Saturday, June 15, 2013

Pengampunan Berbanding Lurus dengan Besarnya Kasih dan Ucapan Syukur (Lukas 7:40-50)

Bahan Khotbah Minggu, 16 Juni 2013
Pdt. Alokasih Gulo, M.Si



7:40  Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.”
7:41 “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.
7:42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?”
7:43 Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.”
7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.
7:45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.
7:46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.
7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”
7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.”
7:49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?”
7:50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”



Teks ini sebaiknya dibaca (dipahami) dalam kaitan dengan ayat-ayat sebelumnya, bahkan dalam konteks yang lebih luas (pasal-pasal sebelumnya). Kita akan melihat sejenak keterkaitan teks-teks sebelumnya dengan renungan kita pada hari ini (Luk. 7:40-50).

Pasal 4:14 – 9:50 mengisahkan berbagai pengajaran dan peristiwa dalam pelayanan Yesus di Galilea, serangkaian peristiwa yang menunjukkan bagaimana pendengar atau pembaca injil Lukas ini “percaya” atau sebaliknya “tidak percaya” kepada Yesus. Itulah sebabnya berbagai peristiwa dan pengajaran sepanjang pasal-pasal ini ditempatkan dan dikisahkan sedemikian rupa sehingga terkesan “membandingkan” bahkan “mempertentangkan” satu dengan yang lain (percaya vs. tidak percaya).

-        Ketidakpercayaan atau penolakan di sinagoge di Nazaret (Luk. 4:14-30) diperhadapkan (dikontraskan) dengan iman yang terjadi di sinagoge di Kapernaum (Luk. 4:31-44);
-        Setelah murid-murid pertama Yesus mengikuti Dia dalam iman (Luk. 5:1-11) ketidakpercayaan para pemimpin agama ditampilkan ketika Yesus mengampuni dosa (Luk. 5:12-26);
-        Respon Lewi pemungut cukai untuk percaya kepada Yesus (Luk. 5:27-32) diikuti kemudian dengan ketidakpercayaan dan amarah para Farisi ketika Yesus makan bersama orang-orang berdosa (Luk. 5:33-39);
-        Untuk “menentang” ketidakpercayaan orang-orang Farisi serta hukum sabat (Luk. 6:1-11) Yesus mengutus keduabelas rasul dalam iman (Luk. 6:12-16).

Demikianlah selanjutnya pola penulisan Lukas tentang peristiwa dan pengajaran Yesus hingga nas renungan kita pada hari ini (Luk. 7:40-50). Pada ayat yang berdekatan dengan teks kita hari ini (ay. 36-39), dikisahkan sebuah peristiwa menarik ketika seorang perempuan “pendosa” memberanikan diri (tentu dengan segala risiko) datang ke rumah orang Farisi itu (yang terkenal dengan ketidakmauan mereka bergaul dengan pendosa), dan bahkan perempuan itu mendatangi Yesus, menangis dekat kaki-Nya, membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya (tidak lazim menunjukkan rambut di depan umum, tetapi perempuan itu sudah siap dengan segala konsekuensinya), kemudian mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Sudah dapat dipastikan bagaimana reaksi orang Farisi (Simon), ada semacam sikap “memvonis” (menghakimi tanpa belas kasihan sekaligus menganggap diri paling benar), serta mempertanyakan/meragukan ke-nabi-an Yesus, itulah yang dikatakan di ayat 39. Tetapi, reaksi Yesus justru sebaliknya, membalikkan “pemahaman dan sikap” umum pada waktu itu. Yesus justru dengan sengaja “melanggar” larangan sosial yang nampaknya sudah dianggap biasa pada saat itu, menjangkau mereka yang disingkirkan dan dipinggirkan oleh masyarakat karena persoalan/perbedaan ras (Luk. 7:1-7), perbedaan kehidupan ekonomi (Luk. 7:11-17), perbedaan agama (Luk. 7:24-35), dan masalah moral (Luk. 7:26-50). Tidak seperti orang Farisi dan orang-orang Yahudi pada umumnya, Yesus justru menyatakan kasih anugerah Allah dalam perjumpaan-Nya dengan orang-orang “pendosa” seperti itu.

Nah, untuk menanggapi reaksi orang Farisi itu, sekaligus menunjukkan betapa sesungguhnya kasih anugerah Allah berlaku bagi semua – termasuk orang-orang “kecil”, maka Yesus “berilustrasi” kepadanya (Simon), yaitu tentang penghapusan hutang (ay. 40-42). Semoga kita masih mengingat bahwa soal utang-piutang merupakan hal yang umum di Yudea pada abad-abad pertama. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk para tuan tanah yang kaya yang menyewakan tanah mereka kepada para petani yang miskin dengan sistem bagi hasil dan kemudian menuntut bagian besar dari keuntungan yang didapat. Sekitar 35-40 % hasil pertanian mereka dihabiskan untuk bea-cukai, pajak, perpuluhan di bait Allah, sehingga dapat dibayangkan betapa tekanan hidup yang harus ditanggung oleh para petani. Pada musim kemarau atau masa kelaparan, petani yang miskin dapat dengan mudah kehilangan segala sesuatu yang dia miliki demi orang-orang kaya. Kelaparan besar misalnya pernah terjadi pada tahun 25 SZB dan tahun 46 ZB.

