Wednesday, May 13, 2015

Diyakinkan, Diutus, dan Disertai (Matius 28:16-20)



Bahan Khotbah Kamis, 14 Mei 2015
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

28:16  Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Teks renungan kita pada hari ini merupakan kelanjutan dari kisah kebangkitan Yesus, dimana pada bagian akhir kisah dimaksud ada semacam kesimpangsiuran informasi di tengah-tengah masyarakat tentang kebangkitan Kristus, termasuk di tengah-tengah para murid. Pada satu sisi ada berita tentang kebangkitan-Nya yang dibuktikan dengan kubur yang kosong (Mat. 28:1-10), namun pada sisi lain mahkamah agama Yahudi menyebarkan suatu berita yang menyatakan Kristus tidak bangkit, Dia telah dicuri oleh murid-murid-Nya pada malam hari (Mat. 28:11-15). Tentu kita lebih percaya pada berita kebangkitan Kristus sebagai sesuatu yang telah terjadi, sedangkan berita dari mahkamah agama tersebut adalah bohong/palsu. Sekarang, penulis Injil Matius mengajak kita semua untuk meyakini kebenaran berita tentang Kristus itu, kemudian meneruskan berita tersebut kepada semua bangsa, dengan keyakinan baru bahwa Tuhan Yesus pasti menyertai.

(1)  Yesus meyakinkan para murid akan kuasa-Nya (ay. 17-18)
Keragu-raguan beberapa orang terhadap Yesus sangat dimaklumi (ay. 17), sebab berita palsu yang disebarluaskan oleh mahkamah agama sangat menggoncang iman, bahkan diikuti dengan ancaman para penguasa Yahudi (dan Romawi). Yesus tahu persis situasi ini, sehingga Dia perlu meyakinkan murid-murid-Nya akan kuasa yang dimiliki-Nya (ay. 18); dengan demikian berita tentang kebangkitan-Nya (yang penuh kuasa) adalah benar adanya, dan tidak perlu diragukan lagi.

(2)  Yesus mengutus pada murid (ay. 19-20a)
Setelah meyakinkan murid-murid akan kuasa-Nya, Yesus kemudian mengutus mereka untuk memberitakan kebenaran itu kepada semua bangsa (sebagai upaya untuk melawan arus berita palsu), dan bahkan meminta mereka untuk membaptis semua bangsa dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (ay. 19-20a). Teks ini juga sekaligus memberi penegasan kepada kita akan universalitas berita Injil Kristus, yaitu kepada semua bangsa, bukan hanya kepada bangsa Israel/Yahudi (sebagaimana selama ini dipahami oleh bangsa Israel/Yahudi; ingat bahwa pembaca Injil Matius adalah keturunan Yahudi). Teks ini mendorong kita untuk membuka hati, membuka diri terhadap mereka yang selama ini dianggap tidak masuk dalam “wilayah” pemberitaan akan kasih karunia Tuhan. Teks ini meyakinkan kita untuk tidak ragu-ragu menjangkau mereka yang selama ini tidak terjangkau, sehingga mereka pun berolah kebenaran dan keselamatan di dalam Kristus Yesus.

(3)  Yesus menjanjikan penyertaan-Nya (ay. 20b)
Mengutus seseorang untuk suatu pekerjaan yang sangat berisiko tentu harus disertai dengan suatu jaminan bahwa yang bersangkutan pasti dilindungi oleh pemilik pekerjaan itu sendiri. Itulah kira-kira yang dilakukan oleh Yesus ketika mengutus murid-murid-Nya memberitakan berita tentang Kristus yang bangkit dan penuh kuasa. Yesus menjanjikan perlindungan kepada mereka dengan perkataan: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (ay. 20b). Apa artinya? Yaitu bahwa Yesus sendiri pasti menyertai murid-murid-Nya; menyertai dalam teks ini berarti Yesus selalu bersama-sama dengan setiap orang yang memberitakan berita kebenaran tentang diri-Nya, Dia pasti melindungi mereka, Dia pasti memberikan pertolongan dan penghiburan atas mereka, Dia pasti memampukan mereka melaksanakan tugas pemberitaan kebenaran itu. Lagi-lagi, Yesus meyakinkan kita semua bahwa kita tidak sekadar yakin akan kebenaran tentang Kristus, tetapi sungguh-sungguh yakin juga akan kebenaran yang kita teruskan atau beritakan itu kepada semua bangsa.

