Saturday, October 8, 2022

Iman yang Menyelamatkan – Famati andrö Zangorifi (Lukas 17:11-19)

Khotbah Minggu, 09 Oktober 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.
12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh
13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”
14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?
18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”
19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”


Pada zaman Alkitab, baik PL maupun PB, penyakit kusta merupakan penyakit yang tidak ada obatnya.[1] Di kalangan orang Ibrani penyakit ini dianggap najis dan berbahaya, karena dapat menular. Oleh sebab itu, orang yang sakit kusta harus diasingkan dari masyarakat (Kel. 13, Kel. 14). Penyakit ini dianggap sebagai simbol dosa, penyakit dari Tuhan, sebab ada beberapa contoh kasus dimana orang kena sakit kusta setelah melakukan pelanggaran atau kesalahan.[2] Orang yang menderita kusta dinyatakan sakit dan atau sembuh oleh imama (Im. 13:1-59; 14:1-32). Apabila ia sembuh, harus diadakan upacara pentahiran oleh seorang imam (Im. 14:2-20; Luk. 1:44). Secara fisik, orang yang berpenyakit kusta tentu saja sangat menderita. Tetapi, penderitaan yang paling menyakitkan adalah penderitaan psikis. Penderitanya diasingkan, tidak boleh mendekat orang sehat, dan apa pun yang tersentuh dengannya dianggap najis. Pada zaman PB, semua penderita penyakit kusta dilarang memasuki kota Yerusalem dan kota-kota lain yang bertembok keliling. Di dalam sinagoge ada ruangan khusus yang terpencil dan sempit yang dikhususkan bagi mereka. Jadi penyakit kusta adalah penyakit yang benar-benar telah memisahkan manusia dari sesamanya.

Bisa dibayangkan betapa menderitanya orang-orang kusta pada zaman Alkitab. Tidak ada harapan kesembuhan bagi mereka, tidak ada masa depan, tidak ada kehidupan. Namun demikian, dalam teks khotbah hari ini, Lukas menunjukkan sesuatu yang amat menentukan bagi orang-orang kusta yang terpinggirkan, dan pembelajaran berharga bagi kita yang “tak terpinggirkan”. Kepedulian Yesus terhadap mereka yang terpinggirkan, yaitu kesepuluh penderita kusta, dan secara khusus paling tidak ada seorang Samaria yang merupakan kelompok masyarakat terpinggirkan pada zaman PB. Itulah misi Yesus ke dunia, menunjukkan kepedulian kepada mereka yang oleh karena berbagai faktor, terasingkan, menderita, termiskinkan, dll. Inilah misi yang sesungguhnya, kepedulian terhadap sesama, terutama kepada sesama yang sedang berada dalam situasi kurang baik. Itulah pemberitaan Injil yang sesungguhnya, pemberitaan kabar sukacita kepada orang-orang yang selama ini terpinggirkan, kurang diperhatikan, kurang dihargai dalam masyarakat, disepelekan, mengalami berbagai macam penderitaan, dll. Itulah misi Yesus, yang merupakan misi gereja kita juga.

Menarik juga melihat bagaimana Yesus menerima mereka yang selama ini dijauhi oleh masyarakat. Yesus berkenan memberikan respons terhadap teriakan mereka: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (ay. 13). Yesus tahu bahwa kesepuluh orang kusta ini mestinya dijauhi, kalau bisa diusir, apalagi orang Samaria, tetapi Yesus tidak melakukan itu. Disebutkan bahwa Yesus merespons mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam” (ay. 14). Dalam proses itulah kemudian orang-orang penderita kusta ini sembuh. Yesus menyuruh mereka kepada imam-imam sebagai pihak yang berwenang menentukan apakah mereka sudah sembuh atau belum; dan ternyata hasilnya SEMBUH. Misi Yesus inilah yang harus kita beritakan, baik melalui kata-kata, maupun melalui pelayanan nyata kepada orang-orang yang sedang menderita di sekitar kita. Kepedulian kita akan diuji ketika kita bertemu dengan orang-orang yang selama ini terpinggirkan.

Kisah ini tidak berhenti pada kesembuhan para penderita kusta. Diceritakan lebih lanjut bahwa salah seorang dari kesepuluh orang kusta tersebut kembali kepada Yesus, memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada Yesus (ay. 15-16). Disebutkan pula bahwa orang tersebut adalah orang Samaria (yang pada zaman PB disingkirkan oleh masyarakat Yahudi). Ayat 17-18 memperlihatkan kepada kita “keheranan” Yesus atas kesembilan orang lainnya yang tidak kembali kepada-Nya, tidak seperti orang Samaria tersebut. Benar bahwa orang Samaria selama ini dianggap sebagai orang asing, tidak diterima sebagai bagian dari komunitas Yahudi/Israel. Tetapi, justru orang Samaria (orang asing) inilah yang memuliakan Allah dan mengucap syukur kepada Yesus atas kesembuhan yang telah dialaminya. Yesus pun memuji iman orang Samaria tersebut. Ia berkata kepadanya: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (ay. 19).

Orang Samaria adalah orang yang dianggap sebagai orang asing dan tidak menyenangkan pada zaman PB, tetapi justru dialah satu-satunya orang yang datang memuliakan dan mengucap syukur kepada Allah, sedangkan kesembilan lainnya tidak diketahui lagi rimbanya. Dalam kisah ini, Yesus, oleh Lukas, menunjukkan bahwa iman seseorang itu tidak ditentukan oleh latar belakang kehidupannya, entah sebagai orang Yahudi ataupun orang Samaria (orang asing). Ketika seseorang menyadari sumber kesembuhannya dari Tuhan, dan kembali kepada Tuhan untuk memuliakan dan mengucap syukur kepada-Nya, itulah iman yang sesungguhnya. Merespons Yesus dengan benar berarti memuji dan memuliakan Allah.


[1] Pada zaman modern penyakit kusta ini dikenal sebagai lepra/hansen. Obatnya baru ditemukan oleh seorang ilmuwan Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen pada tahun 1837.

