Saturday, April 23, 2022

Perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang Mengubahkan – Falukhata khö Yesu So’aya Samohouni (Kisah Para Rasul 9:1-6)

Khotbah Minggu, 24 April 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1 Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,
2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.
3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.
4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?"
5 Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu.
6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat."

Nama “Saulus” pertama kali disebutkan dalam Kisah para Rasul ini pada pasal 7:58. Lukas memberi tahu kita bahwa pada saat Stefanus diseret keluar kota dan dilempari dengan batu, Saulus bertugas menjaga jubah orang-orang yang akan mengeksekusi Stefanus dengan cara yang brutal tersebut. Kalau membaca Kisah Rasul 8:1a, tampak bahwa Saulus bukan hanya saksi pasif atas penganiayaan Stefanus, tetapi dia “setuju kalau Stefanus dibunuh”. Itu mungkin hanya salah satu kasus penganiayaan kepada para pengikut Kristus dimana Saulus memiliki peran penting dalam penganiayaan tersebut. Pasal 8 darii Kisah Rasul ini memberikan kita cukup informasi tentang peran aktif Saulus dalam penganiayaan atau pembinasaan jemaat Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan. “Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara” (Kis. 8:3). Jadi, Saulus sangat aktif dalam mengejar dan menangkap siapa pun yang percaya kepada Kristus.

Awal pasal 9 yang kita baca tadi masih menunjukkan keaktifan Saulus dalam mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Dengan semangat yang tinggi dia meminta Imam Besar untuk memberikan kuasa kepadanya dalam menangkap para pengikut Yesus dan membawa mereka ke Yerusalem (untuk dihukum). Tetapi, perubahan dramatis justru dimulai dari puncak kebencian Saulus ini. Demikianlah Lukas, penulis Kisah Rasul ini, menyampaikan kisahnya. Pengisahan seperti ini hendak menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan dalam anugerah-Nya dapat saja mengubah siapa pun dengan cara-Nya sendiri.

Ada hal menarik sehubungan dengan sebutan yang dialamatkan kepada para pengikut Yesus dalam teks ini. Mereka disebut sebagai pengikut “Jalan Tuhan” (ay. 2). Kita tahu bahwa kemudian para pengikut Kristus ini disebut sebagai “Kristen” (Kis. 11:26). Tetapi, tampaknya sebutan sebagai pengikut “Jalan Tuhan” sengaja ditempatkan sebelum sebutan “Kristen” tersebut. Perhatikanlah dengan cermat bagaimana Saulus rela menempuh “jalan” dengan jarak yang sangat jauh, mungkin bermil-mil, hanya untuk menganiaya para pengikut “Jalan” Tuhan tersebut. Dan, dalam per-jalan-an itu pula akhirnya “jalan sesat” yang ditempuhnya “dihentikan” oleh Tuhan. Per-jalan-an ke Damsyik ini ternyata membawa perubahan dramatis dalam hidup Saulus; meninggalkan “jalan penganiayaan” yang selama ini ditempuhnya, dan masuk ke “Jalan Tuhan”, suatu jalan yang kemudian membawanya ke dalam per-jalan-an misi hingga ke ujung bumi (pada waktu itu kota Roma dianggap sebagai ujung bumi).

Kembali ke peristiwa perjalanan ke Damsyik tadi. Saat Saulus semakin dekat ke Damyik dan banyak penganiayaan baru, Saulus dikejutkan oleh cahaya yang memancar dari langit mengelilingi dia, dan dia pun rebah ke tanah, diikuti dengan suara atau sapaan surgawi. Suara tersebut adalah suara Yesus sendiri. Yesus bertanya kepada Saulus mengapa dia berusaha menganiaya Dia. Kata-kata ini hendak menegaskan bahwa ketika Saulus menindas orang beriman, dia sebenarnya sedang menganiaya Yesus sendiri. Setiap kali pengikut Kristus dilecehkan atau dianiaya, sesungguhnya Yesus paling hadir bersama dengan orang-orang yang tertindas tersebut. Itulah ciri khas dari “Jalan Tuhan”. Ini dapat menjadi penghiburan dan penguatan kepada orang-orang Kristen mula-mula bahwa Tuhan Yesus sangat tahu penganiayaan yang mereka alami, dan bahwa Tuhan tidak pernah diam atas penganiayaan yang mereka alami tersebut. Penghiburan dan penguatan seperti ini masih relevan sampai hari ini, ketika orang-orang Kristen harus mengalami penganiayaan karena mengikuti “Jalan Tuhan”.

Perintah Yesus kepada Saulus dalam teks ini sangat spesifik. Dia berkata: “bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat” (ay. 6). Ini merupakan narasi awal yang mengisahkan pertobatan Saulus. Saulus kemudian tidak hanya berpaling dari “jalan” hidup sebelumnya; hal yang paling penting adalah bahwa kelak dia dipanggil, ditugaskan, dan diutus untuk berjalan di “Jalan” yang baru. Dia menjadi rasul Kristus, terutama kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Kisah ini menunjukkan bahwa perjumpaan Saulus dengan Tuhan, mampu mengubahkan hidupnya secara radikal, bukan saja menjadi pengikut Kristus, melainkan menjadi pemberita Injil Kristus yang sebelumnya dia lawan. Demikianlah para pengikut Kristus di sepanjang zaman: perjumpaannya dengan Tuhan mestinya dapat mengubahkan hidupnya menjadi lebih baik. Tidak semua orang Kristen telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan, walaupun mungkin cukup aktif dalam berbagai kegiatan gereja, atau malah menjadi pelayan Tuhan di gereja. Seharusnya, orang Kristen yang sungguh-sungguh telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan, akan mengalami perubahan dalam hidupnya, yaitu perubahan jalan/cara hidup menjadi lebih baik.

Kisah perubahan Saulus belum berhenti pada teks khotbah hari ini. Kalau kita membaca kisah selanjutnya, maka kita akan menemukan bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang tidak biasa dalam mengubahkan hidup seseorang yang telah berjumpa dengan Dia. Dalam peristiwa Damsyik tersebut, Tuhan Yesus bisa saja langsung memberikan petunjuk yang gamblang kepada Saulus tentang apa yang harus diperbuatnya pasca perjumpaan mereka itu. Tuhan malah memilih jalan yang tidak langsung untuk memberi tahu apa yang harus dilakukan oleh Saulus selanjutnya. Tuhan memanggil Ananias, seorang murid yang ada di Damsyik, untuk menemui Saulus dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi (Kis. 9:10-12). Tentu saja, Ananias “menolak” perintah ini, sebab berita tentang kekejaman Saulus terhadap para pengikut Jalan Tuhan sudah viral ke mana-mana. Artinya, kalau datang menemui Saulus sama artinya cari mati. Demikianlah kira-kira alasan Ananias. Namun demikian, setelah Tuhan Yesus meyakinkan dia, Ananias pun mengikuti perintah Tuhan kepadanya. Saulus pun dapat melihat kembali dan malah dibaptis (Kis. 9:13-18). Ini seperti memberi pesan kepada para pengikut Jalan Tuhan (yang diwakili oleh Ananias) bahwa kini Saulus telah berubah karena dia telah berjumpa dengan Tuhan.