Satu dinar pada waktu itu sama dengan gaji dalam sehari, jadi dua tahun pembayaran utang (500 dinar) vs. dua bulan pembayaran (50 dinar) telah dihapuskan. Karena tidak ada kata khusus Aram untuk mengekspresikan “terima kasih atau rasa syukur”, maka dipakailah ungkapan “Siapa di antara mereka yang terlebih mengasihi dia?” (ay. 42b), yang artinya sama dengan “Siapa di antara mereka yang lebih merasa bersyukur?” Simon (Farisi) menjawab asal-asalan (menduga-duga): “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya” (ay. 43a); dan Yesus menanggapinya: “Betul pendapatmu itu” (ay. 43b). Ini sebenarnya merupakan “pukulan” “telak” namun “lembut” bagi Simon (kaum Farisi).

Kemudian Yesus menghubungkan ilustrasinya itu dengan apa yang telah dilakukan oleh perempuan “pendosa” tadi (ay. 44-46). Pada akhirnya Yesus menyampaikan misi mulia-Nya, yaitu bahwa perempuan itu telah mendapatkan kasih anugerah Allah yang sangat besar, yakni pengampunan dosa (ay. 47, 48, 50). Yesus menekankan bahwa kasih yang ditunjukkan oleh perempuan itu sangat besar sehingga hasil yang didapatkannya pun sebanding bahkan melebihi kasihnya, yaitu anugerah pengampunan dosa (ay. 47a). Hal ini tentu bukan untuk membenarkan pemahaman tentang pengampunan dosa dapat diperoleh berdasarkan “perbuatan” yang dilakukan oleh manusia. Maknanya justru diperjelas dengan kata-kata Yesus di ay. 47b: “... orang yang sedikit diampuni sedikit juga berbuat kasih”. Artinya, anugerah pengampunan dosa sesungguhnya telah mendahului kasih yang dilakukan manusia, sebab kasih manusia itu (atau apa pun perbuatan baik) merupakan refleksi dari pengampunan yang didapatkan, dirasakan, atau dialami oleh setiap orang. Semakin besar hutang yang dibebaskan semakin besar juga kasih dan rasa syukur yang diungkapkan oleh yang punya hutang; semakin besar dosa yang diampuni semakin besar juga kasih dan rasa syukur yang dinyatakan oleh mereka yang mengalami pengampunan itu. Hal ini juga menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang dapat mengampuni dosa manusia (ay. 49).

Kristus itu penuh dengan belas kasihan dan kuasa. Dia berkenan dan memiliki kuasa untuk mengampuni kita secara utuh dan menyeluruh. Maka:
-        Tuhan hanya meminta kita untuk datang kepada-Nya dalam kerendahan hati, dalam perasaan “tidak layak, tidak berharga” di hadapan-Nya, karena dengan demikian kita dapat merasakan dan atau mengalami kasih karunia dan anugerah pengampunan Tuhan. Sebaliknya, merasa diri benar, menutup hati terhadap orang lain, atau menganggap orang lain lebih berdosa dan tidak perlu dikasihani, sama artinya menutup pintu pengampuan bagi diri sendiri. William Barclay mengatakan: “Satu hal yang menghalangi manusia untuk lebih dekat dengan Allah adalah merasa diri cukup baik, ... dan dosa yang terbesar adalah ketidaksadaran akan dosa”. Maka, dengan sedikit ekstrim dapat dikatakan bahwa tidak ada yang lebih mematikan daripada perasaan bahwa dirinya sendiri adalah benar. Tidak mengaku kesalahan karena merasa diri benar, merasa tindakannya benar, atau sinangea ulau da’ö khönia, selalu mencari alasan untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan atau menganggap rendah orang lain merupakan bentuk kesombongan rohani yang dulunya dimiliki oleh orang-orang Farisi.
-        Kasih dan ungkapan syukur yang kita tunjukkan sesungguhnya merupakan refleksi dari besar-kecilnya kasih karunia, anugerah pengampunan yang telah kita rasakan, telah kita terima, telah kita alami. Artinya, setiap orang yang telah merasakan, menerima dan mengalami kasih Tuhan, pasti mampu menyatakannya dalam kasih dan ungkapan syukur, baik kepada Tuhan sendiri maupun kepada sesama manusia.

 

No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...