Saturday, January 5, 2013

Doa (Harapan) Mohon Hukum dan Keadilan Tuhan: Untuk Pelanggengan Kekuasaan, atau Untuk Menjadi Berkat Bagi Sekitarnya?

Panduan Khotbah Minggu, 6 Januari 2013
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo

Ay.
Mazmur 72:1-7 + 11-14
72:1
Dari Salomo. Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!
72:2
Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!
72:3
Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran!
72:4
Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras!
72:5
Kiranya lanjut umurnya selama ada matahari, dan selama ada bulan, turun-temurun!
72:6
Kiranya ia seperti hujan yang turun ke atas padang rumput, seperti dirus hujan yang menggenangi bumi!
72:7
Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!
72:11
Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!
72:12
Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong;
72:13
ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin.
72:14
Ia akan menebus nyawa mereka dari penindasan dan kekerasan, darah mereka mahal di matanya.

·       Teks ini dapat dipahami dalam dua perspektif, yaitu perspektif kekuasaan, dan perspektif pelayanan/pengabdian.
·         Pertama, perspektif kekuasaan.
Perspektif ini berkaitan dengan posisi Salomo sebagai raja Israel (kalau untuk sementara waktu kita menerima mazmur ini bersumber dari raja Salomo). Mengapa? Karena ada kemiripan teks ini dengan doa raja Salomo pada masa awal pemerintahannya (lih. 1 Raja-raja 3:6-9). Secara radikal kita dapat memahami teks ini sebagai upaya legitimatif dari penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya dengan mengatasnamakan (hikmat) TUHAN. Mengapa? Karena dalam realitasnya pemerintahan raja Salomo sendiri, mulai dari pengangkatannya sebagai raja, upayanya dalam menyingkirkan orang-orang yang berseberangan dengan dia (termasuk saudara-saudaranya dan mantan pemimpin tentara ayahnya Daud), hingga masa akhir pemerintahannya, penuh dengan intrik politik “licik dan kejam”, dan bahkan TUHAN yang tadinya diagungkan itu akhirnya ditinggalkannya.

Baiklah, mari kita lihat sejenak logika yang memahami teks ini dari perspektif kekuasaan. Di ayat 12-14, pemazmur memaparkan tindakan-tindakan raja yang telah menunjukkan keberpihakan kepada kaum kecil, yaitu orang miskin, tertindas, dan yang tidak punya penolong. Kalau teks ini ada hubungannya dengan raja Salomo, maka terasa aneh! Mengapa? Karena dalam faktanya raja Salomo (kalau mau jujur) belum menunjukkan tindakan seperti diuraikan pada ayat 12-14. Dia pasti menyingkirkan si-apa pun yang mencoba menghalangi keinginan hatinya, mulai dari saudara-saudaranya dan para pendukung ayahnya Daud (mis. Yoab) selengkapnya lih. 1 Raja-raja 2:13-46, hingga lawan-lawan politiknya (mis. Yerobeam, selengkapnya lih. 1 Raja-raja 11:14-40), hingga. Pembangunan bait Allah dan istana raja juga tentu membutuhkan dana yang sangat besar, apalagi bahan-bahan bangunan itu didatangkan dari luar Israel (impor). Konsekuensinya adalah penarikan pajak yang cukup tinggi dari rakyat demi pembangunan bait Allah dan istana raja itu, belum lagi kebutuhan di bait Allah dan istana itu sehari-hari. Maka, tidak mengherankan kalau rakyat Israel di kemudian hari (yang tentunya juga telah “diprovokasi” oleh Yerobeam cs) meminta keringanan beban kepada putera raja Salomo yaitu raja Rehabeam (lih. 1 Raja-raja 12:1-21, perhatikan ayat 4). Fakta ini semua sangat kontradiksi dengan apa yang diutarakan dalam teks mazmur hari ini. Keanehan ini sedikit dapat berkurang apabila teks ini merujuk kepada raja Daud sebagaimana dicatat pada bagian akhir dari pasal 72 ini (ay. 20), walaupun informasi tentang tindakan Daud yang persis dengan informasi di ayat 12-14 belum begitu kuat. Maka, dari perspektif kekuasaan teks ini dapat dipahami sebagai bagian dari upaya legitimasi kekuasaan raja dengan mengatasnamakan TUHAN sebagai sumber hukum dan keadilan. Kalau teks ini misalnya dikaitkan dengan kedatangan “Mesias”, itu sah-sah saja, namun ada kesan memaksakan diri ke arah itu. Ah, entahlah …! Bingung aku …!

