Wednesday, April 29, 2020

Mengapa Memilih Kematian kalau Ada Kehidupan? (Yehezkiel 33:7-11)




Oleh: Pdt. Alokasih Gulo


33:7  Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku.
33:8    Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! --dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.
33:9    Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.
33:10  Dan engkau anak manusia, katakanlah kepada kaum Israel: Kamu berkata begini: Pelanggaran kami dan dosa kami sudah tertanggung atas kami dan karena itu kami hancur; bagaimanakah kami dapat tetap hidup?
33:11  Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?
 
Pembuangan yang dialami oleh bangsa Yehuda keBabel disebabkan oleh dosa-dosa mereka, dan mengakibatkan mereka “kehilangan status kemerdekaan apalagi sebagai umat TUHAN, sebab di pembuangan mereka tinggal menjadi bagian dari provinsi Babilonia di sebelah utara. Selain itu, sebagian kaum buangan ini kadang-kadang dikerahkan untuk kerja rodi pada bangunan-bangunan besar yang ditangani raja Nebukadnezar.

Selama masa pembuangan orang-orang Yehuda memang diperbolehkan untuk meneruskan kebiasaan hidup masyarakatnya, tetapi sesungguhnyamereka menghadapi suatu zaman yang penuh kesukaran. Mereka tidak dapatmenyembah Tuhan sebagaimana di Yerusalem sebelumnya, dan lama kelamaan ada yang mengikuti kultus dalam agama Babel dengan segala daya tarik upacara keagamaannya itu. Daya tarik inilah yang dari waktu ke waktu semakin menggoda dan menggoncangkan keyakinan bangsa Yehuda.

Di tengah kehidupan bangsa Yehuda tersebut, Allah memanggil Yehezkiel untuk menjadi penjaga umat-Nya itu (lih. Juga Yeh. 3:16-21).Di sini Yehezkiel bernubuat tentang kehancuran Yerusalem dan bait Allah, dan nubuatannya ini ditujukan bagi bangsa Yehuda yang ada di pembuangan.

Istilah penjaga sebenarnya memiliki arti yang luas. Istilah ini dapat berarti orang yang bertugas untuk menjaga maupun orang yang meninjau seperti mata-mata atau pengintai dan terus-menerus memperhatikan atau mengamati sesuatu. Pada zaman Alkitab suatu ‘kota’ lazimnya memiliki tembok yang sekaligus berperan dalam segi pertahanan suatu kota itu, sehingga kota tersebut kadang-kadang disebut “kota berkubu” atau “kota bertembok”. Dalam kota berkubu tersebut biasanya terdapat menara penjaga yang dibuat lebih tinggi dalam sebuah benteng pertahanan. Menara penjaga disebut juga menara sudut yang merupakan bagian dari suatu tembok tempat menembak ke luar. Pada masa itu, seorang penjaga biasanya berdiri dan berjaga-jaga tanpa pernah tertidur di atas menara penjaga. Dari atas menara tersebut penjaga melihat kedatangan orang atau kelompok orang yang berkunjung dari jarak yang jauh dan ia harus memberitahukan apa yang dilihatnya (Yesaya 21:6). Bentuk peringatan yang disampaikan dapat berupa suara sangkakala (Yehezkiel 33:3), maupun seruan (2 Samuel 18:25). Penjaga inilah yang bertanggung jawab memberitahukan atau memperingatkan orang-orang di kota tersebut kalau ada orang yang menuju ke dalam kota mereka, terlebih-lebih kalau yang datang itu adalah musuh. Pekerjaan inilah yang diberikan oleh Allah kepada Yehezkiel, tetapi bukan dalam pengertian harafiah. Dia dipanggil oleh Allah menjadi penjaga yang mempunyai tugas memberitahukan dan atau memperingatkan bangsa Israel mengenai sesuatu firman dari Tuhan. Dalam konteks ini Yehezkiel berperan untuk menyampaikan apapun yang didengarnyadari Tuhan kepada bangsa Yehuda sebagai suatu peringatan. Peringatannya disampaikan kepada seluruh umat di pembuangan; peringatan ini tidak bermaksud hanya untuk menakut-nakuti umat Tuhan, tetapi untuk membuat mereka sadar dan mawas diri, memberi kesempatan kepada mereka untuk memilih kehidupan dan bukan kematian. Allah boleh saja mendatangkan kematian atas mereka, atau sebaliknya memberi kehidupan bagi mereka tanpa harus melalui peringatan Yehezkiel. Tetapi, Allah sepertinya menginginkan mereka melalui proses yang mungkin saja sulit itu, dan mereka yang tidak mengindahkan peringatan itu akan mati, sementara yang menaatinya akan beroleh kehidupan.

