Tuesday, December 17, 2013

Biarlah Segala yang Bernapas Memuji Tuhan (Mazmur 150)


Disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

 
150:1   Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat!
150:2   Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!
150:3   Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!
150:4   Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!
150:5   Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!
150:6   Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!


Beberapa waktu yang lalu BPHMS BNKP menghimbau kepada seluruh jemaat BNKP untuk tidak melaksanakan perayaan Natal selama minggu-minggu advent. Bagaimana respon jemaat dan para pelayan? Ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju. Sebagian orang yang setuju memiliki pemahaman yang boleh dikatakan lebih rasional dan teologis, tetapi ada juga yang setuju karena itu sudah himbauan dari pimpinan kita, katanya. Ketidaksetujuan beberapa pihak bukan tanpa alasan, antara lain: mereka sudah terbiasa merayakannya sebelum hari “H” Natal, mereka sudah terlanjur menetapkan perayaan Natal selama minggu-minggu advent, dan beberapa pertanyaan kelompok yang tidak setuju, antara lain: “Apakah dosa kalau merayakan Natal dalam minggu-minggu advent?”. Apakah ada referensi dalam Alkitab yang melarang perayaan Natal pada minggu-minggu advent? Bukankah kelahiran Yesus sesungguhnya bukan tgl 25 Desember?

Terlepas dari setuju atau tidak setuju, realitas ini menunjukkan bahwa kita sedang menggumuli bagaimana sebaiknya kita beribadah, baik pada hari Minggu biasa, maupun pada hari-hari besar gerejawi, termasuk pola hidup sehari-hari yang sesungguhnya merupakan cerminan ibadah kita kepada Tuhan.

Tim sendiri menamai kegiatan ini: “Workshop Musik dan Liturgi BNKP Tahun 2013”. Kalau berangkat dari hakikat dasar liturgi dalam pengertian yang luas, maka “musik” sebenarnya merupakan bagian dari liturgi itu sendiri. Namun, kita juga harus mengakui bahwa istilah “liturgi” seringkali dipahami dalam pengertian yang sempit sebagai “tata ibadah, agendre, dsb”. Tentu saya tidak sedang mempertanyakan nama kegiatan yang telah disepakati oleh tim ini. Pasti ada sesuatu yang hendak dicapai, dan itu tercermin dalam ToR yang sempat saya baca kemarin.

Baik dalam pengertian yang luas, maupun dalam pengertian yang sempit, sama-sama dimaksudkan untuk membangun ibadah yang hidup di tengah-tengah warga jemaat, ibadah yang mendatangkan damai sejahtera bagi semua, ibadah yang dihidupi oleh setiap jemaatnya. Dengan demikian, workshop ini sendiri dilakukan dalam rangka ibadah kepada Tuhan. Selagi kita bernapas, menurut pemazmur tadi, kita mestinya memuji Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, kitab Mazmur merupakan bagian yang paling kaya akan lagu-lagu pujian dalam PL, bahkan dalam seluruh Alkitab. Itulah sebabnya sangat tepat kalau kita menyimpulkan bahwa untaian kata dan kalimat di dalamnya, termasuk kata “haleluya”, secara utuh ditujukan untuk memuji Allah kita yang baik, Allah yang besar dan pemurah. Di bagian akhir dari teks bahkan kitab Mazmur ini, pemazmur berseru “biarlah segala yang bernapas memuji Tuhan” (ya. 6).

Mazmur 150 ini merupakan bagian akhir dari kitab Mazmur. Fungsinya semacam doksologi akhir. Kalau Mazmur 1 semacam pengantar, maka Mazmur 150 semacam kesimpulan. Pasal-pasal awal dari kitab Mazmur ini selalu diwarnai dengan ungkapan yang ada kaitannya dengan “kebahagiaan, atau diberkati”. Dan, pasal-pasal terakhir dari kitab Mazmur ini selalu diawali dan diakhiri dengan ungkapan “Haleluya” (Mzm. 146 – 150). Hal ini menunjukkan bahwa kitab Mazmur memang menyajikan sesuatu yang menggembirakan, atau mendatangkan damai sejahtera, dari awal sampai akhir. Secara eskatologis, hal ini menunjukkan bagaimana karya keselamatan dari Allah diakhiri dengan suatu pujian besar kepada-Nya.

