Saturday, January 17, 2015

Menggunakan Kebebasan dan Tubuh untuk Kemuliaan Allah (1 Korintus 6:12-20)



Bahan Khotbah Minggu, 18 Januari 2015

Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

6:12   Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.
6:13   Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.
6:14   Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya.
6:15   Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!
6:16   Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: “Keduanya akan menjadi satu daging.”
6:17   Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.
6:18   Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.
6:19   Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
6:20   Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!


Teks ini membahas tentang suatu topik yang cukup kontroversial, yaitu percabulan dengan pelacur (6:16). Teguran Paulus terhadap kesalahan jemaat Korintus tidak hanya terletak pada tindakan percabulan itu sendiri, tetapi juga pada konsep teologis yang salah yang mendorong mereka melakukan hal itu. Mereka menganggap bahwa tindakan perzinahan itu bukanlah suatu hal yang mempengaruhi kerohanian. Anggapan seperti ini bersumber dari konsep mereka yang salah tentang kebebasan Kristiani dan tubuh (6:12; 13-13).

Sebelumnya Paulus telah mengecam mereka yang bercabul dengan isteri ayahnya dan bangga dengan percabulan itu (5:1-2); dalam teks kita pada hari ini juga Paulus lagi-lagi mengecam jemaat yang sama sekali tidak tahu malu akan kasus percabulan dengan pelacur itu. Boro-boro merasa malu, mereka bahkan mencari berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan yang salah itu. Abe’e hӧgӧ, dangifӧ, fekoro.

Menanggapi kasus ini, pertama-tama Paulus mengoreksi konsep teologis mereka yang salah tentang kebebasan Kristiani dan tubuh (6:12-14). Menurut Paulus, kebebasan di dalam Kristus tidak berarti kebebasan atau hak untuk melakukan segala sesuatu yang kita inginkan. Kebebasan Kristiani haruslah memperhatikan paling tidak dua hal, yaitu (1) Apakah orang lain mendapat keuntungan atau dibangun melalui tindakan kita (6:12a)? Atau (2) Apakah kebebasan itu justru memperbudak kita (ay. 12b)? Setiap orang harus memikirkan pertanyaan ini ketika hendak menggunakan kebebasannya sebagai orang Kristen, bukan semau gue.

Selanjutnya Paulus memberikan argumen yang mendukung pandangannya itu (6:15-20). Ada tiga argumen yang masing-masing dimulai dengan pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu” (bnd. 6:15, 16, 19). Di ayat 15 dia menegaskan bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus yang tidak boleh diserahkan kepada percabulan. Di ayat 16-18 dia mengajarkan bahwa orang percaya sudah diikatkan dengan Kristus dalam roh, sehingga mereka tidak boleh lagi mengikatkan diri dengan pelacur. Terakhir, di ayat 19-20 Paulus mengingatkan bahwa tubuh mereka adalah bait Roh Kudus, sehingga tidak boleh dicemarkan dengan dosa percabulan.

Esensi Kebebasan Kristiani (ay. 12)
Para ahli biblika memahami bahwa frase “segala sesuatu adalah halal bagiku” merupakan slogan jemaat Korintus, yang dikutip atau disebutkan oleh Paulus sebanyak 4 (empat) kali, yaitu di 6:12 dan 10:23. Kata “halal” dalam Alkitab TB LAI seharusnya diterjemahkan “diperbolehkan/diizinkan, legal”. Nah, soal tentang “boleh” atau “tidak boleh”, atau dengan kata lain “kebebasan” ini merupakan pokok penting bagi jemaat Korintus. Mengapa? Karena jemaat ini memang sudah lama terbiasa hidup dalam kebebasan tanpa memperhatikan orang lain, kebebasan “tanpa batas/aturan” (keras kepala dan rewel), dan kadang-kadang mereka menolak si-apa pun yang mengganggu kebebasan mereka itu (bnd. 7:35). Ketika Paulus memberitakan “kebebasan” di dalam Kristus (bnd. Rm. 6:14), banyak jemaat Korintus yang menyalahartikan dan menyalahgunakannya, salah satunya adalah dengan membenarkan percabulan dengan pelacur. Banyak di antara mereka yang tidak mau hidup menurut aturan hukum yang berlaku, bahkan tidak peduli lagi dengan nilai-nilai moralitas Kristen.

