Saturday, June 10, 2017

Dewasa dalam Beriman dan Kehidupan Bersama (2 Korintus 13:11-13)



Rancangan Khotbah Minggu, 11 Juni 2017
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

13:11  Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!
13:12  Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Salam dari semua orang kudus kepada kamu.
13:13  Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.

Kita harus melihat teks ini dalam konteks besar surat 2 Korintus. Hubungan antara jemaat Korintus dan Paulus lumayan rumit – pada satu sisi mereka memiliki kedekatan spiritual yang luar biasa, namun pada sisi lain mereka juga memiliki hubungan yang sangat menyakitkan, perselisihan yang bahkan menyerang pribadi Paulus. Dalam 2 Korintus ini digambarkan bahwa hubungan mereka tersebut antara saling percaya dan saling menuduh, terutama ketika Paulus mengecam jemaat Korintus yang telah menjadi mangsa guru-guru palsu. Hal itulah yang terungkap pada surat 2 Korintus pasal 10 sampai pasal 13.

Namun, bagian akhir dari surat 2 Korintus ini cukup mengejutkan apabila dilihat dari hubungan mereka yang rumit tadi. Paulus tetap meminta jemaat untuk bersukacita. Biasanya, nasihat untuk bersukacita itu hanya disampaikan ketika jemaat sedang mengalami penganiayaan atau berada dalam penderitaan, namun tidak demikian halnya dengan nasihat Paulus di bagian akhir suratnya ini. Ternyata, selain dalam penganiayaan atau penderitaan, nasihat untuk tetap bersukacita juga disampaikan oleh Paulus ketika mereka berada di tengah-tengah perselisihan dalam jemaat dan masyarakat (lih. juga 2 Kor. 1:24; 2:3; 6:10; 7:4, 13). Artinya, sekalipun mereka sedang berselisih, namun sukacita mereka harus tetap ada; jangan sampai perselisihan itu menghilangkan sukacita mereka.

Nasihat ini terdengar sederhana atau sudah umum, namun ketika diperhadapkan dengan konteks perselisihan akan menjadi menarik. Sebab, pertanyaannya ialah siapakah yang merasa senang, bersukacita, atau bahagia ketika sedang berselisih dengan orang lain? Tidak ada bukan? Itulah sebabnya nasihat Paulus ini menarik, yaitu supaya sukacita kita tidak hilang sekalipun kita sedang berada dalam hubungan yang kurang baik dengan orang lain, sekalipun hubungan kita dengan seseorang (istri, suami, pacar, orangtua, mertua, menantu, rekan kerja, dll) berada dalam status “rumit” (kompleks). Dalam faktanya, manusia tidak bisa menghindari perselisihan, percekcokan, bahkan perpecahan, namun bagi Paulus, orang percaya harus tetap bersukacita.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah dengan demikian kita bersukacita karena telah berselisih? Atau, kita bersukacita kalau ada orang lain sedang berselisih atau konflik? Tidak, bukan itu yang dimaksudkan oleh Paulus. Paulus sendiri justru menasihati kita untuk berusaha sempurna (Yun. καταρτιζεσθε, mengatur/menata dengan baik), sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera, BUKAN DALAM KEKACAUAN DAN PERSELISIHAN. Jadi, perselisihan mestinya tidak boleh terjadi, namun Paulus realistis, dia menyadari bahwa ada saatnya perselisihan tidak bisa dihindari, dan dia sendiri pernah mengalaminya. Dalam konteks yang seperti inilah Paulus menasihati orang-orang percaya untuk tetap bersukacita, sebab sukacita dapat menolong kita untuk saling “berdamai”.

