Sunday, February 14, 2021

Menjadi Pelayan dan Jemaat Tuhan yang Setia (2 Korintus 4:1-6)

Khotbah Minggu, 14 Februari 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


1 Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.
2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.
3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,
4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.
5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.
6 Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Apakah semua hal yang baik dan benar diterima dengan hati yang tulus dan terbuka oleh setiap orang? Belum tentu! Apakah semua berita baik diterima dengan sukacita oleh setiap orang? Belum tentu! Apakah semua pekerjaan yang baik dan benar dapat dilakukan oleh setiap orang? Belum tentu? Apakah semua orang dapat melihat secara positif hal/peristiwa yang terjadi di sekitarnya? Belum tentu!

Ada banyak contoh nyata tentang hal yang baik dan benar yang belum tentu diterima dan dilakukan oleh setiap orang. Orangtua menyampaikan nasihat kepada anak-anaknya misalnya, untuk kebaikan anak tersebut. Tetapi, tidak semua anak mau mendengarkan dan melakukan nasihat itu; malah ada yang mengolok-olok orangtuanya yang menasihatinya. Demikian juga dengan didikan guru atau dosen yang mengarahkan anak didiknya ke arah yang lebih baik, ada yang mematuhinya, tetapi ada juga yang tidak, bahkan ada yang mempermainkan guru/dosennya. Pemberitaan firman Tuhan oleh para pelayan, ada yang merenungkan dan melakukannya dengan sepenuh hati, tetapi banyak juga yang malah menertawakannya. Atau, hari ini misalnya, valentine’s day, hari kasih sayang, apakah semua orang sungguh-sungguh mengasihi/menyayangi sesamanya? Belum tentu!

Fenomena seperti ini juga terjadi kepada Rasul Paulus, ketika dia memberitakan berita Injil kepada orang-orang Korintus. Ada sejumlah pihak di Korintus yang tidak menerima dengan baik pengajaran Paulus, bahkan sejumlah pengacau Yahudi yang justru memprovokasi jemaat untuk melawan Paulus (2 Kor. 11:22-23). Ketika Paulus mendatangi kembali Korintus (2 Kor. 2:1; 12:14; 13:1), dia tidak diterima dengan baik oleh jemaat, malah ada di antara mereka yang menghina dia (2 Kor. 2:5; 7:12). Orang-orang Korintus memang terkenal sebagai orang-orang yang rewel dan keras kepala. Mereka sulit diatur, apalagi dengan adanya provokasi atau pengaruh negatif dari beberapa orang Yahudi yang memang sengaja mengacaukan jemaat pada waktu itu. Orang-orang ini mempertanyakan kerasulan Paulus. Ada banyak faktor yang membuat mereka melawan Paulus dan tidak menerima ajarannya tentang Injil Kristus. Faktor utama adalah karena Injil yang diberitakan oleh Paulus telah mengganggu kepentingan dan hasrat duniawi mereka.

Itulah sebabnya Paulus menegaskan bahwa pelayanan pemberitaan Injil yang dia lakukan terjadi karena kemurahan Allah saja, bukan karena keinginannya sendiri. Artinya, Paulus tidak memiliki motivasi dan tujuan duniawi dalam pemberitaan Injil seperti yang dituduhkan selama ini. Paulus tidak pernah melakukan pelayanan dengan motivasi dan tujuan duniawi yang hina itu. Paulus yakin penuh bahwa pelayanan yang dilakukannya itu bersumber dari Allah dan ditujukan untuk kemuliaan-Nya. Pelayanan Paulus tersebut sebenarnya dapat mendatangkan sukacita keselamatan bagi mereka yang dengan tulus percaya kepada Kristus dan mau dengan rendah hati menerima serta melaksanakan pengajaran Injil Kristus itu.

Tetapi, berita sukacita tersebut sulit diterima oleh orang-orang yang masih rewel, keras kepala, dan malah menjadi provokator di tengah-tengah jemaat. Mereka selalu mencari-cari alasan untuk melawan dan menentang kebaikan. Jadi, tidak semua orang menerima dengan hati yang terbuka hal-hal atau berita yang sebenarnya baik dan benar itu. Walaupun demikian, Paulus tetap setia dalam pelayanan Tuhan. Tantangan dan hinaan yang dia terima tidak melemahkan semangatnya dalam pelayanan Tuhan. Dia tetap setia apa pun yang terjadi. Dia tetap memberitakan Injil walaupun ada orang yang malah mengolok-oloknya. Paulus adalah salah seorang pelayan Tuhan yang setia, teladan bagi kita untuk tetap setia dalam pelayanan Tuhan di tengah-tengah era yang memprihatinkan ini.

Kita harus menyadari bahwa tidak semua orang mau menerima dengan baik pemberitaan Injil. Kita harus menyadari bahwa tidak semua orang senang dengan diri kita. Kita tidak pernah mampu menyenangkan hati semua orang, sebab selalu saja ada orang yang tidak berterima dengan hal-hal yang sebenarnya baik. Menurut Paulus, orang-orang yang tidak mau menerima hal-hal yang baik, akan binasa (4:3). Paulus menegaskan bahwa sekalipun Injil itu pada dasarnya menjadi berita keselamatan, berita sukacita, berita terang dalam kegelapan, dan sumber berkat bagi para pendengarnya, tetapi bisa saja tidak dinikmati karena tidak semua orang mau menerimanya dengan penuh keterbukaan dan kerendahan hati. Salah satu faktor yang membuat manusia tidak menikmati sukacita Injil adalah karena mereka telah terjebak dan terjerat dalam lilitan ilah zaman, yaitu lilitan yang tampaknya sangat menarik, sangat menjanjikan, sangat menyenangkan, tetapi sesungguhnya dapat membutakan mata dan pikiran, bahkan dapat membawa manusia ke dalam kebinasaan. Lilitan zaman inilah juga yang menghalangi pemandangan manusia hingga saat ini sehingga banyak orang yang tidak mampu lagi melihat dengan jelas cahaya kemuliaan Allah. Banyak orang yang setiap hari lebih banyak melihat cahaya malapetaka, cahaya kemunafikan, cahaya kebobrokan, cahaya kerewelan dan kekerasan kepala, cahaya kekacauan, dan mungkin saja cahaya para provokator, seperti di jemaat Korintus tadi.

Oleh sebab itu, perlu menjernihkan hari dan pikiran untuk mampu menerima hal-hal yang baik dan benar. Perlu mengembangkan pola pikir positif untuk mampu melihat dengan jernih berbagai hal atau peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

“Melihatlah dengan jernih!”

Apa yang kita lihat dalam diri orang lain, bahkan dalam diri sendiri, tergantung pada kejernihan jendela yang melaluinya kita melihat mereka. Demikian juga dengan “keselamatan” yang dari Tuhan. Banyak orang yang gagal melihat, mengalami, dan merasakan keselamatan itu, karena “jendela hatinya” yang masih belum bersih.

