Saturday, July 23, 2016

Menjadi Berkat bahkan bagi Kota yang Durjana (Kejadian 18:20-32)


Pokok-Pokok Pikiran dan Renungan terkait Khotbah Minggu, 24 Juli 2016

Oleh: Pdt. Alokasih Gulo


Dosa-Dosa Sodom dan Gomora (Kej. 18:16 – 19:29)
Walaupun teks dan konteks khotbah hari ini tidak berfokus pada dosa-dosa Sodom dan Gomora, namun pertanyaan seputar dosa kota itu terus muncul dari waktu ke waktu. Apa sesungguhnya dosa Sodom dan Gomora sehingga TUHAN Allah membinasakannya?
1.     Anggapan yang pertama: homoseksualitas (gay). Anggapan ini bukan tanpa alasan, sebab dari nama kota “Sodom” ini kemudian lahirlah kata “sodomi” yang berarti percabulan tidak wajar, yang biasanya dilakukan melalui hubungan sesama jenis (homoseksual atau gay), namun dapat juga dilakukan melalui hubungan berbeda jenis (heteroseksual). Anggapan ini kemudian seperti dikonfirmasi oleh bunyi teks Kej. 19:4-5, dimana orang-orang lelaki dari kota itu hendak “memakai” tamu Lot (yang adalah laki-laki).
2.   Sekarang, mari kita lihat dari sisi Lot. Lot adalah penduduk negeri itu, dan ia tentunya sangat mengerti warga kota tersebut. Jika orang-orang itu semua gay, dia pasti tahu itu, dan dia tidak akan repot-repot menawarkan kedua anaknya perempuan kepada mereka sebagai pengganti (Kej. 19:8), lebih memungkinkan kalau dia menawarkan kedua bakal menantunya (ay. 14). Sayang sekali, Lot tidak melakukan itu, dia tidak menawarkan laki-laki (bakal menantunya) kepada penduduk kota itu, sebaliknya dia menawarkan kedua anak perempuannya kepada para lelaki kota Sodom tersebut.
3.     Di Kej. 19, disebutkan bahwa semua laki-laki, tanpa kecuali, muda dan tua, datang mengepung rumah tempat tamu Lot menginap (Kej. 19:4). Jadi, semua laki-laki di kota itu adalah gay? Kalau itu benar, maka tentulah mereka tidak punya anak-cucu, tidak mempunyai keturunan dan akhirnya penduduknya tidak ada. Tetapi, tidak demikian bukan? Penduduk kota ini masih ada, keturunan mereka tetap ada sampai TUHAN sendiri membinasakannya. Jadi, bagaimana mungkin kota ini tetap memiliki keturunan (penduduk) kalau semua laki-lakinya gay? Lalu, bagaimana Lot dan keluarganya yang katakanlah “normal” (non-gay) bisa bertahan tinggal di kota “gay” itu, sampai TUHAN sendiri yang memaksanya keluar dari kota tersebut?
4.     Mari kita lihat perkataan para lelaki kota itu di Kej. 19:9 “... Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita! Sekarang kami akan menganiaya engkau lebih dari pada kedua orang itu!”. Mereka hendak melakukan kejahatan kepada tamu Lot itu dengan alasan bahwa tamu itu adalah “orang asing”, dan mereka dianggap menjadi hakim atas kota itu. Alasan ini sepertinya mengindikasikan bahwa penduduk setempat tidak suka dengan kedatangan orang asing, apalagi kalau orang asing itu datang untuk menjadi hakim. Sebelum orang asing itu “menghakimi” kota Sodom dan Gomora, terlebih dahulu penduduknya datang ke rumah Lot untuk “menghakimi” orang asing dimaksud, tentu dengan cara-cara yang sangat jahat sampai kota itu dianggap durjana (lih. 19:15). Hal ini diperkuat dengan ancaman mereka kepada Lot “...Sekarang kami akan menganiaya engkau lebih dari pada kedua orang itu! (Kej. 19:9c). Ini adalah rencana penganiayaan yang luar biasa! padahal, di Timur Tengah, keberlangsungan hidup seseorang bergantung pada  kebaikan hati orang asing. Karena itu, menolong orang asing merupakan kewajiban agama yang terpenting. Bagi orang Israel sendiri, ada perintah untuk tidak menindas orang asing (lih. Imamat 19:33-34). Sayang sekali, penduduk kota Sodom dan Gomora telah melanggar “tradisi” Timur Tengah itu, dan pelanggaran ini berakibat bagi terancamnya keberlangsungan hidup mereka, dan kita tahu bersama bahwa kota itu kemudian dihancurleburkan oleh TUHAN setelah kedua malaikat-Nya (orang asing) hampir saja diperlakukan dengan sangat durjana oleh penduduk kota itu.
