ini ditegaskan lagi di ayat 4b-5, bahwa setiap ancaman yang datang, termasuk dari musuh mereka yang cukup menakutkan pada waktu itu, yaitu Asyur, akan dikalahkan, dan akan dicukur habis. Apa artinya? Yaitu bahwa pemimpin besar yang muncul atau bangkit dari kota kecil Betlehem Efrata itu, akan menjadi sumber damai sejahtera, karena Dia sendiri akan memberikan kedamaian itu bagi umat-Nya.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Seorang guru besar sejarah perjanjian lama di salah satu perguruan tinggi di Indonesia pernah mengatakan bahwa “Natal itu adalah untuk orang-orang kecil”. Saya kira, teks renungan kita di Minggu adven IV ini membuktikan bahwa kedatangan Kristus memang terutama bagi orang-orang kecil, yaitu bagi mereka yang selama ini telah dipinggirkan, didiskriminasi, diabaikan, dipandang sebelah mata, dianggap kecil dan tidak berguna, dan kepada mereka yang kemanusiaannya telah diinjak-injak oleh orang-orang yang menganggap diri lebih besar dari yang lain, oleh orang-orang yang menganggap diri lebih hebat dan berkuasa dari yang lain. Kita masih bisa menyaksikan bagaimana “yang terkecil” sering mendapat perlakuan tidak manusiawi, sering tidak diminta dan didengarkan pendapatnya bahkan tentang dirinya sendiri, sering diperlakukan semena-mena oleh para penguasa bahkan oleh mereka yang selama ini “memperkenalkan” diri sebagai pejuang kemanusiaan manusia. Akhir-akhir ini kita telah menyaksikan bagaimana perjuangan para buruh untuk mendapatkan gaji/upah yang layak karena sekian lama mereka diperlakukan tidak adil, karena sekian lama mereka diperlakukan seperti sapi perah oleh para penguasa dan pengusaha di negeri yang relijius ini. Kita dapat menyaksikan betapa banyaknya orang yang tidak mendapatkan pelayanan yang manusiawi di berbagai lembaga swasta dan pemerintahan, di rumah sakit misalnya, di berbagai kantor instansi pemerintahan, bahkan di gereja sendiri (salah satu contohnya adalah ketika ada oknum di MA yang mengusir salah seorang rakyat hanya karena ybs berpakaian lusuh). Contoh-contoh ini masih bisa diuraikan lebih panjang lagi.

Namun saudara-saudari, pada saat ini juga kita diingatkan dan diteguhkan bahwa pemerintahan Allah yang jauh melebihi kekuasaan si(apa) pun pasti dapat memulihkan kemanusiaan orang-orang yang selama ini terinjak-injak oleh aneka kejahatan, kekerasan, dan kekuasaan dunia itu. Kita diajak untuk tidak mengabaikan “yang terkecil”, dan untuk tidak terjebak dalam semacam sindrom minoritas. Melalui kelahiran Yesus di Betlehem (yang dua hari lagi kita akan merayakan Natal), Allah merombak cara pandang dan sikap manusia, untuk tidak meremehkan hal-hal yang kecil. Kehidupan ini tidak terletak di dalam kecil atau besar, tetapi di tangan siapa yang kecil dan besar itu berada. Dan kita percaya bahwa hidup kita, entah kecil atau besar, berada dalam naungan kasih Kristus, sang Pemimpin Besar kita yang muncul dari kota kecil Betlehem Efrata. Ternyata, kebesaran itu tidaklah terletak pada parameter manusia seperti keadaan geografis, jumlah penduduk, kekuatan militer, melainkan pada kuasa dan campur tangan Allah sendiri. Seperti diungkapkan dalam Matius 2:6 : “…Engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil”. Sesuatu yang tidak penting, kurang berarti, kurang diperhitungkan dibandingkan dengan yang lain dalam penilaian manusia dapat dijadikan Allah sebagai sesuatu yang penting, dan bahkan menjadi sumber sukacita dan damai sejahtera.

