Saturday, March 27, 2021

Berharaplah pada Tuhan (Mazmur 31:8-16)

Bahan Khotbah Minggu, 28 Maret 2020
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo


8 Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah memperhatikan kesesakan jiwaku,
9 dan tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.
10 Kasihanilah aku, ya TUHAN, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku.
11 Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah.
12 Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku.
13 Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah.
14 Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, --ada kegentaran dari segala pihak! --mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku.
15 Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!”
16 Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!

Bagian besar dari Mazmur 31 ini adalah tentang ratapan dan permohonan akan kemurahan Tuhan. Pada ayat-ayat sebelumnya (ay. 1-7), pemazmur telah berdoa untuk keselamatan dan perlindungan Tuhan, dan menyatakan bahwa Tuhanlah yang melihat penderitaan dan dapat memberikan perlindungan kepadanya. Nas khotbah hari ini diawali dengan ekspresi sukacita dan pujian kepada Tuhan karena tidak menyerahkan si penderita “ke tangan musuh”. Pada satu sisi, ayat-ayat pembuka Mazmur 31 mengakui beratnya penderitaan yang harus dialami oleh pemazmur, tetapi pada sisi lain memberi penekanan pada jaminan akan adanya pembebasan dari Tuhan.

Secara umum, teks khotbah pada hari ini berisi ratapan yang kuat, yang menunjukkan penderitaan fisik dan psikologis pemazmur, dan yang paling pedih adalah cemoohan orang lain yang begitu menyakitkan. Oleh sebab itu, pemazmur memohon kemurahan Tuhan, “sebab aku merasa sesak” (ayat 10a). Rasa sesak ini semacam rasa sakit yang menerpa penderitanya, atau beberapa penderitaan yang telah memenuhi kehidupan pemazmur. Hal ini terungkap di ayat 11a “… hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah”. Gambaran rasa sakit fisik dan psikologis ini bercampur, hampir tidak ada kata-kata untuk mengekspresikannya. “Mata” dan “jiwa dan tubuh” pemazmur mengalami kesakitan (ayat 10b); “kekuatan merosot” dan “tulang-tulang menjadi lemah” (ayat 11b). Intinya, dari aspek fisik, pemazmur mengalami penderitaan yang akut; apapun penyebabnya, penderitaan tersebut dirasakan begitu pedih, terasa hingga ke dalam jiwa dan tulang kita. Secara psikologis, pemazmur pun mengalami tekanan yang luar biasa, mungkin saja hampir depresi, sebab cemoohan dan penolakan orang lain, yang menimbulkan luka batin yang amat dalam.

Hal yang amat menyedihkan adalah orang-orang yang tadinya dekat dengan dia (tetangga dan kenalan), kini menjauhinya, mungkin tidak mau ambil risiko dengan penderitaan atau kemalangan yang sedang dialaminya. Ato nawö ba wa’igi, hatö ya’o na me’e. Pemazmur pun dikelilingi oleh orang-orang yang berniat menyakitinya, bersekongkol mencelakakan dia. Itulah sebabnya, dia merasa tidak berguna, tidak berharga, sama sekali tidak diinginkan, “seperti barang yang pecah” (ay. 13b). . Sudah jatuh, ketimpa tangga, no nasa mesokho ba ölau nasa nasio. Demikianlah kira-kira situasi yang sedang dialami oleh pemazmur.

Namun demikian, dalam situasi yang amat menyulitkan tersebut, pemazmur terus menyatakan kepercayaannya pada Tuhan. Dia bergantung pada Tuhan sebagai satu-satunya pihak yang dapat diandalkan oleh setiap orang yang menderita. “Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!” (ay. 14). Penderitaan dan keterasingan yang dialami oleh pemazmur dikontraskan langsung dengan citra Allah yang hadir dalam hidup orang yang menderita. “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!”(ay. 16). Pada ayat setelah teks khotbah pada hari ini, pemazmur menyerukan kepada Tuhan untuk membiarkan “wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu”(ay. 17a). Ayat ini mengingatkan kita pada ucapan berkat di Bilangan 6:25 “TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia”. Kata-kata ini merupakan panggilan bagi Tuhan untuk menunjukkan kemurahan-Nya kepada orang yang menderita. Kata-kata ini juga merupakan seruan untuk kehadiran Tuhan bersama dengan orang yang menderita. Sungguh suatu pengharapan yang luar biasa di masa-masa sulit.