5.  Bagaimana mungkin penduduk Sodom dan Gomora berani melanggar tradisi menghormati tamu yang datang? Alasannya tidak jelas, namun pada zaman kuno, ada praktik seks suci (seks bakti/sakral), termasuk dengan “makhluk ilahi” (mis. malaikat). Orang-orang akan melakukan hubungan seksual dengan para pelacur kuil yang menurut mereka mewakili dewa-dewi. Dengan melakukan seks suci itu, orang-orang percaya bahwa mereka akan menerima berkat yang luar biasa dari dewa. Jika orang-orang Sodom menyadari bahwa malaikat yang datang ke kota mereka dikirim oleh Tuhan, mereka mungkin berpikir dan menyimpulkan bahwa “memperkosa” para malaikat itu dapat memberi mereka kekuatan supranatural yang luar biasa. Apakah praktik kuno ini telah membutakan mata, hati atau pikiran penduduk kota Sodom dan Gomora sehingga hendak memperlakukan tamu itu dengan sangat jahat? Belum ada jawaban yang pasti!
6.     Sekarang kita membaca surat Yudas 1: 7 (Alkitab TB LAI), “sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang”. Dengan teks terjemahan baru LAI ini maka nampaknya dosa Sodom dan Gomora terkait “homoseksualitas” ada benarnya. Namun apabila kita mengkaji lebih jauh lagi dalam bahasa Yunani, maka sedikit ada perbedaan. Bahasa Yunani yang dipakai untuk kata “percabulan dan kepuasan-kepuasan tak wajar” adalah “SARKOS HETERAS”, yang secara harfiah dapat diterjemahkan “kedagingan lainnya” (Ingg. “other flesh”). Jika kata ini (other flesh) dikaitkan dengan kebiasaan kuno, maka ada kedekatannya dengan praktik “KANIBALISME” dalam budaya Kanaan kuno. Selain itu, dari kata “Sarkos Heteras” ini lahirlah kata “heteroseksual”, jadi bukan homoseksual.
7.     Seluruh pasal pertama kitab Yesaya memuat kecaman keras atas Yehuda. Kejahatan dan kebejatan mereka dibandingkan dengan Sodom dan Gomora. Mereka memberontak melawan Allah, kurang pengetahuan, berbalik dari pada TUHAN, penyembahan berhala, terlibat dalam ritual keagamaan yang tidak berarti, menjadi tidak adil dan menindas orang lain, tidak peka terhadap kebutuhan janda dan anak yatim, melakukan pembunuhan, menerima suap, dll. Persoalan utama di sini adalah kehidupan peribadatan/keagamaan yang tidak diikuti dengan tindakan keadilan sosial. Hal yang sama juga kita temukan dalam kitab Yehezkiel 16:49-50 “Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin. Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan kekejian di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu”. Jadi, dari kedua kitab ini (Yesaya 1 & Yehezkiel 16:49-50) tidak ada sama sekali referensi tentang homoseksualitas atau penyimpangan seksual lainnya di kota Sodom dan Gomora.
8.    Jadi, walaupun belum ada kesimpulan yang pasti tentang dosa-dosa Sodom dan Gomora, namun dapat dikatakan bahwa kota Sodom dan Gomora memang diwarnai oleh berbagai praktik kehidupan yang penuh dengan kedurjanaan, yang telah membuat orang-orang di sekitar mereka berkeluh kesah, dan karena itu menurut TUHAN Allah mereka patut mendapatkan hukuman yang setimpal.