Peristiwa perjumpaan Saulus dengan Tuhan dalam teks khotbah hari ini mengawali kisah pemanggilannya ke dalam suatu misi Kristus bagi bangsa-bangsa. Kisah panggilan Saulus/Paulus adalah kisah yang menggugah dan terkenal. Lukas sendiri mengulangi kisah ini tiga kali dalam sisa Kisah Para Rasul (juga dalam pasal 22 dan 26). Lalu, bagaimana kisah panggilan dramatis di jalan berdebu menuju Damsyik ini memberi kita imajinasi baru? Apakah semangat hidup kita, sejauh ini, telah salah arah dan bahkan merusak diri sendiri dan orang lain? Apakah jalan hidup yang sedang kita jalani sudah berada di jalur “Jalan Tuhan” atau belum? Ingatlah, perjumpaan dengan Tuhan mestinya dapat mengubahkan hidup kita menjadi lebih baik.

Saturday, April 16, 2022

Yesus telah Bangkit – No Maoso Yesu (Lukas 24:1-12)

Khotbah Minggu Paskah, 17 April 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

24:1 Tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.
24:2 Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu,
24:3 dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.
24:4 Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.
24:5 Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?
24:6 Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea,
24:7 yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”
24:8 Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.
24:9 Dan setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain.
24:10 Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul.
24:11 Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.
24:12 Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.


Cerita Lukas pada hari ini dimulai dalam ‘kegelapan’ (masih sangat pagi): “… pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.” Mereka berangkat pagi-pagi pada hari Minggu ke makam membawa rempah-rempah yang telah mereka siapkan pada hari Jumat malam. Ini menunjukkan kasih dan hormat para perempuan itu kepada Kristus setelah Dia mati dan dikuburkan. Tetapi, kemudian mereka terkejut ketika menemukan batu sudah terguling dari kubur itu, dan tidak menemukan mayat Tuhan. Hal yang sama juga terus terjadi kepada orang-orang Kristen sampai hari ini, sering terkejut dan bingung sendiri melihat realitas yang terjadi dalam hidupnya. Kita juga sudah tahu bahwa situasi menjelang penyaliban dan kematian Yesus sebelumnya sangat tidak berpihak kepada para pengikut Yesus. Demikian juga pasca-kematian Yesus, situasinya masih mencekam. Para perempuan itu memberanikan diri datang ke kuburan Yesus (yang dijaga oleh para tentara Romawi atas permintaan tua-tua Yahudi kepada Pilatus), walaupun masih diliputi ketakutan. Maka betapa terkejutnya mereka ketika melihat kuburan telah kosong dan tidak menemukan mayat Yesus.

Dalam teks ini dideskripsikan tentang batu yang digulingkan dari sudut pandang perempuan. Realitas itu mengganggu emosi mereka. Perasaan mereka di satu sisi kebingungan, tetapi juga ketakutan akan hal yang tidak diketahui dan teror dalam menanggapi penampilan kedua orang yang berdiri dekat mereka. Tetapi, dengan tenang malaikat itu memberitakan suatu keajaiban besar, yaitu bahwa Kristus yang mereka cari telah bangkit. Para perempuan itu, para murid yang lain, dan para pendengar sepanjang zaman, diajak untuk mengingat kata-kata Yesus tentang kebangkitan-Nya. Ketika berada dalam situasi yang sulit, ingatlah selalu kata-kata Yesus, bahwa sama seperti Dia telah mengalahkan maut, demikian juga Dia akan menolong kita. Janganlah ditenggelamkan oleh aneka macam duka, ingatlah selalu perkataan Yesus. Hal ini pun berlaku ketika kita berada dalam situasi yang menggembirakan; jangan terhanyut dalam arus dunia, ingatlah selalu perkataan Yesus.

Perhatikan dengan baik pertanyaan sekaligus jawaban yang disampaikan oleh malaikat itu: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? (ay. 5). Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit (ay. 6).” Kata-kata ini mengatasi kebingungan dan ketakutan mereka, sekaligus memberi kepastian kepada mereka tentang apa yang sesungguhnya telah terjadi: Yesus telah bangkit! Kita harus yakin bahwa benar Kristus telah bangkit! Kuasa kebangkitan itu mengatasi kebingungan, kegelisahan, dan ketakutan yang seringkali menghantui hidup kita. Sebenarnya, bukan kesulitan yang sering membuat kita gagal atau jatuh, melainkan kebingungan dan ketakutan kita terhadap kesulitan itu sendiri. Lucunya, banyak orang yang bingung, gelisah, dan takut terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Banyak orang, misalnya, takut akan gelap, padahal (dalam ilmu fisika) gelap itu tidak ada; gelap adalah ketiadaan cahaya/terang. Dalam situasi apa pun, janganlah mencari Yang Hidup di antara yang mati. Kristus bangkit, Kristus hidup! Kristus adalah sumber kehidupan, bukan sumber kematian. Itu pesan penting yang disampaikan oleh malaikat kepada kita.

Para malaikat meyakinkan mereka bahwa Yesus telah bangkit dari kematian, dibangkitkan oleh kekuatan-Nya sendiri. Malaikat-malaikat dari surga ini tidak membawa Injil baru, tetapi mengingatkan para perempuan itu akan firman Kristus, yaitu perkataan Yesus kepada mereka bahwa Dia akan bangkit. Ini cukup mengherankan, sebab para murid telah bersama-sama dengan Yesus, percaya kepada-Nya sebagai Anak Allah dan Mesias, tetapi kemudian dengan mudah tidak lagi mengingat perkataan Yesus kepada mereka bahwa Dia akan bangkit dan kemudian masuk ke dalam kemuliaan-Nya. Para murid pun pernah melihat Yesus membangkitkan orang mati, sehingga seharusnya mereka sadar bahwa Yesus bangkit. Sayang sekali, mereka lupa akan kata-kata Yesus itu; ketakutan, kesedihan, dan trauma telah menghantui mereka sampai tidak lagi mengingat janji kebangkitan Yesus. Kalau Petrus berlari ke kuburan, itu lebih karena dia masih belum percaya pada berita kebangkitan Kristus. Bukankah kita pun sering bingung sendiri dengan keadaan yang sedang terjadi sampai tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, bahkan tidak tahu lagi jalan terbaik yang harus ditempuh?

Berita tentang kebangkitan Kristus tersebut akhirnya mendatangkan kegembiraan yang tiada tara bagi para perempuan itu. Mereka gembira mendengarnya, dan kemudian setelah pulang dari kuburan itu, dengan penuh kegembiraan mereka meneruskan berita tersebut. Walaupun masih dalam kebingungan, Petrus terbawa emosi kegembiraan para perempuan tersebut; dia berlari menuju kuburan Yesus, dan menemukan kebenaran berita yang disampaikan kepadanya. Namun demikian, hati Petrus masih diliputi kebingungan akan apa yang telah terjadi. Demikianlah tanggapan para murid, dan mungkin sebagian besar dari kita ketika mendengar sesuatu yang ‘agak aneh’ dan ‘ajaib’. Para murid (laki-laki) tersebut bersikap skeptis atas berita yang disampaikan oleh para perempuan itu. Skeptisisme ini ditegaskan kembali dalam kisah penampakan Emaus (Lukas 24:22-23), seperti halnya catatan skeptisisme tentang kebangkitan, dan dalam penampakan Yerusalem (Lukas 24:36-41).

