Wednesday, May 4, 2016

Merindukan Allah dari Jauh (Mazmur 42:2-10)



Renungan Epistel Khotbah Sekber UEM
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo

A.    Pengantar
Secara eksplisit teks ini menggambarkan suasana hati pemazmur yang gundah gulana akibat berbagai tekanan hidup yang harus dihadapi. Mazmur 42 ini sendiri diteruskan lagi nanti oleh Mazmur 43; keduanya sama-sama mengungkapkan kerinduan pemazmur akan Allah.

Kerinduan pemazmur ini memberi kesan bahwa dia sedang berada jauh dari Allah.[1]Memang tidak ada informasi pasti tentang di manakah pemazmur berada sehingga dia merindukan Allah, namun bisa jadi dia berada di negeri orang lain, atau sedang berada di tengah-tengah bangsa lain yang nampaknya mengolok-olok dia karena imannya kepada Tuhan Allah, dan atau merasa terasing berada di antara orang-orang di sekitarnya, bahkan merasa terasing karena “berada jauh” dari Allah. Dalam situasi seperti itulah pemazmur mengekspresikan kerinduannya akan Allah, yang sekaligus mencerminkan pengharapannya bahwa hanya Tuhan Allah sendiri sajalah yang masih dapat menolongnya dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

B.     Penjelasan/Pesan Berita
Kita akan membagi dua (2) Mazmur 42 ini, yaitu (1) Kerinduan akan Allah; dan (2) Perasaan tertekan karena jauh dari Allah.

Kerinduan akan Allah (42:2-6)
Pemazmur mengekspresikan kerinduannya akan Allah dengan kiasan “rusa yang merindukan sungai yang berair”. Tentu kiasan ini bukan hal yang baru atau asing bagi para pembaca awal mazmur, sebab baik pemazmur maupun para pembawacanya sudah terbiasa melihat rusa-rusa yang mengembara di bukit-bukit dan kadang-kadang mengalami masa kekeringan terutama di musim kemarau (bnd. Yl. 1:20). Demi kelangsungan hidupnya, dalam keadaan kekeringan seperti itu, rusa-rusa tentu merindukan wadi yang masih berair. Kiasan ini menggambarkan suasana jiwa pemazmur sendiri, yaitu bahwa dia sangat merindukan Allah, dia haus kepada Allah (bnd. Mzm. 63:2). Mengapa? Karena bagi pemazmur sumber air yang sesungguhnya, sumber kelangsungan hidupnya adalah Tuhan, dan tidak ada yang lain.

Ekspresi kerinduan pemazmur ini sangat dipengaruhi oleh tekanan-tekanan yang sedang dialaminya saat itu, yaitu tekanan yang membuat dia merasa terasing, terpencil, bahkan diperhadapkan pada cemoohan para penantangnya yang mempertanyakan kehadiran dan atau keberadaan Tuhan Allah yang dipercainya itu. Para penantang ini sudah mengelilingi pemazmur, siap untuk “menerkamnya”, dan sampai sekarang pemazmur belum mendapatkan pertolongan apa pun. Situasi ini dimanfaatkan oleh musuh-musuhnya untuk terus menyerangnya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan, yaitu bahwa Tuhan Allahnya tidak mampu menyelamatkannya, tidak berdaya sama sekali. Dalam situasi yang seperti ini, dimana Allah masih belum menunjukkan pertolongan-Nya, pemazmur merasa terasing dari Allah sendiri, dan tentunya merasa terasing berada di tengah-tengah bangsa pencemoohnya itu. Itulah sebabnya di ayat 4 pemazmur berkata: Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” Kata-kata ini merupakan ekspresi jiwa yang sangat gundah-gulana, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur di ay. 5.

