Sunday, July 28, 2013

Menjadi Sesama Bagi Siapapun (Lukas 10:25-37)


Bahan Khotbah Minggu, 28 Juli 2013
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si


10:25    Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:26   Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"
10:27    Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
10:28   Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."
10:29   Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"
10:30   Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
10:31    Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
10:32    Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
10:33    Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
10:34   Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
10:35    Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
10:36   Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
10:37    Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Pengantar
Teks ini oleh LAI diberi judul “Orang Samaria yang murah hati”. Kita sudah sangat mengenal cerita ini, dan mungkin menarik sehingga kadang-kadang ada orang yang melihatnya bukan lagi sebagai perumpamaan melainkan kisah yang benar-benar terjadi. Bagi saya sendiri, teks ini menarik, tentu tetap dalam kesadaran dan atau pemahaman bahwa kisah panjangnya adalah perumpamaan, sedangkan kisah nyatanya ada di bagian awal dan akhir nas ini sendiri. Selain itu, teks ini tidak sekadar bicara tentang orang Samaria itu, tetapi sekaligus menyinggung orang-orang Yahudi, terutama para pemimpin atau pemuka agamanya.

Pendalaman Nas
Ada dua episode penting dari teks ini, keduanya memiliki struktur, pertanyaan, dan pernyataan dengan pola yang hampir sama. Diawali dengan sebuah pertanyaan ujian dari seorang ahli Taurat di ayat 25 tentang “yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal”, diikuti kemudian dengan pertanyaan balik Yesus kepadanya tentang “hukum yang pertama dan terutama” dalam hukum Yahudi. Setelah menjawab dengan benar pertanyaan Yesus itu, dilanjutkan kemudian dengan episode kedua, yaitu pertanyaan (kembali) ahli Taurat kepada Yesus tentang “siapakah sesamanya” (yang dituliskan sebagai upaya ahli Taurat tersebut untuk membenarnkan dirinya, ay. 29), dan tanggapan Yesus diungkapkan melalui perumpamaan ini. Perumpamaan ini diakhiri dengan sebuah pertanyaan Yesus kepada ahli Taurat tadi untuk menarik kesimpulan tentang “siapakah sesama” yang dimaksud. Dengan kata lain, melalui perumpamaan ini, Yesus membiarkan ahli Taurat untuk menjawab sendiri pertanyaannya sebelumnya kepada Yesus tentang siapakah sesamanya itu. Dan Yesus menutup dialog mereka itu dengan mengatakan: “Pergilah, dan perbuatlah demikian” (ay. 37b).

Namun, nampaknya target utama Lukas dalam dialog dan perumpamaan ini bukanlah “upaya memperoleh hidup yang kekal” sebagaimana ditanyakan oleh ahli Taurat tadi di awal dialog, dan dijawab sendiri serta diafirmasi oleh Yesus di akhir dialog mereka. Dengan tetap menghargai perhatian Yesus, ahli Taurat dan penulis teks ini akan “pertanyaan ahli Taurat itu”, Lukas sebenarnya mau menyampaikan sesuatu yang sangat penting melalui perumpamaan ini. Itulah sebabnya settingatau pun alur peristiwa perampokan tersebut dideskripsikan sedemikian rupa dengan cukup jelas dan sistematis. Demikian juga dengan orang-orang yang dilibatkan dalam kisah perumpamaan ini, digambarkan dengan ringkas tapi jelas. Episode orang Samaria merupakan cerita terpanjang dari seluruh perumpamaan itu.

Dua pihak yang sebenarnya memiliki hubungan yang sangat tidak harmonis, ditampilkan sekaligus dalam kisah ini, yaitu orang Yahudi (dalam hal ini imam dan orang Lewi), dan orang Samaria (dalam hal ini penolong orang yang dirampok tersebut). Dan, orang yang bertanya adalah orang Yahudi (ahli Taurat, unsur pimpinan dalam masyarakat/agama Yahudi). Kondisi geografis tempat peristiwa ini terjadi pun sangat mendukung perumpamaan Yesus ini, terutama pesan yang ada di baliknya. Maka, kita akan lihat sejenak gambaran geografis tempat peristiwa dalam perumpamaan ini terjadi, diikuti kemudian dengan gambaran ketegangan hubungan antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Samaria.

