Monday, June 15, 2015

TUHAN (mampu) Menghadirkan Kehidupan dalam Kehancuran (Yehezkiel 17:22-24)



Bahan Khotbah Minggu, 14 Juni 2015
Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

17:22  Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan mengambil sebuah carang dari puncak pohon aras yang tinggi dan menanamnya; Aku mematahkannya dari pucuk yang paling ujung dan yang masih muda dan Aku sendiri akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas;
17:23  di atas gunung Israel yang tinggi akan Kutanam dia, agar ia bercabang-cabang dan berbuah dan menjadi pohon aras yang hebat; segala macam burung dan yang berbulu bersayap tinggal di bawahnya, mereka bernaung di bawah cabang-cabangnya.
17:24  Maka segala pohon di ladang akan mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.”

Teks renungan kita pada hari ini (seolah-olah) membandingkan dua kekuasaan yang bertolak belakang, yaitu (1) kekuasaan raja Babel yang telah membuat bangsa Israel takluk terhadapnya; dan (2) kekuasaan TUHAN Allah yang oleh-Nya bangsa Israel diselamatkan. Dalam pasal 17 ini diumpamakan bahwa keduanya melakukan tindakan yang kurang lebih sama, yaitu mengambil pucuk pohon aras dan menanamnya dengan harapan pucuk itu dapat tumbuh, bercabang dan berbuah. Tindakan raja Babel sehubungan dengan pucuk yang diambil dan ditanam ini diberitakan pada pasal 17:3-5, dan tindakan yang sama yang dilakukan TUHAN Allah diungkapkan pada teks renungan kita pada hari ini (17:22-23). Namun, inti dari teks renungan kita pada hari ini, sekaligus inti dari seluruh pasal 17 ini sesungguhnya adalah bahwa “Ketidaksetiaan Manusia Mendatangkan Kematian bagi Dirinya sendiri, tetapi TUHAN (mampu) Menghadirkan Kehidupan dalam Kehancuran.”

(1)  Buah dari Ketidaksetiaan Manusia
Di ayat 6 disebutkan bahwa pucuk yang telah diambil, dibawa dan ditanam oleh raja Babel itu kemudian tumbuh dan menjadi pohon anggur yang rimbun yang tentunya tunduk kepada raja Babel itu sendiri, ... ia tumbuh dan menjadi pohon anggur yang rimbun, yang tumbuhnya rendah dan cabang-cabangnya melengkung menuju burung itu dan akar-akarnya tetap di bawahnya. Demikianlah ia menjadi pohon anggur dan mengeluarkan tunas-tunas dan memancarkan taruk-taruk”.  Arti dari perumpamaan ini diungkapkan di ayat 12-14, yaitu tentang bagaimana raja Babel pada masa kejayaannya menaklukkan Yerusalem, lalu mengambil dan membawa raja dan para pemuka bangsa Yahudi ke Babel, menjadikan mereka raja di bawah kekuasaannya. Tetapi kemudian raja dan para pemuka Yahudi itu hendak mencari perlindungan dari penguasa lain, yaitu Mesir (ay. 15). Mereka adalah komplotan orang-orang yang tidak setia yang hendak meminta bantuan dari Mesir untuk melawan atau memberontak terhadap raja Babel itu. Sayang sekali, pemberontakan mereka itu dengan mudah dipatahkan oleh raja Babel, dan raja Mesir sendiri tidak berkenan menolong mereka. Lihatlah, betapa ketidaksetiaan mereka itu justru mendatangkan kematian bagi mereka sendiri, mendatangkan aib dan kehancuran bagi mereka (ay. 16-21). Itulah buah dari pemberontakan manusia, buah dari ketidaksetiaan manusia atas janji dan sumpah yang telah diucapkan, baik di hadapan manusia, terlebih-lebih di hadapan TUHAN Allah.