Sesungguhnya, pemazmur masih memiliki harapan, dia masih mengingat apa yang seharusnya dilakukan ketika berada dalam situasi terjepit. Ayat 5 menegaskan hal ini, yaitu bahwa dia pernah menikmati sukacita ketika dia jiwanya gundah-gulana. Bagaimana hal itu terjadi? Yaitu melalui persekutuan dengan Tuhan Allah di rumah Allah, merayakan kehidupan bersama dengan Allah walaupun sedang mengalami berbagai tekanan kehidupan. Artinya, di saat-saat sulit seperti itu pemazmur percaya bahwa pasti akan ada pertolongan dari Tuhan, dan yang harus dilakukan adalah tetap memuji dan mengagungkan Tuhan. Di sini pemazmur mencoba mengubah paradigmanya tentang masalah yang dihadapinya itu, dari problem-oriented (orientasi masalah) ke problem-solving oriented (orientasi penyelesaian masalah). Kalau sebelumnya dia hampir terjebak dalam pemahaman bahwa tidak ada jalan keluar atas masalahnya, sekarang dia sadar dan menegur diri sendiri dengan bertanya di ayat 6a: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Apa arti pertanyaan ini? Yaitu bahwa pemazmur kini sadar bahwa persoalan utama yang membuat dia semakin terpuruk adalah cara pandangnya terhadap masalah yang sedang dihadapinya itu. Kini, dia sadar bahwa ketika dirinya hanya memikirkan dan melihat pada kesulitan yang sedang dialami, maka hasilnya adalah kegelisahan dan gundah-gulana yang tiada hentinya. Dan sekarang, pemazmur mengajak dirinya untuk melihat bahwa Tuhan Allah pasti menolong, bahwa tidak ada masalah atau kesulitan yang lebih besar dari Allah. Pemazmur mengekspresikan optimismenya ini di ayat 6b: “Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Dengan pernyataan ini, pemazmur menghibur dan menguatkan dirinya sendiri dalam menghadapi berbagai tekanan/kesulitan yang sedang dialaminya, dan dia yakin bahwa apa pun yang terjadi Allahnya pasti menolong, karena itu dia akan bersyukur kepada-Nya.

Jadi, dapat dikatakan bahwa bagian pertama ini menggambarkan bagaimana kerinduan pemazmur akan Allah karena berbagai masalah/kesulitan yang dialaminya, dan bagaimana dia sendiri melihat bahwa Allah pasti memenuhi kerinduannya itu.

Perasaan tertekan karena jauh dari Allah (42:7-10)
Pada bagian ini pemazmur mengungkapkan perasaannya yang sangat tertekan, dan dalam situasi seperti itu dia mengingat Tuhan sebagai satu-satunya sumber air yang sesungguhnya, sumber kelangsungan hidupnya. Kata-kata pemazmur dalam teks ini juga memberi kita informasi di mana dia berada ketika dia berkeluh-kesah dan mengekspresikan kerinduannya akan Tuhan, yaitu di tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar, jadi bukan di negerinya sendiri, bukan di rumah Allah di Yerusalem. Hal ini memberi kesan bahwa dia mengalami kesulitan yang luar biasa ketika dia berada di wilayah itu. Apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh pemazmur dengan syair-syair itu? Beberapa ahli PL menganggap bahwa dalam teks ini pemazmur hendak menggambarkan situasinya yang penuh dengan kesulitan dan kesakitan bahkan ancaman maut.[2]Kesulitan dan kesakitan pemazmur ini semakin bertambah dengan adanya anggapan dari musuh-musuhnya bahwa kesengsaraannya tersebut merupakan balasan atas kesalahannya. Dalam kondisi seperti inilah pemazmur merasa jauh dari Allah, akibatnya dia sangat tertekan dan gundah-gulana.

Namun, apakah pemazmur menyerah begitu saja? Tidak! Kalau pada bagian pertama tadi, khususnya di ay. 6, pemazmur menyatakan optimismenya, maka pada bagian ini pemazmur menegaskan bahwa di tengah tekanan yang dialami, kesulitan dan kesakitannya, dia mengingat Tuhan dan menyerahkan seluruh keluh-kesahnya, sebab bagi pemazmur hanya kasih setia Tuhan sajalah yang mampu menyelamatkan dirinya yang sedang berada di tengah gelora dan gelombang yang mengancam kehidupannya tersebut. Atas dasar itulah pemazmur ini menegaskan bahwa dia sangat tertekan berada jauh dari Tuhan, dan kerinduannya sekarang adalah berada dekat Tuhan, berada dalam bait kudus-Nya. Hanya ketika berada di dekat Tuhan, berada dalam naungan kasih Tuhan, pemazmur merasa aman, diselamatkan, dan kelangsungan kehidupannya terjamin.

