Sunday, September 25, 2022

Ibadah disertai Rasa Cukup – Fasumangeta sifao fa’ahono dödö ba zi ho so (1 Timotius 6:6-10)

Khotbah Minggu, 25 September 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

6     Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

7     Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

8     Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

9     Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

10   Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.


Kita baru saja mendengar kabar bahwa salah seorang hakim agung di Indonesia tertangkap tangan KPK dengan kasus korupsi (penyuapan). Hakim merupakan wakil Allah di bumi dalam menegakkan keadilan, apalagi hakim agung. Banyak orang/pihak di Indonesia yang terjerat kasus korupsi, baik pihak eksekutif (pemerintah), legislatif (wakil rakyat), dan yudikatif (penegak hukum), bahkan rohaniwan. Agama mereka sama, yaitu UANG. Bagi orang-orang seperti ini, kalau bisa semua dimanfaatkan sedemikian rupa untuk mendapatkan keuntungan (uang) bagi mereka, termasuk memanfaatkan ibadah agama (bnd. 1Tim. 6:5b).


Fenomena seperti ini sudah terjadi sejak lama, dan menurut Paulus, akar kejahatan tersebut adalah CINTA UANG (ay. 10). Dalam teks ini, Paulus tidak menganggap uang sebagai sesuatu yang jahat, tetapi CINTA UANG yang menjadi persoalan. Cinta uang yang dimaksud di sini mengarah pada keinginan yang berlebihan akan uang hingga berusaha memburunya dengan cara apa pun, dan menempatkan keinginannya mendapatkan uang tersebut di atas segala-galanya. Inilah yang menjadi akar kejahatan, dan akan terus melahirkan kejahatan lainnya di muka bumi. Pada ayat 9, Paulus memperingatkan jemaat atau para penatua pada zaman Timotius: “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan”. Pada bagian lain dalam Alkitab, Yesus pernah mengatakan bahwa para pengikut-Nya tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, mengabdi kepada Allah dan mengabdi kepada mamon (Mat. 6:24). Godaan kejahatan karena kekayaan sangatlah kuat, dan Paulus mengingatkan kita untuk waspada.


Tentu saja nasihat Paulus ini dapat saja menyebabkan ketidaknyamanan atau bahkan ketakutan bagi sebagian orang, terutama mereka yang memiliki orientasi materialistis yang kuat. Atau, kita dapat saja mengatakan bahwa hanya orang munafiklah yang tidak membutuhkan uang, gereja saja membutuhkannya. Hal ini menjadi tantangan bagi kita, apalagi pada zaman modern ini, uang telah menjadi segala-galanya. Kalau kita menelusuri lebih dalam maksud perkataan Yesus maupun Paulus, maka kita akan menemukan bahwa “kekayaan” atau “cinta uang” muncul sebagai “allah palsu” yang menghalangi penyembahan yang benar kepada Allah yang sejati. Itulah sebabnya “kekayaan” atau “uang” seolah-olah dianggap sebagai sesuatu yang “jahat” dan harus dijauhi.


Namun demikian, kekayaan atau uang sebenarnya bukan sesuatu yang jahat sama sekali. Yesus maupun Paulus tidak bermaksud untuk menafikan kekayaan atau uang. Dalam Alkitab ada cerita tentang orang-orang kaya yang dermawan; ada orang-orang yang melayani Yesus dan para murid dengan kekayaan yang mereka miliki (lih. Luk. 8:3). Demikian pula, rasul Paulus memanfaatkan dukungan keuangan dari para dermawan untuk perjalanan dan kegiatan misionarisnya. Oleh karena itu, tidak tepat untuk mengatakan bahwa kekayaan materi itu jahat sama sekali dan tidak ada kebaikan di dalamnya. Kekayaan materi bisa menghalangi seseorang untuk percaya kepada Tuhan, bisa menjadi penghalang untuk mengikuti Yesus (Mrk. 10:17-22), dan bisa menghalangi kita untuk beribadah sepenuh hati kepada Tuhan. Pada sisi lain, banyak dari pelayanan gereja bergantung pada sumber keuangan anggota jemaat. Oleh sebab itu, mereka yang memiliki kekayaan harus “berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya” (1 Tim. 6:18-19).


Jadi, hal yang sangat penting adalah sikap manusia terhadap kekayaan atau uang tersebut. Kekayaan atau uang dapat menjadi jerat bagi kita kalau kita menempatkannya sebagai pusat kehidupan kita. Kekayaan atau uang dapat menjadi sesuatu yang jahat apabila kita mencintainya dan memburunya dengan menghalalkan segala cara, termasuk memanfaatkan ibadah kepada Tuhan sebagai kesempatan untuk mendapatkan kekayaan atau uang. Kekayaan atau uang dapat menjadi masalah serius dalam hidup kita apabila kita mencarinya dalam kekuatiran atau dengan keinginan yang berlebihan sampai mengalahkan cinta kita kepada Tuhan.


