Sunday, April 16, 2023

Diperbarui untuk Hidup menurut Ketetapan Allah – Tebohouni Ena’ö Auri Molo’ö Amakhoita Lowalangi (Yehezkiel 36:22-27)

Khotbah Minggu, 16 April 2023
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

22 Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang.
23 Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa.
24 Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.
25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.
26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
27 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.


Menurut kesaksian Alkitab, bangsa Israel adalah umat pilihan Allah. Sebagai umat pilihan Allah, bangsa Israel ini mestinya hidup sesuai dengan kehendak Allah yang memilih mereka tersebut. Sayang sekali, bangsa Israel justru melakukan perbuatan yang najis, perbuatan yang melanggar kekudusan Allah. Mereka menyembah berhala-berhala seperti bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah, ketidakadilan dan penindasan terjadi di mana-mana, para pemimpin tidak bisa menjadi contoh yang baik di tengah-tengah umat dan tidak menjadi pengayom dan gembala yang baik bagi seluruh rakyat. Beberapa kali Allah memperingatkan mereka melalui para nabi-Nya, termasuk nabi Yehezkiel, tetapi bangsa Israel tidak peduli, mereka keras kepala dan tegar tengkuk. Akibatnya, mereka dibuang ke Babel, dan kota Yerusalem kebanggaan mereka dihancurleburkan. Ironisnya, bangsa itu pun menajiskan nama Allah yang kudus di negeri orang di mana mereka dibuang (Yeh. 36:21), dan itu sangat menyakiti hati Allah. Namun demikian, Allah tetap setia, Dia memang marah tetapi kasih-Nya tidak pernah berubah.

Dalam situasi seperti itulah nubuat Yehezkiel 36 ini muncul, dapat dikatakan sebagai semacam penghiburan bagi umat Israel yang hampir putus asa menanggung penderitaan karena dosa-dosa mereka. Kalau sebelumnya nabi Yehezikel menegur umat Allah karena ketidaksetiaan dan pemberontakan mereka kepada Allah sehingga mereka menerima hukuman berat (Yeh. 4-7), maka sekarang Yehezkiel mewartakan pengharapan dan janji Allah yang akan menyelamatkan dan memulihkan bangsa itu. Pesan kenabian Yehezkiel berubah dari penghakiman menjadi harapan, dari celaan menjadi janji. Sekarang setelah hukuman Tuhan diterima, Yehezkiel beralih ke masa depan dan cara Tuhan akan bertindak untuk menghidupkan kembali dan memulihkan umat-Nya.

Ayat-ayat utama kita (24-28) berada di tengah-tengah nubuat yang dimulai pada 36:16 dan berakhir pada 36:38. Ayat-ayat pembuka dari nubuat memberikan sejarah bangsa Israel yang berfokus pada kesalahan mereka. Mereka diingatkan akan masa lalu dan ketidaktaatan mereka, tetapi ramalan itu tidak berakhir di sana. Terlepas dari tindakan ini dan justru karena kepedulian Tuhan terhadap nama suci Tuhan, Tuhan akan bertindak sekarang untuk menyelamatkan mereka. Allah melakukan semua ini demi kekudusan-Nya (ay. 22-23), dan bukan karena perbuatan bangsa Israel. Mengapa? Karena kalau berdasarkan perbuatan mereka, bangsa Israel tersebut tidak layak diselamatkan dan dipulihkan; tetapi Allah, demi kekudusan-Nya, Dia berkenan mendatangkan keselamatan bagi umat-Nya, sehingga bangsa-bangsa mengetahui bahwa Allah adalah TUHAN yang sesungguhnya.

Artinya, penekanan utama dalam teks ini adalah pada peran Tuhan. Harapan yang diwartakan Yehezkiel bukanlah pada kesetiaan bangsa Israel itu, juga tidak dimaksudkan untuk menetapkan seperangkat aturan baru yang akan mereka ikuti. Tuhan adalah harapan mereka. Tuhan akan menyelamatkan mereka. Tindakan Tuhan tersebut secara ringkas meliputi:

mengumpulkan Israel kembali ke tanahnya (ay. 24);

membersihkan/menyucikan Israel (ay. 25);

dan memberi Israel hati dan semangat baru untuk menaati Taurat (ay. 26-27).

Hasil dari transformasi ini adalah bahwa Allah akan menjadi TUHAN mereka, dan mereka akan menjadi umat TUHAN. Hubungan perjanjian yang benar (yang pernah dilanggar oleh umat Israel) ditegakkan kembali.

Tuhan mengumpulkan (ay. 24)
Pertama, Tuhan akan mengumpulkan kembali umat Tuhan yang tercerai-berai dari bangsa-bangsa dan ke tanah mereka sendiri. Pembuangan telah membuat umat Allah tercerai-berai menjauh dari tanah, bait suci dan masyarakat. Pengalaman pengasingan ini merupakan pengalaman yang traumatis bagi masyarakat. Tuhan akan membalikkan pola ini dengan mengumpulkan umat. Pada pasal berikutnya, Yehezkiel 37, kita mendapat gambaran tentang pekerjaan Tuhan saat tulang-tulang kering menerima napas dan terhubung kembali. Orang-orang yang telah terbuang dan tercerai berai itu akan dikumpulkan kembali, hati yang telah hancur, kecewa dan putus asa itu akan dipulihkan kembali. Allah melakukan semua itu demi kekudusan-Nya, agar bangsa-bangsa mengenal bahwa Dialah TUHAN yang sesungguhnya. Kalau Allah berkenan mengumpulkan dan memulihkan kita kembali setelah mengalami masa-masa kritis, itu bukan karena jasa atau kehebatan kita, melainkan karena anugerah Tuhan.

Tuhan membersihkan (ay. 25)
Kedua, Tuhan akan menyucikan umat-Nya, membersihkan mereka dari pemberontakan dan pencemaran mereka. Kitab Yehezkiel berpendapat bahwa pengasingan adalah hukuman atas kejahatan mereka. Oleh karena itu mereka membutuhkan pemurnian. Perikop kita menyebutkan berhala sebagai salah satu elemen yang perlu disucikan. Tentu saja, ada proses yang mungkin panjang dan menyakitkan dalam rangka pemurnian tersebut. Kita pun harus siap menjalani proses pemurnian dari Allah apa pun konsekuensinya. Ada orang siap berbuat apa pun sesuka hatinya, tetapi tidak siap menanggung risikonya. Ada orang yang merasa bebas melakukan apa pun atau bebas berbicara tentang dan dengan cara apa pun, termasuk di medsos, tetapi tidak siap menerima akibat dari apa yang dia lakukan itu. Sebagai umat Tuhan, kita harus siap dimurnikan, dibersihkan, ditahirkan, atau disucikan oleh Allah dengan cara-Nya sendiri.