Teks ini sejalan dengan masa-masa menjelang puncak penderitaan Yesus. Yesus kini sedang menuju Yerusalem untuk mengalami sendiri kepedihan dan penderitaan itu. Yesus-lah yang menderita dan dicemooh. Sepanjang jalan salib, Yesus terus dicemooh dan disiksa, bahkan ketika di kayu salib pun cemoohan itu terus muncul. Hari ini merupakan hari masuknya Yesus ke Yerusalem dengan penuh kemenangan (dalam dan melalui penderitaan), minggu Palmarum. Memang, ketika DIa masuk ke Yerusalem, orang banyak yang berkumpul tidak mencaci Dia, tetapi justru menghormati-Nya, mengelu-elukan-Nya, meletakkan daun palem dan jubah mereka untuk membuka jalan-Nya ke kota Tuhan. Tetapi, itu hanya sementara saja. Dalam hitungan hari, orang banyak yang berteriak "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Mrk. 11:9b), bisa jadi adalah orang yang sama yang berteriak, “Salibkanlah Dia!” (Mrk. 15:13).

Lihatlah, sosok yang masuk ke Yerusalem dan berjalan di atas karpet jubah orang banyak itu, adalah sosok yang sama yang mengetahui penderitaan kita yang terdalam, dan, melalui belas kasih Tuhan yang tak habis-habisnya, membawa keluh-kesah kita ke dalam diri-Nya sendiri. Kita tidak pernah ditinggalkan oleh Tuhan dalam penderitaan kita, sebaliknya kitalah yang sering meninggalkan Tuhan ketika kita tidak mampu bertahan dalam penderitaan. Kita dilingkupi oleh dan dalam kasih Tuhan. Karena begitu dipeluk oleh Tuhan, kita dibentuk bukan untuk mencemooh satu dengan yang lain, melainkan untuk merangkul orang-orang yang kita temui yang menderita.

Atas dasar itulah kita pun harus tetap dan terus berharap pada Tuhan. Seluruh dunia saat ini sedang merintih kesakitan karena pandemi Covid-19, serta berbagai penyakit yang melanda kehidupan kita. Kita mengeluh tidak saja karena virus corona yang telah menghantui hidup kita lebih dari satu tahun terakhir, tetapi karena dampaknya yang amat kompleks. Ketahuilah, Tuhan pun ikut bersama kita merintih kesakitan, dan itulah sebabnya Dia sangat tahu betapa sakitnya dan menderitanya kita. Tuhan Yesus adalah sosok yang pernah mengalami luka yang amat dalam, dan dalam luka-Nya tersebut kita sembuh dan dipulihkan. Yesus adalah yang terluka yang menyembuhkan. Itulah harapan kita, harapan yang tidak pernah sirna di tengah-tengah kesulitan hidup. Amin.

Sunday, March 21, 2021

Kristus Imam Besar yang Sempurna (Ibrani 5:5-10)

Khotbah Minggu, 21 Maret 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

5 Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”,
6 sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.”
7 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
9 dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,
10 dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.


Surat Ibrani berupaya meyakinkan audiensinya bahwa di dalam Yesus Kristus Allah dapat dikenal dengan baik. Untuk itu, penulis surat ini menggunakan analogi untuk menggambarkan salah satu peran yang dilakukan Yesus sebagai penyelamat umat manusia, yakin peran sebagai Imam Besar atas nama orang lain. Pasal 5 dari surat Ibrani ini berfokus pada peran Imam Besar, yang dalam PL terlihat dalam diri Melkisedek, dan sekarang terwujud dalam diri Yesus Kristus.

Pada ayat 5-6, dibahas keilahian Yesus dan rencana Allah secara historis melalui fungsi imamat. Kutipan pertama diambil dari Mazmur 2:7, yang pertama kali dinyatakan pada pasal 1:5. Ayat ini menegaskan keilahian Yesus. Secara teologis, kutipan ini mengacu pada Kristologi Injil Yohanes, yang hendak menegaskan bahwa Yesus bukanlah makhluk ciptaan, bukan bentuk Tuhan yang lebih rendah, melainkan Dia “diperanakkan bukan dibuat”. Inilah yang kemudian terungkap dalam Pengakuan Iman Nicea.

Kutipan kedua adalah Mazmur 110:4. Teks ini memperkenalkan tokoh legendaris, Melkisedek, yang dibahas dalam Kejadian 14 dalam hubungannya dengan Abraham. Sosok ini unik, sebab memiliki kesinambungan historis dari rencana Tuhan dalam hubungannya dengan Yesus. Melkisedek adalah prototipe dari Yesus sebagai putra Allah, Imam Besar par excellence bagi seluruh umat manusia. Ibrani 7:3 menggambarkan Melkisedek ini dalam istilah mistik dan ahistoris sebagai sosok yang: “tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.” Namun demikian, sosok ini disebut sebagai model manusia yang spesifik dan terpuji untuk seorang Imam Besar.

