Saturday, June 26, 2021

Kedukaan atas Kematian Sahabat dan Musuh (2 Samuel 1:17-27)

Rancangan Khotbah Minggu, 27 Juni 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


17 Daud menyanyikan nyanyian ratapan ini karena Saul dan Yonatan, anaknya,
18 dan ia memberi perintah untuk mengajarkan nyanyian ini kepada bani Yehuda; itu ada tertulis dalam Kitab Orang Jujur.
19 Kepermaianmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Betapa gugur para pahlawan!
20 Janganlah kabarkan itu di Gat, janganlah beritakan itu di lorong-lorong Askelon, supaya jangan bersukacita anak-anak perempuan orang Filistin, supaya jangan beria-ria anak-anak perempuan orang-orang yang tidak bersunat!
21 Hai gunung-gunung di Gilboa! jangan ada embun, jangan ada hujan di atas kamu, hai padang-padang pembawa kematian! Sebab di sanalah perisai para pahlawan dilumuri, perisai Saul yang tidak diurapi dengan minyak.
22 Tanpa darah orang-orang yang mati terbunuh dan tanpa lemak para pahlawan panah Yonatan tidak pernah berpaling pulang, dan pedang Saul tidak kembali dengan hampa.
23 Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa.
24 Hai anak-anak perempuan Israel, menangislah karena Saul, yang mendandani kamu dengan pakaian mewah dari kain kirmizi, yang menyematkan perhiasan emas pada pakaianmu.
25 Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu.
26 Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan.
27 Betapa gugur para pahlawan dan musnah senjata-senjata perang!

Kita sudah tahu bahwa hubungan antara Daud dan Saul sebenarnya tidak harmonis hingga akhir hidup Saul. Namun demikian, Daud tetap menaruh hormat kepada Saul dan menyebutnya sebagai orang yang diurapi TUHAN (bnd. 2Sam. 1:14). Pada sisi lain, hubungannya Yonatan (anak Saul) dengan Daud amatlah baik. Dalam 1 Samuel 18:1 disebutkan bahwa jiwa Yonatan berpadu dengan jiwa Daud, Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri. Rasa hormat Daud kepada Saul sebagai orang yang diurapi TUHAN amatlah tinggi, dan kasihnya kepada sahabat dekatnya Yonatan amatlah dalam. Itulah sebabnya, Daud amatlah sedih ketika keduanya (Saul dan Yonatan) gugur dalam peperangan melawan bangsa Filistin. Dia kehilangan orang yang diurapi TUHAN dan sahabat yang amat dikasihinya.

Teks khotbah hari ini merupakan puisi kuno yang mengungkapkan kesedihan Daud yang amat dalam atas kematian Saul dan Yonatan. Daud berduka atas kematian Saul, walaupun dia mencoba membunuh Daud beberapa kali. Kehilangan orang yang diurapi TUHAN, sosok yang dipercaya sebagai pemegang mandat Allah atas umat-Nya, jauh lebih berpengaruh daripada permusuhan yang ada di antara mereka. Daud berduka atas kematian sahabatnya Yonatan, hal yang lumrah terjadi di antara sahabat. Melalui puisi atau ratapan kedukaan ini, Daud hendak menyampaikan bahwa bangsa Israel telah kehilangan sosok yang amat berpengaruh bagi mereka, Saul sebagai raja, dan Yonatan sebagai salah seorang tentara Israel yang amat disegani pada waktu itu. Daud menyebut mereka sebagai pahlawan yang gugur demi mempertahankan eksistensi dan kehormatan Israel.

Puisi ini menggambarkan kehancuran bangsa Israel yang amat tragis melalui kematian Saul dan Yonatan. Dalam ratapan ini, Daud berbicara tentang pegunungan Gilboa, anak-anak perempuan Israel, dan Yonatan. Ratapan ini juga dapat mewakili ungkapan kesedihan kita atas kehilangan teman dekat atau saudara, atau mereka yang gugur dalam peperangan, atau seorang pemimpin besar. Seringkali kita mengalami masa-masa yang penuh duka, termasuk kesedihan karena kematian banyak orang akibat Pandemi C-19.

