Sunday, December 29, 2013

Datanglah ya Raja Damai (Yesaya 9:5)



Tafsiran Yesaya 9:5 (Tema Natal BNKP Tahun 2013)[1]
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si

9:6 (9-5)  Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
9:6            Tumbu dania khöda nono, tebe’e khöda nono matua; tebe’e ba galisinia wamatörö ba tebe’e töinia Zahölihöli dödö ba Samolala tödö ba Lowalangi sabölö, ba Ama zi lö aetu ba Salawa wa’atulö

Mari kita memahami Yesaya pasal 9 dalam konteks pasal 7 sampai pasal 12. Sejak tahun 745 SZB hingga beberapa tahun ke depan, raja Asyur Tiglat-Pileser mengancam kedaulatan bangsa-bangsa di daerah Palestina, karena ia ingin memperkuat kerajaannya. Rezin raja Aram, dan Pekah raja Israel (utara), mengadakan suatu persekutuan yang pada awalnya ditujukan untuk menangkal ancaman Tiglat-Pileser itu. Mereka mengajak Ahas raja Yehuda (Israel Selatan) untuk masuk ke dalam persekutuan itu, tetapi Ahas menolaknya. Akibatnya, kedua kerajaan ini (Aram dan Isrut) berbalik mengancam Yehuda, menyerangnya dan mempersiapkan seorang raja boneka, yaitu anak Tebeel (7:6).

Banyak kota Yehuda hancur dan ratusan ribu orang tewas (2 Taw. 28:5-8), tetapi Yerusalem belum dapat dikuasai. Ancaman dan serangan dari persekutuan raja Arama dan raja Israel Utara ini membuat Ahas dan penduduk Yerusalem gemetar (7:2). Raja Ahas bukannya memohon pertolongan dari Tuhan; dia malah meminta pertolongan kepada raja Asyur tadi (2 Taw. 28:16), dan malah memberikan banyak upeti kepada raja Asyur tersebut (2 Taw. 28:21). Apakah permasalahan Ahas dan Yehuda selesai? Tidak! Karena ternyata raja Ayur yang telah dibayarnya itu datang bukan untuk menolong dia, melainkan menyesakkannya (2 Taw. 28:20). Ternyata “bayaran” tidak menjamin datangnya pembebasan, kedamaian, dan keberhasilan, malah sering menjadi “bumerang” bagi pemberi dan penerimanya.

Dalam situasi genting seperti inilah Yesaya tampil sebagai nabi Tuhan untuk mengajak raja Ahas dan segenap rakyatnya agar merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan Yesaya juga sekaligus menyampaikan berita pengharapan keselamatan. Yesaya meyakinkan raja Ahas bahwa rencana raja Aram dan raja Israel Utara itu tidak akan berhasil, termasuk ancaman besar dari Asyur, sebab Allah telah berjanji kepada raja Daud bahwa tahta kerajaannya hanya akan diduduki oleh keturunannya saja (2 Sam. 7:12-16). Raja Ahas sangat takut pada waktu itu, dia tidak percaya akan perkataan Yesaya, sehingga Allah, melalui Yesaya, memberikan dia tanda. Tanda itu diungkapkan oleh Yesaya (baca Yes. 7:14-17).

Seperti kebanyakan nubuatan PL, nubuatan ini terpenuhi dalam waktu yang dekat dan di kemudian hari. Dalam waktu dekat, tanda itu terjadi, dan itulah yang diungkapkan di pasal 9:1-7. Munculnya raja Hizkia, anak Ahas, membawa harapan baru. Pada zaman Hizkia ini keadaan Yehuda jauh lebih baik, karena dia melakukan pembaharuan dalam banyak bidang kehidupan, dan memilih untuk lebih takut akan Tuhan (lih. 2 Taw. 29 dst). Ucapan Allah tentang penghancuran musuh-musuh umat Allah juga dibuktikan-Nya dengan kekalahan Aram dan Israel Utara yang tadinya menjadi ancaman serius bagi bangsa Yehuda. Kerajaan Asyur yang pada zaman Hizkia berada di bawah kekuasaan raja Sanherib masih mengancam Yehuda dan Yerusalem, dibuat jatuh oleh kekuasaan Tuhan, dan malah raja Sanherib itu dibunuh oleh anak kandungnya sendiri (lih. 2 Taw. 32:20-23). Itulah maksudnya “Imanuel”, Tuhan menyertai umat-Nya. Dan, itulah maksud dari perkataan Yesaya 9:1-6 [2-7], dengan penekanan utama pada datangnya sukacita, dan kelahiran raja dari keturunan Daud yang memerintah umat Tuhan.

