Saturday, April 21, 2018

Dorongan untuk tetap Setia kepada Tuhan (1 Tesalonika 2:13-20)


Rancangan Khotbah Minggu, 22 April 2018
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo[1]

2:13 Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi--dan memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya.
2:14 Sebab kamu, saudara-saudara, telah menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu segala sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi.
2:15 Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami. Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi,
2:16 karena mereka mau menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka. Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya.
2:17 Tetapi kami, saudara-saudara, yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu.
2:18 Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu--aku, Paulus, malahan lebih dari sekali--,tetapi Iblis telah mencegah kami.
2:19 Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu?
2:20 Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami.


Setelah berbicara tentang pelayanannya di ayat 1-12, sekarang Paulus fokus pada jemaat Tesalonika. Ayat 13 diawali dengan perkataan: “dan karena itulah …”, yang ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya, secara khusus ayat 12 ketika Paulus meminta jemaat untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Jadi, Paulus mengucap syukur karena jemaat Tesalonika, sejauh ini, telah bertahan dalam berbagai kesulitan dan mereka masih hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Jadi, dalam teks khotbah hari ini, Paulus mengucap syukur kepada Allah karena jemaat Tesalonika: (1) telah menerima firman Allah yang diberitakan oleh Paulus; (2) telah menjadi penurut-penurut (pengikut) jemaat-jemaat Allah; dan (3) telah mengambil risiko menderita karena berita Injil.

Sebenarnya, ada kekuatiran kalau jemaat Tesalonika menjadi tidak setia kepada Allah oleh karena berbagai penganiayaan yang mereka alami. Sejauh ini memang mereka tetap bertahan dalam iman, walaupun orang-orang Yahudi terus menerus mendatangkan penderitaan bagi mereka. Dalam situasi seperti ini, Paulus merasa penting memberi dukungan kepada mereka, sebab penganiayaan atau penderitaan yang tiada henti-hentinya dapat saja melemahkan iman, mengendurkan semangat dan menghambat pertumbuhan rohani jemaat.

Bagaimana Paulus memberikan dorongan/semangat kepada jemaat itu?

Pertama, dengan menyadari bahwa saudara-saudara mereka (orang-orang Kristen) yang ada di Yudea pun mengalami penganiayaan atau kesulitan yang sama, terutama penganiayaan dari saudara-saudara Yahudi mereka. Namun demikian, jemaat-jemaat Allah di Yudea tetap setia. Hal ini diharapkan dapat menjadi teladan dan motivasi bagi jemaat Tesalonika untuk terus bertahan, untuk tetap setia sekali pun ada banyak kesulitan yang harus dihadapi karena mengikut Yesus.

Kedua, teladan Paulus sendiri. Dia (dan rekan-rekan yang lain) juga mengalami penganiayaan dari orang-orang Yahudi (padahal dia sendiri berasal dari bangsa Yahudi) oleh karena mengikut dan melayani Tuhan. Para penganiaya inilah yang dia maksud dengan sebutan “iblis” (ay. 18). Iblis ini yang selalu menghalangi dia untuk mengunjungi jemaat Tesalonika, tujuan Iblis tersebut adalah supaya jemaat-jemaat semakin menderita, terisolasi, dan pada akhirnya mereka menjadi tidak setia. Namun, Paulus pun tetap setia, dan mencari jalan lain untuk memberikan semangat kepada jemaat Tesalonika, antara lain dengan mengirimkan surat kepada mereka. Jadi, Paulus tidak menyerah pada rintangan yang diciptakan oleh iblis, tidak kendur walaupun para penganiaya selalu menghalanginya.