(2)  TUHAN (mampu) Menghadirkan Kehidupan dalam Kehancuran
Seperti yang dilakukan raja Babel sebelumnya, setelah ternyata tindakan penguasa Babel itu ditanggapi dengan ketidaksetiaan oleh raja dan para pemuka bangsa Yahudi, yang pada akhirnya berbuahkan kematian bagi mereka sendiri, maka di ayat 22-23 disebutkan bahwa TUHAN Allah sendiri datang mengambil carang dari pohon aras yang tinggi, menanamnya di tanah Israel sendiri, bukan di negeri Babel seperti sebelumnya. Kemudian, carang itu tumbuh, bercabang-cabang, berbuah, dan menjadi pohon aras yang hebat; hasilnya pun sangat mengagumkan, dimana “segala macam burung dan yang berbulu bersayap tinggal di bawahnya, mereka bernaung di bawah cabang-cabangnya” (ay. 23). Ini adalah sebuah perumpamaan yang menggambarkan betapa Allah sendiri bertindak menyelamatkan umat-Nya, sepertinya mirip dengan cara yang dilakukan oleh raja Babel sebelumnya, tetapi sesungguhnya berbeda. Raja Babel melakukan tindakannya itu untuk memperbudak bangsa Israel dan menjadikan raja dan para pemuka bangsa mereka itu sebagai para pemimpin bonekanya, sedangkan Tuhan datang untuk mendatangkan keselamatan dan sukacita. Tindakan raja Babel pada akhirnya mendatangkan kehancuran bagi bangsa Israel karena ketidaksetiaan mereka sendiri, sedangkan tindakan TUHAN Allah mendatangkan kehidupan bahkan dalam kehancuran itu. Demikianlah kiranya kasih setia TUHAN, selalu mampu mendatangkan keselamatan di tengah-tengah malapetaka, dan menghadirkan kehidupan dalam kehancuran akibat ketidaksetiaan manusia terhadap-Nya. Pada akhirnya, tindakan TUHAN ini sekaligus membungkam mereka yang selama ini menganggap diri lebih tinggi (pohon yang tinggi) dan orang lain lebih rendah (pohon yang rendah), ay. 24.

Sdra/i yang tekasih, kita banyak menyaksikan betapa ketidaksetiaan manusia terhadap TUHAN justru telah mendatangkan kematian atau kehancuran dalam kehidupan kita. Pemberontakan manusia terhadap Allah dalam berbagai bentuk justru mendatangkan malapetaka dan aib bagi manusia itu sendiri, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengatasinya. Lihatlah betapa manusia sering berpaling dari Tuhan dan menghadap ilah-ilah lain; lihatlah betapa banyaknya orang Kristen yang mengaku percaya pada Tuhan dengan bibir dan mulutnya, tetapi hati dan perilakunya sangat jauh dari Tuhan, ilau nilau dödönia zamösana, tebai niwa’ö, tebai nitegu, oi ya’ia manö nifaluania, ba ato göi niha sifayawa ba zi lö atulö nifaluania, ganuno ba zi lö sökhi.Lihatlah betapa manusia zaman sekarang lebih takut kepada penguasa dunia (“raja-raja lokal”) walaupun salah, daripada takut pada TUHAN yang adalah jalan kebenaran dan hidup. Banyak orang Kristen yang memberontak kepada TUHAN walaupun sepertinya mereka rajin beribadah bahkan memberikan persembahan kepada Tuhan. Bagaimana mungkin ya??!! Sederhana saja, mereka tampil seperti anak-anak Tuhan ketika berada di dalam gereja, atau ketika sedang beribadah, tetapi akan tampil sebagai “monster” yang menakutkan bagi sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Lihatlah misalnya betapa semakin banyak orang Kristen yang sudah tidak setia lagi pada janji pernikahannya di hadapan Tuhan dulu, sekarang sudah memiliki pria/wanita idaman lain di berbagai tempat. Lihatlah betapa semakin banyak orang Kristen yang sepertinya sungguh-sungguh memuji dan melayani Tuhan, tetapi menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari, menjadi sumber konflik dan masalah di tengah-tengah masyarakat. Lihatlah juga, betapa semakin banyaknya orang Kristen yang telah jatuh ke dalam kubangan dosa, jatuh ke dalam kehancuran kehidupan; banyak orang Kristen yang karena berbagai kesulitan atau kegalauan hidup, melarikan diri dalam alkoholisme, mabuk-mabukkan, judi, foya-foya ..., dan tragisnya banyak orang yang tidak menyadari situasi kehancuran itu.