Pada zaman Yesus, terutama pada zaman pembaca tulisan Lukas, mereka tahu bahwa jalan ke Yerikho merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Pada abad pertama, jalan ke Yerikho terkenal sebagai jalan atau tempat yang paling berbahaya, karena karakternya seperti itu. Jaraknya cukup jauh, sekitar 17 mil (lebih dari 27 km). Tidak hanya itu, sepanjang jalan adalah hutan belantara (wilderness)dan gua-gua dimana orang dapat bersembunyi. Tidak ada perlindungan bagi siapa pun yang melewati jalan itu, tidak ada tenaga keamanan di jalan pada saat itu. Gerombolan perampok tinggal di gua-gua tersebut dan siapa pun yang melewati jalan itu adalah sasaran empuk mereka, dan umumnya si korban ditinggalkan begitu saja dalam kondisi terluka parah. Konteks geografis seperti inilah yang dipakai oleh Yesus dalam perumpamaannya untuk menggambarkan peristiwa perampokan dan bagaimana orang Yahudi maupun orang Samaria menunjukkan “perhatian” (care) terhadap si korban.

Dalam pandangan orang Yahudi, orang-orang Samaria merupakan orang yang murtad, pengkhianat, dan mereka adalah musuh utama. Mengapa? Sebenarnya, orang Samaria merupakan keturunan penduduk kerajaan utara yang ditaklukkan oleh Asyur sekitar 800 tahun sebelum Kristus, tepatnya tahun 722 SZB. Pada waktu itu, ada kebijakan Asyur dalam hal kawin-mengawini, yaitu mereka mengirim para pemudanya (laki-laki dan perempuan) ke kerajaan utara untuk kawin dengan orang-orang di sana, dan terjadilah perkawinan campur itu. Itulah sebabnya orang selatan (orang Yahudi) menyebut mereka sebagai “peranakan”, orang yang darahnya telah kotor dan bukan lagi asli Yahudi.

Yesus sendiri, dan pembaca Lukas tentu mengetahui sejarah panjang konflik Yahudi dan orang-orang Samaria ini. Tidak lama sebelum zaman Yesus, sekelompok pemuda Samaria merusak bait Allah dan membuang tulang-tulang di seluruh bait suci sehari sebelum perayaan paskah dan roti tidak beragi. Akibatnya orang-orang Yahudi harus membatalkan perayaan pada tahun itu. Hal ini tentunya sangat membuat geram orang-orang Yahudi, sehingga mereka secara “bergantian” berusaha menekan atau melakukan tindakan kekerasan satu terhadap yang lain, termasuk peningkatan ketidakamanan dalam perjalanan yang secara geografis dan karakteristik memang tidak aman. Bahkan, hubungan mereka tidak seharmonis hubungan orang-orang Yahudi dengan orang-orang Palestina yang secara kebetulan tinggal di tanah yang sama dengan orang-orang Samaria.

Lalu, apa yang terjadi?
Teman dialog Yesus tadi, dan tentunya orang-orang Yahudi, berharap bahwa imam dan orang Lewi itu akan melihat sesama orang Yahudi yang telah terluka dan akan menolongnya. Sayang sekali, imam dan orang Lewi tersebut sangatlah kaku dan terikat dengan hukum Taurat yang melarang mereka mendekati dan menyentuh orang yang tidak tahir. Mereka bisa saja memiliki kepedulian atau perhatian (care), tetapi kekakuan dan keterikatan mereka terhadap hukum Taurat telah mengalahkan kepekaan atau empati mereka terhadap orang yang membutuhkan. Kalau tidak, atau apabila mereka melanggarnya maka mereka akan didiskualifikasi dalam pelayanan bait Allah.