Dalam 2 Samuel 1:19, kematian Saul diratapi sebagai tanda kekalahan Israel. Sementara pada ayat 20, Daud mengekspresikan perasaan hatinya yang hancur dan malu atas kekalahan Israel tersebut. Saul telah meninggal di Pegunungan Gilboa. Dalam ratapannya, Daud menyebut atau malah menyampaikan semacam kutukan atas pegunungan Gilboa tersebut. Daud seolah-olah mengajak seluruh alam untuk ikut dalam kesedihan atas kematian Saul (1:21). Daud meratap sambil mengisahkan kepahlawanan Saul dan Yonatan, mereka adalah pejuang yang tidak mengenal takut dan tak kenal lelah. Daud melupakan semua kepahitan yang pernah dialaminya karena permusuhannya dengan Saul. Kini, Daud justru ‘memuji’ mereka sebagai sosok yang tak tergantikan, dan kematian keduanya sesungguhnya merupakan pukulan menyakitkan bagi seluruh bangsa Israel.

Pada ayat 24, disebutkan bahwa Daud meminta secara khusus anak-anak perempua Israel untuk menangis atas kematian Saul. Para perempuan ini sepertinya merupakan kelompok peratap yang sudah umum ada di Israel pada waktu itu. Mereka memiliki semacam ‘utang’ kepada Saul, dan harus dibayarkan melalui tangisan dan ratapan mereka atas kematiannya. Bagi Daud, kematian Saul merupakan kehilangan dan kedukaan nasional.

Sementara itu, kesedihan terdalam Daud secara pribadi adalah kematian Yonatan, sahabat yang amat dikasihinya. Daud menggambarkan cinta Yonatan lebih ajaib daripada cinta perempuan. Tampaknya, hal ini ada kaitannya dengan tindakan Yonatan yang dulu “menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya” (1Sam. 18:4). Ini simbol penyerahan takhta seorang raja, yang seharusnya diteruskan kepada Yonatan, tetapi dia rela memberikannya kepada Daud. Sungguh, betapa dalamnya cinta-kasih Yonatan kepada Daud.

Tetapi, kini telah berakhir. Sang raja, Saul, telah gugur di medan perang. Sang prajurit, sahabat yang penuh kasih, Yonatan, juga telah gugur di medan perang. Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! (ay. 25a). Betapa gugur para pahlawan dan musnah senjata-senjata perang! (ay. 27).

Gereja seharusnya dapat menjadi ‘tempat’ di mana kematian dapat dihadapi secara realistis dan kesedihan kita atas kehilangan dapat diungkapkan dengan aman. Gereja seharusnya menjadi ‘ruang’ dan ‘komunitas’ yang terbuka dan aman bagi mereka yang ingin mengekspresikan kedukaannya. The church is the community for the broken, gereja merupakan komunitas (yang bersahabat) bagi mereka yang hancur.

Masalahnya adalah dunia kita semakin kehilangan kemanusiaannya. Banyak orang yang tidak bisa lagi berduka atas tragedi yang menimpa sesamanya, apalagi yang menimpa orang-orang yang tidak disukainya. Beberapa tahun yang lalu, Eka Darmaputera (alm.) mengekspresikan kegelisahannya atas kemanusiaan kita yang semakin hilang, bahkan atas nama agama. Beliau mengatakan:

Bila orang tak lagi bisa berduka atas tragedi yang menimpa sesamanya,
dan ketika hidup-mati manusia tak lagi sentral dalam pertimbangan kita,
itu berarti ada sesuatu yang amat salah dengan peradaban kita;
Ada sesuatu yang amat salah dengan kemanusiaan kita; Ada sesuatu yang
amat salah dengan keyakinan agamaniah kita.
Prioritas utama mengembalikan kemanusiaan bersama kita itu.
Orang bilang bahwa peradaban modern telah memampukan manusia memiliki
hampir segala sesuatu. Tetapi apabila yang hilang adalah kemanusiaan,
apakah gunanya semua yang ia miliki itu? Orang juga bilang bahwa agama
sedang bangkit dan naik daun, tapi kalau agama yang bangkit itu tak
mampu menolong manusia menemukan kembali kemanusiaannya, apakah
gunanya agama?

Daud telah menunjukkan kemanusiaannya, baik kepada sahabatnya maupun kepada musuhnya. Dia menunjukkan itu melalui ratapan kedukaan yang mengungkapkan kesedihan yang amat dalam atas kehilangan keduanya. Pertanyaan refleksi bagi kita adalah dengan cara apa aku menunjukkan kemanusiaanku atas berbagai tragedi yang dialami oleh orang-orang di sekitarku? Saya agak kuatir, bahwa semakin sedikit orang yang memiliki kepekaan manusiawi tersebut. Ato nawögu ba wa’igi, ba hatö ya’o na me’e. Mestinya, baik dalam suka, maupun duka, kita tetap bersama.