Tuhan memberikan kebaruan (ay. 26-27)
Akhirnya, Tuhan berjanji untuk memberi orang-orang hati yang baru dan semangat yang baru. Perumpamaan tersebut mewakili keinginan dan kehendak orang-orang, komitmen mereka yang diperbarui terhadap keinginan Tuhan. Mereka akan berpikir dan bertindak secara berbeda karena anugerah dari Tuhan. Hati mereka sudah membatu, yaitu mati dan tidak responsif, oleh sebab itu mereka membutuhkan “transplantasi”. Perhatikan bahwa mereka tidak membutuhkan hati rohani; mereka membutuhkan jantung yang berdetak dan bekerja. Mereka harus hidup kembali sesuai dengan keinginan Allah bagi mereka dan dunia. Semua itu dimungkinkan terjadi karena Roh Allah.

Yehezkiel 36:27

Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Saturday, March 25, 2023

Lakukanlah Keadilan dan Kebenaran – Falua Zatulö ba Siduhu (Yehezkiel/Hezekieli 45:9-17)

Khotbah Minggu, 26 Maret 2023
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

9 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Cukuplah itu, hai raja-raja Israel, jauhkanlah kekerasan dan aniaya, tetapi lakukanlah keadilan dan kebenaran; hentikanlah kekerasanmu yang mengusir umat-Ku dari tanah miliknya, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
10 Neraca yang betul, efa yang betul dan bat yang betullah patut ada padamu.
11 Sepatutnyalah efa dan bat mempunyai ukuran yang sama yang ditera, sehingga satu bat isinya sepersepuluh homer, dan satu efa ialah sepersepuluh homer juga; jadi menurut homerlah ukuran-ukuran itu ditera.
12 Bagi kamu satu syikal sepatutnya sama dengan dua puluh gera, lima syikal, ya lima syikal dan sepuluh syikal, ya sepuluh syikal, dan lima puluh syikal adalah satu mina.
13 Inilah persembahan khusus yang kamu harus persembahkan: seperenam efa dari sehomer gandum dan seperenam efa dari sehomer jelai.
14 Tentang ketetapan mengenai minyak: sepersepuluh bat dari satu kor; satu kor adalah sama dengan sepuluh bat.
15 Seekor anak domba dari setiap dua ratus ekor milik sesuatu kaum keluarga Israel. Semuanya itu untuk korban sajian, korban bakaran dan korban keselamatan untuk mengadakan pendamaian bagi mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
16 Seluruh penduduk negeri harus mempersembahkan persembahan khusus ini kepada raja di Israel.
17 Dan rajalah yang bertanggung jawab mengenai korban bakaran, korban sajian, korban curahan pada hari-hari raya, bulan-bulan baru, hari-hari Sabat dan pada setiap perayaan kaum Israel. Ialah yang akan mengolah korban penghapus dosa, korban sajian, korban bakaran dan korban keselamatan untuk mengadakan pendamaian bagi kaum Israel.”

Pada ayat sebelumnya Tuhan berbicara tentang zaman kebenaran yang akan datang yang berhubungan dengan bait suci, dan mengatakan itu akan menjadi waktu ketika para raja Israel tidak lagi menindas umat Allah (Yeh. 45:8). Visi tentang kebenaran masa depan itu dapat mengilhami para pemimpin (raja) pada zaman Yehezkiel untuk menghilangkan kekerasan dan penjarahan, menjalankan keadilan dan kebenaran, dan berhenti merampas milik umat Allah di zaman mereka sendiri.

Tuhan sangat peduli dengan kejujuran dan integritas yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Kejujuran dan integritas dimaksud terlihat dalam tiga hal, yaitu (1) sehubungan dengan sikap dan tindakan para raja Israel terhadap umat Tuhan, (2) sehubungan dengan timbangan apa pun, dalam hal ini neraca dan efa. Keduanya haruslah dilakukan dalam keadilan dan kebenaran.[1] Para raja bersikap dan bertindak adil dan benar, sementara itu seluruh masyarakat harus menerapkan timbangan yang jujur dalam urusan/bisnis sehari-hari. Kejujuran dan integritas yang ke-3 terlihat dari ibadah persembahan yang diberikan kepada Tuhan, sesuai dengan standar Tuhan, tidak lebih tidak kurang. Itulah kesalehan yang sesungguhnya, terwujud dalam sikap dan tindakan sehari-hari, kemudian terlihat dalam hal ibadah persembahan kepada Tuhan. Kesalehan yang sesungguhnya tidak bisa hanya memenuhi salah satunya.

Tuntutan Tuhan yang pertama agar raja Israel menghentikan segala bentuk ketidakadilan bagi umat Tuhan (kekerasan dan aniaya) menunjukkan bahwa pada waktu itu para pemimpin bangsa Israel menggunakan jabatan mereka untuk menindas rakyat, bukan mengayomi. Para raja itu menggunakan kedudukan atau jabatan mereka sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan di atas penderitaan rakyat banyak. Tanpa malu mereka menggunakan “alat/sarana negara” untuk melakukan kekerasan dan penganiayaan terhadap rakyat biasa. Fenomena penggunaan jabatan dengan tidak adil dan tidak benar seperti yang dulu dilakukan oleh raja-raja Israel juga semakin terlihat akhir-akhir ini. Fenomena ini sebenarnya sudah lama terjadi, hanya saja belum terungkap pada waktu itu, berbeda dengan era digital saat ini, semua serba terbuka. Saya tidak perlu menyebutkan satu persatu contoh kasus yang menunjukkan para pejabat yang memanfaatkan jabatannya sebagai kesempatan untuk menindas orang lain dengan berbagai cara, termasuk mengintimidasi (menakut-nakuti) dan korupsi. Hal yang cukup memprihatinkan adalah keluarga para pejabat yang malah seringkali lebih “pejabat dari pejabat”, lebih presiden dari presiden, lebih gubernur, lebih bupati dari bupati, dst. Hari ini, Tuhan berfirman: “cukup dan sudahilah semua itu, hentikan kekerasan dan penganiayaan, lakukanlah keadilan dan kebenaran.”