Dalam teks ini pemazmur memohon kepada TUHAN untuk memberikan hukum kepada raja dan keadilan-Nya kepada putera raja. Permintaan raja ini memang sangat mendasar dalam pemerintahan seorang raja, dan sangat menentukan dalam kelanggengan kekuasaan. Kalau hukum menjadi “panglima” dalam menjalankan pemerintahan, dan keadilan menjadi “dasar” kekuasaan, maka kehidupan sang raja, dan kelanggengan kekuasaannya itu, tetap bertahan hingga ke anak-cucunya. Ayat ini juga hendak mengatakan bahwa sumber hukum dan keadilan dalam pemerintahan raja adalah TUHAN sendiri. Dengan kata-kata ini, pemazmur hendak menciptakan suatu pemahaman bahwa segala tindakan raja, terutama berkaitan dengan hukum dan keadilan, adalah berasal dari TUHAN. Segala yang dilakukan raja adalah untuk keadilan, kebenaran, keberpihakan, dan damai sejahtera bagi rakyat; dan itu bersumber dari hukum dan keadilan TUHAN. Jadi, semua raja dan bangsa (dari berbagai suku di Israel, atau luar Israel …?) haruslah tunduk atau menundukkan diri di bawah kekuasaan raja besar itu (bnd. Ay. 11). Bukankah raja itu sumber keadilan? Bukankah dia sumber kebenaran? Bukankah dia sumber damai sejahtera? Bukankah dia sumber “hujan berkat”? Bukankah dia (telah) menunjukkan keberpihakan kepada kaum “kecil”? Apa lagi yang kurang? Maka, tidak ada alasan bagi si-apa pun untuk melawannya! Melawannya berarti melawan TUHAN, sumber hukum dan keadilan itu (ay. 5 berbicara tentang kelanggengan kekuasaan raja, dan ay. 7, nampaknya bicara tentang kestabilan politik pada zamannya). Inti perspektif ini adalah doa mohon hukum dan keadilan TUHAN untuk kelanggengan kekuasaan sang raja.

·         Kedua, perspektif pelayanan/pengabdian.
Perspektif ini merupakan harapan pemazmur tentang raja dan pemerintahannya, dengan memohonkan hukum dan keadilan TUHAN. Doa harapan ini hendak menegaskan bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh sang raja (dan puteranya) berasal dari TUHAN sendiri, dan karenanya dasar pelaksanaan kekuasaan itu adalah hukum dan keadilan TUHAN. Doa harapan ini juga hendak menegaskan bahwa kekuasaan seorang raja (seharusnya) adalah untuk melayani dan menunjukkan keberpihakan pada keadilan, kebenaran, kaum kecil, dan damai sejahtera. Kalau seorang raja tunduk di bawah hukum dan keadilan TUHAN, dan secara konsisten memerintah dengan penuh keadilan, kebenaran, dan solidaritas, maka damai sejahtera dapat dinikmati oleh semua (holistik), dengan demikian langgenglah kekuasaan sang raja. Jadi, kelanggengan kekuasaan sang raja, ditentukan oleh ke-tunduk-kannya pada sumber kekuasaannya itu, dan orientasinya pada kesejahteraan seluruh kehidupan bangsanya.

Seorang raja yang hidup menurut hukum dan keadilan TUHAN dalam pandangan pemazmur adalah seorang yang menjalankan roda pemerintahannya menurut asas-asas keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera bagi semua. Dan, yang lebih penting lagi adalah tentang bagaimana seorang raja menunjukkan keberpihakannya bagi kelompok masyarakat yang tersingkirkan, yaitu mereka yang miskin, tertindas, dan tidak punya penolong; sekaligus ketegasan hukum bagi mereka yang memeras orang lain (ay. 4). Intinya adalah kekuasaan (seharusnya) dibangun atas dasar hukum dan keadilan TUHAN, dan berorientasi pada pelayanan/pengabdian yang tulus bagi rakyat secara menyeluruh.

·         Sekarang mari kita memadukan kedua perspektif ini sehingga menjadi lebih fleksibel. Tidak dipungkiri bahwa posisi sebagai raja identik dengan kekuasaan, dan setiap raja pasti melakukan upaya apapun untuk mempertahankan kekuasaannya, termasuk mengatasnamakan TUHAN untuk legitimasi kekuasaannya itu. Pengatasnamaan TUHAN ini dapat saja dilakukan mulai dari proses awal menjadi raja, kemudian kebijakan dan tindakan yang dilakukan selama pemerintahannya, hingga akhir kekuasaan yang biasanya diteruskan kepada putera sang raja. Doa memohon sesuatu kepada TUHAN (dalam Mazmur ini memohon hukum dan keadilan TUHAN) merupakan salah satu metode “melibatkan” atau “mengatasnamakan” TUHAN dalam kekuasaan seorang raja, sehingga pemerintahannya itu lebih legitimatif, maka langgenglah kehidupan dan kekuasaan sang raja itu.

