Saturday, July 16, 2016

Berani Mengambil Bagian yang Terbaik (Lukas 10:38-42)



Rancangan Khotbah Minggu, 17 Juli 2016
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo

A.    Penjelasan Teks
Teks kita hari ini berbicara mengenai dua tokoh yang secara garis keturunan sangat dekat, tetapi sangat berbeda dalam hal memanfaatkan waktu (kesempatan) yang ada, dan itu terlihat dalam hal penyambutan atau pelayanan mereka kepada seorang tamu agung mereka, yaitu Yesus yang saat itu datang berkunjung ke kampung atau rumah mereka. Kisah ini ditulis “hanya” oleh Lukas bukan untuk mempertentangkan kedua tokoh ini, bukan untuk mempertentangkan aktivitas mereka berdua, bukan juga untuk menyatakan bahwa yang satu lebih rohani sedangkan yang lain lebih duniawi karenanya tidak perlu dicontoh. Kisah ini mengajak para pembaca awalnya (dan kita sekarang) untuk (berani atau sebaliknya tidak berani) mengambil keputusan atau menentukan pilihan terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dengan segala pikuk hiruknya itu.

Dua perempuan ini (Marta dan Maria) memiliki pilihan masing-masing untuk melakukan sesuatu ketika Yesus datang ke rumah mereka, dan masing-masing pula dikendalikan oleh sesuatu yang berbeda. Marta merupakan representasi orang-orang yang mencoba mendapatkan kebahagiaan dan mengisi waktunya dengan memenuhi kriteria sistem poleksos Romawi (poleksos = politik, ekonomi, sosial) yang umumnya dipenuhi oleh “keglamoran” dalam berbagai bentuk; sedangkan Maria adalah representasi mereka, yang dengan penuh keberanian meninggalkan sukacita yang ditawarkan oleh sistem poleksos Romawi tersebut, dan berkenan menerima kebahagiaan & sukacita yang ditawarkan oleh Yesus, sekali pun mungkin akibatnya Maria berdiskusi dengan Yesus tanpa snack dan makanan (sebagai lambang kebahagiaan sistem poleksos Romawi). Artinya Maria berhasil keluar dari pemahaman umum tentang kebahagiaan dan sukacita, dan kini menyerahkan diri untuk dikendalikan oleh pemahaman baru akan kebahagiaan dan sukacita di dalam Yesus. Keputusan Maria sebenarnya cukup radikal, dan justru di situ pesan itu menjadi kabar sukacita.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Marta; toh apa yang dia lakukan dengan kesibukannya itu adalah untuk melayani Yesus, bukan untuk dirinya sendiri. Adalah sangat wajar juga kalau dia kesal, uring-uringan, dan akhirnya mengeluh kepada Yesus karena saudaranya “Maria” yang seolah-olah tidak peduli dengan kesibukannya itu dan hanya duduk saja dekat kaki Yesus mendengarkan perkataan-Nya. Tetapi apa yang terjadi? Ketika Marta dengan lumayan kasar mengeluh kepada Yesus tentang saudaranya yang nampaknya malas itu, maka Yesus menjawab dengan lemah lembut tetapi tegas. “Marta, Marta ...”. Kata-kata Yesus di sini tidak untuk menyalahkan Marta, dan tidak menganggap kesibukan melayani tersebut salah. Pelayanan Marta dapat dianggap baik, namun dalam penilaian Yesus pilihan dan tindakan Maria adalah yang terbaik sebab ia memperhatikan hal yang perlu pada saat itu. Marta ternyata telah dikuasai atau dikendalikan oleh kekuatiran, kesusahan dan kesibukan dengan banyak perkara (dengan banyak kegiatan) dan melupakan sesuatu yang sangat berharga pada saat itu, yaitu satu kesempatan emas yang tidak akan terulang lagi, “mendengarkan perkataan Tuhan Yesus” yang sedang berkunjung ke rumah mereka.