Mazmur 150 ini lebih banyak dilukiskan sebagai himne, nyanyian, atau pujian akhir. Bersama dengan empat Mazmur sebelumnya yang mengekspresikan Haleluya (Mzm. 146 -150), mazmur ini membentuk semacam puncak doksologis dari kitab Mazmur ini sendiri. Teks ini menyajikan sepuluh ajakan pujian dari ayat 1b sampai ayat 6 “Pujilah Allah, Pujilah Dia”, disandingkan bersama dengan ungkapan “Haleluya” di awal dan di akhir teks ini (ya. 1a, 6b). Pengulangan pujian ini sebanyak sepuluh kali seringkali dikaitkan dengan sepuluh kata-kata penciptaan di Kejadian 1, atau sepuluh kata-kata dekalog dalam kitab Keluaran 20. Artinya, karakter Torah tercermin dalam teks ini. Pujian dengan karakter yang seperti ini menunjukkan ketaatan penuh kepada Tuhan. Memuji Tuhan dalam teks dan karakter seperti ini berarti menyatakan ketaatan penuh terhadap Torah.

Bahasa mazmur ini dapat dihubungkan dengan tradisi kultis di Israel dan komunitas pemujaannya. Bentuk dan isi dari pujiannya (ya. 1-6), bentuk liturgisnya (ya. 3, 5), terkait dengan tempat kudus (ay. 1b), atau instrumen/musik kultisnya (ya. 3-5), menunjukkan relasi dengan tradisi kultus di Israel. Teks ini sangatlah liturgi, paling tidak memberikan kita gambaran atau iklim doksologi dari Haleluya akhir.

Isinya, mengajak kita untuk memuji Allah (El) dalam tempat kudus dan dalam cakrawala-Nya yang kuat. Kedua tempat pemujaan Allah ini menunjukkan pemerintahan Allah atas seluruh ruang dan bidang kehidupan. Hal ini kemudian ditegaskan kembali dengan pengungkapan alasan pemujaan terhadap Allah di ayat 2, yang menunjukkan superioritas Allah atas seluruh kosmos dan sejarah. Maka, teks ini hendak menyatakan eksistensi Allah dan apa yang telah Allah lakukan dalam seluruh kosmos dan sejarahnya.

Sehubungan dengan workshop kita dalam beberapa hari ini, hal yang menarik adalah ajakan pujian dengan berbagai metode, alat atau instrumen musik di ayat 3-5, yang semuanya dipakai dan ditempatkan secara liturgis dalam rangka memuji Allah tadi. Tentu, metode dan instrumen musik ini sudah sangat dikenal pada zaman kuno, sangat budayawi dan ilahi.

Dalam kitab Mazmur ini kita juga dapat melihat bahwa ibadah atau puji-pujian itu bersifat universal dan ditujukan hanya kepada Allah. Di dalam puji-pujian itu terkandung suatu pengakuan akan eksistensi Allah dan apa yang telah dilakukan-Nya, dan bagaimana seharusnya makhluk yang bernapas mengalami Allah yang besar itu. Bagian ini hendak mengajak kita untuk menyadari bahwa segala yang bernapas hidup dalam ketergantungan penuh kepada Allah, sumber kehidupan, penguasa atas seluruh kosmos dan pergerakan sejarah.

Memuji Tuhan haruslah mengubah kita, mentransformasi kehidupan kita. Seluruh hidup kita haruslah memuji Tuhan, sebab Dia itu perkasa, besar, dan hebat (ya.2). Paling tidak, itulah yang dialami oleh pemazmur seperti terekspresikan dalam teks renungan kita pada hari ini. Itulah sebabnya pemazmur hendak memakai berbagai metode dan alat yang ada (dalam tempat kudus, cakrawala yang kuat, dengan sangkakala, gambus, kecapi, rebana, tari-tarian, seruling, dan ceracap) untuk kemuliaan nama Tuhan. Saya melihat bahwa metode dan alat puji-pujian yang disebutkan oleh pemazmur sangat tepat dengan konteks zamannya pada waktu itu.