[2] Beberapa contoh kasus dimaksud: (1) Miryam dihukum Tuhan dengan penyakit kusta karena mengata-ngatai dan iri hati terhadap Musa (Bil. 12:1-2,9-10). (2) Gehazi (bujangnya Elisa) dihukum dengan kusta karena meminta pemberian dari Naaman yang sebelumnya sudah ditolak Elisa (2Raj. 5:21-27). (3) Ketika Raja Uzia merasa kuat, sombong, tinggi hati dan tidak setia kepada Tuhan maka Tuhan menghukumnya dengan penyakit kusta (2Taw. 26:16-21).

Saturday, October 1, 2022

Tak Berkesudahan Kasih Setia TUHAN – Lö Saetu Wa’ebua Dödö Yehowa (Ratapan 3:19-26)

Khotbah Minggu, 02 Oktober 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”
20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
24 “TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

Sama seperti kitab Yeremia, kitab Ratapan ini juga berfokus pada kejatuhan Yerusalem dan pembuangan ke Babel. Kalau kitab Yeremia memberi penekanan lebih pada peringatan-peringatan bahwa Tuhan akan mendatangkan hukuman atas ketidaksetiaan umat-Nya, maka kitab Ratapan ini lebih pada perkabungan atas hukuman Allah yang telah ditimpakan atas umat Tuhan tersebut, terutama kehancuran Yerusalem dan Bait Allah sebagai simbol kebanggaan dan kebesaran bangsa Israel. Kehancuran ini mendatangkan kesedihan yang mendalam bagi Yeremia dkk, sehingga mereka berkabung atas kejatuhan Yerusalem dan bait Allah tersebut. Dalam kesedihan dan perkabungan itu, mereka menyadari bahwa penderitaan yang mereka alami adalah akibat ketidaksetiaan mereka pada Tuhan, sekaligus mengakui bahwa selalu ada harapan baru di dalam Tuhan, bahkan di dalam kehancuran pun kasih setia Tuhan tidak pernah berkesudahan.

Pada seputar teks renungan kita pada hari ini, penulis mengungkapkan apa saja prinsip hidup sehubungan dengan penderitaan:
(1) Penderitaan haruslah ditanggung dengan harapan akan adanya keselamatan dari Allah, yaitu bahwa Allah pada akhirnya akan mendatangkan pemulihan (3:25-30). Bagaimana mungkin tidak marah atau kecewa terhadap Allah dalam penderitaan? Bagaimana mungkin Allah dianggap baik di tengah-tengah penderitaan manusia? Jawabannya adalah bahwa di tengah-tengah penderitaan manusia itu, Allah tetap setia, murah hati, dan selalu siap menerima setiap orang yang datang kepada-Nya.

Selain itu, ada unsur pendisiplinan di balik penderitaan yang kita alami. Penderitaan atau kesusahan akan dapat menolong kita untuk lebih siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam hidup ini. Saya tidak bermaksud supaya kita mencari “gara-gara” untuk mengalami penderitaan atau kesusahan atau masalah, tidak! Tetapi, siapakah yang bisa menjamin bahwa perjalanan hidup ini akan mulus tanpa masalah? Tidak ada bukan? Karena itu, ketika kita mengalami suatu penderitaan atau kesusahan hidup, maka ingatlah bahwa itu merupakan salah satu cara yang dapat dipakai oleh Tuhan untuk mendisiplinkan kita untuk kemudian menjadi lebih dewasa, bukan semakin cengeng; penderitaan dan kesusahan juga dapat menolong kita untuk semakin rendah hati, bahkan kita pun harus menjadi lebih siap dan lebih dewasa menanggapi setiap penderitaan itu (bnd. Rat. 3:29-30). Bagaimanakah kita menjadi orang yang sabar kalau tidak pernah mengalami kesulitan hidup? Bagaimanakah kita menguji kesabaran seseorang? Dengan memberinya kesulitan atau tantangan, bukan? Lagipula, bukankah Allah telah menyediakan pertolongan bagi orang-orang yang berharap kepada-Nya?

Atas dasar itulah penderitaan harus ditanggung oleh umat Tuhan, sebab pada akhirnya Allah akan mendatangkan pemulihan. Di sinilah terletak pengharapan umat Tuhan yang menderita, pengharapan akan datangnya keselamatan yang dari Allah. Itulah bagian kita, demikian diakui oleh penulis kitab ini di ayat 24. Apa artinya? Yaitu bahwa pengharapan kita hanya di dalam Tuhan saja, menantikan pertolongan-Nya saja, hanya mencari Tuhan ketika kita berada dalam kesusahan, dan mengungkapkan keluh kesah hidup kita kepada-Nya, sebab segala beban hidup hanya dapat ditanggung di dalam Tuhan saja. Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat. 11:28-30). Kiranya janji kasih setia Tuhan ini menjadi sumber semangat baru bagi kita untuk tetap hidup dalam pengharapan.

(2) Penderitaan itu hanyalah sementara dan dalam penderitaan itu pun Allah selalu menunjukkan rasa sayang dan kasih setia-Nya (lih. Rat. 3:31-32). Ada sebuah ungkapan klasik: “Sejahat-jahatnya harimau, tidak akan memakan anaknya sendiri.” Atau ungkapan lain yang tidak kalah puitisnya, “Di balik awan yang gelap, selalu ada matahari yang siap menerangi bumi.” Benar bahwa kehancuran Yerusalem, kesusahan dan penderitaan yang dialami oleh umat Tuhan berasal dari Allah sebagai hukuman atas ketidaksetiaan mereka terhadap Tuhan. Tetapi, pemazmur mengatakan: “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam” (Mzm. 103:8-9). Apa artinya? Yaitu bahwa penderitaan atau kesusahan hidup, apapun sumbernya, tidak pernah berlangsung sepanjang hidup kita, kalaupun kita harus menanggung suatu penderitaan maka Allah selalu menyatakan kasih setia-Nya pada kita. Atau, adakah di antara kita hari ini orangtua yang setiap detik selalu marah dan menghukum anak-anaknya? Adakah anak-anak di tempat ini yang sepanjang hidupnya selalu dimarahi dan dihukum oleh orangtuanya? Tidak ada, bukan? Sebab, orangtua selalu menunjukkan kasihnya terhadap anak-anaknya sekalipun kadang-kadang memarahi dan menghukum mereka. Tuhan Allah jauh melebihi orangtua, yaitu bahwa Dia selalu, dan akan selalu menyayangi umat yang telah dihukum-Nya itu. Atas dasar inilah kita harus tetap memiliki pengharapan di dalam Tuhan, dan karena pengharapan itulah kita harus tetap semangat menjalani kehidupan kita dalam takut akan Tuhan.