Namun, Yesaya tidak berhenti sampai di situ. Dia memperkirakan bahwa anak itu akan lahir pada masa yang akan datang, yang akan memerintah dalam tahta Daud selamanya (teks khotbah Natal I, 25-12-2013, yaitu Matius 1:18-25, menegaskan bahwa penggenapan nubuatan ini terjadi melalui Maria dan Yusuf dengan kelahiran Yesus).

Tuhan tahu bahwa dalam situasi yang sangat tidak kondusif itu, situasi genting, penuh ancaman dan ketidakpastian, dibutuhkan suatu penguatan, penghiburan, dan pengharapan yang baru. Itulah sebabnya melalui Yesaya, Tuhan memastikan kelahiran seorang anak dengan lima gelar, yaitu: Sang Ajaib – Sahölihöli dödö (Ibr. Pele), Sang Penasihat – Samolala tödö (Ibr. Yoets), Allah yang perkasa – Lowalangi Sabölö (Ibr. El gibbor), Bapa yang Kekal – Ama zi lö aetu (Ibr. Abi-ad), dan Raja Damai – Salawa wa’atulö (sar-syalom).

Secara singkat gelar-gelar tersebut dapat dipahami sebagai berikut:
·    Gelar pertama: Sang Ajaib – Sahölihöli dödö
Istilah ini biasanya dipakai dalam konteks perbuatan TUHAN, khususnya dalam hal keselamatan, atau hal-hal yang dalam pemikiran dan perkiraan manusia mustahil terjadi. Di pasal 7:14 Yesaya menubuatkan kelahiran anak dari “seorang perawan”. Kelahiran anak dari “seorang perawan” merupakan hal yang mustahil dalam pemikiran dan perkiraan manusia. Selain kelahirannya yang “ajaib”, gelar ini juga mengarah pada ke-ajaib-an lain yang sangat penting, yaitu pengampunan dosa dan keselamatan yang datang bersamanya.

·    Gelar kedua: Sang Penasihat – Samolala tödö
Di tengah-tengah situasi yang genting tadi di Yehuda, di saat-saat hampir tidak ada jalan keluar karena pengepungan atau ancaman dari segala arah, ketika tidak ada seorang pun yang dapat memberikan petunjuk dan arah langkah yang mendatangkan keselamatan, dirindukan dan atau dibutuhkanlah “Sang Penasihat”. Itulah anak yang lahir itu. Sang Penasihat ini akan mampu memberi jawaban atau tanggapan yang tepat terhadap setiap pertanyaan dan persoalan yang tengah dihadapi umat Tuhan. Menarik sekali syair sebuah nyanyian berjudul “Hanya Yesus Jawaban Hidupku”.

·    Gelar ketiga: Allah yang perkasa – Lowalangi Sabölö
Ternyata anak yang dilahirkan dari seorang perawan ini (Sang Ajaib) merupakan Allah yang perkasa. Dia akan mengalahkan semua musuh umat Tuhan, seperti diungkapkan dalam Yesaya 11:4d “... dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik”. Hanya dengan perkataan sang anak itu saja, musuh dapat dikalahkan, ancaman dapat dienyahkan. Karena keperkasaannya itulah dia dapat melindungi dan menyertai umat Tuhan. Jadi, dia pantas disebut sebagai Imanuel, Tuhan yang selalu menyertai umat-Nya.

·    Gelar keempat: Bapa yang kekal – Ama zi lö aetu
Tentu ke-kekal-an hanya dapat dialamatkan kepada Tuhan Allah saja. Dengan demikian, gelar ini mengarah kepada Tuhan saja, yang dalam kekristenan dihubungkan dengan Mesias yang tergenapi di dalam Kristus Yesus. Dalam perspektif eskhatologi, gelar ini menekankan bahwa sesungguhnya “anak” itu telah ada dari kekal hingga kekal. Dengan demikian, keselamatan yang datang bersama dengan dia, tidak akan pernah berakhir dari selama-lamanya hingga selama-lamanya. Dalam Yohanes 14:6 ditegaskan bahwa Yesus adalah kehidupan.

