Saturday, August 27, 2022

Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus – Ositengagö Ndra’ugö, Lu’i Röfau, ba O’ö Yesu (Matius 16:21-28)

Khotbah Minggu, 28 Agustus 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.”
23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.
28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”

Teks ini sebaiknya dipahami dalam hubungan dengan perikop sebelumnya ketika Petrus menyatakan pengakuan yang luar biasa bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13-20, khususnya ayat 16). Yesus pun mengapresiasi pengakuan Petrus tersebut, dan menyebutnya “berbahagia” (Mat. 16:17), serta memberi kepercayaan kepadanya bahkan termasuk kunci Kerajaan Surga (Mat. 16:18-19).

Namun demikian, tidak lama kemudian, Petrus yang tadinya mendapatkan apresiasi dari Yesus, kini mendapatkan kecaman keras dari Yesus yang sama, bahkan menyebut Petrus seperti iblis: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ay. 23).

Kata-kata Yesus yang sangat keras ini muncul karena Petrus menyampaikan pernyataan yang bertolak belakang dengan pengakuannya sebelumnya tentang kemesiasan Yesus setelah mendengar bahwa Yesus, Sang Mesias, akan menanggung banyak penderitaan. Petrus tidak setuju dengan pernyataan Yesus akan penderitaan yang akan ditanggung-Nya tersebut, dan karena itu dia mengatakan: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau” (ay. 22). Di sini jelas bahwa Petrus mewakili kelompok para murid dan pengikut Yesus, bahkan para pembaca awal Injil Matius, bahwa Mesias itu mestinya datang dan hidup dalam kemenangan dan kejayaan besar, bukan malah menanggung banyak penderitaan. Petrus dkk tidak memahami dan sulit menerima Mesias yang menderita. Hal ini juga menggambarkan ketidaksediaan mereka dalam menanggung risiko akibat mengikut Yesus, Sang Mesias itu. Mereka masih belum memiliki mental pejuang, dan karena itu tidak siap menderita atas nama salib.

Lalu Yesus menjelaskan kepada Petrus dan para pendengar lainnya, tentang apa artinya bagi Dia menjadi Mesias dan apa artinya bagi kita untuk mengikuti Dia sebagai Mesias. It is not a golden way, but rather via dolorosa (bukan jalan emas melainkan jalan penderitaan). Itulah yang terjadi dengan Yesus, Sang Mesias, harus menanggung banyak penderitaan bahkan dibunuh, tetapi kemudian akan dibangkitkan pada hari ketiga. Di sini Yesus hendak memberikan pencerahan kepada para murid dan pengikut-Nya, bahwa diri-Nya harus menempuh jalan berliku dan penuh penderitaan, tetapi jalan itulah yang justru menghantarkan-Nya kepada kemuliaan Bapa, baik ketika dibangkitkan dari antara orang mati, maupun ketika melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya (ay. 27-28).

Apa artinya bagi kita?
Yesus telah menyatakan kepada ara murid dulu bahwa Dia akan menanggung banyak penderitaan, dan Dia sudah menunjukkan ketaatan-Nya pada jalan salib itu, sungguh suatu pengorbanan besar bagi keselamatan umat manusia. Kalau Yesus berbicara tentang pengorbanan-Nya yang nyata di sini, Dia hendak mengatakan bahwa jika seseorang ingin menjadi pengikut-Nya, maka mereka harus bersedia menyangkal diri, memikul salib mereka dan mengikuti Dia. Tentu saja manusia memikirkan nyawanya, dan berusaha untuk menyelamatkannya. Dalam pergumulan yang luar biasa di Taman Getsemani pun, dalam natur kemanusiaan-Nya, Yesus mencoba menyelamatkan nyawa-Nya tanpa melalui jalan salib, tetapi tidak bisa. Jalan penderitaan itu harus ditempuh, dan justru jalan itulah yang mendatangkan keselamatan dan kemuliaan yang sesungguhnya.

Itulah sebabnya Yesus mengingatkan kita bahwa “barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (ay. 25-26). Intinya adalah tidak ada gunanya kita berusaha mencari keselamatan diri dengan cara sendiri, apalagi dengan jalan mudah dan jalan pintas. Satu-satunya jalan yang memberikan jaminan keselamatan dan kehidupan adalah mengikut Yesus. Tetapi, ingat, mengikut Yesus itu harus siap menyangkal diri dan memikul salib.

