Monday, October 24, 2011

Jesus Seminar (Bagian II)


Sebelum membaca bagian ini, sebaiknya baca bagian pertamanya Jesus Seminar (bagian I)

Bagaimana Menanggapi Jesus Seminar?
Kita akan melakukan analisis dan evaluasi terhadap “Jesus seminar” ini mulai dari kelompok ini sendiri hingga pada hasil penelitian mereka. Kelompok ini tidak menyangkal Alkitab secara menyeluruh, tetapi “menyelidiki” ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus yang dianggap asli dalam kitab-kitab Injil kanon, baru kemudian menambahkan satu injil lagi dalam daftar kitab-kitab Injil yang sudah ada, yaitu Injil Thomas. Dari penyelidikan ini mereka memberikan gambaran tentang Yesus menurut versi mereka tentunya.

Siapa?
Sudah jelas bahwa kelompok Jesus seminar, atau “The Fellows” tidaklah mewakili para ahli teologi dari berbagai latar belakang, negara, gereja, atau keyakinan. Mereka hanyalah kelompok ahli-ahli teologi dari Amerika Utara yang memiliki pandangan ekstrim kiri terhadap Alkitab (menginginkan perubahan besar-besaran), sama seperti pandangan pendirinya Robert W. Funk. Secara sepihak mereka menunjuk diri sebagai pakar mengenai Yesus, memiliki keyakinan bahwa penelitian mereka tidak dapat disangkal, dan menetapkan serta mematuhi sendiri “tujuh pilar kebijaksanaan intelektual” mereka. Dari sisi ilmu pengetahuan kita patut mengapresiasi kelompok ini yang menempatkan ketiga tokoh yang sangat mempengaruhi mereka, Galileo, Jefferson, dan Strauss; tapi sekaligus juga kita mesti mengkritisi mereka yang hanya berdiri pada satu sisi itu, seolah-olah satu-satunya standar kebenaran adalah ilmu pengetahuan seperti yang mereka pahami itu.

Yesus dari Amerika Utara?
Kelompok ini boleh saja membantahnya, dan mereka sah-sah saja mengatakan penelitian mereka sangat objektif, tapi nampaknya nuansa/cara Amerika Utara tidak bisa disembunyikan. Pertama-tama harus disadari terus bahwa pengambil keputusan dalam menentukan autentisitas ucapan dan tindakan Yesus ini hanya mewakili segelintir ahli kitab Perjanjian Baru di dunia, dan itu pun hanya dari Amerika Utara. Metodologi yang mereka pakai jelas mencerminkan cara Amerika, yaitu pemungutan suara untuk menetapkan autentisitas ucapan dan tindakan Yesus, berdasarkan penafsiran mereka yang diberi kode warna. Demikian juga tentang ketepatan politis yang ditawarkan kepada kita memakai cara berpikir Amerika Utara, dan gambaran Yesus yang dihasilkan bersifat individualistis, pantheistis, moralistis, dan pluralistis, dan beraroma karakter khas Amerika Utara.

Lima Injil?
Kelompok ini telah menghasilkan salah satu buku yang mengatakan bahwa ada lima injil, yang secara urut mulai dari Markus, Matius, Lukas, Yohanes, dan Injil Thomas. Kita pasti tidak menemukan kitab Injil Thomas dalam Alkitab yang selama ini dipakai oleh gereja secara umum, karena memang tidak lolos seleksi ketika kanonisasi kitab-kitab PB. Injil Thomas ini sebenarnya adalah penafsiran ulang aliran gnostik pada abad kedua masehi terhadap Yesus.  Walaupun Injil Thomas ini (dan Injil Petrus) baru muncul sekitar satu abad setelah penulisan keempat Injil kanon, namun hal itu tidak menghalangi Jesus seminar untuk memberikan tempat yang penting bagi kedua injil tersebut di antara empat Injil kanon yang sudah ada.

