Monday, February 10, 2014

Dicari dan Dibutuhkan Pemimpin yang Takut akan Tuhan (Keluaran 18:13-23)



Khotbah Perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru 2014 
Partai Golkar Kabupaten Nias Barat[1]
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, S.Th, M.Si

Tema                 :  Datanglah ya Raja Damai (Yes. 9:5) à Aine khöma Salawa Wa’atulö (Yes. 9:6)
Sub Tema      :  Melalui kegiatan ini, marilah kita mencari pemimpin yang cakap dan takut akan  Allah, orang yang dapat dipercaya dan yang benci kepada pengejaran suap (Keluaran 18:21)
2 Moze 18:21 :  Ba tutuyu ba niha sato zangata’ufi Lowalangi, ba si faduhu dödöda, ba si lö mangalui khöra hadia ia, ba fataro ira sanguhuku sihönöhönö ba si otu’otu ba si limalima wulu ba si fulufulu.

Tema Perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru pada hari ini sudah tidak asing lagi bagi kita, karena sejak akhir tahun lalu, tema ini secara terus menerus direnungkan dalam setiap perayaan Natal oleh sebagian besar gereja-gereja di Indonesia, termasuk gereja-gereja di Kepulauan Nias. Hal ini tidak berarti bahwa tema natal yang dikutip dari Yesaya 9:5 tersebut sudah tidak menarik lagi. Bukan, bukan itu maksudnya! Saya juga tidak bermaksud mengabaikan makna dari teks Yesaya tersebut dengan memilih teks kutipan sub-tema sebagai bahan renungan pada hari ini. Saya justru mengajak kita untuk merenungkan secara mendalam tema natal ini mulai dari sub-temanya. Dengan demikian, perenungan kita pada hari ini akan fokus pada Kel. 18:21, dan ayat-ayat lainnya dibaca untuk menolong kita memahami dengan lebih baik ayat 21 dimaksud. Pada akhirnya kita akan mengarahkan perenungan ini pada tema perayaan natal dan syukuran tahun baru hari ini.

Musa, seorang pemimpin besar bagi bangsa Israel, dinasihati oleh Yitro, ayah mertuanya, tentang bagaimana seharusnya mencari dan memilih pemimpin bagi suku-suku di Israel. Pencarian dan pemilihan para pemimpin dengan kriteria tertentu menurut Yitro penting dilakukan untuk menolong diri Musa sendiri, dan terutama untuk memenuhi kebutuhan bangsa Israel akan pelayanan publik yang lebih baik dan lebih adil. Di ayat 16 disebutkan istilah “perkara” dan “mengadili”, yang sebenarnya tidak hanya menggambarkan “ruang/suasana pengadilan” seperti pada zaman sekarang. Maknanya lebih dari itu! Semua hal-hal yang perlu diajarkan, dipedomani, dan ditaati oleh bangsa Israel pada zaman itu, terutama hukum-hukum TUHAN, dianggap sebagai “perkara” yang harus diterapkan dan dilaksanakan secara adil, tentu termasuk persoalan penyelesaian kasus oleh para hakim seperti pada masa kita sekarang ini. Sekali lagi, maknanya lebih luas. Ternyata Yitro melihat bahwa bangsa Israel ini terdiri dari beberapa suku dengan jumlah penduduk yang cukup besar, sehingga kebutuhan mereka pun sangatlah kompleks, dan tidak mungkin ditangani oleh Musa sendiri (single-fighter), dan tidak mungkin dilayani oleh orang-orang yang dalam rekam jejaknya (track-record) tidak memenuhi kualifikasi (kriteria) tertentu. Istilah sekarang, tidak sekadar memilih “kucing dalam karung”. Sekali lagi, dalam rangka memenuhi kebutuhan bangsa Israel, maka perlu dicari dan dipilih para pemimpin di setiap suku untuk kemudian melaksanakan tugas pelayanan dalam kelompok tertentu, sehingga kepemimpinan di Israel dapat berjalan dengan baik dan adil.

Secara sederhana, melalui nasihatnya ini kepada Musa, Yitro hendak mengajar kita tentang bagaimana seharusnya memilih para pemimpin yang baik di tengah-tengah masyarakat, supaya kita tidak terjebak pada tampilan luar yang sepertinya baik padahal isinya sulit ditebak, bahkan cenderung membingungkan (apalagi dengan foto editan sekarang, kadang-kadang foto lebih cantik/ganteng dari aslinya). Dalam hal ini Yitro mendorong kita untuk mencari dan memilih pemimpin yang memenuhi kualifikasi tertentu, kualifikasi yang melampaui kepentingan politik sesaat (pragmatis), melampaui kepentingan atau hubungan keluarga/etnis/suku, dan melampaui kepentingan atau hubungan sosio-kultural tertentu.