Hari ini kita merayakan suatu peristiwa besar dan peristiwa kunci dalam kekristenan: kebangkitan Yesus Kristus. Peristiwa kebangkitan Kristus ini memang sungguh menakjubkan, Dia bangkit dari antara orang mati sekalipun kuburan-Nya telah ditutup dengan batu besar dan bahkan dijaga oleh para tentara. Tidak ada satu pun kuasa yang mampu menahan kebangkitan Kristus. Batu-batu penahan sebesar apa pun, digulingkan; dinding-dinding tanah setebal apa pun, diterobos; tentara-tentara sekuat apa pun, tak berdaya menghadapi kuasa kebangkitan Kristus. Sungguh-sungguh ajaib!

Tetapi, kita tidak boleh hanya terpana melihat keajaiban itu. Kebangkitan Kristus hanya akan menjadi sesuatu yang ajaib kalau dapat mengubahkan dunia atau hidup kita masing-masing. Bersukacitalah, beritakanlah, bahwa Kristus telah bangkit, dan bahwa kuasa kebangkitan itu yang akan menyertai kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Sunday, April 10, 2022

Diberkatilah Dia yang datang dalam nama TUHAN – Ya’ahowu zi So andrö ba döi Yehowa (Mazmur 118:19-29)

Khotbah Minggu, 10 April 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

19 Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN.
20 Inilah pintu gerbang TUHAN, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya.
21 Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.
22 Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.
23 Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
24 Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!
25 Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!
26 Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN.
27 Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita. Ikatkanlah korban hari raya itu dengan tali, pada tanduk-tanduk mezbah.
28 Allahku Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu, Allahku, aku hendak meninggikan Engkau.
29 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.


Hari ini kita memasuki minggu Palmarum, yaitu minggu perayaan peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem sambil dielu-elukan (dengan daun palem, bulu nohi fakhai ba we’amöi ba Yerusalema, Yoh. 12:31). Peristiwa ini sebenarnya menunjukkan kesiapan Yesus masuk dalam kesengsaraan menuju penderitaan dan kematian-Nya. Sebuah paradoks, sorak-sorai sukacita (untuk kemuliaan) justru menjadi penanda awal rangkaian penderitaan yang akan dialami oleh Yesus. Yesus masuk Yerusalem dengan menampilkan diri sebagai Mesias, Raja Penyelamat yang menderita. Mesias ini bukan orang yang datang dengan kekerasan, kekuasaan dan kekuatan untuk berperang, merampas dan menghancurkan, melainkan Raja Damai yang lemah lembut, rendah hati dan menghadirkan kehidupan. Itu semua dijalani untuk keselamatan umat manusia.

Ternyata, peristiwa penderitaan Yesus tersebut telah dinubuatkan oleh pemazmur sebagaimana teks khotbah pada hari ini. Mazmur ini menyerukan suatu kerinduan masuk ke dalam tempat kudus Allah untuk merayakan kemuliaan Dia yang datang dalam nama TUHAN. Seruan ini pada satu sisi menunjukkan keinginan pemazmur pada zamannya, tetapi pada sisi lain menggambarkan peristiwa Yesus memasuki Yerusalem. Ketika pemazmur menyampaikan seruannya ini, tidak semua orang diberi akses melewati pintu kebenaran tersebut; pintu itu tertutup terhadap orang-orang yang tidak bersunat, dan melarang orang asing mendekat, karena kurban yang dipersembahkan di sana disebut kurban kebenaran. Artinya, setiap orang yang mau masuk ke dalam persekutuan dengan Allah harus datang dengan kerendahan hati di hadapan Allah.

Ketika pintu-pintu kebenaran dibukakan bagi kita, kita harus masuk ke dalamnya, harus masuk ke tempat yang paling suci, dan dengan kerendahan hati memuji Tuhan. Urusan kita di dalam gerbang Tuhan adalah menyembah Dia dengan pujian dan korban persembahan kepada-Nya. Kalau pintu-pintu kebenaran dibukakan bagi kita, itu berarti keselamatan datang atas kita, sebab dengan demikian kita dipersilakan masuk ke dalam rumah Allah, rumah keselamatan. Selama pintu rumah, misalnya, belum dibuka bagi kita, maka kita tidak akan bisa masuk ke dalam suatu rumah, kita tetap berada di luar rumah itu. Demikianlah dengan pintu-pintu kebenaran itu, ketika tidak dibuka maka kita tidak masuk ke dalam gerbang kebenaran tersebut. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa Yesus telah memenuhi semua persyaratan masuk ke dalam rumah TUHAN tersebut; Dia memenuhinya dengan jalan salib, jalan penderitaan yang seharusnya kita tanggung. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa dengan penderitaan Yesus tersebut, pintu-pintu kebenaran tersebut dibukakan bagi kita. Yesus sendiri mengatakan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku - Yaʼodo lala, yaʼodo waʼaduhu, yaʼodo waʼauri. Lõ sondrugi Ama, na lõ itõrõ ndraʼo” (Yoh. 14:6). Yesus juga pernah mengatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu - Si ndruhundruhu niwaʼõgu khõmi, yaʼodo mbawandruhõ ba mbiribiri” (Yoh. 10:7). Oleh sebab itu, ketika pintu kebenaran itu telah dibukakan bagi kita … mari segera masuk ke dalam gerbang kebenaran Allah, mari segera masuk ke dalam rumah Tuhan, mari segera masuk ke dalam rumah keselamatan yang telah disediakan Tuhan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Jangan banyak alasan untuk menunda masuk, segeralah, pintu kebenaran terbuka bagi kita di dalam Yesus Kristus.

Jalan penderitaan yang harus ditempuh oleh Yesus dan berubah menjadi jalan kemuliaan ternubuatkan melalui perkataan pemazmur di ayat 22: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Daud dulu pernah juga dibuang oleh raja Saul bahkan dikejar seperti seorang buronan, tetapi oleh pemeliharaan Allah yang luar biasa, Daud kemudian justru menjadi raja besar di Israel. Demikianlah dengan Yesus, ibarat batu yang dibuang oleh tukang bangunan. Yesus mengalami penghinaan, ditolak, dan dianggap penyesat oleh orang-orang Yahudi, secara khusus para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus harus menempuh jalan salib yang amat hina sampai mati di kayu salib. Orang-orang menganggap Dia terkena kutuk/hukuman Allah. Tetapi lihatlah kemudian, Yesus justru menjadi batu penjuru yang di atas-Nya bangunan didirikan dengan kokoh. Yesus adalah batu keselamatan kita; oleh karena Dialah pintu-pintu kebenaran itu dibukakan bagi kita; oleh karena penderitaan dan kematian Yesus kita diberi akses untuk masuk melalui gerbang kebenaran, masuk ke dalam rumah TUHAN, rumah keselamatan.

Oleh sebab itu, kita mesti mensyukuri rahmat Allah yang begitu besar dalam kehidupan kita. Yesus telah membukakan jalan bahkan telah menjadi jalan kebenaran dan kehidupan bagi kita. Datanglah dan masuklah ke dalam rumah TUHAN, dan percayalah Dia senantiasa memberkati kita. Pemazmur menegaskan hal ini dengan berkata: “Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN” (ay. 26). Di dalam rumah TUHAN kita memuliakan Tuhan dengan pujian dan korban persembahan kita. Itu sudah patut kita lakukan sebagai ungkapan syukur kita kepada-Nya. Penderitaan dan pengorbanan Yesus supaya pintu kebenaran dibukakan bagi kita sungguh luar biasa, sungguh suatu perbuatan ajaib dari Allah sendiri. Oleh sebab itu, “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (ay. 29).