Berita Injil Kristus, keselamatan dan sukacita yang sesungguhnya telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Ketika “jendela hati” kita masih “berdebu”, penuh dengan berbagai kotoran duniawi, telah ditutupi oleh berbagai ilah zaman, maka percayalah kita akan kesulitan melihat dengan jernih berita Injil itu, seolah-olah keselamatan yang dari Tuhan tersebut tersembunyi bagi kita. Tentu ada banyak bentuk dan wujud dari ilah zaman ini yang dapat membutakan mata dan pikiran kita, mulai dari keinginan individu dan golongan, kepentingan parsial, kebutuhan “ni’ila hörö ibabaya tanga”, gaya hidup glamor, pola hidup yang sangat modern, kebebasan yang kebablasan, dan berbagai keinginan duniawi lainnya. Ada banyak “new idol” dalam kehidupan kita dewasa ini! Hal inilah semua yang dapat menghalangi kita dalam penerimaan berita Injil Kristus, sehingga sukacita dan keselamatan itu menjadi tersembunyi bagi banyak orang. Ketika “jendela hati” kita sudah bersih, maka kita akan mampu menerima dengan baik berita Injil yang menyelamatkan itu. Ketika “jendela hati” kita sudah jernih, maka kita akan menjadi warga jemaat yang setia di tengah-tengah ketidaksetiaan dunia ini.

--- selamat berefleksi ---

Saturday, February 6, 2021

Allah Kekuatan Kita (Yesaya 40:27-31)

Khotbah Minggu, 07 Februari 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


27 Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?”
28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.
29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,
31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.


Kitab Yesaya berpusat pada pembuangan di Babilonia. Kitab Yesaya memperjelas bahwa Nebukadnezar merupakan alat bagi TUHAN untuk menghukum orang-orang Yahudi atas dosa-dosa mereka, dan kemudian Koresy akan menjadi alat bagi-Nya untuk membebaskan mereka — untuk menebus mereka.

Teks khotbah hari ini menggambarkan kondisi psiko-spiritual orang-orang Yahudi di pembuangan yang amat tertekan, amat memprihatinkan. Mereka mengalami masa-masa sulit di Babilonia, diperbudak, dan dalam banyak aspek tidak menikmati kebebasan. Pada satu sisi, mereka membutuhkan dorongan, penghiburan dan kepastian. Pada saat-saat kelam yang dipenuhi oleh keputusasaan di Babilonia, ketika bertemu dengan kekecewaan dan berhadapan langsung dengan godaan - sisa-sisa bangsa Yahudi yang setia itu membutuhkan harapan dan penghiburan. Pada sisi lain, karena beban hidup yang semakin besar di pembuangan, suara keputusasaan terdengar. Sayup-sayup terdengar keraguan akan kekuasaan Tuhan, seolah-olah Tuhan tidak tahu situasi sulit mereka.

Tetapi, pada teks renungan hari ini, abdi Tuhan mengungkapkan kebenaran hakiki tentang Allah, kebenaran yang berbeda dari anggapan umat Tuhan yang mengalami tekanan psiko-spiritual tadi. Ada beberapa kebenaran tentagn Allah dalam ayat-ayat ini, yakni Allah tahu, Allah mampu, dan Allah ada/hadir bagi mereka.

Allah tahu situasi umat-Nya. Itulah kebenaran pertama yang terungkap dalam teks ini. Tuhan sungguh-sungguh tahu kondisi umat-Nya, tahu apa saja yang menimpa mereka. Tuhan tahu bahwa kekuatan umat-Nya semakin berkurang menghapi situasi sulit di pembuangan, tetapi Allah sendiri tidak pernah lelah dan lesu, Dia tahu kapan dan bagaimana tepatnya menolong orang-orang yang hatinya sedang ‘gegana’ (gelisah, galau, merana) di pembuangan dan di mana pun juga. Tuhan tahu situasi umat-Nya, Dia tidak melupakan umat-Nya sama sekali seperti anggapan mereka, Dia tahu apa saja yang menjadi hak orang-orang yang dikasihi-Nya.

Pertanyaan umat Tuhan di ayat 27, memberi kesan seolah-olah hidup mereka (yang sedang tertindas di pembuangan) tidak diketahui oleh Tuhan, seolah-olah Tuhan tidak peduli atas hak hidup mereka. Tetapi, itu anggapan yang keliru, anggapan yang salah. Kekeliruan seperti itu terjadi karena kondisi psiko-spiritual yang sedang goncang, Tuhan pun disalahpahami. Teks ini menegaskan bahwa Tuhan tahu, bahkan sangat tahu situasi umat-Nya. Tuhan sedang memperhatikan dengan penuh kesungguhan situasi atau pergumulan umat-Nya, dan Dia sedang mempersiapkan upaya pembebasan mereka.

Allah pun mampu menolong umat-Nya, tidak sekadar tahu situasi mereka. Tuhan adalah Allah yang tidak pernah lelah dan lesu, Allah yang tidak mungkin letih dan loyo. Dia memiliki kekuatan untuk menolong umat-Nya. Terlalu kecillah bagi Tuhan membebaskan uamt-Nya di pembuangan, sebab Dia sendiri telah mampu menciptakan bumi dari ujung ke ujung. Tidak ada yang teramat sulit untuk membawa pulang orang-orang Yahudi ke Yerusalem, Tuhan memiliki kemampuan untuk itu. Tuhan adalah Allah yang membebaskan.

Manusia boleh saja mengalami keletihan dan kelelahan, apalagi dengan beban hidup yang semakin berat. Tetapi, Allah tidak lelah, Dia memiliki kuasa yang seringkali tidak bisa dipahami oleh manusia. Kalau pertolongan Allah seolah-olah terlambat datang, atau belum muncul, itu bukan berarti bahwa Allah sudah lelah, atau telah tertidur. Cara dan waktu Allah menolong umat-Nya, seringkali tak terselami oleh pikiran manusia yang amat terbatas.

Terakhir, Allah tidak sekadar tahu situasi umat-Nya yang berada dalam kesulitan dan tekanan hidup, dan tidak sekadar memiliki kemampuan untuk menolong mereka. Dia tahu, Dia mampu, dan Dia pun hadir (tersedia) bagi umat-Nya. Itulah maksud dari ayat 29 “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya”. Tanda kehadiran Allah adalah dengan memberi kekuatan dan semangat bagi orang-orang yang lelah-letih-lesu karena berbagai beban/tekanan hidup yang menghimpit. Allah hadir membarui kekuatan orang-orang yang setiap menanti-Nya.

Informasi tentang pembebasan orang-orang Yahudi untuk kembali ke tanah mereka tentu saja merupakan suatu sukacita bagi mereka. Tetapi, perjalanan pulang dari Babilonia ke Yerusalem cukup jauh dan melelahkan. Namun demikian, Tuhan memastikan kepada mereka bahwa Dia akan memberikan kekuatan dan semangat baru bagi umat-Nya. Dua ayat terakhir menegaskan hal itu: “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:30-31).

Allah tahu situasi kita masing-masing, tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Allah tahu situasi hati kita yang mungkin saja remuk, Dia sungguh tahu kalau kita kelelahan dan hampir menyerah atas berbagai tantangan hidup. Seperti kutipan suatu nyanyian “Banyak Perkara”: Allah mengerti, Allah peduli, segala persoalan yang kita hadapi; tak akan pernah dibiarkan-Nya, kubergumul sendiri, s’bab Allah mengerti”. Allah tahu dan mengerti situasi kita, dan Dia mampu menolong kita. Allah pun selalu tersedia bagi kita, Dia selalu memperbarui kekuatan kita yang mungkin saja melemah karena begitu banyaknya persoalan hidup. Kita diminta untuk tetap setia menanti pertolongan TUHAN. Kita harus percaya kepada-Nya, dengan komitmen ketaatan.