Ketiga, murka Allah yang akan menimpa para penganiaya (ay. 16). Dengan kata-kata ini, Paulus hendak memastikan kepada jemaat Tesalonika bahwa Allah tidak pernah diam, tidur, atau membiarkan begitu saja para penganiaya (iblis) melakukan sebebas-bebasnya kejahatan mereka. Tuhan tahu semuanya, tahu siapa sesungguhnya para iblis itu, tahu siapa para penganiaya itu, tidak ada satu pun yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Pada saatnya, Tuhan akan menimpakan murka-Nya atas mereka sepenuh-penuhnya. Artinya, keadilan ilahi akan ditegakkan, jadi orang-orang percaya haruslah tetap bertahan dalam iman mereka.

Terakhir, Paulus menggunakan pendekatan emosional untuk memberikan dorongan kepada jemaat untuk tidak menyerah, yaitu bahwa pengharapan, sukacita, mahkota atau kemuliaan Paulus adalah jemaat Tesalonika. Kalau bukan mereka, lalu siapa lagi? Jadi, Paulus ingin mereka setia sampai Kristus kembali. Menurut Paulus, sejauh ini mereka sungguh luar biasa, namun Paul ingin melihat jemaat itu sampai pada garis akhir, setia sampai pada kesudahannya, seperti perkataan Yesus di Matius 24:13 “tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat”. Inilah yang disebut dengan “happy ending”.


Bacalah Roma 8:35, 38-39 à tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.


[1] Khotbah Minggu, 22/04/2018, HKBP Diaspora, Jakarta

Sunday, April 8, 2018

"Apakah engkau mengasihi Aku?" (Yohanes 21:15-19)


Rancangan Khotbah Minggu, 08 April 2018
Pdt. Alokasih Gulo[1]

21:15   Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
21:16  Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
21:17  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.
21:18   Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.”
21:19  Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”

Setelah sarapan, kita melihat percakapan Yesus dengan Petrus mulai dari ayat 15. Disebutkan bahwa Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali apakah ia mengasihi-Nya, sebab kita masih mengingat bahwa Petrus pernah menyangkal Yesus tiga kali, dan sekarang Yesus memberinya kesempatan untuk menegaskan kasihnya tiga kali. Pada pertanyaan yang terakhir, disebutkan bahwa Petrus sedih karena Yesus menanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya. Kalau pertanyaan yang sama diulang-ulang sampai tiga kali, apakah kita sedih? Atau kesal? Atau dongkol? Atau seperti apa?

Yesus bertanya kepada Petrus: “Simon apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Pada titik ini Yesus mungkin menunjuk pada perahu, jala, ikan atau alat-alat lainnya yang ada di situ. Yesus seolah-olah bertanya: “Simon apakah engkau cukup mengasihi Aku dengan meninggalkan semua ini dan mengikuti Aku?” Yesus bisa saja juga mengacu kepada murid-murid, mengatakan, “Simon apakah engkau mengasihi Aku lebih dari saudara-saudaramu ini?” Jika hal ini terjadi maka Simon yang pernah berkata, “Meskipun mereka semua tergoncang imannya aku tidak akan” (Markus 14:29). Jika ini adalah pertanyaan kepada Simon yang juga dikenal sebagai Petrus, maka tampaknya dia mengakui kelemahannya, dan dengan demikian ia berkata, “Tuhan, Engkau tahu aku mengasihi-Mu.”

Simon telah belajar dari penyangkalannya terhadap Yesus sebanyak 3 kali, dan kini dia Yesus mengajukan pertanyaan yang sama sebanyak 3 kali: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Terkesan, Yesus mengajak Petrus untuk mengenang kembali penyangkalannya terhadap Yesus tersebut. Namun, ada yang menarik pada respons Petrus di ayat 17, yaitu hatinya sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya. Dalam 2 pertanyaan awal, Yesus menggunakan kata dasar “agape” (kasih Allah) untuk “mengasihi”, dan Petrus menjawabnya dengan menggunakan kata dasar “philos” (kasih persaudaraan, kasih persahabatan). Lalu, di pertanyaan yang ketiga, Yesus “menyadari” bahwa Dia tidak mungkin menuntut Petrus dengan standar kasih yang amat tinggi, yaitu agape, sebab tampaknya Petrus menyadari bahwa dia mengasihi Yesus dalam keberadaannya sebagai manusia biasa, itulah kasih “philos”. Artinya, Petrus berkomitmen mengasihi Yesus, namun dengan kesadaran bahwa dia tidak mungkin menyamai kasih Yesus (agape) kepada dirinya (manusia). Walaupun demikian, di ayat 18, Yesus mengingatkan Petrus akan “harga yang harus dibayar” atas komitmennya mengasihi Yesus.