Mari bersyukur kepada TUHAN, mari memuliakan Tuhan Yesus di tempat yang mahatinggi. Penulis Injil Matius mengajak kita untuk menyerukan suatu pujian kemuliaan bagi Tuhan: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat. 21:9b).

Saturday, April 2, 2022

Berlari menuju Panggilan Surgawi – Usawagö ba Wogaoni Soroi Zorugo (Filipi 3:4b-14)

Khotbah Minggu, 3 April 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

4b Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:
5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,
6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.
10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Setiap orang memiliki latar belakang kehidupan yang unik. Ada orang yang latar belakang kehidupannya cukup membanggakan menurut ukuran duniawi. Ada juga yang biasa-biasa saja. Tidak sedikit juga yang merasa bahwa tidak ada yang patut dibanggakan dari latar belakang kehidupannya. Sebagian ada yang merasa kecewa dengan kehidupan masa lalunya, malah ada yang kecewa dilahirkan dan atau dibesarkan dalam keluarga tertentu. Bagaimanakah kita? Apakah latar belakang kehidupan kita istimewa menurut ukuran duniawi? Atau biasa-biasa saja? Atau malah cukup suram?

Adalah Paulus, Rasul Kristus yang terkenal itu, menguraikan satu per satu hal-hal yang patut dibanggakan dari latar belakang kehidupannya. Apa saja?

- Disunat pada hari kedelapan; jadi dia adalah keturunan asli Abraham (Kej. 17:12; Im. 12:3), dan bukan keturunan Ismael yang disunat pada hari ketigabelas (Kej. 17:25). Istimewa bukan?
- Berasal dari bangsa Israel; keturunan Yakub yang diberi nama oleh Allah sebagai Israel (Kej. 32:28). Paulus murni Israel. Istimewa bukan?
- Berasal dari suku Benyamin; suku ini adalah anggota elit bangsa Israel, kaum bangsawan; anak Rahel, istri kesayangan Yakub dan lahir di tanah perjanjian (Kej. 35:17, 18); raja pertama Israel berasal dari suku ini; nama asli Paulus adalah Saulus; suku yang tetap setia kepada Yehuda (1 Raj. 12:21); dilahirkan kembali (Ezr. 4:1). Itulah Paulus. Istimewa bukan?
- Orang Ibrani asli, yaitu orang yang masih menguasai bahasa Ibrani sekalipun mereka berada di tengah-tengah bangsa yang didominasi oleh bahasa Yunani. Ia lahir di kota Tarsus, datang ke Yerusalem untuk belajar di bawah bimbingan Gamaliel (Kis. 22:3).
- Telah dididik menjadi orang Farisi, yang sangat kuat/fanatik memelihara hukum Taurat beserta tradisi-tradisinya, dan Paulus sangat taat.
- Penganiaya Gereja; inilah ciri khas orang Yahudi/farisi asli, membela Allah (bnd. Bil. 25:11-13). Artinya, Paulus sangat mengenal agama Yahudi, bahkan sangat fanatik.

Intinya, secara umum Paulus memiliki latar belakang kehidupan yang luar biasa menurut ukuran pada zaman itu. Menjadi orang Yahudi pada waktu itu adalah sebuah kebanggaan, suatu kelebihan yang luar biasa, apalagi kalau ditambah dengan latar belakang pendidikan keagamaan Yahudi yang memadai. Paulus memiliki semua itu, dan wajar kalau dia merasa beruntung dengan latar belakang kehidupannya itu. Tetapi sebenarnya, uraian Paulus ini dimaksudkan untuk menanggapi guru-guru Yahudi yang telah menyebarkan ajaran-ajaran yang menyesatkan pada waktu itu. Dengan keras Paulus menyebut mereka sebagai “anjing-anjing, pekerja-pekerja jahat, dan penyunat-penyunat palsu” (Fil. 3:3). Guru-guru Yahudi penyesat ini sebelumnya telah memprovokasi jemaat untuk kembali ke tradisi lama, terutama tradisi sunat, seolah-olah tradisi itu yang menyelamatkan mereka. Mereka juga tampaknya menyerang ke-yahudi-an Paulus dan orang-orang Kristen di Filipi. Itulah sebabnya Paulus dengan keras melawan mereka; dan sekarang, seperti dalam teks tadi, Paulus mau membuktikan bahwa dia sebenarnya memiliki keistimewaan sebagai orang Yahudi. Dia menunjukkan identitas ke-yahudi-annya, yang bahkan mungkin melebihi keistimewaan para guru Yahudi itu.

Demikianlah Paulus menyebutkan satu per satu keistimewaan, keberhasilan, dan kebanggaan yang dimilikinya, mengalahkan guru-guru Yahudi penyesat itu. Dia hanya membuktikan kepada para penyesat itu bahwa sesungguhnya dia pun mempunyai hak istimewa yang dibawa sejak lahir, dan dia boleh saja berbangga dengan itu.

Lalu, apakah Paulus tetap berbangga diri dengan semua keistimewaannya itu? Tidak! Sejak dia bertemu dengan Kristus, dia membuang semua kebanggaan duniawinya itu, dan malah menganggapnya sebagai kesia-siaan (ay. 7-8a). Sekarang, Paulus menegaskan bahwa keberhasilan manusia haruslah dikesampingkan agar dapat menerima anugerah Kristus yang cuma-cuma itu. Orang Kristen yang hidup di dalam Kristus, atau yang Kristus hidup di dalamnya, haruslah menanggalkan segala kebanggaan, kehormatan, harga diri, keberhasilan, dan keistimewaan duniawi itu, supaya dapat menerima kemurahan Allah dalam Kristus dengan penuh kerendahan hati. Tidak ada yang dapat dibandingkan dengan Kristus, entah latar belakang kehidupan yang membanggakan, atau pun masa lalu yang suram. Kristus melampaui semuanya itu. Manusia tidak perlu menjadikan latar belakang kehidupan atau masa lalunya tersebut sebagai ukuran keselamatan, apalagi menjadikannya sebagai media untuk menganggap rendah orang lain. Orang yang telah berada di dalam Kristus justru menganggap semua itu sebagai suatu kerugian. Satu-satunya keuntungan yang sejati adalah ketika kita mengenal dan berada di dalam Kristus.

Sebagai orang Yahudi asli, menaati hukum taurat adalah sebuah keberhasilan, tidak banyak orang yang mampu mencapainya. Namun demikian, sejak mengenal Kristus, Paulus menganggap bahwa ketaatan yang jauh lebih bermakna, jauh lebih menguntungkan adalah ketaatan kepada kebenaran Kristus. Ketaatan kepada Kristus inilah yang kemudian mendorong orang percaya untuk berperilaku menyerupai Kristus yang sempurna. Paulus menggunakan metafora perlombaan untuk menggambarkan apa artinya untuk mengikut Kristus. Baik orang Yunani maupun orang Romawi adalah penggemar setia kontes olahraga. Kadang-kadang bentuk permainan atau olahraga Romawi adalah kekerasan dan kejam, tetapi penekanan utama sesungguhnya adalah pada upaya petarungnya meraih kemenangan dengan mencurahkan seluruh kekuatan, daya tahan, dan kecepatannya, tidak boleh “tanggung-tanggung” (tasi igohi, manga gi’o manga högö, aefa furi aefa föna). Lomba lari misalnya, ketika pelari memenangkan lomba itu, mereka akan memperoleh hadiah. Hadiah yang jauh lebih bernilai adalah berupa pengakuan dan kehormatan yang mereka terima. Setelah kontes selesai, pemberita menyatakan pemenangnya, dan orang-orang dari kampung halamannya serta hakim memberikan kepadanya ranting palem. Pada akhir permainan, masing-masing pemenang menerima karangan bunga yang terbuat dari daun zaitun atau pohon salem (kebiasaan ini sudah ada dalam tradisi Yunani, tradisi yang ada kaitannya dengan dewa Delphi).