Tentu, kita, di Nias, dan di mana saja, dalam konteks kita dewasa ini, mestinya mau dan mampu menemukan metode dan alat yang kontekstual untuk memuji Tuhan, untuk beribadah, dan untuk menolong kita sendiri mampu mengalami dan menghidupi kehidupan kita sebagai anugerah Allah. Pengalaman masing-masing berbeda, refleksi masing-masing juga berbeda, bahkan di dalam satu jemaat pun pasti berbeda antara yang satu dengan yang lain. Tetapi, intinya tetap sama, yaitu memuji Tuhan, beribadah kepada Tuhan, Sang Pemberi kehidupan bagi kita. Karena itu, kita datang ke sini bukan untuk mempersoalkan berbagai realitas yang terjadi saat ini seperti para pendebat perayaan Natal pada minggu-minggu advent tadi; kita juga datang bukan untuk menunjukkan superioritas teologi kita atas mereka yang mungkin kurang peduli dengan liturgi yang kontekstual. Mengapa? Karena yang “Super” itu hanyalah Allah, dan bagian kita adalah memuji Dia yang “Super” atas segala sesuatu.

Saya kira, para peserta workshop ini memiliki pengalaman dan refleksi yang sangat kaya, yang kalau dapat digali serta dikembangkan dengan baik, pasti menjadi berkat bagi jemaat kita, dan menjadi kemuliaan nama Tuhan. Dengan kekayaan itu, kita bisa menghasilkan suatu buah yang luar biasa. Sdra/i, mumpung kita masih hidup, mumpung kita masih bernapas, pujilah Tuhan. Pergunakanlah segala kesempatan, metode, dan alat yang ada, untuk kemuliaan namanya. Biarlah segala yang bernapas memuji Tuhan! Haleluya!




[1] Bahan khotbah pada Kegiatan Pembukaan Workshop Musik dan Liturgi BNKP Tahun 2013, Selasa, 17 Desember 2013, di Ruang Seminar STT BNKP Sundermann.

Saturday, December 7, 2013

Kedatangan Raja Sion yang Adil dan Jaya (Zakharia 9:9-10)

Pokok Pikiran Khotbah Minggu, 08 Desember 2013
Pdt. Alokasih Gulo, M.Si

9:9       Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.
9:10     Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

Situasi Yehuda pada Zaman Zakharia
Hampir dapat dipastikan bahwa zaman Zakharia adalah zaman pasca pembuangan. Zaman ini dipenuhi dengan ketidakpastian, zaman yang penuh dengan keragu-raguan, zaman kelemah-letih-lesuan di seluruh penjuru negeri Israel. Mengapa? Karena mereka baru saja mengalami masa-masa pahit, dibuang ke negeri orang, Babilonia, dengan demikian harus meninggalkan tanah perjanjian, tanah leluhur mereka selama kurang lebih 70 tahun lamanya.

Kita bisa membayangkan seperti apa tanah atau kampung halaman yang telah ditinggalkan dalam kurun waktu yang cukup lama itu! Tanah Yehuda berubah menjadi hutan, tanah yang seolah-olah tanpa kehidupan manusia di dalamnya. Dan, sekarang, mereka diberi kesempatan “pulang kampung”, antara suka dan tidak suka. Mengapa? Pada satu sisi, mereka tidak nyaman dan tidak merasakan kedamaian tinggal di negeri orang dengan status “orang-orang buangan”, sehingga sudah sangat wajar kalau mereka juga “sangat merindukan” kampung halamannya tersebut. Namun, pada sisi lain, mereka juga sudah dapat membayangkan seperti apa tanah atau kampung halaman mereka yang sudah lama ditinggalkan itu, sudah menjadi “kota sangat tua”. Dan, memang ternyata setelah mereka sampai di tanah leluhur mereka itu, mereka harus bekerja keras untuk membangun kembali kota mereka yang telah hancur dulu, kota mereka yang sudah usang karena ditinggalkan penduduknya, ibarat “kota mati”.

