Sunday, January 22, 2017

Terjala untuk menjadi Penjala (Matius 4:18-25)



Rancangan Khotbah Minggu, 22 Januari 2017
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo[1]

Setelah Yesus dibaptis (peneguhan diri) dan dengan sukses menjalani pencobaan (pengujian diri), maka kini Yesus hendak memulai pelayanan-Nya di dunia ini. Langkah awal yang Dia lakukan adalah dengan memilih orang-orang yang nantinya mendukung dan meneruskan pelayanan-Nya itu. Itulah yang Dia lakukan di tepi danau Galilea yang nantinya diteruskan dengan pengajaran dan penyembuhan pelbagai penyakit.

Ada yang “aneh” dari keputusan Yesus memilih orang-orang-Nya pada waktu itu, pilihan-Nya itu bukan para pejabat pemerintahan, bukan para pejabat agama, atau para elit tertentu, bukan kaum terpelajar yang berpengaruh, bukan orang kaya, bukan keluarga terhormat, dan sejenisnya, melainkan para nelayan. Para nelayan ini memang bukan orang yang miskin sekali, tetapi tetap saja secara mereka ini tidak memiliki jaminan kehidupan masa depan yang lebih baik. Namun, justru orang-orang seperti inilah yang dipilih oleh Yesus, sama seperti keputusan Allah memilih para gembala di padang sebagai orang yang pertama mendengar berita kelahiran Juruselamat (Luk. 2:8-11).

Walaupun demikian, ada beberapa karakter menarik dari para nelayan ini, yang mungkin menjadi pertimbangan Yesus memilih mereka:
1.   Para nelayan sudah “terlatih” dengan berbagai tantangan, bahaya, atau ancaman di laut/danau, dan hal itu membuat mereka selalu waspada, siap sedia menghadapi berbagai risiko kehidupan (lö fa’ata’u ba lö fa’awuwu hewa’ae mobade);
2.   Para nelayan sudah “terlatih” dengan “kegagalan” beberapa kali, namun hal itu justru membuat mereka tidak cepat menyerah, tidak cepat putus asa, sebaliknya mereka selalu berusaha dan berusaha lagi, so khöra wanaha-tödö, lö khöra fa’adagedage wohalöwö;
3.   Para nelayan sudah “terlatih” menunggu hasil pekerjaan mereka menangkap ikan, kadang-kadang harus menunggu satu malam, dan itu pun belum tentu mendapatkan ikan. Namun, pengalaman ini justru membentuk mereka menjadi orang yang lebih sabar menunggu hasil pekerjaan mereka (so wombaloi, so wanaha-tödö);
4.   Para nelayan sudah belajar dengan sangat baik waktu yang tepat menebarkan jala, demikian juga dengan umpan yang diberikan, selalu dengan pertimbangan yang matang (i’ila ifaudugö ginötö si sökhi awö lakhö sifaudu ba wagaisania);
5.   Para nelayan sudah sangat tahu bahwa ikan akan pergi menjauh kalau (bayangan) para nelayan itu terlihat oleh mereka, oleh sebab itu para nelayan ini selalu bertindak hati-hati dengan tidak akan menonjolkan dirinya (tenga sibai ba wangoroma’ö ya’ia).

Jadi, sekarang dapat dimengerti mengapa Yesus memilih para nelayan, karena mereka memiliki karakter yang kuat dan yang sudah terlatih dalam pengalaman nyata. Orang-orang biasa dengan tipe seperti para nelayan inilah yang dipilih oleh Yesus untuk menjala manusia. Hal ini menegaskan kepada kita bahwa para penjala manusia pun harus memiliki kriteria tertentu, tidak cukup kalau hanya memiliki semangat “45” saja.

Setelah memilih orang-orang-Nya ini, dan mengajak mereka mengikuti Dia, lalu Yesus melanjutkan agendanya dengan mengajar di rumah-rumah ibadat (sinagoge), memberitakan Injil Kerajaan Allah, dan menyembuhkan pelbagi penyakit. Apa artinya? Yaitu bahwa Yesus datang/hadir untuk menyampaikan berita sukacita besar, berita yang tidak pernah didengar dan tidak pernah dialami oleh masyarakat pada zaman itu; Yesus datang untuk menyampaikan bahwa keselamatan itu kini ada di hadapan mereka, penyembuhan itu dapat mereka nikmati saat ini, sama seperti berita sukacita yang disampaikan kepada para gembala, HARI INI telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud (bukan kemarin, bukan juga besok). Berita sukacita seperti ini sangat penting bagi masyarakat pada zaman itu yang sudah cukup lama hidup dalam penderitaan, dan penantian akan kedatangan Mesias.