Yesus sebenarnya tetap menghargai apa yang dilakukan oleh Marta untuk melayani Dia, tetapi Yesus juga mengingatkan bahwa Marta seharusnya berlaku seperti saudaranya Maria, mampu menentukan/memilih prioritas pada kesempatan kunjungan-Nya itu; dan itulah yang dikatakan Yesus tadi di ayat 42: tetapi hanya satu yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya. Artinya, Maria telah mempergunakan kesempatan yang ada dan mengambil keputusan untuk memilih yang terbaik pada saat itu, yaitu firman kehidupan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus. Dalam hal ini Maria dikendalikan oleh prioritas, yang baginya adalah yang terutama, yakni duduk dekat kaki Yesus.

B.    Renungan
Teks ini mengajarkan kita bahwa pengikut Kristus harus berani mengambil pilihan yang terbaik dalam menjalani kehidupannya, dalam menerima dan melayani Yesus, yaitu pilihan yang mungkin saja tidak populis, dianggap ketinggalan zaman (kuno), dianggap terlalu idealis dan kaku, namun dengan pilihan terbaiknya itu dirinya tidak terbawa arus zaman yang semakin “edan” ini. Lihatlah misalnya betapa seringnya kegiatan gereja justru telah dipengaruhi (“dirusak”) oleh sistem, gaya, pola kehidupan dan kegiatan dunia yang didominasi oleh keglamoran, monumental, materialistis, hedonisme, orientasi uang, orientasi jabatan/kekuasaan, orientasi prestise, dll.

Perhatikan misalnya perayaan hari-hari besar gerejani yang seolah-olah tidak bermakna kalau tidak banyak kegiatan, termasuk keharusan adanya kegiatan “lucky draw” (undian). Hal ini terjadi terutama dalam perayaan-perayaan Natal yang diisi dengan banyak kegiatan, pemberitaan firman Tuhan hampir-hampir tenggelam dalam berbagai kegiatan tersebut. Hal serupa juga dapat kita lihat dalam hal pembangunan gedung gereja yang notabenenya “rumah Tuhan”, pembangunan kantor dan rumah dinas pendeta, termasuk rumah pribadi para pendeta, berlomba-lomba dalam berbagai kemegahan walaupun masih banyak warga jemaatnya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Para pelayan gereja pun “bersaing” mendapatkan “posisi dan barang mewah” tertentu dengan menghalalkan segala cara, dan tidak ada bedanya dengan para pejabat pemerintah, bahkan mungkin lebih “mengerikan”. Tenggelam dalam segala pikuh hiruk dunia.

Atau, lihat misalnya kebiasaan gereja kita untuk mendapatkan dana yang besar, dilakukan dengan “lelang” yang sebenarnya berasal dari tradisi bisnis yang tentunya menempatkan mereka yang memberi lebih banyak sebagai pihak yang lebih diutamakan, dihormati, dan bahkan disanjung-sanjung. Tuhan pun mendapatkan bagian yang akhir saja, sekadar ucapan syukur.

Hal yang sama juga dapat kita temukan dalam gaya hidup kita, sudah banyak yang menganut pola hidup “jalan pintas” (shortcut), sebab dunia memang menawarkan berbagai kemudahan bagi manusia. Mari kita lihat contohnya di dunia pendidikan, karena besok (18/07/2016) sekolah-sekolah akan memulai kegiatan belajar mengajarnya kembali. Lihat betapa dunia pendidikan kita “rusak” karena tawaran pendidikan murah meriah – gratis tanpa garansi mutu, bahkan pendidikan teologi pun diobral sedemikian rupa, jauh lebih bobrok daripada pendidikan sekuler. Dunia menawarkan segala kemudahan walaupun melalui jalur yang salah, sayang sekali anak-anak Tuhan menyambut sangat baik tawaran menggiurkan itu. Tragis memang!