Mereka harus memulai hidup baru, usaha yang baru untuk kelangsungan hidup mereka, harus membangun kembali rumah-rumah mereka, dan yang tidak kalah pentingnya juga adalah harus membangun kembali bait Allah yang telah dihancurkan dulu, termasuk tembok-tembok kota Yerusalem, dan berbagai bangunan lain di negeri itu. Kita sudah dapat membayangkan betapa sulitnya kehidupan mereka.

Namun, masalahnya belum berhenti sampai di situ saja. Perasaan-perasaan gagal pasti menguasai mereka; mereka sangat kecewa dengan situasi mereka itu; dan banyak di antara mereka yang kehilangan semangat untuk membangun kembali negeri mereka itu, tentu dengan berbagai alasan, tentu dengan berbagai perasaan “negatif” yang terus menghantui mereka. Untuk apakah kita membangun? Untuk apa ini semua, kalau toh kemudian dihancurkan oleh peperangan? Untuk apa hidup ini kalau toh pada akhirnya selalu gagal/hancur? à bnd. masa-masa darurat pasca gempa bumi di Nias. Untuk apa? Untuk apa? Dan untuk apa? Galau.com, pesimis.com, depresi.com, enjel.com (enggak jelas).

Tuhan Mengingat Umat-Nya
Dalam situasi yang seperti itulah tampil nabi sekaligus imam Zakharia.[1] Zakharia berarti Tuhan mengingat. Pilihan nama ini memang sangat cocok dengan kitab ini sendiri karena menjelaskan bagaimana Tuhan mengingat umat pilihan-Nya, mengingat janji-janji-Nya, dan akan setia pada mereka.[2] Zakharia mulai melaksanakan tugasnya sebagai nabi dan imam di antara orang-orang Yahudi yang telah kembali dari pembuangan di Babilonia  dua bulan setelah Hagai melaksanakan tugasnya (1:1; 7:1; bnd. Neh. 12:10-16; Hag. 1:1). Dalam arti tertentu, pesan keduanya saling melengkapi, atau lebih tepatnya pemberitaan Zakharia melengkapi pemberitaan Hagai.

Zakharia melaksanakan tugasnya dalam rangka mendukung upaya restorasi komunitas Yahudi yang baru saja kembali dari pembuangan pada waktu itu, dia memotivasi mereka untuk menyelesaikan pembangunan bait Allah dan mempersembahkan kembali diri mereka bagi Tuhan dengan harapan akan berkat-berkat-Nya. Dengan demikian tema sentral kitab ini adalah “dorongan, motivasi dan pengharapan”. Kunci akan pengharapan terletak pada kedatangan Mesias dan penggulingan kekuasaan yang jahat, serta pendirian kerajaan-Nya di bumi.

Sang nabi sangat prihatin terhadap kondisi bangsa itu, sehingga dia mencoba membangkitkan semangat bangsanya yang telah melemah dan menjadi pesimis itu untuk membangun kembali Bait Allah dan komunitas mereka. Mengapa? Karena ternyata bangsa itu menjalani kehidupan mereka dalam kelesuan dan tanpa pengharapan. Maka, kedelapan penglihatan Zakharia pada pasal 1-8 menunjukkan aspek kekuasaan Allah yang menaklukkan si-apa pun yang bangsa itu takutkan, sekaligus memberikan harapan baru bagi mereka.