Karena itu, Paulus menegaskan bahwa kebebasan haruslah membawa kegunaan/keuntungan/manfaat (ay. 12a “tetapi bukan segala sesuatu berguna”). Dalam pasal 10:23-24 kata ini disejajarkan dengan “membangun” dan hal ini dikaitkan dengan kepentingan orang lain. Di pasal 12:7 kata ini muncul lagi dalam konteks kepentingan bersama. Artinya, Paulus di 6:12a tidak sedang membicarakan keuntungan yang akan diterima oleh orang per orang, tetapi kepentingan untuk seluruh jemaat, kepentingan bersama. Dengan kata-kata ini Paulus hendak mengatakan bahwa tindakan kebebasan tanpa batas yang dilakukan oleh jemaat justru akan mencoreng reputasi gereja (obou ba abӧu dӧi jemaat). Tindakan ini juga bisa berdampak buruk bagi jemaat yang lain seandainya mereka terpengaruh dan meniru tindakan ini, sama seperti ragi yang mencemari seluruh adonan (5:7-8). Banyak orang Kristen di Korintus dan di zaman kita sekarang yang ngotot dengan “ke-benar-an” yang dia anut, tetapi tidak peduli dengan kebutuhan/kepentingan orang lain, bahkan seringkali menjadi batu sandungan bagi orang percaya yang lain (8:8-9). Apalagi dalam kenyataan, kita sering kali menganggap benar apa yang sebenarnya salah, sama seperti yang dilakukan oleh jemaat Korintus.

Seterusnya Paulus memperingatkan jemaat agar berhati-hati dengan kebebasan, karena kebebasan seringkali justru menjadi perbudakan (ay. 12b “tetapi aku tidak mau diperhamba oleh suatu apa pun”). Kata “diperbudak” (LAI:TB) berarti “menguasai”, bnd. 7:4). Dengan kata lain, kita dapat memahami ayat 12b sebagai berikut: “segala sesuatu bagiku diperbolehkan (aku punya kuasa), tetapi aku tidak akan dikuasai oleh suatu apa pun”.

Nasihat Paulus ini merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Kita memang seringkali berpikir bahwa kita bebas berpikir dan bahkan bertindak, tetapi ketika kita tidak bisa mengontrol pikiran dan tindakan kita, maka sesungguhnya kita telah diperbudaknya, dan keinginan kita itu justru telah merampas kebebasan kita. Jadi, kebebasan Kristiani adalah kebebasan untuk membangun kehidupan dan kepentingan bersama.


Tubuh untuk Si-Apa? (ay. 13-14)
Di ayat 13-14 Paulus mengoreksi kesalahpahaman lain yang dipegang oleh jemaat Korintus, yaitu tentang tubuh. Mereka mengatakan bahwa “perut adalah untuk makan dan makan untuk perut, sedangkan dua-duanya akan dibinasakan oleh Allah” (ay. 13a). Maksudnya, jika semua hal yang berkaitan dengan materi (tubuh kita) akan dibinasakan, maka semua hal itu tidak terlalu penting. Semua itu tidak berpengaruh terhadap kerohanian kita maupun terhadap kekekalan. Implikasinya adalah bahwa keinginan terhadap seks dan tubuh juga dianggap tidak penting, sama seperti keinginan terhadap makanan dan perut yang tidak penting, maka berkembanglah ke arah tindakan yang buruk.

Makanan dan perut memang berkaitan dengan kebutuhan biologis, demikian juga dengan “seks”. Tetapi bukan berarti bahwa makanan, perut, seks (kebutuhan biologis) tidak penting sama sekali. Di sini Paulus meluruskan pola pikir yang salah ini.