Seperti apa sikap yang baik terhadap kekayaan atau uang? Pada ayat 6, Paulus menegaskan rahasia penting supaya kekayaan atau uang tidak menjadi persoalan dalam hidup manusia, yaitu “rasa cukup”, dan pada ayat 8, Paulus menegaskannya kembali: “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Kata “merasa cukup” di sini berarti merasa senang, merasa puas, dan merasa bahagia disertai dengan rasa syukur atas apa yang ada dalam hidupnya, atas apa yang telah dicapai atau diperolehnya sampai saat ini. Konsep dasar kata Yunani autarkeia berarti kecukupan atau kepuasan yang muncul dari dalam diri seseorang, tidak dipengaruhi oleh keadaan di luar dirinya. Dengan kata ini, Paulus hendak menegaskan bahwa “rasa cukup” yang baik itu berasal dari dalam diri sendiri, bukan dari luar. Orang boleh saja memiliki kekayaan atau uang yang banyak, tetapi belum tentu dia merasa cukup atau merasa bahagia dengan itu. Ada juga orang yang tidak memiliki kekayaan atau uang yang banyak, hidup sederhana, tetapi dia merasa cukup, merasa puas, dan merasa bahagia. Saya pernah mengamati ikan lele, lö la’ila wa’abusora, gofu hawa’oya öbe göra ba lagaga manö, la’a nasa nawöra, afuriata oya zimate, mate ba wa’abuso.


Uang atau kekayaan dapat digunakan untuk kebaikan dan juga kejahatan, tetapi pokok persoalan adalah CINTA akan uang. Nafsu akan uang dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan lebih banyak uang dan meningkatkan kekayaan duniawi, itulah yang menjadi akar kejahatan dalam hidup ini. Tentu saja, cinta uang bukanlah satu-satunya sumber kejahatan, masih banyak sumber lain dari kejahatan di bumi ini. Namun demikian, cinta uang adalah salah satu akar kejahatan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam berbagai dosa dan kejahatan lainnya. Banyak orang yang menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan uang yang banyak. Ato niha “sangisö” ba gana’a (gokhöta), afuriata ilau “wangisu” ena’ö oya isöndra.


Paulus mengingatkan kita bahwa “kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar” (ay. 7). Kita lahir tanpa membawa apa-apa, dan akan mati tanpa membawa apa-apa juga. Oleh sebab itu, hati-hatilah terhadap keinginan untuk menjadi kaya, atau keinginan untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin, sebab dapat menyebabkan kita jatuh ke dalam godaan. Dengan sikap memburu uang kita dapat terjebak dalam kekuatiran akan kekayaan yang kita miliki, dan tentu saja kita dapat saja terjebak dalam berbagai keinginan daging yang dapat mempermalukan diri kita sendiri.


Seperti yang disampaikan di awal khotbah ini, bahwa banyak orang yang melakukan korupsi, baik pejabat pemerintahan, legislatif, yudikatif, maupun keagamaan (rohaniwan). Banyak orang yang “oleh karena memburu uang telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai duka” (ay. 10). Maka, waspadalah! Uang memang penting, tetapi bukan segala-galanya. Jangan merusak hidupmu dengan CINTA UANG! Nikmatilah hidupmu apa adanya, kebahagiaan itu berasal dari diri sendiri dan dari Allah. Pergunakanlah kekayaan atau apa pun yang kita miliki untuk kebaikan bagi sesama dan bagi kemuliaan nama Tuhan. Itulah inti Injil yang kita beritakan di dunia zaman modern ini.


Mari tetap bersatu dalam memberitakan Injil, baik pada saat memiliki uang, maupun pada saat tidak memilikinya; baik pada saat berlimpah, maupun pada saat berkekurangan. Doa Yesus supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tetap bersatu (Yoh. 17:21-23), hendak menegaskan bahwa kita jangan tercerai berai hanya oleh karena himpitan kekayaan atau sebaliknya himpitan kemiskinan/kekurangan. Dalam situasi apa pun, kita tetap bersatu, ya bersatu untuk memberitakan Injil.

Saturday, September 3, 2022

Di Hadapan Allah tidak ada yang Tersembunyi – Lö Sitobini Tanö Föna Lowalangi (Mazmur 139:17-24)

Rancangan Khotbah Minggu, 04 September 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

17 Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!
18 Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.
19 Sekiranya Engkau mematikan orang fasik, ya Allah, sehingga menjauh dari padaku penumpah-penumpah darah,
20 yang berkata-kata dusta terhadap Engkau, dan melawan Engkau dengan sia-sia.
21 Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau?
22 Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku.
23 Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
24 lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!