Pada bagian ini, pemazmur sekali lagi menegaskan optimismenya dalam menghadapi persoalan bahkan ancaman yang sedang mengelilinginya itu. Di ayat 9 pemazmur mengungkapkan keyakinannya akan pertolongan Tuhan: “TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku”. Syair-syair ini menunjukkan betapa pemazmur menaruh harapannya hanya pada Tuhan saja, suatu pengakuan yang menegaskan bahwa Allah selalu hadir setiap waktu (siang dan malam) dalam berbagai persoalan yang dihadapi manusia. Walaupun pemazmur kadang-kadang berada dalam situasi yang seolah-olah Allah telah meninggalkan dia (ay. 10), dan orang lain terus menerus mencelanya dengan perkataan: “Di manakah Allahmu?” (ay. 11), namun pemazmur sendiri mencoba untuk bangkit, berusaha menghibur dan menyemangati dirinya sendiri, sebab dia percaya bahwa Tuhan adalah Gunung Batu yang teguh, Penolong yang tidak ada bandingannya, Pembela bagi orang-orang yang terimpit dan tertindas.

Jadi, dapat dikatakan bahwa pada bagian yang kedua ini pemazmur mencurahkan isi hatinya yang begitu tertekan karena jauh dari Allah sementara ancaman demi ancaman sedang mengelilinginya, dan pada akhirnya pemazmur menemukan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menjauhkan dirinya dari kasih setia Tuhan, dan oleh karena kasih setia Tuhan itulah keberlangsungan kehidupannya terjamin.

C.    Aplikasi
Hari ini kita merayakan suatu peristiwa yang sangat penting, yaitu kenaikan Tuhan Yesus. Kita masih mengingat dengan jelas beberapa bulan yang lalu peristiwa-peristiwa kesengsaraan Yesus hingga kematian-Nya di kayu salib. Pada saat itu orang-orang percaya hampir kehilangan pengharapan karena Sang Tuhan terkesan tidak berdaya menghadapi lawan-lawan-Nya, dan seolah-olah Dia sudah menyerah begitu saja ketika Dia “membiarkan” diri-Nya disiksa dan disalibkan hingga mati. Masih jelas dalam ingatan kita bagaimana para pemimpin Yahudi dan tentara Romawi mengolok-olok Tuhan Yesus yang mereka siksa dan salibkan itu. Sangat menyakitkan! Kita juga masih mengingat betapa para murid terpaksa harus “menyembunyikan diri” supaya tidak menjadi korban berikutnya dari amukan para pemimpin Yahudi dan tentara Romawi. Bahkan berita kebangkitan Tuhan Yesus yang seharusnya mendatangkan sukacita besar, tidak serta merta menyirnakan ancaman atas para pengikut Kristus. Situasi yang mencekam ini menguasai para murid sampai pada akhirnya Tuhan Yesus sendiri meyakinkan para murid bahwa segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya, dan bahwa Dia akan menyertai mereka sampai kepada akhir zaman (Mat. 28:18, 20). Apa artinya? Yaitu bahwa Tuhan yang kita percayai, yang kadang-kadang seperti tidak berdaya menolong kita ketika berada dalam masalah, sesungguhnya memiliki kuasa yang akan menyertai kita, dan yang akan menolong orang-orang yang percaya kepada-Nya. Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus yang kita rayakan pada hari ini menjadi bukti nyata bahwa Tuhan tidak pernah melupakan kita, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Dia selalu hadir setiap waktu dalam perjalanan kehidupan kita.