(3) Allah tidak pernah bersukacita atau merasa senang atas penderitaan umat-Nya (Lih. Rat. 3:33). Adakah orangtua yang merasa senang karena melihat anak-anaknya hidup dalam kesusahan? Adakah orangtua yang merasa bahagia karena anaknya berada dalam kesakitan? Tidak ada, bukan? Secara umum, orangtua justru akan sedih kalau anaknya berada dalam kesusahan, kesulitan, atau mengalami suatu sakit penyakit, karena itu orangtua berusaha menolong anak-anaknya. Tuhan tentunya jauh melebihi hati dan tindakan orangtua tersebut. Allah pun sedih kalau umat-Nya jatuh dalam kesulitan. Bahkan, ketika Allah sendiri menghukum umat-Nya, Dia sebenarnya melakukan itu dengan “berat hati”, Dia “terpaksa” memberikan pembelajaran “tegas” bagi umat-Nya, supaya mereka tidak jatuh terlalu jauh dalam kehancuran. Tuhan Allah tidak pernah berusaha dengan sengaja mempersulit hidup kita, Dia justru menawarkan pertolongan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Jadi, jangan pernah beranggapan bahwa “berurusan” dengan Tuhan itu selalu sulit, tidak! Berurusan dengan Tuhan justru menolong kita untuk keluar dari situasi sulit. Karena itu, kita harus tetap berharap pada Tuhan, bahwa dalam kesulitan apa pun, Dia tetap menolong, Dia tetap menyayangi dan mengasihi kita.

Sunday, September 25, 2022

Ibadah disertai Rasa Cukup – Fasumangeta sifao fa’ahono dödö ba zi ho so (1 Timotius 6:6-10)

Khotbah Minggu, 25 September 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

6     Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

7     Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

8     Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

9     Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

10   Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.


Kita baru saja mendengar kabar bahwa salah seorang hakim agung di Indonesia tertangkap tangan KPK dengan kasus korupsi (penyuapan). Hakim merupakan wakil Allah di bumi dalam menegakkan keadilan, apalagi hakim agung. Banyak orang/pihak di Indonesia yang terjerat kasus korupsi, baik pihak eksekutif (pemerintah), legislatif (wakil rakyat), dan yudikatif (penegak hukum), bahkan rohaniwan. Agama mereka sama, yaitu UANG. Bagi orang-orang seperti ini, kalau bisa semua dimanfaatkan sedemikian rupa untuk mendapatkan keuntungan (uang) bagi mereka, termasuk memanfaatkan ibadah agama (bnd. 1Tim. 6:5b).


Fenomena seperti ini sudah terjadi sejak lama, dan menurut Paulus, akar kejahatan tersebut adalah CINTA UANG (ay. 10). Dalam teks ini, Paulus tidak menganggap uang sebagai sesuatu yang jahat, tetapi CINTA UANG yang menjadi persoalan. Cinta uang yang dimaksud di sini mengarah pada keinginan yang berlebihan akan uang hingga berusaha memburunya dengan cara apa pun, dan menempatkan keinginannya mendapatkan uang tersebut di atas segala-galanya. Inilah yang menjadi akar kejahatan, dan akan terus melahirkan kejahatan lainnya di muka bumi. Pada ayat 9, Paulus memperingatkan jemaat atau para penatua pada zaman Timotius: “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan”. Pada bagian lain dalam Alkitab, Yesus pernah mengatakan bahwa para pengikut-Nya tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, mengabdi kepada Allah dan mengabdi kepada mamon (Mat. 6:24). Godaan kejahatan karena kekayaan sangatlah kuat, dan Paulus mengingatkan kita untuk waspada.


Tentu saja nasihat Paulus ini dapat saja menyebabkan ketidaknyamanan atau bahkan ketakutan bagi sebagian orang, terutama mereka yang memiliki orientasi materialistis yang kuat. Atau, kita dapat saja mengatakan bahwa hanya orang munafiklah yang tidak membutuhkan uang, gereja saja membutuhkannya. Hal ini menjadi tantangan bagi kita, apalagi pada zaman modern ini, uang telah menjadi segala-galanya. Kalau kita menelusuri lebih dalam maksud perkataan Yesus maupun Paulus, maka kita akan menemukan bahwa “kekayaan” atau “cinta uang” muncul sebagai “allah palsu” yang menghalangi penyembahan yang benar kepada Allah yang sejati. Itulah sebabnya “kekayaan” atau “uang” seolah-olah dianggap sebagai sesuatu yang “jahat” dan harus dijauhi.


Namun demikian, kekayaan atau uang sebenarnya bukan sesuatu yang jahat sama sekali. Yesus maupun Paulus tidak bermaksud untuk menafikan kekayaan atau uang. Dalam Alkitab ada cerita tentang orang-orang kaya yang dermawan; ada orang-orang yang melayani Yesus dan para murid dengan kekayaan yang mereka miliki (lih. Luk. 8:3). Demikian pula, rasul Paulus memanfaatkan dukungan keuangan dari para dermawan untuk perjalanan dan kegiatan misionarisnya. Oleh karena itu, tidak tepat untuk mengatakan bahwa kekayaan materi itu jahat sama sekali dan tidak ada kebaikan di dalamnya. Kekayaan materi bisa menghalangi seseorang untuk percaya kepada Tuhan, bisa menjadi penghalang untuk mengikuti Yesus (Mrk. 10:17-22), dan bisa menghalangi kita untuk beribadah sepenuh hati kepada Tuhan. Pada sisi lain, banyak dari pelayanan gereja bergantung pada sumber keuangan anggota jemaat. Oleh sebab itu, mereka yang memiliki kekayaan harus “berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya” (1 Tim. 6:18-19).


Jadi, hal yang sangat penting adalah sikap manusia terhadap kekayaan atau uang tersebut. Kekayaan atau uang dapat menjadi jerat bagi kita kalau kita menempatkannya sebagai pusat kehidupan kita. Kekayaan atau uang dapat menjadi sesuatu yang jahat apabila kita mencintainya dan memburunya dengan menghalalkan segala cara, termasuk memanfaatkan ibadah kepada Tuhan sebagai kesempatan untuk mendapatkan kekayaan atau uang. Kekayaan atau uang dapat menjadi masalah serius dalam hidup kita apabila kita mencarinya dalam kekuatiran atau dengan keinginan yang berlebihan sampai mengalahkan cinta kita kepada Tuhan.