Kedatangan Raja Pengharapan
Teks renungan kita pada hari ini merupakan salah satu bagian yang paling penting dalam pengharapan bangsa itu. Pengharapan ini lazim disebut sebagai pengharapan mesianis, baik bagi tradisi orang-orang Yahudi maupun orang-orang Kristen. Orang Yahudi melihat bahwa di dalam teks ini terkandung dasar bagi pengharapan mesianis kerajaan secara politik, sementara Perjanjian Baru dan kekristenan melihatnya sebagai nubuatan akan kemenangan/kedatangan Yesus Kristus ke Yerusalem pada hari Minggu sebelum penyaliban-Nya (Mat. 25:5; Yoh. 12:15). Meskipun pemenuhan nubuatan ini masih dalam perdebatan, namun ada keyakinan pasti bahwa tokoh dari keturunan Daud digambarkan di sini, satu orang, yang rendah hati, mengendarai keledai muda, ibarat seorang pemenang yang masuk ke ibu kota Yerusalem. Maka, sangatlah wajar kalau bangsa itu diajak untuk bersukacita, sebab yang datang bukanlah sekadar raja seperti raja duniawi, melainkan seorang raja yang membawa kedamaian, keadilan, dan kejayaan.

Orang Israel haruslah “bersorak-sorak” sebab Raja mereka “datang” kepada mereka (bnd. Zef. 3:15). Mengapa? Karena raja yang datang ini merupakan raja yang adil yang membawa keselamatan bagi bangsa-Nya. Dengan demikian, bangsa Israel tidak perlu menjadi pesimis menyikapi kehidupan, tidak perlu lemas membangun negeri mereka, sebab ketakutan dan ancaman dari berbagai arah akan segera lenyap dengan kedatangan raja besar mereka, Mesias yang dinantikan. Itulah nanti yang ditegaskan di ayat 10, yaitu bahwa segala simbol peperangan, simbol yang mendatangkan ketakutan bagi manusia, akan dilenyapkan oleh kekuasaan sang raja damai itu. Refleksinya sederhana:
“Kalau kita tahu pasti bahwa Penolong/Penyelamat akan datang, mengapa kita tidak bersemangat membangun negeri? Kalau sudah pasti akan ada Raja yang mampu mengatasi masalah kita, untuk apa kita kuatir dan takut? Untuk apa kita menenggelamkan diri dalam ketakutan yang tiada hentinya, dalam mimpi buruk yang kita ciptakan sendiri?”

Namun, perlu disadari bahwa “raja” dimaksud, tidak seperti raja-raja dunia, tidak seperti raja Persia atau Babilonia, raja siapa pun di dunia ini yang selalu datang dalam kemegahan mereka. Raja damai yang datang ini datang dalam “kerendahan hati”, tidak angkuh, tidak sombong, dan tidak arogan. Itulah sebabnya Zakharia menggambarkan kerendahan hati raja ini dengan mengendarai “seekor keledai, keledai beban yang muda” (bnd. Kej. 49:11; Mat. 21:1-9; Mrk. 11:1-10; Luk. 19:28-38; Yoh. 12:12-15).

Di dunia Timur Dekat kuno, penguasa/raja umumnya mengendarai keledai apabila mereka datang dalam kedamaian (Hak. 5:10; 10:4; 12:14; 2 Sam. 16:2; 1 Raj. 1:33), dan sebaliknya mereka akan mengendarai kuda ketika berperang. Ayat ini memberikan alasan mengapa bangsa Israel harus bersorak-sorai, yaitu karena kedatangan raja mereka menandakan datangnya kedamaian di seluruh penjuru negeri. Raja-raja dunia pada dunia kuno pada waktu itu datang dengan membawa ketakutan, tetapi raja Israel dalam teks ini, yang dikenal dengan istilah Mesias, datang dengan membawa sukacita. Siapakah di antara kita yang tidak bergembira kalau ada kedamaian? Siapakah yang tidak bersukacita kalau kota yang kita diami ini bebas dari pencuri, koruptor, dll?