Mazmur 139 secara umum merupakan ekspresi kekaguman pemazmur akan kemahatahuan Allah dalam berbagai cara. Secara khusus pada teks renungan pada hari ini, ay. 17-24, pemazmur menyatakan keheranannya akan pikiran dan tindakan Allah, baik bagi diri pemazmur maupun atas orang-orang yang jahat. Pada akhirnya, pemazmur memohon kiranya Allah menuntun dia dalam perjalanan yang benar hingga kekekalan.

Dua ayat pertama pada teks khotbah hari ini (ay. 17-18) menunjukkan ketidakmampuan pemazmur memahami pikiran Allah. Menurutnya, pikiran Allah itu sulit dipahami dan tak terhitung banyaknya oleh manusia seperti pemazmur. Dengan kata lain, pemazmur hendak menyatakan kegakumannya terhadap Allah yang telah memelihara dirinya walaupun dia berada di tengah-tengah para pembenci Allah. Pikiran Allah atas dirinya selalu dalam rangka pemeliharaan yang penuh cinta kasih.

Selain itu, ekspresi pemazmur di ayat 17-18 ini mengindikasikan kesadarannya akan kemahatahuan Allah atas dirinya dan manusia lainnya termasuk orang-orang jahat. Allah mengawasi manusia dengan cara-Nya sendiri, sama seperti Dia memelihara manusia dengan cara-Nya yang unik. Demikianlah cara Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia, sungguh tak terselami oleh pikiran manusia. Rasul Paulus mengatakan: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:33-36).

Bagaimana dengan orang fasik yang membenci Tuhan? Menurut pemazmur, Allah pun memiliki cara sendiri untuk mengatasi mereka. Allah, misalnya, bisa saja mematikan mereka dengan cara-Nya sendiri, tetapi Allah pun bisa saja seperti “membiarkan” mereka entah supaya mereka bertobat atau malah sedang mencari waktu yang tepat untuk menghukum mereka. Kita tidak tahu! Bukankah pemazmur sudah mengatakan bahwa “pikiran Allah itu sulit”?

Namun demikian, entah dengan cara apa pun, pemazmur meyakini bahwa Allah tidak mungkin membiarkan begitu saja orang-orang fasik yang membenci Tuhan bertindak sesuka hati tanpa pengawasan dan tindakan tegas Allah. Keyakinan ini mendorong pemazmur untuk tetap berada di sisi Tuhan, dan mengambil sikap membenci para pembuat kejahatan. Membenci orang-orang fasik dan menjadi musuh para pembenci Tuhan di sini berarti tidak ikut dalam komplotan para penjahat itu apa pun risikonya.

Pada akhirnya, pemazmur mempersilakan Tuhan untuk menyelidiki dirinya, sebab dia sadar bahwa Tuhan pasti mengenal isi hatinya. Di tengah-tengah situasi dunia yang diisi oleh orang-orang jahat, pemazmur memohon kiranya Tuhan menuntun dia ke jalan yang benar. Pemazmur mengungkapkan kata-kata ini untuk meyakinkan Tuhan bahwa dia sungguh-sungguh berada di jalan Tuhan, dan sungguh-sungguh tidak mau bergabung dengan kelompok orang-orang fasik. Pemazmur seolah-oleh berkata: “Kalau Tuhan ragu dengan komitmen saya untuk hidup di jalan yang benar dan melawan orang-orang jahat, maka silakan periksa/uji diriku, bukankah Engkau tahu isi hatiku?”

Tema minggu ini adalah “di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi” (lö sitobini tanö föna Lowalangi). Pikiran Allah sulit kita pahami, baik pikiran-Nya untuk pemeliharaan dan keselamatan kita, maupun pikiran-Nya atas para pelaku kejahatan. Namun demikian, satu hal yang pasti adalah bahwa Allah tahu semuanya bahkan isi hati kita yang tersembunyi sekalipun. Oleh sebab itu, ketika merasa telah menjadi orang baik, maka sebenarnya tidak perlu ada keraguan entah Tuhan tahu atau tidak, percaya saja bahwa Tuhan tahu apa pun kebaikan yang kita lakukan. Demikian juga dengan kejahatan, tidak perlu ada keraguan kita entah Tuhan tahu atau tidak. Tidak ada kejahatan yang sempurna, di hadapan Allah tidak ada yang tersembunyi. Implikasinya adalah bahwa kita tidak perlu bersandiwara menjalani kehidupan ini. Kita tidak perlu bersandiwara seolah-olah kita baik padahal jahat; tidak perlu bersandiwara untuk menutupi kejahatan kita. Jalani saja kehidupan ini apa adanya, jalani dalam kebenaran, dan yakinlah tidak ada satu pun yang tersembunyi di hadapan Tuhan.