Apa saja kualifikasi orang yang dapat dipilih sebagai pemimpin? Ayat 21 dengan jelas menyebutkannya, yaitu “... orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap ...”. Dari teks ini paling tidak ada 4 (empat) kualifikasi yang perlu dipenuhi:

(1)   Dalam hal pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah:
Orang yang cakap (able men), yaitu orang yang memiliki kesanggupan/ kemampuan, kemauan dan keberanian untuk melakukan sesuatu yang baik dan adil; orang yang tegas tetapi bijaksana; tenga bulu gae hili, orang yang berpendirian teguh sekaligus berpikiran jernih (bukan orang yang mengambil keputusan secara emosional); orang yang tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan sesaat; dan orang yang sudah terbukti dapat menyelesaikan masalah dengan bijak. Orang yang cakap berarti memiliki kemampuan dan keahlian di bidangnya, tidak sekadar “cangkokkan” di bidang itu.

(2)   Dalam kehidupan spiritualitas dan keagamaan:
Orang yang takut akan Allah, yaitu orang yang percaya bahwa ada Allah di atasnya; orang yang percaya bahwa ada Allah yang melihat apa saja yang diperbuatnya bahkan di tempat yang paling gelap sekali pun; orang yang sadar bahwa dia mempertanggungjawabkan seluruh tugas dan kehidupannya kepada Allah yang kelak akan mengadilinya; orang yang selalu mendasarkan seluruh hidup dan pekerjaannya atas kebenaran firman Tuhan (tenga ha sakali 5 fakhe manöröi osali); orang yang sadar sesadar-sadarnya bahwa jabatannya adalah pemberian Tuhan, bukan pembelian dari Tuhan, bukan pembelian suara rakyat. Takut akan Tuhan inilah yang merupakan benteng pertahanan manusia dalam melawan segala cobaan ketidakadilan (bnd. Ef. 6:10-11, 13, 17-18).

(3)  Dalam hal integritas dan kejujuran:
Orang-orang yang dapat dipercaya, yaitu orang yang selalu menyeimbangkan perkataan dan perbuatannya; orang yang selalu memenuhi janji-janjinya; orang yang tidak sekadar asbun; orang yang tidak sekadar mengobral janji-janji setinggi langit; orang yang dapat dipercaya perkataannya; orang yang mampu menyeimbangkan kehebatannya berdebat dengan kehebatannya berkarya nyata di tengah-tengah masyarakat; tenga niha sangai töinia ba zi lö erege dödönia; orang yang berani memilih untuk tidak mengatakan apa pun daripada mengatakan suatu kebohongan kepada masyarakat.

(4)  Dalam hal kekayaan duniawi:
Orang yang benci kepada pengejaran suap, yaitu orang yang tidak menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya dengan cara yang tidak benar dan tidak adil; orang yang mau dan mampu membuang jauh-jauh pikiran akan suap-menyuap; lebih luas dalam Yesaya 33:15 disebutkan “orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya supaya jangan melihat kejahatan”. Dengan demikian, kualifikasi seperti ini tidak bisa dipenuhi oleh orang-orang yang nantinya melakukan “money-politics”atau tuko-be.

Orang-orang yang memenuhi kualifikasi inilah yang oleh teks renungan kita pantas dicari dan dipilih menjadi pemimpin. Nasihat ini juga sekaligus mengingatkan para pemimpin dan calon pemimpin untuk tidak bermain-main dalam pemilihan caleg ke depan, baik sebelum pileg maupun sesudahnya, dan secara khusus setelah terpilih nantinya. Nasihat ini dimaksudkan supaya semua orang mendapatkan hak dan kewajibannya dengan adil, dan dari ke-adil-an itulah muncul rasa damai.

Sampai hari ini, kita tentu sangat membutuhkan “damai”, dan kita tentu terus berusaha mendapatkannya. Tentu juga pemahaman kita mengenai “damai” itu beragam, antara lain: DAMAI – Kekayaan/pekerjaan yang hebat, keturunan, kehormatan atau kemuliaan; DAMAI – Pendidikan dan gelar tinggi dan banyak sampai ada yang dulunya membeli gelar; DAMAI – gaya hidup glamor (hedonisme), materialis, konsumeris, dan individualis. Kalau mau jujur dan sedikit lebih rendah hati, DAMAI ini semua sifatnya “semu”. DAMAI yang sesungguhnya hanya ada di dalam Tuhan, hanya ada ketika kita memiliki rasa takut akan Tuhan.