Seperti apa sikap yang baik terhadap kekayaan atau uang? Pada ayat 6, Paulus menegaskan rahasia penting supaya kekayaan atau uang tidak menjadi persoalan dalam hidup manusia, yaitu “rasa cukup”, dan pada ayat 8, Paulus menegaskannya kembali: “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Kata “merasa cukup” di sini berarti merasa senang, merasa puas, dan merasa bahagia disertai dengan rasa syukur atas apa yang ada dalam hidupnya, atas apa yang telah dicapai atau diperolehnya sampai saat ini. Konsep dasar kata Yunani autarkeia berarti kecukupan atau kepuasan yang muncul dari dalam diri seseorang, tidak dipengaruhi oleh keadaan di luar dirinya. Dengan kata ini, Paulus hendak menegaskan bahwa “rasa cukup” yang baik itu berasal dari dalam diri sendiri, bukan dari luar. Orang boleh saja memiliki kekayaan atau uang yang banyak, tetapi belum tentu dia merasa cukup atau merasa bahagia dengan itu. Ada juga orang yang tidak memiliki kekayaan atau uang yang banyak, hidup sederhana, tetapi dia merasa cukup, merasa puas, dan merasa bahagia. Saya pernah mengamati ikan lele, lö la’ila wa’abusora, gofu hawa’oya öbe göra ba lagaga manö, la’a nasa nawöra, afuriata oya zimate, mate ba wa’abuso.


Uang atau kekayaan dapat digunakan untuk kebaikan dan juga kejahatan, tetapi pokok persoalan adalah CINTA akan uang. Nafsu akan uang dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan lebih banyak uang dan meningkatkan kekayaan duniawi, itulah yang menjadi akar kejahatan dalam hidup ini. Tentu saja, cinta uang bukanlah satu-satunya sumber kejahatan, masih banyak sumber lain dari kejahatan di bumi ini. Namun demikian, cinta uang adalah salah satu akar kejahatan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam berbagai dosa dan kejahatan lainnya. Banyak orang yang menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan uang yang banyak. Ato niha “sangisö” ba gana’a (gokhöta), afuriata ilau “wangisu” ena’ö oya isöndra.


Paulus mengingatkan kita bahwa “kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar” (ay. 7). Kita lahir tanpa membawa apa-apa, dan akan mati tanpa membawa apa-apa juga. Oleh sebab itu, hati-hatilah terhadap keinginan untuk menjadi kaya, atau keinginan untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin, sebab dapat menyebabkan kita jatuh ke dalam godaan. Dengan sikap memburu uang kita dapat terjebak dalam kekuatiran akan kekayaan yang kita miliki, dan tentu saja kita dapat saja terjebak dalam berbagai keinginan daging yang dapat mempermalukan diri kita sendiri.


Seperti yang disampaikan di awal khotbah ini, bahwa banyak orang yang melakukan korupsi, baik pejabat pemerintahan, legislatif, yudikatif, maupun keagamaan (rohaniwan). Banyak orang yang “oleh karena memburu uang telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai duka” (ay. 10). Maka, waspadalah! Uang memang penting, tetapi bukan segala-galanya. Jangan merusak hidupmu dengan CINTA UANG! Nikmatilah hidupmu apa adanya, kebahagiaan itu berasal dari diri sendiri dan dari Allah. Pergunakanlah kekayaan atau apa pun yang kita miliki untuk kebaikan bagi sesama dan bagi kemuliaan nama Tuhan. Itulah inti Injil yang kita beritakan di dunia zaman modern ini.


Mari tetap bersatu dalam memberitakan Injil, baik pada saat memiliki uang, maupun pada saat tidak memilikinya; baik pada saat berlimpah, maupun pada saat berkekurangan. Doa Yesus supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tetap bersatu (Yoh. 17:21-23), hendak menegaskan bahwa kita jangan tercerai berai hanya oleh karena himpitan kekayaan atau sebaliknya himpitan kemiskinan/kekurangan. Dalam situasi apa pun, kita tetap bersatu, ya bersatu untuk memberitakan Injil.

Saturday, September 3, 2022

Di Hadapan Allah tidak ada yang Tersembunyi – Lö Sitobini Tanö Föna Lowalangi (Mazmur 139:17-24)

Rancangan Khotbah Minggu, 04 September 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

17 Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!
18 Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.
19 Sekiranya Engkau mematikan orang fasik, ya Allah, sehingga menjauh dari padaku penumpah-penumpah darah,
20 yang berkata-kata dusta terhadap Engkau, dan melawan Engkau dengan sia-sia.
21 Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau?
22 Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku.
23 Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
24 lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!


Mazmur 139 secara umum merupakan ekspresi kekaguman pemazmur akan kemahatahuan Allah dalam berbagai cara. Secara khusus pada teks renungan pada hari ini, ay. 17-24, pemazmur menyatakan keheranannya akan pikiran dan tindakan Allah, baik bagi diri pemazmur maupun atas orang-orang yang jahat. Pada akhirnya, pemazmur memohon kiranya Allah menuntun dia dalam perjalanan yang benar hingga kekekalan.

Dua ayat pertama pada teks khotbah hari ini (ay. 17-18) menunjukkan ketidakmampuan pemazmur memahami pikiran Allah. Menurutnya, pikiran Allah itu sulit dipahami dan tak terhitung banyaknya oleh manusia seperti pemazmur. Dengan kata lain, pemazmur hendak menyatakan kegakumannya terhadap Allah yang telah memelihara dirinya walaupun dia berada di tengah-tengah para pembenci Allah. Pikiran Allah atas dirinya selalu dalam rangka pemeliharaan yang penuh cinta kasih.

Selain itu, ekspresi pemazmur di ayat 17-18 ini mengindikasikan kesadarannya akan kemahatahuan Allah atas dirinya dan manusia lainnya termasuk orang-orang jahat. Allah mengawasi manusia dengan cara-Nya sendiri, sama seperti Dia memelihara manusia dengan cara-Nya yang unik. Demikianlah cara Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia, sungguh tak terselami oleh pikiran manusia. Rasul Paulus mengatakan: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:33-36).