Pertama,tubuh adalah untuk Tuhan (ay. 13b). Tubuh bukan hanya untuk sesuatu yang sifatnya sementara (tidak kekal), misalnya makanan dan seks, tetapi untuk sesuatu yang memang kekal, yaitu untuk Tuhan. Implikasinya ialah bahwa kita tidak boleh membiarkan dosa menguasai tubuh kita, justru kita harus menggunakan tubuh ini untuk melayani Allah (Rm. 6:12-13). Benar bahwa tubuh kita ini akan "dibinasakan" oleh Allah, tetapi hal itu tidak berarti kita boleh menggunakan tubuh ini untuk hal-hal yang membawa kebinasaan bagi kita. Atulӧ wa obou dania mboto tanӧ andre, ba hiza bӧi ta'oguna'ӧ ba zobou ba ba zabӧu.

Kedua,Tuhan adalah untuk tubuh (ay. 13c-14). Apa maksud dari ungkapan ini? Berdasarkan konteks yang ada, maka ungkapan ini pasti berhubungan dengan kebangkitan (ay. 14) dan penebusan (ay. 20). Kristus bukan hanya menebus roh atau jiwa kita, tetapi Dia juga menebus tubuh kita. Bahkan kebangkitan Kristus juga menjadi jaminan bahwa tubuh kita pun akan dibangkitkan di akhir zaman (15:20-23; bnd. Rm. 8:11; Kol. 1:18). Allah yang membangkitkan Tuhan Yesus juga akan membangkitkan tubuh kita kelak (6:14). Poin tentang kebangkitan tubuh ini selanjutnya akan dibahas Paulus secara panjang lebar (15:51-54) ketika dia menegur sebagian jemaat yang tidak mempercayai kebangkitan orang mati (15:12).

Jikalau Allah dan Kristus sangat menghargai tubuh kita – yang dibuktikan dengan penebusan dan jaminan kebangkitan – maka kita pun seharusnya menghormati tubuh kita. Moroi khӧda zumangeda. Kita harus menjaganya dari semua dosa, terutama dari dosa-dosa yang langsung bersentuhan dengan tubuh kita, misalnya percabulan dengan pelacur (bnd. 6:18 “orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri”). Orang Kristen yang masih terjebak pada percabulan adalah orang-orang yang tidak menghargai tubuhnya padahal Tuhan sendiri menghargainya. Tuhan sudah melakukan segala sesuatu untuk tubuh kita (6:13c), bahkan sampai membelinya dan harganya telah lunas dibayar; saya kira kita sepantasnya juga memberikan tubuh kita untuk Dia, untuk memuliakan Allah kita itu (6:13b).





[1] Bahan Khotbah Minggu, 18 Januari 2015, Jemaat BNKP Hebron Lӧlӧmoyo, Pdt. Alokasih Gulӧ

Saturday, December 27, 2014

Mataku telah Melihat Keselamatan dari Allah (Lukas 2:25-32)



Pokok-pokok pikiran dan renungan tema Natal BNKP tahun 2014

oleh Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

Saudara/saudari, nas renungan kita pada malam hari ini, yang dikutip oleh BNKP sebagai Tema Perayaan Natal Tahun 2014, harus dibaca paling tidak dari ayat 25 sampai ayat 32, bahkan tidak terpisahkan dari peristiwa sebelumnya dari ayat 21 hingga ayat 35 tentang nubuatan Simeon. Tidak ada informasi yang memadai tentang sosok “Simeon” yang tampil dalam teks ini. Memang ada asumsi yang mengatakan bahwa dia mungkin anak Rabi Hillel dan ayah Gamaliel; dugaan lain adalah bahwa kemungkinan dia adalah Ketua Sanhedrin; tetapi kebenaran dari dugaan-dugaan ini masih sangat diragukan. Tradisi dan catatan kuno yang diterima secara umum menyebutkan bahwa dia sudah tua, seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel (lih. Luk. 2:25). Dia adalah seorang yang melakukan yang baik di mata Tuhan dan manusia, sangat memperhatikan hal-hal keagamaan, dan sedang “ber-semangat” menantikan janji keselamatan bagi Israel dari Tuhan sejak zaman PL. Baiklah, kita tidak akan menghabiskan waktu membahas siapakah Simeon ini, lebih baik kita fokus pada apa yang dia lakukan, secara khusus pada apa yang dia katakan di ayat 30, yaitu bahwa dia sudah melihat keselamatan dari Tuhan.