Menyangkal diri berarti bersedia untuk melepaskan diri dari “kenyamanan” duniawi selama ini demi mengikut Yesus. Menyangkal diri berarti bersedia melepaskan diri dari alkoholisme, pornografi, narkoba, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Menyangkal diri berarti bersedia melepaskan diri dari kecanduan game dan judi online, bahkan kecanduan internet lainnya yang juga telah hampir memperbudak kita. Beberapa dari kita memang tidak mau melepaskan kenyamanannya selama ini, bahkan ada orang yang justru semakin terjerumus dalam berbagai kenyamanan dan kenikmatan duniawi sampai pada akhirnya lupa diri dan lupa Tuhan.

Memikul salib berarti menanggung apa yang seharusnya tidak dia pikul. Itulah yang terjadi dengan Yesus, menanggung banyak penderitaan yang seharusnya tidak Dia pikul. Kalau mau menjadi pengikut Yesus, maka kita harus memikul salib, bersedia menanggung apa yang seharusnya tidak kita tanggung, terutama penderitaan. Persoalannya ialah bahwa banyak generasi muda Kristen yang tidak bersedia menempuh jalan sulit dalam menjalani kehidupannya. Yesus menghendaki para murid dan pengikut-Nya untuk memiliki mental yang kuat menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi akibat mengikut Yesus. Latihlah dan biasakanlah dirimu untuk berani menghadapi dan menjalani kesulitan, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Fil. 1:29).

Mampukah kita untuk menderita bagi Kristus? Kalau Kristus yang hidup di dalam kita, maka kita akan mampu menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus.

Galatia 2:20a: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

Sunday, August 14, 2022

Mengikut Yesus secara Total – Folo’ö khö Yesu Sindruhundruhu (Lukas 12:49-53)

Khotbah Minggu, 14 Agustus 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

49 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
50 Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”


Teks khotbah hari ini dapat menimbulkan kebingungan bahkan kegelisahan bagi kita, terutama bagi orang yang selama ini menganggap bahwa Yesus selalu menghadirkan perdamaian. Tetapi, hari ini, melalui teks ini, Yesus menyampaikan sesuatu yang terbalik dari pemahaman umum tentang kehadiran-Nya. Dia seolah-olah membenarkan terjadinya berbagai perpecahan atau perpisahan dalam keluarga, jemaat, dan masyarakat kita akhir-akhir ini. Bisa saja ada orang yang membenarkan pertentangannya dalam jemaat atau masyarakat atas nama mengikut Yesus; bisa saja ada orang yang membenarkan ketidakpeduliannya dalam keluarga atas nama mengikut Yesus; bisa saja ada anak yang membenarkan pemberontakannya kepada orang tuanya atas nama mengikut Yesus; dan bisa saja ada orang yang menghadirkan api perselisihan dan perpecahan di mana-mana atas nama mengikut Yesus. Tetapi, apakah Yesus bermaksud seperti itu?

Kalau membaca lebih cermat teks dan konteks nas khotbah hari ini, maka kita akan menemukan bahwa persoalan yang hendak ditampilkan bukanlah masalah pertentangan, perselisihan atau perpecahan itu sendiri, melainkan bagaimana kita menanggapi berbagai konsekuensi yang timbul karena mengikut Yesus. Dengan kata lain, pertentangan hanyalah salah satu dari sekian banyak konsekuensi yang bisa saja muncul karena mengikut Yesus. Ada saatnya kita tidak bisa menghindar dari sesuatu yang buruk karena memilih ikut Yesus secara total. Tentu saja, mengikut Yesus tidak selalu berakibat buruk, sebab dalam realitasnya, banyak kedamaian yang kita nikmati karena mengikut Yesus.

Bagaimanakah mengikut Yesus dapat menimbulkan hal-hal yang tidak kita harapkan? Mari kita lihat satu per satu misi Yesus menurut teks khotbah hari ini.