Panggilan Yehezkiel sebagai penjaga menunjukkan bahwa ia mempunyai peran untuk menjaga kehidupan bangsanya dari berbagai ancaman. Ancaman besar bagi bangsa Yehuda pada masa itu adalah agama Babel yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi bangsa Yehuda untuk ikut terlibat dalam upacara-upacara keagamaan. Kehidupan sebagai kaum buangan pasca hancurnya Yerusalem dan bait Allah sebagai identitas mereka mengakibatkan bangsa Yehuda mengalami krisis dalam kehidupan religius sehingga mereka kehilangan harapan terhadap masa depan bangsa mereka. Kehilangan harapan dan atau keputusasaan umat Tuhan itu terungkap di ayat 10. Ayat 10 ini menggambarkan keputusasaan umat Tuhan atas keberdosaan mereka, tiada lagi harapan. Mereka sadar bahwa pembuangan ke Babel merupakan akibat dari dosa-dosa mereka, sayang sekali mereka merasa jatuh sekali (feeling down), sehingga mereka berpikir bahwa tidak mungkin lagi mereka mendapatkan kehidupan. Dalam situasi seperti ini, Yehezkiel diutus agar dapat mempertahankan kehidupan mereka sebagai umat pilihan Allah yang tetap setia kepada-Nya dari ancaman kehidupan sosial bangsa Babel, terutama agama Babel.

Di ayat 11 Tuhan menegaskan bahwa dosa mereka itu bukan akhir dari segala-galanya; benar bahwa Tuhan menghukum setiap orang yang berbuat dosa, tetapi Dia sebenarnya menghendaki kehidupan/keselamatan bagi umat-Nya, sehingga Dia memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Itulah berita yang harus disampaikan oleh Yehezkiel sebagai penjaga umat Israel. Artinya, kesadaran akan keberdosaan seharusnya membimbing umat Tuhan kepada pertobatan dan kehidupan, bukan keputusasaan. Di sinilah penjaga umat Tuhan (dhi Yehezkiel) bekerja untuk memberi tanda peringatan dan memberitahu bahaya yang akan datang. Mengapa memilih kematian kalau ada kehidupan? Memilih kehidupan berarti bertobat.