Sejauh ini teman dialog Yesus tadi, termasuk pembaca tulisan Lukas dari kaum Yahudi, memahami bahwa orang Samaria adalah musuh utama, orang yang harus dibenci, orang yang tidak mengindahkan hukum, orang yang paling berdosa. Namun, lihatlah, orang Samaria ini, ketika dia datang, justru menolong korban perampokan itu dengan kebaikan yang luar biasa, bahkan sampai membayar orang lain untuk merawat si korban tadi dan membayar kembali seluruh biaya pengobatannya. ini merupakan suatu kebaikan yang tidak pernah terpikirkan, khususnya bagi orang yang dirampok. Ternyata, orang Samaria ini telah menjadi sesama yang sangat luar biasa, bahkan kepada musuhnya. Dia tidak peduli dengan ketegangan hubungan mereka dengan orang Yahudi (yang akan ditolongnya itu), dia tidak peduli dengan berbagai aturan hukum yang berlaku (seperti diperhitungkan oleh imam dan orang Lewi), dia tidak peduli dengan segala risiko yang harus dia tanggung (mis. risiko keuangan). Baginya, “menjadi sesama” bagi orang lain dengan menyatakan kasih, kepedulian, kepekaan dan empati bagi yang membutuhkan, jauh lebih penting dari segala persoalan yang telah dan bakal terjadi. Saya kita, itulah berita Injil kerajaan Allah yang disampaikan kepada pembaca Lukas, tidak hanya kepada orang-orang Yahudi tetapi juga kepada orang lain (dalam hal ini diwakili oleh orang Samaria).

Akhirnya, Yesus mengajak ahli Taurat tadi melalui sebuah pertanyaan tentang “sesama manusia” (ay. 36) sebagaimana ditanyakannya sebelumnya (ay. 29), dan akhirnya juga ahli Taurat itu menemukannya (ay. 37a). Itulah inti jawaban Yesus atas pertanyaan cobaan dari ahli Taurat tadi (ay. 25), sekaligus inti dari perumpamaan ini, dan pesan utama yang disampaikan kepada para pembaca Lukas, yaitu “MENJADI SESAMA BAGI SIAPAPUN”.

Pokok-pokok Renungan:
·         Pada satu sisi teks ini berbicara tentang bagaimana seharusnya orang percaya mewujudnyatakan kepedulian atau perhatian bagi siapa pun yang membutuhkan, dengan tidak dibatasi oleh sekat-sekat apa pun, bahkan tidak boleh dikalahkan oleh berbagai aturan atau hukum yang sebenarnya diciptakan oleh manusia sendiri. Kasih, kepedulian, perhatian, kepekaan dan empati kepada mereka yang membutuhkan (those who are in need)haruslah menempati tempat yang penting dalam kehidupan orang percaya.
·         Pada sisi lain, melalui dialog dan perumpamaan ini, Lukas mengajak kita untuk merenungkan bahwa segala macam konflik, atau ketidakharmonisan hubungan, akan selesai ketika kita “menjadi sesama” bagi yang lain, lebih tepatnya: “Menjadi Sesama Bagi Siapapun”. Itulah berita penting yang disampaikan dalam teks ini.
·         Menjadi sesama bagi siapapun berarti siap dan mau menyatakan kasih dan kepedulian terhadap mereka, dengan tidak mempersoalkan latar belakang atau perbedaan yang dimiliki.
·         Menjadi sesama bagi siapapun berarti siap dan mau menerima dan melayani orang lain tanpa dibatasi oleh berbagai faktor atau alasan apa pun.
·         Konflik tidak akan pernah selesai, dendam dan kekerasan tidak akan pernah berhenti, dan damai tidak pernah kita nikamti kalau kita tidak pernah “menjadi sesama” bagi yang lain.
·         Sesama dalam bahasa Nias disebut sahatö, artinya orang dekat. Dalam bahasa Inggris dituliskan “neighbor” artinya tetangga. Jadi, “menjadi sesama” berarti memiliki atau menciptakan semacam ikatan “kedekatan” satu dengan yang lain, dengan tidak dihalangi oleh berbagai “gangguan” apa pun.
·         Hanya dengan “menjadi sesama” bagi yang lain, kita dapat memperoleh hidup yang kekal itu. Sangat logis dan realistis!