--- selamat merenungkan Firman Tuhan ---

Saturday, August 27, 2022

Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus – Ositengagö Ndra’ugö, Lu’i Röfau, ba O’ö Yesu (Matius 16:21-28)

Khotbah Minggu, 28 Agustus 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.”
23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.
28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”

Teks ini sebaiknya dipahami dalam hubungan dengan perikop sebelumnya ketika Petrus menyatakan pengakuan yang luar biasa bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13-20, khususnya ayat 16). Yesus pun mengapresiasi pengakuan Petrus tersebut, dan menyebutnya “berbahagia” (Mat. 16:17), serta memberi kepercayaan kepadanya bahkan termasuk kunci Kerajaan Surga (Mat. 16:18-19).

Namun demikian, tidak lama kemudian, Petrus yang tadinya mendapatkan apresiasi dari Yesus, kini mendapatkan kecaman keras dari Yesus yang sama, bahkan menyebut Petrus seperti iblis: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ay. 23).

Kata-kata Yesus yang sangat keras ini muncul karena Petrus menyampaikan pernyataan yang bertolak belakang dengan pengakuannya sebelumnya tentang kemesiasan Yesus setelah mendengar bahwa Yesus, Sang Mesias, akan menanggung banyak penderitaan. Petrus tidak setuju dengan pernyataan Yesus akan penderitaan yang akan ditanggung-Nya tersebut, dan karena itu dia mengatakan: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau” (ay. 22). Di sini jelas bahwa Petrus mewakili kelompok para murid dan pengikut Yesus, bahkan para pembaca awal Injil Matius, bahwa Mesias itu mestinya datang dan hidup dalam kemenangan dan kejayaan besar, bukan malah menanggung banyak penderitaan. Petrus dkk tidak memahami dan sulit menerima Mesias yang menderita. Hal ini juga menggambarkan ketidaksediaan mereka dalam menanggung risiko akibat mengikut Yesus, Sang Mesias itu. Mereka masih belum memiliki mental pejuang, dan karena itu tidak siap menderita atas nama salib.

Lalu Yesus menjelaskan kepada Petrus dan para pendengar lainnya, tentang apa artinya bagi Dia menjadi Mesias dan apa artinya bagi kita untuk mengikuti Dia sebagai Mesias. It is not a golden way, but rather via dolorosa (bukan jalan emas melainkan jalan penderitaan). Itulah yang terjadi dengan Yesus, Sang Mesias, harus menanggung banyak penderitaan bahkan dibunuh, tetapi kemudian akan dibangkitkan pada hari ketiga. Di sini Yesus hendak memberikan pencerahan kepada para murid dan pengikut-Nya, bahwa diri-Nya harus menempuh jalan berliku dan penuh penderitaan, tetapi jalan itulah yang justru menghantarkan-Nya kepada kemuliaan Bapa, baik ketika dibangkitkan dari antara orang mati, maupun ketika melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya (ay. 27-28).

Apa artinya bagi kita?
Yesus telah menyatakan kepada ara murid dulu bahwa Dia akan menanggung banyak penderitaan, dan Dia sudah menunjukkan ketaatan-Nya pada jalan salib itu, sungguh suatu pengorbanan besar bagi keselamatan umat manusia. Kalau Yesus berbicara tentang pengorbanan-Nya yang nyata di sini, Dia hendak mengatakan bahwa jika seseorang ingin menjadi pengikut-Nya, maka mereka harus bersedia menyangkal diri, memikul salib mereka dan mengikuti Dia. Tentu saja manusia memikirkan nyawanya, dan berusaha untuk menyelamatkannya. Dalam pergumulan yang luar biasa di Taman Getsemani pun, dalam natur kemanusiaan-Nya, Yesus mencoba menyelamatkan nyawa-Nya tanpa melalui jalan salib, tetapi tidak bisa. Jalan penderitaan itu harus ditempuh, dan justru jalan itulah yang mendatangkan keselamatan dan kemuliaan yang sesungguhnya.

Itulah sebabnya Yesus mengingatkan kita bahwa “barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (ay. 25-26). Intinya adalah tidak ada gunanya kita berusaha mencari keselamatan diri dengan cara sendiri, apalagi dengan jalan mudah dan jalan pintas. Satu-satunya jalan yang memberikan jaminan keselamatan dan kehidupan adalah mengikut Yesus. Tetapi, ingat, mengikut Yesus itu harus siap menyangkal diri dan memikul salib.