Percakapan Abraham dengan TUHAN tentang Sodom dan Gomora (Kej. 18:20-32)
Setelah mendiskusikan kemungkinan dosa-dosa Sodom dan Gomora, sekarang kita fokus pada teks khotbah hari ini. Teks khotbah ini sendiri berada dalam konteks pemanggilan Abraham untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (lih. Kej. 12), dan hal ini diperkuat oleh dua ayat sebelum teks khotbah ini, yaitu ayat 18 dan 19. Memahami teks khotbah ini dalam konteks pemanggilan Abraham tersebut akan sangat menolong kita untuk memahami maksud dari percakapan Abraham dengan TUHAN menjelang penghukuman kota tersebut. Ada semacam tawar menawar di antara mereka, dimana Abraham mencoba memberi pertimbangan kepada TUHAN sebagai HAKIM supaya “tidak gegabah” mengambil keputusan menghukum kota Sodom dan Gomora, dengan dalil mungkin masih ada orang benar di kota itu, paling tidak sepuluh orang lagi. Sayang sekali, di kota Sodom dan Gomora tidak didapati jumlah minimal sepuluh orang benar tersebut, sehingga keputusan HAKIM AGUNG untuk melenyapkan kota itu beserta orang-orang yang ada di dalamnya sudah final, tidak berubah walaupun sempat ada upaya PK (Peninjauan Kembali) dari orang dekat Allah yakni Abraham.

Menarik dua ayat pertama dari teks khotbah hari ini, yaitu bahwa banyak keluh kesah orang pada kelakuan penduduk kota Sodom dan Gomora (walaupun Alkitab bahasa Nias belum memuat terjemahan "keluh kesah", namun kata ini dapat diartikan "mangarongaro niha ba gamuatara andro, turia sangarongaro ba sabu-dodo niha duriara"). Semoga uraian sebelumnya tentang kemungkinan dosa-dosa penduduk kota Sodom dan Gomora bisa memberi kita gambaran betapa durjananya orang-orang di kota tersebut. Kita tidak harus menguraikan lagi secara terperinci jenis dosa-dosa mereka, sebab apa pun dosa mereka, bagi Allah perbuatan mereka telah menimbulkan banyak keluh kesah, banyak jeritan, bahkan kegaduhan yang luar biasa, dan Allah tidak kompromi dengan tingkah laku yang seperti itu.


Abraham begitu dekat dengan Allah, dan dia beruntung sebab Allah sendiri berkenan memberitahukan kepadanya tentang rencana-Nya menghukum kota Sodom dan Gomora, bahkan Allah pun menegaskan bahwa Dia punya alasan kuat untuk melenyapkan kota itu. Dengan demikian Abraham tahu persis apa yang bakal terjadi atas kota Sodom dan Gomora, termasuk alasan Tuhan melakukan penghukuman itu. Abraham bisa saja bersyukur atau bersukacita atas rencana Allah tersebut, sebab kalau orang-orang dalam kota itu dimusnahkan maka Abraham tidak perlu bersusah payah untuk memasuki dan menguasainya, apalagi daerah itu cukup subur, sampai Lot sendiri sebelumnya memilih menetap di sana (lih. Kej. 13:12). Paling tidak, setelah mengetahui rencana Allah tersebut, Abraham lebih baik memilih diam saja, pura-pura tidak tahu, atau masa bodoh saja, toh Tuhan tidak perlu digurui, tidak perlu didikte, dan tidak perlu dipengaruhi dalam mengambil suatu keputusan. Terserah Tuhan saja deh, gue nurut aja.


Sayang sekali, pikirannya Abraham tidak sesempit pikiran kebanyakan orang. Dia tahu bahwa dia punya kesempatan emas untuk berbuat sesuka hati atas kota itu, termasuk menambah keluh kesahnya sendiri atas perbuatan orang-orang Sodom dan Gomora. Namun, Abraham tidak menggunakan kesempatan emas itu untuk kepentingan dirinya sendiri, dia tidak beria-ria atas kemusnahan yang bakal dialami oleh penduduk kota itu, dia tidak menjadi angkuh dan bersukacita karena orang-orang Sodom dan Gomora mendapat balasan yang setimpal atas kejahatan mereka, lö khönia fehede “rasoi, yagömöi öu, no göi ami dödömi mege ba mirasoi iada’e. Sebaliknya, dengan penuh kerendahan hati dan kesadaran bahwa dia sendiri berasal dari debu dan abu, Abraham memberanikan diri mengajukan PK sebanyak enam kali (50, 45, 40, 30, 20, 10), supaya Tuhan tidak melenyapkan kota itu beserta penduduknya. 