Dalam segala keterbatasannya, atau dalam segala kegagalannya, Petrus tidak bisa membandingkan kasihnya bagi Yesus dengan orang lain; ia hanya senang bahwa ia mengasihi Yesus. Mungkin kita bisa belajar dari Simon untuk tidak perlu mencoba menjadi lebih rohani daripada yang lain, atau mencoba untuk memberitahu dunia bahwa kita mengasihi Yesus lebih dari yang lain mengasihi Dia, dan bahwa semua yang kita lakukan adalah untuk mengasihi-Nya. Yesus kemudian memberitahu Petrus bagaimana mengasihi-Nya, yaitu dengan merawat dan memberi makan domba-domba-Nya (menggembalakan domba-domba Yesus). Itulah caranya Yesus menyuruh Petrus mengasihi-Nya, “merawat dan memberi makan domba-Ku.”

Sekarang mari kita lihat dua kata terakhir dari teks renungan kita pada hari ini. Jika kita mengasihi Yesus, maka Yesus berkata, “ikutlah Aku”. Mengikut Yesus dimaksudkan bukan untuk mendapatkan kasih dan anugerah-Nya, melainkan lebih sebagai tanggapan manusia atas apa yang telah Yesus anugerahkan dalam hidup manusia. Sekarang kita mengikuti Yesus. Mengikuti Kristus yang bangkit berarti bahwa Paskah bukanlah acara satu hari. Yesus menjamah dunia melalui kita dengan pesan Paskah, dan pesan Paskah dimaksud adalah apa yang dulunya mati sekarang hidup. Yesus telah mati, tetapi sekarang hidup. Kita sudah mati dalam dosa-dosa kita, tetapi melalui keajaiban salib kita diampuni dan dihidupkan.

Menjadi mati untuk kemudian hidup, merupakan tema sentral Paskah di seluruh Alkitab. Hal itu dapat terwujud apabila kita merawat dan memberi makan domba-domba-Nya, menjangkau mereka dengan pesan Paskah, memberi mereka hidup, membagikan kasih Tuhan bagi semua orang.

Kita mungkin masih mengingat kata-kata Yakobus: “Ibadah yang murni dan tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita ialah mengunjungi (merawat) yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yak. 1:27). Gereja dan orang-orang Kristen harus memiliki semangat seperti itu, semangat kepedulian sosial, semangat kepedulian terhadap mereka yang belum beruntung seperti kita saat ini, semangat yang tidak mengambil keuntungan atas kelemahan orang lain, dan semangat yang mendatangkan atau menghadirkan kehidupan sebagaimana Kristus telah menyatakan kehidupan itu bagi kita.

Menanggapi kasih Allah yang memberikan kita kehidupan berarti kita semua akan terlibat dalam menyampaikan kehidupan itu kepada orang lain. Ada begitu banyak cara Tuhan memanggil anggota jemaat kita untuk terlibat dalam menyampaikan pesan Paskah ini. Sangat tragis rasanya apabila masih ada orang yang mengaku mengasihi dan mengikut Kristus, tetapi dalam faktanya dia sering mempersulit sesamanya, merusak kehidupan, bahkan merusak dirinya sendiri. “Apakah engkau mengasihi Aku?” tanya Yesus.


Mengasihi, mengasihi, lebih sungguh (2x)
Tuhan lebih dulu mengasihi kepadaku
Mengasihi, mengasihi, lebih sungguh.


[1] Khotbah Minggu, 08/04/2018, GKPI Pulo Mas

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...