Sunday, October 5, 2014

Ketika Umat Pilihan TUHAN Mengecewakan Allah (Yesaya 5:1-7)



Bahan Khotbah Minggu, 5 Oktotber 2014
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

5:1  Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur.
5:2 Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.
5:3 Maka sekarang, hai penduduk Yerusalem, dan orang Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku itu.
5:4 Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?
5:5 Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak;
5:6 Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya.
5:7 Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.

Yesaya, seperti penyanyi lagu rakyat, menyanyikan sebuah perumpamaan tentang kebun anggur yang membandingkan Israel dengan kebun anggur yang telah ditanam oleh TUHAN, dimana Ia berharap dapat menerima buahnya. Pendengar asli nabi Yesaya tidak menyadari apa yang dimaksud dengan lagu ini pada bagian awalnya. Kedengaran pada mulanya seperti lagu pernikahan bahagia, tetapi ternyata kemudian menjadi nyanyian pemakaman yang mengumumkan kematian Israel. Lagu kiasan ini hanyalah bagian pertama dari satu kesatuan pesan Yesaya pada pasal ini. Lagunya mengalir menjadi khotbah. Ini adalah nyanyian yang pertama dari beberapa lagu dalam Yesaya (lih. pasal 12, 35; 54:1-10). Yesaya membiarkan pendengarnya untuk menilai diri sendiri, sama seperti ketika nabi Natan menegur raja Daud melalui sebuah perumpamaan dimana pada akhirnya Daud sendiri yang secara tidak sadar menentukan jenis hukuman atas dirinya (2 Sam. 12:1-7).

Anggur Terbaik yang Berbuahkan Anggur Asam (5:1-2)
Yesaya menyanyikan sebuah lagu yang disebutnya sebagai “nyanyian tentang kekasihnya”, yaitu nyanyian tentang kebun anggur. Yesaya menggambarkan bagaimana pemilik kebun anggur ini benar-benar melakukan persiapan yang cermat supaya kebun anggur itu dapat menghasilkan buah-buah yang baik. Ia memagar kebun anggurnya dan membangun menara jaga serta lobang tempat memeras anggur di dalamnya, menunjukkan bahwa dia ingin mendapatkan hasilnya untuk waktu yang lama, dia ingin memuaskan dirinya dengan hasil usahanya terhadap kebun anggurnya itu. Namun sayang sekali, semua karyanya itu sia-sia; anggur yang dianggap terbaik itu justru mengecewakan Dia. Disebutkan bahwa kebun itu ternyata menghasilkan buah anggur yang asam. Buah anggur yang asam seperti ini biasanya terdapat di hutan belantara, tidak terurus, tidak terawat, atau dengan kata lain anggur liar. Di ayat 7 ditegaskan bahwa kebun anggur TUHAN yang dimaksud dalam teks ini adalah kaum Israel, dan tanaman-tanaman kegemaran-Nya adalah orang Yehuda, sedangkan pemilik kebun anggur itu adalah TUHAN. Nyanyian perumpamaan ini hendak menggambarkan bagaimana bangsa Israel dan Yehuda telah dipelihara oleh TUHAN Allah, bahkan sejak zaman leluhur mereka, sayang sekali mereka justru menghasilkan buah-buah yang mengecewakan Allah. Ibarat pepatah “air susu dibalas dengan air tuba”, atau “ibarat kacang lupa akan kulitnya”. Hal ini jelas terlihat misalnya di Yesaya 1:3 “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.”

Kekecewaan Pemilik Kebun Anggur (5:3-4)
Yesaya selanjutnya mengimbaupendengarnya, penduduk Yerusalem dan Yehuda, berbicara dengan Allah mereka yang baik dan tercinta. Dia meminta pendapat mereka. Apatah lagi yang bisa dia lakukan untuk memastikan bahwa tanaman itu menghasilkan sesuatu yang baik? Mengapa tanaman-tanaman kegemarannya itu justru menghasilkanbuah anggur yang asam? Dengan melihat usaha yang telah dilakukan sepenuhnya oleh sang pemilik kebun ini sebelumnya (ay1-2), maka pertanyaannya itu mungkin hanya bisa dijawab: “Engkau tidak bisa berbuat lebih dari apa yang telah Kau lakukan,” dan:“Letak kesalahan, sumber kekecewaan bukan lagi Engkau, melainkan Anggur itu sendiri”. Mengharapkan sesuatu hasil yang baik setelah melakukan segala sesuatu yang terbaik sangatlah wajar, dan ketika hasil yang didapatkan justru kebalikannya, maka akan sangat mengecewakan. Itulah yang terjadi kepada TUHAN Allah, kekecewaan yang luar biasa ketika Dia sudah melakukan segala sesuatu dalam pemeliharaan umat-Nya Israel, tetapi umat-Nya itu justru menghasilkan buah-buah kelaliman; sungguh sangat mengecewakan.