Walaupun pada akhirnya Abraham tidak berhasil membatalkan rencana Allah menghukum kota itu, namun dia tidak kecewa, dia tidak menyesali keputusan Tuhan itu, dia tidak memaksakan kehendak sekali pun dia adalah orang dekat Tuhan. Walaupun keputusan Tuhan tidak bisa berubah lagi dengan permohonannya itu, namun penting dicatat bahwa Abraham sudah melaksanakan tugas panggilannya, yaitu MENJADI BERKAT BAGI BANGSA-BANGSA, berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan bangsa-bangsa, walaupun dia sadar bahwa orang-orang yang “dibelanya” itu merupakan orang-orang durjana. Kedurjanaan orang-orang Sodom dan Gomora, tidak menghalangi niat dan usaha Abraham untuk menjadi berkat, mendoakan mereka, mungkin masih ada kesempatan untuk bertobat sehingga mereka bisa diselamatkan oleh Tuhan. Ketidakberhasilannya mempengaruhi keputusan Allah, tidak menghalangi dia untuk tetap menjadi berkat bagi orang lain, termasuk menjadi berkat bagi orang-orang yang telah menimbulkan keluh kesah, keresahan dan kegelisahan banyak orang. 

Pengalaman dan percakapan Abraham dengan Allah terkait rencana penghukuman kota Sodom dan Gomora ini mengingatkan kita akan panggilan kita sebagai umat Tuhan, yaitu menjadi berkat bagi dunia, dan hal ini terungkap dalam visi BNKP “Teguh dalam Persekutuan dan Menjadi Berkat bagi Dunia”.

Tidak bisa disangkal lagi bahwa dunia di mana kita berada saat ini dari waktu ke waktu semakin “rusak” oleh tingkah laku manusia sendiri. Saya tidak perlu menyebutkan satu persatu perbuatan manusia, atau bahkan perbuatan kita masing-masing, yang telah menimbulkan keluh kesah, jeritan, keresahan, dan kegelisahan banyak orang. Saya juga tidak harus menampilkan di layar monitor ini foto-foto atau pun video orang-orang yang menimbulkan kehebohan, irege fa’alai dödö niha, faharumani dödö niha, dan saya tidak perlu menunjuk siapa-siapa saja orang yang telah menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Kita dapat menelusuri diri sendiri, bagaimana selama ini perbuatan kita di rumah, di kantor, di tempat kerja, di jalanan, di warung-warung, di sudut-sudut kota, di tempat-tempat rekreasi, di pasar-pasar, bahkan di dalam gereja sendiri. Daftar ini masih bisa diteruskan lagi ...

Namun, justru di tengah-tengah dunia, di tengah-tengah masyarakat yang seperti itulah kita dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk menjadi berkat. Surat 1 Petrus 3:9 menegaskan bahwa kita dipanggil untuk menjadi berkat di dunia yang dipenuhi oleh berbagai kedurjanaan atau kejahatan, bahkan ketika kejahatan itu terjadi atas kita, kita pun masih harus tetap menjadi berkat bagi mereka. Hanya saja, banyak orang Kristen yang tidak bisa menjadi berkat di mana dia berada, ato niha, tenga tobali ndrela howuhowu, tobali sangolotusi, memperkeruh situasi, tidak menjadi berkat malah sebaliknya menjadi sumber malapetaka, menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Hari ini, kita diajak untuk belajar dari Abraham yang menunaikan tugas panggilannya, menjadi berkat dengan mendoakan kota Sodom dan Gomora yang bakal hancur. Yesus sendiri pun ketika disalibkan, tetap mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya, dan karena itu kita sebagai pengikut Kristus haruslah meneladani Kristus. Kolose 2:6 “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia”.

