Saturday, May 9, 2015

Siapakah yang bisa Mencegah Karya Roh Kudus? (Kisah Rasul 10:44-48)



Bahan Khotbah Minggu, 10 Mei 2015
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

10:44   Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.
10:45   Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga,
10:46   sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus:
10:47   “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?”
10:48   Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.

Pada mulanya, Petrus dapat dikatakan sebagai representasi kelompok Kristen Yahudi yang cukup fanatik, belum terbuka terhadap bangsa-bangsa lain, dan menganggap keselamatan itu ditujukan (hanya) bagi keturunan Yahudi saja. Ada beberapa peristiwa yang membuktikan hal ini, dan yang paling dekat dengan teks renungan kita pada hari ini adalah ketika Petrus pada awalnya “menolak” untuk memberitakan kabar keselamatan bagi Kornelius yang ditandai dengan tiga kali penolakannya atas tawaran Tuhan untuk memakan makanan yang selama ini mereka anggap haram (lih. Kis. 10:14). Namun peristiwa perjumpaan-Nya dengan Tuhan melalui penglihatan itu, dan diikuti kemudian dengan pertemuannya dengan Kornelius, telah membuka mata Petrus bahwa ternyata Allah sendiri menghendaki bangsa-bangsa lain itu mendapatkan bagian dalam keselamatan di dalam Kristus, dan bahwa Allah sendiri berkenan menerima mereka yang selama ini dianggap kafir, dan itu dibuktikan dengan pencurahan Roh Kudus bagi orang-orang non-Yahudi.

Melalui pengalaman Petrus bersama Kornelius, dan dilanjutkan dengan kelompok besar non-Yahudi dalam teks renungan kita pada hari ini, menjadi jelas bahwa Roh Kudus itu dicurahkan atas orang Yahudi maupun non-Yahudi, dan tidak ada si-apa pun yang bisa mencegah-Nya, termasuk Petrus dan kelompok Kristen Yahudi sendiri. Karya Roh Kudus atas orang-orang non-Yahudi itu pun membuat Petrus dan orang percaya dari kelompok Yahudi (golongan bersunat) kagum (tercengang-cengang), apalagi bangsa-bangsa lain yang dihinggapi Roh Kudus itu juga mampu melakukan hal-hal yang luar biasa, misalnya berbicara dalam bahasa Roh dan memuliakan Allah (lih. Kis. 11:15-16). Jadi, terbukti bahwa Allah tidak membuat perbedaan antara orang-orang percaya keturunan Yahudi dan non-Yahudi, sebab kedua golongan ini sama-sama diterima oleh Yesus Kristus. Artinya, teks renungan kita pada hari ini semakin memberi kesadaran bagi Petrus bahwa kalau Allah sendiri berkenan menerima orang-orang keturunan non-Yahudi, dan membuka pintu keselamatan bagi mereka, bahkan mencurahkan Roh Kudus atas mereka, lalu siapakah Petrus, siapakah orang Kristen Yahudi, siapakah manusia yang dapat mencegah-Nya? Jawabannya adalah bahwa karya Roh Kudus tidak dapat dicegah atau dihambat oleh sia-pa pun.