 
“Berani mengambil bagian yang terbaik” merupakan tema sentral teks ini, tetapi terbaik menurut ukuran Tuhan, bukan menurut ukuran manusia, bukan menurut kebiasaan dunia, bukan menurut pemahaman kebanyakan orang. Pertanyaannya ialah bagaimana kita tahu bahwa bagian terbaik yang kita pilih sudah sesuai dengan ukuran atau standar Tuhan? Atau, bagaimana caranya supaya kita memiliki keberanian untuk memilih yang terbaik dalam pandangan Tuhan? Sederhana saja, yaitu dengan duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan Dia. Itu berarti kita sedang mengisi hidup kita dengan sesuatu yang sangat bermakna, sesuatu yang memiliki nilai hidup bersama Yesus. Hanya apabila kita selalu lebih dulu mendengarkan suara Yesus kita akan memiliki kemampuan untuk mengambil bagian yang terbaik dalam kehidupan ini; hanya dengan mendengarkan dan bersekutu dengan Tuhan kita akan dimampukan juga untuk berbuat, bekerja, dan melayani dengan memenuhi kriteria Tuhan, bukan kriteria dunia ini. Sayang sekali, pada zaman sekarang banyak orang, termasuk para hamba Tuhan, yang justru mengalami kekeringan spiritual karena berbagai faktor, salah satunya adalah “ketiadaan” waktu untuk duduk dengan tenang mendengarkan firman Tuhan dan bersekutu dengan Kristus.



Sunday, July 10, 2016

Taat TUHAN Berkat Melimpah (Ulangan 30:9-14)



Rancangan Khotbah Minggu, 10 Juli 2016
Pdt. Alokasih Gulo[1]

Banyak orang yang beranggapan bahwa kita tidak mungkin taat sepenuhnya pada hukum Allah; malah ada guyonan yang mengatakan bahwa hukum/peraturan dibuat untuk dilanggar. Ini menunjukkan betapa sulitnya taat pada hukum yang berlaku, baik hukum “dunia” maupun hukum Allah. Hal ini juga yang sering membuat manusia menyerah dan pada akhirnya tidak taat pada hukum Allah, dan kadang-kadang mencoba “meringankan” ketidaktaatannya itu dengan mengatakan bahwa Yesus telah memenuhi semua hukum Allah itu, dan kita tidak perlu lagi mengikuti semua hukum tersebut, percaya saja kepada Yesus, maka itu sudah sangat cukup. Tidak sedikit orang Kristen yang memiliki pemahaman sempit seperti ini, hukum Allah itu (apalagi di dalam PL) tidak lagi penting, sebab Yesus sudah mati untuk semuanya itu, dan yang kita butuhkan sekarang adalah percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Teks renungan kita pada hari ini justru menantang anggapan manusia bahwa kita tidak mungkin taat sepenuhnya pada hukum Allah. Teks ini justru mendorong umat Tuhan, dalam hal ini bangsa Israel, untuk memelihara hukum Allah, untuk taat pada perintah-perintah-Nya. Dorongan untuk taat pada hukum atau perintah-perintah Tuhan menurut teks ini akan berdampak positif dalam kehidupan umat Tuhan itu sendiri yaitu: “TUHAN, Allahmu, akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam segala pekerjaanmu, dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu ...” (ay. 9).

Jadi, percaya kepada Yesus, menjadi orang Kristen, tidak menjadi alasan untuk tidak taat pada perintah-perintah Tuhan, termasuk yang tertulis dalam PL, dan tidak menjadi alasan untuk hidup menurut keinginan hatinya, hidup di luar hukum Allah. Status kita sebagai orang Kristen yang telah dimerdekakan oleh Kristus, tidak boleh disalahartikan dan disalahgunakan, tidak boleh dipergunakan sebagai kesempatan untuk berbuat dosa. Lagi pula, memelihara hukum-hukum Tuhan itu akan membawa dampak positif bagi kita sendiri, taat pada perintah Tuhan bukanlah suatu kerugian melainkan keuntungan. Memelihara firman Tuhan berarti memelihara berkat-berkat Tuhan tetap mengalir di dalam kehidupan kita, dan hal ini kiranya menjadi penyemangat kita untuk tetap hidup menurut firman Tuhan.