Bagaimana dengan orang fasik yang membenci Tuhan? Menurut pemazmur, Allah pun memiliki cara sendiri untuk mengatasi mereka. Allah, misalnya, bisa saja mematikan mereka dengan cara-Nya sendiri, tetapi Allah pun bisa saja seperti “membiarkan” mereka entah supaya mereka bertobat atau malah sedang mencari waktu yang tepat untuk menghukum mereka. Kita tidak tahu! Bukankah pemazmur sudah mengatakan bahwa “pikiran Allah itu sulit”?

Namun demikian, entah dengan cara apa pun, pemazmur meyakini bahwa Allah tidak mungkin membiarkan begitu saja orang-orang fasik yang membenci Tuhan bertindak sesuka hati tanpa pengawasan dan tindakan tegas Allah. Keyakinan ini mendorong pemazmur untuk tetap berada di sisi Tuhan, dan mengambil sikap membenci para pembuat kejahatan. Membenci orang-orang fasik dan menjadi musuh para pembenci Tuhan di sini berarti tidak ikut dalam komplotan para penjahat itu apa pun risikonya.

Pada akhirnya, pemazmur mempersilakan Tuhan untuk menyelidiki dirinya, sebab dia sadar bahwa Tuhan pasti mengenal isi hatinya. Di tengah-tengah situasi dunia yang diisi oleh orang-orang jahat, pemazmur memohon kiranya Tuhan menuntun dia ke jalan yang benar. Pemazmur mengungkapkan kata-kata ini untuk meyakinkan Tuhan bahwa dia sungguh-sungguh berada di jalan Tuhan, dan sungguh-sungguh tidak mau bergabung dengan kelompok orang-orang fasik. Pemazmur seolah-oleh berkata: “Kalau Tuhan ragu dengan komitmen saya untuk hidup di jalan yang benar dan melawan orang-orang jahat, maka silakan periksa/uji diriku, bukankah Engkau tahu isi hatiku?”

Tema minggu ini adalah “di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi” (lö sitobini tanö föna Lowalangi). Pikiran Allah sulit kita pahami, baik pikiran-Nya untuk pemeliharaan dan keselamatan kita, maupun pikiran-Nya atas para pelaku kejahatan. Namun demikian, satu hal yang pasti adalah bahwa Allah tahu semuanya bahkan isi hati kita yang tersembunyi sekalipun. Oleh sebab itu, ketika merasa telah menjadi orang baik, maka sebenarnya tidak perlu ada keraguan entah Tuhan tahu atau tidak, percaya saja bahwa Tuhan tahu apa pun kebaikan yang kita lakukan. Demikian juga dengan kejahatan, tidak perlu ada keraguan kita entah Tuhan tahu atau tidak. Tidak ada kejahatan yang sempurna, di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi. Implikasinya adalah bahwa kita tidak perlu bersandiwara menjalani kehidupan ini. Kita tidak perlu bersandiwara seolah-olah kita baik padahal jahat; tidak perlu bersandiwara untuk menutupi kejahatan kita. Jalani saja kehidupan ini apa adanya, jalani dalam kebenaran, dan yakinlah tidak ada satu pun yang tersembunyi di hadapan Tuhan.

--- selamat merenungkan Firman Tuhan ---

Saturday, August 27, 2022

Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus – Ositengagö Ndra’ugö, Lu’i Röfau, ba O’ö Yesu (Matius 16:21-28)

Khotbah Minggu, 28 Agustus 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.”
23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.
28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”

Teks ini sebaiknya dipahami dalam hubungan dengan perikop sebelumnya ketika Petrus menyatakan pengakuan yang luar biasa bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13-20, khususnya ayat 16). Yesus pun mengapresiasi pengakuan Petrus tersebut, dan menyebutnya “berbahagia” (Mat. 16:17), serta memberi kepercayaan kepadanya bahkan termasuk kunci Kerajaan Surga (Mat. 16:18-19).

Namun demikian, tidak lama kemudian, Petrus yang tadinya mendapatkan apresiasi dari Yesus, kini mendapatkan kecaman keras dari Yesus yang sama, bahkan menyebut Petrus seperti iblis: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ay. 23).

Kata-kata Yesus yang sangat keras ini muncul karena Petrus menyampaikan pernyataan yang bertolak belakang dengan pengakuannya sebelumnya tentang kemesiasan Yesus setelah mendengar bahwa Yesus, Sang Mesias, akan menanggung banyak penderitaan. Petrus tidak setuju dengan pernyataan Yesus akan penderitaan yang akan ditanggung-Nya tersebut, dan karena itu dia mengatakan: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau” (ay. 22). Di sini jelas bahwa Petrus mewakili kelompok para murid dan pengikut Yesus, bahkan para pembaca awal Injil Matius, bahwa Mesias itu mestinya datang dan hidup dalam kemenangan dan kejayaan besar, bukan malah menanggung banyak penderitaan. Petrus dkk tidak memahami dan sulit menerima Mesias yang menderita. Hal ini juga menggambarkan ketidaksediaan mereka dalam menanggung risiko akibat mengikut Yesus, Sang Mesias itu. Mereka masih belum memiliki mental pejuang, dan karena itu tidak siap menderita atas nama salib.

Lalu Yesus menjelaskan kepada Petrus dan para pendengar lainnya, tentang apa artinya bagi Dia menjadi Mesias dan apa artinya bagi kita untuk mengikuti Dia sebagai Mesias. It is not a golden way, but rather via dolorosa (bukan jalan emas melainkan jalan penderitaan). Itulah yang terjadi dengan Yesus, Sang Mesias, harus menanggung banyak penderitaan bahkan dibunuh, tetapi kemudian akan dibangkitkan pada hari ketiga. Di sini Yesus hendak memberikan pencerahan kepada para murid dan pengikut-Nya, bahwa diri-Nya harus menempuh jalan berliku dan penuh penderitaan, tetapi jalan itulah yang justru menghantarkan-Nya kepada kemuliaan Bapa, baik ketika dibangkitkan dari antara orang mati, maupun ketika melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya (ay. 27-28).