Menyangkal diri berarti bersedia untuk melepaskan diri dari “kenyamanan” duniawi selama ini demi mengikut Yesus. Menyangkal diri berarti bersedia melepaskan diri dari alkoholisme, pornografi, narkoba, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Menyangkal diri berarti bersedia melepaskan diri dari kecanduan game dan judi online, bahkan kecanduan internet lainnya yang juga telah hampir memperbudak kita. Beberapa dari kita memang tidak mau melepaskan kenyamanannya selama ini, bahkan ada orang yang justru semakin terjerumus dalam berbagai kenyamanan dan kenikmatan duniawi sampai pada akhirnya lupa diri dan lupa Tuhan.

Memikul salib berarti menanggung apa yang seharusnya tidak dia pikul. Itulah yang terjadi dengan Yesus, menanggung banyak penderitaan yang seharusnya tidak Dia pikul. Kalau mau menjadi pengikut Yesus, maka kita harus memikul salib, bersedia menanggung apa yang seharusnya tidak kita tanggung, terutama penderitaan. Persoalannya ialah bahwa banyak generasi muda Kristen yang tidak bersedia menempuh jalan sulit dalam menjalani kehidupannya. Yesus menghendaki para murid dan pengikut-Nya untuk memiliki mental yang kuat menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi akibat mengikut Yesus. Latihlah dan biasakanlah dirimu untuk berani menghadapi dan menjalani kesulitan, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Fil. 1:29).

Mampukah kita untuk menderita bagi Kristus? Kalau Kristus yang hidup di dalam kita, maka kita akan mampu menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus.

Galatia 2:20a: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

Sunday, August 14, 2022

Mengikut Yesus secara Total – Folo’ö khö Yesu Sindruhundruhu (Lukas 12:49-53)

Khotbah Minggu, 14 Agustus 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

49 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
50 Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”


Teks khotbah hari ini dapat menimbulkan kebingungan bahkan kegelisahan bagi kita, terutama bagi orang yang selama ini menganggap bahwa Yesus selalu menghadirkan perdamaian. Tetapi, hari ini, melalui teks ini, Yesus menyampaikan sesuatu yang terbalik dari pemahaman umum tentang kehadiran-Nya. Dia seolah-olah membenarkan terjadinya berbagai perpecahan atau perpisahan dalam keluarga, jemaat, dan masyarakat kita akhir-akhir ini. Bisa saja ada orang yang membenarkan pertentangannya dalam jemaat atau masyarakat atas nama mengikut Yesus; bisa saja ada orang yang membenarkan ketidakpeduliannya dalam keluarga atas nama mengikut Yesus; bisa saja ada anak yang membenarkan pemberontakannya kepada orang tuanya atas nama mengikut Yesus; dan bisa saja ada orang yang menghadirkan api perselisihan dan perpecahan di mana-mana atas nama mengikut Yesus. Tetapi, apakah Yesus bermaksud seperti itu?

Kalau membaca lebih cermat teks dan konteks nas khotbah hari ini, maka kita akan menemukan bahwa persoalan yang hendak ditampilkan bukanlah masalah pertentangan, perselisihan atau perpecahan itu sendiri, melainkan bagaimana kita menanggapi berbagai konsekuensi yang timbul karena mengikut Yesus. Dengan kata lain, pertentangan hanyalah salah satu dari sekian banyak konsekuensi yang bisa saja muncul karena mengikut Yesus. Ada saatnya kita tidak bisa menghindar dari sesuatu yang buruk karena memilih ikut Yesus secara total. Tentu saja, mengikut Yesus tidak selalu berakibat buruk, sebab dalam realitasnya, banyak kedamaian yang kita nikmati karena mengikut Yesus.

Bagaimanakah mengikut Yesus dapat menimbulkan hal-hal yang tidak kita harapkan? Mari kita lihat satu per satu misi Yesus menurut teks khotbah hari ini.

Misi I : Membawa (melemparkan) Api
Dalam Alkitab, api merupakan gambaran yang multivalen. Api dapat mewakili kehadiran Allah (tiang api, Kel. 13:21-22), lidah api pada saat pencurahan Roh Kudus (Kis. 2:1-4), gambaran dari penghakiman eskatologis, pemusnahan bala tentara Setan (Why. 20:7-10), menandakan penyucian/pemurnian (Za. 13:9; Mal. 3:2-3), dan Simeon menggambarkan maksud dari kedatangan Yesus di Luk. 2:34-35 “Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Jadi, maksud Yesus dengan pernyataan misi-Nya “membawa api” ini adalah bahwa kerajaan Allah yang Dia wujudkan itu menunjukkan kehadiran Allah yang sekaligus mendatangkan penghakiman dan pemurnian. Tentu kita mengharapkan kebenaran itu harus diungkapkan, dan karena itu perlu api pemurnian. Pemurnian itu menyakitkan, terutama bagi kita yang mungkin saja memiliki banyak “kotoran” yang menempel pada diri kita. Mengikut Yesus secara total berarti siap untuk dimurnikan, siap untuk dibersihkan, walaupun bisa saja terasa sakit.