·    Gelar kelima: Raja Damai – Salawa wa’atulö
Kita tentunya sudah dapat membayangkan bagaimana situasi kehidupan di Yehuda ketika mereka sedang dikepung dari segala arah oleh raja Aram, raja Israel Utara, dan raja Asyur sendiri. Mereka tidak dapat berbuat banyak, tidak menikmati kebebasan di dalam maupun di luar negeri mereka, pasokan kebutuhan sehari-hari sulit didapatkan, sementara itu ancaman raja-raja besar dari luar tersebut setiap saat dapat masuk dan menghancurkan kehidupan mereka. Siapa yang dapat diandalkan? Raja mereka sendiri Ahas memilih untuk “menyerah” dengan segala konsekuensinya. Dalam situasi yang seperti itulah dibutuhkan seorang raja yang dapat mendatangkan damai bagi umat Tuhan. Dan, ke-ajaib-an itu datang dengan kelahiran seorang anak dari keturunan Daud, raja Hizkia dalam arti tertentu, tetapi dalam kekristenan dipahami bahwa anak yang lahir itu adalah Yesus, Sang Mesias, Raja Damai yang sesungguhnya, Pendamai bagi semua makhluk (bnd. Yes. 11).

Anak dengan kelima gelar seperti inilah yang lahir itu, yang memerintah umat Tuhan. Disebutkan di awal ayat ini “lambang pemerintahan ada di atas bahunya”. Konteksnya jelas memperlihatkan pewarisan kerajaan Daud sebagaimana telah dijanjikan kepada raja Daud dulunya (lih. 2 Sam. 7:12-16). Raja dari keturunan Daud inilah yang dapat mendatangkan damai bagi semua.


Datanglah ya Raja Damai (Yesaya 9:5)


[1]Tafsiran ini dipakai untuk menyusun Khotbah Puncak Perayaan Natal Majelis dan Gabungan Komisi di BNKP Jemaat Lasara Resort 3, Minggu, 29 Desember 2013

Tuesday, December 24, 2013

Natal: Merayakan Kedekatan dan Penyertaan Allah bagi Umat-Nya (Matius 1:18-25)

Pokok Tafsiran dan Renungan Khotbah Natal I, Rabu, 25 Desember 2013
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si



1:18      Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
1:19      Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
1:20      Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
1:21      Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
1:22      Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
1:23      “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” --yang berarti: Allah menyertai kita.
1:24      Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
1:25      tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.




Krisis seputar Kehamilan Maria dan Tanggapan Yusuf (1:18-19)
Matius memulai bagian ini dengan memberitahukan pembacanya tentang relasi antara Yusuf dan Maria sebagai satu pasangan “suami-isteri”. Mereka sudah bertunangan. Pertunangan mereka beda dengan zaman kita sekarang ini dalam beberapa aspek. Keluargalah yang biasa memilih pasangan hidup bagi anak-anak mereka. Ikatan pasangan itu pun kuat dan ada komitmen bahwa mereka dipisahkan hanya karena kematian atau perceraian saja. Mereka bahkan sudah boleh disebut sebagai pasangan suami-isteri. Di bawah pemerintahan kaisar Augustus, ada ketetapan umur bagi pasangan yang bertunangan, paling tidak berumur 10 tahun. Gadis-gadis Yahudi sering kali ditunangkan sebelum berumur 12,5 tahun. Ada tiga pertimbangan keluarga. Ayah pengantin perempuan dapat segera menerima “pembayaran” ketika anak gadisnya telah memasuki masa remaja/pubertas, sementara sang suami boleh mendapatkan pelayanan tunangannya walaupun mereka masih belum tinggal bersama, dan ayah sang gadis dapat dengan mudah menjamin keperawanan anak gadisnya. Sang suami juga pada umur belasan tahunnya ini, menggunakan waktu yang ada untuk belajar perdagangan dan menyimpan uang bagi keluarganya.

Khasnya, keluarga terkait memberikan tiga pemberian. Jika mereka mengikuti adat kebiasaan khas setempat, maka, pertama, keluarga Yusuf memberikan apa yang disebut “pembayaran” kepada keluarga Maria. Kita jangan berpikir bahwa ini merupakan pembelian Maria, tetapi sebagai simbol pemeteraian perjanjian yang mengikat kedua keluarga itu bersama. Kedua, ayah Maria memberikan kepada Yusuf dan Maria mas kawin yang dapat menolong mereka dengan biaya memulai keluarga yang baru. Terakhir, Yusuf memberikan suatu pemberian kepada Maria yang akan menyimbolkan komitmennya atas relasi mereka. Hal seperti ini serupa dengan cincin pertunangan pada zaman sekarang.