Ada beberapa pesan penting kepada kita dalam teks khotbah pada hari ini:
1.     Bahwa Tuhan memberi kita kesempatan untuk memilih kehidupan, dan bukan kematian. Oleh karena itu, Tuhan berseru kepada kita: “Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!” Jadi, memilih kehidupan berarti berbalik ke jalan-jalan Tuhan;
2.  Bahwa apa pun kondisi kita saat ini, sudah terlalu jatuh ke dalam kubangan dosa misalnya, selagi ada kesempatan, itu bukan akhir dari segala-galanya. Kasih Allah jauh lebih besar dari kebobrokan kita, dan kasih Allah itu diberikan-Nya kepada kita supaya kita kembali ke jalan yang benar;
3.  Bahwa ketika “para penjaga” umat Tuhan memperingatkan kita akan bahaya yang mungkin saja muncul, kita harus mendengarkannya. Bayangkan misalnya kalau kita mengendarai motor/mobil, dan kita tidak memperhatikan rambu-rambu lalulintas, bahkan tidak mendengarkan peringatan dari para petugas, maka kita akan jatuh ke dalam kecelakaan. Jadi, peringatan-peringatan atau teguran-teguran dari Tuhan yang disampaikan oleh hamba-hamba-Nya sebenarnya adalah untuk kebaikan kita juga, sekali-kali bukan untuk kematian. Para penjaga ini dipilih dan ditetapkan oleh Tuhan, atau atas kehendak-Nya, mulai dari para nabi, rohaniwan, dan pemerintah. Dalam situasi sulit ini, kita berada di bawah "teror" pandemi Covid-19, kita mesti taat pada peringatan-peringatan yang disampaikan oleh para penjaga umat Tuhan, mulai dari para agamawan/rohaniwan, hingga para pejabat pemerintahan atau pihak berwenang untuk itu. Mereka adalah "perpanjangan lidah" Tuhan yang menyampaikan peringatan kepada kita supaya kita memilih kehidupan dan bukan kematian. Maka, jangan keraskan hatimu, jangan ngeyel, jangan habiskan energimu untuk berdebat ketika para penjaga umat Tuhan, para pemimpin agamamu dan pemerintah memperingatkanmu akan bahaya kematian yang muncul ketika tidak bisa menjaga diri.
4.  Bahwa para penjaga umat Tuhan harus melaksanakan tugasnya dengan amat baik, tanggung jawabnya amat besar, dan konsekuensinya pun tidak main-main: “nyawa” sendiri. Karenanya, para penjaga mesti melaksanakan tugas ini dengan baik dan benar, jangan sampai mencelakai orang-orang yang dijaga itu, seperti sebuah ungkapan: “pagar makan tanaman”. Dalam konteks yang lebih luas, para penjaga mesti melaksanakan tugasnya dengan tulus dan tanpa mengambil keuntungan atas masyarakat banyak. Penyaluran BLT dan berbagai sembako karena pandemi Covid-19, hendaknya dilakukan dengan benar dan adil, tentu dengan mengikuti protokoler kesehatan yang benar. Ironis memang, kalau kemudian ada masyarakat yang dalam faktanya mengalami kesulitan ekonomi, tetapi tidak menerima bantuan karena berbagai faktor, termasuk faktor persyaratan yang cukup sulit dan rumit, sementara ada orang-orang yang sebenarnya masih lumayan aman secara ekonomi, tetapi justru menerima BLT atau sembako. Ironis memang ketika ada masyarakat disuruh menjemput bantuan di tempat tertentu yang nilai nominalnya antara Rp. 150.000 - Rp. 200.000, sementara biaya yang harus dia keluarkan untuk menjemput bantuan itu (mis. ongkos ojek, dll) bisa jadi mendekati angka/nilai nominal bantuan tersebut, atau malah pengeluarannya lebih besar. Apakah para penjaga umat Tuhan telah memikirkan situasi seperti ini? Ironis memang ketika ada para penjaga umat Tuhan menyalurkan bantuan yang sebenarnya bernilai mis. Rp. 150.000, tetapi dalam pelaporan bernilai Rp. 200.000. Kalau ada yang seperti ini, maka mereka bukanlah para penjaga umat Tuhan, tetapi penjaga perut sendiri. Menyedihkan memang! Maka, sebelum kematian itu benar-benar datang menjemputmu, jadilah penjaga umat Tuhan yang tulus, adil, dan jujur.

Akhirnya, marilah kita bangkit kembali, bangkit berjalan di jalan yang benar; dan marilah kita saling mengingatkan supaya tidak ada di antara kita yang jatuhterlalu dalam ke jurang kematian. Kalau ada kehidupan, mengapa memilih kematian?

Sunday, April 26, 2020

Menjadi Sesama Manusia Bagi “Orang Lain” (Lukas 10:25-37)


Renungan yang disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo

Teks ini oleh TB LAI diberi judul “Orang Samaria yang murah hati”. Cerita ini amat menarik dan populer, baik di kalangan rohaniwan maupun di kalangan awam. Teks ini sebenarnya tidak sekadar berbicara tentang orang Samaria yang baik hati seperti judulnya (oleh TB LAI), namun sekaligus menyinggung orang-orang Yahudi, terutama para pemimpin atau pemuka agamanya.

Ada dua episode penting dari teks ini, keduanya memiliki struktur, pertanyaan, dan pernyataan dengan pola yang hampir sama.

Episode pertama, diawali dengan sebuah pertanyaan seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus di ayat 25 tentang “apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal”. Lalu, Yesus meresponinya dengan bertanya balik kepadanya tentang “hukum yang pertama dan terutama” dalam hukum Yahudi. Dan, sang ahli Taurat pun menjawabnya dengan benar. Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (10:27). Yesus pun menutup dialog pada episode pertama ini dengan berkata kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (10:28).