Tuntutan Tuhan yang kedua adalah agar masyakat banyak juga sungguh-sungguh mempraktikkan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, terutama sehubungan dengan urusan/bisnis, yaitu timbangan. Pada waktu itu memang ada berbagai timbangan atau ukuran di Israel, mulai dari neraca, efa, bat, homer, syikal, dll. Tuhan tidak melarang penggunaan timbangan/ukuran ini semua, justru itu penting untuk membantu kelangsungan kehidupan umat Israel. Tuhan hanya meminta mereka untuk jujur dan berintegritas dalam penggunaan semua timbangan atau ukuran tersebut. Tuhan tidak menyukai timbangan/ukuran yang menipu, Tuhan tidak senang dengan timbangan/ukuran yang curang, sebab timbangan yang menipu/curang merupakan wujud nyata dari ketidakadilan dan ketidakbenaran, dan hanya akan menimbulkan penderitaan bagi rakyat banyak. Tuhan pun sebenarnya meminta kita menggunakan timbangan atau ukuran yang adil/jujur dalam kehidupan sehari-hari dan dalam berbagai urusan. Persoalannya ialah sulitnya menemukan kejujuran dimaksud. Yang terjadi justru timbangan yang tidak sesuai dengan ukuran yang sebenarnya (katanya 1 kg padahal hanya 8-9 ons, katanya barang ori padahal kw, dll). Ada juga masyarakat yang menjual karet dengan menyisipkan tanah, batu atau pun pasir di dalamnya, biar berat (abua ba kilo). La’amawa khoda “salak Hiliduho” (wanguma’ora) ba oya lafarukha “salak kaleng-kaleng”. Cara-cara seperti ini tidak hanya merugikan pembeli, dan secara perlahan merugikan penjual itu sendiri ke depan, tetapi juga merugikan produk tertentu yang sebenarnya berkualitas, tetapi kemudian masyarakat tidak percaya lagi. Hari ini, Tuhan berfirman: “cukup dan sudahilah semua itu, hentikan ketidakadilan dan ketidakjujuran, lakukanlah keadilan dan kebenaran.”

Tuntutan Tuhan yang ketiga adalah agar seluruh umat Tuhan itu memberikan persembahan khusus kepada raja, dan seterusnya raja (beserta rakyat) melaksanakan ibadah persembahan yang adil dan jujur kepada Tuhan. Itulah yang terungkap pada ayat 13-17. Ayat-ayat ini berisi aturan atau ukuran persembahan yang harus diberikan, demi keselamatan mereka semua. Artinya, setelah melakukan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, kini bangsa itu harus menghadap Tuhan dengan berbagai persembahan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tidak boleh ada seorang pun dengan alasan apa pun yang mengurangi persembahan kepada Tuhan. Kepada sesama manusia saja harus berbuat jujur, apalagi kepada Tuhan. Memberikan yang terbaik adalah kewajiban kita kepada Tuhan. Kita tidak boleh hitung-hitungan ketika memberi kepada Tuhan, sebab Tuhan sendiri tidak pernah hitung-hitungan ketika memberkati dan menyelamatkan kita. Apa yang menjadi bagian raja berikanlah itu kepadanya, dan apa yang menjadi bagian Allah berika juga kepada Allah. Dalam Matius 22:21, Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Tetapi, pemberian persembahan kepada Allah tidak boleh mengurangi atau menghentikan kita untuk melakukan keadilan dan kebenaran. Yesus telah memperingatkan orang-orang Farisi pada zaman-Nya dengan berkata: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat. 23:23).

Jauhkanlah kekerasan dan aniaya, tetapi lakukanlah keadilan dan kebenaran (Yeh. 45:9b)


[1] Efa adalah ukuran kering yang sama dengan sekitar delapan atau sembilan galon atau satu gantang, dibagi menjadi enam untuk tujuan perhitungan. Bat adalah ukuran cairan yang setara dengan sekitar sembilan galon atau sembilan puluh satu pint, dibagi menjadi sepersepuluh. Homer adalah bagian keenam dari sebuah bat.

Sunday, March 19, 2023

Bersukacita karena Percaya – Fa’omuso Dödö börö Wamati (Yohanes 9:35-41)

Khotbah Minggu, 19 Maret 2023
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

35 Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?”
36 Jawabnya: “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya.”
37 Kata Yesus kepadanya: “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!”
38 Katanya: “Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya.
39 Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.”
40 Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?”
41 Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”

Teks khotbah hari ini merupakan kelanjutan dari kisah Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya. Pada waktu itu, terjadi perdebatan dan perbedaan pendapat di antara orang-orang Farisi setelah Yesus menyembuhkan orang buta tersebut pada hari Sabat. Ada kelompok yang mengatakan bahwa Yesus bukan berasal dari Allah karena Ia tidak memelihara hari Sabat (9:16). Pada sisi lain, ada kelompok yang berpendapat bahwa tidak mungkin Yesus mampu menyembuhkan orang buta sejak lahir kalau Dia orang berdosa (9:16). Seperti biasa, kelompok pembenci Yesus menang atas kelompok pembela Yesus. Kelompok yang berlawanan dengan Yesus ini pun sebenarnya “kalah” adu argumen dengan orang yang telah disembuhkan tersebut, tetapi daripada mengakui kekalahan mereka, dan daripada mengakui Yesus sebagai Mesias, mereka malah mengusir keluar dari bait suci orang buta yang telah disembuhkan itu (9:34). Pengusiran ini sebenarnya bisa berdampak luas secara khusus kepada orang buta yang telah disembuhkan tersebut. Dia akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan untuk membuka usaha pun agaknya sulit. Mengapa? Karena pengusiran dirinya oleh orang-orang Farisi tersebut merupakan tanda resmi pengucilan dari komunitas Yahudi pada waktu itu.

Nas khotbah pada hari ini berbicara tentang percakapan Yesus kepada orang buta yang telah disembuhkan tersebut tidak lama setelah dia diusir oleh orang-orang Farisi, dan diteruskan dengan percakapan Yesus dengan orang-orang Farisi yang masih tetap merasa diri tidak berdosa. Dengan kata lain, teks khotbah hari ini hendak menyajikan secara kontras dua kelompok masyarakat tentang iman: yang pertama diwakili oleh orang buta yang telah disembuhkan itu, memilih untuk tetap kokoh beriman kepada Yesus yang telah menyembuhkannya, dan yang kedua adalah kelompok Farisi yang dengan kekerasan hatinya tidak percaya kepada Yesus. Dalam konteks inilah Yesus mengungkapkan maksud kedatangan-Nya ke dunia, yakni untuk menghakimi, untuk memberikan penglihatan kepada mereka yang dengan kerendahan dan ketulusan harti percaya kepada-Nya, dan membiarkan dalam kebutaan orang yang dengan angkuhnya tidak percaya kepada Yesus dan menganggap diri tidak berdosa.