Sunday, June 20, 2021

Siap Sedia (Kej. 41:25-36)

Renungan tentang Mimpi Firaun
Disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo

25 Lalu kata Yusuf kepada Firaun: “Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya.
26 Ketujuh ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan ketujuh bulir gandum yang baik itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama.
27 Ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, yang keluar kemudian, maksudnya tujuh tahun, demikian pula ketujuh bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu; maksudnya akan ada tujuh tahun kelaparan.
28 Inilah maksud perkataanku, ketika aku berkata kepada tuanku Firaun: Allah telah memperlihatkan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya.
29 Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir.
30 Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu menguruskeringkan negeri ini.
31 Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu.
32 Sampai dua kali mimpi itu diulangi bagi tuanku Firaun berarti: hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan Allah akan segera melakukannya.
33 Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir.
34 Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir.
35 Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya.
36 Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu.”


Pertama-tama, kita mesti memperjelas dan menjernihkan pemahaman kita dulu tentang mimpi pada zaman dulu. Mengapa? Karena ajaran PL sendiri tentang mimpi termasuk ambigu, pada satu sisi mengisahkan tentang mimpi yang seolah-olah mengajak kita percaya pada mimpi itu, tetapi pada sisi lain PL juga memperingatkan kita untuk tidak mengandalkan mimpi dalam memahami rencana dan kehendak Tuhan.

Dalam Alkitab, diceritakan bahwa Tuhan berkali-kali menggunakan mimpi untuk mengomunikasikan kehendak-Nya, mengungkapkan rencana-Nya, dan mengumumkan peristiwa-peristiwa masa depan. Salah satunya adalah mimpi Firaun yang kemudian diartikan oleh Yusuf. Melalui mimpi Firaun, Allah hendak menyampaikan peristiwa yang akan terjadi, kemakmuran dan kelaparan, masing-masing terjadi selama tujuh tahun. Oleh sebab itu penting melakukan persiapan sejak dini untuk mengantisipasi masa-masa sulit setelah masa kemakmuran tersebut. Namun demikian, kita juga dapat menemukan dalam Alkitab, yaitu dalam Ulangan 13, tentang pentingnya pengujian yang cermat untuk membuktikan bahwa suatu mimpi dan penafsirannya berasal dari Tuhan atau bukan. Nabi Yeremia pun menyampaikan peringatan kepada umat Tuhan untuk memahami mimpi dengan hati-hati, sebab Allah belum tentu menggunakan mimpi sebagai media untuk menyatakan kehendak-Nya (lih. Yer. 23:28). Dalam kitab Pengkhotbah disebutkan bahwa mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan dan sejajar dengan percakapan bodoh (Pkh. 5:2), dan bahkan disejajarkan dengan perkataan yang sia-sia (Pkh. 5:6). Jadi, pada satu sisi kita dapat membaca dalam Alkitab kisah-kisah tentang mimpi yang dianggap berasal dari Allah, tetapi pada sisi lain kita pun menemukan dalam Alkitab penegasan untuk tidak mengandalkan mimpi.

Dalam PB pun kita dapat membaca kisah tentang mimpi yang menyatakan rencana dan kehendak Allah serta peristiwa yang akan terjadi. Sebelum kelahiran Yesus Kristus, Yusuf mendapatkan tiga pesan mimpi tentang peristiwa yang akan datang (Mat. 1:20-25; 2:13, 19-20). Dalam Matius 2:12, orang-orang majus diperingatkan dalam mimpi untuk tidak kembali kepada Herodes. Dalam Kisah Para Rasul 16:9, Rasul Paulus mengalami penglihatan malam tentang seseorang yang memintanya untuk pergi ke Makedonia. Melalui penglihatan malam yang dapat dianggap sebagai semacam mimpi itu, Allah memerintahkan Paulus untuk memberitakan Injil di Makedonia. Namun demikian, dalam kerangka keselamatan yang sesungguhnya, kita diajarkan untuk percaya hanya kepada Yesus Kristus saja, bukan pada mimpi. Mengapa? Karena pada zaman akhir, Allah berbicara kepada manusia langsung melalui perantaraan Anak-Nya, Yesus Kristus (lih. Ibr. 1:1-2).