--- selamat berefleksi ---

Sunday, January 31, 2021

Ada Kuasa dalam Perkataan-Nya (Lukas 4:31-37)

Rancangan Khotbah Minggu, 31 Januari 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


31 Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. 32 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. 33 Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: 34 “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” 35 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” Dan setan itupun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. 36 Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar.” 37 Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.

Pada ayat-ayat sebelumnya, Yesus diusir dari kampung halaman-Nya di Nazaret saat Dia memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada mereka dan memberitahukan siapa Dia sebenarnya, Mesias (lih. Luk. 21-30). Orang-orang dari kampung halaman-Nya sendiri tidak mengakui siapa Dia. Namun demikian, hari ini kita melihat pengakuan yang luar biasa dari mereka yang tidak percaya kepada-Nya dan tunduk kepada-Nya di Nazaret. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, dan semakin takjub melihat tindakan-Nya yang membebaskan seorang yang kerasukan setan hanya dengan kata-kata saja. Orang-orang yang melihat dan mendengar Yesus sadar dan takjub bahwa ternyata “ada kuasa di dalam perkataan Yesus”, tidak seperti para pemimpin atau para rabi agama Yahudi. Mengapa perkataan Yesus penuh dengan wibawa dan kuasa? Karena Yesus memiliki otoritas ilahi yang membedakan Dia dari para pemimpin/rabi agama Yahudi lainnya.

Ada kuasa dalam perkataan Yesus ketika Dia mengajar, dan itu yang dirasakan oleh para pendengar-Nya. Kita tidak tahu apa saja yang disampaikan oleh Yesus dalam ajaran-Nya yang penuh dengan kuasa tersebut (ay. 31). Seterusnya, ada kuasa dalam perkataan Yesus ketika Dia membebaskan seorang yang kerasukan setan. Pada zaman itu, kerasukan setan atau roh jahat merupakan momok yang cukup menakutkan. Roh jahat pernah disebut sebagai legion, suatu nama yang identik dengan legium Romawi sekitar abad ke-2 SM, suatu pasukan (kelompok tentara) yang amat menakutkan dan telah meninggalkan luka traumatis bagi masyarakat. Tetapi, kedatangan Yesus telah mendatangkan harapan baru, harapan yang membuat mereka takjub di tengah-tengah situasi yang sulit. Setelah sekian lama mereka menantikan ‘pembebasan’, kini Yesus datang memberitakan kabar sukacita tersebut, kabar baik kepada orang-orang miskin, berita pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, pembebasan orang-orang yang tertindas, dan berita tahun rahmat Tuhan (lih. Luk. 4:18-19). Pada teks khotbah hari ini, diberitakan, bahwa Yesus menunjukkan salah satu contoh ‘pembebasan’ dimaksud melalui pembebasan seorang yang kerasukan setan.

Ada yang menarik dari kisah pembebasan orang yang kerasukan setan ini, dan kita dapat berefleksi dari kisah tersebut:

Pertama, disebutkan bahwa “di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan”. Apa? Rumah ibadat mestinya menjadi simbol kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat-Nya, simbol sukacita dan pembebasan. Tetapi, kini seorang yang kerasukan setan itu berada dalam rumah ibadat, tempat yang diakui sebagai ‘rumah Tuhan” tersebut. Ini jelas menjadi pukulan telak bagi para pemimpin agama Yahudi, atau para pemimpin di rumah ibadat pada waktu itu. Rumah ibadat menjadi tempat yang ‘nyaman’ bagi ‘setan’ untuk memasuki diri/hidup manusia. Ironis memang kalau ternyata rumah ibadat telah menjadi tempat yang nyaman bagi orang-orang yang ‘kesetanan’, termasuk para pemimpin agama/ibadah yang mungkin juga ‘kesetanan’ mendengar pengajaran Yesus yang penuh dengan wibawa dan kuasa itu. Ingat peristiwa sebelumnya, ketika Yesus membaca kitab nabi Yesaya di rumah ibadat di Nazaret (Luk. 4:16-19), kemudian Yesus menyatakan siapa diri-Nya sebenarnya (Luk. 4:21), semua orang yang ada di rumah ibadat itu sangat marah dan mereka menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu (Luk. 4:22, 28-30). Inilah contoh kasus di mana rumah ibadat telah menjadi tempat yang nyaman bagi orang-orang yang kesetanan pada waktu itu. Tetapi, kini, seperti disebutkan dalam teks khotbah hari ini, Yesus membebaskan seorang yang kerasukan setan di rumah ibadat di Kapernaum. Ini jelas berita sukacita yang besar bagi dunia, bagi orang-orang yang dengan penuh kerendahan dan ketulusan hati menerima Yesus dalam hidupnya. Ada kuasa dalam perkataan Yesus, dan kuasa itu sungguh-sungguh membebaskan.

Kita tidak tahu persis mengapa rumah ibadat pada waktu itu telah menjadi tempat yang ‘nyaman’ bagi orang(-orang) yang kesetanan. Rumah ibadat tidak kekurangan para pemimpin agama, dan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan berjalan lancar. Tetapi, ternyata itu semua tidak menjamin datangnya pembebasan dalam kehidupan umat, justru sebaliknya mereka kesetanan, bahkan para pemimpin agama pun seperti kesetanan ketika Yesus datang memberitakan kabar baik di rumah ibadat. Kita pun mestinya berefleksi secara mendalam di sini, apakah rumah ibadat kita hari ini telah menjadi tempat yang ‘nyaman’ bagi orang-orang yang kesetanan, atau sebaliknya tempat yang sungguh-sungguh mendatangkan sukacita pembebasan bagi jemaat. Sejauh manakah rumah ibadat kita menolong jemaat melewati masa-masa sulit mereka, menolong mereka terbebas dari berbagai luka traumatis mereka? Yesus datang membebaskan orang yang kerasukan setan di rumah ibadat, dan semua orang takjub melihat peristiwa tersebut. Ternyata, ada kuasa dalam perkataan Yesus, perkataan yang sungguh-sungguh membebaskan.

Kedua, disebutkan bahwa ‘setan’ (roh jahat) yang ada dalam diri orang tersebut sangat mengenal Yesus sebagai orang Nazaret, dan malah mengakui Yesus sebagai ‘Yang Kudus dari Allah’ (ay. 34). Pada peristiwa sebelumnya, di rumah ibadat di Nazaret (lih. Luk. 4:16), orang-orang kampung halaman-Nya di Nazaret tersebut, tidak mengakui Yesus, mereka malah menolak dan mengusir-Nya. Tetapi, sekarang, sosok yang telah kerasukan setan itu, justru sangat mengenal dan mengakui ‘keilahian’ Yesus. Narasi ini jelas menjadi pukulan memalukan bagi orang-orang Nazaret yang telah menolak Yesus di tempat mereka. Ironis memang, setan pun malah lebih mengenal dan mengakui Yesus daripada manusia ‘beragama’. Ini tidak berarti bahwa kita mesti menjadi seperti setan untuk mengenal dan mengakui Yesus. Setan itu pun malah diusir, tetapi paling tidak peristiwa tersebut (seharusnya) menjadi ‘cambuk’ bagi manusia yang ‘menolak’ Yesus sebagai Tuhan yang membebaskan. Sangatlah memalukan kalau orang-orang yang mengaku beragama perilakunya justru lebih ‘setan dari setan’. Orang-orang Nazaret di rumah ibadat mengusir Yesus, sebaliknya Yesus justru mengusir setan di rumah ibadat di Kapernaum. Betapa degilnya hati orang-orang yang mengaku beragama di Nazaret itu.