Pertukaran pemberian ini biasanya dilakukan pada acara pertunangan. Akibatnya, sang gadis dan sang pria secara sah dapat bergabung, dan hanya dapat dipisahkan oleh kematian atau perceraian, dan mereka dapat dipanggil sebagai suami-isteri. Jika yang satu meninggal dunia maka pasangannya yang masih hidup disebut sebagai duda/janda.

Selama 12 bulan masa pertunangan mereka, anak gadis tinggal di rumah ayahnya dan berada di bawah kontrol sang ayah. Ayah Maria sudah menunangkan Maria kepada Yusuf kurang lebih 12 bulan. Pada akhir periode ini, sang gadis dan pria menjalani acara publik dan pindah ke tempat tinggal mereka sendiri jika mereka menginginkannya. Pasangan itu menyempurnakan pernikahan mereka dengan hubungan seksual di akhir periode ini. Hubungan seksual yang dilakukan sebelum waktunya ini merupakan pelanggaran terhadap tradisi/adat pernikahan. Pertunangan antara Yusuf dan Maria telah memenuhi standar hukum yang sah pada waktu itu. Dengan demikian, hal ini mengafirmasi keperawanan Maria.

Kalimat “sebelum mereka hidup sebagai suami isteri” (ay. 18b) maksudnya adalah “sebelum mereka menyempurnakan pernikahan mereka dengan hubungan seksual”. Matius tidak memberitahukan secara rinci kepada kita bagaimana Maria mengandung seorang anak, kecuali menghubungkannya dengan Roh Kudus. Apakah Maria memberitahukan hal ini kepada seseorang sebelum dia menunjukkan kehamilannya? Kita tidak tahu! Penulis Injil Lukas menyebutkan bagaimana malaikat Gabriel datang kepada Maria:

Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. (Luk. 1:31-35).

Pernyataan ini tidak dimaksudkan bahwa Allah berhubungan seks dengan Maria. Beberapa orang memang mengalami kebingungan tentang ini sebab agama-agama kuno lainnya mempunyai mitos tentang dewa yang berhubungan seks dengan perempuan yang kemudian melahirkan baginya anak, dan anak tersebut mereka sebut sebagai “anak dewa”. Ada perkembangan dalam dunia ilmu pengetahuan dari tahun ke tahun yang meyakini bahwa kekristenan mengambil ide utamanya dari agama-agama lain (agama penyembah berhala), dan karena itu tidak ada yang unik dari cerita pertunangan dan kelahiran Yesus ini. Para penganut keyakinan ini berusaha membawa jatuh kekristenan dan secara khusus Yesus Kristus ke tingkatan mitologi penyembah berhala. Ada banyak masalah dengan pendekatan ini, sayang sekali kita tidak punya banyak waktu sekarang untuk mendiskusikannya. Saya percaya bahwa ayat ini tidak sedang mengatakan bahwa Allah berhubungan seks dengan Maria seperti dalam kepercayaan atau mitos agama lain. Ada dua alasan utamanya. Pertama, Allah yang diakui dalam Alkitab merupakan Allah yang berbeda dengan dewa-dewi dalam mitos agama lain. Dia sebenarnya tidak perlu menjadi ayah melalui atau oleh manusia. Dia adalah Allah yang dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Kedua, tidak pernah ada contoh dalam PL tentang aktivitas seksual seperti ini, atau sesuatu yang dihubungkan dengan pengandungan seorang anak.

Kehamilan Maria merupakan hal yang sangat menakjubkan. Allah “menciptakan” embrio Yesus dalam kandungan sang perawan Maria tanpa harus melalui sperma seorang ayah. Walaupun demikian, fakta bahwa Maria telah mengandung seorang anak laki-laki tetap menimbulkan semacam “konflik”. Sekarang, Yusuf berada dalam situasi yang dilematis.