Kembali kepada mimpi Firaun: tujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk badannya vs tujuh ekor lembu yang yang buruk bangunnya dan kurus badannya, sama-sama keluar dari sungai Nil, kemudian lembu-lembu yang kurus itu memakan ketujuh ekor yang gemuk badannya itu; tujuh bulir gandum yang bernas dan baik vs tujuh bulir gandum yang kurus dan layu oleh angin timur, dan bulir yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang bernas dan berisi tadi (Kej. 41:1-7). Sayang sekali, tidak ada seorang pun dari semua ahli dan semua orang berilmu di Mesir yang mampu mengartikan mimpi tersebut (Kej. 41:8). Singkat cerita, dipanggillah Yusuf untuk mengartikan mimpi Firaun tersebut, informasi tentang Yusuf disampaikan oleh kepala juru minuman yang dulu pernah satu sel dengan Yusuf (Kej. 41:9). Yusuf pun mengartikan mimpi Firaun tersebut, dua mimpi dengan arti yang sama, demikian penjelasan awal Yusuf (ay. 26). Arti dari mimpi itu ada di ayat 29-31 “Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir. Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu menguruskeringkan negeri ini. Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu”. Tetapi, Yusuf tidak berhenti pada arti mimpi itu, dia kemudian menyampaikan maksud dari mimpi tersebut, yaitu supaya sejak dini Firaun melakukan persiapan untuk menghadapi masa-masa sulit yang akan terjadi setelah masa kemakmuran tersebut (ay. 33-36). Ini kemudian menjadi jalan bagi Yusuf untuk menjadi penguasa nomor dua di Mesir setelah Firaun (lih. Kej. 41:39-40). Kunci keberhasilan Yusuf dalam mengartikan mimpi Firaun, dan yang kemudian menjadi dasar bagi Firaun untuk mengangkatnya menjadi wakilnya, adalah karena dia “penuh dengan Roh Allah”.

Apa makna kisah ini?
Pertama, Mesir pada zaman dulu terkenal dengan orang-orang yang ahli dan berilmu, dan mereka sangat bangga dengan itu. Para penasihat Firaun terkenal cerdas, termasuk dalam hal meramalkan sesuatu yang akan terjadi. Tetapi, melalui kisah mimpi Firaun ini keahlian dan ilmu mereka tidak ada artinya ketika berhadapan dengan misteri Allah. Walaupun mereka adalah ahli dan berilmu, tetapi itu tidak cukup untuk memahami rencana dan kehendak Allah. Hanya mereka yang dipenuhi oleh Roh Allah yang mampu mengerti isi hati Allah. Kisah inilah yang kemudian menunjukkan kepada kita bahwa Yusuf dapat menduduki posisi yang amat tinggi dan strategis hanya karena kuasa Roh Allah yang telah memenuhinya, walaupun sebelumnya di hidup dalam kesulitan di penjara. Roh Allah yang memampukan kita untuk memahami rencana dan kehendak-Nya. Ketika berbagai fenomena alam dan sosial terjadi di sekitar kita, mestinya kita mampu membaca dan memahaminya di bawah tuntunan Roh Allah, sehingga kita dapat bersikap dan bertindak bijak dalam menjalani kehidupan ini.

Kedua, peristiwa ini menjadi semacam pengantar atau informasi pendahuluan bagi kita tentang bagaimana leluhur Israel masuk dan tinggal di Mesir, dan kemudian menjadi budak selama ratusan tahun di sana. Ini hendak menggenapi perkataan Allah kepada Abraham dulu bahwa kelak keturunannya akan “menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya” (Kej. 15:13). Artinya, Allah dapat memakai berbagai peristiwa, dan Allah memiliki banyak cara untuk menggenapi rencana dan kehendak-Nya. Perhatikanlah, informasi tentang Yusuf yang mampu mengartikan mimpi tidak segera disampaikan oleh kepala juru minuman itu sekeluarnya dari penjara. Informasi tentang Yusuf ini baru disampaikan pada saat yang tepat, yaitu ketika Firaun bermimpi. Jadi, waktu Tuhan seringkali sulit dipahami oleh manusia.

Ketiga, kalau Allah menyatakan rencana dan kehendak-Nya melalui berbagai cara dan fenomena alam dan sosial di sekitar kita, Dia bermaksud agar kita lebih waspada, agar kita bisa menyiapkan diri sejak dini menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Maknailah setiap peristiwa dan fenomena yang terjadi dalam pemahaman bahwa Allah mungkin saja menghendaki kita untuk hidup lebih cermat, lebih cerdas, dan lebih bijak.