Selamat mengakhiri minggu adven, dan selamat merayakan Natal.
Tuhan memberkati kita semua.


Saturday, December 15, 2012

Pemulihan yang Mendatangkan Sukacita Besar (Zefanya 3:14-20)


Renungan Minggu Adven III
Minggu, 16 Desember 2012
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo

3:14
Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!
A’iki, ya’ugö ono Ziona alawe, mi’owuawua’ö dödömi, ya’ami Iraono Gizeraeli! Omusoi’ö dödöu, ba a’iki, moroi si’aikö ba dödöu, ya’ugö ono Yeruzalema alawe!
3:15
TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.
No iböda wangotu’ö ya’ugö Yehowa, no itimba nemalimö andrö! No so ba khömi razo Ndraono Gizeraeli andrö, Yehowa: lö’ö sa’ae itörö ndra’ugö si lö sökhi
3:16
Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.
Ba na luo da’ö, ba lamane ba mbanua Yeruzalema: Böi mibusi dödömi! Böi adada dangami, ya’ami Siona!
3:17
TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai,
No so ba khömi Lowalangimi Yehowa, sabölö; möna ami ibe’e. Omuso dödönia ndra’ugö, owuawua dödö; lö hedehedenia, ba wa’omasinia andrö; ma’iki ia, owuawua dödönia ndra’ugö.
3:18
seperti pada hari pertemuan raya.” “Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela.
Sabu tödö andrö, me lö lakhamö gowasa, ba u’ozaragö, no iwami ira, ba no tohare wa’aila.
3:19
Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi.
Ba na luo da’ö, ba ulau ba zamakao ya’ugö fefu; ba u’orifi zi no mangohole’ö ya’ira ba u’ozaragö zi no muzaewe, ba ubali’ö fanuno ya’ira ba fangebua döira wa’ailara andrö, ba gulidanö ma’asagörö.
3:20
Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka,” firman TUHAN.
Na luo da’ö, ba u’ohe mangawuli ami, na luo u’ozaragö ami. Ubali’ö nisuno sa’ae ami ba sebua töi ba niha ba gulidanö fefu, na ufuli utolo ami, ba zanehe ami iwa’ö Yehowa.

Teks ini merupakan ajakan untuk bersukacita dan bangkit kembali (ay. 14, 16), setelah sekian lama umat Tuhan berada dalam kondisi yang terpuruk, baik sosial politik, ekonomi, keadilan, moral, dan spiritual. Keterpurukan ini semakin menyedihkan ketika Allah menghukum umat-Nya sendiri yang sudah hidup jauh dari kehendak Allah. Hukuman itu hendak mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari hukuman Tuhan, baik umat Allah maupun bangsa-bangsa lain. Tetapi, sekarang umat Tuhan diajak untuk bersukacita karena masa-masa keterpurukan itu sudah berlalu. Allah sendiri berinisiatif untuk memulihkan, membebaskan, dan menyelamatkan umat-Nya. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi rencana kasih Allah bagi umat-Nya, bahkan bagi siapa pun.

Lalu, apa yang Allah lakukan? Pemulihan seperti apa yang Dia lakukan yang olehnya umat Tuhan patut bersukacita?
-         Penghukuman digantikan dengan kehadiran dan pemerintahan Allah (ay. 15). Artinya, penghukuman yang selama ini dialami oleh umat Tuhan dan dipahami sebagai ketidakhadiran Allah di antara mereka, sekarang Allah sendiri membuktikan bahwa Dia tetap hadir dan memerintah umat-Nya itu. Kehadiran Allah ini mendatangkan sukacita besar, mendatangkan rasa nyaman dan aman, dan membangkitkan kembali kepercayaan diri umat Tuhan. Siapa yang tidak senang dan bersukacita kalau sang Pelindung dan Pengayom hadir dalam hidupnya?