Apa saja peran Imam Besar?
Buku-buku Perjanjian Lama, seperti Imamat dan Ulangan penuh dengan diskusi tentang pentingnya imam. Dalam bagian khusus ini, penulis Ibrani menggambarkan Yesus sebagai seorang Imam Besar. Empat ayat pertama yang mendahului teks khotbah hari ini menguraikan peran Imam Besar tersebut. Imam Besar mewakili Tuhan bagi orang-orang, khususnya tentang persembahan dan korban karena dosa (5:1). Seterusnya, Imam Besar memiliki peran pastoral yang mesti menunjukkan simpati dan empati dengan orang yang dia layani (5:2-3). Peran ini ditegaskan kembali pada pasal 5:7-9. Akhirnya, imam merupakan anugerah Tuhan, suatu panggilan yang sungguh mulia (5:4, 9). Semua peran ini ada dalam diri Yesus. Yesus adalah Imam Besar, baik dalam konteks kerangka historis Israel tentang sosok imam besar maupun seperti yang dicontohkan oleh tokoh legendaris Melkisedek.

Apa artinya bagi kita?
Yesus adalah Imam Besar kita sampai saat ini. Kita tidak perlu bimbang dan ragu seperti pembaca mula-mula surat Ibrani. Dalam Yesus, semua peran Imam Besar itu telah tergenapi. Ia berasal dari Allah, dan telah ditetapkan oleh Allah untuk menjadi Imam Besar kita sampai selama-lamanya.

Sebagai Imam Besar, Yesus telah mempersembahkan persembahan dan korban yang amat berharga untuk pengampunan dosa-dosa kita, sekali untuk selama-lamanya. Itulah diri Yesus sendiri yang telah dipersembahkan dan dikorbankan di kayu salib sebagai tebusan atas dosa-dosa kita. Persembahan dan korban ini sempurna dan tidak bisa digantikan dengan yang lain lagi. Pada satu sisi pengorbanan Yesus untuk penebusan dosa-dosa kita ini telah menyucikan diri kita, tetapi pada sisi lain hendak mengingatkan kita untuk tidak menyalahartikan dan menyalahgunakan pengorbanan Tuhan tersebut dengan hidup sesuka hatinya masing-masing. Hanya orang yang dewasa dalam iman yang mampu bersyukur dan mennghargai pengorbanan Imam Besarnya, sebab anak-anak tidak bisa melakukannya (bnd. Ibr. 5:14).

Yesus adalah Imam Besar yang memiliki rasa simpati dan empati atas apa yang sedang dialami oleh umat manusia. Ia sungguh-sungguh mengerti keluh kesah kita, telah merasakan derita dan ratap tangis umat manusia (ay. 7). Ia pun tahu betapa jahilnya, betapa sesatnya, serta betapa lemahnya kita sebagai manusia biasa yang berdosa (Ibr. 5:2). Sebagai Imam Besar, Yesus tahu semuanya itu, itulah sebabnya Dia mempersembahkan doa dan permohonan belas kasihan Allah bagi kita, supaya kita diselamatkan (ay. 7-10 pemenuhan peran Imam Besar sebagaimana disebutkan pada ay. 1-4). Yesus telah menunjukkan kesetiaan-Nya sebagai Anak kepada Bapa-Nya, telah menyerahkan diri-Nya sebagai persembahan dan korban untuk penebusan dosa-dosa kita, dan telah mengalami penderitaan yang amat menyakitkan untuk keselamatan umat manusia.

Yesus telah melakukan segalanya bagi kita. Yesus telah memenuhi secara sempurna peran-Nya sebagai Imam Besar. Sekarang, bagaimana kita merespons tindakan Yesus yang menyelamatkan itu? Kalau kita bercermin dari orang-orang Ibrani pembaca mula-mula surat Ibrani seperti yang terungkap pada ayat-ayat setelah nas khotbah hari ini (5;11-14), maka paling tidak ada dua tipe manusia dalam memahami arti pengorbanan Yesus dalam hidupnya, yaitu: (1) tipe anak kecil (lih. Ibr. 5:13), dan (2) tipe orang dewasa (lih. Ibr. 5:14).

Tipe anak kecil, sukar untuk dijelaskan (5:11), lamban dalam hal mendengarkan (5:11), memerlukan susu atau makanan yang masih lembek (5:12), dan tidak memahami ajaran tentang kebenaran (5:13). Tipe orang dewasa, memahami dengan baik ajaran tentang asas-asas pokok dari penyataan Allah (5:12), mampu memakan makanan keras atau makanan orang dewasa (5:14), dan mampu membedakan yang baik dari pada yang jahat (5:14).

Pertanyaannya ialah orang Kristen dengan tipe yang manakah kita sampai hari ini? Kalau ditinjau dari sudut waktu sejak kita mendengarkan berita Injil, atau sejak kita menjadi orang Kristen, maka mestinya kita adalah orang-orang Kristen dengan tipe dewasa. Bagaimana dalam realitasnya?

--- selamat berefleksi ---



Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...