Thursday, July 11, 2013

My House is not My Home



Oleh: Pdt. Alokasih Gulõ, M.Si


Seorang ibu bercerita:
“Saya mempunyai dua orang suami, suami yang pertama telah meninggal dunia dan kami mempunyai anak 4, dan semuanya itu telah meninggal. Kemudian saya dinikahkan dengan laki-laki lain dan saya dianugerahkan anak sebanyak 3 orang, tapi sayang kedua anak laki-laki saya meninggal pula dan tinggal seorang anak perempuan saya. Kami sekeluarga tinggal bersama tetapi di dalam keluarga tidak ada ketentraman. Terlebih-lebih setelah anak perempuan saya menikah. Mereka tinggal bersama-sama dengan kami sekeluarga. Anak saya perempuan dan juga menantu saya tidak pernah menganggap saya sebagai ibu. Suami saya juga hanya mabuk-mabukan saja. Saya di dalam rumah itu seperti seorang budak (wajahnya kelihatan sedih dan ia mengusap wajahnya dengan tangannya). Bagiku rumahku sendiri seperti neraka. Saya selalu dijadikan pekerja bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Saya bekerja tiap hari tetapi mereka selalu mengomeli saya dan membentak-bentak saya bahkan mencaci-maki saya (sambil mengucapkan kata-kata makian). Saya setiap hari bekerja di ladang, masak nasi dan pekerjaan dapur. Namun dalam pekerjaan itu saya selalu disalahkan (no sala aõkõ ufalua). Jika saya masak banyak nasi, itu salah, kalau sedikit mereka juga menyalahkan saya. Jadi, saya tidak sanggup lagi dengan hal itu”.


Kisah di atas hanyalah satu dari sekian banyak kisah kehidupan di mana banyak orang merasa tidak berada di rumah sendiri. Kejadian, situasi dan perasaan-perasaan yang seperti ini dengan berbagai versi dan “dosis” bisa terjadi bagi siapa saja, tidak peduli jabatannya, tidak peduli jenis kelaminnya, tidak peduli fisiknya (tinggi-pendek, gemuk-kurus, sehat-sakit, cantik-jelek), tidak peduli umurnya, tidak peduli latar belakangnya, tidak peduli pendidikannya, tidak peduli kesehatannya, tidak peduli agama bahkan gerejanya. Banyak orang yang merasa tidak nyaman di rumahnya dan memilih untuk menghabiskan waktu bersama-sama dengan teman-temannya di sekolah, di kantor, di warung, dan di mana saja. Banyak orang yang merasa “malas” pulang ke rumah setelah jam kantor, setelah jam sekolah, atau setelah jam aktifitasnya di luar selesai. Ada banyak alasan untuk tidak segera pulang ke rumah: pekerjaan masih banyak yang mendesak (lembur), ada “meeting”, ada diskusi kelompok, ada kegiatan ekstra (pengembangan diri), melayat, menjenguk teman yang sakit, motor/mobil kempes atau di-service, ada tilang, macet, ada kecelakaan di depan tadi, “no arõrõdo manõ – umbalinga lõ irugi inõtõ nasa”, dan masih banyak lagi alasan lain yang membuat seseorang “malas” atau “enggan” pulang ke rumah dengan segera karena baginya rumahnya (house)bukanlah keluarganya (home). Ada banyak alasan juga untuk datang ke kantor, ke sekolah, ke pertemuan, atau ke tempat kerja lebih cepat dari waktu yang biasanya: disiplin waktu, ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, kami petugas kebersihan kelas, ada apel pagi atau upacara bendera, kami harus menyiapkan tempat pertemuan, ada surat-surat atau laporan pada pertemuan nanti yang harus diprint-out, “bos” (pimpinan) meminta saya datang lebih awal, ada tamu yang harus disambut, dan masih banyak lagi alasan yang bisa “diciptakan” untuk bisa “cabut” lebih cepat dari rumah karena dia merasa “jenuh” atau “tidak tenteram” di rumahnya sendiri.

Suatu rumah (house) idealnya adalah menjadi keluarga (home) bagi setiap penghuninya, tetapi harus diakui bahwa ada banyak orang yang justru merasakan bahwa rumahnya (house)tidak berfungsi sebagai keluarga (home)baginya. Ã  bersambung ...