-         Malapetaka, musuh, ancaman, dan penindas digantikan dengan kemenangan (ay. 15, 16, 18, 19). Kalau sebelumnya umat Tuhan mengalami penindasan, hidup di bawah ancaman musuh-musuh mereka, dan selalu mengalami kekalahan, sekarang Allah mendatangkan kemenangan bagi mereka; dan kemenangan ini merupakan suatu sukacita besar yang tidak dapat diberikan oleh siapa pun.

-         Cela dan malu digantikan dengan kenamaan dan pujian (ay. 18, 19). Secara psikologis, kekalahan dan pembuangan yang dialami oleh umat Tuhan mendatangkan cela dan rasa malu yang luar biasa, apalagi kalau diperhadapkan dengan status mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan. Betapa cela dan malunya mereka! Sekarang, dengan kehadiran dan pemerintahan Allah, cela dan rasa malu itu digantikan dengan kenamaan dan pujian; status mereka sebagai umat Tuhan yang sempat pudar/redup, kini dipulihkan seperti sedia kala ketika bangsa itu terkenal di mana-mana.

-         Ketakutan dan kelemah-lesuan digantikan dengan pembaharuan dan pemulihan holistik (menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar, dan pemulangan ke tanah perjanjian, ay. 16, 17, 19). Sungguh tidak enak hidup di bawah ancaman orang lain, atau ancaman si(apa) pun, sungguh tidak enak hidup dalam ketakutan; tetapi itulah yang dialami oleh umat Tuhan ketika mereka mendapat hukuman Tuhan. Siapa yang tidak merindukan kebebasan dari rasa takut dan kelemah-lesuan itu? Dan Tuhan tahu situasi ini; karenanya Dia melakukan pembaharuan dan pemulihan holistik. Kalau Tuhan sendiri hadir dan memerintah mereka, tentu rasa takut dan kelemah-lesuan tidak ada lagi; kalau Pelindung yang sejati sudah ada, apa lagi yang perlu ditakuti? Kalau Penyelamat itu datang mengumpulkan dan memulangkan mereka ke tanah perjanjian, apa lagi yang perlu dikuatirkan? Apalah kelemah-lesuan, apalah ketakutan, apalah kepincangan dan sejenisnya, bila dibandingkan dengan kasih Tuhan yang begitu besar? Rasul Paulus pernah mengekspresikan bagaimana kasih Tuhan itu dapat mengalahkan segalanya: Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”(Roma 8:35, 38-39).

Itulah gambaran pemulihan yang dilakukan oleh Allah bagi umat-Nya! Jadi, siapakah yang tidak bersyukur dan bersukacita atas pemulihan tersebut? Siapakah yang tidak akan bersorak-sorai kalau keadaannya yang terpuruk dipulihkan secara luar biasa oleh Tuhan? Dalam rangka sukacita karena pemulihan seperti inilah Zefanya mengajak kita untuk bersukacita.

Saya percaya bahwa kita pernah mengalami masa-masa kritis, atau keadaan terpuruk, baik dalam aspek ekonomi, sosial politik, budaya, dan spiritual. Banyak orang yang pernah mengalami krisis keluarga, krisis moral, krisis kepercayaan, krisis iman, krisis persahabatan, krisis studi, krisis keuangan, dan berbagai krisis lainnya. Di saat-saat seperti itu kita tentunya merindukan pemulihan; kita merindukan restorasi kehidupan. Tuhan mau dan mampu memulihkan keadaan kita, sebaliknya kita harus siap dan mau dipulihkan oleh Tuhan dengan segala konsekuensinya. Pemulihan itu juga hendak mengajak kita untuk tetap setia kepada Tuhan, dan mewujudnyatakan kesetiaan itu melalui tindakan keadilan dan kebenaran di dunia ini. Kita dipulihkan untuk kemudian menjadi agen pemulihan; kita dibebaskan untuk kemudian menjadi agen pembebasan; kita didamaikan untuk kemudian menjadi agen pendamaian. Dalam kerangka itulah pemulihan kita dapat menjadi sukacita besar dalam hidup masing-masing, sesama, lingkungan, dan Tuhan sendiri.


