Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
Sunday, January 31, 2021
Ada Kuasa dalam Perkataan-Nya (Lukas 4:31-37)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
Saturday, January 16, 2021
Berjumpa dengan Yesus, Percaya kepada-Nya (Yohanes 1:43-51)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
44 Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus.
45 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”
46 Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”
47 Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”
48 Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”
49 Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”
50 Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.”
51 Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”
Saturday, January 9, 2021
Kemahakuasaan TUHAN (Mazmur 29:1-11)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
2 Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!
3 Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur, TUHAN di atas air yang besar.
4 Suara TUHAN penuh kekuatan, suara TUHAN penuh semarak.
5 Suara TUHAN mematahkan pohon aras, bahkan, TUHAN menumbangkan pohon aras Libanon.
6 Ia membuat gunung Libanon melompat-lompat seperti anak lembu, dan gunung Siryon seperti anak banteng.
7 Suara TUHAN menyemburkan nyala api.
8 Suara TUHAN membuat padang gurun gemetar, TUHAN membuat padang gurun Kadesh gemetar.
9 Suara TUHAN membuat beranak rusa betina yang mengandung, bahkan, hutan digundulinya; dan di dalam bait-Nya setiap orang berseru: “Hormat!”
10 TUHAN bersemayam di atas air bah, TUHAN bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya.
11 TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!
Saturday, December 26, 2020
Seruan Pujian kepada TUHAN (Mazmur 148:1-14)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
Dengan penekanan pada kedaulatan Tuhan, Mazmur 148 menyimpulkan salah satu inti teologi dari Kitab Mazmur: “Tuhan memerintah”, atau “Tuhan Raja” Penekanan ini penting karena diucapkan dan ditulis dalam dan oleh pemazmur di tengah-tengah krisis yang dialami oleh umat Tuhan selama berada di pembuangan dan pasca-pembuangan. Selama masa pembuangan (587-539 SM) dan periode pasca-pembuangan, umat Allah dikalahkan dan didominasi oleh kerajaan besar pada zaman mereka. Tampaknya kadang-kadang Tuhan tidak memegang kendali. Banyak keluhan di seluruh Mazmur dengan tepat mengungkapkan keraguan tersebut (Mazmur 44, 74, 88, 89). Tetapi kata terakhir pemazmur tidak diragukan lagi, suatu harapan: “Puji Tuhan”. Kelahiran Mesias adalah sumber pengharapan dan kegembiraan di tengah kesusahan dan tekanan hidup, bahwa Tuhan tetap patut dipuji.
Mazmur 148 dimulai dengan menyerukan pujian dari alam surgawi, dari tempat Tuhan ditahbiskan sebagai Raja atas alam semesta (ayat 1; lihat Mazmur 115:3, 16). Enam ayat pertama kemudian menjelaskan tentang panggilan awal untuk memuji. Semua yang tinggal di surga - makhluk dan benda mati - dipanggil untuk memuji. Kata yang diterjemahkan “malaikat” juga bisa diterjemahkan “utusan” (ayat 2). Makhluk semacam itu memiliki peran dasar untuk mengkomunikasikan maksud Tuhan kepada manusia. Bala tentara surgawi memiliki konotasi militer (kata tersebut muncul dalam 2 Samuel 3:23 misalnya dengan jelas mengacu pada tentara). Ayat tersebut mengasumsikan bahwa Tuhan memiliki di sekitar takhta surgawi banyak makhluk yang siap untuk diutus dengan misi ilahi.
Ayat 3-4 membuat daftar benda mati di langit yang memanggil mereka untuk memuji Tuhan. “Langit tertinggi” (langit yang mengatasi segala langit) di ayat 4 memberikan ungkapan yang tidak biasa dalam bahasa Ibrani yang secara kaku berbunyi “langit dari langit”. Ini mungkin merujuk pada titik tertinggi di atas bumi. Atau, ungkapan itu mungkin berkonotasi dengan keseluruhan alam surgawi. “Air di atas langit” mengacu pada air yang dipercaya pemazmur menyediakan hujan bagi bumi. Air seperti itu tertahan oleh kubah yang bisa dibuka untuk menyediakan hujan (bnd. Kej. 1: 6-8; 7:11).