Sdra/i yang dikasihi Tuhan, apa artinya menjadi orang Kristen? Pertama, menjadi orang Kristen tidak sekadar mengaku bahwa kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan yang telah bangkit dan hidup. Menjadi orang Kristen yang percaya pada Kristus berarti yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa kuasa yang sesungguhnya hanya ada di dalam Yesus yang kita percayai itu. Memang, kadang-kadang kita “ragu-ragu” meyakininya, apalagi kalau sepertinya Tuhan tidak berpihak pada kita, namun sikap “ragu-ragu” itu harus menggiring kita pada pencarian dan penerimaan kebenaran bahwa Kristuslah yang berkuasa atas hidup kita.

Kedua, menjadi orang Kristen yang percaya pada kuasa Kristus memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memberitakan kebenaran Kristus itu bahkan kepada semua bangsa. Artinya, kita harus menyaksikan Kristus kepada siapa pun, di tempat mana pun, dan di setiap saat. Kita tidak harus membuka Alkitab setiap bertemu dengan setiap orang, sebab yang jauh lebih berpengaruh adalah kesaksian hidup kita terhadap sesama, baik mereka yang selama ini dekat dengan kita, maupun mereka yang “jauh” dari “jangkauan pertemanan” kita masing-masing. Maka, aneh rasanya kalau ada orang tampil atau mengaku sebagai anak-anak Tuhan ketika berada di dalam gereja, namun tampil sebagai “anak-anak yang tidak jelas” ketika “keluyuran” entah ke mana.

Ketiga, menjadi orang Kristen yang telah menerima Kristus berarti yakin akan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Penyertaan Tuhan ini memampukan kita untuk tidak ragu-ragu lagi menjalani kehidupan kita dalam kebenaran Kristus, sekaligus menyadarkan kita bahwa Kristus selalu mengamati setiap gerak langkah kita di mana saja dan kapan saja. Kesadaran ini akan menolong kita pada satu sisi untuk tidak ragu-ragu melangkah dalam kebenaran, sekaligus bersikap hati-hati dalam menjalani kehidupan ini, sebab Kristus menyertai dan “mengawasi” perjalanan kita.


[1] Bahan Khotbah Kebaktian Kenaikan Yesus, Kamis, 14 Mei 2015, Jemaat BNKP Denninger dan Betania Fodo, Pdt. Alokasih Gulö, M.Si

Saturday, May 9, 2015

Siapakah yang bisa Mencegah Karya Roh Kudus? (Kisah Rasul 10:44-48)



Bahan Khotbah Minggu, 10 Mei 2015
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

10:44   Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.
10:45   Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga,
10:46   sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus:
10:47   “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?”
10:48   Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.

Pada mulanya, Petrus dapat dikatakan sebagai representasi kelompok Kristen Yahudi yang cukup fanatik, belum terbuka terhadap bangsa-bangsa lain, dan menganggap keselamatan itu ditujukan (hanya) bagi keturunan Yahudi saja. Ada beberapa peristiwa yang membuktikan hal ini, dan yang paling dekat dengan teks renungan kita pada hari ini adalah ketika Petrus pada awalnya “menolak” untuk memberitakan kabar keselamatan bagi Kornelius yang ditandai dengan tiga kali penolakannya atas tawaran Tuhan untuk memakan makanan yang selama ini mereka anggap haram (lih. Kis. 10:14). Namun peristiwa perjumpaan-Nya dengan Tuhan melalui penglihatan itu, dan diikuti kemudian dengan pertemuannya dengan Kornelius, telah membuka mata Petrus bahwa ternyata Allah sendiri menghendaki bangsa-bangsa lain itu mendapatkan bagian dalam keselamatan di dalam Kristus, dan bahwa Allah sendiri berkenan menerima mereka yang selama ini dianggap kafir, dan itu dibuktikan dengan pencurahan Roh Kudus bagi orang-orang non-Yahudi.