Benar bahwa kita tidak dapat melihat Tuhan secara kasat mata, tetapi itu tidak otomatis menunjukkan bahwa Dia tidak ada atau tidak berdaya. Berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat Tuhan akhir-akhir ini, kesulitan-kesulitan untuk beribadah kepada Tuhan, bahkan ancaman dari berbagai pihak karena kita memilih berjalan pada jalan Tuhan, menegaskan kepada kita bahwa tidak ada kehidupan yang bebas dari masalah, tidak ada kehidupan yang bebas dari kesulitan dan penderitaan. Benar bahwa kita kadang-kadang merasa begitu jauh dari Tuhan, sebab ketika kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya justru masalah yang kita hadapi semakin banyak, dan kadang-kadang kita merasa menyesal telah percaya kepada-Nya. Seringkali orang-orang percaya merasa kecewa dengan Tuhan karena berbagai persoalan yang menghimpit dan menekan kehidupan, lebih kecewa lagi ketika merasa sudah melakukan segala hal untuk menyenangkan Tuhan, termasuk jeritan dan air mata dalam doa, namun Allah seolah-olah tidak mendengar, seolah-olah Allah telah menjadi tuli dan bisu, akhirnya kita merasa sangat jauh dan merasa terasing dari Tuhan. Namun, pemazmur pada hari ini memberikan kita suatu pelajaran yang sangat penting, bahwa kerinduan kita akan Tuhan tidak boleh disirnakan oleh berbagai masalah, justru melalui masalah itu kita semakin merindukan Dia, sebab hanya di dalam Dia sajalah ada pertolongan dan keselamatan, dan hanya di dalam Dia sajalah ada sumber keberlangsungan hidup. Optimisme ini dikuatkan oleh Rasul Paulus: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:35, 38-39).

Terakhir, nampaknya kita harus mengubah cara pandang kita dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan ini. Sesungguhnya “bukan besarnya masalah yang sering membuat kita gagal, melainkan cara kita menghadapi masalah tersebut”. Maka, ketika masalah datang sebaiknya kita jangan berkata: “O God, look, I have a big problem” (O Tuhan, lihatlah, saya memiliki masalah yang besar). Sebaliknya, ketika masalah sebesar apa pun mengelilingi kita, sebaiknya kita berkata: “Hey problems, look, I have a big God” (Hai masalah, lihatlah, saya memiliki Allah yang besar). Jadi, sebesar dan seberat apa pun persoalan yang kita hadapi, kasih setia Tuhan jauh lebih besar, dan kasih setia itu tidak akan pernah meninggalkan kita. Karena itu, mendekatlah selalu kepada Tuhan, milikilah kerinduan yang mendalam akan Dia, sebab hanya di dalam Dia sajalah ada pengharapan dan pertolongan.


[1] Ada beberapa situasi dalam PL yang menggambarkan seseorang merasa berada jauh dari Allah, antara lain: berada jauh dari Bait Allah di Yerusalem, berada di luar negeri, merasa terasing berada di negeri orang, dikucilkan oleh bangsanya, berdosa, dll.
[2] Dalam dunia kuno air yang memancar dari mata air (dhi. Sungai Yordan) dianggap datang langsung dari “samudera raya yang ada di bawah bumi” yang dalam mitos dewa Babel disebut sebagai “naga laut”, melambangkan kuasa kekacauan dan ancaman maut.

Monday, May 2, 2016

Ucapan Syukur dan Doa Paulus bagi Jemaat (Efesus 1:15-23)

Bahan Khotbah Kebaktian Kenaikan Yesus
Kamis, 5 Mei 2016
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo


A.    Pengantar
Teks renungan kita pada hari ini berbicara tentang ucapan syukur Paulus atas kehidupan jemaat Kristen di Efesus, yang telah menunjukkan kehidupan kekristenan yang sesungguhnya, dan pada saat yang sama Paulus menghaturkan doa dan kerinduannya atas jemaat untuk tetap menghidupi kekristenan mereka itu secara konsisten, terus menerus, dan dengan cara yang benar.

