Saturday, April 10, 2021

Saling Berbagi dalam Kasih (Kisah Para Rasul 4:32-37)

Bahan Khotbah Minggu, 11 April 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
34 Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.


Penulis kitab Kisah para Rasul ini (dan juga Injil Lukas), memberi tempat yang istimewa bagi peran Roh Kudus dalam pekabaran Injil. Walaupun minggu ini bukan minggu perayaan turunnya Kudus, tetapi teks-teks yang mendahului nas khotbah pada hari ini menyajikan peristiwa monumental tersebut beserta karya-Nya dalam diri para Rasul dan jemaat mula-mula. Dengan demikian, teks Kisah Rasul 4:32-37 masih berada dalam bingkai peran/karya Roh Kudus tersebut. Artinya, cara hidup yang dipraktikkan oleh jemaat mula-mula merupakan karya Roh Kudus dalam rangka penyebaran berita Injil keselamatan.

Jemaat mula-mula, yang diperkirakan oleh Lukas sekitar 5000 orang pada waktu itu (Kis. 4:4), dapat bertumbuh dengan cukup pesat karena cara hidup mereka yang komunalistik. Pada waktu itu, komunitas Kristen mula-mula belum dapat menikmati kebebasan yang luas untuk memberitakan Injil. Mereka malah mengalami kesulitan dan bahkan ancaman, terutama dari para pemimpin agama Yahudi (lih. Kis. 4:1-22). Dapat dibayangkan betapa mudahnya komunitas Kristen itu bubar apabila mereka tidak “sehati dan sejiwa”. Dapat juga dibayangkan betapa mudahnya mereka kehabisan daya dan dana apabila mereka tidak hidup saling berbagi. Itulah sebabnya, oleh tuntunan Roh Kudus, mereka menerapkan cara hidup komunalistik, cara hidup kelompok yang saling berbagi secara sukarela.

Beberapa orang menyamakan cara hidup seerti ini semacam “komunisme Kristen”, sebab “segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (4:32). Sebutan “komunisme Kristen” tersebut agaknya kurang tepat, sebab secara ideologis istilah “komunisme” amat politis, sedangkan cara hidup jemaat mula-mula tersebut lebih sebagai gerakan spiritual-keagamaan. Istilah “komunisme” juga sifatnya paksaan yang diterapkan oleh pihak yang berkuasa, sedangkan cara hidup jemaat mula-mula yang saling berbagi tersebut sifatnya sukarela dan bergerak dari bawah. Itulah sebabnya, ketika Ananias dan Safira memberikan yang mereka miliki dengan tidak tulus, justru menjadi malapetaka bagi mereka (Kis. 5:1-3). Dalam nas khotbah pada hari ini tersirat dengan jelas bahwa setiap orang memberi dengan penuh kerelaan, termasuk oleh Yusuf yang disebut Barnabas.

Para rasul pun menerima pemberian jemaat itu bukan untuk kepentingan mereka sendiri, melainkan untuk dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Pada satu sisi cara hidup ini mencerminkan kebersamaan (ke-sehati-an dan ke-sejiwa-an) jemaat mula-mula, tetapi pada sisi lain praktik ini juga menjadi “cara yang baik” untuk mengajak orang lain bergabung dalam komunitas mereka. Orang-orang yang melihat cara hidup seperti ini tentu saja tertarik, baik yang hidupnya sudah mapan terlebih-lebih mereka yang ‘miskin dan terpinggirkan’. Komunitas Kristen mula-mula dapat bertahan bahkan bertumbuh dengan pesat di tengah-tengah kesulitan karena kebersamaan mereka, hidup saling berbagi dalam kasih yang tulus. Alhasil, “… mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah, … tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka” (ay. 33b-34a).

Tampaknya, kita harus mengakui bahwa sulit bagi kita untuk mempraktikkan cara hidup komunitas Kristen mula-mula tersebut. Saat ini kita sedang dikuasai oleh gaya hidup yang lebih mementingkan kenyamanan pribadi, dan kadang-kadang mengorbankan kebutuhan bersama demi kepentingan pribadi tersebut. Jangankan komunitas Kristen yang relatif “aman dan nyaman” seperti kita, komunitas Kristen yang saat ini sedang mengalami berbagai kesulitan dan ancaman di beberapa tempat, belum mampu menerapkan gaya hidup seperti jemaat mula-mula tersebut. Kita jujur saja bahwa kita belum mampu hidup saling berbagi dalam kasih yang tulus seperti jemaat mula-mula. Tentu saja situasi kita saat ini dan jemaat mula-mula amat berbeda, tetapi masih adakah semangat untuk berbagi dalam kasih yang tulus itu dalam diri kita masing-masing?

Beberapa hari yang lalu, seseorang bercerita tentang “pengorbanannya” yang mencapai puluhan bahkan ratusan juta untuk mendukung salah satu paslon kepala daerah di Kepulauan Nias. Paslon yang didukungnya kalah, dan dia sadar bahwa tidak mungkin lagi uangnya dikembalikan. Dukung-mendukung dalam dunia politik seperti itu tidak salah, bukan juga dosa. Tetapi, pertanyaannya ialah masihkah ada “kerelaan” memberikan dana sebesar itu untuk gerakan spiritual-keagamaan?

Dalam beberapa minggu terakhir, bangsa kita mengalami berbagai musibah, terakhir adalah badai siklon yang melanda daerah NTT-NTB. Kemudian, gempa bumi juga menghantam daerah Malang dan sekitarnya. Apakah kita sudah menunjukkan solidaritas kita buat saudara-saudara kita yang sedang berada dalam situasi sulit tersebut? Atau, kita hanya berdoa saja dan berharap orang lain yang akan menolong mereka? Ini bukan persoalan besar atau kecil, tetapi semangat untuk saling berbagi dalam kasih yang tulus. Ironisnya, masih saja ada orang yang menghakimi sesamanya dengan mengatakan bahwa musibah itu merupakan hukuman Allah atas mereka. Siapakah kita sehingga berani menghakimi sesama kita? Eka Darmaputera pernah mengatakan: “Bila orang tak lagi bisa berduka atas tragedi yang menimpa sesamanya, dan ketika hidup-mati manusia tak lagi sentral dalam pertimbangan kita, itu berarti ada sesuatu yang amat salah dengan peradaban kita; ada sesuatu yang amat salah dengan kemanusiaan kita; ada sesuatu yang amat salah dengan keyakinan agamaniah kita. Prioritas utama mengembalikan kemanusiaan bersama kita itu. Orang bilang bahwa peradaban modern telah memampukan manusia memiliki hampir segala sesuatu. Tapi bila yang hilang adalah kemanusiaan, apakah gunanya semua yang ia miliki itu? Orang juga bilang bahwa agama sedang bangkit dan naik daun, tapi kalau agama yang bangkit itu tak mampu menolong manusia menemukan kembali kemanusiaannya, apakah gunanya agama?”

