Saturday, October 8, 2022

Iman yang Menyelamatkan – Famati andrö Zangorifi (Lukas 17:11-19)

Khotbah Minggu, 09 Oktober 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.
12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh
13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”
14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?
18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”
19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”


Pada zaman Alkitab, baik PL maupun PB, penyakit kusta merupakan penyakit yang tidak ada obatnya.[1] Di kalangan orang Ibrani penyakit ini dianggap najis dan berbahaya, karena dapat menular. Oleh sebab itu, orang yang sakit kusta harus diasingkan dari masyarakat (Kel. 13, Kel. 14). Penyakit ini dianggap sebagai simbol dosa, penyakit dari Tuhan, sebab ada beberapa contoh kasus dimana orang kena sakit kusta setelah melakukan pelanggaran atau kesalahan.[2] Orang yang menderita kusta dinyatakan sakit dan atau sembuh oleh imama (Im. 13:1-59; 14:1-32). Apabila ia sembuh, harus diadakan upacara pentahiran oleh seorang imam (Im. 14:2-20; Luk. 1:44). Secara fisik, orang yang berpenyakit kusta tentu saja sangat menderita. Tetapi, penderitaan yang paling menyakitkan adalah penderitaan psikis. Penderitanya diasingkan, tidak boleh mendekat orang sehat, dan apa pun yang tersentuh dengannya dianggap najis. Pada zaman PB, semua penderita penyakit kusta dilarang memasuki kota Yerusalem dan kota-kota lain yang bertembok keliling. Di dalam sinagoge ada ruangan khusus yang terpencil dan sempit yang dikhususkan bagi mereka. Jadi penyakit kusta adalah penyakit yang benar-benar telah memisahkan manusia dari sesamanya.

Bisa dibayangkan betapa menderitanya orang-orang kusta pada zaman Alkitab. Tidak ada harapan kesembuhan bagi mereka, tidak ada masa depan, tidak ada kehidupan. Namun demikian, dalam teks khotbah hari ini, Lukas menunjukkan sesuatu yang amat menentukan bagi orang-orang kusta yang terpinggirkan, dan pembelajaran berharga bagi kita yang “tak terpinggirkan”. Kepedulian Yesus terhadap mereka yang terpinggirkan, yaitu kesepuluh penderita kusta, dan secara khusus paling tidak ada seorang Samaria yang merupakan kelompok masyarakat terpinggirkan pada zaman PB. Itulah misi Yesus ke dunia, menunjukkan kepedulian kepada mereka yang oleh karena berbagai faktor, terasingkan, menderita, termiskinkan, dll. Inilah misi yang sesungguhnya, kepedulian terhadap sesama, terutama kepada sesama yang sedang berada dalam situasi kurang baik. Itulah pemberitaan Injil yang sesungguhnya, pemberitaan kabar sukacita kepada orang-orang yang selama ini terpinggirkan, kurang diperhatikan, kurang dihargai dalam masyarakat, disepelekan, mengalami berbagai macam penderitaan, dll. Itulah misi Yesus, yang merupakan misi gereja kita juga.

Menarik juga melihat bagaimana Yesus menerima mereka yang selama ini dijauhi oleh masyarakat. Yesus berkenan memberikan respons terhadap teriakan mereka: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (ay. 13). Yesus tahu bahwa kesepuluh orang kusta ini mestinya dijauhi, kalau bisa diusir, apalagi orang Samaria, tetapi Yesus tidak melakukan itu. Disebutkan bahwa Yesus merespons mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam” (ay. 14). Dalam proses itulah kemudian orang-orang penderita kusta ini sembuh. Yesus menyuruh mereka kepada imam-imam sebagai pihak yang berwenang menentukan apakah mereka sudah sembuh atau belum; dan ternyata hasilnya SEMBUH. Misi Yesus inilah yang harus kita beritakan, baik melalui kata-kata, maupun melalui pelayanan nyata kepada orang-orang yang sedang menderita di sekitar kita. Kepedulian kita akan diuji ketika kita bertemu dengan orang-orang yang selama ini terpinggirkan.

Kisah ini tidak berhenti pada kesembuhan para penderita kusta. Diceritakan lebih lanjut bahwa salah seorang dari kesepuluh orang kusta tersebut kembali kepada Yesus, memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada Yesus (ay. 15-16). Disebutkan pula bahwa orang tersebut adalah orang Samaria (yang pada zaman PB disingkirkan oleh masyarakat Yahudi). Ayat 17-18 memperlihatkan kepada kita “keheranan” Yesus atas kesembilan orang lainnya yang tidak kembali kepada-Nya, tidak seperti orang Samaria tersebut. Benar bahwa orang Samaria selama ini dianggap sebagai orang asing, tidak diterima sebagai bagian dari komunitas Yahudi/Israel. Tetapi, justru orang Samaria (orang asing) inilah yang memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada Yesus atas kesembuhan yang telah dialaminya. Yesus pun memuji iman orang Samaria tersebut. Ia berkata kepadanya: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (ay. 19).