Melalui pengalaman Petrus bersama Kornelius, dan dilanjutkan dengan kelompok besar non-Yahudi dalam teks renungan kita pada hari ini, menjadi jelas bahwa Roh Kudus itu dicurahkan atas orang Yahudi maupun non-Yahudi, dan tidak ada si-apa pun yang bisa mencegah-Nya, termasuk Petrus dan kelompok Kristen Yahudi sendiri. Karya Roh Kudus atas orang-orang non-Yahudi itu pun membuat Petrus dan orang percaya dari kelompok Yahudi (golongan bersunat) kagum (tercengang-cengang), apalagi bangsa-bangsa lain yang dihinggapi Roh Kudus itu juga mampu melakukan hal-hal yang luar biasa, misalnya berbicara dalam bahasa Roh dan memuliakan Allah (lih. Kis. 11:15-16). Jadi, terbukti bahwa Allah tidak membuat perbedaan antara orang-orang percaya keturunan Yahudi dan non-Yahudi, sebab kedua golongan ini sama-sama diterima oleh Yesus Kristus. Artinya, teks renungan kita pada hari ini semakin memberi kesadaran bagi Petrus bahwa kalau Allah sendiri berkenan menerima orang-orang keturunan non-Yahudi, dan membuka pintu keselamatan bagi mereka, bahkan mencurahkan Roh Kudus atas mereka, lalu siapakah Petrus, siapakah orang Kristen Yahudi, siapakah manusia yang dapat mencegah-Nya? Jawabannya adalah bahwa karya Roh Kudus tidak dapat dicegah atau dihambat oleh sia-pa pun.

Sdra/i yang terkasih, Allah berkenan memberikan Roh Kudus bagi setiap orang, baik bagi kelompok Yahudi maupun non-Yahudi, yaitu bagi mereka yang percaya atau beriman pada Yesus Kristus (bnd. Kis. 11:17). Bangsa-bangsa lain tidak harus melakukan atau memenuhi syarat-syarat tertentu seperti dalam tradisi Yahudi, mereka cukup percaya pada Yesus, dan karena iman itulah Allah berkenan menganugerahkan mereka Roh-Nya yang Kudus. Mereka tidak perlu menjadi penganut agama Yahudi (proselit), tidak harus dibaptis terlebih dahulu dengan air, tidak perlu menjalani sunat seperti orang-orang Yahudi, bahkan ekstremnya mereka tidak perlu “dipaksa” terlebih dahulu untuk bertobat, sebab Roh Kudus sendiri dalam kebebasan-Nya telah berkarya atas mereka. Ini menandakan bahwa Allah menghendaki semua bangsa diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Menarik sekali perkataan Petrus di ayat 47: “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Dengan perkataan ini, Petrus menegaskan “pencerahan” yang diperolehnya sekaligus mengajak kelompok Yahudinya untuk menyadari bahwa tidak ada lagi alasan untuk tidak membaptis mereka yang non-Yahudi, tidak ada lagi alasan untuk menutup diri dari mereka, sebab Allah sendiri telah berkenan menerima mereka dengan mencurahkan Roh Kudus-Nya atas mereka. Orang-orang non-Yahudi ini telah percaya pada Yesus dan telah mengalami baptisan di dalam Roh Kudus. Sekali lagi, hal ini menandakan penerimaan Allah akan orang-orang non-Yahudi, menegaskan bahwa Allah berkenan mengikutkan mereka dalam rencana keselamatan itu, walaupun mereka tidak mengikuti segala macam aturan tradisi (Kristen) Yahudi.

Sdra/i yang dikasihi Tuhan, kita tentunya patut bersyukur karena Allah berkenan menyelamatkan kita; kita patut bersyukur karena kita semua diselamatkan oleh Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, dan berkenan mencurahkan Roh Kudus atas kita masing-masing, bahkan tanpa membeda-bedakan. Yesus Kristus berkenan menyelamatkan siapapun yang Dia kehendaki; Dia menyelamatkan para pelayan-pelayan-Nya, Dia juga menyelamatkan warga jemaat biasa; Dia menyelamatkan para pembesar/pejabat, Dia pun menyelamatkan rakyat/masyarakat biasa; Dia menyelamatkan orang dari berbagai latar belakang kehidupan, dari berbagai latar belakang organisasi gereja, dlsb. Siapakah yang dapat mencegah Tuhan Yesus untuk melakukan itu semua? TIDAK ADA!