Saturday, December 8, 2012

Kedatangan Tuhan: Wujud Kesetiaan-Nya, Pemurnian Umat-Nya (Maleakhi 3:1-4)


Khotbah Minggu Adven II, 09 Desember 2012
Pdt. Alokasih Gulo

3:1   Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.
3:2   Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.
3:3   Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.
3:4   Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan menyaksikan banyaknya orang (terutama para pejabat pemerintah) yang mendapat hukuman karena berbagai kasus yang menimpa mereka, terutama kasus korupsi. Kita memang tidak tahu pasti bagaimana reaksi mereka ketika ‘harus’ menjalani hukuman, demikian juga reaksi mereka setelah bebas dari penjara. Tentu reaksi mereka tidaklah sama satu dengan yang lain, tergantung dari bagaimana setiap orang berefleksi pasca hukuman tersebut. Ada yang mencoba belajar dari pengalamannya itu dengan melakukan perubahan dan komitmen untuk hidup lebih baik ke depan; ada juga yang justru tidak peduli dengan hukuman yang pernah dijalaninya itu dan malah dengan semakin berani mengulangi perbuatannya itu. Karena keterbatasan konteks kita saat ini, saya tidak akan menguraikan di sini satu-persatu kemungkinan apa saja yang menggambarkan reaksi mereka.

Bagaimana dengan umat Tuhan, dhiorang Yehuda, ketika mereka mendapatkan hukuman dari Tuhan dengan mengalami pembuangan ke negeri orang? Bagaimana reaksi mereka setelah mereka kembali ke tanah mereka di Palestina? Apakah mereka mencoba berefleksi dan belajar dari kesalahan mereka, dan kemudian bertobat? Atau, apakah mereka justru semakin “menggila” dalam melakukan perbuatan yang tidak baik? Atau bagaimana?

Secara umum, pasca pembuangan itu orang Yahudi bereaksi secara ‘negatif’. Mereka mengalami kesusahan dan kemunduran rohani bahkan dalam berbagai aspek kehidupan yang lain. Mereka menjadi sinis, meragukan kasih dan janji Allah, menyangsikan keadilan-Nya dan tidak percaya lagi bahwa ketaatan kepada perintah Tuhan itu berguna. Seiring dengan memudarnya iman, maka pelaksanaan ibadah juga menjadi asal-asalan, bahkan cenderung menghinakan nama Tuhan. Mari kita lihat sejenak apa saja persoalan mendasar tersebut yang mengelilingi nas renungan kita hari ini.

1)      Praktik ibadah/persembahan kepada TUHAN
      - Fangaohasi Lowalangi : TUHAN tidak dihormati dan ditakuti (1:6), korban persembahan yang ditujukan untuk TUHAN dihinakan (1:12 dst). Pelaku utama dari perbuatan ini adalah para imam.
      - Fa lö ba dödö fawu’usa li khö Lowalangi (mengabaikan perjanjian dengan Allah). Pada intinya perjanjian dengan Allah pada satu sisi adalah kehidupan, dan pada sisi lain mesti diresponi oleh umat Tuhan dengan ketakutan kepada-Nya (2:5). Sayang sekali, umat TUHAN melanggar perjanjian itu dengan tidak takut kepada TUHAN, malah membuat umat TUHAN itu tergelincir ... (2:8-9). Pelaku utama dari kesalahan ini lagi-lagi para imam.
2)      Lalimo Lowalangi fe’era (menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, 2:13) : “air mata buaya”
3)      Tidak setia terhadap perkawinan mereka yang sah (2:14 dst).
4)      Ketidaksetiaan kepada Tuhan dan Berbagai Tindakan Ketidakadilan (3:5)