Sdra/i yang terkasih, Allah berkenan memberikan Roh Kudus bagi setiap orang, baik bagi kelompok Yahudi maupun non-Yahudi, yaitu bagi mereka yang percaya atau beriman pada Yesus Kristus (bnd. Kis. 11:17). Bangsa-bangsa lain tidak harus melakukan atau memenuhi syarat-syarat tertentu seperti dalam tradisi Yahudi, mereka cukup percaya pada Yesus, dan karena iman itulah Allah berkenan menganugerahkan mereka Roh-Nya yang Kudus. Mereka tidak perlu menjadi penganut agama Yahudi (proselit), tidak harus dibaptis terlebih dahulu dengan air, tidak perlu menjalani sunat seperti orang-orang Yahudi, bahkan ekstremnya mereka tidak perlu “dipaksa” terlebih dahulu untuk bertobat, sebab Roh Kudus sendiri dalam kebebasan-Nya telah berkarya atas mereka. Ini menandakan bahwa Allah menghendaki semua bangsa diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Menarik sekali perkataan Petrus di ayat 47: “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Dengan perkataan ini, Petrus menegaskan “pencerahan” yang diperolehnya sekaligus mengajak kelompok Yahudinya untuk menyadari bahwa tidak ada lagi alasan untuk tidak membaptis mereka yang non-Yahudi, tidak ada lagi alasan untuk menutup diri dari mereka, sebab Allah sendiri telah berkenan menerima mereka dengan mencurahkan Roh Kudus-Nya atas mereka. Orang-orang non-Yahudi ini telah percaya pada Yesus dan telah mengalami baptisan di dalam Roh Kudus. Sekali lagi, hal ini menandakan penerimaan Allah akan orang-orang non-Yahudi, menegaskan bahwa Allah berkenan mengikutkan mereka dalam rencana keselamatan itu, walaupun mereka tidak mengikuti segala macam aturan tradisi (Kristen) Yahudi.

Sdra/i yang dikasihi Tuhan, kita tentunya patut bersyukur karena Allah berkenan menyelamatkan kita; kita patut bersyukur karena kita semua diselamatkan oleh Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, dan berkenan mencurahkan Roh Kudus atas kita masing-masing, bahkan tanpa membeda-bedakan. Yesus Kristus berkenan menyelamatkan siapapun yang Dia kehendaki; Dia menyelamatkan para pelayan-pelayan-Nya, Dia juga menyelamatkan warga jemaat biasa; Dia menyelamatkan para pembesar/pejabat, Dia pun menyelamatkan rakyat/masyarakat biasa; Dia menyelamatkan orang dari berbagai latar belakang kehidupan, dari berbagai latar belakang organisasi gereja, dlsb. Siapakah yang dapat mencegah Tuhan Yesus untuk melakukan itu semua? TIDAK ADA!

Sdra/i yang terkasih, belajar dari pengalaman Petrus dan orang-orang yang ada di sekitarnya pada waktu itu, bahwa oleh karya Roh Kudus Petrus dkk pada akhirnya menyadari, mengakui, dan menyatakan bahwa Allah memang berkarya atas bangsa-bangsa lain, dan bahwa Roh Kudus pun dicurahkan atas mereka, sama seperti pengalaman orang-orang percaya dari bangsa Yahudi. Apa artinya? Yaitu bahwa orang-orang yang telah mendapatkan pencerahan dari Roh Kudus pasti mampu membuka diri satu terhadap yang lain, pasti mampu menerima satu dengan yang lain tanpa harus mengajukan syarat-syarat tertentu yang kadang-kadang subjektif. Orang-orang yang telah mendapatkan curahan Roh Kudus pasti memperlakukan sesamanya dengan baik tanpa membeda-bedakan, tanpa melihat latar belakang kehidupannya. Maka sangatlah ironi kalau ada orang mengaku orang Kristen, mengaku percaya pada Kristus, dan mengaku telah menerima ilham Roh Kudus, tetapi dia memandang dan memperlakukan sesamanya dengan cara yang berbeda, biasanya “menghargai” mereka yang dianggap “hebat, berkuasa, ada jabatan, dll”, sementara menyepelekan mereka yang dianggap “rendah, kecil, tidak berharga” atau ada istilah dalam bahasa Nias “tenga niha”.

Sdra/iku, ada juga orang yang merasa berkecil hati kalau Tuhan memberkati sesamanya, apalagi kalau sesamanya itu merupakan “lawan atau musuhnya”. Kalau Tuhan sendiri mengasihi, menyelamatkan dan memberkati siapa pun yang Dia inginkan, adakah yang dapat mencegah-Nya? Siapakah yang dapat menghalangi Allah? Siapakah yang dapat mengatur Allah dalam kasih karunia-Nya? Siapakah yang dapat memerintahkan Allah dalam karya Roh Kudus-Nya? TIDAK ADA! Jadi, bukankah jauh lebih baik kalau kita bersyukur atas keselamatan dan karya Roh Kudus yang telah kita terima, dan ikut bersukacita kalau ada orang lain juga menerimanya? Dengan demikian kita dapat menjalani dan menikmati kehidupan dengan lebih baik, dan itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar telah menerima curahan Roh Kudus dari Tuhan.