Dosa-Dosa Sodom dan Gomora (Kej. 18:16 – 19:29): Catatan Pengantar 1



Dipersiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

Apakah dosa kota Sodom dan Gomora sehingga TUHAN Allah membinasakannya?
1.   Anggapan yang pertama: homoseksualitas (gay). Anggapan ini bukan tanpa alasan, sebab dari nama kota “Sodom” ini kemudian lahirlah kata “sodomi” yang berarti percabulan tidak wajar, yang biasanya dilakukan melalui hubungan sesama jenis (homoseksual atau gay), namun dapat juga dilakukan melalui hubungan berbeda jenis (heteroseksual). Anggapan ini kemudian seperti dikonfirmasi oleh bunyi teks Kej. 19:4-5, dimana orang-orang lelaki dari kota itu hendak “memakai” tamu Lot (yang adalah laki-laki).

2.  Sekarang, mari kita lihat dari sisi Lot. Lot adalah penduduk negeri itu, dan ia tentunya sangat mengerti warga kota tersebut. Jika orang-orang itu semua gay, dia pasti tahu itu, dan dia tidak akan repot-repot menawarkan kedua anaknya perempuan kepada mereka sebagai pengganti (Kej. 19:8), lebih memungkinkan kalau dia menawarkan kedua bakal menantunya (ay. 14). Sayang sekali, Lot tidak melakukan itu, dia tidak menawarkan laki-laki (bakal menantunya) kepada penduduk kota itu, sebaliknya dia menawarkan kedua anak perempuannya kepada para lelaki kota Sodom tersebut.

3.   Di Kej. 19, disebutkan bahwa semua laki-laki, tanpa kecuali, muda dan tua, datang mengepung rumah tempat tamu Lot menginap (Kej. 19:4). Jadi, semua laki-laki di kota itu adalah gay? Kalau itu benar, maka tentulah mereka tidak punya anak-cucu, tidak mempunyai keturunan dan akhirnya penduduknya tidak ada. Tetapi, tidak demikian bukan? Penduduk kota ini masih ada, keturunan mereka tetap ada sampai TUHAN sendiri membinasakannya. Jadi, bagaimana mungkin kota ini tetap memiliki keturunan (penduduk) kalau semua laki-lakinya gay? Lalu, bagaimana Lot dan keluarganya yang katakanlah “normal” (non-gay) bisa bertahan tinggal di kota “gay” itu, sampai TUHAN sendiri yang memaksanya keluar dari kota tersebut?

4.   Mari kita lihat perkataan para lelaki kota itu di Kej. 19:9 “... Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita! Sekarang kami akan menganiaya engkau lebih dari pada kedua orang itu!”. Mereka hendak melakukan kejahatan kepada tamu Lot itu dengan alasan bahwa tamu itu adalah “orang asing”, dan mereka dianggap menjadi hakim atas kota itu. Alasan ini sepertinya mengindikasikan bahwa penduduk setempat tidak suka dengan kedatangan orang asing, apalagi kalau orang asing itu datang untuk menjadi hakim. Sebelum orang asing itu “menghakimi” kota Sodom dan Gomora, terlebih dahulu penduduknya datang ke rumah Lot untuk “menghakimi” orang asing dimaksud, tentu dengan cara-cara yang sangat jahat sampai kota itu dianggap durjana (lih. 19:15). Hal ini diperkuat dengan ancaman mereka kepada Lot “...Sekarang kami akan menganiaya engkau lebih dari pada kedua orang itu! (Kej. 19:9c). Ini adalah rencana penganiayaan yang luar biasa! padahal, di Timur Tengah, keberlangsungan hidup seseorang bergantung pada  kebaikan hati orang asing. Karena itu, menolong orang asing merupakan kewajiban agama yang terpenting. Bagi orang Israel sendiri, ada perintah untuk tidak menindas orang asing (lih. Imamat 19:33-34). Sayang sekali, penduduk kota Sodom dan Gomora telah melanggar “tradisi” Timur Tengah itu, dan pelanggaran ini berakibat bagi terancamnya keberlangsungan hidup mereka, dan kita tahu bersama bahwa kota itu kemudian dihancurleburkan oleh TUHAN setelah kedua malaikat-Nya (orang asing) hampir saja diperlakukan dengan sangat durjana oleh penduduk kota itu.