Melalui kisah cara hidup komunitas Kristen mula-mula, kita diingatkan bahwa pada satu sisi pertumbuhan jemaat terjadi karena karya Roh Kudus, tetapi pada sisi lain komunitas itu dapat bertahan dan bertumbuh karena semangat dan kebersamaan mereka untuk berbagi dalam kasih yang tulus. Itulah kunci pertumbuhan gereja, “karya Roh Kudus” dan “hidup berbagi”.


--- selamat berefleksi ---

Sunday, April 4, 2021

Bersyukur kepada TUHAN (Mazmur 136:1-10)

Rancangan Khotbah Paskah II, Senin, 05 April 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


1 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
2 Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
3 Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
4 Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
5 Kepada Dia yang menjadikan langit dengan kebijaksanaan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
6 Kepada Dia yang menghamparkan bumi di atas air! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
7 Kepada Dia yang menjadikan benda-benda penerang yang besar; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
8 Matahari untuk menguasai siang; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
9 Bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
10 Kepada Dia yang memukul mati anak-anak sulung Mesir; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.


Kita tidak tahu oleh siapa penulis Mazmur ini, kemungkinan besar disusun oleh Daud (bnd. 1Taw. 16:41). Mazmur ini dinyanyikan di bait suci Salomo (2Taw. 7:3,6), dan oleh bala tentara Yosafat ketika mereka bernyanyi untuk kemenangan di padang gurun Tekoa (2Taw. 20:20-21). Dari bentuknya, mazmur yang berisi pujian ini tampaknya cukup populer di kalangan umat Tuhan, sebab melaluinya mereka merayakan kebaikan Tuhan. Intinya adalah ajakan untuk bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya yang kekal selamanya.

Apa saja kebaikan atau kasih setia TUHAN yang tiada berkesudahan itu?

Pertama, bahwa TUHAN telah menaklukkan segala allah atau segala tuhan (ay. 2-3) yang memiliki pengaruh kuat di sekitar umat TUHAN pada zaman dulu. Disebutkan bahwa TUHAN adalah Allah segala allah, Tuhan segala tuhan. Artinya, kuasa TUHAN jauh melampaui kuasa/pengaruh segala allah/tuhan. Kita pun yakin bahwa tidak ada satu kuasa apa pun yang dapat menyamai atau melebihi kuasa TUHAN. Tuhan Yesus telah membuktikan hal tersebut melalui kebangkitan-Nya, kuasa maut dikalahkan. Dengan demikian, patutlah kita bersyukur kepada-Nya. Kita pun tetap percaya bahwa kuasa kebangkitan Tuhan Yesus akan mampu mengatasi kuasa ketakutan dan kekuatiran yang telah melanda kita lebih satu terakhir karena Pandemi Covid-19. Kita pun percaya bahwa kuasa kebangkitan Kristus akan mampu mengatasi kuasa alam yang akhir-akhir ini sedang mengamuk. Kita juga percaya bahwa kuasa kebangkitan Tuhan Yesus akan mampu meredam kuasa ketakutan akibat teror bom yang terjadi beberapa minggu terakhir. Tentu saja, kita mesti melangkah dengan hati-hati, tetapi kehati-hatian kita tersebut dibangun atas dasar kepercayaan pada kuasa TUHAN yang melampaui segala kuasa manapun. Ini tidak berarti bahwa kita bersyukur karena sejauh ini kita masih berada dalam situasi “baik-baik” saja, sementara di tempat lain ada saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan yang luar biasa. Kita bersyukur atas keberadaan Allah kita yang mengatasi segala kuasa.

Kedua, bahwa TUHAN telah berkarya dengan penuh keajaiban, kebijaksanaan, keagungan, dan kemuliaan (ay. 4-9). Tampaknya, hal ini berhubungan dengan penciptaan langit dan bumi. Amat banyak karya TUHAN yang membuat kita kagum, oya zahölihöli dödöda halöwö Lowalangi. Kalau kita melihat kembali kisah penciptaan menurut Kejadian 1, maka tergambar dengan jelas betapa Tuhan pada mulanya menata sedemikian rupa langit dan bumi yang sangat kacau. Allah menciptakan dengan penuh keindahan, dengan urutan yang teratur. Allah menata kosmos dengan penuh ketelitian, sehingga semuanya bergerak secara teratur, membuat kita terpesona. Karya Allah kita memang sungguh-sungguh mencerminkan keajaiban dan kebijaksanaan ilahi, melebihi segala allah/tuhan di segala zaman. Siapakah yang tidak kagum melihat langit yang terbentang lebar itu? Siapakah yang tidak kagum melihat bumi kita sebenarnya terhampar di atas air tetapi tidak tenggelam? Siapakah yang tidak kagum melihat benda-benda penerang yang ditempatkan oleh Tuhan di langit? Bagaimana mungkin benda-benda penerang besar itu tidak jatuh? Bagaimana mungkin benda-benda penerang itu tidak kehabisan energi sekian juta tahun? Siapakah yang tidak kagum melihat matahari dan bintang-bintang ciptaan Tuhan melaksanakan perannya masing-masing, ada siang dan ada malam? Inilah juga yang telah membuat Rasul Paulus mengekspresikan kekagumannya atas karya Tuhan, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Rm. 11:33). Jadi, siapakah yang tidak bersyukur atas karya Allah yang sungguh-sungguh menakjubkan itu? Lalu, apakah karya Allah yang jauh lebih hebat sampai hari ini? Itulah kebangkitan Yesus, karya terbesar sepanjang sejarah. Oleh sebab itu, kita patut bersyukur kepada Tuhan atas karya terbesar-Nya, sebab tanpa karya-Nya tersebut kita tidak mungkin selamat.