Itulah sebabnya Maleakhi mengajak para imam dan umat Tuhan untuk bertobat, kembali kepada Tuhan, dan menaati perjanjian dengan-Nya. Maleakhi mengingatkan bahwa Tuhan pasti datang dengan didahului oleh kedatangan utusan-Nya (3:1). Kedatangan Tuhan tersebut merupakan wujud dari kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya, dan pada saat yang sama kedatangan-Nya itu juga merupakan tindakan pemurnian umat-Nya (bnd. ilustrasi pemurnian dan pentahiran perak/emas di ayat 2). Tentu, dalam tindakan pemurnian/pentahiran itu ada proses yang harus berlangsung, dan bagi Maleakhi tidak ada seorang pun yang dapat mengelak dari proses itu. Hal ini juga mau mengatakan bahwa segala bentuk kenajisan umat Tuhan akan ditahirkan; dalam kerangka itulah hukuman Tuhan diberlakukan. Tujuannya apa? Ayat 3 dan 4 menjawabnya: “supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah”.

Tuhan datang untuk membuktikan bahwa Dia itu setia pada perjanjian-Nya, yaitu perjanjian keselamatan dan kehidupan bagi kita. Pada saat yang sama Tuhan datang untuk mentahirkan dan memurnikan kita, tentu dengan cara-Nya sendiri dan dengan segala konsekuensinya. Untuk apa? Menyenangkan hati Tuhan sendiri, itulah intinya! Wow, mulia betul ..., menyenangkan hati Tuhan; saya teringat sebuah lagu rohani “... menyenangkan-Mu hanya itu kerinduanku ...”. Pertanyaannya ialah bagaimana kita menyenangkan hati Tuhan selama ini? Atau, karena Tuhan pasti datang, bagaimana kita menyenangkan hati-Nya? Apakah perayaan kita menyenangkan hati Tuhan, atau jangan-jangan hanya menyenangkan “nafsu” kita sendiri? Apakah cukup dengan persembahan kita? Apakah cukup dengan berbagai persembahan melalui kegiatan diakonia karitatif itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini masih dapat diteruskan lagi menurut kedalaman refleksi kita di minggu-minggu adven ini. Hanya saja, perlu kita sadari bahwa Tuhan tidak dapat kita permainkan dengan persembahan yang kita berikan, dengan ibadah berbagai model, dengan air mata dan sejenisnya. Tuhan hanya meminta kita untuk setia, setia kepada-Nya, setia terhadap tugas dan tanggung jawab masing-masing, setia terhadap perkawinan, dan menjadi pelaku keadilan dalam segala aspek kehidupan.


Saturday, December 1, 2012

Janji dan Pengharapan Orang Percaya (Yeremia 33:14-16)

Bahan Khotbah Minggu Adven I, 2 Desember 2012
by. Pdt. Alokasih Gulo

33:14 “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda.
33:15 Pada waktu itu dan pada masa itu Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri.
33:16 Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka akan dipanggil: TUHAN keadilan kita!

Hari ini, tanggal 2 Desember 2012, kita mulai memasuki masa adven. Adven berasal dari bahasa latin “adventus”, yang berarti kedatangan, dan dalam konteks kekristenan adven berarti kedatangan Tuhan. Dalam hal ini, kita menantikan/merayakan kedatangan Tuhan Yesus yang telah lahir di bumi ini sekaligus menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam penantian itu kita mempersiapkan diri seutuhnya, merenungkan bagaimana kita telah diselamatkan oleh kasih Tuhan, dan bagaimana kita menjalani kehidupan kita di dunia ini. Untuk menolong kita melakukan perenungan itu, maka setiap minggu adven dilakukan penyalaan lilin, dan hari ini adalah lilin pertama. Lilin pertama ini disebut sebagai Lilin Pengharapan/Lilin Nubuat/Lilin Nabi (Minggu Pengharapan). Lilin Pengharapan ini mau menyatakan bahwa kedatangan Tuhan Yesus, atau yang pada zaman perjanjian lama lebih dikenal dengan sebutan Mesias, telah dinubuatkan oleh para nabi. Salah satu nabi yang menubuatkan kedatangan Mesias itu adalah nabi Yeremia.