Ada dua hal mendasar dalam kehidupan jemaat yang membuat Paulus bersyukur, yaitu tentang “Kesetiaan (TB: Iman) mereka dalam Tuhan Yesus” dan tentang “Kasih Jemaat” terhadap semua orang kudus. Ucapan syukur Paulus terhadap kedua hal ini menegaskan bahwa jemaat yang benar adalah jemaat yang memelihara kesetiaan kepada Tuhan Yesus, sekaligus menunjukkan kasih kepada sesama. Kedua hal ini harus berjalan bersama, sebab kesetiaan kepada Tuhan Yesus tanpa diiringi dengan kasih terhadap sesama sesungguhnya tiada gunanya. Bukti bahwa jemaat telah menunjukkan kesetiaan kepada Tuhan adalah kasih mereka kepada sesama. Atas dasar itu kemudian Paulus menghaturkan doa pengharapannya atas jemaat sehingga pengenalan mereka akan Kristus semakin dalam dan benar.

B.    Penjelasan/Pesan Berita
Ada dua penekanan penting dalam doa Paulus dalam teks ini yang mencerminkan kerinduannya bagi jemaat, yaitu (1) Roh hikmat dan wahyu dikaruniakan atas jemaat untuk semakin mengenal Allah dengan benar; dan (3) Jemaat memahami dengan benar pengharapan Kristiani. Mari kita ulas satu persatu doa dan kerinduan Paulus ini.

Pertama, Roh hikmat dan wahyu dikaruniakan atas Jemaat:
Pertama-tama Paulus berdoa agar jemaat Tuhan di Efesus dikaruniakan Roh hikmat, yaitu Roh yang menolong jemaat untuk semakin mengenal Allah dengan benar, dan mengalami kebesaran kuasa Allah dalam hidup mereka. Doa Paulus ini sekaligus menunjukkan harapannya agar umat Tuhan melihat dan menjalani hidup menurut hikmat Tuhan, membuka diri untuk dibimbing oleh kuasa Roh Tuhan. Dengan doa ini Paulus hendak mengajak jemaat untuk tetap bergantung pada Roh hikmat dari Tuhan dalam menjalani kehidupan mereka, untuk mengedepankan Roh hikmat dari Tuhan dalam memelihara kesetiaan mereka kepada Tuhan dan dalam mewujudnyatakan kasih mereka kepada sesama.

Bagi Paulus, Roh hikmat ini sangat penting, sebab tanpa Roh hikmat, jemaat Tuhan tidak akan mampu memahami kehendak Allah dan bahkan tidak akan mampu memuliakan Allah dalam kebenaran; tanpa Roh hikmat dari Allah jemaat Tuhan kesulitan mengungkapkan dan mengalami kehidupan iman yang sesungguhnya. Artinya, beriman (setia) kepada Tuhan tidak sekadar mengenal-Nya dalam pengetahuan kognitif saja, tetapi mengalami perjumpaan yang utuh dengan Tuhan, dan hal ini terjadi hanya ketika jemaat Tuhan telah dikaruniai Roh hikmat dari Tuhan. Roh hikmat dari Tuhan inilah yang memampukan jemaat Tuhan untuk semakin mengenal Tuhan, semakin menunjukkan kesetiaan kepada-Nya, dan mengarahkan seluruh kehidupannya kepada Tuhan saja.

Selain Roh hikmat tersebut, Paulus juga berdoa agar jemaat dikaruniakan wahyu dari Allah untuk semakin mengenal Allah dengan benar. Bagi Paulus, mengenal Allah bukan sekadar mengetahui banyak hal tentang Dia, bukan sekadar mampu menjelaskan banyak hal tentang Dia dengan argumentasi yang sangat kuat, bukan sekadar menyebut nama-Nya setiap saat, bukan juga sekadar membaca keseluruhan teks Alkitab satu atau beberapa kali bahkan sampai menghafal teks Alkitab itu. Pengenalan Allah dengan benar pertama-tama harus dengan Roh hikmat tadi dan dengan wahyu ilahi; selanjutnya pengenalan Allah dengan benar berarti secara berkelanjutan dan penuh semangat berusaha mengenal Allah lebih baik setiap saat. Pengenalan Allah dengan cara ini akan sangat menolong jemaat Tuhan untuk terus menerus membangun persahabatan yang semakin akrab dengan Tuhan, dan persahabatan yang akrab itu tidak akan pernah disirnakan oleh apa/siapa pun juga.