Ketiga, bahwa TUHAN telah membebaskan bangsa Israel dengan cara yang luar biasa dari perbudakan di Mesir (ay. 10-12). TUHAN telah membawa keluar bangsa Israel dari Mesir, dari tempat perbudakan yang amat menyedihkan itu. Pemazmur mengajak umat TUHAN untuk mengingat kembali betapa besar kasih setia TUHAN yang telah mereka terima. Kebebasan dari Mesir adalah belas kasihan TUHAN. Penebusan kita oleh Kristus pun adalah kasih karunia Tuhan. Dari semua tulah di Mesir, tidak ada yang disebutkan kecuali kematian anak sulung, karena itu adalah tulah yang menaklukkan. Pada waktu itu, hampir tidak ada kekuatan dunia yang mampu mengalahkan Mesir, dalam hal ini Firaun. Jangankan bangsa Israel yang masih diperbudak, bangsa-bangsa lain yang cukup kuat saja masih belum mampu mengatasi Mesir. Tetapi, ketika TUHAN datang, semuanya teratasi. Oleh kuasa Tuhan, anak-anak sulung Mesir mati. Simbol kebanggaan dan keberlanjutan generasi Mesir dihentikan oleh Tuhan karena keangkuhan mereka. Mereka “dimatikan” sebelum “mematikan” lebih banyak lagi orang lain. tadinya, bangsa Israel pesimis, tetapi Tuhan datang dan membebaskan mereka. Demikian juga dengan kuasa maut yang amat menakutkan itu, telah dikalahkan oleh kuasa kebangkitan Kristus yang kita rayakan hari ini. Tadinya kita pun mestinya binasa karena dosa-dosa kita, dan upah dosa adalah maut (Rm. 6:23). Tetapi, salib Kristus telah mengakhiri segalanya, dan kebangkitan-Nya menjadi tanda dan bukti kemenangan Tuhan atas kuasa maut tersebut. Maka, sepatutnyalah kita bersyukur kepada Tuhan karena kasih setia-Nya yang kekal selamanya, karena kasih setia-Nya yang tiada berkesudahan.

--- Selamat Paskah ---

Saturday, April 3, 2021

Memercayai Tuhan dalam Menghadapi Ketidakpastian (Markus 16:9-18)[1]

Bahan Khotbah Minggu Paskah I, 04 April 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
10 Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.
11 Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.
12 Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota.
13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya.
14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.
15 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Kunci penting dari teks khotbah ini adalah kata “percaya”. Penekanan itu sejalan dengan dorongan Injil Markus yang menampilkan Kekristenan bukan sekadar cerita yang bagus, atau kisah menarik tentang peristiwa yang terjadi pada abad pertama. Lebih dari sekadar cerita, Injil Markus menekankan fakta bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah sesuatu yang dapat dipercaya, dan fakta yang dipercaya itu dimaksudkan untuk mengubah hidup. Saat kita bertindak berdasarkan keyakinan kita, hal tersebut mesti mengubah diri kita. Penekanannya di sini adalah pada kepercayaan dari para rasul yang akan diutus oleh Yesus ke seluruh dunia dengan cerita yang luar biasa ini.

Pada ayat 9-14 penulis Injil Markus menggarisbawahi fakta bahwa ketika para murid mendengar pengalaman Maria bertemu dengan Yesus pada pagi-pagi hari pertama minggu itu, mereka tidak memercayainya. Kita tidak tahu pasti alasan ketidakpercayaan mereka pada informasi yang disampaikan oleh Maria; mungkin karena dia perempuan yang tidak mungkin mampu menggulingkan batu besar yang menutupi kuburan Yesus; atau mungkin juga karena para murid belum mendengar langsung penjelasan malaikat tentang kebangkitan Yesus (lih. ay. 6). Demikian juga ketika dua murid menceritakan pengalaman mereka bertemu dengan Yesus yang telah bangkit, murid-murid yang lain tidak percaya. Di sini kita memiliki kisah yang diberikan Lukas tentang dua murid yang sedang berjalan sekitar sebelas mil ke desa kecil Emaus. Yesus muncul dalam “bentuk lain”, demikian informasi dari Markus, dan mereka tidak mengenalnya. Kedua murid ini segera kembali ke Yerusalem dan memberi tahu murid-murid yang lain tentang apa yang telah mereka lihat, tetapi para murid itu tidak memercayai keduanya. Dari kedua kasus penampakan diri Yesus ini, dengan Maria Magdalena dan dengan kedua murid, jelas bahwa penulis Markus hendak menyajikan iklim atau suasana ketidakpercayaan yang terus-menerus dan kedegilan hati para murid setelah kebangkitan. Mereka merasa sulit untuk menerima fakta yang luar biasa ini, bahwa yang mereka lihat disalibkan beberapa hari yang lalu sekarang telah bangkit dan hidup di antara mereka.

Hal yang penting di sini adalah bahwa Yesus sendiri mengharapkan murid-murid yang lain itu percaya sebelum mereka melihat-Nya. Yesus ingin dan berharap mereka memercayai laporan para saksi mata yang telah melihat-Nya. Mereka adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan melaporkan apa yang sebenarnya mereka alami sendiri, dan itu seharusnya sudah cukup untuk meyakinkan para murid bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Sayang sekali, mereka tidak percaya pada fakta tentang kebangkitan Yesus. Yesus sendiri begitu prihatin tentang hal ini, sehingga Dia harus menegur mereka karena menolak untuk memercayai orang-orang yang telah melihat-Nya (ay. 14).