Namun, harus diingat juga, dan hal ini yang terus menerus diingatkan oleh TUHAN bagi para raja Israel, termasuk dalam mazmur ini, bahwa kekuasaan adalah anugerah TUHAN untuk melayani. Artinya, kelanggengan kekuasaan ditentukan oleh TUHAN sendiri, dan kebesaran kekuasaan itu ditentukan oleh pelayanannya terhadap kehidupan di sekitarnya. Saya kira pemazmur memberikan tempat yang signifikan terhadap perspektif ini: “kekuasaan bersumber dari TUHAN, harus diemban berdasarkan hukum dan keadilan TUHAN, dan dilaksanakan untuk melayani seluruh kehidupan rakyat”.

·         Kedua perspektif ini (perspektif kekuasaan dan perspektif pelayanan/pengabdian), sama-sama menempatkan hukum dan keadilan TUHAN sebagai dasar berpijak dalam menjalankan roda pemerintahan. Walaupun motif dan tujuan keduanya berbeda, namun satu hal yang pasti adalah bahwa bagi keduanya hukum dan keadilan TUHAN tidak bisa diabaikan dalam kekuasaan dan bahkan dalam kehidupan ini.

·         Terlepas dari implementasinya yang mungkin saja berbeda (karena motif dan tujuan yang berbeda) kedua perspektif ini sama-sama memiliki semangat dan orientasi bagi keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan bagi semua, terutama keberpihakan bagi yang miskin, tertindas, dan tak punya penolong.

·         Kedua perspektif ini sama-sama menyadari bahwa kelangsungan hidup dan kekuasaan terletak pada ke-tunduk-kan pada hukum dan keadilan TUHAN, serta pelaksanaan hukum dan keadilan itu dalam hidup dan pemerintahannya.

·         Kita baru saja masuk minggu pertama di tahun baru 2013 ini. Tentu, kita menginginkan supaya kita (entah kuasa, usaha, rencana, dll) dapat berjalan dengan baik, lancar, dan berumur panjang (anau gölö). Kita mesti ingat bahwa orang lain di sekitar kita juga menginginkan hal yang sama, dan karenanya kita tidak boleh saling mengabaikan, saling menindas dan memeras. Apa pun yang kita miliki, (seharusnya) adalah anugerah Tuhan, dan itu semua (seharusnya) diberikan supaya kita dapat menjadi berkat bagi sekitar kita, terutama bagi mereka yang membutuhkan (those who are in need). Doa harapan kita adalah bahwa TUHAN yang penuh dengan keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera, menyertai kita sepanjang tahun ini bahkan sepanjang hidup kita.

Monday, December 24, 2012

Kalau Juruselamat Sudah Datang, Apa Lagi yang Kita Takuti? (Lukas 2:8-11)

Renungan Natal 25 Desember 2012
Oleh Pdt. Alokasih Gulo


Ay.
Luka 2:8-11
Lukas 2:8-11
2:8
Ba so gubalo ba danöra andrö, si mörö ba danö, manaro biribirira ba zi bongi.
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
2:9
Ba i’ondrasi ira mala’ika Zo’aya, ba ifasui ira haga Zo’aya, ba oi si wa’ata’ura.
Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
2:10
Ba imane khöra mala’ika andrö: “Böi mi’ata’ufi. Hiza sa, uturiagö khömi wa’omuso dödö sabölöbölö, si rugi niha fefu dania.
Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
2:11
Me no tumbu khömi Zangorifi andrö, bongi andre, Keriso So’aya ba mbanua Dawido
Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.


·         Gembala pada zaman dulu, termasuk pada zaman perjanjian baru, dianggap sebagai salah satu kasta/kelompok/kelas masyarakat yang rendah. Mereka tinggal di luar kota dan tidak diperkenankan terlibat dalam banyak kegiatan atau peristiwa penting. Tetapi, kepada siapakah para malaikat memberitakan berita baik? Siapakah yang mendengar nyanyian bala tentara surga yang memuji Allah? Yaitu gembala. Bertolak belakang bukan? Mereka yang disingkirkan oleh masyarakat justru menjadi orang yang pertama mendengar berita baik itu. Atau lebih tepatnya, kepada orang-orang yang disingkirkan itulah Allah justru memberitakan berita baik, yaitu bahwa Juruselamat telah lahir.