Benarlah sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “beragama belum tentu ber-Tuhan”. Fenomena seperti ini banyak terjadi hingga hari ini, termasuk di kalangan orang Kristen, ‘beragama tetapi tidak ber-Tuhan’. Di dunia ini kita tidak kekurangan orang-orang yang beragama, sayangnya banyak yang hanya mabuk agama, tetapi miskin kemanusiaannya. Lihatlah betapa ritus-ritus keagamaan kita masih dapat dilakukan bahkan pada masa-masa pandemi Covid-19 ini. Lihatlah rumah-rumah ibadat kita yang berdiri dengan megah, termasuk di masa-masa sulit karena pandemi Covid-19 ini. Kita patut berbangga dengan itu, sebab pandemi Covid-19 tidak mampu menghentikan kita dari kegiatan ibadah ritual keagamaan kita, bahwa kesulitan ekonomi tidak mampu menghentikan kita dari berbagai acara yang mungkin saja menghabiskan banyak uang, termasuk pembangunan rumah ibadat yang megah. Tetapi, sejauh manakah semuanya itu menolong kita merasakan dan mengalami kehadiran Yesus dalam hidup kita? Sejauh manakah semuanya itu menolong kita terbebas dari berbagai kuasa kegelapan, kuasa setan, kuasa roh jahat, yang dapat mewujud dalam perbuatan yang tidak baik? Sejauh manakah gereja kita mendatangkan sukacita pembebasan bagi dunia ini, secara khusus bagi orang-orang di sekitar kita? Sejauh manakah kegiatan-kegiatan gerejani kita sungguh-sungguh merefleksikan kesederhanaan dan keamanan dari Covid-19? Bukankah kita bisa melakukannya secara virtual yg jelas jauh lebih sederhana dan aman? Bukankah selama ini kita menyerukan spiritualitas yang sederhana dengan istilah keugaharian? Atau, jangan-jangan kehadiran kita malah menjadi momok yang menakutkan bagi keluarga, bagi masyarakat, dan bagi siapa pun? Tetapi, orang-orang yang telah menerima Yesus, akan merasakan kuasa-Nya. Sungguh, ada kuasa dalam perkataan Yesus, kuasa yang membebaskan kita semua.

--- selamat berefleksi ---

Saturday, January 16, 2021

Berjumpa dengan Yesus, Percaya kepada-Nya (Yohanes 1:43-51)

Rancangan Khotbah Minggu, 17 Januari 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


43 Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”
44 Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus.
45 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”
46 Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”
47 Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”
48 Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”
49 Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”
50 Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.”
51 Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”


Kita sebaiknya memahami teks ini dengan cermat, apalagi kalau dihubungkan langsung dengan tema Minggu, 17 Januari 2021, Tuhan mengenalmu. Mengapa? Sebab, bisa saja muncul khotbah yang mengintimidasi jemaat kalau hanya berfokus pada tema “Tuhan mengenalmu”, yang sepintas sesuai dengan perkataan Yesus di ayat 48. Ada godaan besar untuk ‘mengintimidasi’ jemaat bahwa Tuhan mengenal apa pun yang dia lakukan, biasanya dihubungkan dengan perbuatan jahat.

Benar bahwa Tuhan mengenal setiap jemaat, mengenal apa pun yang kita lakukan. Saya percaya dengan kemahatahuan Allah, tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Tetapi, kalau pun teks khotbah hari ini digiring hanya pada tema “Tuhan mengenalmu”, maka dari perkataan Yesus di ayat 48, tidak ada indikasi bahwa yang dikenal oleh Tuhan pada diri Natanael adalah perbuatan jahatnya. Dengan jelas tampak bahwa Yesus melihat Natanael di bawah pohon ara. Perkataan ini pun memiliki korelasi dengan perkataan Yesus sebelumnya tentang Natanael di ayat 47: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Jadi, justru amat positif. Itulah sebabnya, kita mesti hati-hati memahami teks ini, supaya kita jangan terjebak dalam khotbah yang justru mengintimidasi warga jemaat. Secara teologis, Allah memang mengenal segala perbuatan yang kita lakukan, termasuk perbuatan jahat, tetapi teks ini tidak berbicara tentang itu.

Ucapan-ucapan Yesus kepada Natanael dalam teks ini merupakan kelanjutan dari sikapnya yang skeptis atas informasi yang disampaikan oleh Filipus kepadanya, yaitu bahwa mereka telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret (ay. 45). Alih-alih percaya, Natanael malah bertanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (ay. 46). Pertanyaan Natanael ini cukup menohok, mengindikasikan ketidakmungkinan munculnya yang baik dari Nazaret. Kita tidak tahu persis apa maksud Natanael dengan pertanyaannya ini. Ada yang beranggapan bahwa pada zaman itu ada semacam persaingan antar kota atau antar wilayah, sehingga orang yang berasal dari satu kota/wilayah tidak akan memuji kota/wilayah lainnya. Kebetulan, Natanael berasal dari kota Kana, dan sekarang dia berbicara tentang Nazaret, dan dia tidak bisa memujinya. Ada juga anggapan yang mengatakan bahwa pada waktu itu secara umum hampir semua kota/wilayah di daerah Yudea cukup bobrok, termasuk Nazaret. Anggapan lain yang tampaknya lebih mudah diterima adalah bahwa pada waktu itu kota Nazaret merupakan kota kecil yang terpinggirkan, sehingga kesan orang tentang kota ini cukup negatif. Ada semacam pelabelan negatif (stigma) atas kota ini, dan stigma itu sudah menjadi konsumsi publik, termasuk Natanael. Jadi, Natanael merasa heran atau merasa aneh saja kalau Yesus yang telah dinubuatkan dalam kita PL berasal dari Nazaret. Sebenarnya, dalam kata-kata Natanael ini tersirat pengakuan bahwa Yesus adalah sesuatu atau seseorang yang baik, dan menurut pemahaman Natanael yang dipengaruhi oleh stigma negatif tadi, tidak mungkin yang baik itu berasal dari Nazaret.

Filipus pun tidak berdebat dengan Natanael, mungkin dia menganggap bahwa pertanyaan tersebut wajar saja. Sebaliknya, dia mengajak Natanael untuk melihat sendiri Yesus yang berasal dari Nazaret tersebut. William Barclay pernah mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk meyakinkan seseorang tentang supremasi Kristus adalah dengan menghadapkan dia dengan Kristus. Alhasil, Natanael berjumpa dengan Yesus, dan malah Yesus memberikan semacam pujian tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (ay. 47). Yesus mengakui kejujuran Natanael yang mengakui langsung kondisi riil umat Israel secara umum pada waktu itu, sulit menemukan hal yang baik dalam diri mereka. Selain itu, Yesus mengapresiasi kejujuran Natanael yang sebenarnya secara tersirat mengakui bahwa Yesus itu baik, dan “tidak mungkin ‘Yesus yang baik’ itu berasal dari Nazaret” (yang tidak baik).