Kata-kata Simeon dalam teks ini merupakan “responnya atas perjumpaannya dengan bayi Yesus”, yang pada waktu itu sudah genap waktunya “layak” dibawa ke bait Allah di Yerusalem dalam rangka “Pentahiran/Pemurnian” sebagaimana diatur dalam hukum taurat Yahudi. Tradisinya adalah bahwa sang ibu datang ke tempat ibadat dan membawa persembahan: (1) Anak domba umur satu tahun sebagai korban bakaran dan seekor anak burung merpati atau tekukur untuk korban penghapus dosa (lih. Im. 12:6); dan (2) Apabila ybs miskin, maka cukup sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati (lih. Im. 12:8). Persembahan dengan kategori yang terakhir inilah yang dibawa oleh orangtua Yesus ketika mereka membawa-Nya ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan (Luk. 2:22-24).

Simeon menyambut bayi Yesus, dan dengarkanlah baik-baik perkataannya yang luar biasa: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, SEBAB MATAKU TELAH MELIHAT KESELAMATAN YANG DARI PADA-MU, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Luk. 2:29-32). Kata-kata penyambutan bayi Yesus ini dari Simeon penuh makna nubuatan sejak zaman PL hingga nubuatan masa kini dan masa depan. Orangtua bayi Yesus pun ke-heran-an mendengar kata-kata Simeon tersebut (lih. ay. 33).

“Pergi dalam damai sejahtera” merupakan idiom PL tentang kematian fisik setelah sekian lama menikmati kehidupan yang berbahagia (lih. Kej. 15:15; Yer. 34:5). Dengan demikian, kematian bukanlah musuh bagi orang-orang yang “sudah mengenal” Allah, yang “sudah berjumpa” dengan Allah. Penekanan pada “melihat keselamatan dari Allah” juga berasal dari nubuatan PL (lih. Yes. 52:10). Istilah “keselamatan” pada pasal-pasal awal injil Lukas memiliki dua konotasi:
1)   Dalam konteks kutipan PL, mengacu pada pembebasan bangsa Israel secara fisik dari ancaman dan penjajahan bangsa-bangsa lain;
2)   Dalam terang Injil, beberapa ahli biblika mengatakan bahwa istilah ini mengacu pada keselamatan “spiritual”, keselamatan yang tidak sekadar “fisik”, tetapi keselamatan holistik, melampau batas waktu dan bangsa-bangsa, dan hal itu diperoleh melalui iman di dalam Yesus.

Simeon tentu tidak serta merta melepaskan dirinya dari konteks PL, namun penulis injil Lukas hendak mengajak pembacanya untuk melihat keselamatan itu dalam konteks yang lebih luas, dan itulah yang diperlihatkan oleh, melalui dan kepada Simeon dalam teks renungan kita pada hari ini. Simeon akhirnya merasakan “damai sejahtera” setelah sekian lama hidup dalam penantian akan datangnya “keselamatan” dari Allah bagi umat-Nya, keselamatan yang telah disiapkan-Nya sejak dahulu kala. Penantian Simeon ini merupakan representasi dari penantian bangsa Israel akan datannya Sang Pembebas dan Penyelamat mereka dari ancaman dan kekuasaan bangsa-bangsa lain. Sayan sekali, kebanyakan orang Israel sulit menerima Yesus pada waktu itu, dan tidak mampu melihat bahwa kelahiran Yesus adalah babak baru datangnya keselamatan bagi mereka dan bangsa-bangsa di dunia.