Tindakan terhadap Anggur yang Mengecewakan (5:5-6)
Apakah anggur yang mengecewakan ini dibiarkan begitu saja dalam keasamannya? Tidak! Dijelaskan kemudian apa yang akan dilakukan oleh sang pemilik bagi kebun anggurnya yang mengecewakan itu. Dia akan berhenti melindunginya dan membiarkannya serta menyerahkannya kepada musuh-musuhnya. Dia tidak akan menempatkan lagi pekerja di dalamnya dan bahkan dia akan berhenti menyediakan kebutuhan kebun itu sehingga tidak bisa lagi berkembang. Dia malah akan mendorongnya jatuh ke dalam kehancuran. Hal ini sejajar dengan pengamatan nabi Yehezkiel, yaitu bahwa jika pohon anggur tidak menghasilkan buah, maka lebih baik ia dibuang karena tidak ada artinya lagi (Yeh 15: 2-5; bnd. Yohanes 15:6). Itulah yang terjadi dengan bangsa Israel dan Yehuda beberapa tahun kemudian, mereka dibiarkan oleh Allah jatuh ke tangan musuh-musuhnya, hidup dalam ketidaktenteraman, kehancuran dan perpecahan di mana-mana (3:25), sampai kejatuhan Samaria pada tahun 722 SZB hingga mereka dibuang ke Babel.

Umat TUHAN yang Mengecewakan (5:7 )
Walaupun mungkin terdengar mengejutkan bagi para pendengarnya (yaitu bangsa Israel), namun ayat ini dengan secara terang benderang menyebutkan apa dan siapa yang dimaksud oleh Yesaya dalam nyanyian perumpamaannya tersebut. Kekasihnya dan pemilik kebun anggur itu adalah TUHAN semesta alam; kebun anggur itu Israel, dan Yehuda adalah tanaman-tanaman kegemarannya.

Buah yang baik yang dicari Tuhan adalah keadilan (meluruskan yang salah; Ibr. mishpat) dan kebenaran (relasi yang benar; Ibr. tsedaqah), tetapi buah yang dihasilkan justru buah yang tidak baik, yaitu kelaliman atau penindasan (mengakibatkan kesalahan, Ibr. mispakh) dan keonaran atau kekerasan (hubungan yang salah, Ibr. Tse’aqah, lih. Yes. 60:21; 61:3). Yesaya dengan sengaja mengkontraskan ini dengan kuat, supaya umat TUHAN langsung membandingkannya. Diharapkan mishpat, Allah justru mendapatkan mispakh, dan mengharapkan tsedaqah, tetapi Dia menerima tse’aqah. Buah-buah keburukan ini dengan jelas dapat dibaca dalam Yesaya 1:23, bnd. 3:15

Itulah gambaran dari umat Israel pada zaman Yesaya ini, sungguh-sungguh mengecewakan TUHAN Allah. Walaupun nyanyian perumpamaan ini mengecewakan para pendengar awalnya yaitu bangsa Israel dan Yehuda, tetapi Yesaya justru hendak menegaskan betapa kecewanya Allah atas tindak-tanduk mereka yang tidak mencerminkan umat pilihan Allah, tidak menghasilkan buah-buah umat yang telah dipelihara oleh Allah dari generasi ke generasi.