[1] Bahan Khotbah Minggu, 10 Mei 2015, di ONKP Jemaat Kota Lölöwa’u, dalam rangka Kunjungan STT BNKP Sundermann, oleh Pdt. Alokasih Gulö, M.Si

Sunday, May 3, 2015

TUHANlah Raja, bagi-Nya segala Pujian dan Kemuliaan (Mazmur 47:1-10)



Bahan Khotbah Minggu, 3 Mei 2015
Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

47:1  Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Mazmur. (47-2) Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai!
47:2  (47-3) Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi.
47:3  (47-4) Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita,
47:4  (47-5) Ia memilih bagi kita tanah pusaka kita, kebanggaan Yakub yang dikasihi-Nya. Sela
47:5  (47-6) Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala.
47:6  (47-7) Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah!
47:7  (47-8) Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran!
47:8  (47-9) Allah memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus.
47:9  (47-10) Para pemuka bangsa-bangsa berkumpul sebagai umat Allah Abraham. Sebab Allah yang empunya perisai-perisai bumi; Ia sangat dimuliakan.

Mazmur ini, baik dalam konteks nas maupun dalam konteks historisnya, dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa penting yang telah dialami oleh bangsa Israel sebagaimana terungkap dalam Mazmur 46. Peristiwa penting dimaksud adalah kemenangan besar yang didapatkan oleh bangsa Israel atas musuh-musuh mereka, yaitu bangsa-bangsa lain yang sebenarnya jauh lebih besar dan lebih kuat daripada mereka.[2]Bangsa Israel pun menyadari hal ini, sehingga mereka mengakui bahwa kemenangan atas bangsa-bangsa lain itu diperoleh hanya karena pertolongan TUHAN semata, bahkan mereka menegaskan bahwa peperangan yang berakhir dengan kemenangan atas bangsa-bangsa lain yang jauh lebih kuat itu sesungguhnya dilakukan oleh TUHAN Allah sendiri yang telah mendengar keluh kesah dan telah memperhatikan kesengsaraan mereka, sehingga TUHAN Allah itu datang sendiri menaklukkan musuh-musuh mereka (Mzm. 47:4). Ekspresi akan kemenangan mereka inilah yang terungkap dalam Mazmur 46, yang diarahkan pada pengakuan bahwa TUHAN Allah adalah sumber perlindungan, kekuatan, penolong, dan kota benteng yang teguh (ay. 2, 7, 8-10).

Di Mazmur 47, dalam teks renungan kita pada hari ini, pemazmur mengajak segenap umat TUHAN untuk melantunkan puji-pujian dan sorak-sorai bagi TUHAN Allah yang telah turun dari Surga untuk menolong dan melindungi mereka (Mzm. 46), dan sekarang TUHAN Allah itu kembali naik ke Surga (ay. 6), menuju tahta kerajaan-Nya yang kudus (ay. 9). Pemazmur mengajak seluruh umat TUHAN, bahkan mengajak segala bangsa (ay. 2) yang telah mengalami pertolongan dan perlindungan-Nya untuk bermazmur sekaligus mengakui kekuasaan Allah sebagai Raja yang sesungguhnya, Raja yang tidak hanya memerintah atas bangsa Israel tetapi juga memerintah atas bangsa-bangsa lain, Raja yang besar atas seluruh bumi (ay. 3), Raja yang sangat dimuliakan (ay. 10). Apa artinya, yaitu bahwa tidak ada alasan untuk tidak memuji Tuhan, tidak ada alasan untuk tidak mengakui kekuasaan Tuhan, dan tidak ada alasan untuk tidak menerima Dia sebagai penolong, pelindung, dan penguasa mutlak dalam kehidupan manusia.