Orang Buta yang disembuhkan Percaya kepada Yesus (9:35-38)

Yesus mendengar bahwa para pemimpin Yahudi telah mengusir orang ini dari bait suci, yang merupakan masalah serius dalam masyarakat Yahudi pada waktu itu. Tetangganya bahkan orangtuanya pun akan menghindarinya karena takut polisi agama mengincar mereka. Meskipun sekarang pria tersebut secara fisik dapat bekerja untuk pertama kali dalam hidupnya, namun agaknya tidak ada yang mau mempekerjakan pria yang telah dikucilkan oleh otoritas agama itu. Mungkin banyak orang di pasar juga akan menolak berbisnis dengan orang buangan seperti itu. Tetapi pada saat inilah, mungkin ketika dia berdiri dalam kebingungan di luar pelataran bait suci, Yesus menemukan dia dan mengajukan pertanyaan terpenting kepadanya: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” (ay. 35) Dan, masih dalam kebingunan, pria itu balik bertanya: “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya” (ay. 36). Yesus pun menerangkan kepadanya bahwa Anak Manusia dimaksud sedang bercakap-cakap dengannya (ay. 37). Sebelumnya, dia hanya mendengar suara Yesus ketika dia disembuhkan, tetapi sekarang dia melihatnya sendiri bahkan berbicara langsung dengan-Nya. Dia pun langsung percaya kepada Yesus dan sujud menyembah-Nya (ay. 38). Perjumpaannya dengan Yesus semakin meneguhkan imannya kepada-Nya, walaupun dengan risiko diusir dan dikucilkan oleh para pemimpin Yahudi pada waktu itu. Orang buta ini menggambarkan orang-orang yang dengan teguh maju dalam iman kepada Yesus sampai titik penyembahan, apa pun risikonya. Percaya kepada Yesus berarti siap dengan risiko apa pun yang harus dialami.

Orang yang berpikir Melihat Dibutakan (9:39-41)

Kalau pada bagian sebelumnya orang buta tampil dengan meyakinkan untuk percaya dan menyembah Yesus, sekarang orang-orang Farisi tampil dengan keangkuhan mereka yang menganggap diri “melihat” atau “tidak berdosa”. Oleh sebab itu, orang-orang Farisi tersebut menolak untuk percaya kepada Yesus, bahkan mencari jalan untuk menangkap-Nya.

Ketika Yesus mengungkapkan maksud kedatangan-Nya ke dunia pada ayat 39, yaitu untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta, dengan cepat orang-orang Farisi itu bereaksi: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” (ay. 40). Reaksi ini menunjukkan ketidaksenangan mereka akan kedatangan dan pelayanan Yesus di dunia, sekaligus menunjukkan ketidakmauan mereka untuk mengakui “kebutaan” atau “keberdosaan” mereka selama ini. Orang-orang Farisi memang terkenal sebagai kelompok elit dalam masyarakat Yahudi yang menganggap diri paling benar, paling hebat, paling dihormati, dan paling suci, padahal banyak di antara mereka yang “menelan rumah janda-janda dan hidup dalam kemunafikan” (lih. Mrk. 12:38-40). Sayang sekali, orang-orang Farisi ini tidak mengakui sisi buruk atau sisi gelap kehidupan mereka. Mereka berlindung di balik hukum atau aturan keagamaan Yahudi untuk menutupi borok mereka, dan tidak ada orang yang berani mengkritik mereka pada zaman itu sampai Yesus datang membongkar kebobrokan mereka tersebut. Ketidakmauan mereka untuk mengakui keberdosaan mereka, dan kekerasan hati mereka untuk tidak percaya kepada Yesus sebagai Anak Manusia yang berasal dari Allah, justru telah menjadi bumerang bagi mereka. Pada ayat 41 Yesus berkata kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.” Demikianlah nasib orang yang berpikir “melihat”, akan tetap dalam “kebutaan” mereka. Secara fisik mereka melihat, tetapi sesungguhnya secara rohani mereka buta, tidak bisa melihat kasih karunia Tuhan yang begitu besar bagi umat manusia.

Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya (Mazmur 5:12a)

Sunday, January 15, 2023

Terang bagi Keselamatan Bangsa-Bangsa – Haga ba Wangorifi fefu Soi (Yesaya 49:1-7)

Khotbah Minggu, 15 Januari 2023
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1 Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.
2 Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.
3 Ia berfirman kepadaku: "Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku."
4 Tetapi aku berkata: "Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku."
5 Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya--maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku--,firman-Nya:
6 "Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi."
7 Beginilah firman TUHAN, Penebus Israel, Allahnya yang Mahakudus, kepada dia yang dihinakan orang, kepada dia yang dijijikkan bangsa-bangsa, kepada hamba penguasa-penguasa: "Raja-raja akan melihat perbuatan-Ku, lalu bangkit memberi hormat, dan pembesar-pembesar akan sujud menyembah, oleh karena TUHAN yang setia oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang memilih engkau."


Teks khotbah hari ini merupakan berita pengharapan yang disampaikan oleh nabi Yesaya kepada bangsa Israel yang berada di pembuangan dan terasing dari tanah mereka sendiri. TUHAN tahu bahwa umat-Nya sedang berada dalam krisis yang luar biasa, baik krisis identitas maupun krisis iman. Dalam situasi seperti itulah nabi Yesaya mengucapkan sepatah kata pengharapan, yaitu bahwa Tuhan akan mengirim seorang hamba yang akan melakukan keadilan. Berita pengharapan ini tidak sekadar tentang kembalinya umat Tuhan ke negeri mereka, tetapi bahwa akan muncul hamba yang menegakkan keadilan (yang selama ini hilang). Namun, hamba yang diutus itu tidak lagi hanya untuk menyatakan terang bangsa Israel saja, tetapi bagi bangsa-bangsa. Artinya, pesan keselamatan tersebut bukan hanya untuk Israel saja, melainkan untuk seluruh dunia, bahkan “bangsa-bangsa yang jauh” (ay. 1). Untuk pesan keselamatan ini, Tuhan telah menetapkan Israel sebagai hamba-Nya, hamba yang kemudian menjadi alat kemuliaan Tuhan (ay. 3).

Seperti apa pemanggilan hamba Tuhan dimaksud? Hamba Tuhan itu dipanggil saat masih dalam kandungan, tersembunyi dan tidak terlihat. Tuhan menyembunyikan hamba itu “dalam naungan tangan-Nya” dan “dalam tabung panah-Nya” (ay. 2). Dalam hal ini, hamba tersebut tersembunyi bahkan dari dirinya sendiri sebagai wakil Tuhan. Pada awalnya hamba Tuhan tersebut merasa sia-sialah semua jerih lelahnya, tetapi dia yakin bahwa dalam Tuhan hak dan upahnya terjamin (ay. 4). Ini merupakan suatu perasaan yang kadang-kadang muncul dalam diri sang hamba ketika dalam realitasnya dia melihat pekerjaannya seperti tidak membuahkan hasil. Namun demikian, di sinilah ketabahan itu diuji, apakah kita menyerah ketika pekerjaan baik kita sepertinya tidak membuahkan hasil, atau sebaliknya kita merasa tertantang untuk terus melakukan pekerjaan baik.