Pengaitan antara “ketaatan” pada firman Tuhan dengan “berkat” Tuhan yang melimpah Ini bukan sekadar janji di bibir saja (PHP). TUHAN Allah sendiri telah memberikan kelimpahan kepada nenek moyang Israel dulu, dan kelimpahan yang sama juga akan diberikan kepada bangsa Israel apabila mereka berpegang teguh pada hukum atau perintah Allah (ay. 10). Janji Allah akan kelimpahan yang akan diberikan-Nya kepada bangsa Israel ini sekaligus menjawab kecemasan mereka yang tidak lama lagi memasuki tanah Kanaan, tanah yang belum pernah mereka injak, belum pernah mereka diami, belum pernah mereka olah, dan hasil tanahnya masih belum mereka nikmati. Apalagi Musa, pemimpin mereka dari tanah Mesir dikabarkan tidak akan bersama-sama dengan mereka ke tanah Kanaan, karena Tuhan memiliki rencana/kehendak lain tehadap Musa. Hal ini tentu menambah “kecemasan/kekuatiran” bangsa itu, sehingga mereka perlu dikuatkan, atau diyakinkan bahwa TUHAN Allah pasti menyertai mereka dan memenuhi segala kebutuhan mereka hingga berlimpah, namun bangsa Israel juga harus tetap taat kepada-Nya dengan memelihara hukum-hukum-Nya. Ini bukan berarti bahwa ketaatan kepada hukum-hukum TUHAN menjadi prasyarat akan berkat yang berlimpah-limpah. Janji berkat itu justru memberi kepastian bagi bangsa Israel akan kehidupan mereka di masa depan, dan ketaatan mereka lebih sebagai respon mereka akan berkat-berkat TUHAN yang telah mereka terima, sedang diterima, dan akan diterima.

Saat ini kita taat pada firman Tuhan bukan sekadar supaya kita memperoleh berkat yang melimpah. Sebelum kita berbuat banyak dalam pemeliharaan firman Tuhan pun, kita sudah diberkati-Nya, kita sudah dilimpahi-Nya dengan berbagai kebaikan. Nah, kalau sekarang kita memilih taat kepada-Nya, maka hal itu semakin memberi jaminan akan kelangsungan kehidupan kita yang lebih baik di masa yang akan datang, yaitu bahwa Tuhan Allah akan selalu menyertai orang-orang yang takut akan Dia.

Tuhan Allah meminta umat-Nya untuk taat pada hukum atau perintah-perintah-Nya, dan itu tidak memberatkan, tidak menyulitkan. Secara ringkas teks ini menegaskan bahwa perintah Tuhan yang mesti ditaati itu tidak terlalu sukar ... tidak terlalu jauh ..., tetapi sangat dekat ... yakni di dalam mulut dan hati manusia ... untuk dilakukan (ay. 11-14). Jadi, tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk tidak taat pada perintah Tuhan, atau untuk membela diri atas ketidaktaatannya. Tuhan sudah tahu kemampuan manusia, itulah sebabnya Dia pun memberikan hukum/perintah yang dapat “terjangkau” oleh manusia itu sendiri. Ini juga menjadi jaminan bagi bangsa itu untuk tidak ragu-ragu taat pada firman Tuhan, sebab firman Tuhan itu sudah ada di tengah-tengah mereka. Hal ini juga sekaligus memberi kepastian bahwa tanah yang berlimpah dan diberikan Tuhan kepada umat Israel itu tidak terlalu jauh, sudah sangat dekat, sudah berada di hadapan mereka, sehingga mereka tidak perlu menempuh perjalanan jauh lagi (seperti sebelumnya) untuk mencapai tanah yang berlimpah berkat tersebut. Itulah maksud dari perkataan di ayat 13: “Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?”

Perkataan ini semua menjawab keraguan dan kekuatiran bangsa Israel yang tidak lama lagi memasuki tanah Kanaan, tanah perjanjian itu. Pernyataan di ayat 14 bahwa firman Tuhan itu sangat dekat dengan mereka sebenarnya menegaskan bahwa Tuhan sangat dekat dengan mereka, berada dalam diri mereka sendiri. Dengan kata lain, memelihara firman Tuhan, taat pada perintah-perintah-Nya berarti mempertahankan kehadiran Tuhan di dalam diri, dan itu dapat diartikan Tuhan selalu bersama-sama dengan dia, dan Tuhan Allah yang firman-Nya ada dalam diri manusia itulah yang melimpahi umat-Nya dengan berkat “dalam segala pekerjaan, dalam buah kandungan, dalam hasil ternak dan dalam hasil bumi”. Maka, bila di dalam mulut dan hati mereka ada firman Tuhan, apa yang tampaknya mustahil menjadi sangat mungkin terjadi. Na taroma li Lowalangi zi so ba mbeweda ba ba dödöda, na si sökhi zi so ba wa’aurida, ba tatu si sökhi göi dania mbua nitemada. TUHAN dan firman-Nya itu sangat dekat dengan kita, dan kitalah sekarang yang “mengambil keputusan” untuk hidup di dalam-Nya.