Misi II : Menerima Baptisan
Baptisan yang diterima oleh Yesus dalam teks ini tidak dalam pengertian baptisan secara umum. Melalui pernyataan-Nya ini, dan masih dalam konteks penghakiman dan penyucian (pemurnian), dengan bahasa kiasan Yesus hendak memberitahukan apa yang bakal terjadi dengan diri-Nya, yaitu tentang penyaliban-Nya, itulah sebabnya di ayat 50 dengan jelas Dia mengatakan bahwa hati-Nya susah sebelum baptisan itu berlangsung. Ini sangat menarik, sebab Orang yang mewujudkan kerajaan dan kehadiran Allah di dunia ini (yaitu Yesus) tidak sekadar memberitahukan api penghakiman dan pemurnian itu, tetapi diri-Nya sendiri sekaligus menanggung penghakiman dan pemurnian tersebut. Pada satu sisi baptisan merupakan janji sukacita bagi kita, tetapi pada sisi lain baptisan mendatangkan kesakitan yang luar biasa bagi Yesus. Mengikut Yesus secara total berarti siap menanggung sisi lain dari baptisan yang kita terima, sisi yang bisa saja mendatangkan kesakitan bagi kita.

Misi III : Membawa Pemisahan (pertentangan)
Konsekuensi dari api + baptisan untuk penghakiman dan pemurnian yang ditanggung dan diberitakan oleh Yesus adalah terjadinya pertentangan atau pemisahan. Ini memang merupakan konsekuensi “buruk” yang tidak dapat dielakkan. Selalu ada risiko dari keputusan kita mengikut Yesus. Di dunia ini ada banyak godaan kekayaan, status, dan kekuasaan, dan mereka yang tidak siap meninggalkan kenyamanan duniawi itu akan melawan/menentang kehadiran kerajaan Allah. Oleh sebab itu, Yesus – walaupun secara prinsip hendak mewujudkan pemerintahan yang penuh dengan kedamaian – namun dalam faktanya juga “terpaksa” membawa pertentangan atau pemisahan, yang bisa saja berakibat pada terganggunya relasi dalam keluarga yang selama ini sudah sangat akrab (mis. selama ini ada keluarga yang sudah terbiasa nyaman dengan segala kemudahan dan kemewahan karena “berkat” Tuhan melalui pekerjaan sang suami/istri/ayah, lalu ybs mengambil keputusan untuk mencukupkan dirinya dengan gajinya, tidak lagi melakukan korupsi, dll, dan tentu hal ini berdampak pada penghasilan keluarga, berdampak lagi pada pemenuhan kebutuhan dan kemewahan seisi keluarga itu. Apakah itu tidak menjadi persoalan?).

Ketiga misi Yesus dalam rangka mewujudkan kerajaan Allah inilah yang tidak diketahui oleh orang banyak pada waktu itu, bahkan tanda-tandanya saja pun tidak diketahui, padahal mereka bisa melihat, menilai, atau membedakan tanda-tanda alam (hujan atau panas). Itulah sebabnya Yesus mengecam mereka, bahkan menyebut mereka sebagai orang-orang munafik, pura-pura tidak tahu dengan tanda-tanda kedatangan kerajaan Allah yang sudah ada di hadapan mereka, mereka masih berada dalam paradigma lama, mengharapkan pemerintahan baru dengan bendera atau senjata perang, padahal Yesus mewujudkan pemerintahan baru itu dengan jalan yang tidak biasa, jalan kesederhanaan, jalan penderitaan, dan jalan salib. Inilah yang tidak bisa diterima oleh akal manusia, apalagi pada zaman sekarang yang sudah terbiasa dengan segala kemudahan, kenyamanan, kesenangan dan kemewahan, sulit menerima dan menjalani kesederhanaan, kesulitan, penderitaan, dan sejenisnya. Mengikut Yesus secara totoal, tidak hanya sekadar bersedia meninggalkan perangkap kekuasaan dan kenikmatan duniawi ini, tetapi juga menyiapkan diri untuk menghadapi suatu perlawanan, pertentangan, bahkan pemisahan karena tidak semua orang berkenan menerima kerajaan Allah seperti yang diberitakan oleh Yesus.