[1]Bahan Khotbah Minggu, 05 Oktober 2014, di BNKP Jemaat Hebron Lölömoyo, oleh Pdt. Alokasih Gulö

Saturday, September 27, 2014

Mengakui Otoritas Kristus dengan Percaya dan Melakukan Kehendak-Nya (Matius 21:23-32)



Bahan Khotbah Minggu, 28 September 2014
(Pdt. Alokasih Gulo, M.Si)[1]

21:23  Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?”
21:24  Jawab Yesus kepada mereka: “Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.
21:25  Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: “Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya?
21:26  Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi.”
21:27  Lalu mereka menjawab Yesus: “Kami tidak tahu.” Dan Yesuspun berkata kepada mereka: “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”
21:28  “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.
21:29  Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.
21:30  Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.
21:31  Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.
21:32  Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

Bagaimana kita “menilai” tingkat kesalehan atau ke-iman-an seseorang? Apa ukurannya? Bagaimana kita mengetahui tingkat pertumbuhan iman seseorang? Apa saja tanda-tandanya? Tulisan “agama”-kah di KTP? Status sosialnya? Kesibukannya dalam kegiatan gereja? Kehebatannya dalam perdebatan Firman Tuhan? Gelar atau jabatankah? Atau apa? Untuk menjawab pertanyaan ini, baiklah kita bercermin dari satu kisah perdebatan Yesus dan satu perumpamaan-Nya sebagaimana kita baca tadi dalam teks khotbah hari ini.

Konteks dari cerita ini adalah bahwa imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi marah kepada Yesus karena tindakan kenabiannyadalam membersihkan Bait Allah (Mat. 21:12-13). Jadi mereka bertanya tentang otoritas. Sumber pertanyaan mereka adalah bahwa Yesusmenurut mereka tidak memiliki kewenangan resmi, dan itulah maksud dari pertanyaan mereka: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal ini?”

Pertanyaan mereka memiliki banyak kebencian. Seperti pertanyaan mereka kemudian tentang membayar pajak kepada kaisar (Mat. 22:15, dab), mereka mencoba menggiring Yesus dalam kesulitan. Perhatikanlah pertanyaan mereka yang sangat menjebak itu: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat. 22:16-17). Jika Yesus berkata, “Dari Allah,” itu artinya Ia akan bertanggung jawab untuk tuduhan penghujatan, dan jika Ia mengatakan, “Dari manusia,” Ia mungkin bersalah atas kejahatan atau, setidaknya, akan didiskreditkan di mata rakyat. Sungguh dilematis! Pertanyaan mereka merupakan respon terhadap tindakan Yesus di Bait Allah yang sangat kritis terhadap imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi yang mengelola kompleks bait suci. Tindakan Yesus jelas tindakan kenabian. Tindakan-Nya itu tidaklah melanggar hukum, tetapi dapat dianggapa sebagai serangan publik terhadap pemerintahan resmi.

Sehubungan dengan pertanyaan mereka akan otoritas Yesus dalam teks renungan kita pada hari ini, Yesus menjawab imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi tersebut dengan kembali mengajukan pertanyaan kepada mereka: “Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?” Mereka mati kutu! Mereka enggan menjawab pertanyaan ini karena orang banyak percaya bahwa otoritas Yohanes datang dari Allah, sementara mereka sendiri tidak mau mengakuinya (Mat. 21:25b-26). Implikasi dari pertanyaan Yesus ini sebenarnya adalah sebuah pemberitahuan tersirat bahwa otoritas Yesus itu berasal dari Allah (sama seperti Yohanes Pembaptis). Tetapi Yesus tidak ingin mengatakan hal itu secara langsung karena mereka akan dengan mudah mendakwa-Nya karena penghujatan Allah.

Cerita ini disusun dalam dua bagian, dengan komentarpenutup yang menghubungkan keduanya. Bagian pertama merupakan pembahasantentang “otoritas”, dan bagian kedua merupakan perumpamaan tentang dua anak. Masing-masing dari dua bagian terdiri dari empat episode, dan terakhir Yesus menyampaikan komentar kesimpulan.

Kisah ini dikelilingi dan didominasi oleh pertentangan-pertentangan Yesus dengan para pemimpin Yahudi. Perumpamaantentang dua anak memiliki hubunganyang erat dengan pertentangan atau konflik yang diungkapkan pada bagian sebelumnya. Jelasimplikasinya adalah bahwa imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi itu sama seperti anak kedua yangberpura-pura melakukan kehendak ayah tetapi kemudian tidak (dalam Alkitab TB dari LAI disebutkan sebagai anak pertama). Sebaliknya, para pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal (pelacur) ibarat anak pertama (dalam Alkitab TB dari LAI disebutkan sebagai anak kedua), yang mengatakanmereka tidak akan melakukan kehendakAllah dan mematuhi hukum tetapi kemudian mereka melakukannya,sebab mereka percaya.