Ayat 10 memberikan alasan kedua mengapa bangsa Israel harus bersukacita, yaitu karena kedatangan sang raja menegaskan bahwa Dia segera mendirikan kerajaan-Nya yang penuh kedamaian, keadilan, dan kejayaan. Kereta pertempuran, kuda perang, busur perang, menandakan seluruh senjata yang dipakai dalam peperangan kuno; jadi ayat 10 ini menunjukkan penghancuran seluruh senjata dimaksud. Penulis kitab-kitab Injil percaya bahwa Yesus merupakan Raja yang akan datang (Mat. 21:5; Yoh. 12:15; bnd. Why. 19:11-16). Tuhan akan mengakhiri perang di Israel, dan akan membangun kedamaian di dunia, dengan proklamasi kekuasaan-Nya (bnd. Yes. 2:4; 9:5-7; 11:1-10; Mik. 5:10-15). Perlu dicatat bahwa kerajaan Mesias di sini dapat dipahami dalam pengertian yang luas, tidak hanya bagi bangsa Israel. Menegaskan kembali alasan sukacita kita di ayat 9, siapakah yang tidak bergembira kalau keluarga, lingkungan, jemaat, masyarakat, kota, bangsa dan negara yang didiaminya dipenuhi dengan kedamaian, keadilan, dan kejayaan?

Tuhan akan memerintah melalui Raja ini atas Israel, dan kekuasaan-Nya akan menjangkau seluruh dunia, dari sungai Efrat di Timur hingga ujung dunia (bnd. Mzm. 72:8-11; Yes. 66:18). Dalam kedua ayat ini, Mesias bertolak belakang dengan raja yang justru mendatangkan ketakutan/penderitaan bagi orang lain (misalnya di ayat 1-8). Demikianlah Raja yang akan datang itu, pasti datang membawa keselamatan bagi kita semua, segala ketakutan/penderitaan akan dilenyapkannya, karena itu sangatlah wajar kalau kita bersukacita menyambut kedatangan-Nya.


[1] Menurut pasal 1:1, Zakharia bernubuat pada bulan ke delapan tahun 520 SZB. Kedelapan penglihatan malamnya terjadi pada tahun ini (1:7), ketika dia masih muda (2:4). Dia menyampaikan pesan di pasal 7 – 8 pada tahun 518 SZB (7:1). Nehemia menyebutkan Zakharia sebagai kepala keluarga imam ketika Yoyakhim menggantikan Yosua, yang adalah imam besar (Neh. 12:12, 16). Hal ini mengindikasikan bahwa penguasa besar di negeri pembuangan pada waktu itu adalah raja Artaxerses I (465 – 424 SZB). Beberapa ahli menduga Nehemia yang menulis pasal 9 -14 pada masa kemudian kehidupannya, namun kita tidak sedang membahas itu sekarang.

[2] Zakharia ini merupakan putra Berekhya anak Dido (1:1, 7; bnd. Ezra 5:1; 6:14; Neh. 12:4, 16). Sama seperti Yeremia dan Yehezkiel, Zakharia merupakan seorang nabi sekaligus imam. Dia sangat familiar dengan hal-hal imam (bnd. psl. 3; 6:9-15; 9:8, 15; 14:16, 20, 21). Dia masih muda ketika menjadi nabi (2:4), kemungkinan besar dia lahir di Babilonia dan kembali ke tanah Yehuda sekitar tahun 536 SZB bersama dengan Zerubabel dan Yosua. Dia menjadi imam kepala dalam restorasi komunitas Yahudi pada waktu itu.

Selamat bersukacita dan berpengharapan di dalam Tuhan. Maranata, salam Advent.

Thursday, December 5, 2013

Tuhan adalah Gembalaku (Mazmur 23:1 dab)

Pdt. Alokasih Gulo, M.Si

Sebelum mengaplikasikan teks ini, ada baiknya kita sejenak mengajukan pertanyaan: “apa sih yang dimaksudkan oleh pemazmur dengan kalimat ‘takkan kekurangan aku‘?“ Atau: “kekurangan seperti apa yang pemazmur maksudkan dalam teks ini?” Mengapa pertanyaan ini penting? Karena secara umum ketika mendengar kata “kekurangan” maka kita membayangkan semacam “kebutuhan materiil”. Nampaknya pemazmur tidak mau membatasi diri dengan kebutuhan semacam itu, bukan karena tidak penting, melainkan karena ada sesuatu kebutuhan utama yang hendak dia ungkapkan.