Keandalan Sumber
Sudah jelas bahwa kelompok The Fellows sangat (baca: hanya) mengandalkan kitab Injil Thomas dan Injil Petrus, serta penelitan yang mereka lakukan sebagai sumber dalam mengambil keputusan tentang siapa dan bagaimanakah Yesus itu. Ada beberapa sumber atau aspek lain yang mereka abaikan, dan yang juga sering diabaikan oleh sebagian besar para teolog liberal dewasa ini, antara lain:
·  Tentang saksi mata dan generasi penerus tradisi lisan yang benar-benar mengetahui Yesus yang sesungguhnya atau teman-teman dekat dari orang-orang yang dekat dengan Yesus yang sesungguhnya. Perlu dicatat bahwa kebudayaan Yahudi sangat lihai dalam hal menyampaikan informasi akurat secara lisan. Para pengikut Yesus belakangan (gereja) bukanlah penulis kisah tentang Yesus, dan karenanya sulit merekayasa kisah tentang Yesus itu, apalagi membubuinya dengan mitos atau legenda-legenda seperti yang “dituduhkan” oleh kelompok ini dan para teolog liberal lainnya.
·     Para murid Yesus, yang merupakan saksi mata Yesus yang sesungguhnya itu, masih hidup dalam generasi kedua orang-orang Kristen. Mereka adalah penjaga pintu gerbang “tradisi Yesus” yang memastikan bahwa tradisi tersebut disampaikan dengan akurat. Demikian juga dengan para penerus tradisi lisan, dan orang-orang yang dekat dengan Yesus yang sesungguhnya, tidaklah mati sekaligus pada waktu yang bersamaan; sehingga sangat sedikit peluang bagi orang-orang (gereja) untuk merekayasa kisah tentang Yesus ini.
·    Tentang para penulis Yahudi dan Romawi di luar kitab Perjanjian Baru yang hidup pada abad pertama Masehi atau tidak lama setelah itu, misalnya: sejarawan Yahudi Josephus dalam tulisannya Antiquities of the Jews, Talmud Yahudi, Talmud Babilonia Sanhedrin, sejarawan Romawi Tacitus dalam karyanya Annals, dan Pliny Gubernur Roma untuk wilayah Bithinia dalam suratnya Letters. Meskipun pendapat-pendapat mereka mengenai Yesus dan gereja mula-mula pada hakikatnya bersifat kontroversial, namun mereka secara tidak sengaja menguatkan alur cerita yang ditemukan dalam Injil-injil kanon. Alur dimaksud adalah: Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Dia menyatakan diri sebagai Mesias, menyatakan bahwa kerajaan Allah telah hadir dalam diri-Nya, memulai pelayanan-Nya di Galilea, menentang orang-orang Yahudi dan Romawi yang berkuasa, diadili dan disalibkan oleh penguasa Yahudi dan Romawi, bangkit dari kematian pada hari ketiga, dan Dia bertemu dengan orang-orang yang kemudian menuliskan keempat Injil kanon.

Metodologi
Para ahli teologi kelompok The Fellows ini sekilas terlihat melakukan penelitian ilmiah yang sangat masuk akal. Mereka masing-masing membaca, menelusuri dan membandingkan/menyejajarkan ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab Injil. Adapun kriteria yang mereka pakai dalam pengambilan keputusan adalah kriteria perbedaan dan kriteria pembuktian kolektif seperti telah diuraikan sebelumnya. Namun, metode ini kemudian mesti kita kritisi karena beberapa persoalan mendasar:
·         Para ahli teologi yang dilibatkan dalam tugas penyelidikan ini sangat “terbatas”. Maksud “terbatas” di sini adalah hanya mewakili segelintir ahli kitab PB di dunia, bahkan lebih “terbatas” lagi, hanya dari Amerika Utara.
·    Persoalan di atas menjadi sangat penting karena metode yang dipakai adalah metode pengambilan keputusan. Metode ini akan sangat demokratis, dan mengandung kebenaran (baca: ketepatan/kesahihan) yang lebih tinggi apabila orang-orang atau para ahli teologi yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan itu bisa mewakili orang-orang atau para ahli teologi dari seluruh dunia – tidak hanya dari Amerika Utara saja. Semakin banyak jumlah dan semakin beraneka ragam ahli yang dilibatkan, semakin demokratis dan semakin tinggi pula “kebenaran” dalam keputusan yang akan diambil. Sebaliknya, semakin “terbatas” orang-orang yang dilibatkan, semakin diragukan juga “kebenaran” yang terkandung dalam keputusan itu. Baik dari sisi demokrasi, maupun dari sisi penelitian ilmiah, 80 ahli teologi dari Amerika Utara itu sangat tidak representatif, sehingga nilai demokrasi dan nilai ilmiahnya pun patut diragukan.
·  Ternyata pada akhirnya mayoritas anggota kelompok The Fellows tidak sependapat dengan hasil pemungutan suara mengenai pilihan warna dalam penafsiran mereka terhadap Injil. Contoh: Pemungutan suara untuk mengambil keputusan mengenai Matius 25:29 “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya”.
Hasil pemungutan suara anggota The Fellows mengenai teks ini adalah sebagai berikut:
  • 25% : warna merah (Yesus memang mengatakannya)
  • 11% : warna merah muda (Yesus mungkin mengatakannya)
  • Lainnya adalah warna abu-abu dan hitam (warna hitam merupakan minoritas dalam pemilihan ini, di bawah warna merah muda)
  • Keputusan: Teks ini diberi warna hitam saja walaupun persentase tiga warna yang lain melampaui warna hitam.
Kalau kelompok The Fellows ini lebih jujur, maka keputusan yang lebih logis sebenarnya dari pemungutan suara ini adalah warna abu-abu dan merah.