Sekarang kita lihat nasihat Paulus selanjutnya, supaya jemaat berusaha sempurna (maksudnya: supaya jemaat mengatur/menata segala sesuatu dengan baik), sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera. Dengan kata-kata ini Paulus hendak menasihati jemaat untuk berusaha memulihkan hubungan mereka yang sempat retak karena berbagai-bagai perselisihan, dan tentunya memulihkan hubungan mereka dengan Tuhan. Karena itu, jemaat haruslah mencapai kesepakatan terutama untuk hal-hal yang prinsip dalam iman dan kehidupan, itulah maksud dari kata “sehati sepikir”. Artinya, dalam situasi jemaat yang “berselisih” itu, termasuk dengan Paulus sendiri, jangan sampai mengorbankan prinsip-prinsip utama dalam iman dan kehidupan jemaat; sebaliknya – sama seperti nasihat yang pertama tadi, tetap bersukacita sekalipun sedang berselisih – orang-orang percaya pun harus tetap sehati sepikir dalam mempertahankan dasar-dasar iman dan kehidupan mereka bersama sekalipun mereka sedang berselisih. Satu lagi, sebaiknya jemaat – sebisa mungkin – hidup berdamai satu dengan yang lain, tidak ada gunanya untuk terus menerus tinggal dalam perselisihan yang berkepanjangan. Pada akhirnya, kalau jemaat dapat melakukan ini semua, maka – demikian kata Paulus – mereka pun akan mendapatkan dalam damai sejahtera yang dari Allah.

Tidak dapat dipungkiri memang bahwa hubungan kita satu dengan yang lain terganggu karena berbagai faktor. Hampir tidak ada kehidupan bersama tanpa perselisihan, seperti ungkapan dalam bahasa Nias: “asala na gadulo ba helehele ba fatiti”. Namun, itu bukan berarti bahwa kita terus menerus hidup dalam situasi yang seperti itu, atau apakah ada di antara kita pada hari ini senang kalau sedang bermasalah dengan orang lain? Nampaknya tidak ada! Dalam konteks yang seperti ini kita harus mengedepankan prinsip iman dan kehidupan bersama, sekalipun mungkin kita (“harus”) berselisih, sekalipun mungkin percekcokan tidak dapat dihindari lagi. Di sini dibutuhkan orang-orang yang berhati dan berjiwa besar, yaitu orang-orang yang dapat menempatkan prinsip iman dan kehidupan bersama di atas “perselisihan” dengan segala macam faktor itu. Maka, amatlah menyedihkan kalau masih ada orang percaya (apalagi kalau hamba Tuhan atau pelayan gereja) menutup mata hatinya terhadap (kebaikan/kelebihan) orang lain hanya karena persoalan sepele (tidak suka, dislike). Amatlah memprihatinkan kalau masih ada orang percaya “rela” mengorbankan kehidupan bersama hanya karena perbedaan pendapat, perbedaan prinsip dan gaya hidup pribadi, atau karena perbedaan pilihan hidup dan pilihan lainnya. Karena itu, sebaiknya kita harus selalu memperbaiki dan memulihkan hubungan kita dengan orang lain dan Tuhan. Saya sering katakan kepada mahasiswa, “cara kita berelasi dengan orang lain sesungguhnya merupakan cerminan dari cara kita berelasi dengan diri sendiri dan dengan Tuhan”. Maka, menurut Paulus, kita haruslah sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera (satu dengan yang lain).

Untuk menutup nasihatnya ini, Paulus mengajak orang-orang percaya untuk memberi salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus (lih. juga Rom. 16:16; 1 Kor. 16:20; 1 Tes. 5:26). “Ciuman kudus” bukanlah hal yang aneh pada zaman Paulus, sudah menjadi tradisi mereka saling menyambut dengan ciuman (tetapi bukan ciuman di bibir ya). Hal itu terutama dilakukan dalam keluarga, menunjukkan persaudaraan yang erat; dan Paulus mengajak jemaat (yang sering dianggap sebagai keluarga Allah) untuk saling memberi ciuman kudus, dalam pengertian saling menyapa dan membangun hubungan persaudaraan yang tulus.

Tentu, orang-orang yang saling berselisih, dan belum dewasa menyikapi perselisihan, akan sangat sulit untuk bertegur sapa, jangankan “ciuman kudus” (seperti dipraktikkan oleh jemaat mula-mula), bersalaman saja pun dapat dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan. Di sinilah Paulus menasihati kita untuk berupaya membangun hubungan persaudaraan yang erat dan tulus, tetap mengedepankan nilai-nilai penting dalam iman dan kehidupan bersama, dan sikap ini hanya dapat ditunjukkan oleh orang-orang yang dewasa dalam iman. Pada akhirnya damai sejahtera dari Allah itu akan menyertai kehidupan kita.