Dalam pandangan Markus, penting sekali memercayai saksi mata akan kebangkitan Tuhan Yesus. Menurut Markus, jika kita memiliki saksi yang memadai dan dapat dipercaya, kita mestinya menanggapinya dengan yakin. Orang-orang ini melihat Tuhan yang telah bangkit. Mereka diberi hak istimewa yang tidak diberikan kepada kita; namun demikian, iman kita berada pada fondasi yang kokoh. Meskipun kita belum melihat-Nya secara langsung, kita percaya karena catatan saksi mata di sini. Benar bahwa pada waktu itu para murid sedang berada dalam situasi yang tidak pasti, malah amat mencekam, tetapi hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk tidak memercayai ‘utusan’ Tuhan yang memberitakan kabar kebangkitan-Nya. Sekarang pun kita berada dalam situasi yang serba tidak jelas, kadang-kadang mencekam, apalagi dengan adanya teror bom akhir-akhir ini. Tetapi, situasi ketidakpastian itu tidak bisa menghentikan kebangkitan Yesus dari antara orang mati, dan mestinya kita tetap percaya kepada-Nya.

Setelah menegur para murid karena ketidakpercayaan mereka, Yesus memberi mereka perintah dalam ayat 15 “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Kata kunci pada perintah ini adalah “beritakanlah Injil”, bukan “pergilah”. Perintah ini dapat dirumuskan misalnya: “Saat engkau pergi ke seluruh dunia, atau ke mana saja (yang selama ini dianggap biasa), beritakanlah kabar baik kepada seluruh ciptaan.” Apa kabar baiknya? Kabar baiknya adalah bahwa Yesus telah mati dan kini telah bangkit kembali. Dalam kematian Yesus kita memiliki solusi dari masalah kejahatan manusia, kekuatan yang selama ini mencengkeram kita dan menggagalkan semua niat baik kita. Tetapi, kekuatan itu akhirnya dihancurkan oleh kematian Yesus. Sekarang, Yesus yang sama telah bangkit dan hidup di dalam kita.

Apa yang Yesus maksudkan tentang “dibaptis” dalam teks ini? Yaitu bahwa kepercayaan itu harus nyata, dan kenyataan dari kepercayaan batiniah itu ditunjukkan oleh tindakan baptisan lahiriah. Hanya keyakinan yang mengubah kita, dan yang membuat kita bertindak adalah keyakinan sejati, dan cara kita menunjukkannya adalah dengan dibaptis. Bagaimana dengan kata “diselamatkan”? Kalau kita menyadari betapa tidak berdayanya kita dalam mengubah pola hidup, betapa rapuhnya diri kita sebagai manusia biasa, maka kita akan memahami apa artinya “diselamatkan”. Kita memang seperti manusia yang tenggelam, putus asa dan tidak berdaya, kecuali ada seseorang yang menyelamatkan kita, dan itulah Yesus Kristus.

Tuhan tahu bahwa para pengikut-Nya akan mengalami tekanan yang luar biasa, ejekan, hujatan, dan cemoohan, yang bisa saja membuat mereka menyangkal peristiwa kebangkitan. Itulah sebabnya Tuhan meneguhkan mereka dengan memberi mereka tanda-tanda tertentu yang akan menyertai mereka dalam memberitakan Injil. Ingat, janji akan tanda-tanda luar biasa ini diberikan karena konteks atau iklim ketidakpercayaan para murid akan berita kebangkitan Yesus pada awalnya. Mudah untuk membaca ini seolah-olah Yesus memaksudkan tanda-tanda ini akan menyertai setiap orang yang percaya dan memberitakan Injil. Begitulah bagian ini dipahami oleh banyak orang. Sayangnya, teks ini tidak dimaksudkan persis seperti itu, dan tidak sedang membuat perbedaan antara orang-orang percaya yang asli dan yang palsu.

Jika kita menempatkan perikop ini kembali ke dalam konteksnya, dalam konteks ketidakpercayaan yang mendominasi para murid saat perkataan tentang kebangkitan dibawa kepada mereka, maka kita melihat bahwa Yesus sedang menujukan perkataan ini bukan kepada mereka yang percaya Injil, tetapi kepada murid-murid yang percaya atau tidak percaya pada kebangkitan-Nya. Sekarang, untuk menyemangati kita dalam menghadapi kemungkinan permusuhan yang akan kita hadapi, tanda-tanda tertentu yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan akan menyertai kita. Tetapi, itu tidak selalu terjadi, bahkan mungkin saja tidak terjadi, tergantung pada Pemberi kuasa tersebut.

Bagian ini dapat dipahami dengan dua cara. Salah satunya adalah dengan berasumsi bahwa pengikut Yesus diharapkan memegang ular yang mematikan untuk membuktikan kepada orang-orang yang tidak percaya bahwa mereka adalah orang Kristen. Cara lain untuk memahami bagian ini adalah dengan diyakinkan bahwa ketika orang Kristen secara tidak sengaja bersentuhan dengan ular berbisa, Tuhan secara ajaib akan melindungi mereka. Kalau melihat sejarah selanjutnya dari Gereja pada masa Perjanjian Baru, Alkitab hanya mencatat penjelasan terakhir — bahwa jika seorang Kristen sejati secara tidak sengaja mengambil ular berbisa dan bahkan digigit ular itu, Tuhan dapat campur tangan untuk secara ajaib menyelamatkan nyawa orang itu. Pengalaman seperti itu terjadi pada rasul Paulus. Setelah karam dan melarikan diri ke pulau Malta, Paulus digigit ular yang mematikan. Penduduk asli mengira dia akan mati, tetapi Tuhan secara ajaib campur tangan dan Paulus tidak disakiti (Kis. 28:1-6).

Selain itu, Alkitab memberi tahu kita bahwa kita tidak boleh mencobai Tuhan dengan sengaja menempatkan diri kita dalam potensi bahaya (Matius 4:5, 7). Berdasarkan kitab suci ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ingin kita menangani ular berbisa hari ini untuk membuktikan bahwa kita adalah orang Kristen. Kita juga bisa yakin bahwa Tuhan terus melakukan mukjizat dalam menyembuhkan dan melindungi mereka yang percaya dan percaya kepada-Nya.

Akhirnya, teks khotbah pada hari ini hendak mengajak kita untuk “memercayai Tuhan dalam menghadapi ketidakpastian” di dunia ini. Apa pun yang terjadi, seperti apa pun situasi yang sedang kita hadapi, bahkan ketika vaksinasi tidak menjamin aman dari virus Corona, kita tetap percaya bahwa Tuhan telah bangkit. Dunia boleh saja mati tenggelam dalam ketidakpastiannya, atau mati tenggelam dalam berbagai ancaman yang mengerikan, tetapi satu hal yang pasti bahwa Tuhan telah bangkit, Tuhan telah mengalahkan kematian. Kita pun percaya akan kabar baik itu, dan kepercayaan tersebut yang mengubahkan hidup kita menjadi lebih baik.