5. Bagaimana mungkin penduduk Sodom dan Gomora berani melanggar tradisi menghormati tamu yang datang? Alasannya tidak jelas, namun pada zaman kuno, ada praktik seks suci (seks bakti/sakral), termasuk dengan “makhluk ilahi” (mis. malaikat). Orang-orang akan melakukan hubungan seksual dengan para pelacur kuil yang menurut mereka mewakili dewa-dewi. Dengan melakukan seks suci itu, orang-orang percaya bahwa mereka akan menerima berkat yang luar biasa dari dewa. Jika orang-orang Sodom menyadari bahwa malaikat yang datang ke kota mereka dikirim oleh Tuhan, mereka mungkin berpikir dan menyimpulkan bahwa “memperkosa” para malaikat itu dapat memberi mereka kekuatan supranatural yang luar biasa. Apakah praktik kuno ini telah membutakan mata, hati atau pikiran penduduk kota Sodom dan Gomora sehingga hendak memperlakukan tamu itu dengan sangat jahat? Belum ada jawaban yang pasti!

6.   Seluruh pasal pertama kitab Yesaya memuat kecaman keras atas Yehuda. Kejahatan dan kebejatan mereka dibandingkan dengan Sodom dan Gomora. Mereka memberontak melawan Allah, kurang pengetahuan, berbalik dari pada TUHAN, penyembahan berhala, terlibat dalam ritual keagamaan yang tidak berarti, menjadi tidak adil dan menindas orang lain, tidak peka terhadap kebutuhan janda dan anak yatim, melakukan pembunuhan, menerima suap, dll. Persoalan utama di sini adalah kehidupan peribadatan/keagamaan yang tidak diikuti dengan tindakan keadilan sosial. Hal yang sama juga kita temukan dalam kitab Yehezkiel 16:49-50 “Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin. Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan kekejian di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu”. Jadi, dari kedua kitab ini (Yesaya 1 & Yehezkiel 16:49-50) tidak ada sama sekali referensi tentang homoseksualitas atau penyimpangan seksual lainnya di kota Sodom dan Gomora seperti yang diasumsikan selama ini. 

7. Sekarang kita membaca surat Yudas 1: 7 (Alkitab TB LAI), “sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang”. Dengan teks terjemahan baru LAI ini maka nampaknya dosa Sodom dan Gomora terkait “homoseksualitas” ada benarnya. Namun apabila kita mengkaji lebih jauh lagi dalam bahasa Yunani, maka sedikit ada perbedaan. Bahasa Yunani yang dipakai untuk kata “percabulan dan kepuasan-kepuasan tak wajar” adalah “SARKOS HETERAS”, yang secara harfiah dapat diterjemahkan “kedagingan lainnya” (Ingg. “other flesh”). Jika kata ini (other flesh) dikaitkan dengan kebiasaan kuno, maka ada kedekatannya dengan praktik “KANIBALISME” dalam budaya Kanaan kuno. Selain itu, dari kata “Sarkos Heteras” ini lahirlah kata “heteroseksual”, jadi bukan homoseksual.

8. Jadi, walaupun belum ada kesimpulan yang pasti tentang dosa-dosa Sodom dan Gomora, namun dapat dikatakan bahwa kota Sodom dan Gomora memang diwarnai oleh berbagai praktik kehidupan yang penuh dengan kedurjanaan, yang telah membuat orang-orang di sekitar mereka berkeluh kesah, dan karena itu menurut TUHAN Allah mereka patut mendapatkan hukuman yang setimpal. 

Saturday, July 16, 2016

Berani Mengambil Bagian yang Terbaik (Lukas 10:38-42)



Rancangan Khotbah Minggu, 17 Juli 2016
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo

A.    Penjelasan Teks
Teks kita hari ini berbicara mengenai dua tokoh yang secara garis keturunan sangat dekat, tetapi sangat berbeda dalam hal memanfaatkan waktu (kesempatan) yang ada, dan itu terlihat dalam hal penyambutan atau pelayanan mereka kepada seorang tamu agung mereka, yaitu Yesus yang saat itu datang berkunjung ke kampung atau rumah mereka. Kisah ini ditulis “hanya” oleh Lukas bukan untuk mempertentangkan kedua tokoh ini, bukan untuk mempertentangkan aktivitas mereka berdua, bukan juga untuk menyatakan bahwa yang satu lebih rohani sedangkan yang lain lebih duniawi karenanya tidak perlu dicontoh. Kisah ini mengajak para pembaca awalnya (dan kita sekarang) untuk (berani atau sebaliknya tidak berani) mengambil keputusan atau menentukan pilihan terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dengan segala pikuk hiruknya itu.