Nah, menanggapi parkataan Yesus di ayat 47 tadi, Natanael pun penasaran. Dia ingin tahu dan bertanya kepada Yesus: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” (ay. 48a). Lihatlah, perjumpaan dengan Yesus mengubahkan hidup Natanael, mengubah menjadi lebih baik. Tadinya, Natanael bersikap skeptis ketika mendengar informasi tentang Yesus dari Filipus, tetapi sekarang, setelah berjumpa dengan Yesus, sikapnya berubah, dari sikap yang tidak peduli (skeptis) menjadi sikap yang ingin tahu, dan ini merupakan tanda awal kepercayaannya kepada Yesus. Lalu, Yesus pun memberitahu bagaimana Dia mengenal Natanael, bahwa “sebelum Filipus memanggil dia, Yesus telah melihatnya di bawah pohon ara” (ay. 48b). Kata-kata Yesus ini merupakan pengantar pada hal besar yang hendak Dia sampaikan nanti kepada Natanael di ayat 51. Yesus telah melihat Natanael sebelum Filipus memanggil dia, padahal Natanael merasa belum pernah bertemu dengan Yesus sebelumnya. Ini sungguh luar biasa, suatu kemampuan supernatural yang (dalam pandangan Natanael) tidak mungkin dimiliki oleh manusia biasa. Tetapi, inti perkataan Yesus bukan di sini; pesan pentingnya bukan pada tema tentang Yesus (telah) melihat/mengenal Natanael (sebelum Filipus memanggilnya). Sekali lagi, kata-kata Yesus ini merupakan pengantar kepada berita eskatologis yang amat besar di ayat 51 nanti.

Ketakjuban Natanael atas ‘kemampuan supernatural’ Yesus yang telah melihatnya di bawah pohon ara, semakin menguatkan sikapnya yang sudah berubah tadi, dan kini dia sampai pada pengakuan atas diri Yesus: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (ay. 49). Di sini, Natanael menyebutkan tiga gelar Yesus sekaligus: Rabi, Anak Allah, dan Raja. Sebelumnya, Andreas telah menyebutkan gelar Yesus sebagai Mesias (Yoh. 1:41). Gelar-gelar Yesus ini memiliki sejarah dan dimensi teologis yang amat panjang, dan sulit untuk menguraikannya di sini. Intinya adalah bahwa perjumpaan dengan Yesus telah mengubahkan sikap Natanael, dan perubahan sikap itu telah menggiringnya pada kepercayaan dan pengakuan akan Yesus berasal dari Allah.

Yesus pun ‘mengoreksi’ dasar kepercayaan Natanael, yang tampaknya masih ‘terpesona’ atas kemampuan supernatural Yesus yang telah melihatnya di bawah pohon ara (lih. ay. 50a). Menurut Yesus, tidaklah baik kalau percaya kepada-Nya karena sesuatu yang tampaknya ‘menakjubkan’ (mukjizat). Itu bukanlah inti dari iman, itu bukan ukuran iman, dan itu bukan orientasi iman. Maka, Yesus mengatakan bahwa akan ada hal-hal yang lebih besar dari sekadar hal-hal supernatural tadi. Itulah yang Dia tegaskan di ayat 51: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” Kata-kata Yesus ini ada hubungannya dengan mimpi Yakub, yang melihat sebuah tangga yang didirikan di bumi dan ujungnya sampai di langit, dan tampak malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu (Kej. 28:12). Yesus memaknai baru mimpi Yakub tersebut, dan mengarahkannya secara eskatologis kepada diri-Nya. Di sini pun Yesus menyebut gelar “Anak Manusia”, yang dapat dibaca dalam Daniel 7:13-14, di mana Anak Manusia diberikan “kekuasaan dan kemuliaan dan kerajaan” dan “suatu kekuasaan yang kekal yang tidak akan berlalu.” Artinya, hal yang terpenting adalah bahwa dengan iman kita akan melihat pemuliaan Yesus sendiri, para malaikat pun melayani Dia. Pada satu sisi, Yesus adalah sosok yang rendah hati sampai mati di kayu salib, tetapi pada sisi lain Dia kemudian dimuliakan, dan makhluk-makhluk surgawi pun menyembah Dia.

Jadi, perjumpaan dengan Yesus sesungguhnya dapat mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik; lebih percaya pada hal-hal yang jauh lebih substansial. Kita berjumpa dengan Yesus, bahkan Dia selalu menyertai kita. Kita pun percaya kepada-Nya, yakin akan hal-hal besar yang akan kita lihat menuju pada pemuliaan Yesus.

--- selamat berefleksi ---

Saturday, January 9, 2021

Kemahakuasaan TUHAN (Mazmur 29:1-11)

Rancangan Khotbah Minggu, 10 Januari 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


1 Mazmur Daud. Kepada TUHAN, hai penghuni sorgawi, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!
2 Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!
3 Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur, TUHAN di atas air yang besar.
4 Suara TUHAN penuh kekuatan, suara TUHAN penuh semarak.
5 Suara TUHAN mematahkan pohon aras, bahkan, TUHAN menumbangkan pohon aras Libanon.
6 Ia membuat gunung Libanon melompat-lompat seperti anak lembu, dan gunung Siryon seperti anak banteng.
7 Suara TUHAN menyemburkan nyala api.
8 Suara TUHAN membuat padang gurun gemetar, TUHAN membuat padang gurun Kadesh gemetar.
9 Suara TUHAN membuat beranak rusa betina yang mengandung, bahkan, hutan digundulinya; dan di dalam bait-Nya setiap orang berseru: “Hormat!”
10 TUHAN bersemayam di atas air bah, TUHAN bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya.
11 TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!


Mazmur ini merupakan himne pujian kepada TUHAN, Allah bangsa Israel. Dapat juga dikatakan bahwa mazmur ini merupakan himne anti-Baal, dewa orang Kanaan, yang dipercaya bertanggung jawab atas hujan (air) dan badai (guntur). Tentu saja kepercayaan Kanaan ini tidak dapat diterima oleh bangsa Israel, yang diwakili oleh pemazmur. Mazmur 29 menjelaskan bahwa TUHAN adalah Allah hujan dan badai yang sejati, bukan Baal, dewa Kanaan itu. Dengan demikian, mazmur ini hendak membentengi bangsa Israel dari pengaruh Baal yang begitu kuat, dengan penekanan bahwa hujan dan badai merupakan ciptaan TUHAN dan tunduk di bawah kuasa Allah Israel. Oleh sebab itu, segala kemuliaan dan penyembahan diberikan hanya untuk TUHAN saja, bukan untuk yang lain.

Pemazmur menggambarkan kemahakuasaan TUHAN Allah dengan menyebutkan kekuatan suara-Nya yang mengatasi kekuatan alam semesta, antara lain: air, guntur, dan pohon aras Libanon. Kata “suara TUHAN” (yang kuat) muncul sebanyak 7 kali dalam teks ini, yaitu di ayat 3, 4 (dua kali), 5, 7, 8, dan 9. Litani berulang ini dinyanyikan berjamaah secara berulang, dengan maksud supaya umat TUHAN sungguh-sungguh meyakini bahwa TUHANlah yang berkuasa atas segala sesuatu, dan bahwa dewa bangsa Kanaan tidak berdaya menghadapi TUHAN, serta kesombongan pohon aras Libanon tertunduk di hadapan TUHAN. Dengan kata lain, pengulangan litani ini diharapkan dapat memberikan semacam “efek afektif” umat TUHAN, sungguh-sungguh merasakan kemahakuasaan Allah. Ini mirip dengan menyanyikan suatu lagu rohani singkat tetapi berulang-ulang dalam kebaktian KKR, memengaruhi jemaat secara afektif, sehingga mereka sungguh-sungguh merasakan ‘kehadiran’ Allah dalam hidupnya.