Apa artinya bagi kita?
Yesus telah menyatakan kepada ara murid dulu bahwa Dia akan menanggung banyak penderitaan, dan Dia sudah menunjukkan ketaatan-Nya pada jalan salib itu, sungguh suatu pengorbanan besar bagi keselamatan umat manusia. Kalau Yesus berbicara tentang pengorbanan-Nya yang nyata di sini, Dia hendak mengatakan bahwa jika seseorang ingin menjadi pengikut-Nya, maka mereka harus bersedia menyangkal diri, memikul salib mereka dan mengikuti Dia. Tentu saja manusia memikirkan nyawanya, dan berusaha untuk menyelamatkannya. Dalam pergumulan yang luar biasa di Taman Getsemani pun, dalam natur kemanusiaan-Nya, Yesus mencoba menyelamatkan nyawa-Nya tanpa melalui jalan salib, tetapi tidak bisa. Jalan penderitaan itu harus ditempuh, dan justru jalan itulah yang mendatangkan keselamatan dan kemuliaan yang sesungguhnya.

Itulah sebabnya Yesus mengingatkan kita bahwa “barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (ay. 25-26). Intinya adalah tidak ada gunanya kita berusaha mencari keselamatan diri dengan cara sendiri, apalagi dengan jalan mudah dan jalan pintas. Satu-satunya jalan yang memberikan jaminan keselamatan dan kehidupan adalah mengikut Yesus. Tetapi, ingat, mengikut Yesus itu harus siap menyangkal diri dan memikul salib.

Menyangkal diri berarti bersedia untuk melepaskan diri dari “kenyamanan” duniawi selama ini demi mengikut Yesus. Menyangkal diri berarti bersedia melepaskan diri dari alkoholisme, pornografi, narkoba, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Menyangkal diri berarti bersedia melepaskan diri dari kecanduan game dan judi online, bahkan kecanduan internet lainnya yang juga telah hampir memperbudak kita. Beberapa dari kita memang tidak mau melepaskan kenyamanannya selama ini, bahkan ada orang yang justru semakin terjerumus dalam berbagai kenyamanan dan kenikmatan duniawi sampai pada akhirnya lupa diri dan lupa Tuhan.

Memikul salib berarti menanggung apa yang seharusnya tidak dia pikul. Itulah yang terjadi dengan Yesus, menanggung banyak penderitaan yang seharusnya tidak Dia pikul. Kalau mau menjadi pengikut Yesus, maka kita harus memikul salib, bersedia menanggung apa yang seharusnya tidak kita tanggung, terutama penderitaan. Persoalannya ialah bahwa banyak generasi muda Kristen yang tidak bersedia menempuh jalan sulit dalam menjalani kehidupannya. Yesus menghendaki para murid dan pengikut-Nya untuk memiliki mental yang kuat menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi akibat mengikut Yesus. Latihlah dan biasakanlah dirimu untuk berani menghadapi dan menjalani kesulitan, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Fil. 1:29).

Mampukah kita untuk menderita bagi Kristus? Kalau Kristus yang hidup di dalam kita, maka kita akan mampu menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus.

Galatia 2:20a: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

Sunday, August 14, 2022

Mengikut Yesus secara Total – Folo’ö khö Yesu Sindruhundruhu (Lukas 12:49-53)

Khotbah Minggu, 14 Agustus 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

49 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
50 Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”


Teks khotbah hari ini dapat menimbulkan kebingungan bahkan kegelisahan bagi kita, terutama bagi orang yang selama ini menganggap bahwa Yesus selalu menghadirkan perdamaian. Tetapi, hari ini, melalui teks ini, Yesus menyampaikan sesuatu yang terbalik dari pemahaman umum tentang kehadiran-Nya. Dia seolah-olah membenarkan terjadinya berbagai perpecahan atau perpisahan dalam keluarga, jemaat, dan masyarakat kita akhir-akhir ini. Bisa saja ada orang yang membenarkan pertentangannya dalam jemaat atau masyarakat atas nama mengikut Yesus; bisa saja ada orang yang membenarkan ketidakpeduliannya dalam keluarga atas nama mengikut Yesus; bisa saja ada anak yang membenarkan pemberontakannya kepada orang tuanya atas nama mengikut Yesus; dan bisa saja ada orang yang menghadirkan api perselisihan dan perpecahan di mana-mana atas nama mengikut Yesus. Tetapi, apakah Yesus bermaksud seperti itu?

Kalau membaca lebih cermat teks dan konteks nas khotbah hari ini, maka kita akan menemukan bahwa persoalan yang hendak ditampilkan bukanlah masalah pertentangan, perselisihan atau perpecahan itu sendiri, melainkan bagaimana kita menanggapi berbagai konsekuensi yang timbul karena mengikut Yesus. Dengan kata lain, pertentangan hanyalah salah satu dari sekian banyak konsekuensi yang bisa saja muncul karena mengikut Yesus. Ada saatnya kita tidak bisa menghindar dari sesuatu yang buruk karena memilih ikut Yesus secara total. Tentu saja, mengikut Yesus tidak selalu berakibat buruk, sebab dalam realitasnya, banyak kedamaian yang kita nikmati karena mengikut Yesus.

Bagaimanakah mengikut Yesus dapat menimbulkan hal-hal yang tidak kita harapkan? Mari kita lihat satu per satu misi Yesus menurut teks khotbah hari ini.

Misi I : Membawa (melemparkan) Api
Dalam Alkitab, api merupakan gambaran yang multivalen. Api dapat mewakili kehadiran Allah (tiang api, Kel. 13:21-22), lidah api pada saat pencurahan Roh Kudus (Kis. 2:1-4), gambaran dari penghakiman eskatologis, pemusnahan bala tentara Setan (Why. 20:7-10), menandakan penyucian/pemurnian (Za. 13:9; Mal. 3:2-3), dan Simeon menggambarkan maksud dari kedatangan Yesus di Luk. 2:34-35 “Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Jadi, maksud Yesus dengan pernyataan misi-Nya “membawa api” ini adalah bahwa kerajaan Allah yang Dia wujudkan itu menunjukkan kehadiran Allah yang sekaligus mendatangkan penghakiman dan pemurnian. Tentu kita mengharapkan kebenaran itu harus diungkapkan, dan karena itu perlu api pemurnian. Pemurnian itu menyakitkan, terutama bagi kita yang mungkin saja memiliki banyak “kotoran” yang menempel pada diri kita. Mengikut Yesus secara total berarti siap untuk dimurnikan, siap untuk dibersihkan, walaupun bisa saja terasa sakit.

