Sunday, August 17, 2014

Kuatkanlah Imanmu, Tenanglah, sebab Yesus Menolong! (Matius 14:22-33)



Bahan Khotbah Minggu, 10 Agustus 2014
Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

14:22  Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
14:23  Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.
14:24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.
14:25  Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.
14:26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.
14:27  Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
14:28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”
14:29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
14:30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”
14:31  Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?
14:32  Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.
14:33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Banyak orang yang terkagum-kagum akan cerita dalam teks ini, secara khusus ketika Yesus berjalan di atas air serta tenangnya badai setelah Yesus naik ke perahu. Bagi banyak orang yang terkagum-kagum itu, cerita ini menunjukkan kalau “mukjizat itu nyata”. Itulah sebabnya juga ada banyak kegiatan atau acara gerejawi zaman sekarang sering diiklankan dengan janji-janji adanya mukjizat, terutama yang ada kaitannya dengan apa yang mereka sebut sebagai “penyembuhan ilahi”. Orang Kristen juga, terutama para pelayan gereja, seringkali ditantang untuk memiliki karunia menyembuhkan penyakit, sebab menurut mereka hal itu menjadi tanda bahwa dia memiliki Roh Kudus, tanda bahwa dia adalah orang yang beriman.

Pertanyaan kita ialah apakah ciri-ciri orang yang memiliki iman atau kepercayaan yang kuat? Mampu menyembuhkan penyakit? Mampu mengusir setan? Mampu menyembuhkan mereka yang kerasukan atau kesurupan? Sering ke gereja? Selalu berdoa? Selalu memuji Tuhan “Haleluya?” Selalu merangkai ayat-ayat Firman Tuhan ketika berbicara? Selalu berdoa panjang-panjang bahkan sampai menangis-nangis? Mampu mendesak Allah untuk melakukan apa yang dia inginkan seperti beberpa hari terakhir dilakukan oleh orang-orang tertentu? Atau apa?

Sdra/i, nampaknya kita tidak bisa menilai iman seseorang, bahkan iman kita sendiri secara sederhana, apalagi kalau hanya berfokus pada hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang kelihatan atau kedengaran “wah”. Teks renungan kita pada hari ini juga sebenarnya tidak berfokus pada “mukjizat” ketika Yesus berjalan di atas air dan kemudian badai menjadi tenang ketika Ia sudah naik ke perahu itu. Berjalan di atas air dan menenangkan badai bukanlah hal yang terlalu istimewa bagi Yesus, sebab Dia memang mempunyai kuasa untuk itu.[2]Namun, bagi kita hal itu merupakan suatu hal yang sangat luar biasa karena kita memang tidak memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang seperti itu. Artinya, penulis Injil Matius tidak sedang mengajak, mendorong, dan atau mendesak kita untuk memiliki kuasa seperti yang dimiliki oleh Yesus tadi. Pesan utama dari teks ini justru terletak pada ayat 31 dan 33, dimana “kisah yang sama” di Injil Lukas dan Yohanes tidak memberi perhatian ke situ.