Sdra/i yang terkasih, belajar dari pengalaman Petrus dan orang-orang yang ada di sekitarnya pada waktu itu, bahwa oleh karya Roh Kudus Petrus dkk pada akhirnya menyadari, mengakui, dan menyatakan bahwa Allah memang berkarya atas bangsa-bangsa lain, dan bahwa Roh Kudus pun dicurahkan atas mereka, sama seperti pengalaman orang-orang percaya dari bangsa Yahudi. Apa artinya? Yaitu bahwa orang-orang yang telah mendapatkan pencerahan dari Roh Kudus pasti mampu membuka diri satu terhadap yang lain, pasti mampu menerima satu dengan yang lain tanpa harus mengajukan syarat-syarat tertentu yang kadang-kadang subjektif. Orang-orang yang telah mendapatkan curahan Roh Kudus pasti memperlakukan sesamanya dengan baik tanpa membeda-bedakan, tanpa melihat latar belakang kehidupannya. Maka sangatlah ironi kalau ada orang mengaku orang Kristen, mengaku percaya pada Kristus, dan mengaku telah menerima ilham Roh Kudus, tetapi dia memandang dan memperlakukan sesamanya dengan cara yang berbeda, biasanya “menghargai” mereka yang dianggap “hebat, berkuasa, ada jabatan, dll”, sementara menyepelekan mereka yang dianggap “rendah, kecil, tidak berharga” atau ada istilah dalam bahasa Nias “tenga niha”.

Sdra/iku, ada juga orang yang merasa berkecil hati kalau Tuhan memberkati sesamanya, apalagi kalau sesamanya itu merupakan “lawan atau musuhnya”. Kalau Tuhan sendiri mengasihi, menyelamatkan dan memberkati siapa pun yang Dia inginkan, adakah yang dapat mencegah-Nya? Siapakah yang dapat menghalangi Allah? Siapakah yang dapat mengatur Allah dalam kasih karunia-Nya? Siapakah yang dapat memerintahkan Allah dalam karya Roh Kudus-Nya? TIDAK ADA! Jadi, bukankah jauh lebih baik kalau kita bersyukur atas keselamatan dan karya Roh Kudus yang telah kita terima, dan ikut bersukacita kalau ada orang lain juga menerimanya? Dengan demikian kita dapat menjalani dan menikmati kehidupan dengan lebih baik, dan itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar telah menerima curahan Roh Kudus dari Tuhan.


[1] Bahan Khotbah Minggu, 10 Mei 2015, di ONKP Jemaat Kota Lölöwa’u, dalam rangka Kunjungan STT BNKP Sundermann, oleh Pdt. Alokasih Gulö, M.Si

Sunday, May 3, 2015

TUHANlah Raja, bagi-Nya segala Pujian dan Kemuliaan (Mazmur 47:1-10)



Bahan Khotbah Minggu, 3 Mei 2015
Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

47:1  Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Mazmur. (47-2) Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai!
47:2  (47-3) Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi.
47:3  (47-4) Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita,
47:4  (47-5) Ia memilih bagi kita tanah pusaka kita, kebanggaan Yakub yang dikasihi-Nya. Sela
47:5  (47-6) Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala.
47:6  (47-7) Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah!
47:7  (47-8) Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran!
47:8  (47-9) Allah memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus.
47:9  (47-10) Para pemuka bangsa-bangsa berkumpul sebagai umat Allah Abraham. Sebab Allah yang empunya perisai-perisai bumi; Ia sangat dimuliakan.