Misi II : Menerima Baptisan
Baptisan yang diterima oleh Yesus dalam teks ini tidak dalam pengertian baptisan secara umum. Melalui pernyataan-Nya ini, dan masih dalam konteks penghakiman dan penyucian (pemurnian), dengan bahasa kiasan Yesus hendak memberitahukan apa yang bakal terjadi dengan diri-Nya, yaitu tentang penyaliban-Nya, itulah sebabnya di ayat 50 dengan jelas Dia mengatakan bahwa hati-Nya susah sebelum baptisan itu berlangsung. Ini sangat menarik, sebab Orang yang mewujudkan kerajaan dan kehadiran Allah di dunia ini (yaitu Yesus) tidak sekadar memberitahukan api penghakiman dan pemurnian itu, tetapi diri-Nya sendiri sekaligus menanggung penghakiman dan pemurnian tersebut. Pada satu sisi baptisan merupakan janji sukacita bagi kita, tetapi pada sisi lain baptisan mendatangkan kesakitan yang luar biasa bagi Yesus. Mengikut Yesus secara total berarti siap menanggung sisi lain dari baptisan yang kita terima, sisi yang bisa saja mendatangkan kesakitan bagi kita.

Misi III : Membawa Pemisahan (pertentangan)
Konsekuensi dari api + baptisan untuk penghakiman dan pemurnian yang ditanggung dan diberitakan oleh Yesus adalah terjadinya pertentangan atau pemisahan. Ini memang merupakan konsekuensi “buruk” yang tidak dapat dielakkan. Selalu ada risiko dari keputusan kita mengikut Yesus. Di dunia ini ada banyak godaan kekayaan, status, dan kekuasaan, dan mereka yang tidak siap meninggalkan kenyamanan duniawi itu akan melawan/menentang kehadiran kerajaan Allah. Oleh sebab itu, Yesus – walaupun secara prinsip hendak mewujudkan pemerintahan yang penuh dengan kedamaian – namun dalam faktanya juga “terpaksa” membawa pertentangan atau pemisahan, yang bisa saja berakibat pada terganggunya relasi dalam keluarga yang selama ini sudah sangat akrab (mis. selama ini ada keluarga yang sudah terbiasa nyaman dengan segala kemudahan dan kemewahan karena “berkat” Tuhan melalui pekerjaan sang suami/istri/ayah, lalu ybs mengambil keputusan untuk mencukupkan dirinya dengan gajinya, tidak lagi melakukan korupsi, dll, dan tentu hal ini berdampak pada penghasilan keluarga, berdampak lagi pada pemenuhan kebutuhan dan kemewahan seisi keluarga itu. Apakah itu tidak menjadi persoalan?).

Ketiga misi Yesus dalam rangka mewujudkan kerajaan Allah inilah yang tidak diketahui oleh orang banyak pada waktu itu, bahkan tanda-tandanya saja pun tidak diketahui, padahal mereka bisa melihat, menilai, atau membedakan tanda-tanda alam (hujan atau panas). Itulah sebabnya Yesus mengecam mereka, bahkan menyebut mereka sebagai orang-orang munafik, pura-pura tidak tahu dengan tanda-tanda kedatangan kerajaan Allah yang sudah ada di hadapan mereka, mereka masih berada dalam paradigma lama, mengharapkan pemerintahan baru dengan bendera atau senjata perang, padahal Yesus mewujudkan pemerintahan baru itu dengan jalan yang tidak biasa, jalan kesederhanaan, jalan penderitaan, dan jalan salib. Inilah yang tidak bisa diterima oleh akal manusia, apalagi pada zaman sekarang yang sudah terbiasa dengan segala kemudahan, kenyamanan, kesenangan dan kemewahan, sulit menerima dan menjalani kesederhanaan, kesulitan, penderitaan, dan sejenisnya. Mengikut Yesus secara totoal, tidak hanya sekadar bersedia meninggalkan perangkap kekuasaan dan kenikmatan duniawi ini, tetapi juga menyiapkan diri untuk menghadapi suatu perlawanan, pertentangan, bahkan pemisahan karena tidak semua orang berkenan menerima kerajaan Allah seperti yang diberitakan oleh Yesus.

Hanya orang-orang yang bertahan sampai pada kesudahannya yang akan selamat (Mat. 24:13).

Sunday, August 7, 2022

Allah sendirilah Hakim – Lowalangi samösa Zanguhuku (Mazmur 50:1-6)

Khotbah Minggu, 07 Agustus 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1 Mazmur Asaf. Yang Mahakuasa, TUHAN Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya.
2 Dari Sion, puncak keindahan, Allah tampil bersinar.
3 Allah kita datang dan tidak akan berdiam diri, di hadapan-Nya api menjilat, sekeliling-Nya bertiup badai yang dahsyat.
4 Ia berseru kepada langit di atas, dan kepada bumi untuk mengadili umat-Nya:
5 “Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!”
6 Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim.

Teks khotbah hari ini (ay. 1-6) merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan ayat-ayat setelahnya (ay. 7-21). Oleh sebab itu, teks khotbah ini harus dipahami dalam satu kesatuan dengan seluruh ayat dalam pasal 50 ini. Mazmur 50 secara keseluruhan menyatakan dua dakwaan umum terhadap Israel, yaitu tentang praktik penyembahan atau ibadah mereka yang tidak diterima Tuhan (ay. 7-15), dan tentang kekosongan dan kemunafikan mereka (ay. 16-21). Atas kedua dakwaan tersebut, Allah menegaskan bahwa Dia adalah Hakim yang akan menghakimi mereka dalam keadilan-Nya.

Dalam ayat 7-15, dakwaan pertama, Allah mengecam praktik penyembahan Israel. Pada prinsipnya, Allah tidak menolah ibadah umat kepada-Nya, tetapi Allah menolak penyembahan yang menggantikan ibadah yang sejati kepada Allah. Ada semacam penyalahartian dan penyalahgunaan ibadah di Israel, terutama berkenaan dengan pemberian persembahan (ibadah korban). Bangsa Israel membayangkan bahwa persembahan adalah pemberian mereka kepada Tuhan. Dengan pemahaman seperti ini, bangsa Israel menempatkan diri mereka sebagai pihak yang memenuhi kebutuhan Tuhan. Mereka adalah subjek dan Allah merupakan objek dari penyembahan dan persembahan manusia. Ada klaim yang salah dengan pemahaman dan praktik ibadah seperti ini, yaitu bahwa merekalah yang memiliki apa yang seharusnya menjadi milik Tuhan.