Saturday, July 6, 2013

Menghidupi dan Mengamalkan secara Nyata Doa atau Spiritualitas Kristen (Kolose 4:1-4)


Pokok Pikiran Khotbah Minggu, 7 Juli 2013
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si
 
4:1    Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.
4:2   Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.
4:3   Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.
4:4   Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya.
4:5   Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.
4:6   Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

Teks ini menyoroti dua hal, yaitu (1) tentang kehidupan spiritual (doa) yang sehat (ay. 2-4); dan (2) tentang pengamalan (wujud nyata) kehidupan spiritual (doa) itu dalam sikap dan perbuatan sehari-hari (ay. 1, 5-6). Konteks seperti ini sebenarnya terlihat mulai dari pasal 3:5 sampai pasal 4:6, yaitu upaya menghubungkan pengetahuan dan spiritualitas dengan perbuatan. Barclay dan Tenney melihat bahwa salah satu persoalan serius di Kolose adalah adanya kaum intelektual kosong yang membual tentang misteri, pengetahuan rahasia, dan hikmat, ketika melecehkan Kristus dengan filsafatnya yang palsu. Demikian juga adanya kaum beragama yang “sok moralis”, sok spiritualis, tentu dilatarbelakangi oleh pengalaman religius mereka yang bersifat emosional dan mistis.

Menanggapi kedua tantangan dan ancaman ini, Paulus mengajak jemaat untuk tidak terlena dengan intelektualitas kosong dan kehidupan spiritualitas semu itu, sebaliknya orang Kristen harus dengan menempatkan kehidupan berimannya itu dalam kesadaran penuh. Pada saat yang sama, Paulus mengkritik kecenderungan orang-orang yang menempatkan kehidupan intelektual dan spiritual terpisah dengan kehidupan nyata atau perbuatan sehari-hari. Bagi Paulus intelektualitas dan spiritualitas yang sehat pasti teramalkan atau terwujudnyatakan dalam kehidupan dan perbuatan sehari-hari (tenga huohuo manö wa’atuatua ba famatinia).

Di sini Paulus menegaskan bahwa orang Kristen pertama-tama haruslah memiliki kehidupan spiritualitas (doa) yang baik, teguh, tekun, dan terus menerus. Kehidupan dia orang Kristen bukanlah sesuatu yang musiman, nyata bukan hanya ketika merasa terjepit, dilakukan bukan dalam sebagai ajang pamer-pameran (iklan doa), dan bukan sebagai kegiatan rutinitas saja, tenga ha fa’ato’ölö manö (hadia lawaö dania si fatambai omo na lö mangandrö ita). Bagi Paulus, doa haruslah menjadi bagian integral kehidupan orang Kristen, dilakukan secara terus menerus (tekun), baik atau tidak baik waktunya, sehat atau pun sakit, makmur atau pun miskin, kemarau atau pun hujan, kenyang atau pun lapar, dll. Doa dilakukan sebagai bagian ibadah kepada Tuhan, dilakukan dengan tulus dan dalam kerendahan hati. Selain itu, Paulus mengajak orang Kristen untuk berdoa tidak hanya bagi dirinya sendiri,  tetapi juga untuk Paulus sendiri, bagi para pelayan, sehingga pemberitaan Injil, pekerjaan Tuhan dapat berjalan dengan lancar sekali pun ada banyak hambatannya. Di sini orang Kristen diajak untuk berdoa bagi dirinya sendiri dan bagi sesamanya, bahkan bagi musuh sekali pun (bnd. Matius 5:44b “... berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”, mi’angandrö salahi zolohi ya’ami).

Para misionaris yang dulu bekerja di Indonesia (termasuk di Nias) sungguh-sungguh memelihara kehidupan doa, baik secara pribadi maupun persekutuan. Di beberapa tempat, dulu lonceng gereja dibunyikan pada jam-jam tertentu untuk mengingatkan orang Kristen berdoa. Tambahan lagi, setiap keluarga mengadakan ibadah keluarga pada waktu pagi atau malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan itu seirama dengan kehidupan ibadah.