Kisah dan perumpamaan ini mengajak kita semua, para pembaca dan atau pendengar, untuk memperhatikan imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi tersebut dengan segala implikasinya bagi mereka, sekaligus juga mempertimbangkan implikasinya bagi kita masing-masing saat ini. Untuk apa gelar yang kita miliki seperti imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi misalnya? Apakah kita katakan, “Ya, ya, tentu kami akan melakukan apa pun yang Tuhan inginkan,” dan kemudian tidak menindaklanjutinyadalam tindakan nyata? Ini adalah dilema orang benar. Hal inilah yang hendak disampaikan oleh perumpamaan inidengan cara yang sangat langsung. Dalam menceritakannya, penulis merasa penting untuk membuat pertentangan antara anak pertama dan anak kedua, dimana respon anak kedua adalah respon orang yang saleh, dan respon anak pertama adalah respon orang memberontak.

Kesalehan (ke-iman-an) seseorang tidak ditentukan oleh gelar, sebutan, predikat atau pun jabatan yang dimilikinya di berbagai bidang, termasuk di dalam gereja; juga tidak ditentukan oleh hebatnya dalam berdebat atau berdiskusi akan Firman Tuhan atau seberapa banyak ayat-ayat Alkitab yang dikuasainya; juga tidak ditentukan oleh seberapa banyak dia berdoa atau berkebaktian setiap hari, dlsbg. Cerita perdebatan Yesus dengan para imam kepala dan tua-tua Yahudi – yang didahului dengan tindakan penyucian bait Allah oleh Yesus – diteruskan dengan perumpamaan tentang dua orang anak, hendak memberikan kita gambaran bagaimana orang-orang di sepanjang zaman seringkali terjebak dalam pola hidup ber-iman yang sifatnya lahiriah, dan mengabaikan tindakan nyata dari kehidupan ber-imannya itu.

Banyak orang Kristen zaman sekarang yang secara lahiriah dapat disebut sebagai orang beriman atau orang yang percaya kepada Kristus, tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidak mencerminkan pola hidup ber-iman; bahkan tidak sedikit orang Kristen, termasuk para pemuka/tokoh, yang justru menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Suatu keanehan misalnya seorang ayah melarang anaknya merokok dengan alasan “tidak sehat atau tidak baik” sementara sang ayah sendiri adalah perokok, namun membela diri dengan mengatakan “orangtua tidak apa-apa”. Keanehan seperti ini pada satu sisi mencerminkan ketidakmampuan sang ayah memberikan teladan bagi anaknya, sekaligus memberikan pelajaran tersirat kepada sang anak bahwa “melakukan sesuatu yang tidak sehat atau tidak baik itu tidak apa-apa kalau sudah menjadi orangtua”. Tentu kita sudah bisa membayangkan seperti apa anak tersebut ketika dia menjadi dewasa atau orangtua kelak.

Suatu keanehan juga misalnya kalau para pengajar (pelayan, guru) menuntut siswanya untuk belajar keras sementara dirinya sendiri tidak pernah belajar menyiapkan materi pelajaran dengan lebih baik. Aneh juga kalau ada orang sangat kritis terhadap sesamanya, misalnya terhadap pelayan gereja, tetapi ketika dirinya sendiri menjadi pelayan, tingkah laku dan pelayanannya juga malah lebih buruk dari pendahulunya. Sedih rasanya melihat banyaknya orang Kristen yang mengaku percaya kepada Tuhan, terutama ketika ada masalah, tetapi kemudian akan berpaling pada kehendak hatinya sendiri setelah masalah terselesaikan.