·         Kita hidup saat ini di dunia yang penuh dengan tragedi atau penuh dengan berbagai peristiwa yang memprihatinkan, menyedihkan, memilukan, dan menakutkan. Berita sukacita itu dibutuhkan oleh dunia pada umumnya, dan setiap orang pada khususnya. Mengapa? Karena hidup kita selalu dibayangi oleh penderitaan, kesedihan, dukacita, kegelisahan, keuatiran, dan ketakutan. Kisah Natal seperti diceritakan oleh Injil Lukas ini bukan hanya sekadar berita BAIK, melainkan berita TERBAIK bagi dunia. Hal ini terlihat jelas dari perkataan malaikat kepada para gembala tersebut: “...aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (ay. 10-11).


·         Tahun yang lalu, saya mendapatkan SMS ucapan selamat Natal dari seorang teman, katanya: “Kalau dunia ini kekurangan hanya kebutuhan hidup sehari-hari maka Allah tentunya mengutus ahli ekonomi bagi kita ..., kalau kebodohan saja masalah dunia ini, maka Allah akan mengutus orang yang pintar atau orang yang pendidikannya tinggi (profesor) bagi dunia ini ..., namun, bukan itu semua masalah dunia kita. Masalah utama kita adalah bahwa dunia telah jatuh dalam berbagai bentuk dosa, dan karenanya kita membutuhkan orang yang mampu membebaskan kita dari perbudakan dosa itu, kita membutuhkan orang yang mampu memulihkan  dan mendamaikan kita. Itulah sebabnya Allah mengutus anak-Nya Yesus Kristus bagi kita, bukan ahli ekonomi, bukan kaum intelektual atau profesor, bukan juga ahli bedah, atau ahli kecantikan, dll. Kita sudah dikuasai oleh keduniawian, persaingan tidak sehat, kegelisahan, kekuatiran, dan ketakutan, dan itu semua berhubungan dengan “masalah hidup” dalam pengertian yang luas (fisik, mental/jiwa, psiko-sosial, dan spiritual). Dalam konteks itu kita membutuhkan Tuhan Yesus, karena hanya Dialah yang memampukan kita melewati segala bentuk “tragedi” dunia ini. 


·         Memang, sebagai manusia yang penuh dengan keterbatasan dan kelemahan, kita pantas takut, pantas gelisah dan kuatir. Namun, kalau Pembela kita sudah datang, kalau Penyelamat kita sudah datang, untuk apa kita takut, untuk apa kita

·      Banyak orang dalam hidup ini selalu merasa “kecil” hanya karena tidak mempunyai banyak dalam ukuran dunia, hanya karena merasa banyak kelemahan atau kekurangan, hanya karena secara ekonomi dia lemah, hanya karena pendidikannya rendah, hanya karena status sosialnya rendah, atau juga karena sering dianggap “kecil/rendah” oleh masyarakatnya. Namun, berita sukacita yang disampaikan oleh malaikat pada hari ini, menegaskan bahwa kita tidak perlu merasa “kecil” dengan alasan apa pun, kita tidak perlu merasa “rendah” dan tidak berguna apa pun latar belakangnya. Sekali lagi, kalau Pembela dan Penyelamat kita sudah datang, apa lagi yang kita takuti?


Selamat Natal


Sunday, December 23, 2012

Dari yang Terkecil Muncul Pemimpin Besar (Mikha 5:1-5)


Renungan Minggu Adven IV (Minggu, 23 Desember 2012)
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo


Selamat Hari Ibu!

Alkitab BIS
5:1
TUHAN berkata, "Hai Betlehem Efrata, engkau salah satu kota yang terkecil di Yehuda! Tetapi dari engkau akan Kubangkitkan seorang penguasa untuk Israel yang asal usulnya dari dahulu kala."
5:2
Jadi, TUHAN akan membiarkan umat-Nya dikuasai oleh musuh-musuh mereka sampai wanita yang ditentukan untuk menjadi ibu penguasa itu telah melahirkan Dia. Sesudah itu orang-orang sebangsanya yang berada di pembuangan akan dipersatukan kembali dengan bangsa mereka.
5:3
Apabila penguasa itu datang, Ia akan memerintah umat-Nya dengan kekuatan dan kekuasaan dari TUHAN Allahnya sendiri. Umat-Nya akan hidup dengan aman, karena semua orang di seluruh dunia akan mengakui kebesaran-Nya,
5:4
dan Ia akan memberikan kedamaian. Apabila tentara Asyur menyerbu negeri kita dan mendobrak pertahanan kita, kita akan mengerahkan pemimpin-pemimpin kita yang terkuat untuk memerangi mereka.
5:5
Pemimpin-pemimpin kita itu akan mengalahkan Asyur dengan kekuatan senjata, dan menyelamatkan kita dari tangan mereka.