Paulus mengulangi pernyataannya bahwa ia belum mencapai kesempurnaan spiritual itu. Ia juga memberi penekanan bahwa di dalam Kristus keyakinan lahiriah tidak ada apa-apanya di hadapan karunia Allah. Artinya, kalau Paulus sendiri tidak mengklaim diri sudah lengkap secara spiritual, maka orang-orang Kristen di Filipi pun seharusnya tidak boleh bermegah dalam dan dengan alasan apa pun.

Pertama, orang-orang percaya bisa menempatkan masa lalu mereka di belakang mereka. Kita belajar dari Paulus bahwa meskipun dedikasinya kepada hukum Musa tidak perlu diragukan lagi, namun ia telah gagal memperoleh karunia Allah dan kebenaran-Nya. Oleh sebab itu, Paulus ia tidak ingin mengingat masa lalunya itu dengan tujuan yang hampa, tetapi bagaimana semuanya itu dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan spiritualnya. Dia tidak mau terjebak dalam kebanggaan yang berlebihan atau sebaliknya penyesalan yang tiada akhir akan masa lalunya; dia tidak mau kalau masa lalunya menghalangi perkembangan kehidupannya saat ini dan kehidupannya di masa yang akan datang.

Kedua, Paulus dan orang-orang Kristen di Filipi harus berusaha mendapatkan hadiah masa depan yang menanti mereka, yaitu “keselamatan yang sempurna”. Dengan menggunakan analogi olahraga lari, Paulus menekankan pentingnya mengerahkan seluruh kemampuan untuk terus maju dan mencapai garis finish, untuk menjadi lebih serupa dengan gambar Kristus. Namun, perlu diingat dengan baik, bahwa Paulus tidak pernah berusaha untuk unggul di atas semua orang percaya lainnya dengan menghalalkan segala cara, tetapi berusaha mendapatkan hadiah yang diberikan oleh Yesus kepada semua orang yang berusaha mengejar Dia (Fil. 3:14).

Kadang-kadang kita, sebagai orang percaya, bisa tetap terjebak di masa lalu. Apabila kita belajar untuk meninggalkan kegagalan dan atau kebanggaan (kejayaan) dari masa lalu kita di belakang, maka kita menantikan imbalan abadi Allah bagi kita di masa depan. Butuh perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang bangkit untuk mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik. Kita tidak perlu terjebak dalam penyesalan dan atau kebanggaan berlebih akan apa yang pernah kita raih/alami sebelumnya, kita juga tidak perlu terbuai dengan impian masa depan yang seringkali tidak realistis. Saat ini, “kita berlari mengejar” kesempurnaan dalam Kristus, sambil menjaga mata melihat masa depan yang lebih baik. Dalam konteks itulah Allah telah memanggil kita, memanggil kita semua untuk berlari ke arah-Nya.

Cara kita memperlakukan hidup saat ini sangat dipengaruhi oleh cara kita menerima masa lalu dan memandang masa depan. Masa lalu – entah kegagalan/kepedihan atau pun kebanggaan/kesuksesan – mendorong kita untuk bersikap dan berperilaku seperti sekarang ini, dan masa depan – entah pesimis atau pun optimis – menarik kita untuk bersikap dan berperilaku seperti sekarang ini. Jadilah pengikut Kristus yang terus berlari menuju panggilan surgawi.

Saturday, March 19, 2022

Bertobat supaya tidak binasa – Falalini Gera’era ena’ö lö tekiko (Lukas 13:1-9)

Bahan Khotbah Minggu, 20 Maret 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.
2 Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?
3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.
4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?
5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”
6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.
7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!
8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,
9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”


Teks khotbah hari ini berbicara tentang tanggapan Yesus atas peristiwa lokal yang diceritakan oleh beberapa orang kepada-Nya. Isu lokal dimaksud adalah tentang “orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan” (ay. 1).

Melalui peristiwa ini, Yesus hendak mengajak pendengar-Nya untuk menyadari bahwa peristiwa masa lalu tersebut sudah terjadi dan tidak dapat dikendalikan atau tidak mungkin diubah lagi. Belajar dari peristiwa tersebut, Yesus mendorong orang-orang untuk mengubah apa yang bisa mereka ubah, baik pikiran maupun tindakan. Pikiran dan tindakan yang baik memang tidak dapat menjadi jaminan bebas dari pengalaman buruk (seperti yang dialami oleh orang-orang Galilea tersebut), tetapi paling tidak perubahan pikiran dan tindakan akan mendorong manusia untuk lebih siap menghadapi apa pun yang akan terjadi dalam hidupnya.

Sekarang mari kita dalami sejenak peristiwa tersebut dan bagaimana tanggapan Yesus terhadapnya. Dikabarkan bahwa Pilatus, Gubernur di wilayah Galilea, telah mengeksekusi sejumlah orang Galilea dan darah mereka dicampurkannya dengan darah korban persembahan mereka. Apa yang penting dicatat dari peristiwa ini? Pertama, Yesus adalah orang Galilea, yang berarti bahwa kekerasan atau eksekusi tersebut berdampak pada orang-orang dari Galilea, orang-orang yang dikenal dan tumbuh bersama dengan Yesus. Kedua, Pilatus adalah orang yang ditunjuk langsung oleh kekaisaran Romawi untuk menjadi gubernur di Galilea. Pilatus ini memiliki rekam jejak sebagai penguasa yang haus darah dan sering bertindak kejam. Pilatus melambangkan kebrutalan yang menimbulkan rasa takut bagi rakyat banyak. Yesus sendiri pun di kemudian hari dieksekusi oleh Pilatus. Ketiga, berita yang mengatakan bahwa Pilatus mencampurkan darah orang-orang Galilea yang dieksekusi tersebut dengan darah korban persembahan mereka, sesungguhnya merupakan sindiran tajam yang disampaikan oleh Lukas kepada para pembaca bahwa Pilatus telah melanggar praktik ritual orang Galilea.

Kita tidak bisa berandai-andai lebih banyak tentang maksud dari peristiwa ini, sebab tidak ada sumber di luar Lukas yang melaporkan peristiwa dimaksud. Namun demikian, kita dapat melihat di sini bahwa kaki tangan imperium Romawi (dalam hal ini Pilatus) sepertinya memiliki kebebasan (entah legal atau ilegal) untuk melanggar batas-batas atau ketentuan praktik suci keagamaan sesuai keinginan mereka sendiri.