Banyak orang yang mengklaim telah mengetahui banyak hal tentang Yesus, sayang sekali mereka belum mengenal-Nya seutuhnya. Banyak orang yang menyelidiki banyak hal tentang Yesus, tetapi tidak untuk mengenal dan mengalami Dia sepenuhnya. Paulus menegaskan bahwa mengetahui banyak hal tentang Tuhan tidaklah cukup; diperlukan pengenalan yang benar tentang Dia, dan pengenalan itu hanya akan terwujud ketika jemaat Tuhan telah dikaruniakan Roh hikmat dan wahyu dari Tuhan sendiri. Artinya, kemampuan mengenal Allah dengan benar sesungguhnya datang dari Tuhan sendiri, dan bukan karena usaha manusia untuk mengenal-Nya. Itulah sebabnya Paulus berdoa agar jemaat Efesus dikaruniai Roh hikmat dan wahyu itu sehingga mereka semakin mengenal Allah dengan baik, semakin mengenal kehendak dan kuasa Allah, semakin mengenal jalan Tuhan yang benar itu, dan akibat dari pengenalan yang benar ini adalah mereka akan mengarahkan seluruh gerak hidup mereka kepada Tuhan Allah. Dalam kerangka pengenalan Allah yang seperti inilah kesetiaan/iman dan kasih jemaat Efesus semakin disempurnakan.

Kedua, Jemaat memahami dengan benar pengharapan Kristiani:
Mengenal Allah dengan benar tidak menjadi jaminan bahwa kehidupan ini bebas dari berbagai masalah, dan Tuhan Yesus juga tidak pernah memberikan jaminan muluk-muluk seperti itu. Paulus tahu bahwa kehidupan ini selalu diwarnai oleh berbagai masalah, dan masalah-masalah itu dapat saja membuat iman dan kasih jemaat mengalami kemunduran. Paulus sendiri berada dalam penjara ketika dia menulis surat ini kepada jemaat Efesus, dan hal ini membuktikan bahwa mengenal Tuhan dengan benar, bahkan melayani Dia sepenuh hati, dapat mendatangkan masalah atau kesulitan, dan apabila hal ini tidak disikapi dengan benar maka dapat menimbulkan kekecewaan, keputusasaan yang tiada henti, dan jemaat dapat menjadi pesimis menjalani kehidupannya.

Maka, menurut Paulus dalam doanya, jemaat Tuhan di Efesus harus memahami dengan baik bagaimana seharusnya hidup dalam pengharapan yang benar sekalipun ada berbagai tantangan kehidupan seperti yang dialami oleh Paulus sendiri. Benar bahwa kadang-kadang jemaat Tuhan yang beriman dan telah menunjukkan kasih yang tulus kepada sesama mengalami berbagai persoalan yang bahkan bisa saja membuat mereka mengalami kegagalan, tetapi, demikian doa Paulus, justru dalam berbagai persoalan dan kegagalan itu pengharapan dalam Tuhan harus terus menerus diperdengarkan. Benar bahwa ada banyak fenomena kehidupan di dunia ini yang cenderung merusak dan menghancurkan, tetapi, bagi Paulus dalam doanya, situasi itu harus menjadi semacam cambuk bagi jemaat Tuhan untuk menaruh pengharapannya dalam Tuhan sekaligus menyerukan dan menghadirkan pengharapan itu melalui kesetiaan mereka kepada Tuhan dan kasih mereka terhadap sesama seperti yang telah mereka mulai lakukan selama ini.