--- Selamat Merayakan Paskah ---

----------------------------
[1] Banyak ahli meragukan autentisitas ayat-ayat ini (ay. 9-20), dengan mengatakan bahwa bagian ini bukanlah bagian dari Injil Markus yang asli. Menurut mereka, Injil Markus yang asli berakhir pada ayat 8 pasal 16 ini. Dalam bagian teks yang kita baca hari ini, hingga ayat 20, kita melihat satu perubahan langsung dari bagian teks sebelumnya. Pada bagian sebelumnya, Markus menceritakan secara berurutan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Yesus, membawa kita ke peristiwa penyaliban dan kebangkitan yang menggugah hati. Namun, pada bagian terakhir ini peristiwa-peristiwa dimaksud tidak lagi diceritakan seperti sebelumnya. Duabelas ayat terakhir ini seperti merangkum dalam urutan singkat peristiwa yang terjadi selama periode sekitar empat puluh hari. Perubahan ke bentuk ringkasan ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar bagian tersebut ditulis oleh orang lain (bukan Markus).

Friday, April 2, 2021

Kematian yang Mulia (Lukas 23:44-48)

Bahan Khotbah Jumat Agung, 02 April 2021
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo

44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga,
45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.
46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.
47 Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!”
48 Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri.


Kalau kita membaca keseluruhan pasal 23 ini, secara khusus ayat-ayat sebelum teks khotbah pada hari ini, maka kita akan melihat dengan jelas tuduhan dan fitnah, serta penghinaan dan olok-olok yang ditujukan kepada Yesus. Yesus dituduh dan difitnah sedemikian rupa oleh orang-orang Yahudi (imam-imam kepala, pemimpin-pemimpin, dan rakyat) supaya Dia dihukum mati. Yesus juga menjadi bulan-bulanan Pilatus dan Herodes, walaupun pada awalnya Pilatus terlihat bersikap adil. Yesus pun disiksa, bahkan ketika berada di kayu salib pun, hinaan dan olok-olok masih terdengar. Tetapi, kemudian, penderitaan dan penghinaan Yesus ini berubah menjadi sesuatu yang secara alami tidak mungkin terjadi, dan kematian-Nya pun menjadi tanda kemuliaan Allah.

Tanda-tanda yang tak Terlupakan
Kematian Yesus berbeda dengan kematian para nabi terdahulu.
Pertama, matahari berhenti bersinar dan ada kegelapan. Lukas mengatakan seluruh daerah itu menjadi gelap, yang bisa berarti di mana-mana di Israel atau hanya tanah di dekat Yerusalem. Kegelapan pasti berpusat pada peristiwa yang terjadi di Kalvari. Peristiwa kematian Yesus terjadi menjelang Paskah, sehingga kegelapan yang muncul itu pasti bukan merupakan gerhana, sebab Paskah terjadi pada bulan purnama ketika gerhana tidak dapat terjadi. Artinya, kegelapan ini bukanlah fenomena biasa. Itu lebih dalam, dan berlangsung berjam-jam, dari jam 12 (siang) hingga jam 3 (sore). Fenomena ini merupakan peristiwa ilahi, bukan peristiwa alam biasa. Jadi, kematian Yesus bukanlah kematian (orang) biasa, melainkan kematian yang akan memiliki dampak yang luar biasa.

Kedua, tabir (tirai) Bait Suci terbelah menjadi dua. Lukas tidak memberikan informasi yang lebih rinci tentang ini, tetapi Matius dan Markus mengatakan bahwa tabir itu terbelah dari atas ke bawah. Penghalang itu (di)hilang(kan) oleh kematian Yesus. Sebenarnya, ada tiga belas tirai berbeda di Bait Suci, dan kemungkinan tirai yang terbelah adalah yang berada di pintu masuk ke Bait Suci bagian dalam, karena itu terlihat oleh publik. Tetapi, yang lebih memungkinkan adalah tirai yang memisahkan ruang paling suci, Ruang Mahakudus. Tirai ini biasanya ditarik kembali hanya sekali setahun pada Hari Pendamaian ketika imam besar akan masuk dan mempersembahkan korban untuk dosa-dosa orang. Tetapi, sekarang tirai itu ‘ditarik’ (terbelah) sampai selama-lamanya oleh kematian Yesus.

Apa arti dari tanda-tanda kegelapan dan robeknya tirai tersebut? Paling tidak memiliki dua arti:

Kegelapan adalah tanda penghakiman. Dosa seluruh dunia dibebankan pada Yesus, dan ketidaksenangan Tuhan atas pemberontakan dan kegagalan manusia ditunjukkan dengan hilangnya cahaya matahari.[1] Saat Yesus disalibkan, Tuhan mencelupkan tanah ke dalam kegelapan sebagai tanda kemarahan-Nya terhadap dunia yang penuh dosa.

Robeknya tirai adalah tanda pengharapan. Ruang Mahakudus yang ribuan tahun tidak boleh dimasuki/dilihat oleh hampir semua orang, kini telah dibuka sampai selama-lamanya oleh kematian Yesus. Siapa pun, laki-laki dan perempuan yang berdosa, tidak lagi dihalangi dari hadirat Tuhan. Yesus menanggung dosa mereka dan jalan kembali kepada Tuhan telah terbuka bagi semua yang mengikutinya.

Melalui kedua tanda ini Tuhan mengirimkan pesan yang kuat. Dosa itu penting, tidak pernah dan tidak boleh diabaikan atau dikesampingkan seolah-olah tidak ada konsekuensinya. Upah dosa ialah maut (Rm. 6:23). Hukuman atas dosa harus dibayar, dan itu telah dibayar lunas oleh Yesus di kayu salib. Kini, Tuhan telah membuka ‘akses’ langsung kita kepada Bapa, semua orang percaya akan bersekutu dengan-Nya. Tuhan menyambut kita untuk berada di tempat-Nya.