Tema natal ini adalah Datanglah ya Raja Damai! Ini adalah seruan dan doa sekaligus harapan kita, agar Raja Damai itu berkenan tinggal dan memerintah kehidupan kita di dunia yang telah dikuasai oleh ketidakdamaian, kekacauan, konflik, kebencian, dan lain sebagainya. Kita membutuhkan damai:
-        Bebas dari segala ancaman dan rasa
-        Bebas dari segala macam kekuatiran, ketidakpastian
-        Bebas dari segala macam kebencian, kelicikan, kemunafikan
-        Bebas dari segala macam praduga/curiga yang tidak jelas dan tidak berdasar
-        Bebas dari sikap saling menjatuhkan, dendam dan sakit hati

DAMAI berarti dapat menikmati kehidupan dengan bebas dalam keadilan, kebenaran, dan kedamaian itu sendiri. DAMAI berarti menjalani kehidupan sedemikian rupa dalam terang kasih Tuhan. DAMAI berarti hidup dikuasai oleh Raja Damai itu dan bukan oleh berbagai kesuksesan, prestise, dan kebanggaan duniawi. DAMAI berarti berkompetisi dengan sehat sebelum, selama, dan sesudah pileg.

Seperti apa pemimpin yang kita butuhkan dan kita cari?

Seorang anak muda pencari kerja di sebuah kantor, diwawancarai oleh seorang pejabat penting di kantor tersebut. inilah petikan wawancara itu:
Pejabat : Apakah Anda bisa mengoperasikan komputer?
Pemuda : Tidak!
Pejabat : Apakah Anda bisa melakukan tugas pengarsipan?
Pemuda : Tidak!
Pejabat : Apakah Anda bisa melipat surat-surat kantor dan amplopnya?
Pemuda : Tidak!
Pejabat : Apakah Anda bisa membersihkan kantor?
Pemuda : Tidak!
Pejabat : Apakah Anda bisa membuatkan minuman (kopi & teh)?
Pemuda : Tidak!

... dst ... akhirnya sang Pejabat kantor itu mengajukan pertanyaan terakhir:

Pejabat : Kalau begitu, apa yang Anda bisa lakukan?
Pemuda : Saya bisa melakukan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan, kebenaran dan kedamaian bagi kantor ini.

Datanglah ya Raja Damai!
Damai itu dirasakan oleh rakyat kalau pemimpin yang muncul adalah pemimpin yang cakap dan takut akan Allah, pemimpin yang dapat dipercaya dan yang benci kepada pengejaran suap. Pemimpin yang dicari dan dibutuhkan adalah pemimpin yang dapat mendatangkan kebaikan, kebenaran, dan kedamaian bagi orang banyak.



[1]Bahan Khotbah Perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru 2014 Partai Golkar Kabupaten Nias Barat, Onolimbu, Minggu, 9 Pebruari 2014, oleh Pdt. Alokasih Gulo

Monday, February 3, 2014

Apakah Tuntutan Allah bagi Umat-Nya? “Menyeimbangkan Keadilan Sosial dan Upacara Kurban” (Mikha 6:1-8)

Bahan Khotbah Minggu, 2 Pebruari 2014
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, S.Th, M.Si[1]

6:1     Baiklah dengar firman yang diucapkan TUHAN: Bangkitlah, lancarkanlah pengaduan di depan gunung-gunung, dan biarlah bukit-bukit mendengar suaramu!
6:2    Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan TUHAN, dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi! Sebab TUHAN mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya, dan Ia beperkara dengan Israel.
6:3    “Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku!
6:4    Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan dan telah mengutus Musa dan Harun dan Miryam sebagai penganjurmu.
6:5    Umat-Ku, baiklah ingat apa yang dirancangkan oleh Balak, raja Moab, dan apa yang dijawab kepadanya oleh Bileam bin Beor dan apa yang telah terjadi dari Sitim sampai ke Gilgal, supaya engkau mengakui perbuatan-perbuatan keadilan dari TUHAN.” (lih. Bil. 22:18; 25:1).
6:6    “Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun?
6:7    Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?”
6:8    “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Pengantar (Konteks dan Latarbelakang)
Nabi Mikha tinggal di Moresyet, sebuah kota kecil di Yehuda dan bernubuat di sana. Nampaknya dia aktif di Yehuda sebelum kejatuhan Samaria pada tahun 722 SZB, hidup pada masa pemerintahan raja Ahas (735-715 SZB) dan Hizkia (715-687 SZB). Nabi Mikha ini termasuk dalam kelompok nabi-nabi kecil, dan sering dianggap sebagai Yesaya kontemporer. Walaupun nubuatannya termasuk pendek, namun bukunya ini memiliki satu bagian yang sangat terkenal dalam PL, yaitu Mikha 6:8. Banyak penafsir mengatakan bahwa dalam nas ini Mikha hendak menegaskan bahwa keadilan sosial merupakan tuntutan satu-satunya Tuhan atas umat-Nya, dan karenanya Mikha menganjurkan penghapusan upacara kurban. Apabila kita mendalaminya lagi, ternyata Mikha dalam pasal 6:1-8, dan bahkan dalam seluruh kitab Mikha, tidak sekadar menganjurkan keadilan sosial, tetapi menyerukan adanya keseimbangan antara keadilan sosial dan upacara kurban.