Sdra/i yang terkasih, manusia, orang Kristen, termasuk kita semua yang hadir dalam kebaktian pagi ini, akan sulit mengekspresikan pujian dan pengakuan akan kekuasaan Allah, apabila kita menganggap Allah belum pernah atau jarang menolong dan melindungi kita, apabila kita menganggap kehidupan ini dapat dijalani karena kekuatan atau kemampuan kita sendiri, atau apabila kita cenderung melihat lebih pada kegagalan atau kekurangan yang kita miliki dan abai terhadap kelebihan atau keberhasilan yang pernah kita alami. Seorang teman pendeta berbagi kisah sebuah cerita/percakapan seorang ibu (istri) dengan MC pada suatu pesta Golden Anniversary:
MC    : Apakah ibu merasa suami ibu ada kekurangannya?
Ibu    : Banyak sekali, sebanyak bintang di langit!
MC    : Apakah ada kebaikan suami ibu?
Ibu    : Sedikit sekali, bagaikan matahari di langit!
MC    : Terus, apa yang membuat ibu bisa bertahan hidup bersamanya setengah abad lamanya?
Ibu    : Karena begitu matahari terbit, semua bintang itu menjadi tidak kelihatan!

Orang-orang yang selalu menghayati kehidupan berimannya dengan benar, akan mampu melihat, mengakui, dan menjalani hari-harinya dengan penuh sukacita, bahkan dalam masalah dan tantangan besar sekalipun, dia masih mampu melihat bahwa kuasa Tuhan jauh melebihi masalah dan tantangan dimaksud, dia mampu melihat bahwa pertolongan dan perlindungan Tuhan jauh melebihi kelemahan/kekurangan dan kegagalan yang dialami, dan keselamatan yang dari Tuhan jauh melebihi kesulitan dan ancaman dalam kehidupan ini. Berangkat dari perenungan itu, kita mampu bermazmur, memuji, dan bersorak-sorai bagi Tuhan, baik ketika kita berada dalam gereja ini, maupun ketika kita kembali menjalani kehidupan kita sehari-hari.

Namun, tidak bisa dipungkiri sdra/i, bahwa banyak orang yang memuji dan mengakui Tuhan dengan bibirnya ketika mengikuti kebaktian, tetapi seringkali absen dalam merealisasikan pujian dan pengakuan itu dalam kehidupan sehari-hari, karena lebih mengandalkan kekuatan, kemampuan, kekayaan, pendidikan, jabatan, dan pengaruhnya untuk kepentingan diri sendiri, seolah-olah Tuhan tidak sedang mengamatinya, seolah-olah Tuhan tidak berkuasa dalam kehidupannya, padahal sesungguhnya Tuhanlah Penguasa mutlak, Penolong, Pelindung, dan Sumber keselamatan bagi kita. Ada orang Kristen yang tampil, tersenyum, dan bertutur kata sebagai anak-anak Tuhan ketika berada di dalam gereja, tetapi seringkali mengalami kesulitan untuk tampil, tersenyum, bertutur kata, bergaul, dan bertingkah laku sebagai anak-anak Tuhan di tempat kerja, di perjalanan, di warung-warung, di tempat tinggal (rumah atau kos-kosan), di sekolah/kampus, dan di tempat-tempat tertentu. Mengapa? Banyak faktornya, salah satunya adalah ketidakmampuan kita dalam mengalami dan menghayati pertolongan, perlindungan, dan keselamatan dari Tuhan, ketidakmampuan kita untuk mengakui kekuasaan Tuhan dalam seluruh keberadaan hidup kita.