[1] Khotbah Minggu, 11/06/2017, di BNKP Jemaat Orudua Balohili

Monday, June 5, 2017

Tahirkan aku, ya Allah (Mazmur 51:12-15)



Rancangan Khotbah Perayaan Pentakosa II, Senin, 05 Juni 2017
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

51:12  Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!
51:13  Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!
51:14 Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!
51:15 Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

Siapakah manusia yang tidak pernah berbuat salah? Siapakah manusia yang tidak pernah berbuat dosa? Tidak ada! Itulah sebabnya Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Kristen di Roma mengatakan: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Rom. 3:10-12). Namun itu tidak berarti bahwa manusia boleh-boleh saja berbuat dosa, toh tidak ada seorang pun yang benar. Kita harus ingat bahwa selalu saja ada akibat yang harus kita tanggung akibat kesalahan dan dosa yang kita perbuat, dan bahkan Rasul Paulus juga mengatakan bahwa upah dosa ialah maut (Rom. 6:23). Jadi, siapakah orang yang merasa nyaman kalau sudah berbuat salah/dosa? Bagaimana perasaan kita kalau sudah berbuat salah misalnya kepada seseorang dan kita belum dimaafkan? Manusia normal tentu merasa tidak nyaman kalau sudah berbuat salah/dosa, ada perasaan tidak damai dalam dirinya sebab perasaan bersalah atau berdosa itu selalu saja menghantui kehidupannya.

Itulah juga yang dialami oleh raja Daud setelah dia berzinah dengan Batsyeba, istri Uria (2 Sam. 12:1-15). Tidak hanya itu, setelah melakukan perzinahan itu, raja Daud pun mengusahakan agar suami sah Batsyeba, Uria, berada di barisan terdepan dalam perang, sehingga kemudian Uria tewas dalam perang tersebut. Pada awalnya, ketika dia berbuat dosa, rasanya aman-aman saja, ami ba mböröta, tetapi kemudian muncullah perasaan tidak nyaman dan tidak bahagia itu setelah nabi Natan menegurnya (lih. ay. 1-2). Maka, raja Daud berdoa dan berpuasa, memohon belas kasihan Tuhan, memohon pengampunan Tuhan atas dosa yang telah diperbuatnya, perzinahan dan pembunuhan (hutang darah, ay. 16). Permohonan pengampunan dosa ini secara khusus terungkap di ayat 3-5, 9.

Permohonan raja Daud inilah yang terungkap dalam Mazmur 51. Permohonan ini amatlah kuat bahkan tanpa pembelaan diri sedikit pun di hadapan TUHAN Allah. Selain itu, mazmur ini juga diserukan kembali ketika bangsa Israel berada di pembuangan hingga pasca pembuangan, sebagai bentuk permohonan bangsa itu akan belas kasihan Tuhan atas dosa-dosa mereka sekaligus permohonan pertolongan TUHAN atas kegiatan mereka membangun kembali tembok Yerusalem (bnd. ay. 20). Jadi, kehidupan manusia, beserta segala kegiatan yang dia lakukan, tidak akan berjalan lancar selama manusia itu belum memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya, dan itulah yang hendak ditegaskan dalam Mazmur 51 ini.

Namun, dalam Mazmur ini juga terungkap bahwa permohonan pengampunan dosa tidaklah sempurna apabila tidak diikuti dengan komitmen untuk bertobat. Mengapa? Karena permohonan ampun tanpa pertobatan mirip dengan seorang anak yang meminta maaf atas kesalahannya tetapi tidak berjanji untuk bertobat sehingga kemungkinan besar akan mengulanginya lagi. Itulah yang dilakukan oleh pemazmur dalam teks renungan kita pada hari ini, memohon agar  TUHAN mentahirkan dia seluruhnya, membersihkan atau menyucikan kehidupannya yang telah penuh dengan dosa perzinahan dan pembunuhan (ay. 12, 16). Demikian juga dengan bangsa Israel di kemudian hari, memohon ampun atas segala dosa pemberontakan mereka kepada Tuhan, sebab dosa-dosa itu telah membuat mereka terbuang dari hadapan Tuhan (ay. 13), jauh dari kesejahteraan dan kedamaian.