Hidup dalam pengharapan ini sangatlah penting, terutama dalam menghadapi berbagai ketidakpastian hidup, dan Paulus mau kalau iman dan kasih jemaat dilengkapi dengan pengharapan; dapat disebut sebagai tiga serangkai dari kehidupan kekristenan, yaitu iman, pengharapan dan kasih (bnd. 1 Kor. 13:13). Itulah yang diinginkan oleh Paulus di jemaat Efesus ini, yaitu bahwa mereka tidak kehilangan pengharapan dalam Kristus, dan bahwa mereka juga dapat menjadi pembawa pengharapan Kristus itu di tengah-tengah dunia di mana mereka berada, sehingga melalui pengharapan yang mereka hadirkan itu dunia akan mengenal Allah dengan benar.

Pertanyaannya ialah apa saja pengharapan yang harus dihidupi dan dihadirkan oleh jemaat? Apa yang hendak “ditawarkan” dalam berita pengharapan itu? Apa yang jemaat harapkan dari Tuhan, dan harapan apa yang akan mereka hadirkan di dunia ini? Dalam teks ini ada beberapa pengharapan Kristen dimaksud:
Pertama,kekayaan kemuliaan Allah yang akan menjadi bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus (ay. 18). Kemuliaan Allah dalam teks ini tentu tidak seperti kemuliaan dunia yang selalu diperebutkan oleh umat manusia. Menurut Paulus, jemaat Tuhan akan mendapatkan kemuliaan yang kekayaannya jauh melebihi kemuliaan dunia, yaitu kemuliaan Allah sendiri, dan kemuliaan Allah itu akan menjadi bagian orang-orang yang mengenal Kristus dengan benar.
Kedua, kehebatan dan kekuatan kuasa Allah bagi orang-orang percaya (ay. 19). Manusia, termasuk orang-orang yang percaya kepada Kristus, tidak memiliki kehebatan dan kekuatan tertentu untuk mengalahkan berbagai kekuatan dunia, namun kehebatan dan kekuatan kuasa Allah akan menyertai orang-orang percaya untuk mengalahkannya (bnd. Ef. 6:10 dab).
Ketiga, kebangkitan Kristus dari antara orang mati, kenaikan-Nya ke surga serta kedudukan dan kekuasaan-Nya yang sangat tinggi atas segala sesuatu sejak sekarang dan di masa yang akan datang (ay. 20-22a). Kata-kata ini hendak menegaskan bahwa tidak ada satu kekuatan dan kekuasaan apa pun di dunia ini yang belum ditaklukkan oleh Kristus, kuasa maut pun telah ditaklukkan-Nya. Hal ini memberi harapan pasti bagi jemaat bahwa Tuhan telah menang, dan kemenangan itu adalah kemenangan semua orang yang mengenal Dia dengan benar, kemenangan jemaat Tuhan.
Keempat, keberadaan Kristus sebagai Kepala Gereja, dan Gereja sebagai Tubuh Kristus (ay. 22b-23). Ini adalah ekspresi yang sangat mengagumkan, sebab Paulus menyebut Gereja sebagai Tubuh Kristus. Dalam konteks surat Efesus, penyebutan Tubuh Kristus ini dimaksudkan untuk mempertegas tujuan kematian Kristus yang mempersatukan semua manusia ke dalam satu keluarga yang dikepalai oleh Kristus sendiri. Demikianlah (seharusnya) gereja, selalu terikat dengan Sang Kepala yaitu Kristus, dan melaluinya semua orang dan bangsa dapat dipersatukan, sama seperti doa Tuhan Yesus supaya mereka semua menjadi satu (Yoh. 17:20-21). Karena itu, gereja memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memperkenalkan Kristus itu kepada semua orang, Kristus yang penuh kehebatan, kekuatan, kekuasaan dan kemuliaan, Kristus yang telah mengalahkan segala sesuatu, Kristus yang mempersatukan. Hal ini akan terwujud melalui kesetiaan (iman) jemaat kepada Kristus dan kasih terhadap sesama.

