Sunday, June 16, 2019

Semua milik Tuhan, dan Dia pun menyediakan semuanya (Kejadian 22:1-12)


Khotbah Minggu, 16 Juni 2019
Disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo[1]

1       Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”
2     Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."
3    Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.
4      Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.
5     Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”
6      Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
7     Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”
8      Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
9   Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.
10    Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.
11    Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”
12   Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

Cerita ini merupakan salah satu kisah populer di kalangan orang-orang Yahudi dan Kristen, dianggap sebagai kisah fenomenal tentang kesetiaan Abraham kepada TUHAN, sebab dia mau saja mengorbankan anak yang paling dicintainya, Ishak, demi ketaatan-Nya pada perintah TUHAN. Itulah sebabnya, Abraham sering dijadikan sebagai “model” bagi orang-orang beriman sampai saat ini. Secara singkat, cerita ini dikenal sebagai kisah “pengorbanan Ishak”, kisah iman dan kepatuhan, walaupun sebenarnya kisah ini sendiri memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Praktik “mengorbankan anak” sudah dikenal dalam budaya di sekitar Israel kuno, dan mungkin juga pernah dipraktikkan di Israel sendiri. Namun demikian, dalam Alkitab sendiri, ada beberapa rujukan yang dengan tegas melarang pengorbanan anak (mis. Imamat 18:21; Yeremia 7:30-34; Yehezkiel 20:31). Umat TUHAN tidak boleh mengorbankan anak-anaknya sebagai persembahan kepada ilah-ilah, dewa-dewi atau berhala-berhala, tetapi mengapa dalam teks khotbah hari ini TUHAN malah meminta Abraham untuk mengorbankan anaknya Ishak sebagai persembahan kepada-Nya? Penjelasan tentang hal ini tidak mudah, namun intinya menunjukkan bahwa semua yang dimiliki manusia sesungguhnya adalah milik TUHAN, dan bahwa TUHAN sendiri menyediakan semuanya.

Bagi orang Kristen, cerita pengorbanan Ishak ini dihubungkan dengan peristiwa pengorbanan Yesus di kayu salib. Selain itu, kesediaan Abraham untuk mengorbankan putranya menjadi salah satu contoh terbaik bagi kehidupan beriman orang Kristen: “Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, … Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali ”(Ibrani 11:17, 19). Kisah ini dipahami sebagai kisah iman yang melawan segala rintangan, dan sebagai pertanda pemberian diri oleh Tuhan dalam Yesus Kristus.

Catatan awal yang mesti diingat adalah bahwa TUHAN sebenarnya tidak bermaksud meminta pengorbanan anak (manusia), Dia hanya “mencoba” Abraham. Cerita dimulai, “Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham” (22:1). Dan apa yang termasuk “semuanya itu”? Panggilan Tuhan kepada Abraham untuk pergi ke negeri yang belum pernah dilihatnya, janji Allah kepada Abraham bahwa ia akan menjadi bapak bangsa yang besar, tahun-tahun panjang kemandulan Sarah, kelahiran Ismail, dan akhirnya, kelahiran ajaib putra kesayangan Abraham yang mereka sebut “tawa” (Ishak). Anak yang paling disayangi inilah yang diminta TUHAN untuk dipersembahkan kepada-Nya di gunung Moria.

Prosa Ibrani dari kisah ini indah dan singkat. Abraham melakukan apa yang diminta Allah, dan berangkat bersama putranya. Abraham tidak banyak bicara. Ishak mengatakan lebih sedikit, dan orang dibiarkan membayangkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Narator menggunakan pengulangan untuk meningkatkan kepedihan: “Keduanya berjalan bersama-sama,” ketika ayah dan anak itu berjalan bersama dalam keheningan pada hari ketiga (22:6). Bersama dalam tujuan, bersama dalam cinta. Narator terus menekankan hubungan antara keduanya, seolah-olah kita perlu diingatkan: “Abraham mengambil kayu dari korban bakaran dan meletakkannya di atas putranya Ishak.” Ishak berkata kepada Abraham ayahnya, “Bapa!” Dan dia berkata, “Ya, anakku” (22:7) (Inilah aku, putraku).

Dan Ishak berkata, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Dan Abraham, hati yang terbelah dua, berkata, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Dan, sekali lagi, “Mereka berdua berjalan bersama-sama” (22:7-8). Keduanya berjalan bersama, ayah dan putranya, sang putra membawa kayu untuk pengorbanannya sendiri. Cerita ini sering dikaitkan dengan peristiwa salib: “Ishak membawa kayu untuk pengorbanan sama seperti orang yang membawa salibnya sendiri.”