Dua perempuan ini (Marta dan Maria) memiliki pilihan masing-masing untuk melakukan sesuatu ketika Yesus datang ke rumah mereka, dan masing-masing pula dikendalikan oleh sesuatu yang berbeda. Marta merupakan representasi orang-orang yang mencoba mendapatkan kebahagiaan dan mengisi waktunya dengan memenuhi kriteria sistem poleksos Romawi (poleksos = politik, ekonomi, sosial) yang umumnya dipenuhi oleh “keglamoran” dalam berbagai bentuk; sedangkan Maria adalah representasi mereka, yang dengan penuh keberanian meninggalkan sukacita yang ditawarkan oleh sistem poleksos Romawi tersebut, dan berkenan menerima kebahagiaan & sukacita yang ditawarkan oleh Yesus, sekali pun mungkin akibatnya Maria berdiskusi dengan Yesus tanpa snack dan makanan (sebagai lambang kebahagiaan sistem poleksos Romawi). Artinya Maria berhasil keluar dari pemahaman umum tentang kebahagiaan dan sukacita, dan kini menyerahkan diri untuk dikendalikan oleh pemahaman baru akan kebahagiaan dan sukacita di dalam Yesus. Keputusan Maria sebenarnya cukup radikal, dan justru di situ pesan itu menjadi kabar sukacita.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Marta; toh apa yang dia lakukan dengan kesibukannya itu adalah untuk melayani Yesus, bukan untuk dirinya sendiri. Adalah sangat wajar juga kalau dia kesal, uring-uringan, dan akhirnya mengeluh kepada Yesus karena saudaranya “Maria” yang seolah-olah tidak peduli dengan kesibukannya itu dan hanya duduk saja dekat kaki Yesus mendengarkan perkataan-Nya. Tetapi apa yang terjadi? Ketika Marta dengan lumayan kasar mengeluh kepada Yesus tentang saudaranya yang nampaknya malas itu, maka Yesus menjawab dengan lemah lembut tetapi tegas. “Marta, Marta ...”. Kata-kata Yesus di sini tidak untuk menyalahkan Marta, dan tidak menganggap kesibukan melayani tersebut salah. Pelayanan Marta dapat dianggap baik, namun dalam penilaian Yesus pilihan dan tindakan Maria adalah yang terbaik sebab ia memperhatikan hal yang perlu pada saat itu. Marta ternyata telah dikuasai atau dikendalikan oleh kekuatiran, kesusahan dan kesibukan dengan banyak perkara (dengan banyak kegiatan) dan melupakan sesuatu yang sangat berharga pada saat itu, yaitu satu kesempatan emas yang tidak akan terulang lagi, “mendengarkan perkataan Tuhan Yesus” yang sedang berkunjung ke rumah mereka.

Yesus sebenarnya tetap menghargai apa yang dilakukan oleh Marta untuk melayani Dia, tetapi Yesus juga mengingatkan bahwa Marta seharusnya berlaku seperti saudaranya Maria, mampu menentukan/memilih prioritas pada kesempatan kunjungan-Nya itu; dan itulah yang dikatakan Yesus tadi di ayat 42: tetapi hanya satu yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya. Artinya, Maria telah mempergunakan kesempatan yang ada dan mengambil keputusan untuk memilih yang terbaik pada saat itu, yaitu firman kehidupan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus. Dalam hal ini Maria dikendalikan oleh prioritas, yang baginya adalah yang terutama, yakni duduk dekat kaki Yesus.