Lukas menceritakan juga bahwa malaikat Gabriel memberitahukan kepada Maria tentang Elisabet yang sedang hamil (mengandung Yohanes pembaptis). Maria menempuh perjalanan sekitar 100 mil ke selatan untuk mengunjungi Elisabet dan tinggal bersama dia selama tiga bulan sampai Yohanes lahir. Karena itu, Maria kembali ke Nazaret dengan kehamilan sekitar tiga atau empat bulan. Apakah Maria memberitahukan orangtuanya dan Yusuf tentang apa yang dikatakan oleh malaikat itu kepadanya sebelum dia mengunjungi Elisabet?

Matius menyebutkan bahwa Yusuf merupakan seorang yang tulus hati. Ada dua maknanya. Pertama, bahwa Yusuf hidup menurut hukum Allah yang diberikan kepada Musa. Musa mencatat hukum Allah itu dalam kitab Keluaran dan Imamat. Kedua, bahwa Yusuf mau dan mampu menerapkan hukum Allah yang diberikan melalui Musa itu tentang apa yang mesti dilakukan dengan seorang perempuan yang melakukan perzinahan. Hukum itu menetapkan bahwa dia dapat menceraikan sang perempuan tersebut dan bahwa masyarakat dapat melempar batu perempuan itu sampai mati. Hal yang paling menyakitkan sesungguhnya adalah aib sosial yang harus ditanggung karenanya.

Matius juga mencatat bahwa Yusuf adalah seorang yang murah hati, tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum. Itulah sebabnya dia bermaksud menceraikan Maria secara diam-diam, tanpa harus mengeksposnya ke publik (seperti yang biasa dilakukan oleh para selebriti dewasa ini dan banyak orang yang gemar mendengar berita kawin-cerai tersebut). Di sini terlihat betapa tulus dan murni hatinya Yusuf. Yusuf juga sebenarnya dapat mempublikasikan kebaikannya ini kepada orang banyak seperti yang biasa dilakukan oleh orang lain pada zaman Yesus. Tetapi, Yusuf tidak mau melakukan hal munafik seperti itu. Yusuf juga sebenarnya dapat memamerkan atau menuntut keadilan secara terbuka sebagaimana dilakukan oleh orang lain, tetapi dia tidak memiliki tendensi pribadi dan politik yang seperti itu.

Yusuf berada dalam situasi yang sangat dilematis. Dia mau menaati hukum Allah dan bermurah hati juga. Jika dia mengakui bahwa Yesus adalah anak-Nya, maka bukankah dia berbohong? Hukum Taurat yang ke-9 melarang untuk bersaksi dusta. Tambahan, dia akan merusak tatanan sosial yang melarang hubungan seksual dengan tunangan sampai acara pernikahan resmi. Menjadi orang benar, dia tidak mau berbohong atau mengakui sesuatu yang bukan kesalahannya. Pada sisi lain, Yusuf mau bermurah hati kepada Maria. Bagaimana dia bisa menjadi orang benar dengan kewajiban akan Hukum Taurat tadi dan menjadi orang yang murah hati pada saat yang sama? Dia yakin bahwa dengan menceraikannya diam-diam, dia dapat memenuhi keduanya. Dia mengatasi persoalan dari sudut pandang manusia dan bukan sudut pandang Allah. Di sinilah krisis yang dialami oleh Yusuf, situasi yang sangat dilematis.

Mimpi dan Amanat Malaikat kepada Yusuf (1:20-21)
Malaikat menyebut Yusuf sebagai anak Daud, bukan anak Yakub yang sesungguhnya ayah kandungnya (lih. Mat. 1:16). Hal ini menunjukkan fakta kalau orang-orang Yahudi sedang menantikan kedatangan Mesias dari keturunan Daud. Dengan demikian, teks ini hendak menegaskan bahwa anak yang sedang dikandung oleh Maria adalah Mesias yang dinantikan itu. Malaikat itu dengan jelas menyebutkan bahwa anak tersebut adalah Mesias (ay. 21). Kata-kata malaikat ini mengonfirmasi cerita Maria dan memberikan perintah khusus kepada Yusuf untuk ditaati.