Sdra/i, di sisi lain, dalam kasih setia-Nya, TUHAN berkenan hadir dalam kehidupan kita yang mungkin saja sedang porak-poranda; Tuhan berkenan hadir dalam kehidupan orang-orang yang mungkin saja sedang mengalami kekacauan dan kehancuran ... dan kehadiran Tuhan itu mendatangkan keselamatan, mendatangkan kehidupan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Karena itu, pemazmur menasihati kita: “Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya kepada para bangsawan” (Mzm. 118:9).



[1] Bahan Khotbah Minggu, 14 Juni 2015, di BNKP Jemaat Soliga, oleh Pdt. Alokasih Gulö, M.Si

Saturday, May 30, 2015

Proyeksi (Projection)

Saya teringat dengan diskusi-diskusi di kelas pastoral dulu, terutama ketika membahas teori-teori Sigmund Freud. Kebetulan saya membaca kembali bukunya "On the Defense Neuropsychoses". Ada bagian yang menarik dalam tulisannya itu, yaitu tentang "projection". Dalam bukunya tersebut Freud mengelaborasi konsep proyeksi (projection) sebagai suatu proses pemetaan (pelampiasan ke luar) dorongan-dorongan, perasaan-perasaan dan sentimen-sentimen seseorang kepada orang lain atau ke dunia luar, sebagai proses yang bersifat defensif, dimana orang yang bersangkutan tidak menyadari munculnya gejala yang di luar kehendaknya (undesireable phenomena).

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Kartini Kartono menyebutkan bahwa proyeksi merupakan suatu usaha mensifatkan, melemparkan (memproyeksikan) sifat, pikiran dan harapan yang negatif, juga kelemahan dan sikap sendiri yang keliru kepada orang lain. Proyeksi ini merupakan bagian dari usaha mempertahankan diri (self-defense mechanism) dengan cara mengalihkan atau memindahkan penyebab kegagalan atau tidak tercapainya suatu keinginan kepada luar dirinya bisa berupa orang lain, benda, situasi bahkan hal-hal yang bersifat supranatural.

Saturday, May 23, 2015

Roh Kudus Menghasilkan Pertobatan yang Sesungguhnya (Kis. 2:22-38 -- Kis. 2:14-41)



Bahan Khotbah Minggu, 24 Mei 2015
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

2:22  Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.
2:23  Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.
2:24 Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.
2:25 Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
2:26 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram,
2:27 sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
2:28 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.
2:29 Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini.
2:30 Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya.
2:31 Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan.
2:32 Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.
2:33 Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.
2:34  Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku:
2:35  Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.
2:36  Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."
2:37  Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?"
2:38  Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

Selamat hari raya Pentakosta,
Kisah ini merupakan kelanjutan dari peristiwa sebelumnya yang sangat menghebohkan Yerusalem, yaitu peristiwa turunnya Roh Kudus atas orang-orang percaya yang berkumpul di situ (Kis. 2:14). Seterusnya adalah reaksi orang banyak atas kejadian yang baru saja terjadi itu, ketika orang-orang percaya mampu berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain. Pada ayat 6-13 kita dapat membaca banyaknya orang yang bingung (tobali dödöra, ay. 6), tercengang-cengang dan heran (tobali dödöra ba ahölihöli dödöra, ay. 7), dan sangat termanu-manu (tobali dödöra lö la’ila watahögö, ay. 12), dan akhirnya beberapa orang menyindir dengan mengatakan: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis” (ay. 13). Pada awalnya tidak ada yang tahu persis apa yang sedang terjadi itu, walaupun ada sebagian yang sudah menyindir atau mengejek. Itulah sebabnya Petrus mewakili semua orang percaya itu untuk menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi, dan bagaimana mungkin mereka mampu berkata-kata dengan bahasa-bahasa lain tersebut.