Berita ini pun sangat penting bagi kita, bahwa ternyata sukacita besar kini dapat kita nikmati sebab Kristus sendiri telah datang menyampaikannya kepada kita. Berbagai persoalan kehidupan yang kita alami, atau yang sedang kita hadapi saat ini, akan dapat kita lewati dengan baik apabila kita membuka hati, membuka diri atau menyerahkan totalitas kehidupan dalam bimbingan Tuhan Yesus, sama seperti murid-murid yang pertama, mengikuti Yesus tanpa mempersoalkan “kebutuhan” mereka nantinya.

Inilah yang dituntut dari kita, setelah “terjala” oleh kasih karunia Tuhan, maka kini kita pun harus menjadi penjala sesama kita manusia, tentu sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Bagaimana menjadi penjala manusia itu? Yaitu dengan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di mana pun kita berada, mendatangkan sukacita dan mengambil bagian untuk menyelesaikan persoalan-persoalan manusia, sehingga semakin banyak orang yang mendapatkan damai sejahtera dan menikmati sukacita dengan kehadiran kita.


[1] Rancangan Khotbah Minggu BNKP Jemaat Duria R. 23

Sunday, January 8, 2017

Baptisan Yesus: Penggenapan Seluruh Kehendak Allah (Matius 3:13-17)



Khotbah Minggu, 08 Januari 2017
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo[1]


3:13  Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.
3:14  Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?”
3:15  Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanespun menuruti-Nya.
3:16   Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,
3:17  lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Sebelum Yesus memulai pelayanan-Nya di dunia ini, terlebih dahulu Dia dibaptis oleh Yohanes. Baptisan Yesus ini memang dapat dikatakan “aneh”. Pertama-tama, aneh menurut Yohanes pembaptis sendiri. Dia menyadari bahwa dirinyalah yang sesungguhnya perlu mendapat baptisan dari Yesus, bukan dia yang justru membaptis Yesus. Itulah sebabnya Yohanes sepertinya keberatan membaptis Yesus: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Kata-kata Yohanes ini juga menunjukkan kesadarannya bahwa Yesus jauh lebih penting daripada dirinya sendiri. Tetapi, Yesus tetap mau supaya Yohanes membaptis-Nya.

Kedua, bagi para pembaca sendiri, termasuk kita pada zaman sekarang, pembaptisan Yesus oleh Yohanes ini tergolong aneh. Mengapa? Karena baptisan Yohanes ini pada prinsipnya merupakan baptisan untuk pengampunan dosa (lih. Mat. 3:11a). Apakah Yesus perlu membaptiskan diri-Nya untuk pengampuan dosa? Ah, yang benar saja! Lagi-lagi, Yesus tetap mau supaya Yohanes membaptis-Nya.

Lalu, mengapa Yesus tetap mau dibaptis oleh Yohanes? Untuk apa Yesus dibaptis? Ada beberapa alasan yang dapat kita temukan dalam teks ini.
a.    Afirmasi akan Pelayanan Yohanes
Dengan menerima baptisan Yohanes, Yesus menegaskan (afirmasi) keabsahan pelayanan yang dilakukan oleh Yohanes, yang pada waktu itu banyak mendapat tantangan terutama dari para pemimpin Yahudi.[2] Jadi, tidak perlu lagi ada keraguan akan kehadiran dan pengajaran Yohanes pembaptis, dengarkanlah dia, ikuti pengajarannya, berilah dirimu dibaptis, karena hal hal itu semua juga untuk kebaikanmu, dan akan menolongmu nanti untuk memahami seperti apa Mesias yang sesungguhnya.

b.    Identifikasi Diri dengan Pendosa (Ifaogö Ia ba zi so horö)
Kita sudah tahu bahwa baptisan air yang dilakukan oleh Yohanes adalah baptisan untuk pertobatan (3:11a), dan, Yesus meminta baptisan air dari Yohanes ini. Aneh! Yesus, Sang Mesias, Sang Juruselamat, menerima bahkan meminta baptisan dengan hakikat seperti ini. Tindakan Yesus ini menjadi semacam tantangan bagi manusia untuk menyadari dosa-dosanya, sehingga manusia itu menyadari kebutuhannya, yaitu bahwa dia memerlukan Tuhan. Dari zaman dulu sampai sekarang banyak orang yang tidak mau mengakui kesalahan dan atau dosa-dosanya, malah ada yang bangga dengan kejahatannya. Para pemimpin Yahudi pada waktu itu tidak pernah menyerahkan diri untuk dibaptis oleh Yohanes karena mereka adalah keturunan Abraham, dan merasa keselamatannya telah terjamin otomatis, jadi baptisan itu tidak perlu lagi bagi mereka. Pemahaman seperti ini pun dapat kita temukan sampai sekarang, dimana banyak orang yang merasa tidak perlu lagi diajari tentang kebenaran, tentang hidup yang benar, tentang Tuhan, tentang pola hidup yang baik, termasuk tentang peraturan yang baik, karena merasa sudah tahu, merasa diri sudah baik, merasa diri sudah benar. Sesungguhnya, kita membutuhkan Tuhan untuk pengampunan dosa!