Menjadi yang terkecil tentu kuranglah membahagiakan. Mendapat bagian kecil dalam suatu pembagian juga kurang menggembirakan (ingat misalnya distribusi bantuan kemanusiaan, saling berebut, jangan sampai mendapat bagian yang sedikit atau terkecil). Atau, menjadi kaum minoritas sebenarnya kurang menyenangkan (bandingkan misalnya dengan keberadaan orang-orang Kristen di Indonesia, atau keberadaan kaum Muslim di Amerika). Dan, sesuatu yang menyakitkan apabila yang terkecil itu diabaikan oleh orang-orang dekatnya, oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pembelanya. Memang, ada istilah “kecil itu indah”, tetapi ketika ia diabaikan, disingkirkan, didiskriminasi, dipandang sebelah mata, ditindas, dan mungkin saja diperas seperti sapi perah, tentu yang dirasakan bukan lagi “ke-indah-an” melainkan “ke-sakit-an” dan “ke-pedih-an”.

Perasaan yang kurang menyenangkan seperti itulah yang juga dirasakan oleh sebuah kota kecil di Yehuda pada zaman nabi Mikha, yaitu kota Betlehem Efrata. Kota ini memang sebuah kota kecil di antara kota-kota lain di Yehuda pada waktu itu; karenanya kota ini kurang diperhatikan dan diperhitungkan secara politik, sosial-ekonomi, bahkan agama. Secara politik dan ekonomi, kota ini tidak dapat memberikan harapan yang menggembirakan bagi para penguasa pemerintahan dan agama pada waktu itu, dan karenanya kota ini tidak mendapat tempat yang signifikan di hati para penguasa. Jadi, kita bisa membayangkan kalau secara sosio-psikologis para penduduknya merasa tidak berdaya menghadapi situasi sulit seperti itu, dan pada akhirnya mereka hanya berserah saja pada “nasib”.

Namun, siapa sangka saudara-saudari, kalau ternyata dari kota kecil yang pengharapannya hampir sirna inilah kemudian muncul pemimpin besar, pemimpin yang pemerintahannya jauh melampaui batas-batas wilayah Israel dan Yehuda. Siapa sangka saudara-saudari, kalau ternyata kota kecil ini kemudian menjadi pusat perhatian internasional karena dari padanyalah bangkit pemimpin terbesar itu. Siapa sangka, kalau ternyata dari yang terkecil muncullah pemimpin besar.

Dan, kemunculan pemimpin besar inilah yang dijanjikan oleh Tuhan Allah ketika para pemimpin Israel/Yehuda pada zaman nabi Mikha berpesta-pora melakukan korupsi, ketika para nabi palsu bersibuk-ria menawarkan jasanya, ketika para imam berubah menjadi fasik, ketika para pedagang semakin tidak jujur, dan ketika para hakim suka menerima suap. Janji pengharapan inilah yang disuarakan oleh nabi Mikha ketika pada waktu itu praktik ketidakadilan terjadi di mana-mana, ketika penindasan para petani dan penduduk desa semakin menggila, ketika keserakahan, kekikiran, kebejatan dan penyembahan berhala semakin menguasai umat dan para pemimpin Israel/Yehuda, dan ketika mereka terus bersikeras melakukan kejahatan. Berita sukacita tentang munculnya pemimpin besar inilah yang kemudian menjadi pokok pemberitaan nabi Mikha setelah dia mengecam bangsa Israel/Yehuda pada waktu itu, setelah ia meramalkan kejatuhan Israel dan ibu kotanya Samaria (Mi 1:6-7) dan juga kejatuhan Yehuda dan ibu kotanya, Yerusalem (Mi 1:9-16; Mi 3:9-12).

Lalu, apakah kata-kata penghiburan dalam teks ini hanya semacam shock therapy bagi kaum terkecil itu? Atau hanya semacam obat penenang saja seperti pernah dikatakan oleh sosiolog Karl Marx bahwa agama itu hanyalah sekadar obat bius bagi manusia?  Bisa ya bisa tidak! (Dalam sejarah gereja juga kita dapat melihat bagaimana agama khususnya gereja sering melakukan pemberitaan yang sifatnya hanya membius atau menina-bobokan manusia). Namun, saat ini kita bisa mengatakan bahwa penghiburan itu tidak sekadar shock therapy, juga tidak sekadar obat bius! Mengapa? Karena janji pengharapan itu telah tergenapi melalui kedatangan Kristus ke dunia.