Ini adalah suatu janji pengharapan bagi Yeremia sendiri, dan bagi bangsa Israel, terutama bangsa Yehuda, yang pada waktu itu sedang berada dalam situasi terpuruk, baik dalam aspek ekonomi, hukum, sosial-budaya, fisik, psikis, mental bahkan spiritual. Keterpurukan ini disebabkan oleh ketidakpedulian bangsa itu, terutama para pemimpinnya pada upaya perbaikan kehidupan bangsa dalam berbagai aspek tadi. Mereka tidak peduli pada keadilan dan kebenaran, bahkan tidak peduli pada teguran yang sering disampaikan oleh nabi Yeremia sendiri. Sementara itu bangsa-bangsa lain di sekitar mereka datang menyerbu dan menguasai Yehuda. Jadi, bangsa Yehuda pada zaman itu benar-benar bobrok, kesuraman menguasai mereka, dan ancaman menghampiri mereka dari segala penjuru. Kita bisa membayangkan bagaimana keadaan orang-orang yang hidup pada zaman itu. Dalam situasi seperti itulah Tuhan melalui nabi-Nya Yeremia menjanjikan suatu harapan, yaitu kehidupan masa depan yang jauh lebih baik, dan itu terjadi ketika Allah sendiri datang memulihkan bangsa-Nya. Allah tahu bahwa bangsa Yehuda membutuhkan pemulihan, dan pemulihan itu hanya dimungkinkan jika Allah sendiri yang mengerjakannya.

TUHAN dalam pemberitaan Yeremia ini menegaskan bahwa Ia pasti menepati janji-Nya. Apa saja janji yang hendak ditepati-Nya itu? Pemulihan apa saja yang hendak dilakukan-Nya?
-          Menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud àkepemimpinan bangsa Yehuda yang selama ini sangat jauh dari prinsip-prinsip keadilan akan segera dipulihkan oleh Tuhan, dan itu berasal dari keturunan raja Daud.
-          Melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri (Yehuda) à apa yang dirindukan oleh rakyat selama ini, yaitu keadilan dan kebenaran, akan dilaksanakan oleh Allah sendiri melalui pemimpin yang ditumbuhkan-Nya itu.
-          Membebaskan Yehuda àpembebasan dari penindasan para penguasa yang lalim, dari penindasan bangsa lain, dan dari keterpurukan.
-          Memberikan kehidupan yang tenteram bagi Yerusalem àtidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi intimidasi, tidak ada lagi kekuatiran, tidak ada lagi kegelisahan, tidak ada lagi keputusasaan; sebaliknya yang adalah rasa aman, rasa nyaman, feel at home, dan rasa damai.
Atas dasar itulah kemudian kaum Israel dan Yehuda akan dipanggil “TUHAN keadilan kita”.