Kehadiran dan keberadaan hamba Tuhan itu sendiri dalam banyak hal tidak disenangi, bahkan dia dibenci. Hamba ini adalah “seorang yang sangat dihinakan, dijijikkan oleh bangsa-bangsa.” Hamba ini, pertama tidak terlihat dan kemudian dihina, tetapi kemudian akan dikenal oleh para penguasa, sebab Tuhan, “Yang Mahakudus dari Israel, telah memilihmu” (ay. 7). Di sinilah terlihat bagaimana Tuhan memanggil hamba-hamba yang tidak terduga dan, mungkin yang lebih penting, seberapa sering hamba-hamba itu tidak mengenali diri mereka sendiri. Seringkali Tuhan memanggil atau menetapkan hamba-Nya di luar perkiraan manusia bahkan di luar dugaan orang yang dipilih oleh Tuhan itu sendiri. Satu hal yang pasti adalah bahwa sekali Tuhan memilih atau menetapkan hamba-Nya, maka tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan atau membatalkan pilihan/ketetapan Tuhan itu. Apakah seseorang yang dipilih Tuhan menjadi hamba-Nya dapat membatalkan keputusan Tuhan? Yunus pernah mencobanya, tetapi pada akhirnya dia harus tunduk pada keputusan Tuhan.

Pengutusan hamba Tuhan ini merupakan bagian dari upaya Allah untuk memulihkan kehidupan umat-Nya yang telah porak-poranda. Benar bahwa orang Israel telah terbuang jauh dari tanah mereka, negeri mereka telah dihancurkan, dan kini mereka sedang berada dalam krisis multidimensi. Namun demikian, pengasingan bukanlah akhir segala-galanya, bukan akhir dari kisah hidup mereka. Allah mampu membangun kembali kisah baru yang jauh lebih baik di atas kisah hidup lama yang begitu hancur.

Misi pemulihan ini tidak berhenti di Israel saja, itu terlalu kecil dalam pandangan Allah. Benar bahwa Allah menyelamatkan umat Israel, memulihkan kehidupan mereka, dan membangun kembali puing-puing kehidupan mereka yang tidak mungkin dibangun kembali oleh kekuatan manusia sendiri. Tetapi misi Allah jauh lebih besar lagi. Pembebasan, pemulihan, dan keselamatan yang diberikan bagi bangsa Israel merupakan bagian yang tak terpisahkan dari misi-Nya untuk keselamatan bangsa-bangsa di luar Israel. Allah mengutus hamba-Nya dan menyelamatkan Israel bukan hanya untuk diri merek sendiri, melainkan untuk menjadi terang dan untuk keselamatan bangsa-bangsa. Tuhan mengumpulkan umat-Nya ke dalam hidup Tuhan untuk satu tujuan: keselamatan dunia. Tuhan menuntut Israel, hamba-Nya, untuk menjadi “menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (ay. 6). Sama seperti pengasingan yang bukan akhir dari segalanya, demikian juga pemulihan Israel, bukanlah akhir dari semua cerita mereka. Allah masih memiliki cerita luar biasa lagi di balik pengasingan dan pemulihan Israel, yaitu keselamatan bagi bangsa-bangsa, keselamatan bagi dunia.

Itulah makna dari keselamatan yang telah diterima oleh umat Tuhan, menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Tuhan memberkati kita bukan sekadar untuk diri sendiri, melainkan untuk menjadi saluran berkat bagi yang lain. Allah menjauhkan kita dari malapetaka, bukan saja supaya kita selamat, melainkan agar kita pun dapat menolong sesama kita yang berada dalam bahaya dan situasi tidak baik. Jika kita berhasil melewati masa-masa sulit dalam hidup ini, tentu saja kita patut mensyukurinya dalam kerendahan hati, dan pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa Allah menginginkan kita untuk menolong sesama kita yang berada dalam situasi sulit. Hidup ini bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk dunia yang juga dicintai oleh Allah.

Pemulihan individu, atau gereja, atau bahkan seluruh umat, tidak pernah hanya tentang itu. Pemulihan dari Tuhan bergerak ke luar, selalu berkembang menuju pemenuhan eskatologis, “supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (ay. 6). Kisah Tuhan selalu lebih besar dari kisah kita; kisah kita haruslah ditempatkan dalam kisah Tuhan yang jauh lebih luas, dan biarlah Tuhan menenun kisah hidup kita ke masa depan yang lebih besar dan lebih cerah.

“Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi”
(Yes. 49:6b)

Saturday, December 24, 2022

Firman telah menjadi Manusia (Yohanes 1:1-14)

Bahan Khotbah Minggu Natal I, 25 Desember 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.
1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Pengantar
Tema awal yang sangat penting dalam tulisan Yohanes adalah “Firman yang menjadi daging” (LAI: Firman itu telah menjadi manusia). Inilah yang kemudian kita kenal sebagai Inkarnasi Allah. Firman yang telah menjadi manusia ini sejak pada mulanya bersama-sama dengan Allah (ay. 1-3), datang untuk membawa terang (4-9), dan datang serta diam di antara manusia (10-14).

Firman Bersama-sama dengan Allah (ay. 1-3)
Menurut Yohanes, Yesus telah bersama-sama dengan Allah sejak pada mulanya (sejak penciptaan). Apa yang terjadi sekarang ialah bahwa Firman Allah yang kekal itu turun ke bumi mengambil rupa manusia, “Firman menjadi daging” (telah menjadi manusia). Ini bukanlah pertama sekali Allah terlibat dalam sejarah manusia. Sebelumnya Allah telah bekerja di dunia ini melalui perjanjian, hukum, hakim-hakim, raja-raja, dan nabi-nabi. Namun sekarang Allah melibatkan diri-Nya sendiri secara langsung, sebagai Firman Allah yang menjadi (daging) manusia dan tinggal bersama manusia dalam bentuk diri manusia.

Ungkapan “Firman bersama-sama dengan Allah” (ay. 1-2) selalu didahului dengan ungkapan khas penciptaan di kitab Kejadian, yakni “pada mulanya”. Hal ini memberi indikasi kuat bahwa injil Yohanes sedang membawa pembacanya kepada tradisi penciptaan dengan “Firman” Ilahi oleh Allah, sekaligus menjawab tantangan “rasionalitas” pikiran Yunani yang mereduksi keilahian Yesus dengan menganggap-Nya tidak berasal dari “kekekalan” (pada mulanya) dan bahwa Yesus terpisah dari Allah. Penegasan ini sangat penting untuk memberikan kepastian dan atau semacam dasar kepercayaan kepada pembacanya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (20:31) yang memiliki kemuliaan ilahi (1:14).