Seperti yang dinyatakan pada ayat 5-6, Tuhan menciptakan dan membagi semua elemen ini sebagai bagian dari kedaulatan Tuhan dalam penciptaan. Poin utama di sini, seperti dalam Kejadian 1:6-8, adalah bahwa Tuhan membuat batasan yang tidak bisa dilewati air. Jadi, Tuhan menciptakan alam semesta yang memungkinkan adanya kehidupan di bumi bagi manusia dan hewan darat.
Ayat 7-12 melanjutkan seruan untuk memuji ke bawah dari langit ke bumi dan laut. Bentuk ayat 7a identik dengan ayat 1a: “puji Tuhan dari bumi” (ayat 1, “dari surga”). Kemudian ayat 7b-8 menyerukan laut dan makhluknya untuk memuji Tuhan dengan cara yang komprehensif, seperti ayat 2-6 termasuk makhluk surgawi dan elemen langit. “Monster laut” (ular-ular naga) mengacu pada makhluk misterius yang besar yang dalam beberapa teks lain dipandang sebagai simbol kekacauan dan dengan demikian merupakan ancaman terhadap tatanan yang hendak dibangun oleh Tuhan (Mazmur 74:13). Namun, dalam Mazmur 148, mereka hanyalah makhluk ciptaan Tuhan, seperti dalam Kejadian 1:21. Karena ayat 8 menyebutkan benda mati di bawah kendali Tuhan, ia menggemakan Mazmur 147: 15-18 baik dalam daftar benda maupun dalam penekanannya pada firman Tuhan.
Inklusivitas pujian dalam Mazmur 148 memiliki implikasi penting bagi pemahaman kita tentang hubungan kita dengan ciptaan lainnya. Seperti dijelaskan dalam ayat 9-12, manusia berdiri di samping hewan lain dan benda mati di bumi untuk memuji Tuhan. Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kekuasaan manusia atas bumi (Kej. 1:26, 28) dimaksudkan sebagai persekutuan untuk kebaikan ciptaan dan pada akhirnya untuk memuliakan Tuhan.
Francis dari Assisi menyusun Canticle of the Sun dengan pemikiran ini. Dalam lagu yang didasarkan pada Mazmur 148 ini, Fransiskus memanggil matahari, angin, dan api sebagai saudara (laki-laki), dan bulan, air, dan bumi sebagai saudari (perempuan). Meskipun manusia memiliki tanggung jawab unik untuk mengawasi ciptaan lainnya, mereka pada akhirnya dipanggil untuk memuji Tuhan, seperti semua ciptaan Tuhan lainnya.
Akhir dari Mazmur 148 juga penting untuk memahami sifat pujian yang dipanggil untuk bersuara. Ayat 14 berbalik dari pujian kepada Tuhan di seluruh alam semesta, dari semua ciptaan Tuhan dan karena penguasaan Tuhan atas kosmos, untuk memuji Tuhan atas tindakan penyelamatan Tuhan atas nama Israel. Memang, Mazmur 148 tidak mengizinkan pujian kepada Tuhan yang berubah menjadi pujian diri. Itu juga tidak akan memungkinkan umat Tuhan untuk melepaskan diri dari ciptaan lainnya. Perbuatan penyelamatan Tuhan atas nama mereka dimaksudkan untuk memberikan ekspresi khusus pada pekerjaan Tuhan dalam penciptaan.
Jadi, kalau benda mati ciptaan Tuhan diajak untuk memuji TUHAN, tentu saja manusia (mestinya) jauh melebihi benda-benda tersebut. Ibarat slogan motor Yamaha, selalu di depan; mestinya manusia, apalagi orang yang percaya kepada Kristus, selalu di depan dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Kesulitan-kesulitan yang dialami, tidak boleh menjadi alasan untuk tidak memuji TUHAN. Kesulitan tersebut mesti menjadi cambuk bagi kita untuk terus memuji Tuhan.
Friday, December 25, 2020
Percaya dan Hidup dalam Cinta-Kasih atau Tidak Sama Sekali (Yohanes 3:14-21)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
Yesus datang ke dunia sebagai bukti bahwa pada prinsipnya Allah memiliki kerinduan atau keinginan untuk menyelamatkan dunia, bukan untuk menghakiminya (ay. 17). Tetapi, tentu saja dunia diberi kebebasan untuk memilih: menyambut Yesus atau tidak sama sekali; menyambut keselamatan atau tidak sama sekali; menyambut cinta-kasih Tuhan atau tidak sama sekali; melihat atau memandang pada Yesus yang ditinggikan untuk tetap hidup atau tidak sama sekali.