Kembali pada pertanyaan awal tadi, bagaimana kita melihat kesalehan atau ke-iman-an seseorang? Ternyata, intinya adalah percaya kepada Yesus, bahwa Dia memiliki otoritas dari Allah, dan inti dari kepercayaan ini adalah melakukan kehendak Bapa yang di surga. Bertumbuh ke arah Kristus merupakan tema perayaan Misi dan Reformasi tahun ini di BNKP. Sangat menarik! Apakah kita sudah bertumbuh di dan ke arah Kristus? Mungkin ya mungkin juga tidak! Apa tanda pertumbuhan itu? Sederhana, percaya kepada Kristus sebagai “Oknum” yang memiliki Otoritas atas diri kita, dan melakukan kehendak Kristus yang ber-otoritas itu.


[1]Bahan Khotbah Minggu Perayaan Misi dan Reformasi BNKP Jemaat Hiliamaigila Resort 24, tanggal 28 September 2014, oleh Pdt. Alokasih Gulo.

Friday, September 19, 2014

No Lowalangi Sebua-Tödö ba Sahakhö-Tödö Yehowa (Yunus/Yona 3:10 – 4:11)



Bahan Khotbah Minggu, 21 September 2014

Oleh Pdt. Alokasih Gulo, M.Si




3:10
Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.
4:1
Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.
4:2
Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.
4:3
Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”
4:4        
Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?”
4:5
Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.
4:6
Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.
4:7
Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.
4:8
Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup."
4:9
Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”
4:10
Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.
4:11
Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

              

Tesura hikaya Yona andre ba ginötö so wangerangera sambö fagöna ba Ndraono Gizeraeli wanguma’ö “ha ya’ira ni’orifi Lowalangi, ha ya’ira nihakhösi tödö Yehowa, ba si tekiko manö niha/soi bö’ö”. Lualua dödö da’e khöra ya’ia wa ha fangorifira ni’angeragöra, ha fa’ohahau dödöra samösa, ba lö manö imasi ira na te’orifi ma na tefahowu’ö niha/soi bö’ö. Eluahania, Yona nidunödunönia ba daroma-li Lowalangi andre sindruhunia no amuata ma fa’auri Ndraono Gizeraeli ba ginötö da’ö. I’ombakha’ö hewisa ia wangerangera ba amuata Ndraono Gizeraeli ya’ia wa ibe’e khöda dumaduma Yona andre.

No aboto ba dödöda sa’ae hewisa ia hikaya Yona andre si no amaedola khalakhala wa’auri Ndraono Gizeraeli meföna. Ifatenge ia Lowalangi wamangelama banua Niniwe, ba hiza ibini’ö ia woloi tanö föna Lowalangi, numalö ia ba göfa edöna isawa Darisi. Hana wa lö omasi Yona andre wamangelama banua Niniwe? Börö me soi niha bö’ö mbanua Niniwe, ina mbanua Ndrawa Asiria (ibu kota negara Asyur). No i’ila Yona wa ifuli ihakhösi tödö dania mbanua Niniwe andrö Yehowa na lafalalini gera’erara na alua möi ia wamangelama ya’ira (fahela Yona 4:2). Fatuwu khö Yona na te’orifi mbanua Niniwe, lö fao dödönia na falukha ira wa’ahakhö dödö Yehowa, omasi ia na tekiko manö ira, omasi ia na falukha ita wa’abu dödö sabölöbölö. Andrö wa ilau moloi Yona tanö föna Lowalangi, lö omasi ia ifa’ema wamangelama Lowalangi ba mbanua Niniwe.

Ba hadia alua ni’era’era Yona andrö? Tatu lö’ö! Tanga Yehowa safönu fa’abölö zamaso ya’ia ena’ö ifuli möi ia ba mbanua Niniwe ba wamangelama ya’ira. Tebai ilawa Lowalangi Yona, ha sambalö i’o’ö manö niwa’ö Yehowa khönia, numalö ia ba mbanua Niniwe, ifa’ema khöra wehede Lowalangi wa tekiko ira na lö lafalalini gera’erara: “Ba ibörötaigö Yona itörö newali mbanua, ma’ökhö fofanö, mangombakha ia, imane: Hatö ofa wulu wongi, ba adudu Niniwe!” (Yona 3:4). Hadia zalua aefa da’ö? Iwa’ö ba zura Yona 3:5-9 “Ba faduhu dödö mbanua Niniwe khö Lowalangi, lawa’ö wamoni ba la’obaru mbaru ba wa’abu dödö, he satua ba he iraono ...