Mazmur ini, baik dalam konteks nas maupun dalam konteks historisnya, dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa penting yang telah dialami oleh bangsa Israel sebagaimana terungkap dalam Mazmur 46. Peristiwa penting dimaksud adalah kemenangan besar yang didapatkan oleh bangsa Israel atas musuh-musuh mereka, yaitu bangsa-bangsa lain yang sebenarnya jauh lebih besar dan lebih kuat daripada mereka.[2]Bangsa Israel pun menyadari hal ini, sehingga mereka mengakui bahwa kemenangan atas bangsa-bangsa lain itu diperoleh hanya karena pertolongan TUHAN semata, bahkan mereka menegaskan bahwa peperangan yang berakhir dengan kemenangan atas bangsa-bangsa lain yang jauh lebih kuat itu sesungguhnya dilakukan oleh TUHAN Allah sendiri yang telah mendengar keluh kesah dan telah memperhatikan kesengsaraan mereka, sehingga TUHAN Allah itu datang sendiri menaklukkan musuh-musuh mereka (Mzm. 47:4). Ekspresi akan kemenangan mereka inilah yang terungkap dalam Mazmur 46, yang diarahkan pada pengakuan bahwa TUHAN Allah adalah sumber perlindungan, kekuatan, penolong, dan kota benteng yang teguh (ay. 2, 7, 8-10).

Di Mazmur 47, dalam teks renungan kita pada hari ini, pemazmur mengajak segenap umat TUHAN untuk melantunkan puji-pujian dan sorak-sorai bagi TUHAN Allah yang telah turun dari Surga untuk menolong dan melindungi mereka (Mzm. 46), dan sekarang TUHAN Allah itu kembali naik ke Surga (ay. 6), menuju tahta kerajaan-Nya yang kudus (ay. 9). Pemazmur mengajak seluruh umat TUHAN, bahkan mengajak segala bangsa (ay. 2) yang telah mengalami pertolongan dan perlindungan-Nya untuk bermazmur sekaligus mengakui kekuasaan Allah sebagai Raja yang sesungguhnya, Raja yang tidak hanya memerintah atas bangsa Israel tetapi juga memerintah atas bangsa-bangsa lain, Raja yang besar atas seluruh bumi (ay. 3), Raja yang sangat dimuliakan (ay. 10). Apa artinya, yaitu bahwa tidak ada alasan untuk tidak memuji Tuhan, tidak ada alasan untuk tidak mengakui kekuasaan Tuhan, dan tidak ada alasan untuk tidak menerima Dia sebagai penolong, pelindung, dan penguasa mutlak dalam kehidupan manusia.

Sdra/i yang terkasih, manusia, orang Kristen, termasuk kita semua yang hadir dalam kebaktian pagi ini, akan sulit mengekspresikan pujian dan pengakuan akan kekuasaan Allah, apabila kita menganggap Allah belum pernah atau jarang menolong dan melindungi kita, apabila kita menganggap kehidupan ini dapat dijalani karena kekuatan atau kemampuan kita sendiri, atau apabila kita cenderung melihat lebih pada kegagalan atau kekurangan yang kita miliki dan abai terhadap kelebihan atau keberhasilan yang pernah kita alami. Seorang teman pendeta berbagi kisah sebuah cerita/percakapan seorang ibu (istri) dengan MC pada suatu pesta Golden Anniversary:
MC    : Apakah ibu merasa suami ibu ada kekurangannya?
Ibu    : Banyak sekali, sebanyak bintang di langit!
MC    : Apakah ada kebaikan suami ibu?
Ibu    : Sedikit sekali, bagaikan matahari di langit!
MC    : Terus, apa yang membuat ibu bisa bertahan hidup bersamanya setengah abad lamanya?
Ibu    : Karena begitu matahari terbit, semua bintang itu menjadi tidak kelihatan!

Orang-orang yang selalu menghayati kehidupan berimannya dengan benar, akan mampu melihat, mengakui, dan menjalani hari-harinya dengan penuh sukacita, bahkan dalam masalah dan tantangan besar sekalipun, dia masih mampu melihat bahwa kuasa Tuhan jauh melebihi masalah dan tantangan dimaksud, dia mampu melihat bahwa pertolongan dan perlindungan Tuhan jauh melebihi kelemahan/kekurangan dan kegagalan yang dialami, dan keselamatan yang dari Tuhan jauh melebihi kesulitan dan ancaman dalam kehidupan ini. Berangkat dari perenungan itu, kita mampu bermazmur, memuji, dan bersorak-sorai bagi Tuhan, baik ketika kita berada dalam gereja ini, maupun ketika kita kembali menjalani kehidupan kita sehari-hari.