Mikha menyadari bahwa kurban merupakan elemen penting dari perjanjian antara Tuhan dan umat Israel. Sambil tetap mempertahankan pemberian kurban ini kepada Tuhan, Mikha juga menyadari bahwa kurban itu bukanlah satu-satunya ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian itu. Karenanya Mikha mengingatkan umat Israel akan bagian penting dari perjanjian yang seharusnya dipenuhi, yaitu Mikha 6:8. Sayang sekali, umat Tuhan telah gagal memenuhi tuntutan itu. Sekali lagi, Mikha memberi penekanan penting pada keadilan sosial dalam ayat ini, atau lebih tepatnya sang nabi menganjurkan adanya keseimbangan antara keadilan sosial dan upacara kurban kepada Tuhan, dan tidak boleh mengabaikan salah satunya.

Mikha menyampaikan bahwa masih ada lagi yang harus dipenuhi dalam agama dan relasi Israel dengan Tuhan daripada sekadar upacara keagamaan dan pemberian kurban bakaran itu. Namun, hal ini tidak berarti bahwa Mikha hanya menekankan keadilan sosial dan mengabaikan upacara keagamaan dan pemberian kurban persembahan tersebut. Sesungguhnya Mikha masih sangat mendukung ibadah formal, tetapi dalam keseimbangan dengan keadilan sosial. Saya kira itulah yang dimaksudkan di ayat 8 yang sering dihubungkan dengan teologi bait suci di Sion. Keseimbangan kedua aspek ini mendapat penekanan utama dari Mikha dalam pemberitaannya.