[1] Khotbah Minggu, 10/07/2016, di BNKP Jemaat Onozikhö, R. 26.

Tuesday, July 5, 2016

Setia karena Cinta, Cinta karena Setia (Kidung Agung 8:6-7)



Bahan Renungan Kebaktian Pagi Rapat Pendeta BNKP Tahun 2016
Kamis, 30 Juni 2016
Pdt. Alokasih Gulo[1]

Pengantar Kitab
Kitab Kidung Agung terkenal dengan ungkapan-ungkapan romantisnya yang kadang-kadang terkesan seperti “kumpulan gombalan orang-orang yang sedang jatuh cinta”. Alhasil, kitab ini pun sangat jarang dikhotbahkan, membacanya saja pun kadang-kadang membuat kita tersenyum bahkan tertawa sendiri, kedengarannya aneh (asing), terasa risi untuk membicarakannya, padahal kalau mau jujur, dalam aksinya tidaklah aneh, sangat familier, dan kalau mau jujur lagi kita sulit hidup tanpa kehadirannya.

Nampaknya, penulis kitab ini tahu persis bahwa manusia tidak mungkin bertahan hidup tanpa cinta, sebab cinta merupakan kebutuhan esensial manusia. Oleh karena itu, bagi penulis kitab Kidung Agung “cinta” itu bukanlah sesuatu yang tidak boleh disentuh, bukan sesuatu yang tidak boleh diucapkan/dibicarakan, dan bukan sesuatu yang tidak boleh “dirasakan/dialami”. Tidak ada yang salah dengan “cinta” itu, justru menurut penulisnya “cinta” itu manusiawi sekaligus ilahi.

Penjelasan Teks
Teks ini berbicara mengenai kesetiaan di dalam cinta. Melaluinya terungkap suatu kerinduan mendalam yang menunjukkan kesetiaan sang penulis: “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu” (ay.6). Pada zaman kuno, segel atau meterai atau tanda pernikahan sudah biasa dipergunakan. Ada tanda pernikahan dengan memakai kalung (bnd. Kej. 38:18), yang tentunya berada “dekat dengan hati” (bnd. ungkapan awal di ayat 6 “taruhlah aku seperti meterai pada hatimu), ada juga cincin meterai pada tangan kanan (bnd. Yer. 22:24), dan kitab Kidung Agung menunjukkan bahwa ada tanda pernikahan yang dikenakan pada lengan. Inilah ekspresi kerinduan sang penulis untuk segera bersanding dengan kekasihnya, sebab bagi penulis tidak ada satu pun yang dapat memisahkan atau menghentikan cintanya itu.

Namun, kita tidak boleh terbuai begitu saja pada untaian kata-kata romantis yang begitu menggelora dalam kitab ini, sebab kita bisa saja terjerumus dalam pemahaman harfiah atau rohaniah yang justru mereduksi makna dari cinta itu sendiri. Dengan kata-kata romantisnya penulis kitab ini mengajak kita untuk melihat sesuatu di dalam “cinta” itu, sesuatu yang mungkin terlewatkan dalam pikiran kita (karena sudah terlalu sering mendiskusikannya), terlewatkan dalam perasaan kita (karena sudah terlalu biasa menikmati/mengalaminya), dan terlewatkan dari kesadaran/tindakan kita (karena sudah terlalu sering berkhotbah tentang cinta-kasih). Dengan penggambaran yang bersifat superlatif, penulis hendak menegaskan bahwa di dalam cinta ada kekuatan yang luar biasa, kekuatan yang tidak bisa dibendung oleh si-apa pun juga. Hal ini menunjukkan kesetiaan yang luar biasa, kesungguhan dan keteguhan dalam mencintai.