Paling tidak ada dua cara (selain cara yang lain, kalau ada) untuk mencari tahu maksud pemazmur dengan kalimatnya itu. Pertama adalah dengan melihat terjemahan lain dari kata itu, dan yang kedua adalah dengan melihat konteks teks ini sendiri. Yang pertama pasti berkaitan dengan yang kedua nantinya.

Dalam beberapa terjemahan Inggris kalimat “takkan kekurangan aku” (I shall not want) dituliskan “I have everything I need“ (saya memiliki apa pun yang saya butuhkan). Nah, dengan kalimat yang seperti ini kita diberi kesempatan untuk mendapatkan makna yang lebih luas sekaligus mengingatkan kita untuk tidak terburu-buru membayangkannya sebagai “kebutuhan materiil”.

Mungkin kita malah semakin kesulitan dengan begitu luasnya makna “takkan kekurangan aku” ini, namun di ayat-ayat berikut kita akan ditolong untuk lebih fokus pada apa yang pemazmur maksudkan. Inilah yang saya sebut tadi melihat konteks teks ini. Di ayat 4 dia bicara soal “kekelaman dan bahaya”, dan di ayat 5 dia menyinggung soal “hidangan di hadapan lawan”. Ayat-ayat ini hendak memperkuat apa yang dia ungkapkan pada ayat 2, 3, dan 6.  Saya membayangkan pemazmur tengah berada dalam “situasi yang kurang kondusif”, atau paling tidak pemazmur membayangkan dan atau mengandaikan dirinya berada dalam “situasi yang kurang kondusif itu”, maka dia menyatakan keyakinannya bahwa “TUHAN adalah gembalaku”. Artinya pemazmur sedang berhadapan dengan situasi yang sungguh mencekam, sedang berada dalam bahaya, dan secara spesifik sedang berhadapan dengan lawannya (entah si-apa). Dalam “situasi” yang seperti inilah pemazmur percaya bahwa “TUHAN adalah gembalaku”. Apa pun yang terjadi, situasi apa pun yang sedang dia hadapi, pemazmur percaya bahwa karena TUHAN adalah gembalanya, maka dia justru merasakan situasi yang nyaman dan menyegarkan, kepastian dan kelimpahan, serta jaminan hidup sepanjang masa (bnd. ay. 6). Pemazmur hendak mengatakan bahwa bersama TUHAN dia memiliki apa pun yang dia butuhkan dalam kondisi/situasi apa pun juga.

“Berada dalam situasi yang kurang kondusif” seperti pemazmur pasti sudah pernah kita alami, mungkin juga sedang kita alami, dan pasti akan kita alami. Berada dalam situasi yang tidak menentu (mungkin pemutasian yang kurang jelas, mungkin hasil alam yang menguatirkan, mungkin ancaman bencana alam, mungkin ancaman “lawan-lawan” kita, dst), situasi yang menggelisahkan, situasi yang menguatirkan, situasi yang mencekam dan menakutkan, tentu bukan hal yang menyenangkan. (Daftar ini masih bisa diuraikan sebanyak-banyaknya dan sejelas-jelasnya sesuai dengan konteks jemaat kita masing-masing). Apa pun dan bagaimana pun situasi yang terjadi, kenyamanan dan kesegaran, kepastian dan kelimpahan serta jaminan hidup hanya ada di dalam gembala yang sesungguhnya, yaitu TUHAN. Ini adalah sebuah pengakuan sekaligus kepasrahan kepada TUHAN, Sang Gembala, tapi bukan dalam pengertian “menyerah pada apa yang disebut ‘nasib’”. Ini adalah suatu perjuangan yang tidak mengandalkan kemampuan sendiri, tetapi lebih pada bimbingan TUHAN.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...