Hanya orang-orang yang bertahan sampai pada kesudahannya yang akan selamat (Mat. 24:13).

Sunday, August 7, 2022

Allah sendirilah Hakim – Lowalangi samösa Zanguhuku (Mazmur 50:1-6)

Khotbah Minggu, 07 Agustus 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1 Mazmur Asaf. Yang Mahakuasa, TUHAN Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya.
2 Dari Sion, puncak keindahan, Allah tampil bersinar.
3 Allah kita datang dan tidak akan berdiam diri, di hadapan-Nya api menjilat, sekeliling-Nya bertiup badai yang dahsyat.
4 Ia berseru kepada langit di atas, dan kepada bumi untuk mengadili umat-Nya:
5 “Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!”
6 Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim.

Teks khotbah hari ini (ay. 1-6) merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan ayat-ayat setelahnya (ay. 7-21). Oleh sebab itu, teks khotbah ini harus dipahami dalam satu kesatuan dengan seluruh ayat dalam pasal 50 ini. Mazmur 50 secara keseluruhan menyatakan dua dakwaan umum terhadap Israel, yaitu tentang praktik penyembahan atau ibadah mereka yang tidak diterima Tuhan (ay. 7-15), dan tentang kekosongan dan kemunafikan mereka (ay. 16-21). Atas kedua dakwaan tersebut, Allah menegaskan bahwa Dia adalah Hakim yang akan menghakimi mereka dalam keadilan-Nya.

Dalam ayat 7-15, dakwaan pertama, Allah mengecam praktik penyembahan Israel. Pada prinsipnya, Allah tidak menolah ibadah umat kepada-Nya, tetapi Allah menolak penyembahan yang menggantikan ibadah yang sejati kepada Allah. Ada semacam penyalahartian dan penyalahgunaan ibadah di Israel, terutama berkenaan dengan pemberian persembahan (ibadah korban). Bangsa Israel membayangkan bahwa persembahan adalah pemberian mereka kepada Tuhan. Dengan pemahaman seperti ini, bangsa Israel menempatkan diri mereka sebagai pihak yang memenuhi kebutuhan Tuhan. Mereka adalah subjek dan Allah merupakan objek dari penyembahan dan persembahan manusia. Ada klaim yang salah dengan pemahaman dan praktik ibadah seperti ini, yaitu bahwa merekalah yang memiliki apa yang seharusnya menjadi milik Tuhan.

Sebenarnya, tidak salah menyampaikan persembahan kepada Allah, itu malah merupakan bagian dari perjanjian Allah dengan umat-Nya. Masalahnya adalah bangsa Israel mulai melihat pengorbanan mereka sebagai sesuatu yang dibutuhkan Tuhan, sebagai sesuatu yang Tuhan andalkan. Pemahaman seperti ini mirip dengan praktik ibadah paganisme di sekitar Israel kuno, dimana umat merawat, memeliharan, dan memberikan makanan kepada para dewa. Dengan memberikan pengorbanan, para penyembah menjadikan para dewa sebagai klien atau pelanggan mereka yang siap sedia. Dengan kata lain, apabila manusia memberikan pengorbanan kepada para dewa, maka manusia pun dapat mengubah dewa tersebut menjadi hamba manusia yang akan melakukan apa yang diinginkan oleh manusia. Distorsi penyembahan seperti inilah yang secara perlahan tetapi pasti mematikan manusia itu sendiri, merayap ke dalam pikiran kita seperti ular yang mendesis.

Sikap seperti inilah yang dikecam oleh Allah, bertentangan dengan prinsip iman yang sesungguhnya, mengingkari perjanjian mereka dengan Tuhan. Maka, Allah sendiri yang akan menjadi Hakim yang adil atas mereka. Itulah sebabnya pemazmur menegaskan kepemilikan dan kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan, untuk menyadarkan bangsa Israel akan kesalahan mereka dalam penyembahan dan pemberian korban kepada Allah. Apapun yang dipersembahkan oleh manusia kepada Allah, itu bukan pemberian kita seolah-olah kitalah yang memenuhi kebutuhan Tuhan. Persembahan yang disampaikan oleh manusia merupakan tindakan syukur kita atas semua yang telah dilakukan dan diberikan oleh Tuhan kepada umat-Nya. Bukan Allah yang membutuhkan pengorbanan (penyembahan dan persembahan) manusia, sebaliknya kita yang membutuhkan Allah. Apabila umat Tuhan tidak taat pada perjanjian ibadah seperti ini, maka Allah sendiri yang akan menjadi Hakim yang adil atas kita.