Friday, June 11, 2021

Berikanlah Sepenuh Hatimu (2 Korintus 9:6-10)

Renungan tentang Hal Memberi

Konteks
Teks 2 Korintus 9:6-10 sebaiknya dipahami dalam hubungannya dengan perikop sebelumnya, karena dalam konteks ini Paulus masih berbicara tentang pemberian persembahan. Apabila kita membaca pasal sebelumnya (2Kor. 8:1-24), kita akan mengetahui bagaimana Paulus mendorong jemaat Kristen di Korintus untuk mengumpulkan persembahan bagi orang-orang miskin di Yerusalem, bahkan menyebut Titus dan saudara-saudara yang lain yang memberi perhatian pada pengumpulan persembahan ini.

Pertama-tama Paulus memberi contoh orang-orang Makedonia, yang secara materi dan bahkan dalam beberapa aspek kehidupan mereka tergolong miskin, tetapi justru dalam kemiskinan itu mereka mau dan bisa memberi persembahan. Artinya, mereka sendiri sebenarnya layak dibantu, namun karena iman yang cukup mendalam mereka malah mengumpulkan persembahan untuk saudara-saudara mereka seiman di Yerusalem. Mengapa? Karena mereka menyadari bahwa Allah telah banyak memberikan kepada mereka, dan pemberian itu haruslah dibagi kepada sesama. Apa pun kondisi orang-orang Makedonia, berkekurangan, dan malah sedang menderita, tidak menghalangi mereka dalam mengumpulkan persembahan, sebab mereka percaya bahwa pemberian mereka itu pertama-tama ditujukan kepada Allah, dan karena kasih karunia Allah pemberian itu digunakan untuk para rasul dan umat Tuhan yang membutuhkan.

Analogi Tabur-Tuai
Tampaknya, Paulus sengaja memberi contoh orang-orang Makedonia ini, karena dalam banyak aspek mereka jauh berada di bawah orang-orang Korintus. Dengan contoh ini Paulus hendak mendorong jemaat di Korintus untuk lebih peduli terhadap sesama, dan tidak perlu mencari-cari alasan bahwa mereka tidak sanggup memberikannya. Paulus seolah-olah berkata: “Kalau jemaat Makedonia yang lemah atau miskin itu bisa memberi, bagaimana mungkin kamu yang hidup mapan tidak sanggup? Malu dong …”.

Setelah menggunakan contoh orang-orang Makedonia sebagai “cambuk” bagi jemaat Korintus untuk memberi, sekarang Paulus menggunakan analogi “tabur-tuai,” supaya jemaat semakin bersemangat dan bermurah hati dalam memberi. Pada ayat 6 Paulus mengatakan: “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Analogi ini sebenarnya berangkat dari kehidupan pertanian, semakin banyak menabur benih/bibit yang baik atau berkualitas, semakin banyak juga nanti menuai hasil yang menggembirakan. Sebaliknya, semakin sedikit menabur, hasil yang akan diperoleh akan sedikit juga. Artinya, Paulus menganalogikan perbuatan memberi persembahan sebagai pekerjaan menabur benih/bibit.

Prinsip memberi menurut Paulus di sini cukup jelas: kita menuai atau memanen hasil sebanding dengan penanaman kita, atau kita mendapatkan sebanyak dan sebaik yang kita berikan. Ini berlaku untuk pemberian persembahan kita, termasuk persembahan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan seperti dibahas oleh Paulus dalam surat 2 Korintus ini. Prinsip memberi yang diajarkan Paulus ini tampaknya terkait dengan sikap jemaat Korintus yang hidup di kota perdagangan (pusat bisnis) yang cenderung memperhitungkan untung-rugi dalam hal memberi. Paulus hendak menyadarkan jemaat bahwa memberi sesuatu kepada orang-orang yang membutuhkan, atau pun memberi persembahan lainnya, sesungguhnya tidak akan menjadi kerugian bagi mereka. Sebaliknya mereka justru akan mendapatkan hasil yang setimpal, bahkan berlimpah-limpah dari apa yang mereka berikan sebelumnya. Benar bahwa hasil yang didapatkan mungkin saja tidak langsung diterima pada saat itu, tetapi menurut Paulus “Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (ay. 8).