Misi I : Membawa (melemparkan) Api
Dalam Alkitab, api merupakan gambaran yang multivalen. Api dapat mewakili kehadiran Allah (tiang api, Kel. 13:21-22), lidah api pada saat pencurahan Roh Kudus (Kis. 2:1-4), gambaran dari penghakiman eskatologis, pemusnahan bala tentara Setan (Why. 20:7-10), menandakan penyucian/pemurnian (Za. 13:9; Mal. 3:2-3), dan Simeon menggambarkan maksud dari kedatangan Yesus di Luk. 2:34-35 “Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Jadi, maksud Yesus dengan pernyataan misi-Nya “membawa api” ini adalah bahwa kerajaan Allah yang Dia wujudkan itu menunjukkan kehadiran Allah yang sekaligus mendatangkan penghakiman dan pemurnian. Tentu kita mengharapkan kebenaran itu harus diungkapkan, dan karena itu perlu api pemurnian. Pemurnian itu menyakitkan, terutama bagi kita yang mungkin saja memiliki banyak “kotoran” yang menempel pada diri kita. Mengikut Yesus secara total berarti siap untuk dimurnikan, siap untuk dibersihkan, walaupun bisa saja terasa sakit.

Misi II : Menerima Baptisan
Baptisan yang diterima oleh Yesus dalam teks ini tidak dalam pengertian baptisan secara umum. Melalui pernyataan-Nya ini, dan masih dalam konteks penghakiman dan penyucian (pemurnian), dengan bahasa kiasan Yesus hendak memberitahukan apa yang bakal terjadi dengan diri-Nya, yaitu tentang penyaliban-Nya, itulah sebabnya di ayat 50 dengan jelas Dia mengatakan bahwa hati-Nya susah sebelum baptisan itu berlangsung. Ini sangat menarik, sebab Orang yang mewujudkan kerajaan dan kehadiran Allah di dunia ini (yaitu Yesus) tidak sekadar memberitahukan api penghakiman dan pemurnian itu, tetapi diri-Nya sendiri sekaligus menanggung penghakiman dan pemurnian tersebut. Pada satu sisi baptisan merupakan janji sukacita bagi kita, tetapi pada sisi lain baptisan mendatangkan kesakitan yang luar biasa bagi Yesus. Mengikut Yesus secara total berarti siap menanggung sisi lain dari baptisan yang kita terima, sisi yang bisa saja mendatangkan kesakitan bagi kita.

Misi III : Membawa Pemisahan (pertentangan)
Konsekuensi dari api + baptisan untuk penghakiman dan pemurnian yang ditanggung dan diberitakan oleh Yesus adalah terjadinya pertentangan atau pemisahan. Ini memang merupakan konsekuensi “buruk” yang tidak dapat dielakkan. Selalu ada risiko dari keputusan kita mengikut Yesus. Di dunia ini ada banyak godaan kekayaan, status, dan kekuasaan, dan mereka yang tidak siap meninggalkan kenyamanan duniawi itu akan melawan/menentang kehadiran kerajaan Allah. Oleh sebab itu, Yesus – walaupun secara prinsip hendak mewujudkan pemerintahan yang penuh dengan kedamaian – namun dalam faktanya juga “terpaksa” membawa pertentangan atau pemisahan, yang bisa saja berakibat pada terganggunya relasi dalam keluarga yang selama ini sudah sangat akrab (mis. selama ini ada keluarga yang sudah terbiasa nyaman dengan segala kemudahan dan kemewahan karena “berkat” Tuhan melalui pekerjaan sang suami/istri/ayah, lalu ybs mengambil keputusan untuk mencukupkan dirinya dengan gajinya, tidak lagi melakukan korupsi, dll, dan tentu hal ini berdampak pada penghasilan keluarga, berdampak lagi pada pemenuhan kebutuhan dan kemewahan seisi keluarga itu. Apakah itu tidak menjadi persoalan?).

Ketiga misi Yesus dalam rangka mewujudkan kerajaan Allah inilah yang tidak diketahui oleh orang banyak pada waktu itu, bahkan tanda-tandanya saja pun tidak diketahui, padahal mereka bisa melihat, menilai, atau membedakan tanda-tanda alam (hujan atau panas). Itulah sebabnya Yesus mengecam mereka, bahkan menyebut mereka sebagai orang-orang munafik, pura-pura tidak tahu dengan tanda-tanda kedatangan kerajaan Allah yang sudah ada di hadapan mereka, mereka masih berada dalam paradigma lama, mengharapkan pemerintahan baru dengan bendera atau senjata perang, padahal Yesus mewujudkan pemerintahan baru itu dengan jalan yang tidak biasa, jalan kesederhanaan, jalan penderitaan, dan jalan salib. Inilah yang tidak bisa diterima oleh akal manusia, apalagi pada zaman sekarang yang sudah terbiasa dengan segala kemudahan, kenyamanan, kesenangan dan kemewahan, sulit menerima dan menjalani kesederhanaan, kesulitan, penderitaan, dan sejenisnya. Mengikut Yesus secara totoal, tidak hanya sekadar bersedia meninggalkan perangkap kekuasaan dan kenikmatan duniawi ini, tetapi juga menyiapkan diri untuk menghadapi suatu perlawanan, pertentangan, bahkan pemisahan karena tidak semua orang berkenan menerima kerajaan Allah seperti yang diberitakan oleh Yesus.