Pada saat ini, ada kesan berkurangnya waktu yang disediakan oleh orang-orang Kristen untuk beribadah, berdoa, bernyanyi, membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari. Tragisnya lagi adalah semakin banyak orang Kristen, termasuk para pelayan, yang enggan bersekutu dengan sesamanya di gereja atau PA karena memilih mendengarkan siaran agama Kristen di media elektronik (RRI, TV, dll). Dalam hal ini perlu dipikirkan kembali bagaimana supaya orang-orang Kristen sungguh-sungguh meluangkan waktunya untuk beribadah, baik ibadah personal maupun persekutuan dengan sesama. Sesungguhnya, semakin kita melatih diri untuk meluangkan waktu dengan Allah, semakin kita mengenal penyertaan Tuhan di segala tempat dan waktu, dan kita pun akan dapat mengenali-Nya bahkan di tengah-tengah kehidupan yang serba sibuk dan sulit. Kehidupan doa seperti ini tentu melibatkan secara sadar pikiran dan perasaan, intelektualitas dan spiritualitas, bahkan kehidupan seutuhnya.

Hal yang kedua yang ditegaskan Paulus di sini adalah tentang pentingnya hubungan antara kehidupan spiritualitas (doa) yang baik, teguh, tekun, dan terus menerus dengan kehidupan dan perbuatan ril setiap hari. Itulah yang disoroti oleh Paulus dari pasal 3:5 hingga pasl 4:6. Orang Kristen yang memiliki kehidupan spiritualitas (doa) yang benar pasti mampu memperlakukan sesamanya dengan adil dan jujur, bahkan sekali pun sesamanya itu berstatus hamba (baca 4:1). Selanjutnya, Paulus mendorong orang Kristen untuk bijak menjalani kehidupannya sehari-hari, terutama dalam relasi dengan orang-orang yang belum mengenal Kristus sepenuhnya. Di sini Paulus mengingatkan orang-orang Kristen untuk bertingkah laku dengan penuh hikmat dan bijaksana terhadap orang lain, jangan menjadi batu sandungan bagi mereka. Orang Kristen tidak perlu menyusahkan diri memengaruhi orang lain untuk menjadi Kristen atau untuk mengikut Kristus, yang lebih penting adalah hidup bijak, menjadi teladan, berbuat baik, dll, seiring dengan kehidupan spiritualitasnya (doa). Maka, orang Kristen haruslah bijak mempergunakan waktu atau kesempatan yang ada untuk menyaksikan Kristus bagi sesamanya, terutama dalam tindakan nyata, yaitu “kata-kata yang senantiasa penuh kasih, tidak hambar, dan mampun memberi jawab kepada setiap orang” (ay. 6). Artinya, orang Kristen harus mampu menciptakan daya tarik tersendiri melalui kehidupannya, baik yang nyata maupun yang abstrak.

Pada zaman sekarang, banyak orang yang pintar (intelek) dan terlihat sangat rohani. Saking pintar dan rohaninya, mereka bisa menghadirkan surga di antara kita. (Ato niha ba ginötö andre zi so fa’atuatua ba fangata’ufi Lowalangi dali wamaigi niha. Na tola, möi la’ohe ba gotaluada zorugo niwaö zangalahi mbalazi wa’atuatuara ba balazi wa hulö niha “rohani” ia. Tola asoso zi lö asoso). Persoalannya adalah bahwa itu dilakukan secara sporadis (modesao) dan tidak tercermin dalam kehidupan dan perbuatan sehari-hari, justru mereka menjadi batu sandungan bagi yang lain. (Asese ha folimo manö da’ö khöra, fa’atuatua si falimo, famati si falimo). Di sinilah Paulus mengajak kita untuk menyadari bahwa kehidupan doa dan spiritualitas Kristen haruslah dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari dalam ketulusan (bukan kebohongan). Kekristenan kita “dipuji” karena secara sedar kita mampu menghidupi doa dan spiritualitas Kristen dengan baik, dan pada saat yang sama kita secara sedar mampu mengamalkan kehidupan doa dan spiritualitas Kristen itu dalam relasi kita dengan sesama dan orang lain.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...