Sdra/i yang dikasihi Tuhan, persoalan lain yang bisa muncul sehubungan dengan teks renungan kita pada hari ini adalah tentang cara kita memuji Tuhan. Dalam faktanya, ada orang/gereja yang memuji Tuhan dengan cara yang cukup ramai (bertepuk tangan, segala jenis alat musik, bersorak sorai, dll), ada juga yang memuji Tuhan dengan cara yang lebih tenang (dengan mengandalkan KJ, BZ, dan sejenisnya). Banyak orang berdebat bahkan saling menghakimi hanya karena cara memuji Tuhan yang berbeda itu, padahal Tuhan sendiri tidak pernah mempermasalahkannya. Sesungguhnya, setiap orang bebas memuji Tuhan menurut penghayatan dan pengalaman imannya dengan Tuhan, sebab Tuhan sendiri pernah mengecam cara beribadah bangsa Israel (pada zaman nabi-nabi) karena cara beribadah mereka itu tidak diikuti dengan tingkah laku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Sdra/i yang terkasih, memuji dan memuliakan Tuhan berarti mensyukuri kehidupan yang dijalani sebagai anugerah Tuhan; mengakui Tuhan sebagai Raja berarti menjalani kehidupan dalam takut akan Tuhan, mencintai Dia dengan segenap hati dan akal budi kita. Hanya orang-orang yang seperti inilah yang mampu memuji dan memuliakan Tuhan sebagai Raja dan Sumber keselamatan. Amin.


[1] Bahan Khotbah Minggu, 3 Mei 2015, Kebaktian II BNKP Jemaat Hosiana, Pdt. Alokasih Gulö, M.Si
[2] Dalam sejarahnya, bangsa Israel, dhi kota Yerusalem pernah dikepung oleh salah satu bangsa super-power pada zaman kuno yaitu bangsa Asyur. Di bawah kepemimpinan raja Sanherib tentara Asyur menyerang Yerusalem pada tahun 701 SZB. Namun, TUHAN Allah menolong dan melindungi umat-Nya, sehingga suatu malam 185 ribu tentara Asyur yang hendak menyerang Yerusalem, mati karena kuasa Tuhan (lih. 2 Raj. 19:35); akhirnya Israel selamat.

Saturday, April 25, 2015

Kristuslah Sumber Keselamatan dan Kesaksian Kita (Kisah Rasul 4:5-12)



Bahan Khotbah Minggu, 26 April 2015
Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

4:5  Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem
4:6  dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar.
4:7  Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: “Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?”
4:8  Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua,
4:9  jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan,
4:10     maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati--bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu.
4:11     Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--,namun ia telah menjadi batu penjuru.
4:12     Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”


Sdra/i yang dikasihi Tuhan, untuk memahami sepenuhnya teks renungan kita pada hari ini, maka sebaiknya kita melihat kembali peristiwa sebelumnya yang “dipermasalahkan” oleh para pemimpin bangsa dan agama Yahudi. Dalam pasal 3, Petrus dan Yohanes naik ke Bait Allah untuk beribadah pada pukul 3 sore. Saat mereka sedang melewati Gerbang Indah, mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahirnya dan setiap hari dia ada di pintu gerbang bait Allah untuk meminta sedekah (mengemis), berharap setiap orang yang ke bait Allah itu akan memberikan uang atau sejenisnya kepadanya, toh pemberian mereka itu juga bagian dari ibadah. Petrus dan Yohanes pun melihat orang lumpuh ini ketika mereka ke Bait Allah, namun alih-alih mereka memberikan orang ini “sedekah” (seperti selama ini dia harapkan), Petrus justru menyuruh dia berjalan, tentu setelah meyakinkan dia bahwa di dalam nama Yesus Kristus ada kesembuhan. Kita tidak tahu pasti reaksi awal dari orang lumpuh ini, mungkin saja dia sedikit ragu-ragu, sehingga Petrus harus memegang tangannya dan membantu dia berdiri, seterusnya dia bisa berjalan, dia menikmati dan merayakan sukacita yang luar biasa. Ketika orang-orang, yang sebelumnya tahu bahwa dia adalah orang lumpuh, melihat laki-laki tersebut berjalan, melompat-lompat dan memuji Allah, mereka berkumpul dan menanyakan apa yang sedang terjadi (Kis. 3:1-10). Petrus memanfatkan kesempatan itu untuk memberitakan tentang Yesus, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bersaksi tentang Kristus yang telah bangkit dan menyembuhkan (Kis. 3:11-26). Sementara ia berkhotbah, para pemimpin bangsa Yahudi, datang di tempat kejadian untuk melihat mengapa ada semacam keributan di tempat tersebut. Ketika mereka mendengar Petrus berkhotbah dan bersaksi tentang Yesus yang telah mereka disalibkan, terutama setelah mendengar tindakan Petrus dan Yohanes yang menyembuhkan orang lumpuh tadi, mereka sangat marah. Mereka semakin geram dan marah ketika mendengar dari Petrus bahwa Yesus telah bangkit dari kematian dan telah menyembuhkan yang lumpuh, sehingga dalam kemarahan yang luar biasa mereka menangkap dan memenjarakan Petrus dan Yohanes (Kis. 4:1-3). Namun, pesan Injil telah tersampaikan dan 5000 orang diselamatkan oleh kasih karunia Allah hari itu (Kis. 4:4).