Dengan singkat dan tegas Petrus membantah semua asumsi para penyindir atau pengejek tersebut. Saat itu, demikian ditegaskan oleh Petrus, hari barulah pukul 9. Ini penting! Mengapa? Karena pukul 9 itu merupakan waktu untuk kurban pagi menurut tradisi agama/adat Yahudi. Ada peraturan di sini, yaitu bahwa sebelum waktu pemberian kurban ini orang tidak boleh makan atau pun minum. Dengan demikian, Petrus hendak menegaskan bahwa orang-orang percaya yang pada waktu itu masih didominasi oleh keturunan Yahudi, tidak mungkin sudah minum anggur manis yang membuat mereka mabuk seperti tuduhan beberapa orang. Mungkinkah sekumpulan besar orang-orang Yahudi melanggar begitu saja adat mereka? Jika hanya satu orang mungkin saja pelanggaran itu terjadi, tetapi sekali lagi jumlah mereka sangat banyak! Artinya tidak mungkin orang-orang percaya yang banyak itu melanggar hukum agama/adat Yahudi di pagi hari tersebut. Dengan demikian, mereka bukanlah mabuk anggur manis, dan itulah yang ditegaskan oleh Petrus di ayat 15 tadi: “Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka …”.

Kalau begitu, apa yang terjadi dengan orang-orang percaya tersebut? Bagaimana mungkin mereka mampu berkata-kata dalam berbagai bahasa dalam waktu yang sangat singkat itu? Bukankah kemarin mereka ini tidak ada apa-apanya? Bukankah mereka ini hanyalah orang-orang yang kecil dan tidak pernah mengenyam pendidikan khusus untuk berbahasa asing, apalagi dengan banyak bahasa? Apa-apaan ini semua?

Di ayat 17-21 Petrus mengingatkan sekaligus menegaskan bahwa peristiwa yang menghebohkan itu merupakan peristiwa turunnya Roh Kudus atas orang-orang percaya, dan peristiwa itu beserta segala mukjizat yang terjadi sesungguhnya telah dinubuatkan oleh nabi Yoël pada zaman PL, dan bukan dibuat-buat, bukan karena mabuk anggur manis, atau bukan hal yang baru; maka seharusnya bangsa Yahudi tidak perlu mempertanyakannya. Kemampuan mereka berkata-kata dalam berbagai bahasa merupakan buah atau karya dari Roh Kudus sebagaimana telah dinubuatkan oleh nabi dalam PL. Semuanya ini merupakan rangkaian pembuktian bahwa Yesus adalah Mesias yang dari Allah, dan karenanya bangsa Yahudi harus percaya kepada-Nya.

Dalam teks renungan kita pada hari ini, Petrus mengarahkan seluruh pendengarnya pada tiga bukti kuat bahwa Yesus adalah Mesias dimaksud, yaitu (1) Mukjizat-mukjizat-Nya (ay. 22); (2) Kebangkitan-Nya (ay. 23-32); dan (3) Kenaikan-Nya ke Surga (ay. 33-35).

(1)  Mukjizat-mukjizat-Nya (ay. 22)
Di ayat ini Petrus memberitakan bahwa Allah telah membuktikan kemesiasan Yesus dengan kekuatan-kekuatan, mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah melalui perantaraan Yesus. Ini semua fakta yang membuktikan bahwa Allah memang telah memberikan kuasa kepada-Nya (bnd. Yoh. 3:2), dan bahwa mukjizat-mukjizat itu menunjukkan kalau Yesus adalah “Anak Daud” (Mat. 12:23). Yesus adalah Mesias kepercayaan Allah (dengan istilah “duduk di sebelah kanan dan ditinggikan oleh tangan kanan Allah”).

(2)  Kebangkitan-Nya (ay. 23-32, 36)
Petrus menekankan bahwa penyaliban Yesus bukanlah suatu kebetulan atau semacam kecelakaan yang tidak disengaja, tetapi bagian dari rencana kekal Allah (bnd. Kis. 3:18; 4:28; 13:29). Walaupun demikian, Petrus menegaskan bahwa kematian Yesus itu tidak terlepas dari kesalahan bangsa Yahudi (bnd. Kis. 2:36; 3:15; 4:10; 5:30; 7:52; 10:39; 13:28) dan tentunya orang-orang Romawi atau bangsa-bangsa durhaka (bnd. 4:27; Luk. 23:24-25). Artinya, rencana Allah itu tidak otomatis meniadakan tanggung jawab manusia atas kesalahan yang telah mereka perbuat. Namun, tanggung jawab manusia itu, bahkan kesalahan manusia itu dapat dipergunakan oleh Allah untuk meneruskan rencana-Nya yang jauh lebih besar. Apa yang telah dilakukan manusia, yang seharusnya dipertanggungjawabkan oleh manusia itu, justru telah dipergunakan oleh Allah sebagai suatu bagian yang tak terpisahkan di dalam karya keselamatan bagi manusia itu sendiri melalui kebangkitan Kristus. Itulah yang diungkapkan oleh Petrus di ayat 36: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."