Episode kedua, diawali dengan pertanyaan (kembali) ahli Taurat kepada Yesus tentang “siapakah sesamanya manusia” (yang dituliskan sebagai upaya ahli Taurat tersebut untuk membenarkan dirinya, ay. 29). Lalu, Yesus menanggapinya dengan suatu cerita yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan kepada ahli Taurat tadi untuk menarik kesimpulan sendiri tentang “siapakah sesama manusia” dimaksud. Dan, sang ahli Taurat pun menjawab sendiri pertanyaannya tadi sekaligus menegaskan siapakah sesama manusia dalam cerita itu. Yesus pun menutup dialog mereka pada episode kedua sekaligus mengakhiri percakapan mereka itu dengan perkataan yang polanya mirip dengan akhir episode pertama tadi: “Pergilah, dan perbuatlah demikian” (10:37b).

Namun, tampaknya target Lukas dalam dialog dan cerita ini bukanlah terutama tentang “upaya memperoleh hidup yang kekal” sebagaimana ditanyakan oleh ahli Taurat tadi di awal dialog. Lukas sebenarnya mau menyampaikan sesuatu yang amat penting melalui cerita ini, sesuatu yang amat dibutuhkan namun selama ini terabaikan karena ada hambatan untuk mewujudnyatakannya. Itulah sebabnya settingatau alur peristiwa perampokan tersebut dideskripsikan sedemikian rupa dengan cukup jelas dan sistematis. Demikian juga dengan orang-orang yang dilibatkan dalam cerita itu, digambarkan dengan ringkas namun amat jelas. Episode orang Samaria merupakan cerita terpanjang dari seluruh cerita itu.

Dua pihak yang memiliki hubungan yang sangat tidak harmonis ditampilkan sekaligus dalam kisah ini, yaitu orang Yahudi (dalam hal ini imam dan orang Lewi sebagai representasi kaum Yahudi), dan orang Samaria (dalam hal ini penolong orang yang dirampok tersebut). Dan, orang yang bertanya adalah orang Yahudi (ahli Taurat, unsur pimpinan dalam masyarakat/agama Yahudi). Kondisi geografis tempat peristiwa perampokan itu terjadi sangat mendukung cerita Yesus ini. Pada zaman Yesus, terutama pada zaman pembaca tulisan Lukas, jalan ke Yerikho merupakan jalan yang sangat berbahaya. Pada abad pertama, jalan ke Yerikho terkenal sebagai jalan yang paling berbahaya, karena karakternya seperti itu. Jaraknya cukup jauhuntuk ukuran saat itu, sekitar 17 mil (lebih dari 27 km). Sepanjang jalan merupakan hutan belantara (wilderness) dan gua-gua di mana orang dapat bersembunyi. Tidak ada perlindungan bagi siapa pun yang melewati jalan itu, tidak ada tenaga atau posko keamanan di jalan pada saat itu. Gerombolan perampok tinggal di gua-gua tersebut, dan siapa pun yang melewati jalan tersebut akan menjadi sasaran empuk para perampok, umumnya si korban ditinggalkan begitu saja dalam kondisi terluka parah. Konteks geografis seperti inilah yang dipakai oleh Yesus dalam ceritanya untuk menggambarkan peristiwa perampokan dan bagaimana orang Yahudi maupun orang Samaria menunjukkan “perhatian” (care) terhadap si korban.

Dalam pandangan orang Yahudi, orang-orang Samaria merupakan orang yang murtad, pengkhianat, kafir, dan mereka adalah musuh. Sebenarnya, orang Samaria merupakan keturunan penduduk kerajaan utara yang ditaklukkan oleh Asyur sekitar 800 tahun sebelum Kristus, tepatnya tahun 722 SZB. Pada waktu itu, ada kebijakan Asyur dalam hal kawin-mengawini, yaitu mereka mengirim para pemudanya (laki-laki dan perempuan) ke kerajaan utara untuk kawin dengan orang-orang di sana, dan terjadilah perkawinan campur itu. Itulah sebabnya orang selatan (orang Yahudi) menyebut mereka sebagai “peranakan”, orang yang darahnya telah kotor dan bukan lagi asli Yahudi. Mereka dianggap “kafir”.