Orang Samaria adalah orang yang dianggap sebagai orang asing dan tidak menyenangkan pada zaman PB, tetapi justru dialah satu-satunya orang yang datang memuliakan dan mengucap syukur kepada Allah, sedangkan kesembilan lainnya tidak diketahui lagi rimbanya. Dalam kisah ini, Yesus, oleh Lukas, menunjukkan bahwa iman seseorang itu tidak ditentukan oleh latar belakang kehidupannya, entah sebagai orang Yahudi ataupun orang Samaria (orang asing). Ketika seseorang menyadari sumber kesembuhannya dari Tuhan, dan kembali kepada Tuhan untuk memuliakan dan mengucap syukur kepada-Nya, itulah iman yang sesungguhnya. Merespons Yesus dengan benar berarti memuji dan memuliakan Allah.


[1] Pada zaman modern penyakit kusta ini dikenal sebagai lepra/hansen. Obatnya baru ditemukan oleh seorang ilmuwan Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen pada tahun 1837.

[2] Beberapa contoh kasus dimaksud: (1) Miryam dihukum Tuhan dengan penyakit kusta karena mengata-ngatai dan iri hati terhadap Musa (Bil. 12:1-2,9-10). (2) Gehazi (bujangnya Elisa) dihukum dengan kusta karena meminta pemberian dari Naaman yang sebelumnya sudah ditolak Elisa (2Raj. 5:21-27). (3) Ketika Raja Uzia merasa kuat, sombong, tinggi hati dan tidak setia kepada Tuhan maka Tuhan menghukumnya dengan penyakit kusta (2Taw. 26:16-21).

Saturday, October 1, 2022

Tak Berkesudahan Kasih Setia TUHAN – Lö Saetu Wa’ebua Dödö Yehowa (Ratapan 3:19-26)

Khotbah Minggu, 02 Oktober 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”
20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
24 “TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

Sama seperti kitab Yeremia, kitab Ratapan ini juga berfokus pada kejatuhan Yerusalem dan pembuangan ke Babel. Kalau kitab Yeremia memberi penekanan lebih pada peringatan-peringatan bahwa Tuhan akan mendatangkan hukuman atas ketidaksetiaan umat-Nya, maka kitab Ratapan ini lebih pada perkabungan atas hukuman Allah yang telah ditimpakan atas umat Tuhan tersebut, terutama kehancuran Yerusalem dan Bait Allah sebagai simbol kebanggaan dan kebesaran bangsa Israel. Kehancuran ini mendatangkan kesedihan yang mendalam bagi Yeremia dkk, sehingga mereka berkabung atas kejatuhan Yerusalem dan bait Allah tersebut. Dalam kesedihan dan perkabungan itu, mereka menyadari bahwa penderitaan yang mereka alami adalah akibat ketidaksetiaan mereka pada Tuhan, sekaligus mengakui bahwa selalu ada harapan baru di dalam Tuhan, bahkan di dalam kehancuran pun kasih setia Tuhan tidak pernah berkesudahan.

Pada seputar teks renungan kita pada hari ini, penulis mengungkapkan apa saja prinsip hidup sehubungan dengan penderitaan:
(1) Penderitaan haruslah ditanggung dengan harapan akan adanya keselamatan dari Allah, yaitu bahwa Allah pada akhirnya akan mendatangkan pemulihan (3:25-30). Bagaimana mungkin tidak marah atau kecewa terhadap Allah dalam penderitaan? Bagaimana mungkin Allah dianggap baik di tengah-tengah penderitaan manusia? Jawabannya adalah bahwa di tengah-tengah penderitaan manusia itu, Allah tetap setia, murah hati, dan selalu siap menerima setiap orang yang datang kepada-Nya.

Selain itu, ada unsur pendisiplinan di balik penderitaan yang kita alami. Penderitaan atau kesusahan akan dapat menolong kita untuk lebih siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam hidup ini. Saya tidak bermaksud supaya kita mencari “gara-gara” untuk mengalami penderitaan atau kesusahan atau masalah, tidak! Tetapi, siapakah yang bisa menjamin bahwa perjalanan hidup ini akan mulus tanpa masalah? Tidak ada bukan? Karena itu, ketika kita mengalami suatu penderitaan atau kesusahan hidup, maka ingatlah bahwa itu merupakan salah satu cara yang dapat dipakai oleh Tuhan untuk mendisiplinkan kita untuk kemudian menjadi lebih dewasa, bukan semakin cengeng; penderitaan dan kesusahan juga dapat menolong kita untuk semakin rendah hati, bahkan kita pun harus menjadi lebih siap dan lebih dewasa menanggapi setiap penderitaan itu (bnd. Rat. 3:29-30). Bagaimanakah kita menjadi orang yang sabar kalau tidak pernah mengalami kesulitan hidup? Bagaimanakah kita menguji kesabaran seseorang? Dengan memberinya kesulitan atau tantangan, bukan? Lagipula, bukankah Allah telah menyediakan pertolongan bagi orang-orang yang berharap kepada-Nya?