Suara TUHAN sangat kuat mengatasi segala kekuatan apa pun yang ada di alam semesta ini. Dalam kisah penciptaan disebutkan: “Tuhan berkata, ‘Jadilah terang,’ maka ada terang” (Kej. 1:3). Dengan firman-Nya, Tuhan menciptakan cakrawala, mengumpulkan air bersama di satu tempat, menghasilkan tumbuh-tumbuhan, memasang benda-benda penerang di langit, serta menciptakan berbagai jenis binatang dan akhirnya menciptakan manusia (Kej. 1:6-27).

Demikianlah kuatnya suara TUHAN, tidak bisa dibatasi dan tidak bisa dihalangi oleh tembok apa pun, tidak bisa dihentikan oleh arus manapun, musuh-musuh-Nya tidak berdaya mendengar suara-Nya. Bagi orang percaya, suara TUHAN merupakan suara yang meneduhkan, yang mendatangkan sukacita, suara yang membuktikan penyertaan-Nya, suara yang dapat membuat segala ciptaan seperti rusa dan hutan menyembah-Nya dengan hormat dan kemuliaan. Tetapi suara TUHAN itu menjadi tanda malapetaka bagi lawan-lawan Allah, sama seperti pohon aras yang konon terkenal keras dan kuat tetapi patah dan tumbang, padang gurun pun gemetar mendengar kekuatan suara TUHAN yang tidak dapat dibendung itu.

TUHAN Allah memang amat perkasa dan penuh keagungan. Air yang besar berada di bawah kendali-Nya, entah air hujan (air dalam awan di langit), air sungai, dan air laut atau pun samudera raya yang cukup ditakuti pada zaman kuno. Air bah yang pada zaman Nuh telah menjadi momok yang begitu menakutkan dan mematikan, justru menjadi tempat TUHAN bersemayam. Kekuatan-Nya mengatasi segala kekuatan yang cukup ditakuti di langit, guntur, sebab suara TUHAN sendiri dapat menyemburkan api yang dahsyat. Ketika langit mengguntur dengan suara kerasnya, itu pertanda badai akan datang, dan para pelaut takut, tetapi suara TUHAN mengatasi semuanya itu. Suara-Nya penuh keagungan, memiliki kekuatan dan pengaruh yang amat kuat.

Di ayat 5a disebutkan bahwa suara TUHAN mematahkan pohon aras (di Libanon). Pohon aras adalah pohon terbesar dan paling berharga di wilayah itu. Pohon aras bisa mencapai ketinggian 120 kaki (36 meter) dengan diameter delapan kaki (2,5 meter). Pohon ini merupakan satu-satunya pohon di wilayah itu yang cukup besar untuk pembangunan gedung-gedung yang sangat besar, seperti istana atau kuil. Pohon ini tahan terhadap serangan serangga yang biasanya merusak kayu. Aromanya juga harum, begitu disukai dan dibanggakan pada waktu itu. Pohon ini tumbuh berlimpah di pegunungan yang tertutup salju di Libanon di sebelah utara Israel.

Namun demikian, betapa pun kuatnya, pohon aras itu tetap tunduk pada suara gemuruh TUHAN. Suara badai TUHAN bisa mematahkan bahkan menumbangkannya. Dalam teks ini, pemazmur berbicara secara metaforis, ia tidak sekadar berbicara tentang pohon. Pohon aras Libanon berfungsi sebagai metafora untuk wilayah yang pada waktu itu dijadikan sebagai tempat penyembahan Baal. Jadi, pemazmur menegaskan bahwa TUHAN tidak hanya bisa mematahkan pohon aras itu, tetapi juga bisa mematahkan dewa-dewa palsu bangsa Kanaan tersebut, menghancurleburkan kuil-kuilnya hingga berkeping-keping.

Tetapi, pemazmur tidak hanya menggambarkan kemahakuasaan TUHAN dengan penekanan pada kekalahan dewa bangsa lain dengan segala simbolnya itu. Pemazmur menegaskan bahwa kemahakuasaan TUHAN dapat membuat “gunung Libanon melompat-lompat seperti anak lembu, dan gunung Siryon seperti anak banteng” (ay. 6). Libanon dan Siryon adalah tempat di utara Israel yang dipenuhi dengan pemujaan Baal. Mereka tampak perkasa dan tidak tergoyahkan, tetapi mereka akan menari ketika TUHAN berbicara. Baal adalah dewa badai Kanaan, yang dikenal sebagai “Penunggang Awan” dan sering digambarkan dengan tongkat di satu tangan dan tombak petir di tangan lainnya.

Jadi, mazmur ini menggunakan metafora air, guntur, dan pohon aras untuk menggambarkan kekuasaan TUHAN atas negara Baal dan mereka yang menyembah Baal. Pemazmur juga menggambarkan suara TUHAN menggunakan petir untuk membentuk kembali hutan (atau wilayah Baal) sesuai dengan rancangan yang dimaksudkan-Nya. Suara TUHAN mengguncang hutan belantara, mengguncang padang gurun Kadesh (ayat 8), representasi dari alam liar yang seringkali tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Tetapi, dalam tangan TUHAN semuanya itu dapat diatasi, semua tunduk kepada-Nya.

Cukup banyak dan cukup luas sebenarnya gambaran kemahakuasaan TUHAN yang hendak disampaikan dalam mazmur ini. Intinya adalah bahwa TUHAN duduk dalam takhta-Nya dan memerintah untuk selama-lamanya. Bagi TUHANlah segala pujian, hormat, dan kemuliaan.

--- selamat berefleksi ---

Saturday, December 26, 2020

Seruan Pujian kepada TUHAN (Mazmur 148:1-14)

Tafsiran dan Pokok Pikiran Khotbah Minggu, 27 Desember 2020
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi! 2Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya! 3Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang! 4Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit! 5Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta. 6Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar. 7Pujilah TUHAN di bumi, hai ular-ular naga dan segenap samudera raya; 8hai api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai yang melakukan firman-Nya; 9hai gunung-gunung dan segala bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras: 10hai binatang-binatang liar dan segala hewan, binatang melata dan burung-burung yang bersayap; 11hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia; 12hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! 13Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit. 14Ia telah meninggikan tanduk umat-Nya, menjadi puji-pujian bagi semua orang yang dikasihi-Nya, bagi orang Israel, umat yang dekat pada-Nya. Haleluya!

Mazmur 148 adalah bagian penutup dari Mazmur yang menawarkan dan menyerukan pujian kepada Tuhan. Mazmur ini berada dalam konteks pasal 146-150. Mazmur 146-150 dihubungkan dengan kata “puji Tuhan” yang muncul di ayat pertama dan terakhir dari setiap mazmur. Mazmur 148 berfokus pada kendali Tuhan atas tatanan ciptaan sebagai alasan untuk memuji Dia. Tetapi ayat 14 juga mengisyaratkan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan atas Israel, dan atas dasar keselamtan itulah bangsa Israel merayakan kekuatan Tuhan.