Matius tidak menyebutkan tentang kunjungan Gabriel kepada Maria seperti dituliskan oleh Lukas (Luk. 1:26-38). Jika Matius mengetahuinya, mengapa dia tidak cerita? Dia memilih untuk fokus pada Yusuf, bukan pada kunjungan itu, bukan juga kepada Maria. Cerita ini juga disajikan setelah penuturan garis keturunan Yusuf, yang mencoba membangun warisannya sebagai keturunan Daud. Mesias harus datang sebagai keturunan Daud. Malaikat menyebut Yusuf sebagai anak Daud, bukan anak Yakub (lih. Mat. 1:16). Menjadi tanggung jawab Yusuf juga untuk memberi nama anak itu Yesus, dan hal itu dilakukannya (lih. ay. 25). Hal ini menunjukkan ketaatannya yang luar biasa. Matius menceritakan dua kali lagi tentang komunikasi malaikat terhadap Yusuf dalam mimpi yang memberikan dia perintah lanjutan tentang bagaimana melindungi bayi Yesus. Sampai di sini, baik Injil Matius maupun Lukas, tidak menceritakan apakah Maria pernah bercerita kepada Yusuf apa yang telah dikatakan kepadanya. Kemungkinan adanya ketidakpercayaan Yusuf akan cerita Maria, membuat malaikat harus mengunjunginya dalam mimpi.

Penggenapan Nubuatan PL (1:22-23)
Pada bagian ini Matius mengutip nubuatan Yesaya (Yes. 7:14-17). Mari kita lihat sejenak konteks nubuatan Yesaya tersebut. Yesaya mengucapkan kata-kata yang dikutip oleh Matius ini pada tahun 734 SZB. Pada waktu itu, ke-12 suku di Israel telah pecah menjadi 2 kerajaan, kerajaan selatan (Yehuda) dan kerajaan utara (Israel). Setiap kerajaan memiliki rajanya sendiri. Raja Ahas merupakan raja selatan di Yehuda, yang memerintah di Yerusalem. Pada masa awal pemerintahannya, raja Israel (utara) dan raja dari kerajaan Aram membentuk persekutuan untuk menaklukkan Yehuda sehingga mereka dapat menempatkan raja boneka atasnya (anak Tabeel – Yesaya 7:6). Dalam situasi yang seperti ini, Yesaya meyakinkan raja Ahas bahwa rencana mereka itu tidak akan terjadi sebab Allah telah berjanji kepada raja Daud bahwa tahta kerajaannya hanya akan diduduki oleh keturunannya saja. Raja Ahas sangat takut pada waktu itu, dan membuat dia tidak percaya akan perkataan Yesaya, sehingga Allah, melalui Yesaya, memberikan dia tanda. Tanda itu diungkapkan oleh Yesaya:

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda--yakni raja Asyur” (Yesaya 7:14-17).

Ketika berita ini datang, Ahas akan tahu bahwa Allah akan menyelamatkannya beserta tahta kerajaannya. Kita tidak memiliki informasi yang rinci tentang “perempuan muda” dalam teks Yesaya itu, tetapi setelah semuanya ini terjadi, mereka akan belajar tentang perempuan tersebut, yang merupakan anak dara yang pada awalny tidak menikah, namun kemudian menikah, melahirkan seorang anak dan menamainya Imanuel. Kemudian, terbuktilah ucapan Allah ini, yaitu bahwa Asyur menaklukkan Israel (utara) dan Aram, dua tahun kemudian, tahun 732 SZB.

Seperti kebanyakan nubuatan PL, nubuatan ini terpenuhi dalam waktu yang dekat dan di kemudian hari. Tidak lama kemudian, di pasal 9:1-7, Yesaya memperkirakan bahwa anak itu akan lahir pada masa yang akan datang, yang akan memerintah dalam tahta Daud selamanya. Sekarang, Matius mengakui bahwa penggenapan nubuatan ini terjadi melalui Maria dan Yusuf.

Matius memberitahukan pembaca Yunaninya bahwa nama Ibrani dari anak itu adalah Immanuel yang berarti “Allah beserta kita”. Apakah fakta ini mempertentangkan pemberian nama “Yesus” oleh Yusuf seperti perintah malaikat itu? Tidak juga! Memiliki dua atau lebih nama (panggilan) merupakan hal yang wajar pada waktu itu. Immanuel tidak dimaksudkan sebagai nama formal yang diberikan oleh orangtuanya. Nama itu lebih sebagai pertanda yang menggambarkan sesuatu yang benar tentang Yesus sebagai Mesias. Nama ini merupakan nama yang cocok bagi Mesias sebab Dia datang untuk menghadirkan Allah di antara umat-Nya yang sedang hidup dalam ketidakpastian, keterasingan, keterpisahan, ketakutan, dan kekuatiran. Pada akhir Injil ini, Matius menegaskan janji Yesus kepada murid-murid-Nya: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20b).