Atas dasar itulah penderitaan harus ditanggung oleh umat Tuhan, sebab pada akhirnya Allah akan mendatangkan pemulihan. Di sinilah terletak pengharapan umat Tuhan yang menderita, pengharapan akan datangnya keselamatan yang dari Allah. Itulah bagian kita, demikian diakui oleh penulis kitab ini di ayat 24. Apa artinya? Yaitu bahwa pengharapan kita hanya di dalam Tuhan saja, menantikan pertolongan-Nya saja, hanya mencari Tuhan ketika kita berada dalam kesusahan, dan mengungkapkan keluh kesah hidup kita kepada-Nya, sebab segala beban hidup hanya dapat ditanggung di dalam Tuhan saja. Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat. 11:28-30). Kiranya janji kasih setia Tuhan ini menjadi sumber semangat baru bagi kita untuk tetap hidup dalam pengharapan.

(2) Penderitaan itu hanyalah sementara dan dalam penderitaan itu pun Allah selalu menunjukkan rasa sayang dan kasih setia-Nya (lih. Rat. 3:31-32). Ada sebuah ungkapan klasik: “Sejahat-jahatnya harimau, tidak akan memakan anaknya sendiri.” Atau ungkapan lain yang tidak kalah puitisnya, “Di balik awan yang gelap, selalu ada matahari yang siap menerangi bumi.” Benar bahwa kehancuran Yerusalem, kesusahan dan penderitaan yang dialami oleh umat Tuhan berasal dari Allah sebagai hukuman atas ketidaksetiaan mereka terhadap Tuhan. Tetapi, pemazmur mengatakan: “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam” (Mzm. 103:8-9). Apa artinya? Yaitu bahwa penderitaan atau kesusahan hidup, apapun sumbernya, tidak pernah berlangsung sepanjang hidup kita, kalaupun kita harus menanggung suatu penderitaan maka Allah selalu menyatakan kasih setia-Nya pada kita. Atau, adakah di antara kita hari ini orangtua yang setiap detik selalu marah dan menghukum anak-anaknya? Adakah anak-anak di tempat ini yang sepanjang hidupnya selalu dimarahi dan dihukum oleh orangtuanya? Tidak ada, bukan? Sebab, orangtua selalu menunjukkan kasihnya terhadap anak-anaknya sekalipun kadang-kadang memarahi dan menghukum mereka. Tuhan Allah jauh melebihi orangtua, yaitu bahwa Dia selalu, dan akan selalu menyayangi umat yang telah dihukum-Nya itu. Atas dasar inilah kita harus tetap memiliki pengharapan di dalam Tuhan, dan karena pengharapan itulah kita harus tetap semangat menjalani kehidupan kita dalam takut akan Tuhan.

(3) Allah tidak pernah bersukacita atau merasa senang atas penderitaan umat-Nya (Lih. Rat. 3:33). Adakah orangtua yang merasa senang karena melihat anak-anaknya hidup dalam kesusahan? Adakah orangtua yang merasa bahagia karena anaknya berada dalam kesakitan? Tidak ada, bukan? Secara umum, orangtua justru akan sedih kalau anaknya berada dalam kesusahan, kesulitan, atau mengalami suatu sakit penyakit, karena itu orangtua berusaha menolong anak-anaknya. Tuhan tentunya jauh melebihi hati dan tindakan orangtua tersebut. Allah pun sedih kalau umat-Nya jatuh dalam kesulitan. Bahkan, ketika Allah sendiri menghukum umat-Nya, Dia sebenarnya melakukan itu dengan “berat hati”, Dia “terpaksa” memberikan pembelajaran “tegas” bagi umat-Nya, supaya mereka tidak jatuh terlalu jauh dalam kehancuran. Tuhan Allah tidak pernah berusaha dengan sengaja mempersulit hidup kita, Dia justru menawarkan pertolongan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Jadi, jangan pernah beranggapan bahwa “berurusan” dengan Tuhan itu selalu sulit, tidak! Berurusan dengan Tuhan justru menolong kita untuk keluar dari situasi sulit. Karena itu, kita harus tetap berharap pada Tuhan, bahwa dalam kesulitan apa pun, Dia tetap menolong, Dia tetap menyayangi dan mengasihi kita.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...