Setelah memohon pengampunan dosa, pemazmur juga memohon hati yang murni dan roh yang teguh (ay. 12-14). Permohanan akan hati yang murni dan roh yang teguh ini sekaligus memberi penegasan bahwa hanya Tuhan sajalah yang dapat mengubah hati manusia, dan menciptakan “suatu hati yang tahir”. Pemazmur menyadari bahwa selama dosa-dosa manusia belum diampuni, dan selama hatinya belum ditahirkan oleh Tuhan, maka manusia itu akan kehilangan kegirangan (bnd. ay. 14), akan kehilangan sukacita, kehilangan rasa damai, dan bahkan akan kehilangan keselamatan yang dari Tuhan. Na no mu’efa’ö ngawalö zalada, na no ibologö dödö-Nia Lowalangi ba ngawalö horöda, ba awena so sa’ae khöda wa’ohahau dödö, so khöda wa’ahono dödö, ba adölö dödöda sa’ae wanohugö fa’aurida, lö solohilohi ya’ita horöda. Oleh sebab itu, pemazmur memohon Tuhan memberikan pertolongan Tuhan dengan kuasa Roh-Nya yang kudus untuk membaharui kehidupannya, mentahirkan dirinya yang telah penuh dengan dosa tadi, dan memampukannya meninggalkan perbuatan jahatnya itu. Hal ini juga membuktikan bahwa manusia itu bertobat dan mengalami pembaharuan hanya karena kuasa Roh Tuhan saja; dengan demikian manusia sangat membutuhkan Roh Tuhan dalam menjalani kehidupannya.

Kembali ke pertanyaan awal tadi, siapakah di antara kita hari ini yang tidak pernah berbuat salah? Siapakah yang tidak pernah berbuat dosa? Tidak ada bukan? Lalu, siapakah yang merasa nyaman dan merasa damai apabila sudah berbuat salah dan dosa? Umumnya tidak ada bukan? Karena itu kita butuh pengampunan dosa? Memang, ada orang-orang tertentu yang sepertinya merasa baik-baik saja walaupun sudah berbuat salah/dosa, bahkan ada orang yang bangga dengan kejahatannya. Namun, apabila orang-orang tersebut sadar bahwa kehidupannya hancur karena kesalahan dan dosa-dosanya, maka dia pun merasa tidak nyaman dan tidak damai. So ni’ilagu niha khöda, hulö zi lö ata’u ira wamalua horö, kudia bareto lawa’ö, andrö wa so zi ganuno no mege ba horö nifaluania. Ba hiza, na so sa dania zalua khönia abula dödö, ma famakao, awena so wa’ata’u, awena so wangalulu no mege awena so wehede ‘ubato sa’ae’. Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kebutuhan manusia adalah pengampunan dosa dan pembaharuan hidup.

Persoalannya adalah bahwa manusia pada zaman sekarang susah melepaskan diri dari kebiasaan buruk, merasa berat meninggalkan perbuatan jahatnya, apalagi kalau sudah lama hidup dalam kebiasaan buruk itu. Ada pula manusia yang ibarat “memelihara” si jahat dalam hidupnya, seolah-olah memberi kesempatan kepada dosa untuk menggerogoti kehidupannya, sama seperti Kain ketika dia marah kepada adiknya Habel, seolah-olah memberi kesempatan kepada si jahat untuk membawanya jatuh ke dalam dosa besar. Padahal, kita tahu bahwa sekali saja manusia memberi kesempatan kepada si jahat dalam dirinya, maka akan sulit melepaskan diri dari jeratan si jahat itu; kesalahan demi kesalahan dan dosa demi dosa terus dilakukan. Saya teringat dengan ungkapan orang Nias, “Ha fangago mböröta wamelai”. Awalnya coba-coba, lama-lama menjadi kebiasaan, dan itulah yang merusak kehidupan kita, kesalahan dan dosa itu semua yang menjauhkan kita dari hadapan Tuhan, menjauhkan kita dari kedamaian, kebahagiaan dan keselamatan. Jadi, sama seperti pemazmur, kita membutuhkan pengampunan dosa dan pembaharuan hidup.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Yaitu memohon dengan sangat belas kasihan Tuhan akan pengampunan dosa-dosa kita, dan sekaligus memohon Roh Tuhan mengubah dan membaharui kehidupan kita. Pengampunan dosa dan pembaharuan hidup inilah semua yang nantinya mendorong kita untuk mengajak orang lain juga mengenal jalan Tuhan. Sebab, kalau kita sendiri belum mengenal jalan Tuhan itu, bagaimana mungkin kita mengajarkannya kepada orang lain?