Ada tiga (3) gambaran cinta dimaksud:
(1)  Kuat seperti maut, gigih seperti dunia orang mati.[2]
Dalam dunia kuno, maut dianggap memiliki kekuatan yang tidak terbendung, dan hanya dapat dikalahkan oleh kekuatan Allah. Agak aneh memang penulis menggambarkan “cinta” (ungkapan yang bersifat positif) dengan “maut/kematian” (ungkapan yang bersifat negatif). Namun, penulis kitab ini melihat bahwa dengan kemampuannya sendiri manusia tidak dapat menolak kedatangan dan kekuatan “maut/kematian”, dan bahwa “dunia orang mati” itu tidak kompromistis, tidak setengah hati, dan tidak perlu diragukan lagi. Demikianlah gambaran “cinta” itu, tidak dapat dibendung, dilawan, dikalahkan, atau ditolak oleh manusia, kekuatannya tidak perlu diragukan lagi, dan dengan penuh kesetiaan dia dapat “mendatangi” manusia kapan dan di mana saja. Kekuatan cinta seperti ini memberikan suatu dorongan yang sangat besar (kegairahan gigih) untuk dapat meraih impiannya, dia akan berusaha dengan sekuat tenaga - tentu dengan segala risikonya - untuk dapat bersanding dengan sang kekasih. Cinta yang kuat seperti ini hanya dapat ditunjukkan oleh orang-orang yang memiliki kesetiaan mendalam terhadap apa yang dicintainya itu.

(2)  Menyala seperti nyala api, nyala api TUHAN, tidak dapat dipadamkan.
Melanjutkan penggambaran kekuatan cinta yang seperti “maut/dunia orang mati” yang tidak dapat dibendung dan tidak kompromistis itu, penulis menegaskan bahwa nyala cinta itu pun tidak bisa dipadamkan, juga tidak kompromi (sama seperti nyala api yang melalap apa saja yang dapat dijangkaunya). Nyala api yang dahsyat itu tidak dapat dipadamkan, bahkan sungai-sungai dengan airnya yang banyak pun tidak akan dapat memadamkannya. Demikianlah nyala cinta yang sejati, tidak dapat dipadamkan, tidak pernah pudar/mati (selalu menyala), dan sekali lagi tidak kompromistis. Cinta sejati itu tetap menyala dan panas walaupun banyak upaya untuk memadamkan dan mendinginkannya, tidak akan pudar walaupun mengalami berbagai proses dan menempuh perjalanan yang begitu panjang.

(3)  Tidak dapat dibeli dengan segala harta benda.
Sama seperti fenomena zaman sekarang, pada zaman dulu juga terjadi praktik jual-beli cinta, atau berbagai pengkhianatan karena uang, materi, harta benda, atau apa pun yang dapat disamakan dengan itu. Tidak dipungkiri lagi bahwa banyak orang yang dibutakan oleh berbagai harta benda tersebut, bahkan ada yang “memperjualbelikan Tuhan, agama, jabatan, harga diri, dll” demi mendapatkan keuntungan sesaat. Namun, bagi penulis kitab Kidung Agung ini, cinta sejati tidak dapat dibeli dengan segala harta benda. Hal ini bukan karena dia tidak butuh segala harta tadi, tetapi karena baginya “kesetiaan” adalah “harga mati” yang tidak dapat diperjualbelikan dan tidak dapat dikompromikan dengan si-apa pun.

Renungan
Apakah engkau cinta Tuhan?
Sejenak, saya teringat pertanyaan Tuhan Yesus yang diajukan sebanyak tiga kali kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku ... ?” (lih. Yoh. 21:15a, 16a, 17a). Walaupun sempat ada kesedihan di hati Petrus di pertanyaan ketiga, namun semuanya dia menjawab: “Benar Tuhan, ... aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:15b, 16b, 17c). Untuk melihat sejauh mana cinta-kasih Petrus itu ke depan, maka Yesus berpesan: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh. 21:15c, 16c, 17d). Pesan ini cukup singkat, jelas, dan sederhana!

Apakah engkau cinta Tuhan?
O... tentu, cinta banget malah ...!

Sebagai pendeta, apakah engkau cinta Tuhan?
Pertanyaan macam apa itu ...!!?? Ya iyalah ... pendeta itu pasti cinta Tuhan ...!!! Saya ini sudah menempuh pendidikan teologi, sudah menempuh berbagai lokakarya dan pelatihan, sudah melayani di beberapa tempat, sudah banyak berkhotbah, sudah banyak membaptis anak, sudah melayani perjamuan kudus, ... masih banyak lagi.

