Sunday, April 4, 2021

Bersyukur kepada TUHAN (Mazmur 136:1-10)

Rancangan Khotbah Paskah II, Senin, 05 April 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


1 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
2 Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
3 Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
4 Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
5 Kepada Dia yang menjadikan langit dengan kebijaksanaan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
6 Kepada Dia yang menghamparkan bumi di atas air! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
7 Kepada Dia yang menjadikan benda-benda penerang yang besar; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
8 Matahari untuk menguasai siang; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
9 Bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
10 Kepada Dia yang memukul mati anak-anak sulung Mesir; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.


Kita tidak tahu oleh siapa penulis Mazmur ini, kemungkinan besar disusun oleh Daud (bnd. 1Taw. 16:41). Mazmur ini dinyanyikan di bait suci Salomo (2Taw. 7:3,6), dan oleh bala tentara Yosafat ketika mereka bernyanyi untuk kemenangan di padang gurun Tekoa (2Taw. 20:20-21). Dari bentuknya, mazmur yang berisi pujian ini tampaknya cukup populer di kalangan umat Tuhan, sebab melaluinya mereka merayakan kebaikan Tuhan. Intinya adalah ajakan untuk bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya yang kekal selamanya.

Apa saja kebaikan atau kasih setia TUHAN yang tiada berkesudahan itu?

Pertama, bahwa TUHAN telah menaklukkan segala allah atau segala tuhan (ay. 2-3) yang memiliki pengaruh kuat di sekitar umat TUHAN pada zaman dulu. Disebutkan bahwa TUHAN adalah Allah segala allah, Tuhan segala tuhan. Artinya, kuasa TUHAN jauh melampaui kuasa/pengaruh segala allah/tuhan. Kita pun yakin bahwa tidak ada satu kuasa apa pun yang dapat menyamai atau melebihi kuasa TUHAN. Tuhan Yesus telah membuktikan hal tersebut melalui kebangkitan-Nya, kuasa maut dikalahkan. Dengan demikian, patutlah kita bersyukur kepada-Nya. Kita pun tetap percaya bahwa kuasa kebangkitan Tuhan Yesus akan mampu mengatasi kuasa ketakutan dan kekuatiran yang telah melanda kita lebih satu terakhir karena Pandemi Covid-19. Kita pun percaya bahwa kuasa kebangkitan Kristus akan mampu mengatasi kuasa alam yang akhir-akhir ini sedang mengamuk. Kita juga percaya bahwa kuasa kebangkitan Tuhan Yesus akan mampu meredam kuasa ketakutan akibat teror bom yang terjadi beberapa minggu terakhir. Tentu saja, kita mesti melangkah dengan hati-hati, tetapi kehati-hatian kita tersebut dibangun atas dasar kepercayaan pada kuasa TUHAN yang melampaui segala kuasa manapun. Ini tidak berarti bahwa kita bersyukur karena sejauh ini kita masih berada dalam situasi “baik-baik” saja, sementara di tempat lain ada saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan yang luar biasa. Kita bersyukur atas keberadaan Allah kita yang mengatasi segala kuasa.

Kedua, bahwa TUHAN telah berkarya dengan penuh keajaiban, kebijaksanaan, keagungan, dan kemuliaan (ay. 4-9). Tampaknya, hal ini berhubungan dengan penciptaan langit dan bumi. Amat banyak karya TUHAN yang membuat kita kagum, oya zahölihöli dödöda halöwö Lowalangi. Kalau kita melihat kembali kisah penciptaan menurut Kejadian 1, maka tergambar dengan jelas betapa Tuhan pada mulanya menata sedemikian rupa langit dan bumi yang sangat kacau. Allah menciptakan dengan penuh keindahan, dengan urutan yang teratur. Allah menata kosmos dengan penuh ketelitian, sehingga semuanya bergerak secara teratur, membuat kita terpesona. Karya Allah kita memang sungguh-sungguh mencerminkan keajaiban dan kebijaksanaan ilahi, melebihi segala allah/tuhan di segala zaman. Siapakah yang tidak kagum melihat langit yang terbentang lebar itu? Siapakah yang tidak kagum melihat bumi kita sebenarnya terhampar di atas air tetapi tidak tenggelam? Siapakah yang tidak kagum melihat benda-benda penerang yang ditempatkan oleh Tuhan di langit? Bagaimana mungkin benda-benda penerang besar itu tidak jatuh? Bagaimana mungkin benda-benda penerang itu tidak kehabisan energi sekian juta tahun? Siapakah yang tidak kagum melihat matahari dan bintang-bintang ciptaan Tuhan melaksanakan perannya masing-masing, ada siang dan ada malam? Inilah juga yang telah membuat Rasul Paulus mengekspresikan kekagumannya atas karya Tuhan, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Rm. 11:33). Jadi, siapakah yang tidak bersyukur atas karya Allah yang sungguh-sungguh menakjubkan itu? Lalu, apakah karya Allah yang jauh lebih hebat sampai hari ini? Itulah kebangkitan Yesus, karya terbesar sepanjang sejarah. Oleh sebab itu, kita patut bersyukur kepada Tuhan atas karya terbesar-Nya, sebab tanpa karya-Nya tersebut kita tidak mungkin selamat.

Ketiga, bahwa TUHAN telah membebaskan bangsa Israel dengan cara yang luar biasa dari perbudakan di Mesir (ay. 10-12). TUHAN telah membawa keluar bangsa Israel dari Mesir, dari tempat perbudakan yang amat menyedihkan itu. Pemazmur mengajak umat TUHAN untuk mengingat kembali betapa besar kasih setia TUHAN yang telah mereka terima. Kebebasan dari Mesir adalah belas kasihan TUHAN. Penebusan kita oleh Kristus pun adalah kasih karunia Tuhan. Dari semua tulah di Mesir, tidak ada yang disebutkan kecuali kematian anak sulung, karena itu adalah tulah yang menaklukkan. Pada waktu itu, hampir tidak ada kekuatan dunia yang mampu mengalahkan Mesir, dalam hal ini Firaun. Jangankan bangsa Israel yang masih diperbudak, bangsa-bangsa lain yang cukup kuat saja masih belum mampu mengatasi Mesir. Tetapi, ketika TUHAN datang, semuanya teratasi. Oleh kuasa Tuhan, anak-anak sulung Mesir mati. Simbol kebanggaan dan keberlanjutan generasi Mesir dihentikan oleh Tuhan karena keangkuhan mereka. Mereka “dimatikan” sebelum “mematikan” lebih banyak lagi orang lain. tadinya, bangsa Israel pesimis, tetapi Tuhan datang dan membebaskan mereka. Demikian juga dengan kuasa maut yang amat menakutkan itu, telah dikalahkan oleh kuasa kebangkitan Kristus yang kita rayakan hari ini. Tadinya kita pun mestinya binasa karena dosa-dosa kita, dan upah dosa adalah maut (Rm. 6:23). Tetapi, salib Kristus telah mengakhiri segalanya, dan kebangkitan-Nya menjadi tanda dan bukti kemenangan Tuhan atas kuasa maut tersebut. Maka, sepatutnyalah kita bersyukur kepada Tuhan karena kasih setia-Nya yang kekal selamanya, karena kasih setia-Nya yang tiada berkesudahan.

--- Selamat Paskah ---

No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...