Hanya orang-orang yang bertahan sampai pada kesudahannya yang akan selamat (Mat. 24:13).

Sunday, August 7, 2022

Allah sendirilah Hakim – Lowalangi samösa Zanguhuku (Mazmur 50:1-6)

Khotbah Minggu, 07 Agustus 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1 Mazmur Asaf. Yang Mahakuasa, TUHAN Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya.
2 Dari Sion, puncak keindahan, Allah tampil bersinar.
3 Allah kita datang dan tidak akan berdiam diri, di hadapan-Nya api menjilat, sekeliling-Nya bertiup badai yang dahsyat.
4 Ia berseru kepada langit di atas, dan kepada bumi untuk mengadili umat-Nya:
5 “Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!”
6 Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim.

Teks khotbah hari ini (ay. 1-6) merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan ayat-ayat setelahnya (ay. 7-21). Oleh sebab itu, teks khotbah ini harus dipahami dalam satu kesatuan dengan seluruh ayat dalam pasal 50 ini. Mazmur 50 secara keseluruhan menyatakan dua dakwaan umum terhadap Israel, yaitu tentang praktik penyembahan atau ibadah mereka yang tidak diterima Tuhan (ay. 7-15), dan tentang kekosongan dan kemunafikan mereka (ay. 16-21). Atas kedua dakwaan tersebut, Allah menegaskan bahwa Dia adalah Hakim yang akan menghakimi mereka dalam keadilan-Nya.

Dalam ayat 7-15, dakwaan pertama, Allah mengecam praktik penyembahan Israel. Pada prinsipnya, Allah tidak menolah ibadah umat kepada-Nya, tetapi Allah menolak penyembahan yang menggantikan ibadah yang sejati kepada Allah. Ada semacam penyalahartian dan penyalahgunaan ibadah di Israel, terutama berkenaan dengan pemberian persembahan (ibadah korban). Bangsa Israel membayangkan bahwa persembahan adalah pemberian mereka kepada Tuhan. Dengan pemahaman seperti ini, bangsa Israel menempatkan diri mereka sebagai pihak yang memenuhi kebutuhan Tuhan. Mereka adalah subjek dan Allah merupakan objek dari penyembahan dan persembahan manusia. Ada klaim yang salah dengan pemahaman dan praktik ibadah seperti ini, yaitu bahwa merekalah yang memiliki apa yang seharusnya menjadi milik Tuhan.

Sebenarnya, tidak salah menyampaikan persembahan kepada Allah, itu malah merupakan bagian dari perjanjian Allah dengan umat-Nya. Masalahnya adalah bangsa Israel mulai melihat pengorbanan mereka sebagai sesuatu yang dibutuhkan Tuhan, sebagai sesuatu yang Tuhan andalkan. Pemahaman seperti ini mirip dengan praktik ibadah paganisme di sekitar Israel kuno, dimana umat merawat, memeliharan, dan memberikan makanan kepada para dewa. Dengan memberikan pengorbanan, para penyembah menjadikan para dewa sebagai klien atau pelanggan mereka yang siap sedia. Dengan kata lain, apabila manusia memberikan pengorbanan kepada para dewa, maka manusia pun dapat mengubah dewa tersebut menjadi hamba manusia yang akan melakukan apa yang diinginkan oleh manusia. Distorsi penyembahan seperti inilah yang secara perlahan tetapi pasti mematikan manusia itu sendiri, merayap ke dalam pikiran kita seperti ular yang mendesis.

Sikap seperti inilah yang dikecam oleh Allah, bertentangan dengan prinsip iman yang sesungguhnya, mengingkari perjanjian mereka dengan Tuhan. Maka, Allah sendiri yang akan menjadi Hakim yang adil atas mereka. Itulah sebabnya pemazmur menegaskan kepemilikan dan kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan, untuk menyadarkan bangsa Israel akan kesalahan mereka dalam penyembahan dan pemberian korban kepada Allah. Apapun yang dipersembahkan oleh manusia kepada Allah, itu bukan pemberian kita seolah-olah kitalah yang memenuhi kebutuhan Tuhan. Persembahan yang disampaikan oleh manusia merupakan tindakan syukur kita atas semua yang telah dilakukan dan diberikan oleh Tuhan kepada umat-Nya. Bukan Allah yang membutuhkan pengorbanan (penyembahan dan persembahan) manusia, sebaliknya kita yang membutuhkan Allah. Apabila umat Tuhan tidak taat pada perjanjian ibadah seperti ini, maka Allah sendiri yang akan menjadi Hakim yang adil atas kita.