Sekarang, penghiburan seperti apa yang disampaikan kepada kaum terkecil ini? Janji pengharapan seperti apa yang dinubuatkan itu? Yaitu bahwa akan muncul seorang yang memerintah Israel/Yehuda (ay. 1). Seperti apa orang yang memerintah itu? Dan bagaimana akibat dari kedatangannya itu?
-          Ia sudah ada sejak dahulu kala. Jadi rencana kedatangan-Nya bukan rencana yang sporadis atau musiman, bukan rencana asal-asalan, bukan rencana yang tidak pernah ditepati. Dan sekarang pemimpin besar itu datang setelah sekian lama umat Tuhan dibiarkan untuk dikuasai oleh bangsa lain, yaitu Asyur (ay. 2) karena kekerasan hati mereka dan karena pemberontakan mereka terhadap Allah.
-          Ia akan bertindak dan akan menggembalakan umat Tuhan dalam kekuatan TUHAN, dan dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya, sehingga umat-Nya yang berada di pembuangan akan kembali ke tanah leluhur merek (ay. 2), dan mereka dapat hidup dengan aman dan tanpa gangguan, sebab kebesaran nama-Nya itu telah membuat bangsa-bangsa lain di bumi menyegani-Nya, dan karenanya mereka tidak akan mengganggu lagi umat yang dipimpin-Nya itu (ay. 3). Hal ini ditegaskan lagi di ayat 4b-5, bahwa setiap ancaman yang datang, termasuk dari musuh mereka yang cukup menakutkan pada waktu itu, yaitu Asyur, akan dikalahkan, dan akan dicukur habis. Apa artinya? Yaitu bahwa pemimpin besar yang muncul atau bangkit dari kota kecil Betlehem Efrata itu, akan menjadi sumber damai sejahtera, karena Dia sendiri akan memberikan kedamaian itu bagi umat-Nya.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Seorang guru besar sejarah perjanjian lama di salah satu perguruan tinggi di Indonesia pernah mengatakan bahwa “Natal itu adalah untuk orang-orang kecil”. Saya kira, teks renungan kita di Minggu adven IV ini membuktikan bahwa kedatangan Kristus memang terutama bagi orang-orang kecil, yaitu bagi mereka yang selama ini telah dipinggirkan, didiskriminasi, diabaikan, dipandang sebelah mata, dianggap kecil dan tidak berguna, dan kepada mereka yang kemanusiaannya telah diinjak-injak oleh orang-orang yang menganggap diri lebih besar dari yang lain, oleh orang-orang yang menganggap diri lebih hebat dan berkuasa dari yang lain. Kita masih bisa menyaksikan bagaimana “yang terkecil” sering mendapat perlakuan tidak manusiawi, sering tidak diminta dan didengarkan pendapatnya bahkan tentang dirinya sendiri, sering diperlakukan semena-mena oleh para penguasa bahkan oleh mereka yang selama ini “memperkenalkan” diri sebagai pejuang kemanusiaan manusia. Akhir-akhir ini kita telah menyaksikan bagaimana perjuangan para buruh untuk mendapatkan gaji/upah yang layak karena sekian lama mereka diperlakukan tidak adil, karena sekian lama mereka diperlakukan seperti sapi perah oleh para penguasa dan pengusaha di negeri yang relijius ini. Kita dapat menyaksikan betapa banyaknya orang yang tidak mendapatkan pelayanan yang manusiawi di berbagai lembaga swasta dan pemerintahan, di rumah sakit misalnya, di berbagai kantor instansi pemerintahan, bahkan di gereja sendiri (salah satu contohnya adalah ketika ada oknum di MA yang mengusir salah seorang rakyat hanya karena ybs berpakaian lusuh). Contoh-contoh ini masih bisa diuraikan lebih panjang lagi.

