Thursday, July 11, 2013

My House is not My Home



Oleh: Pdt. Alokasih Gulõ, M.Si


Seorang ibu bercerita:
“Saya mempunyai dua orang suami, suami yang pertama telah meninggal dunia dan kami mempunyai anak 4, dan semuanya itu telah meninggal. Kemudian saya dinikahkan dengan laki-laki lain dan saya dianugerahkan anak sebanyak 3 orang, tapi sayang kedua anak laki-laki saya meninggal pula dan tinggal seorang anak perempuan saya. Kami sekeluarga tinggal bersama tetapi di dalam keluarga tidak ada ketentraman. Terlebih-lebih setelah anak perempuan saya menikah. Mereka tinggal bersama-sama dengan kami sekeluarga. Anak saya perempuan dan juga menantu saya tidak pernah menganggap saya sebagai ibu. Suami saya juga hanya mabuk-mabukan saja. Saya di dalam rumah itu seperti seorang budak (wajahnya kelihatan sedih dan ia mengusap wajahnya dengan tangannya). Bagiku rumahku sendiri seperti neraka. Saya selalu dijadikan pekerja bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Saya bekerja tiap hari tetapi mereka selalu mengomeli saya dan membentak-bentak saya bahkan mencaci-maki saya (sambil mengucapkan kata-kata makian). Saya setiap hari bekerja di ladang, masak nasi dan pekerjaan dapur. Namun dalam pekerjaan itu saya selalu disalahkan (no sala aõkõ ufalua). Jika saya masak banyak nasi, itu salah, kalau sedikit mereka juga menyalahkan saya. Jadi, saya tidak sanggup lagi dengan hal itu”.


Kisah di atas hanyalah satu dari sekian banyak kisah kehidupan di mana banyak orang merasa tidak berada di rumah sendiri. Kejadian, situasi dan perasaan-perasaan yang seperti ini dengan berbagai versi dan “dosis” bisa terjadi bagi siapa saja, tidak peduli jabatannya, tidak peduli jenis kelaminnya, tidak peduli fisiknya (tinggi-pendek, gemuk-kurus, sehat-sakit, cantik-jelek), tidak peduli umurnya, tidak peduli latar belakangnya, tidak peduli pendidikannya, tidak peduli kesehatannya, tidak peduli agama bahkan gerejanya. Banyak orang yang merasa tidak nyaman di rumahnya dan memilih untuk menghabiskan waktu bersama-sama dengan teman-temannya di sekolah, di kantor, di warung, dan di mana saja. Banyak orang yang merasa “malas” pulang ke rumah setelah jam kantor, setelah jam sekolah, atau setelah jam aktifitasnya di luar selesai. Ada banyak alasan untuk tidak segera pulang ke rumah: pekerjaan masih banyak yang mendesak (lembur), ada “meeting”, ada diskusi kelompok, ada kegiatan ekstra (pengembangan diri), melayat, menjenguk teman yang sakit, motor/mobil kempes atau di-service, ada tilang, macet, ada kecelakaan di depan tadi, “no arõrõdo manõ – umbalinga lõ irugi inõtõ nasa”, dan masih banyak lagi alasan lain yang membuat seseorang “malas” atau “enggan” pulang ke rumah dengan segera karena baginya rumahnya (house)bukanlah keluarganya (home). Ada banyak alasan juga untuk datang ke kantor, ke sekolah, ke pertemuan, atau ke tempat kerja lebih cepat dari waktu yang biasanya: disiplin waktu, ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, kami petugas kebersihan kelas, ada apel pagi atau upacara bendera, kami harus menyiapkan tempat pertemuan, ada surat-surat atau laporan pada pertemuan nanti yang harus diprint-out, “bos” (pimpinan) meminta saya datang lebih awal, ada tamu yang harus disambut, dan masih banyak lagi alasan yang bisa “diciptakan” untuk bisa “cabut” lebih cepat dari rumah karena dia merasa “jenuh” atau “tidak tenteram” di rumahnya sendiri.

Suatu rumah (house) idealnya adalah menjadi keluarga (home) bagi setiap penghuninya, tetapi harus diakui bahwa ada banyak orang yang justru merasakan bahwa rumahnya (house)tidak berfungsi sebagai keluarga (home)baginya. à bersambung ...

2 comments:

  1. kebanyakan orang biasanya berkata, Rumahku adalah istanaku, tetapi dalam kisah tersebut orang bisa berkata Rumahku adalah nerakaku...

    ReplyDelete
  2. Benar sekali pak Gulo, ketika orang merasa "at home" di rumahnya maka itulah "surga" baginya, sebaliknya ketika dia merasa "not at home" di rumahnya sendiri maka itulah tadi yang disebut "neraka" baginya.

    ReplyDelete

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...