Mereka mencapai tempat pengorbanan, dan Abraham membangun mezbah. Lagi-lagi, seolah kita perlu diingatkan, narator menekankan hubungan antara ayah dan anak. “diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api … Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya” (22:9-10).

Pada saat itu, Tuhan memanggilnya, “Abraham, Abraham!” Dan Abraham membalas untuk ketiga kalinya dan terakhir dalam cerita, hineni, “Aku di sini” (Ya, Tuhan). TUHAN berfirman, “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku” (22:12). Ternyata, Allah hanya mencoba Abraham, menguji dia, pakah dia setia atau tidak, sebab sebelumnya Allah sendiri telah mempertaruhkan segalanya pada Abraham.

Kemudian, seperti yang dikatakan Abraham kepada Ishak, Tuhan menyediakan; Tuhan menyediakan seekor domba jantan untuk menggantikan anak yang dikasihi itu. “Maka Abraham menyebut tempat itu ‘TUHAN akan menyediakan’; seperti yang dikatakan sampai hari ini, ‘Di atas gunung TUHAN, akan disediakan’” (22:14).

Kisah pengorbanan Ishak ini memiliki makna yang begitu dalam:
(1)   Semua yang kita miliki, bahkan hidup kita sendiri dan orang-orang yang paling kita sayangi, pada akhirnya menjadi milik Tuhan, yang memberikannya kepada kita sejak semula.
(2)   Kisah ini meyakinkan kita bahwa Allah akan menyediakan, bahwa Allah akan hadir di sepanjang kehidupan manusia.



[1] Khotbah Minggu, 16-06-2019 di BNKP Jemaat Gloria, Resort 2.

Saturday, April 20, 2019

Kebangkitan Yesus yang Mengguncangkan (Matius 28:1-10)


Khotbah Kebaktian Subuh Minggu Paskah, 21 April 2019
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo[1]

28:1   Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.
28:2    Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya.
28:3     Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.
28:4    Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati.
28:5    Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu.
28:6   Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.
28:7    Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.”
28:8   Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.
28:9   Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
28:10  Maka kata Yesus kepada mereka: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”



Peristiwa tragis itu baru saja terjadi, lö sahöwö mbongi, Guru Agung yang selama ini diharapkan dapat memulihkan umat Tuhan (secara politis) ternyata harus ditangkap, disalibkan, dan mati. Kematian-Nya menjadi pukulan berat bagi para pengikut-Nya, pukulan yang mengecewakan, pukulan yang menyedihkan, dan tentu saja pukulan yang menakutkan. Kematian memang sebuah kepastian, akan dialami oleh siapa pun, tetapi bagaimana mungkin seorang Yesus, yang diakui sebagai Guru Agung yang mengajarkan kebaikan dan kehidupan, yang dipercaya sebagai Tuhan yang menyelamatkan itu mengalami kematian dengan cara yang amat tidak manusiawi untuk suatu tuduhan yang tidak dilakukan-Nya? Ini tidak benar, ini tidak adil, tetapi siapa yang dapat melawan para penguasa Romawi dan para pemimpin agama Yahudi pada waktu itu? Jangankan para pengikut-Nya, Yesus sendiri pun tidak bisa berbuat banyak selain berserah pada (katanya) kehendak Bapa-Nya.

Beberapa hari setelah penyaliban dan kematian Yesus, kesedihan dan ketakutan ternyata belum selesai, ancaman belum berakhir. Para pemimpin agama Yahudi pun “memaksa” Pilatus untuk menempatkan para penjaga di kuburan Yesus, yang dapat diartikan sebagai ancaman bagi para pengikut-Nya (dan bagi siapa saja) yang mencoba mendekati kuburan itu. Kuburan Yesus itu sendiri telah ditutup dengan batu besar, telah disegel dengan batu besar, sehingga sulit bagi siapa pun untuk menggulingkannya. Demikianlah para pengikut Yesus diperhadapkan pada situasi yang sangat sulit dan berbahaya. Jangankan membuka segel batu besar (yang mustahil dilakukan oleh satu-dua orang), mendekati kuburan itu saja sudah amat sulit, sebab tentara Romawi telah ditempatkan di luar makam untuk menjaganya terhadap perampok/pencuri di kuburan (bnd. Mat. 27:64). Bagi Matius, batu besar di depan kuburan adalah simbol kematian akhir. Batu raksasa itu ibarat kuasa besar kematian yang kita hadapi semua. Para perempuan (Maria Magdalena dan Maria lainnya) tidak berdaya untuk memindahkan batu itu, sama seperti kita juga tidak berdaya untuk menghapus kematian dari hadapan kita. Batu tersebut begitu besar, dan dalam pandangan Matius, tidak ada kekuatan manusia yang cukup besar untuk mengangkat atau menghilangkannya. Sulit sekali, teramat sulit bagi para pengikut Yesus untuk menghadapi dan melewatinya, sulit sekali bagi para perempuan yang datang ke kuburan tersebut untuk mengatasinya.