Tetapi, mengapa engkau masih mencari pekerjaan lain, atau malah secara sembunyi-sembunyi sudah bekerja di instansi lain?
Ah ... itu hanya iseng saja, cari pengalaman!

Mengapa engkau menjelek-jelekkan gereja BNKP yang Kepalanya adalah Yesus padahal engkau sendiri melayani dan menikmati hasil pelayananmu itu di BNKP?
Saya tidak menjelek-jelekkan BNKP, saya hanya menyuarakan suara kenabian saja!

Mengapa engkau tidak tinggal di tengah-tengah jemaat yang telah dipercayakan Tuhan kepadamu untuk digembalakan?
Kan tidak ada rumah dinas, perlengkapan rumah dinasnya tidak memadai, jaringan telkomsel/internet sulit, tidak mungkin saya meninggalkan keluarga saya ..., lagi pula saya kan selalu memantau mereka lewat telepon, SMS, medsos ... sekali-dua kali dalam seminggu saya memantau mereka di lapangan.

Mengapa engkau lebih banyak duduk-duduk di kantor dan menghabiskan banyak waktu untuk internetan, online/offline games, merumpi, padahal engkau menggunakan fasilitas BNKP?
Ah ... mau tahu aja ... itu kan hanya buang suntuk saja, sekadar refreshing ... biasalah J

Apakah engkau cinta Tuhan?
Hmmm ... gimana ya ... saya sih terus belajar untuk mencintai-Nya ..., semoga komitmen awal saya untuk memenuhi panggilan Tuhan dalam pelayanan terus menguat, terus menyala, dan tetap bertahan.

Komitmen dalam pelayanan itu muncul dan berkembang apabila sudah “jatuh cinta” dengan pelayanan itu sendiri, tentunya sudah “jatuh cinta” dengan Pemilik pelayanan itu. Kalau pun misalnya ada di antara kita mengklaim bahwa dia sangat mencintai BNKP atas dasar cinta Tuhan, tetapi tidak diiringi dengan komitmen yang kuat, tidak disertai dengan kesungguhan dalam menggembalakan domba-domba Tuhan, minim kreatifitas (di jemaat, resort, dan unit pelayanan), dan tidak dapat menjadi agen transformasi di tengah-tengah jemaat dan masyarakat, maka cintanya itu patut diragukan.

Baiklah, kita mungkin mengklaim bahwa atas dasar cinta Tuhan kita sungguh-sungguh mencintai pelayanan yang telah dipercayakan kepada kita di BNKP. Itu sesuatu yang mengagumkan! Tetapi tunggu dulu! Kalau ternyata pelayanan kita tidak lagi menggelora seperti sebelumnya, dari waktu ke waktu kita melayani dengan pamrih, dan kadang-kadang bersungut-sungut, maka cinta kita itu belumlah kuat, masih di permukaan sehingga akan sangat mudah dihanyutkan oleh arus kehidupan yang begitu deras. Sesungguhnya, di dalam cinta sejati ada kesetiaan, ada keteguhan hati, ada keterpautan hati dengan Tuhan dan pelayanan-Nya, dan keterpautan itu tidak mudah dipisahkan, tidak mudah digoyah, tidak mudah dibendung, dan tidak mudah dipadamkan oleh si-apa pun juga. Jadi, komitmen yang didasari oleh cinta yang sejati dalam pelayanan, ditandai dengan kesungguhan, kreativitas, dan transformasi yang dihadirkannya melalui pelayanannya itu. Karena itu, melayanilah karena cinta, dan gembalakanlah domba-domba Tuhan dengan penuh kesetiaan dan cinta-kasih.



[1] Bahan renungan pada kebaktian pagi Rapat Pendeta BNKP, Kamis, 30 Juni 2016, oleh Pdt. Alokasih Gulo.
[2] Penggambaran cinta yang kuat seperti “maut” atau “dunia orang mati” dapat dijumpai pada teks-teks Ugarit, mis: “cinta para dewa sangat kuat seperti maut”.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...