Yesus sendiri, dan pembaca Lukas tentu mengetahui sejarah panjang konflik Yahudi dan orang-orang Samaria ini. Tidak lama sebelum zaman Yesus, sekelompok pemuda Samaria merusak bait Allah dan membuang tulang-tulang di seluruh bait suci sehari sebelum perayaan paskah dan roti tidak beragi. Akibatnya orang-orang Yahudi harus membatalkan perayaan pada tahun itu. Hal ini tentunya sangat menayakiti orang-orang Yahudi, akibatnya ketegangan dan konflik mereka semakin sulit diselesaikan. Hubungan mereka ini tidak seharmonis hubungan orang-orang Yahudi dengan orang-orang Palestina yang pada waktu itu tinggal di tanah yang sama dengan orang-orang Samaria.

Lalu, apa yang terjadi?
Teman dialog Yesus tadi, dan tentunya orang-orang Yahudi, berharap bahwa imam dan orang Lewi itu akan melihat orang yang dirampok dan terluka tersebut dan akan menolongnya. Sayang sekali, imam dan orang Lewi tersebut sangatlah kaku dan terikat dengan hukum Taurat yang melarang mereka mendekati dan menyentuh orang yang tidak tahir. Mereka mungkin saja memiliki kepedulian atau perhatian (care), tetapi kekakuan dan keterikatan mereka pada hukum Taurat telah mengalahkan kepekaan atau empati mereka terhadap orang yang membutuhkan. Mereka takut kehilangan popularitas, takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan harga diri, apabila mereka melanggarhukum Yahudi tersebut.

Sejauh ini teman dialog Yesus tadi, termasuk pembaca tulisan Lukas dari kaum Yahudi, memahami bahwa orang Samaria adalah musuh, orang yang harus dibenci, orang yang tidak mengindahkan hukum, orang yang paling berdosa. Namun, lihatlah, orang Samaria tersebut, ketika dia datang, justru menolong korban perampokan itu dengan kebaikan yang luar biasa, bahkan sampai membayar orang lain untuk merawat si korban tadi dan membayar kembali seluruh biaya pengobatannya. Orang Samaria yang selama ini dianggap kafir dan tidak mengindahkan hukum Allah, ternyata memiliki hati yang penuh dengan belas kasihan daripada imam dan orang Lewi yang menganggap diri paling suci. Tanpa memikirkan risiko yang mungkin saja terjadi atasnya, orang Samaria itu mengambil keputusan untuk menjadi sesama manusia bagi korban perampokan tersebut, bahkan kepada musuhnya. Dia tidak peduli dengan ketegangan hubungan mereka dengan orang Yahudi (yang akan ditolongnya itu), dia tidak dibatasi oleh berbagai aturan hukum yang berlaku (seperti diperhitungkan oleh imam dan orang Lewi), dia tidak takut dengan segala risiko yang harus dia tanggung (mis. risiko keuangan). Baginya, “menjadi sesama manusia” bagi orang lain yang membutuhkan melalui kasih, kepedulian, kepekaan dan empati, jauh lebih penting dari segala persoalan yang telah dan bakal terjadi. Saya kira, itulah kabar baik (good news) yang disampaikan kepada pembaca Lukas, kabar baik yang terlihat dalam aksi kepedulian terhadap sesama, tidak hanya kepada orang-orang Yahudi tetapi juga kepada orang lain.

Akhirnya, Yesus bertanya balik kepada ahli Taurat tadi tentang “siapakah sesama manusia” (ay. 36), dan ahli Taurat itu pun menjawabnya di ayat 37 “… orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya”. Itulah inti jawaban Yesus atas pertanyaan cobaan dari ahli Taurat tadi di ay. 25, sekaligus inti dari cerita ini, dan pesan utama yang disampaikan adalah “MENJADI SESAMA MANUSIA BAGI ORANG LAIN”.