Selain itu, dalam metode ini, bagaimana mungkin anggota The Fellows memiliki pendapat/pilihan yang berbeda tajam, sedangkan mereka semua sama-sama membaca, menelusuri, dan membandingkan kitab-kitab Injil yang sama dan dengan metode serta kriteria yang sama. Harusnya, dengan metode dan kriteria yang mereka tetapkan itu, tingkat kesamaan pendapat dan pilihan jauh lebih tinggi dibanding tingkat perbedaan. Kita tidak tahu pasti apa sebenarnya yang mereka lakukan ini, apakah pengambilan keputusan berdasarkan penyelidikan ilmiah ataukah keputusan berdasarkan kesukaan hati!

Jadi, kalau metodologi saja subjektif (tidak representatif), tidak konsisten, dan tidak jelas, bagaimana hasil penyelidikannya ya …

Kriteria
·         Kriteria Perbedaan
Kriteria ini hendak memisahkan Yesus dari tradisi Yahudi-Nya dan dari para pengikut-Nya (gereja). Lalu gambaran apa yang muncul mengenai Yesus? Dengan kriteria ini jelas bahwa Yesus pada akhirnya tidak memiliki hubungan dengan tradisi Yahudi-Nya dan tidak ada ikatan dengan gereja-Nya. Dengan kata lain, Jesus seminar menggambarkan Yesus sebagai sebuah “kepala yang berbicara dan bertindak” tanpa tubuh. Dalam gambaran yang seperti ini Yesus menjadi seorang tokoh yang sepenuhnya aneh, terpisah total dari tradisi budaya-Nya dan secara ideologis terisolasi dari gerakan yang menjadi tanggung jawab-Nya.

Dalam penerapan kriteria ini kemudian ternyata kelompok The Fellows menggunakan standar ganda, sama seperti yang sering kita lihat pada sebagian besar ahli teologi liberal dewasa ini. Apa maksudnya? Pada saat tertentu, The Fellows menggunakan satu kriteria ketika kriteria itu menguntungkan bagi mereka atau mendukung prasangka liberal mereka; namun jika kriteria ini tidak mendukung prasangka liberal mereka, maka mereka mengabaikan pemakaian kriteria tersebut. Contoh: menurut mereka pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis adalah asli (benar) karena pembaptisan ini berbeda dengan kelompok-kelompok Yahudi lainnya dan menurut mereka juga berbeda dari pandangan gereja yang menganggap Yesus lebih tinggi dari Yohanes. Namun, dalam teks Lukas 5:33-35 dinyatakan bahwa Yesus tidak berpuasa seperti dalam Yudaisme dan kekristenan mula-mula (memenuhi kriteria perbedaan), Jesus seminar mengabaikan kriteria perbedaan ini, dan menganggap teks itu tidak asli.

·         Kriteria Pembuktian Kolektif
Kriteria ini menegaskan bahwa autentisitas ucapan atau tindakan Yesus dapat diterima hanya apabila ucapan/tindakan itu tertulis dalam minimal dua sumber yang menyusun Injil. Lagi-lagi kelompok The Fellows menunjukkan standar ganda dan ketidakkonsistenan mereka dalam penerapan kriteria ini. Contoh: Pujian Yesus terhadap Yohanes Pembaptis dalam Matius 11:7-8 diterima sebagai yang mungkin asli karena pujian ini ditemukan juga dalam Q dan dalam Injil Thomas. Namun, kriteria pembuktian kolektif ini diabaikan dalam teks Markus 10:45 tentang kedatangan Anak Manusia yang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani … Walaupun teks Markus ini sama dengan Matius 26:24, dan Lukas 22:19-20, namun Jesus seminar menyatakan bahwa perkataan Yesus ini mungkin tidak asli.

Prasangka
·         Keraguan Historis
Di atas telah diungkapkan bahwa Jesus seminar ini meragukan keandalan Alkitab secara umum dan Injil secara khusus. Pada bagian sebelumnya (Keandalan Sumber) telah diuraikan beberapa sumber yang diabaikan oleh kelompok The Fellows ini. Uraian itu tidak diulang lagi di sini. Intinya adalah mereka telah mengabaikan keandalan keempat Injil kanon yang telah disetujui dan diterima oleh jutaan orang Kristen dan ribuan ahli teologi selama dua ribu tahun terakhir, dan memilih lebih memercayai Injil Thomas dan Injil Petrus yang baru muncul sekitar satu abad setelah keempat Injil kanon ditulis pada abad-abad pertama Masehi.