Memberi menurut Anugerah Tuhan
Dengan analogi tabur-tuai itu, Paulus juga hendak mengingatkan jemaat bahwa apa pun yang mereka miliki merupakan pemberian atau anugerah Tuhan. Perhatikan perkataan Paulus di ayat 10 “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu”. Melalui kata-kata ini, Paulus mengajak jemaat untuk menyadari bahwa semua yang dimiliki, bahkan hidup ini, merupakan anugerah Tuhan saja, dan Tuhanlah yang memberkatinya. Oleh sebab itu, jemaat mesti menempatkan apa pun yang dimiliki dalam bingkai anugerah Tuhan. Jemaat mesti hidup berbagi, sebab dengan anugerah mereka memilikinya, dan sekarang dengan anugerah Tuhan pun mereka membagikannya kepada sesama yang membutuhkan. Ini sejalan dengan perkataan Yesus: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat. 10:8b). Singkatnya, dengan anugerah Tuhan, jemaat mendapatkannya, dan dengan anugerah Tuhan juga jemaat memanfaatkannya.

Kembali ke ayat 8 dan didukung oleh ayat 10, bahwa Tuhan mampu melimpahkan atau melipatgandakan kembali hasil pemberian jemaat itu. Pemberian mereka tidak akan berlalu begitu saja, tidak akan sia-sia, sebab akan bermanfaat bagi orang yang membutuhkannya, dan akan menjadi berkat kembali bagi mereka yang memberikannya. Itulah sebabnya Paulus tadi mengatakan bahwa kita akan menerima kembali setimpal dengan benih yang kita tabur.

Konsep ini memang dapat menimbulkan kesalahpahaman, seolah-olah Tuhan dapat dibujuk dengan pemberian kita, atau seolah-olah berkat Tuhan ditentukan oleh berapa banyak persembahan yang kita berikan. Konsep ini juga dapat disalahartikan seolah-olah Tuhan memaksa kita untuk memberi banyak, sebab kalau tidak kita akan menuai sedikit. Paulus tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya mendorong jemaat untuk memberikan persembahan dengan mencontoh orang-orang Makedonia, dan dengan keyakinan bahwa Tuhan akan sanggup memberikan kembali yang terbaik bagi mereka.

Memberi dalam Kerelaan
Itulah sebabnya, Paulus menegaskan di ayat 7 dengan berkata: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Di sini Paulus tidak mau kalau jemaat memberikan persembahannya karena terpaksa. Paulus tidak mau kalau jemaat memberikan persembahan dalam keterpaksaan. Lalu, apa yang dimaksud oleh Paulus?

Pertama, masing-masing hendak memberikan apa yang telah dia putuskan di dalam hatinya untuk diberikan. Berikanlah berdasarkan keputusan dan kerelaan hatimu, jangan karena merasa malu kalau tidak memberi, jangan karena alasan ‘gengsi’, dan jangan dengan motivasi supaya keinginanmu harus diikuti. Kedua, memberi berdasarkan pertimbangan yang sehat: sehat bagi diri sendiri, sehat bagi keluarga, dan sehat bagi orang/pihak yang menerima.


Monday, June 7, 2021

Memberi dalam Rangka Kepedulian Sosial (2 Korintus 8:1-5)

Renungan tentang Memberi Persembahan

8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
8:3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
8:4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
8:5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.


Pada bagian ini Paulus mendorong jemaat Kristen di Korintus untuk mengumpulkan persembahan bagi orang-orang miskin di Yerusalem, dengan beberapa gagasan dan dengan menyebut Titus dan saudara-saudara yang lain yang memberi perhatian pada pengumpulan persembahan ini.

Pertama-tama Paulus memberi contoh orang-orang Makedonia, yang secara materi dan bahkan dalam beberapa aspek kehidupan mereka tergolong miskin, tetapi justru dalam kemiskinan itu mereka mau dan bisa memberi persembahan. Artinya, mereka sendiri sebenarnya layak dibantu, namun karena iman yang cukup mendalam mereka malah mengumpulkan persembahan untuk saudara-saudara mereka seiman di Yerusalem. Mengapa? Karena mereka menyadari bahwa Allah telah banyak memberikan kepada mereka, dan pemberian itu haruslah dibagi kepada sesama. Apa pun kondisi orang-orang Makedonia, berkekurangan, dan malah sedang menderita, tidak menghalangi mereka dalam mengumpulkan persembahan, sebab mereka percaya bahwa pemberian mereka itu pertama-tama ditujukan kepada Allah, dan karena kasih karunia Allah pemberian itu digunakan untuk para rasul dan umat Tuhan yang membutuhkan.