1.       Walaupun sebelumnya para murid sudah melihat bagaimana Yesus memberi makan lima ribu orang (ay. 13-21), namun hal itu belum menguatkan iman mereka kepada Yesus. Perhatikanlah perkataan Yesus kepada Petrus di ayat 31: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”Pembaca Injil Matius adalah orang-orang Yahudi, dan Petrus juga adalah orang Yahudi, yang notabenenya memiliki iman yang kuat. Tetapi, penulis Matius justru melihat ada masalah dalam diri pembaca Yahudi ini, iman mereka ternyata sangat lemah, sangat labil, dan tidak dapat diandalkan ketika ada tantangan, ancaman, atau badai kehidupan. Ini adalah kritikan bagi orang-orang percaya di sepanjang zaman. Ada banyak orang yang secara lahiriah termasuk orang Kristen, keturunan orang Kristen, aktif dalam berbagai kegiatan gereja, penampilan sangat meyakinkan, tetapi di dalamnya masih sangat rapuh, dan hal itu jelas terlihat ketika ada masalah, ketika ada tantangan dan ancaman, dan ketika ada badai kehidupan dari segala arah. Tidak sedikit orang yang sebenarnya sudah hampir menunjukkan kemajuan yang positif dalam kehidupan beriman, tetapi badai di sekelilingnya seringkali menggoyahkan imannya sehingga pada akhirnya terbukti bahwa imannya itu masih sangat lemah.
2.       Setelah mereka menyaksikan kuasa yang dimiliki oleh Yesus, pada akhirnya mereka menyatakan pengakuan yang luar biasa di ayat 33: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah”. Bagi penulis Injil Matius, hal ini sangat penting, terutama bagi para pembacanya yang nampaknya masih ragu-ragu mengamini Yesus sebagai Anak Allah. Tentu keragu-raguan mereka ini tidak terlepas dari latar belakang iman Yahudi mereka apalagi di tengah-tengah badai kehidupan yang melanda mereka.Namun, hal ini justru memberikan dorongan yang kuat bagi penulis Injil Matius untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah, Dialah yang mampu menolong orang-orang yang percaya kepada-Nya untuk melewati gelombang atau badai yang datang silih berganti. Pengalaman dan keahlian para murid selama ini dalam berlayar tidak membuat badai tenang, dan tidak menjamin keselamatan mereka. Status mereka sebagai orang-orang Yahudi bahkan orang-orang Kristen pun tidak menjamin bahwa badai akan jauh dari hadapan mereka. Status sebagai murid Yesus pun, apalagi seorang Petrus, tidak serta merta memberikan jaminan bahwa iman mereka pasti besar/kuat, masalah pasti tidak ada, dan lain sebagainya. Yang terjadi adalah bahwa karena Yesus mereka mampu melewati masa-masa kritis itu, dan pengalaman berharga bersama Yesus itu menuntun mereka pada pengakuan yang luar biasa bahwa Yesus adalah Anak Allah, Yesus memiliki kuasa di atas segala penguasa yang ada.

Sdra/i yang dikasihi Tuhan,
Suka atau pun tidak suka, siap atau pun tidak siap, kita harus menghadapi berbagai tantangan, ancaman, dan badai kehidupan. Kalau ada jalan pintas untuk menghindar dari badai itu tentu saudara-saudari bahkan saya sendiri pun akan memutar haluan ke jalan pintas itu. Sayang sekali, jalan untuk menghindar tidak ada. Karenanya, sekali lagi kita harus menghadapinya dengan penuh keberanian dan keyakinan bahwa badai pasti berlalu.

Jangan Takut! Itulah perkataan Yesus kepada para murid yang ketakutan karena perahu mereka terombang-ambing badai (Mat 14:27). Ketakutan membuat seseorang tidak dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas, dan bahkan dapat mengaburkan iman. Namun, pandangan yang terus-menerus kepada Yesus dapat menguatkan iman, serta dapat memberikan pengharapan yang pasti kepada kita. Iman yang teguh membuat kita dapat melangkah dengan pasti dan pengharapan di dalam Yesus membuat kita terus bertahan untuk mencapai tujuan akhir. Oleh karena itu, mari kita menghadapi tantangan dan badai kehidupan dengan memusatkan pandangan kita kepada Yesus, yang terus-menerus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”





[1]Khotbah Minggu, 10 Agustus 2014 di BNKP Jemaat Moi Resort 23.
[2]Sama misalnya seorang anak SMP sudah mulai mampu berbahasa Inggris, itu bukan hal yang terlalu istimewa di zaman sekarang, sebab mereka memang sudah sewajarnya belajar dan tahu bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa Inggris akan menjadi sesuatu yang istimewa kalau hal itu dilakukan oleh seorang anak yang masih anak PAUD dan belum pernah diajarkan bahasa Inggris.

No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...