Thursday, December 24, 2020
Jangan Takut ... Allah Datang Menyertaimu (Yesaya 9:1-6)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
Secara singkat gelar-gelar tersebut dapat dipahami sebagai berikut:
(1) Gelar pertama: Sang Ajaib – Sahölihöli dödö
(2) Gelar kedua: Sang Penasihat – Samolala tödö
(3) Gelar ketiga: Allah yang perkasa – Lowalangi Sabölö
(4) Gelar keempat: Bapa yang kekal – Ama zi lö aetu
(5) Gelar kelima: Raja Damai – Salawa wa’atulö
Yang Terakhir Yang Terbaik (Ibrani 1:1-4)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
Penulis surat Ibrani ini memulai suratnya dengan berfokus pada ‘perubahan’ metode komunikasi Allah kepada umat-Nya supaya mereka mengenal dan memuliakan Dia dengan lebih baik. Penulis membandingkan cara Allah menyatakan diri-Nya pada zaman dulu kepada umat-Nya, secara khusus pada zaman PL, dan bagaimana Allah yang sama menyatakan diri-Nya sejak zaman PB. Allah memang tidak berubah, visi-Nya tidak berubah, tetapi cara-Nya untuk berkomunikasi dengan umat-Nya berubah secara radikal. Pada zaman PL, Allah berkomunikasi dengan umat-Nya dalam pelbagi cara, antara lain: melalui mimpi kepada orang-orang tertentu seperti Yakub, melalui peristiwa ajaib seperti semak duri berapi ketika Musa berbicara dengan Allah, melalu para nabi yang menyampaikan pesan-pesan Allah kepada para hamba dan umat-Nya, dlsbg. Mestinya, bangsa Israel sudah cukup mengenal Allah dengan baik, mengenal hukum-hukum-Nya, dan memuliakan Allah dengan sepenuh hati. Sayang sekali, bangsa Israel, baik rakyatnya maupun para pemimpinnya, justru seringkali berpaling dari pada Allah, mereka dengan mudah disesatkan untuk menyembah allah lain di sekitar mereka, dan mereka hidup seperti bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.
Sekarang, tepatnya sejak zaman PB, Allah mengubah metode berkomunikasi dengan umat-Nya, Dia tidak lagi menggunakan perantara seperti mimpi, peristiwa ajaib, dan para nabi, tetapi Dia sendiri yang datang ke dunia, menyatakan diri-Nya kepada mereka, dengan maksud supaya bangsa Israel, dan bahkan bangsa-bangsa di dunia semakin mengenal Allah dengan baik, dan “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Inilah cara terakhir, atau puncak dari berbagai cara yang dilakukan oleh Allah untuk menyatakan diri dan keselamatan kepada umat manusia, cara yang terbaik, melalui kelahiran dan kedatangan Yesus ke dunia. Itulah yang kita rayakan pada hari ini, kelahiran Yesus Kristus, penyataan diri Allah secara langsung kepada kita, kedatangan keselamatan bagi umat manusia. Ini merupakan suatu kepastian bahwa kini Allah telah menyatakan diri-Nya secara langsung, tidak lagi melalui perantara, tanda bahwa Tuhan menyertai umat-Nya sekalipun iman mereka sering goyah karena berbagai godaan dan tantangan hidup.
Dalam Injil Yohanes 1:9 disebutkan bahwa “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia”. Terang itulah yang dimaksudkan di ayat 3 pada nas khotbah hari ini, Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah yang sesungguhnya. Tidak perlu lagi ada keraguan di sini, sebab melalui kelahiran Yesus, Allah datang secara nyata ke dunia, Allah yang dulu tidak kelihatan, sekarang terlihat melalui Yesus Kristus. Allah yang dulu hanya bisa ‘dijangkau’ dalam mimpi, penglihatan, dan dengan perantaraan para nabi, kini telah datang sendiri menjumpai umat manusia. Allah yang dulu begitu jauh, kini begitu dekat dengan manusia, Dia adalah Imanuel, Allah yang senantiasa beserta dengan kita.