Jemaat di Yerusalem menjadi miskin melalui perang, kelaparan, penyiksaan sampai banyak yang menderita kelaparan, busung lapar, dll. Banyak di antara mereka yang sudah kian miskin ketika menjadi orang Kristen. Itulah sebabnya rasul Paulus mendorong jemaat-jemaat Kristen yang telah mendapatkan kasih karunia untuk saling membagi dengan memberi atau mengumpulkan persembahan, yang nantinya dikirim ke Yerusalem. Dengan demikian akan muncullah keseimbangan, seperti yang dikatakannya pada ayat 13 “….. supaya ada keseimbangan”. Keseimbangan itu tercapai kalau orang-orang beriman saling mencukupi kekurangan sesama.

Tampaknya, Paulus sengaja memberi contoh orang-orang Makedonia, karena dalam banyak aspek mereka jauh berada di bawah orang-orang Korintus. Dengan contoh ini Paulus hendak mendorong jemaat di Korintus untuk lebih peduli dan tidak ada alasan bahwa mereka tidak sanggup. “Kalau jemaat Makedonia yang lemah itu saja bisa memberi, masakan kamu yang hidup mapan tidak sanggup? Malu dong …”. Paulus tidak memaksa seseorang untuk memberi apa yang tidak ada padanya, tetapi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dasar pemberian ini adalah anugerah Tuhan. Kasih karunia Tuhan disini berarti Allah memberi anugerah bagi umat-Nya untuk saling memberi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sekali lagi tidak ada paksaan.

Sunday, June 6, 2021

Jangan Menghujat Roh Kudus (Markus 3:20-35)

Bahan Khotbah Minggu, 6 Juni 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


20 Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat.
21 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.
22 Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.”
23 Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?
24 Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan,
25 dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.
26 Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya.
27 Tetapi tidak seorangpun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu.
28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan.
29 Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.”
30 Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.
31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.
32 Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.”
33 Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”
34 Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!
35 Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”


Pada permulaan Injil Markus ini, dituturkan bahwa Yesus langsung berhadapan dengan tantangan dalam pelayanan-Nya, dan perlawanan dari berbagai pihak, baik dari manusia maupun iblis, sehubungan dengan tindakan-Nya yang dianggap mengganggu kenyamanan mereka, sementara orang banyak merasa takjub atas pengajaran dan tindakan-Nya tersebut. Setelah Dia dibaptis, iblis langsung mencobai-Nya (Mrk. 1:12-13). Di dalam rumah ibadat di Kapernaum, Yesus berhadapan dengan roh-roh jahat yang pada waktu itu menjadi momok bagi masyarakat (Mrk. 1:21-28). Berbagai penyakit disembuhkan-Nya, baik penyakit biasa maupun penyakit karena kuasa setan (Mrk. 1:29-34; 1:40-45, dst). Yesus pun mendapat perlawanan dari para imam, orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Selain itu, sejak awal diberitahukan oleh Markus bahwa di antara murid-murid-Nya ada yang akan mengkhianati Yesus (Mrk. 3:19). Hal yang cukup menyedihkan juga adalah sikap keluarga-Nya sendiri yang, entah karena apa, mereka menganggap Yesus sebagai orang yang tidak waras lagi, itulah sebabnya mereka datang untuk mengambil Dia (Mrk. 3:21; kata ‘mengambil’ sebenarnya berarti ‘menangkap’).

Jadi, dapat kita katakan bahwa dalam pelayanan-Nya, Yesus mendapatkan perlawanan dari pihak otoritas keagamaan Yahudi, dari pihak keluarga-Nya, dari sahabat-Nya (murid-Nya), dan tentu saja mendapatkan perlawanan dari iblis atau setan.

Lucunya, para ahli Taurat, menuduh (menghujat) Yesus sebagai orang yang kerasukan Beelzebul, padahal Yesus sendiri mengusir setan-setan. Keluarga-Nya, menuduh Yesus sebagai orang yang tidak waras, padahal Yesus justru menyembuhkan orang-orang yang tidak waras karena berbagai persoalan hidup dan karena kerasukan setan. Di sini, mereka menuduh Yesus dengan cara yang tidak masuk akal. Pada satu sisi mereka tidak mengakui mukjizat yang dilakukan Yesus, tetapi pada sisi lain, secara tidak langsung, mereka mengakui adanya peristiwa supernatural yang terjadi karena Yesus, hanya saja mereka mengalihkannya sebagai peristiwa yang berasal dari kuasa penghulu setan. Cara mereka menentang Yesus menunjukkan kepanikan yang luar biasa karena mereka tidak mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh Yesus, baik pengajaran maupun tindakan ilahi-Nya. Akibatnya, perhatian orang banyak beralih dari mereka, dan kini orang banyak itu menyatakan rasa takjubnya kepada Yesus. Bagi ahli-ahli Taurat cs, situasi ini tidak boleh dibiarkan, lalu mereka menuduh Yesus dengan hujatan-hujatan yang mengada-ada.

