Friday, December 25, 2015

Perbaikilah Tingkah Langkahmu dan Perbuatanmu (Yeremia 26:12-15)



Bahan Khotbah Natal hari ke-2, Sabtu, 26 Desember 2015
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo, M.SI[1]

26:12   Tetapi Yeremia berkata kepada segala pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: “Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu.
26:13   Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu.
26:14   Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu.
26:15   Hanya ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu.”

Teks renungan kita pada hari ini berbicara tentang “pembelaan diri” Yeremia atas pemberitaan firman Tuhan yang telah disampaikannya kepada bngasa Israel. Dalam pemberitaannya, Yeremia tidak segan-segan mengkritik (mengecam) siapa pun yang salah, termasuk mengecam para pemimpin Israel, baik pemimpin pemerintahan maupun pemimpin agama. Yeremia pun sangat berani melawan segala bentuk ketidakadilan yang terjadi di Israel, termasuk memberitakan hukuman Allah yang akan mereka terima apabila tidak bertobat. Perhatikan misalnya pemberitaan Yeremia di pasal 26:6 “maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi.”

Sayang sekali, seperti sering terjadi dewasa ini, tidak semua orang terbuka terhadap kritik; banyak yang merasa terganggu dan mengecam balik bahkan mengancam Yeremia. Hal ini terlihat misalnya di pasal 28:8-9 “Lalu sesudah Yeremia selesai mengatakan segala apa yang diperintahkan TUHAN untuk dikatakan kepada seluruh rakyat itu, maka para imam, para nabi dan seluruh rakyat itu menangkap dia serta berkata: “Engkau harus mati! Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?" Dan seluruh rakyat berkumpul mengerumuni Yeremia di rumah TUHAN. Ancaman ini sangat menakutkan!

Namun, Yeremia tidak takut, tidak mundur! Dia berani mempertanggungjawabkan pemberitaan yang telah disampaikannya, termasuk kecaman/kritikan bahkan berita hukuman dari Tuhan atas bangsa Israel kalau mereka tidak segera bertobat. Apa isi perkataan Yeremia?
Pertama, penegasan bahwa Tuhanlah yang telah mengutus Yeremia untuk memberitakan apa saja yang Tuhan inginkan, baik berita yang menyenangkan maupun berita yang menyedihkan, termasuk kecaman dan atau berita hukuman dari Tuhan (26:12). Penegasan ini sangat penting, sebab seseorang yang menyampaikan suatu berita tanpa “dasar hukum” yang jelas akan menanggung akibat yang buruk, bahkan pemberitaannya tidak akan dipercayai, dia digolongkan sebagai nabi palsu. Dengan perkataan ini Yeremia hendak menegaskan bahwa dirinya adalah nabi Tuhan, bukan nabi palsu. Menolak pemberitaannya berarti menolak Tuhan yang mengutusnya, dan akibatnya adalah hukuman Allah atas mereka.

Kedua, penegasan kembali isi pemberitaan sebelumnya, yaitu bahwa bangsa Israel harus bertobat, kalau tidak maka hukuman dari Tuhan tidak bisa dihindari lagi. “Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu”(26:13). Yeremia tahu bahwa sumber malapetaka yang akan melanda Israel adalah tingkah langkah dan perbuatan mereka yang tidak mencerminkan hidup umat pilihan Tuhan. Itulah sebabnya Yeremia menegaskan bahwa satu-satunya jalan untuk “menghindari” atau “membatalkan” ancaman hukuman dari Tuhan adalah pertobatan bangsa itu, mulai dari para pemimpinnya hingga seluruh rakyatnya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkah laku bangsa Israel pada waktu itu sangat merusak, merusak perjanjian Allah dengan leluhur mereka yaitu bahwa mereka akan selalu setia kepada Tuhan dan mendatangkan keadilan di seluruh negeri.

Ketiga, akibat dari penolakan bangsa Israel atas firman Tuhan dan hamba-Nya (26:14-15). Yeremia sadar bahwa bangsa Israel, terutama para pemimpinnya, adalah bangsa yang tegar tengkuk, sulit menerima “kritikan”, bahkan seringkali memutarbalikkan fakta untuk membela diri dalam kesalahan mereka, dan menuduh nabi Tuhan (Yeremia) sebagai pihak yang salah, pihak yang harus dihukum. Itulah sebabnya Yeremia “pasrah” saja setelah dia berada di tangan mereka, dia berkata: “sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu”(ay. 14). Namun, dalam kepasrahannya itu Yeremia tetap mengingatkan mereka akan akibat yang harus mereka terima karena menolak pemberitaan firman Tuhan, menolak hamba Tuhan (nabi Yeremia), dan dengan sendirinya menolak Tuhan. Yeremia tetap menegaskan bahwa mereka akan dihukum oleh Tuhan kalau tidak segera bertobat, dan hukuman itu semakin cepat dan berat kalau mereka malah membunuh utusan Tuhan.

Dalam nas berikutnya, para pemimpin bangsa Israel tidak segera mengambil keputusan hukuman atas Yeremia, sebab di antara mereka ada juga yang berpikir jernih. Hal ini terlihat misalnya di pasal 26:24 “Tetapi Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, sehingga ia tidak diserahkan ke dalam tangan rakyat untuk dibunuh.” Dalam sejarahnya, bangsa Israel lebih banyak tidak mendengarkan firman Tuhan sebagaimana pemberitaan para nabi, mereka tidak mau bertobat, dan pada akhirnya mereka dihukum oleh Tuhan, negeri mereka dihancurkan, dan mereka sendiri dibuang ke negeri orang. Tragis memang!

Apa artinya? Kembali kepada inti pemberitaan Yeremia, yaitu bahwa bangsa Israel harus memperbaiki tingkah langkah dan perbuatan mereka, baru kemudian mereka dapat merasakan keselamatan yang sesungguhnya. Kelahiran Kristus dimaksudkan untuk keselamatan umat manusia, keselamatan dalam arti yang sesungguhnya. Sayang sekali, ketidakmauan manusia untuk berubah seringkali menghalangi dirinya untuk melihat, merasakan dan menikmati berita keselamatan itu.



[1] Khotbah Natal hari ke-2, Sabtu, 26-12-2015, di BNKP Jemaat Orahili Sifalaete, oleh Pdt. Alokasih Gulö, M.Si.

No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...