Namun, tidak bisa dipungkiri sdra/i, bahwa banyak orang yang memuji dan mengakui Tuhan dengan bibirnya ketika mengikuti kebaktian, tetapi seringkali absen dalam merealisasikan pujian dan pengakuan itu dalam kehidupan sehari-hari, karena lebih mengandalkan kekuatan, kemampuan, kekayaan, pendidikan, jabatan, dan pengaruhnya untuk kepentingan diri sendiri, seolah-olah Tuhan tidak sedang mengamatinya, seolah-olah Tuhan tidak berkuasa dalam kehidupannya, padahal sesungguhnya Tuhanlah Penguasa mutlak, Penolong, Pelindung, dan Sumber keselamatan bagi kita. Ada orang Kristen yang tampil, tersenyum, dan bertutur kata sebagai anak-anak Tuhan ketika berada di dalam gereja, tetapi seringkali mengalami kesulitan untuk tampil, tersenyum, bertutur kata, bergaul, dan bertingkah laku sebagai anak-anak Tuhan di tempat kerja, di perjalanan, di warung-warung, di tempat tinggal (rumah atau kos-kosan), di sekolah/kampus, dan di tempat-tempat tertentu. Mengapa? Banyak faktornya, salah satunya adalah ketidakmampuan kita dalam mengalami dan menghayati pertolongan, perlindungan, dan keselamatan dari Tuhan, ketidakmampuan kita untuk mengakui kekuasaan Tuhan dalam seluruh keberadaan hidup kita.

Sdra/i yang dikasihi Tuhan, persoalan lain yang bisa muncul sehubungan dengan teks renungan kita pada hari ini adalah tentang cara kita memuji Tuhan. Dalam faktanya, ada orang/gereja yang memuji Tuhan dengan cara yang cukup ramai (bertepuk tangan, segala jenis alat musik, bersorak sorai, dll), ada juga yang memuji Tuhan dengan cara yang lebih tenang (dengan mengandalkan KJ, BZ, dan sejenisnya). Banyak orang berdebat bahkan saling menghakimi hanya karena cara memuji Tuhan yang berbeda itu, padahal Tuhan sendiri tidak pernah mempermasalahkannya. Sesungguhnya, setiap orang bebas memuji Tuhan menurut penghayatan dan pengalaman imannya dengan Tuhan, sebab Tuhan sendiri pernah mengecam cara beribadah bangsa Israel (pada zaman nabi-nabi) karena cara beribadah mereka itu tidak diikuti dengan tingkah laku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Sdra/i yang terkasih, memuji dan memuliakan Tuhan berarti mensyukuri kehidupan yang dijalani sebagai anugerah Tuhan; mengakui Tuhan sebagai Raja berarti menjalani kehidupan dalam takut akan Tuhan, mencintai Dia dengan segenap hati dan akal budi kita. Hanya orang-orang yang seperti inilah yang mampu memuji dan memuliakan Tuhan sebagai Raja dan Sumber keselamatan. Amin.


[1] Bahan Khotbah Minggu, 3 Mei 2015, Kebaktian II BNKP Jemaat Hosiana, Pdt. Alokasih Gulö, M.Si
[2] Dalam sejarahnya, bangsa Israel, dhi kota Yerusalem pernah dikepung oleh salah satu bangsa super-power pada zaman kuno yaitu bangsa Asyur. Di bawah kepemimpinan raja Sanherib tentara Asyur menyerang Yerusalem pada tahun 701 SZB. Namun, TUHAN Allah menolong dan melindungi umat-Nya, sehingga suatu malam 185 ribu tentara Asyur yang hendak menyerang Yerusalem, mati karena kuasa Tuhan (lih. 2 Raj. 19:35); akhirnya Israel selamat.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...