Sdra/i, setelah menghabiskan satu malam di penjara, Petrus dan Yohanes dibawa di hadapandewan tertinggi agama Yahudi (Mahkamah Agama atau Sanhedrin yang didominasi oleh orang-orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan orang mati) untuk mempertanggungjawabkan tindakan mereka menyembuhkan orang lumpuh, termasuk ajaran mereka tentang Yesus Kristus yang telah bangkit. Dengan sangat licik mereka mengajukan pertanyaan singkat: “Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?" (ay. 7). Hana wa milaulau manö? Haniha zanehegö khömi wolau simanö? Para pemimpin Yahudi ini hendak mencari tahu legalitas tindakan Petrus dan Yohanes, sebab sejauh ini mereka belum memberikan surat kuasa bagi keduanya untuk mengajar dan menyembuhkan (bnd. misalnya dengan surat kuasa yang nantinya akan mereka berikan bagi Saulus ketika mengejar dan menganiaya pengikut Kristus, lih. Kis. 9:1-2). Pertanyaan para pemimpin Yahudi tersebut benar-benar menjebak, sebab ajaran agama mereka (PL) menegaskan bahwa hanya TUHAN sajalah yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan, dan kalau ada nama lain yang disebutkan (oleh Petrus dan Yohanes) maka itu dianggap sebagai penghujatan terhadap TUHAN, dan akibatnya adalah hukuman mati (bnd. Ul. 13:1-5); dan itulah yang mereka harapkan, mencari alasan untuk menghukum Petrus dan Yohanes.

Sdra/i, walaupun pertanyaan ini sangat menjebak, namun oleh kuasa Roh Kudus, Petrus justru memanfaatkan kesempatan dan pertanyaan tersebut untuk memberitakan pesanInjil bagi para pemimpin Yahudi. Pemberitaan mereka sangat jelas, yaitu tentang seorang yang bernama Yesus yang telah mereka salibkan dan mati tetapi telah dibangkitkan oleh Allah dari antara orang mati, dan sekarang dalam nama Yesus itulah orang sakit (lumpuh) tersebut dapat disembuhkan, dan di dalam Yesus itu juga ada keselamatan, keselamatan bagi bangsa Israel, keselamatan bagi bangsa-bangsa, keselamatan bagi siapa pun yang percaya kepada-Nya. Untuk meyakinkan para pemimpin Yahudi itu, di ayat 11 Petrus mengutip satu teks dalam PL yang mereka percayai sebagai nubuatan tentang Mesias, yaitu Mazmur 118:22. Dengan mengutip Mazmur 118:22 ini, Petrus mengarahkan perkataan Daud tersebut untuk Yesus Kristus (bnd. Mat. 21:42; Mrk. 12:10; Luk. 20:17). Para pemimpin Yahudi telah menolak Yesus sebagai Mesias (dengan ungkapan “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan”), tetapi kemudian Yesus telah membuktikan bahwa Dia adalah batu penjuru. Dalam tradisi Israel, batu penjuru sangatlah penting, sebab batu penjuru itu berfungsi sebagai pengikat pada sebuah bangunan; artinya sebuah bangunan tidak akan kokoh kalau tidak diikatkan pada batu penjuru. Dalam konteks dan pemahaman seperti ini, Petrus menunjukkan bahwa tindakan dan pengajarannya tidak membawa orang jauh dari Allah, juga tidak sedang menghujat Allah, justru dia sedang memberitakan penggenapan nubuatan PL tentang Mesias, dan menegaskan bahwa keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Kristus yang adalah Mesias dimaksud (ay. 12).