B.    Renungan
Teks ini mengajarkan kita bahwa pengikut Kristus harus berani mengambil pilihan yang terbaik dalam menjalani kehidupannya, dalam menerima dan melayani Yesus, yaitu pilihan yang mungkin saja tidak populis, dianggap ketinggalan zaman (kuno), dianggap terlalu idealis dan kaku, namun dengan pilihan terbaiknya itu dirinya tidak terbawa arus zaman yang semakin “edan” ini. Lihatlah misalnya betapa seringnya kegiatan gereja justru telah dipengaruhi (“dirusak”) oleh sistem, gaya, pola kehidupan dan kegiatan dunia yang didominasi oleh keglamoran, monumental, materialistis, hedonisme, orientasi uang, orientasi jabatan/kekuasaan, orientasi prestise, dll.

Perhatikan misalnya perayaan hari-hari besar gerejani yang seolah-olah tidak bermakna kalau tidak banyak kegiatan, termasuk keharusan adanya kegiatan “lucky draw” (undian). Hal ini terjadi terutama dalam perayaan-perayaan Natal yang diisi dengan banyak kegiatan, pemberitaan firman Tuhan hampir-hampir tenggelam dalam berbagai kegiatan tersebut. Hal serupa juga dapat kita lihat dalam hal pembangunan gedung gereja yang notabenenya “rumah Tuhan”, pembangunan kantor dan rumah dinas pendeta, termasuk rumah pribadi para pendeta, berlomba-lomba dalam berbagai kemegahan walaupun masih banyak warga jemaatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Para pelayan gereja pun “bersaing” mendapatkan “posisi dan barang mewah” tertentu dengan menghalalkan segala cara, dan tidak ada bedanya dengan para pejabat pemerintah, bahkan mungkin lebih “mengerikan”. Tenggelam dalam segala pikuh hiruk dunia.

Atau, lihat misalnya kebiasaan gereja kita untuk mendapatkan dana yang besar, dilakukan dengan “lelang” yang sebenarnya berasal dari tradisi bisnis yang tentunya menempatkan mereka yang memberi lebih banyak sebagai pihak yang lebih diutamakan, dihormati, dan bahkan disanjung-sanjung. Tuhan pun mendapatkan bagian yang akhir saja, sekadar ucapan syukur.

Hal yang sama juga dapat kita temukan dalam gaya hidup kita, sudah banyak yang menganut pola hidup “jalan pintas” (shortcut), sebab dunia memang menawarkan berbagai kemudahan bagi manusia. Mari kita lihat contohnya di dunia pendidikan, karena besok (18/07/2016) sekolah-sekolah akan memulai kegiatan belajar mengajarnya kembali. Lihat betapa dunia pendidikan kita “rusak” karena tawaran pendidikan murah meriah – gratis tanpa garansi mutu, bahkan pendidikan teologi pun diobral sedemikian rupa, jauh lebih bobrok daripada pendidikan sekuler. Dunia menawarkan segala kemudahan walaupun melalui jalur yang salah, sayang sekali anak-anak Tuhan menyambut sangat baik tawaran menggiurkan itu. Tragis memang!

 
“Berani mengambil bagian yang terbaik” merupakan tema sentral teks ini, tetapi terbaik menurut ukuran Tuhan, bukan menurut ukuran manusia, bukan menurut kebiasaan dunia, bukan menurut pemahaman kebanyakan orang. Pertanyaannya ialah bagaimana kita tahu bahwa bagian terbaik yang kita pilih sudah sesuai dengan ukuran atau standar Tuhan? Atau, bagaimana caranya supaya kita memiliki keberanian untuk memilih yang terbaik dalam pandangan Tuhan? Sederhana saja, yaitu dengan duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan Dia. Itu berarti kita sedang mengisi hidup kita dengan sesuatu yang sangat bermakna, sesuatu yang memiliki nilai hidup bersama Yesus. Hanya apabila kita selalu lebih dulu mendengarkan suara Yesus kita akan memiliki kemampuan untuk mengambil bagian yang terbaik dalam kehidupan ini; hanya dengan mendengarkan dan bersekutu dengan Tuhan kita akan dimampukan juga untuk berbuat, bekerja, dan melayani dengan memenuhi kriteria Tuhan, bukan kriteria dunia ini. Sayang sekali, pada zaman sekarang banyak orang, termasuk para hamba Tuhan, yang justru mengalami kekeringan spiritual karena berbagai faktor, salah satunya adalah “ketiadaan” waktu untuk duduk dengan tenang mendengarkan firman Tuhan dan bersekutu dengan Kristus.



Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...