[1] Khotbah Perayaan Pentakosta II, Senin, 05/06/2017 di BNKP Jemaat Soliga

Saturday, June 3, 2017

Roh Kudus Memampukan Kita Berbuat Hal-hal yang Luar Biasa (Kisah Rasul 2:1-21)



Rancangan Khotbah Minggu, 04 Juni 2017
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.Si[1]

Kisah ini merupakan peristiwa yang sangat menghebohkan Yerusalem, yaitu peristiwa turunnya Roh Kudus atas orang-orang percaya yang berkumpul di situ (Kis. 2:1-5). Seterusnya adalah reaksi orang banyak atas kejadian yang baru saja terjadi itu, yaitu ketika orang-orang percaya mampu berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain. Pada ayat 6-13 kita dapat membaca banyaknya orang yang bingung (tobali dödöra, ay. 6), tercengang-cengang dan heran (tobali dödöra ba ahölihöli dödöra, ay. 7), dan sangat termanu-manu (tobali dödöra lö la’ila watahögö, ay. 12), dan akhirnya beberapa orang menyindir dengan mengatakan: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis” (ay. 13). Pada awalnya tidak ada yang tahu persis apa yang sedang terjadi, walaupun ada sebagian yang sudah menyindir atau mengejek. Itulah sebabnya Petrus mewakili semua orang percaya itu untuk menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi, dan bagaimana mungkin mereka mampu berkata-kata dengan bahasa-bahasa lain tersebut (ay. 14).

Dengan singkat dan tegas Petrus membantah semua asumsi para penyindir atau pengejek tersebut. Saat itu, demikian ditegaskan oleh Petrus, hari barulah pukul 9. Ini penting! Mengapa? Karena pukul 9 itu merupakan waktu untuk kurban pagi menurut tradisi agama/adat Yahudi. Ada peraturan di sini, yaitu bahwa sebelum waktu pemberian kurban ini orang tidak boleh makan ataupun minum. Dengan demikian, Petrus hendak menegaskan bahwa orang-orang percaya yang pada waktu itu masih didominasi oleh keturunan Yahudi, tidak mungkin sudah minum anggur manis yang membuat mereka mabuk seperti tuduhan beberapa orang. Mungkinkah sekumpulan besar orang-orang Yahudi melanggar begitu saja adat mereka? Jika hanya satu orang mungkin saja pelanggaran itu terjadi, tetapi sekali lagi jumlah mereka sangat banyak, berjamaah! Artinya tidak mungkin orang-orang percaya yang banyak itu melanggar hukum agama/adat Yahudi di pagi hari tersebut. Dengan demikian, mereka bukanlah mabuk anggur manis, dan itulah yang ditegaskan oleh Petrus di ayat 15 tadi: “Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka …”.

Kalau begitu, apa yang terjadi dengan orang-orang percaya tersebut? Bagaimana mungkin mereka mampu berkata-kata dalam berbagai bahasa dalam waktu yang sangat singkat itu? Bukankah kemarin mereka ini tidak ada apa-apanya? Bukankah mereka ini hanyalah orang-orang yang kecil dan tidak pernah mengenyam pendidikan khusus untuk berbahasa asing, tidak pernah ikut kursus bahasa asing, apalagi dengan banyak bahasa? Apa-apaan ini semua?

Di ayat 17-21 Petrus mengingatkan sekaligus menegaskan bahwa peristiwa yang menghebohkan itu merupakan peristiwa turunnya Roh Kudus atas orang-orang percaya, dan peristiwa itu beserta segala mukjizat yang terjadi sesungguhnya telah dinubuatkan oleh nabi Yoël pada zaman PL (lih. Yoël 2:28-32), dan bukan dibuat-buat, bukan karena mabuk anggur manis, atau bukan hal yang baru; maka seharusnya bangsa Yahudi tidak perlu mempertanyakannya, apalagi menyindir apalagi mengolok-oloknya. Kemampuan mereka berkata-kata dalam berbagai bahasa tersebut merupakan buah atau karya dari Roh Kudus sebagaimana telah dinubuatkan oleh nabi dalam PL. Semuanya ini merupakan rangkaian pembuktian bahwa Yesus adalah Mesias yang dari Allah, dan karenanya bangsa Yahudi seharusnya percaya kepada-Nya.

