Sunday, February 18, 2018

Bagaimana seharusnya Mengikuti Yesus? (Lukas 9:57-62)



Rancangan Khotbah Minggu, 18 Februari 2018
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo[1]

9:57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.
9:58 Yesus berkata kepadanya: Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
9:59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!Tetapi orang itu berkata: Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.”
9:60 Tetapi Yesus berkata kepadanya: Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”
9:61 Dan seorang lain lagi berkata: Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.
9:62 Tetapi Yesus berkata: Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Teks khotbah pada hari ini agak problematis, terutama ketika Yesus seolah-olah “tidak peduli” dengan pengabdian anak kepada orangtua atau keluarganya. Apakah mengikut Yesus berarti tidak perlu lagi menghormati orangtua bahkan tidak boleh mengurus penguburannya? Bukankah ini bertentangan dengan hukum yang ke-5 tentang menghormati orangtua? Bagaimana mungkin juga “orang mati” dapat menguburkan “orang mati?” Ah, yang benar sajalah Yesus!

Apakah mengikut Yesus berarti tidak perlu menunjukkan sikap yang santun dengan pamitan ke keluarga? Bukankah ini memberi peluang besar kepada anggota keluarga, terutama anak-anak, untuk tidak pamitan kepada orangtua atau keluarganya ke mana pun dia pergi dengan alasan mengikuti Yesus? Kalau pemahamannya seperti ini, bisa dibayangkan bagaimana jadinya keluarga kita? Apakah Yesus memang menginginkan keluarga para pengikut-Nya berantakan dan tidak ada tata krama sama sekali? Wow, sulit membayangkannya!

Atau apa sebenarnya maksud dari kata-kata Yesus ini kepada para calon pengikut-Nya? Calon pertama dengan penuh semangat bersedia mengikut Yesus ke mana saja Ia pergi, dan Yesus menjawabnya dengan sebuah ungkapan yang penuh teka-teki yaitu bahwa serigala dan burung memiliki tempat untuk berteduh, namun “Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.Implikasinya tentu saja adalah bahwa mengikuti Yesus berarti siap menjalani kesulitan apa pun, termasuk mengalami penderitaan dan kematian seperti yang sebentar lagi akan dijalani oleh Tuhan Yesus. Pada ayat sebelumnya telah terbukti bahwa orang-orang Samaria tidak mau menerima Yesus di kampung mereka (Luk. 9:51-56). Tidak ada jaminan kenyamanan rumah atau tempat tinggal bahkan untuk sekadar meletakkan kepala ketika mengikut Yesus.

Calon yang kedua, bersedia mengikuti Yesus, namun dia meminta izin untuk pergi menguburkan ayahnya terlebih dahulu. Dalam budaya di mana keluarga sangat penting dan menghormati orangtua, permintaan calon itu tampaknya cukup masuk akal. Namun, apakah ayahnya sudah meninggal dunia ketika bertemu dengan Yesus? Nampaknya belum! Artinya, dia harus menunggu sampai ayahnya meninggal dan dikuburkan baru kemudian nanti dia mengikut Yesus. Itulah sebabnya Yesus berkata kepadanya, “Biarkan orang mati mengubur orang mati mereka sendiri. Ucapan Yesus ini tidak masuk akal!Bagaimana mungkin orang mati bisa mengubur orang mati? Jadi jika seseorang mengklaim dirinya (masih) belum mati, maka dia pun harus menunjukkan bahwa dia memang belum mati! Bagaimana caranya? Yesus mengatakan, “Tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana. Itulah orang yang benar-benar hidup! Mengikut Yesus berarti sekarang, tidak perlu banyak alasan untuk menundanya, sebab Kerajaan Allah itu sudah dekat. Jadi, Yesus tidak bermaksud memutus hubungan anak dengan orangtuanya, tetapi janganlah mencari-cari alasan untuk tidak mengikuti Yesus. Terlalu banyak alasan bagi manusia untuk tidak segera mengikut Yesus.
Orang ketiga ingin mengikuti Yesus tetapi perlu pamitan terlebih dahulu pada keluarganya. Ini adalah situasi yang sama dengan 1 Raja-raja 19:19-20 di mana Elisa diizinkan melakukan hal seperti itu sebelum mengikuti Elia. Tetapi Yesus tidakmengizinkannya!Tanpa kompromi Dia berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah. Pada zaman dulu, suatu keanehan apabila seseorang mencoba membajak tetapi sambil melihat ke belakang. Sama seperti sekarang misalnya, suatu keanehan atau malah bahaya kalau seseorang mengendarai motor sambil mengetik SMS di ponselnya.

Ucapan-ucapan Yesus terhadap ketiga calon pengikut-Nya dalam teks ini menjadi kritik tajam kepada orang-orang, baik pada zaman dulu maupun pada zaman sekarang, yang berpikir bahwa dia dapat memiliki atau meraih semuanya. Orang-orang yang seperti ini akan sulit menentukan prioritas, tidak bisa memilih nilai kehidupan apa yang terpenting saat ini, sebab mereka berharap bahwa semuanya dapat dimiliki.

Ucapan Yesus ini juga merupakan kritik bagi orang-orang yang seringkali bingung menjalani kehidupannya, memilih jalan yang lurus/baik, atau sekali-sekali “melenceng,” atau malah “bengkok” sama sekali. Kita sedang berada di tengah-tengah masyarakat yang serba salah, dilematis. Saya pernah mendengar misalnya seorang pemuda yang bingung menentukan pilihan: menikah dengan pacarnya tetapi tidak seiman, atau mempertahankan imannya kepada Yesus tetapi harus berpisah dengan pacarnya. Kita juga seringkali berada pada situasi-situasi seperti itu, apalagi di zaman sekarang banyak sekali suara-suara di sekitar kita yang mencoba memengaruhi diri kita. Orang yang sulit menentukan prioritas, mau memiliki/meraih semua, mau menyenangkan semua orang, dan tidak memiliki komitmen yang kuat untuk mengikuti Yesus, maka Yesus akan berkata: “engkau pun tidak layak untuk Kerajaan Allah.”



[1] Bahan Khotbah Minggu, 18-02-2018, Jemaat BNKP Bogor.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...