Nama Yesus hendak menegaskan akan apa yang akan Dia lakukan, yaitu menyelamatkan umat-Nya. Nama Imanuel menegaskan otoritas dan sumber pengampunan dan keselamatan itu, yakni Allah sendiri.

Melalui kata-kata malaikat tersebut, Yusuf sekarang tahu bahwa anak dalam kandungan Maria adalah Mesias. Mengapa Matius memasukkan kata-kata Yesaya ini ke dalam tulisannya? Yaitu untuk memberikan jaminan kepada pembacanya bahwa Yesus memenuhi nubuatan PL tentang Mesias. Hal ini juga memberikan jaminan kepada kita tentang kemesiasan Yesus yang kita percayai sampai hari ini.

Kelahiran dan Penamaan Yesus (1:24-25)
Kedua ayat ini memberikan semacam kesimpulan pada teks ini, dan menekankan ketaatan Yusuf. Matius tidak memberikan rincian kelahiran Yesus seperti yang dilakukan Lukas. Dia telah memilih untuk menuliskan aspek lainnya. Matius menghubungkan peranan Yusuf sebagai kepala keluarga yang taat, dan bahwa Allah memintanya untuk memenuhi peran tersebut.

Tema sederhana dari bagian ini adalah ketaatan Yusuf, tetapi ingat, menjadi taat kepada Allah bukanlah sesuatu yang sederhana, tidak mudah, sebab sering kali ada harga yang harus dibayar. Menceraikan Maria secara diam-diam memang merupakan jalan mudah. Reputasi pribadinya tidak akan dipertaruhkan dengan cara yang seperti ini. Tetapi, langkah yang diambil oleh Yusuf tidak seperti itu. Sebaliknya dia menempuh cara yang sangat riskan. Dengan menaati Allah, Yusuf berisiko mengalami penderitaan dan aib sosial yang tidak seharusnya dia tanggung. Ternyata, ketaatan kepada Allah jauh melampaui kesenangan dan penerimaan sosial.

Kesimpulan
Kisah kelahiran Yesus dalam Injil Matius merupakan cerita kedekatan (intim). Pembacanya mendapatkan informasi seputar pertunangan Maria dan anak yang dikandungnya “dari Roh Kudus”. Digambarkan juga bagaimana keputusan awal Yusuf, dan disusul kemudian dengan mimpinya, dan pada akhirnya tercipta suatu relasi yang sangat simpatik dengan Yusuf. Penulisnya memberikan informasi kepada pembacanya bahwa semuanya ini terjadi untuk menggenapi apa yang telah dinubuatkan oleh nabi.

Episode final dari apa yang dilakukan Yusuf sebagaimana perintah yang diterimanya, bagaimana dia mengambil Maria sebagai isterinya, mencapai puncaknya dengan pernyataan klimaks, “dan dia menamainya Yesus”. Ini merupakan kalimat paling singkat dalam seluruh teks ini. Tetapi, kalimat ini justru mendapat penekanan penting. Yesus ada dalam pangkuanmu sekarang, Allah ada di tengah-tengahmu, apa lagi yang ditakutkan? Apa lagi yang dirisaukan? Bukankah Yesus, Allah, telah hadir beserta dengan kita?

Ini juga merupakan kesempatan menciptakan suasana akrab/dekat, yang merupakan dimensi sentral dari cerita kelahiran Yesus, yaitu bagaimana Allah menjadi akrab/dekat dengan kita dalam kelahiran Yesus, dan bagaimana Dia beserta dengan umat-Nya. Ada banyak tingkatan keintiman dalam cerita ini, termasuk keintiman seksual, walaupun terjemahannya menghindari kata-kata yang dapat memiliki konotasi seksual. Walaupun demikian, cerita ini menyinggung hubungan seksual, pernikahan, dan perceraian.

Cerita ini menekankan relasi Allah dengan Yusuf yang begitu dekat, antara Maria dan Yusuf, antara Yusuf dan Yesus. Juga tentang relasi yang intim dengan nabi Yesaya yang telah menubuatkan kelahiran Yesus jauh sebelumnya. Maka, merayakan Natal berarti merayakan kedekatan dan penyertaan Allah terhadap umat yang dikasihi-Nya.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...