Yesus Mati
Deskripsi Lukas ringkas: Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Yesus mengutip Mazmur 31:5, yang biasa digunakan oleh orang-orang Yahudi sebagai doa malam: “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.”

Doa seperti ini sepertinya doa yang tenang, dan tampaknya cocok untuk seseorang yang akan mati karena penyaliban, sebab dia hampir tidak dapat mengatakan apa-apa. Tetapi, Lukas  menggambarkan Yesus tidak seperti orang Yahudi yang berdoa malam. Disebutkan bahwa “Yesus berseru dengan suara nyaring” (ayat 46). Seruan Yesus yang menyerahkan nyawa-Nya kepada Tuhan bukanlah erangan terakhir, melainkan teriakan pujian dan kemenangan. Dan, Yesus pun mati. Itu adalah fakta yang tak terlupakan. Yesus memegang kendali sampai akhir. Dia memang sangat menderita. Dia memang merasa Allah menjauhkan diri (Mrk. 15:34). Tetapi, Yesus dengan sukarela menyerahkan nyawa-Nya kepada Tuhan dan menghembuskan napas terakhir-Nya.

Reaksi Orang yang Menonton
Para penonton di bukit Golgota dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Kepala Pasukan (Perwira), Orang Banyak, dan Para Pengikut Yesus.
 
Sebenarnya, kepala pasukan Romawi tersebut telah melihat banyak orang mati dalam berbagai cara. Tetapi, dia tidak pernah melihat orang mati seperti Yesus. Dia menyaksikan dan mendengar semua yang terjadi menjelang penyaliban Yesus, dan mungkin saja dia ada di sana ketika Yesus berdiri di hadapan Pilatus. Dia telah melihat bagaimana Yesus menanggapi para penuduh-Nya, bagaimana Yesus bereaksi terhadap cambuk dan ejekan, bagaimana Yesus berbicara dengan penjahat dan menjanjikan-Nya surga, mendengar doa-Nya kepada Bapa-Nya, dan kemudian bagaimana Yesus dengan percaya diri menyerahkan hidup-Nya ke tangan Tuhan. Tidak pernah ada orang yang mati seperti ini, sampai Yesus menjalaninya. Dengan suara yang cukup keras, kepala pasukan Romawi tersebut memuliakan Allah dengan berkata: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” Kematian Yesus telah menjadi tanda kemuliaan Allah.

Sementara reaksi orang banyak yang melihat peristiwa kematian Yesus tersebut, yang sebelumnya mungkin saja melihat peristiwa penyiksaan-Nya, hampir sama dengan reaksi kepala pasukan tadi (ay. 48). Tindakan ‘memukul-mukul diri’ menunjukkan kesedihan dan penyesalan yang amat dalam. Tadinya mereka berteriak: “Salibkan Dia, Salibkan Dia!” Sekarang, dengan tertunduk, penuh kesedihan dan penyesalan, mereka pulang ke tempat masing-masing. Mereka baru saja menyalibkan orang yang tidak bersalah, dan membebaskan Barabas, penjahat dan pemberontak yang terkenal pada waktu itu. Kematian Yesus telah menyadarkan orang banyak akan kesalahannya. Kematian Yesus kini menjadi tanda kemuliaan Allah.

Terakhir, pada ayat 49 (satu ayat setelah teks khotbah hari ini), “semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.” Para pengikut Yesus amat takut, tidak berani mendekat. Menjadi pengikut orang yang disalibkan memang berisiko ditangkap dan mati juga. Kita pun mungkin akan melakukan hal yang sama. Sedih memang, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, selain menyaksikan peristiwa tersebut dari jauh, dan di kemudian hari menyebarkan kabar tentang Yesus yang disalibkan dan mati tersebut. Hingga kini, kematian Yesus telah menjadi tanda kemuliaan Allah.

--- selamat ber-Jumat Agung ---

[1] Ketika Petrus berkhotbah pada Hari Pentakosta, dia berbicara tentang hari besar Tuhan dan mengutip perkataan nabi Yoel bahwa hari itu akan didahului oleh matahari yang berubah menjadi kegelapan (Kis. 2:20; Yoel 2:2). Nabi lain seperti Amos dan Zefanya memiliki gagasan yang sama (Amos 8:9-10; Zef. 1:15). Kuasa Allah ditunjukkan dengan mematikan cahaya. Kemurkaan Tuhan terlihat seperti langit yang gelap sebelum badai melanda.

Saturday, March 27, 2021

Berharaplah pada Tuhan (Mazmur 31:8-16)

Bahan Khotbah Minggu, 28 Maret 2020
Oleh: Pdt. Alokasih Gulo


8 Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah memperhatikan kesesakan jiwaku,
9 dan tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.
10 Kasihanilah aku, ya TUHAN, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku.
11 Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah.
12 Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku.
13 Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah.
14 Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, --ada kegentaran dari segala pihak! --mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku.
15 Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!”
16 Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!

Bagian besar dari Mazmur 31 ini adalah tentang ratapan dan permohonan akan kemurahan Tuhan. Pada ayat-ayat sebelumnya (ay. 1-7), pemazmur telah berdoa untuk keselamatan dan perlindungan Tuhan, dan menyatakan bahwa Tuhanlah yang melihat penderitaan dan dapat memberikan perlindungan kepadanya. Nas khotbah hari ini diawali dengan ekspresi sukacita dan pujian kepada Tuhan karena tidak menyerahkan si penderita “ke tangan musuh”. Pada satu sisi, ayat-ayat pembuka Mazmur 31 mengakui beratnya penderitaan yang harus dialami oleh pemazmur, tetapi pada sisi lain memberi penekanan pada jaminan akan adanya pembebasan dari Tuhan.