Namun, benarlah sebuah ungkapan yang amat populer: “tidak ada yang mustahil bagi Tuhan”. Tantangan besar di sekitar kuburan itu, yakni segel batu besar dan para tentara yang menjaga makam, pada akhirnya dapat diatasi. Apa yang tidak bisa dihadapi dan diatasi oleh manusia, kini terselesaikan oleh guncangan keras, disebutkan sebagai guncangan gempa bumi yang hebat, dan itulah kebangkitan Kristus yang kita rayakan pagi ini. Jadi dalam teks ini kita mendapatkan kekuatan yang lebih besar, kekuatan yang datang dalam bentuk gempa bumi. Hal ini mengatakan bahwa kebangkitan bukanlah peristiwa manusia; itu adalah peristiwa kosmik, sesuatu yang hanya bisa terjadi dengan campur tangan ilahi. Kebangkitan Kristus ternyata amat mengguncangkan, sehingga batu kematian yang amat besar itu tergulingkan (oleh malaikat yang penampilannya seperti kilat), dan tentu saja para tentara Romawi yang menjaga makam tersebut terguncang hebat dan amat ketakutan (ay. 4). Peristiwa yang mengguncangkan ini merupakan simbol harapan yang muncul di saat manusia diliputi oleh rasa takut yang luar biasa, saat-saat dimana manusia berada dalam kesulitan dan ancaman yang luar biasa. Dari mana harapan tersebutberasal? Harapan yang sejati tidak mungkin datang dari dunia manusia, hanya datang dari dan oleh kuasa Tuhan saja. Kebangkitan Kristus berarti guncangan harapan bagi orang yang percaya kepada-Nya, tetapi sebaliknya menjadi guncangan menakutkan bahkan mematikan bagi mereka yang tidak percaya.

Satu hal yang sangat jelas dalam semua cerita kebangkitan, terutama dalam Injil Matius ini adalah bahwa kita diguncang oleh kebangkitan dan kehadiran Kristus. Terguncang … dalam arti terguncangkan oleh kenyataan bahwa kita tidak sendirian di dunia ini, bahwa kita tidak harus menghadapi batu kematian yang begitu besar, dan bahwa kita tidak sendirian menghadapi tantangan yang ada di hadapan kita. Sementara itu, para penjaga kuburan, para tentara yang katanya siap mati setiap saat, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang yang hanya mengandalkan kekuatan manusia, pada akhirnya terguncang keras, diliputi rasa takut yang luar biasa, yang membuat mereka menjadi seperti orang-orang mati, tidak berdaya menghadapi kekuatan ilahi tersebut.

Peristiwa kebangkitan Kristus merupakan sukacita besar bagi kita, sebab kuasa maut yang amat menakutkan itu telah ditaklukkan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Paulus: “maut telah ditelan dalam kemenangan” (1Kor. 15:54). Untuk itulah kita beribadah pada pagi ini, merayakan kemenangan Kristus atas kuasa maut, merayakan kemenangan yang pasti kita dapatkan atas segala kekuatan yang mengancam dan menakutkan di dunia ini. Di hadapan kita kini tidak ada lagi batu kematian besar, tidak ada lagi kekuatan para tentara penjaga makam, yang ada hanyalah kemenangan besar yang melampaui segala kesulitan dan bahaya yang mengancam setiap saat, yang hanya didapatkan dalam kebangkitan Kristus. Itulah harapan iman kita! Selamat Paskah!


[1] Bahan Khotbah Paskah (Kebaktian Subuh), 21 April 2019, di Jemaat BNKP Denninger

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...