Dalam semangat yang sama, Yohanes menegaskan bahwa Firman yang bersama-sama dengan Allah itu sejak pada mulanya telah “bersama-sama” (“terlibat”) dengan Allah dalam suatu aktivitas ilahi, yakni aktivitas yang daripadanya segala sesuatu dijadikan (ay. 3), atau dalam tradisi penciptaan dikenal sebagai aktivitas penciptaan dan sejarah. Apa artinya? Yaitu bahwa Firman itu adalah Allah sendiri, Allah yang sudah ada sejak pada mulanya, Allah yang bergerak atau terlibat dalam medan sejarah “alam semesta”, Allah yang membuat segala sesuatu ada, dan karenanya Dia jugalah yang menata alam semesta ciptaan-Nya itu.

Firman itu Membawa Terang (ay. 4-9)
Dengan sangat hati-hati penulis injil ini menegaskan bahwa Yohanes bukanlah terang, dia hanyalah utusan Allah, saksi yang memberi kesaksian tentang terang itu (ay. 4-5). Sekarang, Yohanes menyampaikan kesaksiannya tentang logos itu, tentang terang tersebut.

Baiklah, Firman itu memang bersama-sama dengan Allah sejak pada mulanya, namun apa maknanya bagi para pembaca Yohanes? Apa dampak yang dihasilkan oleh Firman itu? Atau, pertanyaan yang lebih sederhana adalah mengapa Allah (harus) menjadi manusia? Karena dunia telah jatuh ke dalam kegelapan, sehingga dunia ini membutuhkan terang (bnd. ay. 5). Artinya, Allah menjadi manusia untuk membawa terang ke dunia yang telah dipenuhi oleh kegelapan. Dengan demikian, Allah datang untuk melawan kegelapan, dan itulah maksud utama dari kelahiran Yesus menurut Injil Yohanes. Dengan maksud ini kita diyakinkan bahwa di dalam Yesus ada terang yang memberi kehidupan, Dialah yang menerangi setiap orang bahkan yang ada di dalam kegelapan, dan itulah maksud kedatangan-Nya ke dalam dunia (ay. 9). Firman (logos) itu berasal dari kekekalan, sedangkan kegelapan itu tidaklah abadi. Di sini tersirat penegasan bahwa Yesus telah diberikan otoritas untuk menerangi kegelapan, sama seperti kuasa yang dimiliki-Nya untuk menghakimi (lih. 5:27). Sekarang, mau berjalan di mana? Dalam terang atau dalam kegelapan?

Firman itu Datang dan Diam di antara Manusia (ay. 10-14)
Namun, penulis Injil Yohanes tidak berhenti pada sesuatu yang abstrak, tidak berhenti pada suatu ide yang kedengarannya manis dan menjanjikan. Yohanes kemudian membuatnya lebih konkret, pertama-tama menegaskan bahwa kita semua dijadikan sebagai anak-anak Allah oleh karena kehendak Allah sendiri (ay. 12, 13), walaupun masih banyak orang yang tidak menerima Dia. Kedua, yaitu bahwa Firman yang menjadi manusia itu datang dan diam di antara manusia. Penegasan ini pada satu sisi memberi kepastian kepada setiap orang yang masih ragu-ragu akan kemungkinan “turunnya” Allah (yang ilahi) ke dalam dunia (yang materiil), dan pada sisi lain meyakinkan pembacanya untuk berani menjalani kehidupan di tengah-tengah dunia yang pada waktu itu telah dikuasai oleh kegelapan.

Lalu apa arti dari semua ini? Kerelaan Allah menjadi manusia, dan kini diam di antara manusia menunjukkan solidaritas ilahi akan dunia, menunjukkan bahwa Allah solider terhadap umat manusia dengan segala kesengsaraannya, menunjukkan bahwa Allah peduli secara nyata dengan penderitaan, kesulitan, bahkan keragu-raguan manusia. Ini merupakan berita sukacita besar, bukan saja kepada pembaca awal dari tulisan Yohanes ini, melainkan juga bagi manusia di sepanjang masa.

Pokok-pokok Renungan
1) Perayaan kelahiran Kristus menjawab keraguan kita tentang keilahian Yesus. Memang kita bisa saja tidak lagi ragu akan hal itu, tetapi dalam faktanya keraguan itu masih saja ada. Hal ini dapat dilihat misalnya pada bagian berikut:

“Suatu hari saya mengikuti kebaktian minggu di suatu jemaat BNKP yang ada di wilayah perkotaan. Saya duduk di bagian belakang bersama dengan warga jemaat biasa. Tanpa sengaja, saya melihat seorang warga jemaat sedang ber-sms-an dengan seseorang dan isi sms-nya itu adalah tentang “ilmu kekebalan tubuh” dan berbagai jimat lainnya sebelum berangkat. Saya tidak menyangka bahwa ada warga jemaat di perkotaan yang bahkan sedang mengikuti kebaktian pun masih saja melakukan praktik “kegelapan” seperti itu”. Sekarang, mau berjalan di mana? Dalam terang atau dalam kegelapan? Alai na lala bö’ö saekhu ba wa’atekiko nitörönia andrö!

2) Yohanes mungkin tidak tahu banyak tentang kisah Natal seperti yang biasa kita rayakan dewasa ini, tetapi dia tahu betul tentang semangat atau jiwa dari Inkarnasi itu, yaitu bahwa karena Yesus, perwujudan kasih karunia Allah (1:16) menjadi daging, maka kita diberikan kesempatan untuk mengenal Allah yang tidak dapat diketahui (1:18), dan mengakui diri sebagai anak-anak Allah yang dikasihi. Inilah sesungguhnya hadiah Natal itu, identitas yang baru, kesempatan yang baru, kemanusiaan yang baru, semuanya melalui Allah di dalam Kristus. Inilah hadiah Natal, dan sepantasnya menarik seluruh perhatian kita hari ini, bahkan sepanjang tahun.

Saturday, December 3, 2022

Memilih yang Baik Menjelang Hari Kristus (Filipi 1:3-11)

Khotbah Minggu Adven 2 (3 Desember 2022)
Dsiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1:3 Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.
1:4 Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.
1:5 Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini.
1:6 Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
1:7 Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.
1:8 Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.
1:9 Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,
1:10 sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,
1:11 penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.