Secara umum, teks khotbah pada hari ini berisi ratapan yang kuat, yang menunjukkan penderitaan fisik dan psikologis pemazmur, dan yang paling pedih adalah cemoohan orang lain yang begitu menyakitkan. Oleh sebab itu, pemazmur memohon kemurahan Tuhan, “sebab aku merasa sesak” (ayat 10a). Rasa sesak ini semacam rasa sakit yang menerpa penderitanya, atau beberapa penderitaan yang telah memenuhi kehidupan pemazmur. Hal ini terungkap di ayat 11a “… hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah”. Gambaran rasa sakit fisik dan psikologis ini bercampur, hampir tidak ada kata-kata untuk mengekspresikannya. “Mata” dan “jiwa dan tubuh” pemazmur mengalami kesakitan (ayat 10b); “kekuatan merosot” dan “tulang-tulang menjadi lemah” (ayat 11b). Intinya, dari aspek fisik, pemazmur mengalami penderitaan yang akut; apapun penyebabnya, penderitaan tersebut dirasakan begitu pedih, terasa hingga ke dalam jiwa dan tulang kita. Secara psikologis, pemazmur pun mengalami tekanan yang luar biasa, mungkin saja hampir depresi, sebab cemoohan dan penolakan orang lain, yang menimbulkan luka batin yang amat dalam.

Hal yang amat menyedihkan adalah orang-orang yang tadinya dekat dengan dia (tetangga dan kenalan), kini menjauhinya, mungkin tidak mau ambil risiko dengan penderitaan atau kemalangan yang sedang dialaminya. Ato nawö ba wa’igi, hatö ya’o na me’e. Pemazmur pun dikelilingi oleh orang-orang yang berniat menyakitinya, bersekongkol mencelakakan dia. Itulah sebabnya, dia merasa tidak berguna, tidak berharga, sama sekali tidak diinginkan, “seperti barang yang pecah” (ay. 13b). . Sudah jatuh, ketimpa tangga, no nasa mesokho ba ölau nasa nasio. Demikianlah kira-kira situasi yang sedang dialami oleh pemazmur.

Namun demikian, dalam situasi yang amat menyulitkan tersebut, pemazmur terus menyatakan kepercayaannya pada Tuhan. Dia bergantung pada Tuhan sebagai satu-satunya pihak yang dapat diandalkan oleh setiap orang yang menderita. “Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!” (ay. 14). Penderitaan dan keterasingan yang dialami oleh pemazmur dikontraskan langsung dengan citra Allah yang hadir dalam hidup orang yang menderita. “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!”(ay. 16). Pada ayat setelah teks khotbah pada hari ini, pemazmur menyerukan kepada Tuhan untuk membiarkan “wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu”(ay. 17a). Ayat ini mengingatkan kita pada ucapan berkat di Bilangan 6:25 “TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia”. Kata-kata ini merupakan panggilan bagi Tuhan untuk menunjukkan kemurahan-Nya kepada orang yang menderita. Kata-kata ini juga merupakan seruan untuk kehadiran Tuhan bersama dengan orang yang menderita. Sungguh suatu pengharapan yang luar biasa di masa-masa sulit.

Teks ini sejalan dengan masa-masa menjelang puncak penderitaan Yesus. Yesus kini sedang menuju Yerusalem untuk mengalami sendiri kepedihan dan penderitaan itu. Yesus-lah yang menderita dan dicemooh. Sepanjang jalan salib, Yesus terus dicemooh dan disiksa, bahkan ketika di kayu salib pun cemoohan itu terus muncul. Hari ini merupakan hari masuknya Yesus ke Yerusalem dengan penuh kemenangan (dalam dan melalui penderitaan), minggu Palmarum. Memang, ketika DIa masuk ke Yerusalem, orang banyak yang berkumpul tidak mencaci Dia, tetapi justru menghormati-Nya, mengelu-elukan-Nya, meletakkan daun palem dan jubah mereka untuk membuka jalan-Nya ke kota Tuhan. Tetapi, itu hanya sementara saja. Dalam hitungan hari, orang banyak yang berteriak "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Mrk. 11:9b), bisa jadi adalah orang yang sama yang berteriak, “Salibkanlah Dia!” (Mrk. 15:13).

Lihatlah, sosok yang masuk ke Yerusalem dan berjalan di atas karpet jubah orang banyak itu, adalah sosok yang sama yang mengetahui penderitaan kita yang terdalam, dan, melalui belas kasih Tuhan yang tak habis-habisnya, membawa keluh-kesah kita ke dalam diri-Nya sendiri. Kita tidak pernah ditinggalkan oleh Tuhan dalam penderitaan kita, sebaliknya kitalah yang sering meninggalkan Tuhan ketika kita tidak mampu bertahan dalam penderitaan. Kita dilingkupi oleh dan dalam kasih Tuhan. Karena begitu dipeluk oleh Tuhan, kita dibentuk bukan untuk mencemooh satu dengan yang lain, melainkan untuk merangkul orang-orang yang kita temui yang menderita.

Atas dasar itulah kita pun harus tetap dan terus berharap pada Tuhan. Seluruh dunia saat ini sedang merintih kesakitan karena pandemi Covid-19, serta berbagai penyakit yang melanda kehidupan kita. Kita mengeluh tidak saja karena virus corona yang telah menghantui hidup kita lebih dari satu tahun terakhir, tetapi karena dampaknya yang amat kompleks. Ketahuilah, Tuhan pun ikut bersama kita merintih kesakitan, dan itulah sebabnya Dia sangat tahu betapa sakitnya dan menderitanya kita. Tuhan Yesus adalah sosok yang pernah mengalami luka yang amat dalam, dan dalam luka-Nya tersebut kita sembuh dan dipulihkan. Yesus adalah yang terluka yang menyembuhkan. Itulah harapan kita, harapan yang tidak pernah sirna di tengah-tengah kesulitan hidup. Amin.

Sunday, March 21, 2021

Kristus Imam Besar yang Sempurna (Ibrani 5:5-10)

Khotbah Minggu, 21 Maret 2021
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

5 Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”,
6 sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.”
7 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
9 dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,
10 dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.


Surat Ibrani berupaya meyakinkan audiensinya bahwa di dalam Yesus Kristus Allah dapat dikenal dengan baik. Untuk itu, penulis surat ini menggunakan analogi untuk menggambarkan salah satu peran yang dilakukan Yesus sebagai penyelamat umat manusia, yakin peran sebagai Imam Besar atas nama orang lain. Pasal 5 dari surat Ibrani ini berfokus pada peran Imam Besar, yang dalam PL terlihat dalam diri Melkisedek, dan sekarang terwujud dalam diri Yesus Kristus.