Bagaimana Yesus menanggapi peristiwa tersebut? Ternyata Dia tidak membahas Pilatus; Yesus malah berbicara tentang sesama orang Galilea. Dia bertanya: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?” (ay. 2). Sepertinya pertanyaan Yesus ini ada kaitannya dengan pola pikir “hitam-putih” masyarakat pada waktu itu, cenderung menghubungkan suatu peristiwa buruk dengan dosa. Pola pikir ini sebenarnya dipengaruhi oleh pengajaran yang diterima dari generasi ke generasi, bahwa orang berdosa akan dihukum oleh Tuhan (lih. Ul. 28:20). Ada juga pemahaman populer lainnya tentang pembalasan ilahi yang menganggap hukuman, terutama bencana, sebanding dengan kejahatan atau dosa. Atas kedua pola pikir atau pemahaman ini Yesus dengan tegas menyatakan ketidaksetujuan-Nya. Dia berkata, “Tidak!” (Yun. ouchi) (ay. 3a).

Paling tidak ada dua alasan mengapa Yesus tidak setuju dengan pikiran atau pemahaman masyarakat pada waktu itu tentang dosa dan bencana atau malapetaka. Pertama, keputusan Pilatus dan antek-antek kekaisaran Romawi, tidaklah identik dengan keadilan Tuhan. Artinya eksekusi yang dilakukan oleh Pilatus kepada orang-orang Galilea tersebut, apalagi dengan mencampurkan darah mereka dengan darah korban persembahan, tidak mewakili keadilan Allah. Ingat, Pilatus adalah wakil kekaisaran Romawi di wilayah Galilea dengan rekam jejak yang buruk. Tindakan eksekusi yang dilakukannya tersebut bukan representasi hukuman dari Allah. Hal ini kemudian semakin diperkuat oleh Lukas ketika pada akhirnya Pilatus yang sama mengeksekusi Yesus untuk disalibkan. Sekali lagi, Pilatus bukanlah wakil Allah, melainkan wakil kekaisaran Romawi; dia bertindak atas nama kekaisaran Romawi tersebut, bahkan seringkali atas nama dan keinginannya sendiri, bukan atas nama Allah.

Kedua, Yesus mengingatkan pendengar-Nya bahwa peristiwa-peristiwa buruk bukanlah akibat dari kesalahan manusia atau hukuman Tuhan. Yesus menunjukkan hal ini dengan mengingatkan mereka akan delapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam (ay. 4). Lalu Yesus mengajukan pertanyaan yang substansinya sama dengan pertanyaan sebelumnya, apakah mereka yang mati ditimpa menara tersebut jauh lebih berdosa daripada orang-orang lain yang tinggal di Yerusalem. Yesus pun menegaskan sikapnya yang tidak setuju dengan pemahaman yang berkembang pada waktu itu. Dia berkata: “Tidak!” (ay. 5). Sama seperti orang-orang Galilea yang dieksekusi oleh Pilatus, peristiwa yang menimpa delapan belas orang tersebut tidak menunjukkan tingkat kerusakan moral atau kejahatan mereka. Mereka adalah korban dari bencana yang mengejutkan dan tidak terduga. Dengan demikian, Yesus menekankan bahwa kedua peristiwa tersebut tidak dapat diprediksi dan tidak dapat diubah. Yesus hendak mendorong para pendengar-Nya untuk mengubah pola pikir atau pemahaman mereka yang nanti akan mengubah cara mereka bertindak.

Yesus memberitahu mereka untuk bertobat (Yun. metanoeō), yaitu untuk mengubah pikiran, cara pandang, atau pemahaman mereka atas realitas ketidakadilan dan ketidakbenaran. Mengubah pikiran yang dimaksud di sini dengan sendirinya mengarah pada perubahan perilaku. Istilah “bertobat” yang dipakai di sini merupakan terjemahan Yunani dari bahasa Ibrani (shuv), yang artinya “kembali” atau “berbalik” atau “pulang”. Yesus mengajak pendengar-Nya untuk menyesuaikan arah hidup mereka saat ini dan kembali kepada jalan Tuhan. Jika mereka memilih untuk tidak kembali atau memilih untuk tidak berubah pikiran, risikonya adalah kebinasaan (Yun. apollumi) dengan cara yang sama (Yun. ōsauts), sama seperti orang Galilea (yang dieksekusi Pilatus) dan orang Yerusalem (yang ditimpa menara). Ungkapan “dengan cara yang sama” (atas cara demikian) berarti “dengan tiba-tiba dan dalam situasi orang-orang tidak siap.” Yesus tidak mengatakan bahwa dengan bertobat maka otomatis kehancuran, kebinasaan, atau kematian tidak akan menimpa mereka. Yesus justru hendak mengatakan bahwa dengan mengubah pikiran menjadi lebih baik/lurus, orang-orang akan mempersiapkan diri mereka menghadapi situasi apa pun yang mungkin saja terjadi dengan tiba-tiba. Pesan intinya adalah untuk apa pun yang akan dialami, hasilkanlah buah yang baik. Itulah wujud dari pertobatan yang dimulai dari perubahan pikiran, cara pikir, atau pemahaman tadi.

Untuk menjelaskan maksud-Nya, Yesus mengilustrasikannya dengan suatu perumpamaan tentang pohon ara yang tidak menghasilkan buah dalam tiga tahun. Perihal “menghasilkan buah” merupakan tema penting dalam Injil Lukas (lih. misalnya Luk. 3:7-14; 6:43-45; Luk. 8:4-15). Sejalan dengan pemahaman Lukas tentang bagaimana buah pohon mencerminkan sifatnya, pohon ara yang disebutkan dalam Lukas 13 tidak berbuah merupakan ciri dari pohon yang buruk. Sang tuan (Yun. kurios, ayat 8) menyuruh pengurus kebunnya untuk menebang pohon itu. Pengurus kebun kemudian menyarankan untuk memberi waktu satu tahun lagi merawat pohon tersebut, baru setelah ditebang kalau masih tidak menghasilkan buah (ay. 8-9).

Pesan Yesus melalui perumpamaan ini cukup jelas: “janganlah menjadi orang yang hidupnya seperti pohon yang tidak berbuah.” Daripada menghabiskan waktu dan energi membahas beratnya pelanggaran orang lain dan kemalangan yang mereka alami, pastikan diri masing-masing menghasilkan buah yang baik. Daripada kita menghubung-hubungkan kemalangan orang lain dengan dosa-dosanya, lebih baik pastikan diri sendiri tidak kehilangan buah yang baik. Daripada sibuk menilai orang lain seolah-olah mereka lebih buruk, lebih baik nilai diri sendiri dan pastikan bahwa kualitas diri kita sungguh-sungguh menghasilkan buah yang baik. Kata-kata Yesus dalam perumpamaan ini menunjukkan bahwa merawat kehidupan sendiri dan secara positif mengubah pikiran sendiri adalah strategi terbaik untuk mencegah atau bertahan dalam menghadapi malapetaka atau situasi sulit yang tidak terduga. Jika seseorang menolak untuk melakukan jenis pekerjaan seperti ini, mengubah pikiran dan perilakunya, sesungguhnya dia sudah binasa.

Saturday, March 12, 2022

Berserah kepada Rencana Tuhan – Folulu Fa’auri Amatöröwa Zo’aya (Kejadian 15:1-6)

Khotbah Minggu, 13 Maret 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.”
2 Abram menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.”
3 Lagi kata Abram: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.”
4 Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.”
5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

Konteks
Dalam Kejadian 1-11, TUHAN bergumul dengan seluruh umat manusia yang penuh dosa dan kekerasan. Mulai dari Kejadian 12, TUHAN mencoba pendekatan baru dalam upaya menebus dunia. Tuhan memilih dan memusatkan perhatian pada satu keluarga: keluarga Abraham dan Sarah.