Pengantar
Surat Filipi ini dikenal sebagai surat air mata sekaligus surat sukacita. Surat air mata, sebab ditulis ketika Paulus berada di penjara di Roma yang memaksanya meninggalkan jemaat ini sementara mereka juga mengalami berbagai penganiayaan atau pencobaan. Surat sukacita, sebab Paulus justru menganggap pemenjaraan dan penganiayaan yang dialaminya (dan dialami oleh jemaat) sebagai bagian dari iman dalam Kristus (bnd. Fil. 1:29), apalagi dia mendengar berita yang menggembirakan tentang jemaat pada waktu itu walaupun dia tidak berada di tengah-tengah mereka. Kesedihan Paulus terobati oleh karena jemaat Filipi telah menunjukkan kehidupan Kristen yang sesungguhnya sekalipun mereka dihantam oleh berbagai pencobaan. Paulus pun kemudian memberi penegasan tentang bagaimana ciri khas kehidupan orang Kristen itu, yaitu tentang sukacita, persekutuan, dan kasih mereka.

Sukacita Orang Kristen (1:4)
Ciri khas pertama dari orang Kristen dalam teks ini menyangkut sukacita. Paulus sendiri telah menunjukkan dalam dirinya, bahwa sekalipun dia saat itu berada dalam suasana yang menyedihkan, dianiaya oleh karena pemberitaan Injil Kristus, namun dia tetap bersukacita, dan itu terungkap secara jelas di pasal 4:4 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Böi yamamalömalö wa’omuso dödömi ba khö Zo’aya! Ufuli uwa’ö: Mi’omusoi’ö dödömi!). Dengan kata-kata ini, Paulus tidak bermaksud untuk menganggap remeh atau mengabaikan begitu saja penderitaan atau pencobaan; namun bagi Paulus, berbagai penderitaan/pencobaan itu seharusnya dipahami sebagai salah satu akibat yang harus kita terima karena memilih percaya pada Kristus (1:29).

Selain itu, dalam teks renungan kita pada hari ini disebutkan bahwa sukacita orang Kristen itu dapat terlihat dalam dan melalui doa mereka (1:4), yaitu selalu membawa manusia kepada kemurahan Allah. Itulah doa orang Kristen yang penuh dengan sukacita, dapat mengubah kehidupan umat Tuhan menjadi lebih bersemangat, sebab mampu membawa diri sendiri dan orang lain ke dalam sukacita dan damai sejahtera Allah yang begitu besar. Dalam pengertian yang lebih luas, kehidupan orang Kristen seharusnya dapat mendatangkan sukacita bagi dunia di mana dia berada, mengandrö saohagölö niha ero na so ia.

Persekutuan (1:7-8)
Kehidupan orang Kristen yang benar ditandai dengan adanya “persekutuan” yang harmonis terutama dalam hal berita Injil. Maksudnya ialah bahwa orang Kristen itu haruslah pertama-tama merasa bagian dari yang lain (ay. 1:7a, 8), turut mendapat bagian dalam pekerjaan Injil, turut mengambil bagian dalam penderitaan demi Injil, dan turut mendapat bagian bersama Kristus (1:7-8). Dalam hal ini kita menjadi satu dengan Kristus, dan seterusnya menjadi satu dengan yang lain di antara orang-orang yang percaya pada Kristus Yesus.

Persekutuan orang Kristen yang benar terjadi dan terjalin tidak hanya ketika ada sukacita, tetapi juga ketika menderita (dipenjara karena Injil), dalam segala hal dan situasi. Persekutuan orang Kristen sesungguhnya tidak hanya terlihat melalui “persekutuan” ketika kebaktian/ibadah bersama (kebaktian Minggu dan PA), tetapi bagaimana setiap orang percaya merasa bahwa dirinya pertama-tama merupakan bagian dari Kristus, kemudian bagian dari yang lain dalam “persekutuan” itu.

Kita boleh saja bersekutu bersama-sama melalui kebaktian minggu atau pun PA, namun itu tidak otomatis menunjukkan bahwa kita merasa bagian dari yang lain, tidak otomatis membuktikan bahwa kita telah menjadi satu dengan Kristus dan telah menjadi satu dengan yang lain dalam ibadah itu. Belum tentu! Karenanya, persekutuan kita dalam ibadah seharusnya diteruskan lagi melalui persekutuan dalam kehidupan sehari-hari dalam aneka dinamika kehidupan kita, baik sukacita maupun dukacita atau penderitaan.

Kasih yang Melimpah (1:9-10)
Kekristenan itu terkenal dengan ajaran tentang “kasih”, dan semua orang tahu tentang itu, baik orang Kristen sendiri maupun non Kristen. Paulus pun menyinggung hal itu dalam teks renungan kita pada hari ini, hanya saja dengan penekanan supaya kasih orang-orang percaya pada Kristus itu terus melimpah, bertumbuh, dan makin besar setiap hari, tidak sekadar “ikut-ikutan”, bertumbuh dalam pengetahuan dan pengertian akan yang benar dan baik. Apa artinya? Yaitu bahwa sesungguhnya kasih orang Kristen itu tidak pernah terbatas (mo’inötö), justru semakin berkembang dari waktu ke waktu, bahkan dalam berbagai penderitaan pun kasih Kristen itu justru semakin besar.

Orang Kristen yang hidup dalam kasih yang seperti ini, secara perlahan tetapi pasti terus bertumbuh dalam pengetahuan dan pengertian akan yang benar dan baik (fahöna khönia wa’aboto ba dödö ba fangi’ila satulö ba si sökhi ero ma’ökhö). Hal ini sangat penting, sebab menunjukkan bahwa orang Kristen yang benar itu telah dimurnikan atau dibersihkan dari semua yang jahat (kotor) sehingga menjadi suci/murni sekaligus menunjukkan bahwa orang Kristen yang suci/murni itu tidak pernah menyebabkan diri sendiri dan orang lain tersandung (cacat).

Ada banyak orang Kristen yang nampaknya “suci” atau tidak bercacat, tidak bercela, namun mereka “gagal” meyakinkan orang lain untuk percaya pada Kristus; ada banyak orang Kristen yang memiliki kehidupan rohani yang begitu baik, namun tidak mampu memengaruhi orang lain untuk semakin mengenal kasih Kristus dalam hidup mereka. Bukan orang Kristen dengan tipe seperti ini yang diharapkan oleh Paulus menurut teks renungan kita pada hari ini. Orang Kristen yang telah “disucikan” sesungguhnya mampu menarik orang lain kepada Kristus, dan menjadikan Kristus sebagai pusat dan arah seluruh kemuliaan, bukan dirinya sendiri. Itulah kasih yang melimpah, terus bertumbuh, semakin besar, dan mampu membawa orang lain menjadi lebih dekat kepada Kristus.

Menjelang hari Kristus, orang Kristen tentu memilih untuk melakukan yang baik, menjadi berkat bagi dunia di mana dia berada. Memilih yang baik berarti menggunakan kesempatan yang ada untuk hidup dalam kebaikan, yaitu kebaikan menurut ukuran Kristus. Di tengah dunia yang saat ini semakin edan, orang Kristen mampu memilih yang baik sebagai jalan hidupnya, dan tidak terjerumus dalam berbagai rupa ke-edan-an dunia ini.