Dengan penjelasan tersebut, Petrus juga sekaligus mengajak orang-orang percaya masih ragu-ragu memberi kesaksian tentang iman mereka kepada Yesus, untuk berani tampil dan memberi kesaksian akan apa yang baru saja mereka alami di hari itu. Petrus berseru kepada semua penduduk Yerusalem dan kepada semua orang yang datang dari luar, supaya mendengar kepadanya. Sebab peristiwa yang telah berlangsung di hari itu sangat penting bagi seluruh bangsa Yahudi, terutama karena ada hubungannya dengan nubuatan nabi pada zaman PL.

Pertanyaannya ialah karunia apa saja yang dicurahkan atas manusia menurut kutipan nubuatan PL (kitab Yoël) tersebut? Ada beberapa di antaranya: karunia bernubuat (mama’ele’ö), penglihatan-penglihatan (la’ila gangilata), mimpi (mangifi),mukjizat-mukjizat (so gila’ila, tandra sahölihöli dödö), hingga berbagai tanda yang mendahului kedatangan hari Tuhan. Pencurahan Roh Kudus ini terjadi tidak lagi hanya kepada orang-orang tertentu, tetapi kepada semua manusia; tidak lagi hanya kepada orang-orang Yahudi tetapi kepada semua manusia dari berbagai suku bangsa; tidak lagi hanya kepada para imam agama Yahudi tetapi kepada semua orang yang percaya kepada Tuhan. Apa artinya? Yaitu bahwa karya Roh Kudus itu berlaku untuk semua, dan tidak ada satu pihak pun yang dapat mengklaim bahwa hanya dia atau pihaknya yang mendapatkan Roh Kudus.

Pesan penting ada di ayat 21 “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan”. Kalau karya Roh Kudus tadi tidak bisa dibatasi di Israel atau keturunan Yahudi saja, sekarang keselamatan itu ternyata menjadi miliki semua orang yang berseru kepada nama Tuhan.

Peristiwa pencurahan Roh Kudus ini sangat penting bagi kita sebagai orang percaya kepada Yesus Kristus. Peristiwa ini merupakan peristiwa besar di masa lampau, dengan dampak besar di masa kini dan masa depan. Sejak peristiwa itulah pemberitaan mengenai Injil hingga lahirnya gereja-gereja semakin gencar. Perjalanan gereja hingga seperti keadaan sekarang ini tidak pernah lepas dari tuntunan, bimbingan, dan pertolongan Roh Kudus.

Hal ini mengajak kita untuk menyadari bahwa karunia Roh Kudus yang dari Tuhan dapat dianugerahkan bagi siapa pun yang Tuhan kehendaki. Tentu kita patut bersyukur atas karunia itu. Selanjutnya, orang-orang yang telah menerima Roh Kudus tentu mampu mempertanggungjawabkan imannya itu, mampu memberi kesaksian positif akan imannya, dan mampu memberi pengaruh positif di tengah-tengah jemaat/masyarakat di mana dia berada. Orang-orang yang telah menerima curahan Roh Kudus akan mampu berbuat banyak hal yang luar biasa, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain; mampu berbuat hal-hal yang dapat membawa pembaharuan dalam keluarga, di jemaat, dan di masyarakat.

Kita juga tidak perlu memaksakan diri untuk mendapatkan karunia roh tertentu yang kita anggap lebih hebat, lebih laris di zaman sekarang. Tuhan pasti tahu karunia roh apa yang tepat diberikan-Nya bagi setiap orang. Yang paling penting adalah bahwa dengan Roh Kudus kita mampu dan berani berseru kepada Tuhan, sebab “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (Kis. 2:21).


[1]Khotbah Minggu, 04/06/2017 di BNKP Jemaat Nazalou

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...