Namun saudara-saudari, pada saat ini juga kita diingatkan dan diteguhkan bahwa pemerintahan Allah yang jauh melebihi kekuasaan si(apa) pun pasti dapat memulihkan kemanusiaan orang-orang yang selama ini terinjak-injak oleh aneka kejahatan, kekerasan, dan kekuasaan dunia itu. Kita diajak untuk tidak mengabaikan “yang terkecil”, dan untuk tidak terjebak dalam semacam sindrom minoritas. Melalui kelahiran Yesus di Betlehem (yang dua hari lagi kita akan merayakan Natal), Allah merombak cara pandang dan sikap manusia, untuk tidak meremehkan hal-hal yang kecil. Kehidupan ini tidak terletak di dalam kecil atau besar, tetapi di tangan siapa yang kecil dan besar itu berada. Dan kita percaya bahwa hidup kita, entah kecil atau besar, berada dalam naungan kasih Kristus, sang Pemimpin Besar kita yang muncul dari kota kecil Betlehem Efrata. Ternyata, kebesaran itu tidaklah terletak pada parameter manusia seperti keadaan geografis, jumlah penduduk, kekuatan militer, melainkan pada kuasa dan campur tangan Allah sendiri. Seperti diungkapkan dalam Matius 2:6 : “…Engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil”. Sesuatu yang tidak penting, kurang berarti, kurang diperhitungkan dibandingkan dengan yang lain dalam penilaian manusia dapat dijadikan Allah sebagai sesuatu yang penting, dan bahkan menjadi sumber sukacita dan damai sejahtera.

Selamat mengakhiri minggu adven, dan selamat merayakan Natal.
Tuhan memberkati kita semua.


Saturday, December 15, 2012

Pemulihan yang Mendatangkan Sukacita Besar (Zefanya 3:14-20)


Renungan Minggu Adven III
Minggu, 16 Desember 2012
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo

3:14
Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!
A’iki, ya’ugö ono Ziona alawe, mi’owuawua’ö dödömi, ya’ami Iraono Gizeraeli! Omusoi’ö dödöu, ba a’iki, moroi si’aikö ba dödöu, ya’ugö ono Yeruzalema alawe!
3:15
TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.
No iböda wangotu’ö ya’ugö Yehowa, no itimba nemalimö andrö! No so ba khömi razo Ndraono Gizeraeli andrö, Yehowa: lö’ö sa’ae itörö ndra’ugö si lö sökhi
3:16
Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.
Ba na luo da’ö, ba lamane ba mbanua Yeruzalema: Böi mibusi dödömi! Böi adada dangami, ya’ami Siona!
3:17
TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai,
No so ba khömi Lowalangimi Yehowa, sabölö; möna ami ibe’e. Omuso dödönia ndra’ugö, owuawua dödö; lö hedehedenia, ba wa’omasinia andrö; ma’iki ia, owuawua dödönia ndra’ugö.
3:18
seperti pada hari pertemuan raya.” “Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela.
Sabu tödö andrö, me lö lakhamö gowasa, ba u’ozaragö, no iwami ira, ba no tohare wa’aila.
3:19
Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi.
Ba na luo da’ö, ba ulau ba zamakao ya’ugö fefu; ba u’orifi zi no mangohole’ö ya’ira ba u’ozaragö zi no muzaewe, ba ubali’ö fanuno ya’ira ba fangebua döira wa’ailara andrö, ba gulidanö ma’asagörö.
3:20
Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka,” firman TUHAN.
Na luo da’ö, ba u’ohe mangawuli ami, na luo u’ozaragö ami. Ubali’ö nisuno sa’ae ami ba sebua töi ba niha ba gulidanö fefu, na ufuli utolo ami, ba zanehe ami iwa’ö Yehowa.

Teks ini merupakan ajakan untuk bersukacita dan bangkit kembali (ay. 14, 16), setelah sekian lama umat Tuhan berada dalam kondisi yang terpuruk, baik sosial politik, ekonomi, keadilan, moral, dan spiritual. Keterpurukan ini semakin menyedihkan ketika Allah menghukum umat-Nya sendiri yang sudah hidup jauh dari kehendak Allah. Hukuman itu hendak mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari hukuman Tuhan, baik umat Allah maupun bangsa-bangsa lain. Tetapi, sekarang umat Tuhan diajak untuk bersukacita karena masa-masa keterpurukan itu sudah berlalu. Allah sendiri berinisiatif untuk memulihkan, membebaskan, dan menyelamatkan umat-Nya. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi rencana kasih Allah bagi umat-Nya, bahkan bagi siapa pun.