Sdra/i yang dikasihi Tuhan, teks ini, pengalaman dan kesaksian Petrus dan Yohanes, hendak mengajak kita untuk mendasarkan seluruh kehidupan kita di dalam Kristus, sebab di dalam Kristuslah kita mendapatkan kesembuhan dan keselamatan. Orang yang telah berjumpa dan mengalami Kristus yang bangkit, akan mampu bersaksi bagi diri sendiri, bagi sesama, bagi si-apa pun bahwa dia telah mendapatkan keselamatan dari Kristus, dan bahwa seluruh gerak hidupnya hanya didasarkan pada Kristus yang bangkit itu. Banyak orang mencari kesembuhan, kenyamanan, dan keselamatan di dunia ini, termasuk berburu batu akik demi kesenangan, persaingan, dan juga bisnis, sampai-sampai ada orang yang tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya sendiri, tidak peduli lagi dengan keluarganya, dan kadang-kadang bertengkar dengan orang-orang dekatnya hanya karena mengejar kesenangan sesaat. Hadia guna tagohi zoya ngawalö na lö tobali fangohahau dödöda, hadia guna ta’eregesi dödöda wamalua soya ngawalö na lö tobali fangaro wamati dan fahasara dödöda ba khö Keriso. Zayazaya gölö! Namun, di dalam Kristus hanya ada selalu damai sejahtera, bahkan dalam ancaman, tekanan, dan masalah pun damai itu tetap ada, sebab Kristus yang menyelamatkan.

Sdra/i yang terkasih, kita juga bisa melihat dengan jelas tadi bagaimana Petrus dan Yohanes memanfaatkan kesempatan yang ada, bahkan dalam situasi terancam, untuk bersaksi tentang Kristus yang hidup, bersaksi tentang Kristus yang menang, bersaksi tentang Kristus yang menyembuhkan dan menyelamatkan. Dan, kita pun (seharusnya) hidup untuk bersaksi, menyaksikan Kristus yang menyelamatkan itu; karenanya seluruh hidup kita, seluruh gerak-gerik kita, semua perkataan kita, pergaulan kita, pelayanan kita, kegiatan kita ... haruslah dapat menjadi kesaksian tentang Kristus.

Sdra/i, hari ini kita merayakan Paskah, secara khusus para pemuda yang tergabung dalam Forum Pemuda BNKP Resort 49. Secara formal, kita terpanggil untuk menyaksikan Kristus pada hari ini, menyaksikan Kristus satu terhadap yang lain, melalui berbagai kegiatan yang kita lakukan hari ini. Perayaan ini juga kiranya menjadi kesaksian bagi orangtua kita, bagi orang-orang di sekitar kita bahwa para pemuda BNKP di resort 49 dapat bersatu dan bersekutu dalam kasih Tuhan, dan dapat menjadi agen yang mendatangkan damai sejahtera di mana pun dia berada, tobali niha solohe fa’ohahau dödö gofu heza.Namun, kesaksian kita pada hari ini harus ditindaklanjuti dalam realitas hidup sehari-hari. Para pemuda harus mampu bersaksi di mana dan kapan saja, dengan berpola hidup seperti Kristus, amuata zamati, lagulagu zamati, fariawösa ma fahuwusa zamati, feheda zamati, fa’auri zamati, da’ö ni’o’aurifagönia bongi ma’ökhö. Mengapa? Sebab, dalam Kristus ada damai sejahtera, dalam Kristus ada keselamatan, dan karena Kristus itulah maka kita berani untuk bersaksi! Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kita merayakan paskah pada hari ini? Dengan kuasa Kristus yang menyelamatkan!


[1] Bahan Khotbah Minggu, 26 April 2015, Perayaan Paskah Forum Pemuda Resort 49 BNKP Tahun 2015, oleh Pdt. Alokasih Gulö.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...