Abram (namanya kemudian diubah menjadi Abraham — Kej. 17:5) berusia 75 tahun (Kej. 12:4), dan istrinya Sarai (namanya kemudian diubah menjadi Sara — 17:15) “mandul, dia tidak mempunyai anak” (11:30). Tuhan memilih untuk memberi perhatian khusus kepada pria tua dan wanita mandul ini. Tuhan menjanjikan pasangan ‘yang tidak menjanjikan ini’ bahwa mereka akan menjadi “bangsa yang besar” (12:2). TUHAN akan memberi mereka tanah Kanaan (12:7), dan keturunan sebanyak debu tanah (13:14-17). TUHAN akan memberkati mereka sehingga “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (12:3).

Abraham, Teladan Iman
Perjanjian Baru menggambarkan Abraham sebagai model iman (Rm. 4:3; Gal. 3:6; Yak. 2:23; Ibr. 11:8-11). Tetapi seperti apakah iman Abraham? Apakah kepercayaannya tidak diragukan lagi? Atau, apakah imannya itu buta? Apakah dia tidak pernah mengeluh? Seperti itukah iman yang alkitabiah? Kejadian 15 tidak akan menolong banyak dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun demikian, ada beberapa pelajaran iman yang dapat kita petik dari kisah Abram ini seperti diuraikan pada bagian berikut.

Tuhan Selalu Menjanjikan
Satu ciri yang konsisten di seluruh kisah Abraham dan Sara adalah bahwa TUHAN terus mengulangi firman yang dijanjikan kepada mereka (Kej. 12:1-3, 7; 13:14-17; 17:1-8, 15 -21; 18:10; 21:12-13; 22:15-18). Jadi, janji Tuhan dalam Kejadian 15:1 adalah salah satu dari rangkaian panjang janji-janji yang meyakinkan, “Jangan takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” Demikianlah Tuhan, berjanji dan terus mengulang janji-janji-Nya, menandakan kesungguhan-Nya. Oleh sebab itu, jangan pernah bosan mendengar janji-janji Tuhan dalam hidup ini; Dia memang terus berjanji dan bahkan mengulang-ulangnya, tetapi Dia tidak seperti para politisi yang tidak bisa memenuhi janji-janji politik mereka.

Mengeluh dan Meratap merupakan bagian dari Iman
Abram mendengar janji itu tetapi dia tidak puas. Dia menyesali bahwa Tuhan tidak memberinya anak, tidak ada keturunan biologis. Lalu bagaimana bisa upahnya besar dan bagaimana dia bisa menjadi bangsa yang besar jika dia tidak memiliki seorang anak pun untuk meneruskannya? Kehidupan iman adalah dialog bolak-balik yang konstan antara Tuhan dan kita. Tuhan berjanji, kita berharap dan percaya. Tentu saja kita menjadi kecewa atau tidak sabar atau putus asa atau marah ketika janji-janji itu tampaknya tidak menjadi kenyataan. Mengeluh dan meratap merupakan salah satu cara untuk menjaga hubungan kita dengan Tuhan tetap hidup di masa-masa sulit. Jangan takut untuk mengeluh dan meratap di hadapan Tuhan, sebab itu merupakan bagian dari iman kita. Dengan mengeluh dan meratap, kita menggumuli iman yang kita hidupi, dan itu akan terus mendorong kita untuk berharap dan percaya pada Tuhan. Seorang anak misalnya, akan terus mengeluh dan meratap kepada orangtuanya, menandakan bahwa ada hubungan khusus di antara mereka.

Tuhan Menunjukkan kepada kita apa yang perlu kita Jalankan
TUHAN meyakinkan Abram bahwa dia akan memiliki anak kandungnya sendiri sebagai keturunannya. Lebih dari itu, Tuhan membawa Abram ke luar pada malam hari dan memintanya “untuk menghitung bintang di langit jika engkau dapat menghitungnya” (15:5). Apakah Abram mampu menghitungnya? Pasti tidak mampu! Lalu Tuhan menegaskan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Ini menunjukkan berkat Allah yang tak terhitung yang akan diterima oleh Abram. Ajakan Tuhan kepada Abram untuk melihat langit pada malam hari menjadi semacam pengingat nyata dari janji itu. Setiap malam, ketika Abram melangkah keluar tendanya, menatap galaksi-galaksi, dan takjub bahwa keturunannya akan berjumlah sebanyak semua bintang yang tak terhitung itu. Ada berbagai cara yang dipakai oleh Allah untuk membantu kita mengingat dan percaya pada janji-janji-Nya. Kiranya itu menjadi penyemangat bagi kita dalam menjalani kehidupan yang mungkin saja sedang sulit.

Iman dan Perbuatan
Teks khotbah hari ini kita diakhiri dengan salah satu teks Perjanjian Lama yang paling penting untuk Perjanjian Baru dan pembahasannya tentang hubungan iman dan perbuatan, hubungan percaya dan taat. Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (ay. 6). Abram sekarang puas, mengingat bagaimana TUHAN telah menegaskan kembali janji itu.

Perhatikan bagaimana Paulus dan Yakobus menggunakan ayat yang sama untuk sampai pada kesimpulan yang agak berbeda. Bagi Paulus, kepercayaan Abram pada janji Tuhan dan dengan demikian kebenarannya di hadapan Tuhan dalam Kejadian 15:6 datang berurutan sebelum Abram menaati perintah Tuhan untuk menyunat isi rumahnya (Kejadian 17:9-14, 23). Bagi rasul Paulus, urutannya menunjukkan bahwa kebenaran melalui iman dalam janji-janji Allah (Kejadian 15) datang sebelum dan terlepas dari pekerjaan ketaatan (Kejadian 17).

Bagi Yakobus, orang harus membaca seluruh kisah Abraham dari awal sampai akhir sebagai satu bagian. Yakobus berpendapat bahwa kebenaran oleh iman (Kejadian 15:6) selalu disertai dengan perbuatan dan ketaatan (kemauan Abraham untuk mempersembahkan anaknya Ishak sebagai korban dalam Kejadian 22). Jadi, ada hubungan iman dan perbuatan.

Teks ini tidak sekadar berbicara tentang “anak” atau “keturunan”, tetapi pada iman yang terus hidup pada masa-masa sulit, bahkan ketika hampir tidak ada jalan keluar. Abram mustahil memiliki anak di usia tuanya, tetapi pada akhirnya dia percaya pada janji Tuhan. Berserah kepada Rencana Tuhan – Folulu Fa’auri Amatöröwa Zo’aya, sebagaimana tema minggu ini, hendak mengajak kita untuk terus memelihara hubungan kita dengan Tuhan dalam situasi apa pun, bukan sekadar pasrah tanpa bergumul. Kita terus menggumuli banyak hal dalam hidup ini, dan pada saat yang sama kita berserah pada rencana Tuhan.

Saturday, February 26, 2022

FIRMAN TUHAN SUMBER KEKUATAN UNTUK MELAKUKAN PEKERJAANNYA – TAROMA LI ZO’AYA ANDRÖ NO UMBU WA’ABÖLÖ BA WAMALUA HALÖWÖ-NIA(YESAYA 55:10-13)

Khotbah Minggu, 27 Februari 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
12 Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan.
13 Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.