Dalam ayat 16-21, dakwaan kedua, keluhan serupa diajukan terhadap Israel. Pada dakwaan pertama, Allah, sebagaimana disampaikan oleh pemazmur mengeluhkan praktik beribadah bangsa Israel, sedangkan pada dakwaan kedua ini Allah mengeluhkan kekosongan dan kemunafikan bangsa yang mengaku beribadah kepada Tuhan itu. Mereka mempertontonkan ibadah (penyembahan dan persembahan) yang kelihatannya saleh, tetapi sesungguhnya penuh dengan kehampaan dan kemunafikan. Dalam realitasnya, mereka justru menjalani kehidupan yang rakus dan predator. Secara lahiriah, mereka rajin beribadah, seolah-olah taat pada keputusan Tuhan. Namun demikian, dalam kenyataannya, mereka hidup dengan cara yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, seolah-olah Tuhan tidak berdaya untuk menegakkan kehendak-Nya sendiri. Mereka melakukan apa yang baik menurut keinginan mereka, dan merasa bahwa Allah tidak bisa bertindak apa-apa atas mereka, sebab mereka sudah memberikan persembahan kepada-Nya.

Bangsa itu lupa pada perjanjian mereka dengan Allah, bahwa mereka seharusnya menunjukkan ketaatan yang tulus dan jujur di hadapan Allah. Oleh karena pelanggaran seperti ini, Allah tampil dan akan menjadi Hakim atas mereka, Hakim yang adil. Allah hanya meminta kepada manusia: “setialah dan tepati janjimu pada-Ku, seperti Aku menepati janji-Ku kepadamu.” Jangan pernah membayangkan bahwa kita bisa mengibuli Allah. Tidak akan ada satu pun yang tersembunyi di hadapan Hakim yang adil itu. Kasus Brigadir J yang viral dalam beberapa minggu terakhir, bisa saja tidak terungkap 100%, tetapi di hadapan Allah, Hakim yang adil, semuanya akan terlihat dengan jelas. Manusia tidak bisa merekayasa kasusnya di hadapan Allah, sebab Dia sudah tahu semuanya.

Banyak orang yang gagal dalam ibadah, bukan karena tidak melakukannya, melainkan karena beribadah dengan pemahaman dan cara yang salah. Banyak orang beribadah, tetapi beribadah dalam kesalahpahaman dengan arah dan orientasi yang salah. Kita bisa melihat, bahkan mungkin terlibat di dalamnya, betapa ibadah kita dewasa ini mengalami distorsi atau penyimpangan yang tidak sesuai lagi dengan kehendak Allah. Bukankah banyak orang Kristen yang beribadah secara teratur, tetapi tidak sungguh-sungguh menghayati dan menghidupi ibadahnya itu? Bukankah banyak orang Kristen yang secara lahiriah beribadah secara rutin, tetapi dalam hidupnya sehari-hari justru menunjukkan ketidaktaatan kepada Tuhan yang dia sembah itu? Bukankah banyak orang Kristen yang merasa sudah memberikan persembahan kepada Tuhan, tetapi di dalamnya penuh dengan kehampaan dan kemunafikan? Bukankah ada orang Kristen yang dapat memuji Tuhan dengan penuh semangat di dalam gereja atau dalam persekutuan-persekutuan doa, tetapi kemudian menjadi “monster” dalam keluarga, di tempat kerja, dan dalam kehidupan sehari-hari? Atas hal-hal seperti ini, Allah tampil sebagai Hakim, Dia menyatakan penghakiman-Nya yang tegas.

Allah tidak akan berdiam diri melihat manusia yang seolah-olah beribadah kepada-Nya tetapi sesungguhnya hanya sebagai kamuflase untuk menutupi kebobrokannya. Allah datang sebagai Hakim dengan segala keperkasaan dan kemahakuasaan-Nya. Manusia akan melihat sendiri bahwa Allah adalah Hakim, dan “Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim” (Mzm. 50:6).

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...