Me no lafalua wamoni ba famalalini era’era banua Niniwe, ba ifuli ihakhösi tödö ira Lowalangi (Yona 3:10). Da’e zindruhunia zi lö omasi Yona alua, ma si lö omasi Ndraono Gizeraeli alua ba mbanua bö’ö, lö omasi ira na ihakhösi tödö niha bö’ö Lowalangi, ena’ö ha ya’ira manö zorasoi fa’ohahau dödö, ena’ö ha ya’ira manö zanema fangorifi. Ba hadia fao dödö Lowalangi ba gera’era Yona ma era’era Ndraono Gizeraeli andrö? Tatu lö’ö! Da’ö ni’ombakha’önia khöda ba daroma-li Lowalangi ma’ökhö, ya’ia wa i’omasi’ö göi niha ma banua bö’ö Lowalangi, tenga ha Yona, tenga ha Iraono Gizeraeli. Ba lö manö si tola momba’agö tanga Yehowa na omasi Ia ihakhösi tödö dozi niha, me no Lowalangi sebua tödö ba sahakhö tödö Ia, Lowalangi si löaliolio mofönu ba si no fahöna fa’asökhi dödö (Yona 4:2b). Afökhö ma abu dödö Yona me ifuli ihakhösi tödö mbanua Niniwe andrö Yehowa. Da’e zasese tarongo ba khöda, so niha abu dödönia na ohahau dödö nawönia, ba omuso dödönia na abu dödö nawönia (sedih kalau melihat orang lain bahagia, dan senang melihat orang lain menderita).

Itohugö wangombakha ba mbörö huhuo andre wa tenga sinangea sindruhunia mofönu ma abao-dödö Yona me no ifuli i’orifi mbanua Niniwe andrö Lowalangi. Da’e ni’o’amaedolagönia ba Lafandru. Na Yona samösa ahakhö dödönia na aleu ma na mate Lafandru andre si tenga nitanönia (Yona 4:10), ba mendrua manö Yehowa ba mbanua Niniwe andrö, banua sebua, nangea ihakhösi tödö ira Lowalangi, nangea i’orifi ira Lowalangi me no lafalalini gera’erara (Yona 4:11). Eluahania, tebai manö muba’agö wa’ahakhö ba fa’ebua dödö Yehowa ba niha sedöna i’omasi’ö, tebai manö mutaha Yehowa na omasi Ia ifahowu’ö zi samösamösa niha ba zi sambusambua banua/orahua. Andrö, fangaila sebua göi na so niha ihalö ia börö womba’agö howuhowu ba nawönia, hulö Yona no mege.

Ba ginötö andre, oya manö lala niha ena’ö lö falukha wa’ohahau dödö nawönia, la’alui lala ena’ö ha ya’ira zifalukha fa’owuawua dödö; hulö me inötö so “bantuan” no me alua ndruru danö, so niha omasi ia na ha khönia manö numalö “bantuan” soya, ba hatö nikhete khö nawönia, ba na tola na’i ba lö manö mube’e sa’ae ba niha bö’ö.

Amuata simane da’e zoya alua irugi ma’ökhö, ha fa’aurinia ma ha sami khönia i’angeragö niha, i’alui lala ena’ö böi manö larasoi niha bö’ö wa’atedou ba zi sökhi (kemajuan). Ato göi niha Keriso irugi ma’ökhö, abu dödöra ma lö sökhisökhi bakha dödöra na ifahowu’ö niha bö’ö Lowalangi; manöinöi bakha dödöra na ihakhösi tödö niha bö’ö Lowalangi, aukhu bakha dödöra, irege oya manö sa’e ngawalö wehede ma famotoutou awöra lafalua, so na’ia zamobahulu awönia ba zi tenga amuatania.

Sedöna ihöndrögö wangombakha khöda ba daroma-li Lowalangi ma’ökhö, ya’ia wa no Lowalangi sebua tödö ba sahakhö tödö Yehowa. Andrö, ta’andrö saohagölö na i’omasi’ö ita So’aya, ba ta’omusoi’ö göi dödöda na so niha bö’ö ni’omasi’ö-Nia, lö moguna tahalö ita börö womba’agö howuhowu Zo’aya khöra.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...