Setiap orang pasti menginginkan kehidupan yang lebih baik. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik itu, manusia dari berbagai tempat, zaman, dan konteks selalu berjuang dengan berbagai cara. Keinginan dan perjuangan kita untuk kehidupan yang lebih baik amatlah wajar, bahkan sangat ilahi. Bangsa Israel pun pada zaman nabi Yesaya merindukan kehidupan yang lebih baik itu, dan bahkan Tuhan sendiri pada zaman itu hingga zaman sekarang, menginginkan supaya umat manusia ciptaan tangan-Nya itu mendapatkan kehidupan yang lebih baik, lebih manusiawi, lebih membahagiakan, baik pada saat ia hidup di dunia ini maupun pada zaman yang akan datang (akhir zaman).

Persoalannya ialah bahwa banyak orang yang – entah sadar atau tidak, sengaja atau tidak – justru merusak kehidupannya sendiri bahkan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Perhatikan misalnya betapa banyak orang yang bekerja keras dan mendapatkan hasilnya namun kemudian menggunakan hasil kerja kerasnya itu untuk sesuatu yang justru merusak dirinya dan orang-orang di sekitarnya, menggunakan hasil usahanya itu untuk sesuatu yang tidak penting, apalagi di zaman sekarang banyak orang yang menggunakan hasil kerja/usahanya untuk barang-barang yang tidak terlalu penting, hanya sekadar pamer saja, hanya sekadar memenuhi gaya hidupnya yang glamor, atau pun menggunakannya untuk membeli game online.

Dan itulah yang dulu terjadi dengan bangsa Israel, menggunakan kesempatan yang baik yang diberikan Tuhan untuk sesuatu yang justru merusak mereka, hidup dalam dosa, terutama praktik ketidakadilan yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan. Hal inilah nanti yang membuat Allah menghukum mereka dengan membuang mereka ke Babel, dan mereka diperbudak di sana selama kurang lebih 70 tahun. Lalu, apakah selamanya Tuhan membuang umat-Nya? Apakah selamanya Dia mendendam? Tidak! Mazmur 103:9 “Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.” Kasih setia-Nya jauh lebih besar dari dosa-dosa umat manusia, dan atas dasar itulah Dia membebaskan umat-Nya Israel, membebaskan manusia yang berdosa hingga hari ini. Dia membuktikan kasih setia-Nya itu dengan menawarkan kehidupan yang jauh lebih baik, dan itulah yang terungkap dalam seluruh pasal 55 kitab Yesaya ini.

Pada ayat-ayat awal dari Yesaya 55 ini, Tuhan menawarkan sesuatu yang amat mendasar dan menentukan dalam kehidupan manusia, yaitu makanan dan minuman yang tidak pernah habis, selalu mengenyangkan dan memuaskan kita, baik hari ini, besok, bahkan sampai selama-lamanya (Yes. 55:1-2). Dan Tuhan telah melakukan semuanya ini, telah memberikan yang terbaik bagi umat-Nya, dan akan selalu memberikan yang terbaik, walaupun manusia – sadar atau tidak sadar – seringkali memilih kehidupan yang tidak baik.

Itulah yang ditegaskan oleh nabi Yesaya pada hari ini, bahwa apa pun yang telah direncanakan oleh Tuhan, apa pun yang telah difirmankan-Nya, selalu dilaksanakan-Nya, selalu berhasil, dan tidak akan sia-sia. Hal ini digambarkan dengan hujan dan salju yang turun ke bumi. Keduanya turun untuk memenuhi kehendak dan tujuan pengirimnya, yaitu Allah, dan tidak akan kembali kepada Allah dengan sia-sia, selalu berhasil baik. Ini menunjukkan kekuatan firman Allah dalam menggenapi janji-janji-Nya, yaitu kehidupan yang lebih baik bagi umat-Nya. Firman Tuhan itu tidak akan pernah sia-sia, selalu berproses dan berbuah baik untuk kebaikan umat TUHAN. Lõ zayazaya gõlõ daromali Lowalangi andrõ, ha sambalõ mofozu ia ba zi sõkhi, ba wamohouni fa’auri mbanua Lowalangi.

Tuhan membuktikan semua rencana dan firman-Nya itu, dengan memberi kesempatan kepada umat-Nya Israel kembali ke tanah perjanjian. Selama ini umat Tuhan diperbudak oleh dosa, berada dalam penjara dosa, dan itulah yang membuat mereka terbuang ke Babel dan diperbudak di sana selama kurang lebih 70 tahun. Namun, kini penderitaan dan perbudakan itu segera berlalu, sebab mereka akan “diizinkan” pergi kembali ke Yerusalem, ke kota mereka dengan penuh sukacita. Artinya, pembebasan telah tiba, karena itu tidak perlu lagi ada kekuatiran dan ketakutan bagi umat Tuhan.

Dalam kemahakuasaan dan kebaikan-Nya itu, TUHAN sendiri yang menghantarkan pulang umat-Nya ke negeri mereka, menghantarkan mereka dengan penuh kedamaian, tanpa gangguan dari siapa pun. Ini adalah jaminan dan harapan yang luar biasa, dan (seharusnya) mendatangkan semangat baru dan sukacita besar bagi umat Tuhan. Atau, adakah di antara kita yang malah sedih ketika diberi sesuatu yang amat baik? Adakah di antara kita yang merasa kecewa ketika Tuhan mengabulkan doa-doanya? Saya pikir tidak ada!

Sukacita yang amat besar dinikmati oleh manusia, dan bahkan alam pun turut bersorak-sorai atas pembebasan umat Tuhan itu. Ayat 12 menggambarkan sukacita alam itu. Biasanya gunung dan bukit menjadi penghalang pergerakan, menghambat perjalanan. Namun, dalam teks ini gunung-gunung dan bukit-bukit itu digambarkan turut merayakan pembebasan umat Tuhan, bahkan pohon-pohon dengan ranting-ranting sebagai tangannya bertepuk tangan. Alam dilukiskan merayakan penebusan umat Tuhan. Jadi, kalau alam saja dapat merasakan kebaikan Tuhan, dapat menikmati pembebasan dari Tuhan, apalagi manusia yang diciptakan sebagai “imago Dei”, segambar dan serupa dengan Allah. Kalau alam saja dapat bersukacita dan memuji Tuhan karena segala kebaikan-Nya, apalagi manusia yang secara langsung mendapatkan kebaikan Tuhan itu.

Firman Allah itu pun berwujud pada pembaharuan kehidupan. Itulah yang digambarkan pada ayat 13 dengan pembaharuan alam: “Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad”. Pembaharuan alam di sini digunakan untuk menggambarkan perubahan besar yang dialami oleh orang-orang yang telah ditebus. Keindahan menggantikan keburukan; sesuatu yang berharga menggantikan sesuatu yang tidak bernilai selama ini; pertolongan dan keselamatan menggantikan kesulitan dan malapetaka; kebahagiaan dan kesenangan (pohon sanobar dan pohon murad) menggantikan kepahitan dan kedukaan (semak duri dan kecubung). Itulah yang akan terjadi dalam kehidupan orang-orang percaya.

Pada akhirnya, semua yang telah dilakukan Allah ini, penebusan dan pembebasan yang dilakukan-Nya untuk umat manusia, dimaksudkan untuk kemasyhuran bagi TUHAN, sehingga semua bangsa mengenal dan menyembah Dia.


Mazmur 119:105, “Firman-Mu pelita bagi kakiku, terang bagi jalanku”

Sinunö 119:105, “Fandru föna gahegu daroma li-Mö andrö, ba haga ba lalagu”

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...