(3)  Kenaikan-Nya ke Surga (ay. 33-35)
Meneruskan penegasannya sebelumnya tentang kemesiasan Yesus, di bagian ini Petrus menyebutkan bahwa Yesus yang adalah Mesias itu kini berada di sebelah kanan Allah, simbol kekuasaan dan otoritas tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus yang telah bangkit itu adalah Mesias yang ditinggikan oleh Allah, bahkan naik ke surga sebagaimana telah dinubuatkan dalam PL (bnd. Mzm. 110:1). Artinya, apa yang baru saja direndahkan oleh bangsa Yahudi dan orang-orang Romawi, kini telah ditinggikan oleh Allah sendiri. Itulah makna dari kenaikan Yesus yang baru saja kita rayakan sepuluh hari yang lalu (14-05-2015).

Selain itu, dan itulah yang kita rayakan hari ini (24-05-2015), Allah pun mencurahkan Roh Kudus sebagaimana telah dijanjikan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya (lih. Yoh. 14:16-17, 26; 15:26-27). Bukti dari karya Roh Kudus ini adalah kemampuan orang-orang percaya itu berkata-kata dalam berbagai bahasa yang sebelumnya mereka tidak bisa.

Karena kuasa Roh Kudus, khotbah Petrus dalam teks ini mampu meyakinkan para pendengarnya tentang suatu kebenaran, yaitu tentang rencana Allah dalam keselamatan manusia sekaligus tentang kesalahan bangsa Yahudi yang telah menolak Yesus. Tetapi, apa yang telah mereka tolak itu, atau penolakan yang telah mereka lakukan itu, melalui khotbah Petrus dan karena kuasa Roh Kudus, telah menolong mereka kemudian memahami dan menerima Mesias yang adalah Kristus Yesus. Pertanyaan mereka di ayat 37 tidak hanya refleksi dari pergumulan pribadi tetapi sekaligus refleksi pergumulan bangsa mereka. Apa yang harus kami lakukan? Petrus mengerti betul betapa mereka bergumul, baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa, sehingga dia langsung menanggapi pertanyaan mereka di ayat 38, yaitu tentang apa yang harus mereka lakukan atas kesalahan mereka terhadap Yesus dengan menyalibkan Dia. Mereka harus “bertobat”. Pertobatan di sini pertama-tama berarti perubahan pikiran dan hati, kemudian perubahan tindakan. Orang-orang Yahudi baru saja memperlakukan Yesus bukan sebagai Mesias, dan telah menolak-Nya. Sekarang, mereka perlu menerima Dia sebagai Mesias yang menyelamatkan. Yohanes pembaptis dan Yesus sendiri sebelumnya pernah menyerukan pertobatan mereka ini (Mat. 3:2; 4:17), dan para rasul meneruskan seruan pertobatan tersebut. Apa artinya? Yaitu bahwa tidak mungkin melepaskan diri dari tanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan, namun rencana keselamatan yang dari Allah jauh melebihi kesalahan manusia. Tidak mungkin juga seseorang mengaku telah percaya dan menerima Yesus sebagai Mesias dalam hidupnya kalau dia sendiri belum bertobat, kalau dia sendiri belum mampu menunjukkan pikiran, hati, dan tindakan yang telah dibaharui. Apa tanda seseorang telah menerima Roh Kudus? Yaitu kalau yang bersangkutan mampu dan selalu menunjukkan perubahan dalam pikiran, hati, dan tindakan-tindakannya.



[1] Bahan khotbah Minggu, 24 Mei 2015, di Gereja BNKP Jemaat Hebron Lölömoyo.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...