Apa Tuntutan (Permintaan) Tuhan bagi Umat-Nya?
Berbagai pandangan tentang agama dan kebaikan dalam masyarakat kita dan di dalam gereja dewasa ini. Bagaimana sikap kita terhadap Allah; kegagalan kita dalam upaya menjadi orang Kristen yang baik dengan memberikan waktu, uang, dlsb. Kita boleh mengajukan pertanyaan, “ayolah Tuhan, apa yang Engkau inginkan dariku?”
Pertanyaan ini menjadi tema panduan untuk memahami keinginan Allah dalam kehidupan umat-Nya. Apakah yang diminta oleh Allah?
a.       Tuntutan 1 – Perhatian kita (ay. 1-3). Allah meminta kita untuk berhenti berpikir tentang siapa Dia dan siapa kita. Dia mau supaya kita berpikir tentang perilaku dan sikap kita terhadapnya à orang sering memperdebatkan tentang siapa Allah, bagaimana rupa Allah, dsb, tetapi jarang mendiskusikan bagaimana seharusnya hidup di hadapan Tuhan. Dalam nas khotbah hari ini, terutama di ayat 1-3, Allah meminta kita untuk memperhatikan tuntutannya dan kalau bisa mencoba menjawabnya:
·         Pemberitaan-Nya – Allah dengan pasti meminta perhatian umat-Nya! Alam sendiri di sini diminta untuk menjadi saksi dari pengadilan itu.
·         Utang-Nya – Apakah Allah pernah membebani umat-Nya? Bagaimana Dia membebani kita? Apakah kita pernah berpikir bahwa Tuhan itu adalah beban bagi kita?
·         Tantangan-Nya – Jawablah Tuhan jika kita bisa! Allah tahu bahwa Dia tidak pernah membebani umat-Nya. Justru yang terjadi adalah sebaliknya!
b.      Tuntutan 2 – Ingatan kita (ay. 4-5). Allah mau kita mengingat kembali bagaimana Dia telah mengasihi, menolong, dan melindungi kita pada masa lalu. Hal ini kiranya dapat memberikan kita gambaran yang jelas akan keadilan dan kesetiaan Allah kepada kita.
·         Pembebasan – kisah Keluaran dari Mesir dan cerita Bileam. Allah telah menolong dan membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir dan mengutus para pemimpin di tengah-tengah mereka sepanjang sejarah. Dia melindungi mereka dari segala kutukan dan bahaya (yang diusahakan oleh Balak), dan dengan ajaib membimbing mereka menyeberangi sungai Yordan menuju tanah perjanjian. Kita harus mengingat masa lalu kita yang penuh dengan perbudakan dan bahaya lainnya, yang darinya Allah telah menolong dan membebaskan kita, dan sekarang telah membawa kita kepada kehidupan yang baru. Atau adakah orang yang berani mengatakan bahwa dia tidak pernah mengalami kasih dan pertolongan Tuhan?
·         Tindakan pendisiplinan dari Allah – kisah penghukuman bagi yang bersalah di Sitim (Bil. 25:1-9). Allah harus mendisiplinkan umat-Nya dari Sitim ke Gilgal, tetapi toh kita masih dapat melihat betapa besar kasih Tuhan dalam pendisiplinan itu (bnd. Amsal 3:11-12; 5:22-23).
·         Kesetiaan-Nya – ingatlah bagaimana Allah begitu setia/adil (ebua dödö).
c.       Tuntutan 3 – Hati umat-Nya (ay. 6-8). Kita tidak dapat membeli kebaikan Tuhan, atau membayar kasih-Nya melalui barang-barang mewah atau materi tertentu. Allah meminta kita untuk setia/taat kepada-Nya dan mengupayakan yang terbaik bagi sesama kita.
·         Nilai-nilai Ilahi – perhatikan urutan persembahan itu, mulai dari yang “murah” hingga ke yang “mahal”: (korban bakaran > anak lembu > domba jantan > curahan minyak > persembahan anak sulung dan buah kandungan)
Bandingkan dengan apa yang diminta oleh Tuhan, semakin lama menuju kerendahan hati: (tindakan keadilan > kesetiaan > hidup dengan rendah hati

Intinya: selain berbagai upacara keagamaan, Allah meminta umat-Nya untuk hidup dalam keadilan sosial. Hal ini sebenarnya telah diungkapkan sebelumnya dalam Ulangan 16:20 “Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.”

Upacara Keagamaan Penting! Keadilan Sosial juga Penting!
Yesus pernah mengecam ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, dan orang-orang munafik pada zaman-Nya, karena mereka seolah-olah sangat saleh dengan kehidupan segala macam persembahan mereka kepada Tuhan, padahal dalam kehidupan sehari-hari mereka melakukan tindakan ketidakadilan. Lengkapnya Yesus mengatakan:
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Apa yang sering terjadi dewasa ini? Bukankah seringkali dilaksanakan kebaktian yang terkesan mewah, monumental, dan “terlihat ramai”? Bukankah jumlah persembahan semakin besar dari waktu ke waktu? Bukankah semakin banyak orang yang memberi persembahannya dalam jumlah besar di gereja, apalagi di tahun politik ini? Bukankah banyak orang yang nampaknya sangat peduli dengan kegiatan kerohanian, atau dalam berbagai kegiatan keagamaan, termasuk ada orang yang beragama lain tetapi “rela” mengikuti kebaktian di gereja seolah-olah dia orang yang taat kepada Tuhan? Bukankah ada orang yang menyanyikan lagu rohani Kristen seolah-olah telah menghayati kehidupan kekristenan yang sesungguhnya?

Sekarang, kita sering melihat para penguasa menindas mereka yang kecil, para pengusaha mengeksploitasi buruhnya, korupsi terjadi di mana-mana bahkan terjadi di lembaga penegakan hukum. Orang kaya sering berlaku tidak adil kepada mereka yang miskin, penguasa sering menindas orang lemah, bahkan orang miskin dan orang lemah sendiri sering berlaku tidak adil satu terhadap yang lain.

Apa yang seharusnya kita lakukan di hadapan Tuhan? Yaitu: melakukan keadilan, mencintai kebaikan, dan berjalan dengan Tuhan dalam kerendahan hati.



[1]Bahan Khotbah Minggu, 02 Februari 2014, di Jemaat BNKP Faekhu Resort 2, oleh Pdt. Alokasih Gulö, S.Th, M.Si

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...