Bagaimana dengan kita?
Pada satu sisi teks ini berbicara tentang bagaimana seharusnya orang percaya mewujudnyatakan iman yang dia miliki sekaligus berbagai (sharing) anugerah yang telah dia terima dalam aksi nyata, bagaimana kita berbagi kabar baik dalam tindakan nyata, dalam hal ini melalui kepedulian atau perhatian bagi siapa pun yang membutuhkan, dengan tidak dibatasi oleh sekat-sekat apa pun, bahkan tidak boleh dikalahkan oleh berbagai aturan atau hukum yang sebenarnya diciptakan oleh manusia sendiri. Kasih, kepedulian, perhatian, kepekaan dan empati kepada mereka yang membutuhkan (those who are in need) mestinyamenempati tempat yang penting dalam kehidupan orang percaya, tentu menjadi salah satu prioritas para pimpinan gereja dalam menentukan arah kebijakan gereja masing-masing. Maka, pertanyaan penting di sini adalah apakah kebijakan gereja kita selama ini telah hadir dan menjadi “sesama yang baik” bagi orang lain?
Menjadi sesama manusia bagi siapapun berarti siap dan mau menyatakan kasih dan kepedulian terhadap mereka, dengan tidak mempersoalkan latar belakang atau perbedaan yang dimiliki.
Menjadi sesama bagi siapapun berarti siap dan mau menerima dan melayani orang lain tanpa dibatasi oleh berbagai faktor atau alasan apa pun.
Menjadi sesama bagi siapa pun berarti saling mengakui dan memperlakukan sesama dalam kesetaraan, membangun relasi dan kerjasama dalam semangat kesetaraan, bukan dalam hubungan “superiority-inferiority”.
Menjadi sesama manusia bagi yang lain berarti berbagi kabar baik, dan kabar baik yang terbaik adalah ketika kita menjadi sesama yang baik kepada orang lain justru ketika dia berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan.
Saat ini kita sedang menghadapi wabah atau pendemi virus corona (Covid-19), jutaan orang telah positif terinfeksi di seluruh dunia, dan hampir ratusan ribu orang telah meninggal dunia. Akibatnya, sejumlah negara mengunci wilayahnya (lockdown) untuk meminimalkan penyebaran virus ini. Indonesia masih dalam tahap PSBB di beberapa wilayah, seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Pekanbaru, dll. Sejak tanggal 24 April 2020, seluruh penerbangan (udara) dan pelayaran (laut), bahkan perjalanan kereta api jarak jauh (darat) dihentikan hingga akhir Mei 2020 nanti. Dari segi ekonomi, banyak orang yang terdampak Covid-19 ini, itulah sebabnya pemerintah mengucurkan berbagai bantuan kepada masyarakat. Kita pun mengambil bagian dalam pemberian bantuan sosial kepada mereka yang membutuhkan. Hanya memang, sejauh ini, kita masih berada dalam pola pikir hanya menolong orang-orang yang termasuk warga jemaat kita, tentu dengan alasan yang tepat, yaitu banyak warga jemaat kita yang kesulitan secara ekonomi, termasuk para pendeta atau pelayan gereja. Namun demikian, apabila membaca kisah orang Samaria yang baik hati ini dengan kerendahan hati, maka kita akan menyadari bahwa apa yang kita perjuangkan atau lakukan selama ini (kepada warga jemaat kita dan pelayan gereja kita) belum menjangkau mereka “yang lain”. Kita belum berani dan berkomitmen untuk menolong mereka yang bukan warga jemaat kita, apalagi mereka yang beda agama. Kita masih sibuk mengurus diri dan lingkungan kita sendiri, tentu dengan alasan kita sendiri pun perlu ditolong. Nah, pola pikir seperti inilah yang mesti berubah, kita belajar dari orang Samaria yang dianggap “kafir” oleh orang Yahudi pada waktu itu. Menolong mereka “yang lain”, menjadi sesama bagi “yang lain” merupakan bentuk atau wujud nyata dari kasih ilahi yang telah kita terima. Kalau ada orang menolong “orang lain” karena dia memang memiliki kemampuan untuk itu, apalagi kalau dia memang berkelimpahan, itu biasa saja, tetapi kalau ada orang yang kekurangan tetapi menolong “orang lain” seadanya, itulah yang luar biasa.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...