Allah sungguh-sungguh menyertai kita
melalui kedatangan Yesus Kristus, Dia tidak membiarkan kita tenggelam dalam dosa-dosa
kita. Tuhan Yesus memiliki kuasa untuk menyucikan kita, kuasa-Nya jauh melebihi
kuasa si-apa pun, bahkan melebihi para malaikat. Ini tidak berarti bahwa kita tampil
dengan polesan-polesan yang palsu seolah-olah tidak memiliki persoalan hidup. Tetapi,
Firman Tuhan pada hari ini hendak meneguhkan iman kita bahwa, dalam situasi apa
pun, Allah tetap beserta dengan kita. Tidak ada kuasa apa pun yang dapat menghalangi
dan menghentikan kekuasaan Allah, Dia berdaulat atas segala sesuatu. Hal ini mestinya
menjadi pegangan bagi kita untuk semakin berani dan kuat menghadapi kehidupan
yang amat dinamis ini. Rasul Paulus mengatakan: “Siapakah yang akan memisahkan
kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau
kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Sebab aku yakin, bahwa
baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah,
baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di
atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan
kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 8:35,
38-39).
Jadi, tindakan Allah yang mengubah metode komunikasi-Nya dengan manusia merupakan tindakan yang penuh dengan kebijaksanaan. Dia menyatakan diri secara langsung melalui kedatangan Yesus Kristus, hendak menegaskan penyertaan-Nya kepada kita. Allah tahu bahwa manusia seringkali goyah menghadapi gelombang kehidupan, seringkali terhanyut bahkan tenggelam dalam gelombang dunia yang semakin berbahaya ini. Oleh sebab itu, Dia datang sendiri untuk menolong kita melewati gelombang kehidupan tersebut.
Kadang-kadang muncul pertanyaan klasik: “Kalau Allah memang menyertai kita, mengapa Dia membiarkan berbagai masalah bahkan kejahatan terus muncul?” Saya pun kadang mengajukan pertanyaan tersebut. Tetapi begini, Allah berjanji, dan telah menggenapinya, dan akan terus menyatakannya, bahwa Dia senantiasa beserta dengan kita. Dalam Matius 28:20b, penulis Injil Matius menegaskan penyertaan Tuhan tersebut: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Ingat, Tuhan berjanji bahwa Dia menyertai kita; Tuhan tidak berjanji bahwa dengan kuasa-Nya Dia akan menghilangkan begitu saja berbagai persoalan dan kejahatan di hadapan kita. Allah menyertai kita berarti Dia memberi kita kemampuan untuk menghadapi berbagai persoalan dalam hidup ini, Dia memberi kita hikmat untuk menghadapi berbagai kejahatan dengan cermat. Kita boleh saja berdoa supaya Tuhan menjauhkan berbagai masalah yang datang silih berganti, seperti yang Yesus ajarkan kepada kita: “jangan bawa kami ke dalam pencobaan”. Tetapi, yang paling penting adalah memohon kekuatan, keberanian, dan hikmat dari Tuhan agar kita mampu melewati masa-masa sulit dalam hidup ini. Kita tidak boleh kehilangan pengharapan, sebaliknya kita harus optimis bahwa penyertaan Tuhan itu abadi dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya.
Tema ibadah Natal I hari ini adalah Allah
berfirman dengan perantaraan Anak-Nya. Tema ini, sekali lagi, hendak menegaskan
penyertaan Allah bagi kita yang sedang gundah gulana menghadapi berbagai
masalah kehidupan saat ini. Benar bahwa tidak ada seorang pun yang pernah
melihat secara langsung Allah, tetapi kedatangan Yesus ke dunia merupakan cara
terbaik yang dilakukan oleh Allah untuk menyatakan diri-Nya kepada kita. Dalam Yohanes
1:18 dikatakan bahwa “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak
Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”.
--- Selamat Natal 25 Desember 2020 ---
Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)
Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...
-
Bahan Khotbah Minggu, 28 Maret 2020 Oleh: Pdt. Alokasih Gulo 8 Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab En...
-
(1) Kalau mau mengikuti pertemuan virtual dengan tampilan yang lebih baik, maka pakailah laptop atau PC (personal computer). Boleh sih m...
-
Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...