Thursday, December 24, 2020

Yang Terakhir Yang Terbaik (Ibrani 1:1-4)

Rancangan Khotbah Natal I, 25 Desember 2020
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo


1Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, 2maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. 3Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, 4jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Penulis surat Ibrani ini memulai suratnya dengan berfokus pada ‘perubahan’ metode komunikasi Allah kepada umat-Nya supaya mereka mengenal dan memuliakan Dia dengan lebih baik. Penulis membandingkan cara Allah menyatakan diri-Nya pada zaman dulu kepada umat-Nya, secara khusus pada zaman PL, dan bagaimana Allah yang sama menyatakan diri-Nya sejak zaman PB. Allah memang tidak berubah, visi-Nya tidak berubah, tetapi cara-Nya untuk berkomunikasi dengan umat-Nya berubah secara radikal. Pada zaman PL, Allah berkomunikasi dengan umat-Nya dalam pelbagi cara, antara lain: melalui mimpi kepada orang-orang tertentu seperti Yakub, melalui peristiwa ajaib seperti semak duri berapi ketika Musa berbicara dengan Allah, melalu para nabi yang menyampaikan pesan-pesan Allah kepada para hamba dan umat-Nya, dlsbg. Mestinya, bangsa Israel sudah cukup mengenal Allah dengan baik, mengenal hukum-hukum-Nya, dan memuliakan Allah dengan sepenuh hati. Sayang sekali, bangsa Israel, baik rakyatnya maupun para pemimpinnya, justru seringkali berpaling dari pada Allah, mereka dengan mudah disesatkan untuk menyembah allah lain di sekitar mereka, dan mereka hidup seperti bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.

Sekarang, tepatnya sejak zaman PB, Allah mengubah metode berkomunikasi dengan umat-Nya, Dia tidak lagi menggunakan perantara seperti mimpi, peristiwa ajaib, dan para nabi, tetapi Dia sendiri yang datang ke dunia, menyatakan diri-Nya kepada mereka, dengan maksud supaya bangsa Israel, dan bahkan bangsa-bangsa di dunia semakin mengenal Allah dengan baik, dan “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Inilah cara terakhir, atau puncak dari berbagai cara yang dilakukan oleh Allah untuk menyatakan diri dan keselamatan kepada umat manusia, cara yang terbaik, melalui kelahiran dan kedatangan Yesus ke dunia. Itulah yang kita rayakan pada hari ini, kelahiran Yesus Kristus, penyataan diri Allah secara langsung kepada kita, kedatangan keselamatan bagi umat manusia. Ini merupakan suatu kepastian bahwa kini Allah telah menyatakan diri-Nya secara langsung, tidak lagi melalui perantara, tanda bahwa Tuhan menyertai umat-Nya sekalipun iman mereka sering goyah karena berbagai godaan dan tantangan hidup.

Dalam Injil Yohanes 1:9 disebutkan bahwa “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia”. Terang itulah yang dimaksudkan di ayat 3 pada nas khotbah hari ini, Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah yang sesungguhnya. Tidak perlu lagi ada keraguan di sini, sebab melalui kelahiran Yesus, Allah datang secara nyata ke dunia, Allah yang dulu tidak kelihatan, sekarang terlihat melalui Yesus Kristus. Allah yang dulu hanya bisa ‘dijangkau’ dalam mimpi, penglihatan, dan dengan perantaraan para nabi, kini telah datang sendiri menjumpai umat manusia. Allah yang dulu begitu jauh, kini begitu dekat dengan manusia, Dia adalah Imanuel, Allah yang senantiasa beserta dengan kita.

Allah sungguh-sungguh menyertai kita melalui kedatangan Yesus Kristus, Dia tidak membiarkan kita tenggelam dalam dosa-dosa kita. Tuhan Yesus memiliki kuasa untuk menyucikan kita, kuasa-Nya jauh melebihi kuasa si-apa pun, bahkan melebihi para malaikat. Ini tidak berarti bahwa kita tampil dengan polesan-polesan yang palsu seolah-olah tidak memiliki persoalan hidup. Tetapi, Firman Tuhan pada hari ini hendak meneguhkan iman kita bahwa, dalam situasi apa pun, Allah tetap beserta dengan kita. Tidak ada kuasa apa pun yang dapat menghalangi dan menghentikan kekuasaan Allah, Dia berdaulat atas segala sesuatu. Hal ini mestinya menjadi pegangan bagi kita untuk semakin berani dan kuat menghadapi kehidupan yang amat dinamis ini. Rasul Paulus mengatakan: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 8:35, 38-39).

Jadi, tindakan Allah yang mengubah metode komunikasi-Nya dengan manusia merupakan tindakan yang penuh dengan kebijaksanaan. Dia menyatakan diri secara langsung melalui kedatangan Yesus Kristus, hendak menegaskan penyertaan-Nya kepada kita. Allah tahu bahwa manusia seringkali goyah menghadapi gelombang kehidupan, seringkali terhanyut bahkan tenggelam dalam gelombang dunia yang semakin berbahaya ini. Oleh sebab itu, Dia datang sendiri untuk menolong kita melewati gelombang kehidupan tersebut.

Kadang-kadang muncul pertanyaan klasik: “Kalau Allah memang menyertai kita, mengapa Dia membiarkan berbagai masalah bahkan kejahatan terus muncul?” Saya pun kadang mengajukan pertanyaan tersebut. Tetapi begini, Allah berjanji, dan telah menggenapinya, dan akan terus menyatakannya, bahwa Dia senantiasa beserta dengan kita. Dalam Matius 28:20b, penulis Injil Matius menegaskan penyertaan Tuhan tersebut: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Ingat, Tuhan berjanji bahwa Dia menyertai kita; Tuhan tidak berjanji bahwa dengan kuasa-Nya Dia akan menghilangkan begitu saja berbagai persoalan dan kejahatan di hadapan kita. Allah menyertai kita berarti Dia memberi kita kemampuan untuk menghadapi berbagai persoalan dalam hidup ini, Dia memberi kita hikmat untuk menghadapi berbagai kejahatan dengan cermat. Kita boleh saja berdoa supaya Tuhan menjauhkan berbagai masalah yang datang silih berganti, seperti yang Yesus ajarkan kepada kita: “jangan bawa kami ke dalam pencobaan”. Tetapi, yang paling penting adalah memohon kekuatan, keberanian, dan hikmat dari Tuhan agar kita mampu melewati masa-masa sulit dalam hidup ini. Kita tidak boleh kehilangan pengharapan, sebaliknya kita harus optimis bahwa penyertaan Tuhan itu abadi dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya.

Tema ibadah Natal I hari ini adalah Allah berfirman dengan perantaraan Anak-Nya. Tema ini, sekali lagi, hendak menegaskan penyertaan Allah bagi kita yang sedang gundah gulana menghadapi berbagai masalah kehidupan saat ini. Benar bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat secara langsung Allah, tetapi kedatangan Yesus ke dunia merupakan cara terbaik yang dilakukan oleh Allah untuk menyatakan diri-Nya kepada kita. Dalam Yohanes 1:18 dikatakan bahwa “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”.

--- Selamat Natal 25 Desember 2020 ---


No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...