Dengan penekanan pada kedaulatan Tuhan, Mazmur 148 menyimpulkan salah satu inti teologi dari Kitab Mazmur: “Tuhan memerintah”, atau “Tuhan Raja” Penekanan ini penting karena diucapkan dan ditulis dalam dan oleh pemazmur di tengah-tengah krisis yang dialami oleh umat Tuhan selama berada di pembuangan dan pasca-pembuangan. Selama masa pembuangan (587-539 SM) dan periode pasca-pembuangan, umat Allah dikalahkan dan didominasi oleh kerajaan besar pada zaman mereka. Tampaknya kadang-kadang Tuhan tidak memegang kendali. Banyak keluhan di seluruh Mazmur dengan tepat mengungkapkan keraguan tersebut (Mazmur 44, 74, 88, 89). Tetapi kata terakhir pemazmur tidak diragukan lagi, suatu harapan: “Puji Tuhan”. Kelahiran Mesias adalah sumber pengharapan dan kegembiraan di tengah kesusahan dan tekanan hidup, bahwa Tuhan tetap patut dipuji.

Mazmur 148 dimulai dengan menyerukan pujian dari alam surgawi, dari tempat Tuhan ditahbiskan sebagai Raja atas alam semesta (ayat 1; lihat Mazmur 115:3, 16). Enam ayat pertama kemudian menjelaskan tentang panggilan awal untuk memuji. Semua yang tinggal di surga - makhluk dan benda mati - dipanggil untuk memuji. Kata yang diterjemahkan “malaikat” juga bisa diterjemahkan “utusan” (ayat 2). Makhluk semacam itu memiliki peran dasar untuk mengkomunikasikan maksud Tuhan kepada manusia. Bala tentara surgawi memiliki konotasi militer (kata tersebut muncul dalam 2 Samuel 3:23 misalnya dengan jelas mengacu pada tentara). Ayat tersebut mengasumsikan bahwa Tuhan memiliki di sekitar takhta surgawi banyak makhluk yang siap untuk diutus dengan misi ilahi.

Ayat 3-4 membuat daftar benda mati di langit yang memanggil mereka untuk memuji Tuhan. “Langit tertinggi” (langit yang mengatasi segala langit) di ayat 4 memberikan ungkapan yang tidak biasa dalam bahasa Ibrani yang secara kaku berbunyi “langit dari langit”. Ini mungkin merujuk pada titik tertinggi di atas bumi. Atau, ungkapan itu mungkin berkonotasi dengan keseluruhan alam surgawi. “Air di atas langit” mengacu pada air yang dipercaya pemazmur menyediakan hujan bagi bumi. Air seperti itu tertahan oleh kubah yang bisa dibuka untuk menyediakan hujan (bnd. Kej. 1: 6-8; 7:11).

Seperti yang dinyatakan pada ayat 5-6, Tuhan menciptakan dan membagi semua elemen ini sebagai bagian dari kedaulatan Tuhan dalam penciptaan. Poin utama di sini, seperti dalam Kejadian 1:6-8, adalah bahwa Tuhan membuat batasan yang tidak bisa dilewati air. Jadi, Tuhan menciptakan alam semesta yang memungkinkan adanya kehidupan di bumi bagi manusia dan hewan darat.

Ayat 7-12 melanjutkan seruan untuk memuji ke bawah dari langit ke bumi dan laut. Bentuk ayat 7a identik dengan ayat 1a: “puji Tuhan dari bumi” (ayat 1, “dari surga”). Kemudian ayat 7b-8 menyerukan laut dan makhluknya untuk memuji Tuhan dengan cara yang komprehensif, seperti ayat 2-6 termasuk makhluk surgawi dan elemen langit. “Monster laut” (ular-ular naga) mengacu pada makhluk misterius yang besar yang dalam beberapa teks lain dipandang sebagai simbol kekacauan dan dengan demikian merupakan ancaman terhadap tatanan yang hendak dibangun oleh Tuhan (Mazmur 74:13). Namun, dalam Mazmur 148, mereka hanyalah makhluk ciptaan Tuhan, seperti dalam Kejadian 1:21. Karena ayat 8 menyebutkan benda mati di bawah kendali Tuhan, ia menggemakan Mazmur 147: 15-18 baik dalam daftar benda maupun dalam penekanannya pada firman Tuhan.

Inklusivitas pujian dalam Mazmur 148 memiliki implikasi penting bagi pemahaman kita tentang hubungan kita dengan ciptaan lainnya. Seperti dijelaskan dalam ayat 9-12, manusia berdiri di samping hewan lain dan benda mati di bumi untuk memuji Tuhan. Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kekuasaan manusia atas bumi (Kej. 1:26, 28) dimaksudkan sebagai persekutuan untuk kebaikan ciptaan dan pada akhirnya untuk memuliakan Tuhan.

Francis dari Assisi menyusun Canticle of the Sun dengan pemikiran ini. Dalam lagu yang didasarkan pada Mazmur 148 ini, Fransiskus memanggil matahari, angin, dan api sebagai saudara (laki-laki), dan bulan, air, dan bumi sebagai saudari (perempuan). Meskipun manusia memiliki tanggung jawab unik untuk mengawasi ciptaan lainnya, mereka pada akhirnya dipanggil untuk memuji Tuhan, seperti semua ciptaan Tuhan lainnya.

Akhir dari Mazmur 148 juga penting untuk memahami sifat pujian yang dipanggil untuk bersuara. Ayat 14 berbalik dari pujian kepada Tuhan di seluruh alam semesta, dari semua ciptaan Tuhan dan karena penguasaan Tuhan atas kosmos, untuk memuji Tuhan atas tindakan penyelamatan Tuhan atas nama Israel. Memang, Mazmur 148 tidak mengizinkan pujian kepada Tuhan yang berubah menjadi pujian diri. Itu juga tidak akan memungkinkan umat Tuhan untuk melepaskan diri dari ciptaan lainnya. Perbuatan penyelamatan Tuhan atas nama mereka dimaksudkan untuk memberikan ekspresi khusus pada pekerjaan Tuhan dalam penciptaan.

Jadi, kalau benda mati ciptaan Tuhan diajak untuk memuji TUHAN, tentu saja manusia (mestinya) jauh melebihi benda-benda tersebut. Ibarat slogan motor Yamaha, selalu di depan; mestinya manusia, apalagi orang yang percaya kepada Kristus, selalu di depan dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Kesulitan-kesulitan yang dialami, tidak boleh menjadi alasan untuk tidak memuji TUHAN. Kesulitan tersebut mesti menjadi cambuk bagi kita untuk terus memuji Tuhan.

--- selamat berefleksi ---


Friday, December 25, 2020

Percaya dan Hidup dalam Cinta-Kasih atau Tidak Sama Sekali (Yohanes 3:14-21)

Rancangan Khotbah Natal II, Sabtu, 26 Desember 2020
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


14Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 15supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. 16Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 17Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 18Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. 19Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. 20Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; 21tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.