Itulah sebabnya Yesus mengklarifikasi tuduhan mereka tersebut, bahwa tidak mungkin sesama iblis mengacak-acak atau mengobok-obok rumahnya sendiri, kalau memang kuasa yang dimiliki Yesus itu berasal dari Beelzebul (penghulu/pengaran setan). Itulah maksud dari perumpamaan Yesus di ayat 23-27, bahwa tidak mungkin iblis melemahkan pertahanannya sendiri dengan cara mengusir sesama iblis, itu jelas tidak masuk akal. Artinya, Yesus bukanlah salah satu dari iblis seperti yang mereka tuduhkan. Pada ayat 27 Yesus menegaskan bahwa hanya orang kuatlah yang mampu menguasai atau menaklukkan rumah orang yang selama ini dianggap kuat. Apa maksudnya? Kalau sekarang Yesus mampu menguasai atau menaklukkan rumah iblis, berarti Yesus jauh lebih kuat, jauh lebih berkuasa dari iblis yang selama ini amat ditakuti itu. Dalam Yesus ada kuasa yang jauh melebihi kuasa iblis, jauh melebihi kuasa Beelzebul.

Yesus pun menyimpulkan tuduhan para ahli Taurat itu sebagai hujatan terhadap Roh Kudus. Ada berbagai hujatan yang sejak dulu dilakukan oleh manusia, dan bagi Yesus hujatan terhadap Roh Kudus merupakan dosa yang tak dapat diampuni, kesalahan yang harus dihukum (Mrk. 3:28-30). Sejak dulu dosa penghujatan amatlah serius, tetapi Yesus sendiri mengatakan bahwa dosa itu masih bisa diampuni, kecuali penghujatan terhadap Roh Kudus. Dalam ayat yang sangat penting ini, Yesus, yang mati untuk dosa-dosa kita dan dibangkitkan kembali, mengatakan dengan jelas bahwa semua dosa akan diampuni, kecuali dosa karena menghujat Roh Kudus (Mrk. 3:29).

Kata “diampuni” di sini berasal dari akar kata Yunani aphiemi, yang berarti mengusir dan mengabaikan. Hal ini bukan berarti bahwa Tuhan melupakan dosa-dosa kita, atau mengabaikan begitu saja dosa-dosa kita. Namun, berbagai dosa yang dilakukan itu masih dapat diampuni sehingga tidak lagi memengaruhi keselamatan kita. Yesus sendiri yang mengampuni kita, kecuali penghujatan terhadap Roh Kudus.

Kata “penghujatan” di sini mengacu pada ucapan yang tidak menghormati dan menentang Tuhan. Ketika Yesus menyimpulkan bahwa Dia adalah Anak Allah, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat melihat itu sebagai penghujatan. Sebaliknya, sikap orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak menerima Yesus merupakan sikap yang tidak menghormati dan menentang Allah yang telah mengutus Yesus ke dunia. Dalam hukum Musa, penghujatan terhadap Tuhan tersebut mendapatkan hukuman mati (Imamat 24:10-16). Oleh sebab itu, kita harus hati-hati, jangan sekali-sekali menentang Allah dengan berbagai cara dan olok-olok, karena kita akan berhadapan dengan Allah sendiri.

Akhirnya, Yesus pun mengklarifikasi siapa keluarga-Nya yang sesungguhnya. Ini tidak berarti bahwa Yesus durhaka kepada ayah dan ibu-Nya, Dai tetap menghormati mereka. Namun demikian, oleh karena keluarga-Nya malah menuduh Dia sebagai orang yang tidak waras, maka Yesus menegaskan bahwa keluarga-Nya yang sesungguhnya ialah mereka yang melakukan kehendak Allah.

Janganlah menghujat Roh Kudus, jangan mementang Allah, jadilah anggota keluarga Allah dengan melakukan kehendak-Nya.

--- selamat berefleksi ---

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...