Melihat keselamatan yang dari Allah adalah sebuah anugerah yang tidak dapat diperjualbelikan. Melihat keselamatan dimaksud berarti telah berjumpa dengan sumber keselamatan, telah mengalami keselamatan itu, dan telah merasakan sukacita serta damai sejahtera keselamatan yang dari Tuhan. Melihat keselamatan berarti Kristus tidak hanya lahir dan ada, tetapi benar-benar NYATA, nyata dalam keluarga, nyata dalam gereja, dan nyata dalam masyarakat. Banyak orang mencari “keselamatan” hidupnya, tetapi banyak di antara mereka yang tidak mendapatkannya, malah ada yang justru terjerumus dalam “kegelapan” karena pencarian “keselamatan” duniawinya. Lalu, bagaimana dengan pemuda gereja?

Di beberapa tempat, masih banyak pemuda yang belum mampu melihat keselamatan yang dari Allah, dan dengan sendirinya tidak mampu menjadi saluran keselamatan di sekitarnya. Memang banyak pemuda kita yang memiliki potensi yang sangat menggembirakan, tetapi tidak sedikit juga bermunculan generasi muda yang cukup memprihatinkan, antara lain:
·      “EGP Generation”, kehilangan solidaritas sosial bahkan “mati rasa” terhadap perasaan, kebutuhan, dan penderitaan orang lain;
·      “Masbuloh/Ngambek Generation”, yaitu mereka yang tidak mau ditegur/dinasihati;
·      “Generation of Mobile Digital” yang tidak mau terikat dengan norma dan nilai-nilai moralitas;
·      “Glamour Generation” (bukan lagi kesederhanaan), tampil gaya hidup mewah; Akibat langsungnya adalah berkembang dan menjalarnya ungkapan, “ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang”. Semua-semuanya diukur dengan uang. Nilai hasil studi pun sering “diperjualbelikan” baik dengan uang maupun dengan “balas jasa” yang lain!
·      “Instant Generation” (cenderung mengabaikan proses); dan
·      Kelompok orang tua pun tidak mau ketinggalan kereta sehingga banyak yang terjebak dalam “Gaul Generation” dengan segala bentuk dan penampakkannya.

Malam hari ini, pertama-tama kita diyakinkan bahwa keselamatan yang dari Allah telah datang ke dalam dunia, telah hadir dan nyata di tengah-tengah kita, dan itulah makna perayaan Natal. Namun, hal berikutnya yang harus kita renungkan adalah apakah kita memang sudah melihat, mengalami, dan merasakan keselamatan itu? Lalu, keselamatan seperti apa yang kita lihat itu? Atau, jangan-jangan kita masih dalam proses pencarian, dan malah sedang melihat keselamatan dalam wujud yang lain! 

Saudara-saudari, banyak orang Kristen yang menanggapi soal "keselamatan" ini lebih ke hal-hal akhir zaman ketika Yesus kembali, atau bagi beberapa orang "keselamatan" itu hanya akan dipikirkan ketika menjelang "mati". Itulah sebabnya banyak orang Kristen yang hanya sekadar percaya bahwa di dalam Yesus ada keselamatan, namun sulit menyatakan/menunjukkan keselamatan dimaksud dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, perlu ada perubahan paradigma tentang keselamatan ini; tidak hanya bicara akhir zaman atau akhir hidup, tetapi realitas hidup sehari-hari. Dengan demikian, ada banyak cara atau pun bentuk "keselamatan" yang dapat kita wujud-nyatakan dalam kehidupan ini, mulai dari dalam keluarga, dalam gereja, dalam pelayanan/pekerjaan, dalam masyarakat, dan dalam seluruh aspek kehidupan kita. 


Selamat mempersiapkan renungan Natal
Tuhan memberkati.



[1] Dipersiapkan sebagai Bahan khotbah Natal Komisi Pemuda BNKP Jemaat Immanuel, Minggu, 28 Desember 2014, oleh Pdt. Alokasih Gulö

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...