Pada ayat 5-6, dibahas keilahian Yesus dan rencana Allah secara historis melalui fungsi imamat. Kutipan pertama diambil dari Mazmur 2:7, yang pertama kali dinyatakan pada pasal 1:5. Ayat ini menegaskan keilahian Yesus. Secara teologis, kutipan ini mengacu pada Kristologi Injil Yohanes, yang hendak menegaskan bahwa Yesus bukanlah makhluk ciptaan, bukan bentuk Tuhan yang lebih rendah, melainkan Dia “diperanakkan bukan dibuat”. Inilah yang kemudian terungkap dalam Pengakuan Iman Nicea.

Kutipan kedua adalah Mazmur 110:4. Teks ini memperkenalkan tokoh legendaris, Melkisedek, yang dibahas dalam Kejadian 14 dalam hubungannya dengan Abraham. Sosok ini unik, sebab memiliki kesinambungan historis dari rencana Tuhan dalam hubungannya dengan Yesus. Melkisedek adalah prototipe dari Yesus sebagai putra Allah, Imam Besar par excellence bagi seluruh umat manusia. Ibrani 7:3 menggambarkan Melkisedek ini dalam istilah mistik dan ahistoris sebagai sosok yang: “tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.” Namun demikian, sosok ini disebut sebagai model manusia yang spesifik dan terpuji untuk seorang Imam Besar.

Apa saja peran Imam Besar?
Buku-buku Perjanjian Lama, seperti Imamat dan Ulangan penuh dengan diskusi tentang pentingnya imam. Dalam bagian khusus ini, penulis Ibrani menggambarkan Yesus sebagai seorang Imam Besar. Empat ayat pertama yang mendahului teks khotbah hari ini menguraikan peran Imam Besar tersebut. Imam Besar mewakili Tuhan bagi orang-orang, khususnya tentang persembahan dan korban karena dosa (5:1). Seterusnya, Imam Besar memiliki peran pastoral yang mesti menunjukkan simpati dan empati dengan orang yang dia layani (5:2-3). Peran ini ditegaskan kembali pada pasal 5:7-9. Akhirnya, imam merupakan anugerah Tuhan, suatu panggilan yang sungguh mulia (5:4, 9). Semua peran ini ada dalam diri Yesus. Yesus adalah Imam Besar, baik dalam konteks kerangka historis Israel tentang sosok imam besar maupun seperti yang dicontohkan oleh tokoh legendaris Melkisedek.

Apa artinya bagi kita?
Yesus adalah Imam Besar kita sampai saat ini. Kita tidak perlu bimbang dan ragu seperti pembaca mula-mula surat Ibrani. Dalam Yesus, semua peran Imam Besar itu telah tergenapi. Ia berasal dari Allah, dan telah ditetapkan oleh Allah untuk menjadi Imam Besar kita sampai selama-lamanya.

Sebagai Imam Besar, Yesus telah mempersembahkan persembahan dan korban yang amat berharga untuk pengampunan dosa-dosa kita, sekali untuk selama-lamanya. Itulah diri Yesus sendiri yang telah dipersembahkan dan dikorbankan di kayu salib sebagai tebusan atas dosa-dosa kita. Persembahan dan korban ini sempurna dan tidak bisa digantikan dengan yang lain lagi. Pada satu sisi pengorbanan Yesus untuk penebusan dosa-dosa kita ini telah menyucikan diri kita, tetapi pada sisi lain hendak mengingatkan kita untuk tidak menyalahartikan dan menyalahgunakan pengorbanan Tuhan tersebut dengan hidup sesuka hatinya masing-masing. Hanya orang yang dewasa dalam iman yang mampu bersyukur dan mennghargai pengorbanan Imam Besarnya, sebab anak-anak tidak bisa melakukannya (bnd. Ibr. 5:14).

Yesus adalah Imam Besar yang memiliki rasa simpati dan empati atas apa yang sedang dialami oleh umat manusia. Ia sungguh-sungguh mengerti keluh kesah kita, telah merasakan derita dan ratap tangis umat manusia (ay. 7). Ia pun tahu betapa jahilnya, betapa sesatnya, serta betapa lemahnya kita sebagai manusia biasa yang berdosa (Ibr. 5:2). Sebagai Imam Besar, Yesus tahu semuanya itu, itulah sebabnya Dia mempersembahkan doa dan permohonan belas kasihan Allah bagi kita, supaya kita diselamatkan (ay. 7-10 pemenuhan peran Imam Besar sebagaimana disebutkan pada ay. 1-4). Yesus telah menunjukkan kesetiaan-Nya sebagai Anak kepada Bapa-Nya, telah menyerahkan diri-Nya sebagai persembahan dan korban untuk penebusan dosa-dosa kita, dan telah mengalami penderitaan yang amat menyakitkan untuk keselamatan umat manusia.

Yesus telah melakukan segalanya bagi kita. Yesus telah memenuhi secara sempurna peran-Nya sebagai Imam Besar. Sekarang, bagaimana kita merespons tindakan Yesus yang menyelamatkan itu? Kalau kita bercermin dari orang-orang Ibrani pembaca mula-mula surat Ibrani seperti yang terungkap pada ayat-ayat setelah nas khotbah hari ini (5;11-14), maka paling tidak ada dua tipe manusia dalam memahami arti pengorbanan Yesus dalam hidupnya, yaitu: (1) tipe anak kecil (lih. Ibr. 5:13), dan (2) tipe orang dewasa (lih. Ibr. 5:14).

Tipe anak kecil, sukar untuk dijelaskan (5:11), lamban dalam hal mendengarkan (5:11), memerlukan susu atau makanan yang masih lembek (5:12), dan tidak memahami ajaran tentang kebenaran (5:13). Tipe orang dewasa, memahami dengan baik ajaran tentang asas-asas pokok dari penyataan Allah (5:12), mampu memakan makanan keras atau makanan orang dewasa (5:14), dan mampu membedakan yang baik dari pada yang jahat (5:14).

Pertanyaannya ialah orang Kristen dengan tipe yang manakah kita sampai hari ini? Kalau ditinjau dari sudut waktu sejak kita mendengarkan berita Injil, atau sejak kita menjadi orang Kristen, maka mestinya kita adalah orang-orang Kristen dengan tipe dewasa. Bagaimana dalam realitasnya?

--- selamat berefleksi ---



Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...