Suatu kenyataan ironis lagi bahwa ternyata ada saja orang-orang tertentu yang juga memilih untuk lebih memercayai injil-injil abad kedua masehi ke atas, memilih untuk memercayai novel yang dikisahkan seperti sejarah (seolah-olah fakta), memilih untuk memercayai film yang didramatisasi seperti sejarah (seolah-olah fakta atau seperti film dokumenter), dan dengan mudah menerima begitu saja injil ciptaan para ahli teologi dari kalangan “terbatas” dari Amerika Utara. Anehnya lagi, ada juga orang-orang yang memilih untuk memercayai hipotesis-hipotesis orang-orang yang berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-21 dan menganggap itu lebih sahih daripada teks-teks Alkitab dan berbagai sumber pendukungnya yang lebih tua dan jelas lebih dekat dengan tokoh yang diperdebatkan “Yesus”. Orang-orang Kristen mula-mula, terutama para penginjil gereja mula-mula, hingga gereja dan para penguasa di seputar abad peng-kanon-an Alkitab PB “dicurigai” telah melakukan rekayasa atas teks-teks Alkitab dan dalam peng-kanon-an itu, terutama di seputar pribadi dan kehidupan Yesus, tapi mereka ini tidak mempertanyakan sesuatu di balik pemikiran mereka sendiri, terutama sesuatu di balik gagasan para teolog liberal seperti kelompok The Fellows ini. Gagasan-gagasan liberal diterima begitu saja, seolah-olah jauh lebih murni dan bersih dari orang-orang yang lebih dekat pada tokoh “Yesus” dalam PB. Seharusnya, “kecurigaan” mereka terhadap gereja mula-mula dan orang-orang yang terlibat dalam peng-kanon-an kitab-kitab PB, diterapkan juga terhadap orang-orang yang secara sensasional menghasilkan gagasan-gagasan ekstrem terhadap Alkitab PB.

Kita juga kurang tahu standar apa yang dipakai oleh kelompok The Fellows dalam menciptakan “tujuh pilar kebijaksanaan intelektual” mereka. Kalau kelompok ini menuduh gereja telah merekayasa teks-teks kitab-kitab Injil, maka kita juga patut mempertanyakan alasan atau motivasi mereka di balik tujuh pilar ini, dalam konteks apa, dan dengan tujuan apa.

·         Ketepatan Politis
Kita patut mengapresiasi upaya kelompok The Fellows untuk menawarkan Yesus yang tepat secara politis. Tidak ada yang salah dengan ini, dan malah kita harus mencoba memahami Yesus dalam aspek politik juga, walaupun bukan hanya aspek politik saja yang mengelilingi dunia Yesus pada waktu itu dan dunia pembentukan kitab-kitab Injil. Namun, tidaklah tepat menafsirkan Injil-injil yang ditulis pada abad pertama Masehi dengan cara berpikir ala Amerika Utara. Hal ini menjadi jelas dengan penempatan Injil Thomas dan memberikan prioritas di atas keempat Injil yang lebih tua darinya. Aroma gnostisisme di sini tidak bisa disembunyikan. Aroma ini nantinya semakin jelas ketika pada akhirnya mereka menggambarkan Yesus yang tepat dengan yang mereka ingin cari, yaitu seorang Yesus yang bersifat individualistis, pantheistis, moralistis, pluralistis, dan memiliki karakter khas orang Amerika Utara.

Jadi, sama seperti namanya “The Fellows” (Teman-teman), gagasan-gagasan kelompok ini hanya bisa berlaku untuk kalangan “Teman-teman” saja, dan kita juga tidak berhak melarang mereka untuk memercayai apa yang mereka yakini. Obsesi mereka memang luar biasa, dan upaya mereka untuk mencari sensasi patut diapresiasi. Kita juga mesti berterima kasih dengan kemuncullan orang-orang seperti ini, karena dengan demikian kita diberi kesempatan untuk semakin mendalami dan memercayai apa yang kita imani. Dalam perumpamaan-Nya tentang lalang di antara gandum, Yesus menerangkan reaksi sang tuan ketika hamba-hambanya hendak mencabut lalang di antara gandum-gandumnya itu, “… Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku” (Matius 13:29-30).

No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...