Selamat memilih yang baik!



Saturday, October 8, 2022

Iman yang Menyelamatkan – Famati andrö Zangorifi (Lukas 17:11-19)

Khotbah Minggu, 09 Oktober 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.
12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh
13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”
14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?
18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”
19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”


Pada zaman Alkitab, baik PL maupun PB, penyakit kusta merupakan penyakit yang tidak ada obatnya.[1] Di kalangan orang Ibrani penyakit ini dianggap najis dan berbahaya, karena dapat menular. Oleh sebab itu, orang yang sakit kusta harus diasingkan dari masyarakat (Kel. 13, Kel. 14). Penyakit ini dianggap sebagai simbol dosa, penyakit dari Tuhan, sebab ada beberapa contoh kasus dimana orang kena sakit kusta setelah melakukan pelanggaran atau kesalahan.[2] Orang yang menderita kusta dinyatakan sakit dan atau sembuh oleh imama (Im. 13:1-59; 14:1-32). Apabila ia sembuh, harus diadakan upacara pentahiran oleh seorang imam (Im. 14:2-20; Luk. 1:44). Secara fisik, orang yang berpenyakit kusta tentu saja sangat menderita. Tetapi, penderitaan yang paling menyakitkan adalah penderitaan psikis. Penderitanya diasingkan, tidak boleh mendekat orang sehat, dan apa pun yang tersentuh dengannya dianggap najis. Pada zaman PB, semua penderita penyakit kusta dilarang memasuki kota Yerusalem dan kota-kota lain yang bertembok keliling. Di dalam sinagoge ada ruangan khusus yang terpencil dan sempit yang dikhususkan bagi mereka. Jadi penyakit kusta adalah penyakit yang benar-benar telah memisahkan manusia dari sesamanya.

Bisa dibayangkan betapa menderitanya orang-orang kusta pada zaman Alkitab. Tidak ada harapan kesembuhan bagi mereka, tidak ada masa depan, tidak ada kehidupan. Namun demikian, dalam teks khotbah hari ini, Lukas menunjukkan sesuatu yang amat menentukan bagi orang-orang kusta yang terpinggirkan, dan pembelajaran berharga bagi kita yang “tak terpinggirkan”. Kepedulian Yesus terhadap mereka yang terpinggirkan, yaitu kesepuluh penderita kusta, dan secara khusus paling tidak ada seorang Samaria yang merupakan kelompok masyarakat terpinggirkan pada zaman PB. Itulah misi Yesus ke dunia, menunjukkan kepedulian kepada mereka yang oleh karena berbagai faktor, terasingkan, menderita, termiskinkan, dll. Inilah misi yang sesungguhnya, kepedulian terhadap sesama, terutama kepada sesama yang sedang berada dalam situasi kurang baik. Itulah pemberitaan Injil yang sesungguhnya, pemberitaan kabar sukacita kepada orang-orang yang selama ini terpinggirkan, kurang diperhatikan, kurang dihargai dalam masyarakat, disepelekan, mengalami berbagai macam penderitaan, dll. Itulah misi Yesus, yang merupakan misi gereja kita juga.

Menarik juga melihat bagaimana Yesus menerima mereka yang selama ini dijauhi oleh masyarakat. Yesus berkenan memberikan respons terhadap teriakan mereka: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (ay. 13). Yesus tahu bahwa kesepuluh orang kusta ini mestinya dijauhi, kalau bisa diusir, apalagi orang Samaria, tetapi Yesus tidak melakukan itu. Disebutkan bahwa Yesus merespons mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam” (ay. 14). Dalam proses itulah kemudian orang-orang penderita kusta ini sembuh. Yesus menyuruh mereka kepada imam-imam sebagai pihak yang berwenang menentukan apakah mereka sudah sembuh atau belum; dan ternyata hasilnya SEMBUH. Misi Yesus inilah yang harus kita beritakan, baik melalui kata-kata, maupun melalui pelayanan nyata kepada orang-orang yang sedang menderita di sekitar kita. Kepedulian kita akan diuji ketika kita bertemu dengan orang-orang yang selama ini terpinggirkan.

Kisah ini tidak berhenti pada kesembuhan para penderita kusta. Diceritakan lebih lanjut bahwa salah seorang dari kesepuluh orang kusta tersebut kembali kepada Yesus, memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada Yesus (ay. 15-16). Disebutkan pula bahwa orang tersebut adalah orang Samaria (yang pada zaman PB disingkirkan oleh masyarakat Yahudi). Ayat 17-18 memperlihatkan kepada kita “keheranan” Yesus atas kesembilan orang lainnya yang tidak kembali kepada-Nya, tidak seperti orang Samaria tersebut. Benar bahwa orang Samaria selama ini dianggap sebagai orang asing, tidak diterima sebagai bagian dari komunitas Yahudi/Israel. Tetapi, justru orang Samaria (orang asing) inilah yang memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada Yesus atas kesembuhan yang telah dialaminya. Yesus pun memuji iman orang Samaria tersebut. Ia berkata kepadanya: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (ay. 19).

Orang Samaria adalah orang yang dianggap sebagai orang asing dan tidak menyenangkan pada zaman PB, tetapi justru dialah satu-satunya orang yang datang memuliakan dan mengucap syukur kepada Allah, sedangkan kesembilan lainnya tidak diketahui lagi rimbanya. Dalam kisah ini, Yesus, oleh Lukas, menunjukkan bahwa iman seseorang itu tidak ditentukan oleh latar belakang kehidupannya, entah sebagai orang Yahudi ataupun orang Samaria (orang asing). Ketika seseorang menyadari sumber kesembuhannya dari Tuhan, dan kembali kepada Tuhan untuk memuliakan dan mengucap syukur kepada-Nya, itulah iman yang sesungguhnya. Merespons Yesus dengan benar berarti memuji dan memuliakan Allah.


[1] Pada zaman modern penyakit kusta ini dikenal sebagai lepra/hansen. Obatnya baru ditemukan oleh seorang ilmuwan Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen pada tahun 1837.

[2] Beberapa contoh kasus dimaksud: (1) Miryam dihukum Tuhan dengan penyakit kusta karena mengata-ngatai dan iri hati terhadap Musa (Bil. 12:1-2,9-10). (2) Gehazi (bujangnya Elisa) dihukum dengan kusta karena meminta pemberian dari Naaman yang sebelumnya sudah ditolak Elisa (2Raj. 5:21-27). (3) Ketika Raja Uzia merasa kuat, sombong, tinggi hati dan tidak setia kepada Tuhan maka Tuhan menghukumnya dengan penyakit kusta (2Taw. 26:16-21).

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...