Sebenarnya, tidak salah menyampaikan persembahan kepada Allah, itu malah merupakan bagian dari perjanjian Allah dengan umat-Nya. Masalahnya adalah bangsa Israel mulai melihat pengorbanan mereka sebagai sesuatu yang dibutuhkan Tuhan, sebagai sesuatu yang Tuhan andalkan. Pemahaman seperti ini mirip dengan praktik ibadah paganisme di sekitar Israel kuno, dimana umat merawat, memeliharan, dan memberikan makanan kepada para dewa. Dengan memberikan pengorbanan, para penyembah menjadikan para dewa sebagai klien atau pelanggan mereka yang siap sedia. Dengan kata lain, apabila manusia memberikan pengorbanan kepada para dewa, maka manusia pun dapat mengubah dewa tersebut menjadi hamba manusia yang akan melakukan apa yang diinginkan oleh manusia. Distorsi penyembahan seperti inilah yang secara perlahan tetapi pasti mematikan manusia itu sendiri, merayap ke dalam pikiran kita seperti ular yang mendesis.

Sikap seperti inilah yang dikecam oleh Allah, bertentangan dengan prinsip iman yang sesungguhnya, mengingkari perjanjian mereka dengan Tuhan. Maka, Allah sendiri yang akan menjadi Hakim yang adil atas mereka. Itulah sebabnya pemazmur menegaskan kepemilikan dan kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan, untuk menyadarkan bangsa Israel akan kesalahan mereka dalam penyembahan dan pemberian korban kepada Allah. Apapun yang dipersembahkan oleh manusia kepada Allah, itu bukan pemberian kita seolah-olah kitalah yang memenuhi kebutuhan Tuhan. Persembahan yang disampaikan oleh manusia merupakan tindakan syukur kita atas semua yang telah dilakukan dan diberikan oleh Tuhan kepada umat-Nya. Bukan Allah yang membutuhkan pengorbanan (penyembahan dan persembahan) manusia, sebaliknya kita yang membutuhkan Allah. Apabila umat Tuhan tidak taat pada perjanjian ibadah seperti ini, maka Allah sendiri yang akan menjadi Hakim yang adil atas kita.

Dalam ayat 16-21, dakwaan kedua, keluhan serupa diajukan terhadap Israel. Pada dakwaan pertama, Allah, sebagaimana disampaikan oleh pemazmur mengeluhkan praktik beribadah bangsa Israel, sedangkan pada dakwaan kedua ini Allah mengeluhkan kekosongan dan kemunafikan bangsa yang mengaku beribadah kepada Tuhan itu. Mereka mempertontonkan ibadah (penyembahan dan persembahan) yang kelihatannya saleh, tetapi sesungguhnya penuh dengan kehampaan dan kemunafikan. Dalam realitasnya, mereka justru menjalani kehidupan yang rakus dan predator. Secara lahiriah, mereka rajin beribadah, seolah-olah taat pada keputusan Tuhan. Namun demikian, dalam kenyataannya, mereka hidup dengan cara yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, seolah-olah Tuhan tidak berdaya untuk menegakkan kehendak-Nya sendiri. Mereka melakukan apa yang baik menurut keinginan mereka, dan merasa bahwa Allah tidak bisa bertindak apa-apa atas mereka, sebab mereka sudah memberikan persembahan kepada-Nya.

Bangsa itu lupa pada perjanjian mereka dengan Allah, bahwa mereka seharusnya menunjukkan ketaatan yang tulus dan jujur di hadapan Allah. Oleh karena pelanggaran seperti ini, Allah tampil dan akan menjadi Hakim atas mereka, Hakim yang adil. Allah hanya meminta kepada manusia: “setialah dan tepati janjimu pada-Ku, seperti Aku menepati janji-Ku kepadamu.” Jangan pernah membayangkan bahwa kita bisa mengibuli Allah. Tidak akan ada satu pun yang tersembunyi di hadapan Hakim yang adil itu. Kasus Brigadir J yang viral dalam beberapa minggu terakhir, bisa saja tidak terungkap 100%, tetapi di hadapan Allah, Hakim yang adil, semuanya akan terlihat dengan jelas. Manusia tidak bisa merekayasa kasusnya di hadapan Allah, sebab Dia sudah tahu semuanya.

Banyak orang yang gagal dalam ibadah, bukan karena tidak melakukannya, melainkan karena beribadah dengan pemahaman dan cara yang salah. Banyak orang beribadah, tetapi beribadah dalam kesalahpahaman dengan arah dan orientasi yang salah. Kita bisa melihat, bahkan mungkin terlibat di dalamnya, betapa ibadah kita dewasa ini mengalami distorsi atau penyimpangan yang tidak sesuai lagi dengan kehendak Allah. Bukankah banyak orang Kristen yang beribadah secara teratur, tetapi tidak sungguh-sungguh menghayati dan menghidupi ibadahnya itu? Bukankah banyak orang Kristen yang secara lahiriah beribadah secara rutin, tetapi dalam hidupnya sehari-hari justru menunjukkan ketidaktaatan kepada Tuhan yang dia sembah itu? Bukankah banyak orang Kristen yang merasa sudah memberikan persembahan kepada Tuhan, tetapi di dalamnya penuh dengan kehampaan dan kemunafikan? Bukankah ada orang Kristen yang dapat memuji Tuhan dengan penuh semangat di dalam gereja atau dalam persekutuan-persekutuan doa, tetapi kemudian menjadi “monster” dalam keluarga, di tempat kerja, dan dalam kehidupan sehari-hari? Atas hal-hal seperti ini, Allah tampil sebagai Hakim, Dia menyatakan penghakiman-Nya yang tegas.

Allah tidak akan berdiam diri melihat manusia yang seolah-olah beribadah kepada-Nya tetapi sesungguhnya hanya sebagai kamuflase untuk menutupi kebobrokannya. Allah datang sebagai Hakim dengan segala keperkasaan dan kemahakuasaan-Nya. Manusia akan melihat sendiri bahwa Allah adalah Hakim, dan “Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim” (Mzm. 50:6).

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...