Lalu, apa yang Allah lakukan? Pemulihan seperti apa yang Dia lakukan yang olehnya umat Tuhan patut bersukacita?
-         Penghukuman digantikan dengan kehadiran dan pemerintahan Allah (ay. 15). Artinya, penghukuman yang selama ini dialami oleh umat Tuhan dan dipahami sebagai ketidakhadiran Allah di antara mereka, sekarang Allah sendiri membuktikan bahwa Dia tetap hadir dan memerintah umat-Nya itu. Kehadiran Allah ini mendatangkan sukacita besar, mendatangkan rasa nyaman dan aman, dan membangkitkan kembali kepercayaan diri umat Tuhan. Siapa yang tidak senang dan bersukacita kalau sang Pelindung dan Pengayom hadir dalam hidupnya?

-         Malapetaka, musuh, ancaman, dan penindas digantikan dengan kemenangan (ay. 15, 16, 18, 19). Kalau sebelumnya umat Tuhan mengalami penindasan, hidup di bawah ancaman musuh-musuh mereka, dan selalu mengalami kekalahan, sekarang Allah mendatangkan kemenangan bagi mereka; dan kemenangan ini merupakan suatu sukacita besar yang tidak dapat diberikan oleh siapa pun.

-         Cela dan malu digantikan dengan kenamaan dan pujian (ay. 18, 19). Secara psikologis, kekalahan dan pembuangan yang dialami oleh umat Tuhan mendatangkan cela dan rasa malu yang luar biasa, apalagi kalau diperhadapkan dengan status mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan. Betapa cela dan malunya mereka! Sekarang, dengan kehadiran dan pemerintahan Allah, cela dan rasa malu itu digantikan dengan kenamaan dan pujian; status mereka sebagai umat Tuhan yang sempat pudar/redup, kini dipulihkan seperti sedia kala ketika bangsa itu terkenal di mana-mana.

-         Ketakutan dan kelemah-lesuan digantikan dengan pembaharuan dan pemulihan holistik (menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar, dan pemulangan ke tanah perjanjian, ay. 16, 17, 19). Sungguh tidak enak hidup di bawah ancaman orang lain, atau ancaman si(apa) pun, sungguh tidak enak hidup dalam ketakutan; tetapi itulah yang dialami oleh umat Tuhan ketika mereka mendapat hukuman Tuhan. Siapa yang tidak merindukan kebebasan dari rasa takut dan kelemah-lesuan itu? Dan Tuhan tahu situasi ini; karenanya Dia melakukan pembaharuan dan pemulihan holistik. Kalau Tuhan sendiri hadir dan memerintah mereka, tentu rasa takut dan kelemah-lesuan tidak ada lagi; kalau Pelindung yang sejati sudah ada, apa lagi yang perlu ditakuti? Kalau Penyelamat itu datang mengumpulkan dan memulangkan mereka ke tanah perjanjian, apa lagi yang perlu dikuatirkan? Apalah kelemah-lesuan, apalah ketakutan, apalah kepincangan dan sejenisnya, bila dibandingkan dengan kasih Tuhan yang begitu besar? Rasul Paulus pernah mengekspresikan bagaimana kasih Tuhan itu dapat mengalahkan segalanya: Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”(Roma 8:35, 38-39).

Itulah gambaran pemulihan yang dilakukan oleh Allah bagi umat-Nya! Jadi, siapakah yang tidak bersyukur dan bersukacita atas pemulihan tersebut? Siapakah yang tidak akan bersorak-sorai kalau keadaannya yang terpuruk dipulihkan secara luar biasa oleh Tuhan? Dalam rangka sukacita karena pemulihan seperti inilah Zefanya mengajak kita untuk bersukacita.

Saya percaya bahwa kita pernah mengalami masa-masa kritis, atau keadaan terpuruk, baik dalam aspek ekonomi, sosial politik, budaya, dan spiritual. Banyak orang yang pernah mengalami krisis keluarga, krisis moral, krisis kepercayaan, krisis iman, krisis persahabatan, krisis studi, krisis keuangan, dan berbagai krisis lainnya. Di saat-saat seperti itu kita tentunya merindukan pemulihan; kita merindukan restorasi kehidupan. Tuhan mau dan mampu memulihkan keadaan kita, sebaliknya kita harus siap dan mau dipulihkan oleh Tuhan dengan segala konsekuensinya. Pemulihan itu juga hendak mengajak kita untuk tetap setia kepada Tuhan, dan mewujudnyatakan kesetiaan itu melalui tindakan keadilan dan kebenaran di dunia ini. Kita dipulihkan untuk kemudian menjadi agen pemulihan; kita dibebaskan untuk kemudian menjadi agen pembebasan; kita didamaikan untuk kemudian menjadi agen pendamaian. Dalam kerangka itulah pemulihan kita dapat menjadi sukacita besar dalam hidup masing-masing, sesama, lingkungan, dan Tuhan sendiri.


Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...