Kita tentunya sudah pernah mengalami masa-masa sulit: dalam keluarga, dalam studi, dalam persahabatan, bahkan dalam kehidupan bergereja. Dalam kondisi yang sulit, dalam keadaan terjepit, secara manusiawi apa pun bisa dilakukan; percaya atau tidak, banyak orang yang berperilaku aneh akhir-akhir ini untuk menutupi suasana hatinya yang gundah-gulana, banyak orang yang pura-pura gila atau sakit ketika masalah terasa begitu berat membebani, banyak juga yang benaran gila ketika masalah datang silih berganti dan akhirnya membuatnya stres/depresi. Banyak remaja/pemuda yang bunuh diri karena broken-heart, banyak anak yang tidak terurus karena broken-home, banyak yang tidak fokus belajar lagi karena SMS-nya tidak dibalas oleh si-dia atau pesan FB-nya tidak ditanggapi, atau mungkin karena uang belanja yang belum dikirim oleh orangtua. Pada saat-saat pencobaan, pada saat-saat adanya tekanan, kita biasanya merindukan terjadinya hal-hal yang dahsyat atau pun mukjizat. Dalam situasi yang terjepit, kita kemungkinan mau melakukan apa pun, bahkan sekalipun hal itu salah. Dalam keadaan darurat, segala kemungkinan bisa saja kita lakukan, sekalipun mungkin membahayakan diri kita sendiri. Ketika kita diperhadapkan pada situasi yang sulit, bukan tidak mungkin kita bisa kehilangan pegangan dan harapan. Dalam situasi dan kondisi penyakit yang tidak menentu, kita bisa saja “kecewa” dengan Tuhan, dan mungkin berkata: “apa lagi Tuhan yang Engkau inginkan dariku? Katanya Engkau adalah Allah yang dahsyat, sumber mukjizat, tapi mana ….???”. Bukan tidak mungkin kita bisa saja alergi dengan hal-hal yang rohani! Di bawah tekanan, di bawah ancaman, di dalam kesulitan, di dalam penderitaan, di dalam kesesakan, di dalam kekecewaan (patah hati), di dalam kebingungan, dan dalam situasi yang tidak menentu, kita bisa saja menghalalkan segala cara, berbohong, pura-pura gila, tidak mau makan, berontak, pesimis, bahkan menghujat Tuhan pun bisa saja terjadi. Sdra/i, orang yang hidup tanpa pengharapan sesungguhnya sudah tidak memiliki hidup. Mereka yang sudah tidak punya pengharapan adalah mereka yang hidup dalam kehampaan, tidak mempunyai tujuan hidup, tidak memiliki semangat hidup, serta melihat hidup ini sebagai sesuatu yang membebani dan tidak berguna.

Namun, pada hari ini kita disemangati oleh Firman Tuhan, bahwa seburuk dan separah apapun kondisi dan situasi kita saat ini, Tuhan pasti mampu berkarya, Dia mampu memulihkan kita. Itulah pengharapan kita, dan kita percaya bahwa Tuhan pasti menepati janji-Nya itu. Pengharapan Kristen adalah sebuah pengharapan yang diletakkan kepada Tuhan, bahkan walaupun segala sesuatunya sudah nampak mustahil bagi manusia. Oleh sebab itu, pengharapan kita hanya ditujukan kepada Allah saja. Segala sesuatu yang kita miliki saat ini tidak dapat menjanjikan pengharapan yang kekal bagi kita. Pekerjaan atau jabatan apapun memang sangat penting, namun tidak dapat menjanjikan kedamaian dan ketenteraman bagi kita, bahkan seringkali pekerjaan atau jabatan itu menjadi masalah ketika kita menyalahgunakannya. Institusi pemerintah dan swasta, termasuk institusi pendidikan dan penegak hukum, juga tidak dapat memberi kita pengharapan yang sempurna dalam hal penegakkan kebenaran dan keadilan, bahkan seringkali institusi itu menjadi sumber ketidakbenaran dan ketidakadilan. Keluarga, teman-teman, rekan kerja, demikian juga kepandaian bahkan uang, tidak dapat menjanjikan sesuatu yang pasti bagi kita. Oleh sebab itu kita tidak dapat menaruh pengharapan kita sepenuhnya di atas semuanya itu. Tetapi Tuhan itu setia terhadap janji-Nya dan Dia berkuasa melaksanakan janji-Nya.

Menantikan kedatangan Tuhan berarti menanti janji-Nya; menanti janji-Nya berarti hidup dalam pengharapan, atau seperti judul salah satu buku: “bergumul dalam pengharapan” (struggling in hope). Dan pengharapan kita ialah bahwa Tuhan akan melaksanakan kebenaran dan keadilan di negara kita ini, secara khususnya di kota Gunungsitoli dan kepulauan Nias tercinta (bnd. ay. 15b).

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...