C.    Aplikasi
Dua hal yang sangat mendasar dalam kehidupan kekristenan, yaitu iman (kesetiaan) kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Orang Kristen yang sejati dan yang mengaku setia kepada Tuhan, tentunya akan mengasihi Tuhan, dan kasih kepada Tuhan itu disempurnakan melalui kasih terhadap sesama. Artinya, orang Kristen hanya dapat menunjukkan kasih kepada Tuhan melalui kasihnya kepada sesama. Orang Kristen yang hanya mampu meninggalkan tingkah lakunya yang buruk tetapi belum mampu mewujudnyatakan kasihnya yang tulus kepada sesama sesungguhnya belum mencerminkan kehidupan kekristenan yang benar. Orang Kristen yang hanya mampu mengabdikan dirinya untuk memuji dan melayani Tuhan tanpa pelayanan/pengabdian yang tulus terhadap sesama, sesungguhnya belum menghidupi dan belum mengenal Allah dengan cara yang benar. Orang Kristen yang mengaku setia kepada Tuhan sepenuh hati tetapi pada saat yang sama mencela dan bahkan menghina orang-orang yang berbeda kepercayaan atau berbeda denominasi dengan dirinya sesungguhnya telah mendatangkan celaan dan hinaan atas Tuhan yang dipercayainya itu. Gereja yang hanya tahu menghukum dan mengecam warga jemaatnya yang bersalah, yang cenderung mempermalukan warganya di hadapan orang lain sesungguhnya telah mendatangkan aib atas gereja yang adalah Tubuh Kristus itu. Orang Kristen atau Gereja yang benar adalah mereka yang pada satu sisi menunjukkan kesetiaan/kasih kepada Kristus dan pada saat yang sama mewujudnyatakan kasih terhadap sesama.

Banyak orang yang mengklaim telah memiliki pengetahuan yang memadai tentang Tuhan, sayang sekali pengetahuan ini seringkali menjadi salah satu sumber “keangkuhan rohani”, yaitu kehidupan rohani yang selalu diceritakan di mana-mana, kehidupan rohani yang selalu dibanggakan ketika bersaksi di hadapan orang lain dan atau jemaat. Menurut Paulus, orang Kristen harus melebihi pengetahuan yang seperti ini, yaitu telah dikaruniai Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Allah dengan benar. Namun, tanpa keraguan pun kita berani mengatakan bahwa kita sudah mengenal Allah, dan bahkan telah memperkenalkan Allah kepada banyak orang. Pertanyaannya ialah pengenalan seperti apa? Kalau kita belajar dari doa Paulus, maka pengenalan Allah yang benar adalah pengenalan yang bersumber dari Allah sendiri, dari Roh hikmat dan wahyu dari Allah. Pengenalan Allah yang bersumber dari Roh hikmat dan wahyu ilahi berarti mengalami perjumpaan yang utuh dengan Tuhan, dan perjumpaan itu akan memampukan dia untuk mengarahkan seluruh kehidupannya kepada Tuhan, dan hal ini akan terlihat dalam kasihnya terhadap sesama. Adalah hal yang sangat aneh kalau ada orang mengaku telah mengenal dan berjumpa dengan Tuhan, tetapi dia tidak peka terhadap sesamanya yang membutuhkan, tidak peka terhadap kebutuhan komunitas di mana dia berada, bahkan tidak peka terhadap upaya pembangunan/pengembangan Tubuh Kristus di dunia ini.

Tidak dipungkiri bahwa saat ini kita sedang berada di zaman yang serba tidak pasti, tidak jelas, dan hanya mendatangkan keputusasaan bagi banyak orang. Itulah sebabnya semakin banyak orang yang menjadi pesimistis, dan malah tidak sedikit orang yang menempuh cara yang tidak benar hanya karena berbagai masalah yang membuat mereka kecewa. Dalam situasi dunia yang seperti ini kita terpanggil untuk memegang teguh pengharapan kita di dalam Kristus, dan menghadirkan pengharapan itu di dunia di mana kita berada; itulah wujud nyata dari kesetiaan kita kepada Tuhan dan kasih kita terhadap sesama. Inti dari semuanya ini adalah kebesaran dan kemuliaan nama Tuhan yang dapat terlihat dalam realitas kehidupan orang-orang percaya.


Selamat merayakan Kenaikan Yesus ke Surga
Selamat berefleksi, Tuhan memberkati

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...