Teks khotbah ini merupakan bagian dari percakapan Yesus dengan Nikodemus (lih. ay. 1). Bacaan hari ini dimulai dengan permainan kata “meninggikan” (lift up). Ini menggambarkan perintah Tuhan kepada Musa untuk mengangkat ular tedung pada sebuah tiang di padang gurun, dan kini kata yang sama diterapkan untuk Yesus. Bagian ini harus dipahami dalam konteks dan latar belakang kisah di Bilangan 21:4-9. Dalam penuturan itu, orang-orang Israel menjadi “tidak sabar” (tidak dapat lagi menahan hati) dalam perjalanannya. Setelah kepergian mereka dari Mesir, mereka berjalan di padang gurun, dan menjadi putus asa karena tidak memiliki makanan dan air. Mereka pun mengeluh bahkan melawan Tuhan dan Musa.

Akibatnya, ular-ular tedung yang mengerikan muncul, menggigit orang, dan membunuh mereka. Ketika mereka menyesal, Tuhan menyuruh Musa untuk membuat ular tedung dan menaruhnya pada sebuah tiang sehingga siapa pun yang telah terpagut dapat melihatnya dan tetap hidup. Ular itu pada satu sisi merupakan tanda kemarahan Tuhan, tetapi pada sisi lain menandakan belas kasihan Tuhan. Tuhan pernah menyelamatkan orang-orang dengan memanggil mereka untuk menatap ular itu. Sekarang, Tuhan akan menyelamatkan orang-orang dengan membuat mereka memandang dan percaya kepada Anak, yang ditinggikan.

Berikutnya adalah Yohanes 3:16, ayat yang sangat populer, dan tetap disebutkan ketika perayaan Natal. Sayangnya, ayat ini sering disalahpahami. Kata Yunani houtos berarti “begitu”, atau “dengan cara ini”, atau yang lebih kuno, “demikianlah”. Kita dapat menerjemahkan bagian awal dari ayat 16 tersebut: “Dengan cara inilah Tuhan mengasihi dunia …” Jadi, Yohanes 3:16 tidak berbicara tentang betapa Tuhan mengasihi dunia (TB LAI: karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini), tetapi tentang bagaimana Tuhan mengasihi dunia (terjemahan yang lebih tepat: dengan cara inilah Tuhan mengasihi dunia). Tidak perlu dibantah lagi bahwa bahwa Tuhan memang mengasihi dunia. Tuhan sangat mengasihi dunia yang diciptakan-Nya, dan Tuhan merindukan ciptaan-Nya itu tetap hidup. Dalam cerita di kitab Bilangan hanya umat Tuhan sendiri yang akan diselamatkan. Tetapi, dalam narasi Yohanes 'alam semesta' yang dikasihi Tuhan pun diselamatkan. Dalam rangka itulah Allah memberikan anak-Nya satu-satunya.

Tujuan Tuhan mengutus Anak-Nya yang tunggal adalah untuk menyelamatkan dunia, sama seperti tujuan memerintahkan Musa untuk mengangkat ular tedung di tiang dimaksudkan untuk menyelamatkan orang-orang dari kematian. Putra Allah datang untuk menyelamatkan, untuk memberikan hidup yang kekal karena Tuhan mengasihi dunia. Dalam rangka itulah Yesus datang ke dunia. Kita ada di sini karena Tuhan yang dulu mengasihi umat-Nya di padang gurun, masih tetap mengasihi kita sampai sekarang.

Kedatangan Yesus seperti membawa terang ke ruang gelap. Kontras terang dan gelap sangat kuat. Hal yang berlawanan ini mengungkapkan perbedaan tajam yang tercipta ketika pada satu sisi kosmos atau alam semesta gelap dan pada sisi lain kita diterangi oleh cahaya Tuhan. Seperti orang-orang dalam cerita di Bilangan, kita telah dipagut atau berada dalam bahaya pagutan ular. Kematian tidak bisa dihindari. Ketika ular tedung diangkat oleh Musa, kita melihat dan hidup, atau sebaliknya tidak sama sekali. Saat Yesus datang ke dunia, kita percaya akan adanya kasih karunia Tuhan, atau sebaliknya kita tidak percaya sama sekali. Kita menerima kehidupan kekal atau sebaliknya kita terus hidup terpisah dari Tuhan, terkutuk dan mati.

Perkataan Yesus dalam ayat-ayat ini muncul ketika Dia terus terlibat, berdebat, dan membujuk orang-orang yang perlahan-lahan berubah menjadi percaya kepada-Nya. Dalam Yohanes 3, Nikodemus adalah pencari pada malam hari yang dibiarkan dalam kebingungan, dan dia muncul kembali pada Yohanes 19:39 untuk membantu merawat tubuh Yesus. Dia telah muncul dari kegelapan malam, dan kini menjadi terang selama pelayanan Yesus.

Begitu juga dengan perempuan Samaria di Yohanes 4. Awalnya perempuan Samaria itu tidak percaya, tetapi perjumpaannya dengan Yesus secara perlahan mengubahnya menjadi percaya kepada-Nya, karena itu dia diselamatkan. Hal yang berbeda dengan orang buta yang disembuhkan seperti dikisahkan dalam Yohanes 9. Secara fisik, orang buta tersebut mengalami perubahan yang begitu cepat, dari kegelapan (karena buta) menjadi terang (karena sudah disembuhkan). Tetapi orang buta ini jauh lebih lambat mengidentifikasi Yesus yang telah menyembuhkannya. Kontras yang intens antara percaya dan tidak percaya, kegelapan dan terang, dan kejahatan dan kebenaran dapat terlihat dalam teks khotbah hari ini.

Akhirnya, ayat 18-21 mengikuti kontras sebelumnya. Cara Tuhan mengasihi dunia adalah dengan mengirim Putra-Nya yang tunggal ke dunia untuk menyelamatkan dunia yang dikasihi-Nya itu. Yesus adalah ekspresi cinta-kasih dan kerinduan Tuhan. Cahaya datang untuk menemukan kita, untuk menerangi jalan kita, karena Tuhan mengasihi kita. Allah menjangkau kita melalui Putra-Nya dengan tujuan untuk berbagi kehidupan kekal dengan kita.

Yohanes juga memberi tahu kita bahwa ada konsekuensi nyata dalam kehidupan kita sehari-hari dalam hubungan kekal kita dengan Tuhan. Dia mengajak kita untuk melihat dengan jelas kehidupan kita, menghargai anugerah Tuhan sebagai anugerah cinta-kasih. Cinta-kasih itulah yang (mestinya) menolong kita untuk berani menjalani kehidupan kita, walaupun kita sadar bahwa bahaya virus Corona belum berakhir. Cinta-kasih itulah yang (mestinya) menguatkan kita untuk melangkah dengan pasti dalam era adaptasi baru (new normal), sekalipun kita juga sadar bahwa tantangan dan ancaman masih menghadang kita. Cinta-kasih itulah yang terus mengingatkan kita bahwa “Tuhan beserta dengan kita”.

Yesus datang ke dunia sebagai bukti bahwa pada prinsipnya Allah memiliki kerinduan atau keinginan untuk menyelamatkan dunia, bukan untuk menghakiminya (ay. 17). Tetapi, tentu saja dunia diberi kebebasan untuk memilih: menyambut Yesus atau tidak sama sekali; menyambut keselamatan atau tidak sama sekali; menyambut cinta-kasih Tuhan atau tidak sama sekali; melihat atau memandang pada Yesus yang ditinggikan untuk tetap hidup atau tidak sama sekali.


--- selamat berefleksi ---



Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...