Ada makna lain yang sejajar dengan itu sehubungan dengan kerelaan Yesus untuk dibaptis dengan konsep seperti ini. Yesus seolah-olah menyamakan diri-Nya dengan orang-orang berdosa, untuk menegaskan bahwa Dia mengerti betul kebutuhan umat manusia, yaitu keselamatan dari dosa (1:21). Namun, perlu diperhatikan, bahwa Matius tidak mengikutsertakan Yesus dalam kelompok orang-orang yang mengaku dosa dan minta dibaptis oleh Yohanes (3:6). Dengan tindakan ini, Yesus hendak meyakinkan kita bahwa Dia mengerti betul pergumulan dan kebutuhan kita, entah diceritakan atau pun tidak, sama seperti nyanyian “... Allah mengerti, Allah peduli segala persoalan yang kita hadapi ...”. Kita hanya perlu membuka diri dan menyerahkan diri saja dalam bimbingan Tuhan, sekaligus merendahkan diri di hadapan-Nya, sehingga kita pun mendapatkan pengampunan dosa.

c.    Menggenapkan Seluruh Kehendak Allah (ba wolo’ö satulö andrö, hadia ia fefu – Mat. 3:15).
Kata-kata ini dimaksudkan untuk menyatakan bahwa melalui baptisan tersebut kedatangan Yesus “diteguhkan” oleh Allah yang nantinya dipertegas lagi melalui kedatangan Roh Allah dan suara dari surga (3:16, 17).  Peneguhan ini menegaskan bahwa Yesus yang datang itu adalah Mesias yang telah lama dinanti-nantikan oleh umat Tuhan, dan Yesus itu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Selain itu, kata-kata ini juga dimaksudkan untuk menegaskan bagaimana Yesus nantinya menanggung dosa-dosa manusia untuk memenuhi tuntutan keadilan Allah sekaligus menyatakan kasih Allah bagi umat-Nya.

Hal ini berkaitan dengan Yesus Sang Mesias yang “menderita”. Dalam Lukas 12:50 Yesus mengatakan sesuatu tentang kematian-Nya: “Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!” Artinya, baptisan Yesus di sungai Yordan ini dapat menjadi pertanda akan kematian-Nya kelak.

Saya kira itulah yang terungkap melalui suara yang terdengar dari surga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (3:17).[3] Dengan kutipan ini Matius pada satu sisi menegaskan kepada para pembacanya bahwa Yesus yang dibaptis oleh Yohanes itu adalah Sang Mesias yang dari Allah, Mesias yang telah dijanjikan itu, Mesias yang telah lama dinanti-nantikan oleh umat Tuhan. Namun, Matius mengingatkan para pembacanya, terutama orang-orang Yahudi, bahwa Mesias yang datang ini tidak seperti yang mereka bayangkan tentang kemegahan sang Mesias, tetapi sebaliknya Mesias ini datang sebagai “Hamba yang Menderita”. Jalan penderitaan itulah yang harus ditempuh-Nya nanti sampai mati di kayu salib. Hal ini memberi kita pencerahan tentang jalan hidup yang harus kita tempuh dalam mengikut Yesus. Penderitaan bukanlah kerugian, bukan juga kegagalan, melainkan jalan yang harus ditempuh untuk bersama-sama dengan Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan, Amin.



[1] Khotbah Minggu, 08/01/2017 di Jemaat BNKP Immanuel R. 2
[2] Bukan tidak mungkin juga kalau Yesus duduk mendengarkan pengajaran Yohanes. Hal ini nampak dalam catatan Matius tentang ajaran Yesus di pasal 4:17 “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” yang persis sama dengan ajaran Yohanes sebelumnya di pasal 3:2 “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Artinya kita tidak boleh menganggap remeh kontribusi Yohanes terhadap ajaran-ajaran Yesus.
[3] Sebenarnya Matius melakukan pengutipan dengan cara yang unik di sini. Matius memasangkan kutipan dari dua teks PL, yaitu Mazmur 2:7 dan Yesaya 42:1. Dalam pemahaman orang Yahudi Mazmur 2:7 itu berkaitan dengan Mesias, Raja perkasa yang dari Allah, yang akan datang. Sedangkan kutipan dari Yesaya 42:1 itu ada kaitannya dengan “Hamba yang Menderita” yang mencapai puncaknya dalam Yesaya 53.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...