Dalam ayat 16-21, dakwaan kedua, keluhan serupa diajukan terhadap Israel. Pada dakwaan pertama, Allah, sebagaimana disampaikan oleh pemazmur mengeluhkan praktik beribadah bangsa Israel, sedangkan pada dakwaan kedua ini Allah mengeluhkan kekosongan dan kemunafikan bangsa yang mengaku beribadah kepada Tuhan itu. Mereka mempertontonkan ibadah (penyembahan dan persembahan) yang kelihatannya saleh, tetapi sesungguhnya penuh dengan kehampaan dan kemunafikan. Dalam realitasnya, mereka justru menjalani kehidupan yang rakus dan predator. Secara lahiriah, mereka rajin beribadah, seolah-olah taat pada keputusan Tuhan. Namun demikian, dalam kenyataannya, mereka hidup dengan cara yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, seolah-olah Tuhan tidak berdaya untuk menegakkan kehendak-Nya sendiri. Mereka melakukan apa yang baik menurut keinginan mereka, dan merasa bahwa Allah tidak bisa bertindak apa-apa atas mereka, sebab mereka sudah memberikan persembahan kepada-Nya.

Bangsa itu lupa pada perjanjian mereka dengan Allah, bahwa mereka seharusnya menunjukkan ketaatan yang tulus dan jujur di hadapan Allah. Oleh karena pelanggaran seperti ini, Allah tampil dan akan menjadi Hakim atas mereka, Hakim yang adil. Allah hanya meminta kepada manusia: “setialah dan tepati janjimu pada-Ku, seperti Aku menepati janji-Ku kepadamu.” Jangan pernah membayangkan bahwa kita bisa mengibuli Allah. Tidak akan ada satu pun yang tersembunyi di hadapan Hakim yang adil itu. Kasus Brigadir J yang viral dalam beberapa minggu terakhir, bisa saja tidak terungkap 100%, tetapi di hadapan Allah, Hakim yang adil, semuanya akan terlihat dengan jelas. Manusia tidak bisa merekayasa kasusnya di hadapan Allah, sebab Dia sudah tahu semuanya.

Banyak orang yang gagal dalam ibadah, bukan karena tidak melakukannya, melainkan karena beribadah dengan pemahaman dan cara yang salah. Banyak orang beribadah, tetapi beribadah dalam kesalahpahaman dengan arah dan orientasi yang salah. Kita bisa melihat, bahkan mungkin terlibat di dalamnya, betapa ibadah kita dewasa ini mengalami distorsi atau penyimpangan yang tidak sesuai lagi dengan kehendak Allah. Bukankah banyak orang Kristen yang beribadah secara teratur, tetapi tidak sungguh-sungguh menghayati dan menghidupi ibadahnya itu? Bukankah banyak orang Kristen yang secara lahiriah beribadah secara rutin, tetapi dalam hidupnya sehari-hari justru menunjukkan ketidaktaatan kepada Tuhan yang dia sembah itu? Bukankah banyak orang Kristen yang merasa sudah memberikan persembahan kepada Tuhan, tetapi di dalamnya penuh dengan kehampaan dan kemunafikan? Bukankah ada orang Kristen yang dapat memuji Tuhan dengan penuh semangat di dalam gereja atau dalam persekutuan-persekutuan doa, tetapi kemudian menjadi “monster” dalam keluarga, di tempat kerja, dan dalam kehidupan sehari-hari? Atas hal-hal seperti ini, Allah tampil sebagai Hakim, Dia menyatakan penghakiman-Nya yang tegas.

Allah tidak akan berdiam diri melihat manusia yang seolah-olah beribadah kepada-Nya tetapi sesungguhnya hanya sebagai kamuflase untuk menutupi kebobrokannya. Allah datang sebagai Hakim dengan segala keperkasaan dan kemahakuasaan-Nya. Manusia akan melihat sendiri bahwa Allah adalah Hakim, dan “Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim” (Mzm. 50:6).

Saturday, June 18, 2022

Tobali Ono Lowalangi moroi ba Wamati khö Yesu Keriso (Galatia 3:23-29)

Khotbah Minggu, 19 Juni 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.
24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.
25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.
27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.
28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.


Faruka niha Keriso si so ba mbanua Galatia andre, so niha Yehuda so göi Ndrawa Heleni, so nifotöi sokhö (tuan) ba so göi zawuyu (hamba). No fabö’öbö’ö lala wa’aurira, ba alua göi wamaehumaehunia niha ba da’ö hewa’ae no tobali ira niha Keriso. So wamahaö moroi ba niha Keriso-Yehuda wa awena tola musöndra wangorifi na mu’o’ö goroisa, tenga ha famati khö Yesu Keriso manö. Lamane göi niha Keriso si tenga niha Yehuda mege, lö moguna sa’ae goroisa, lö manö amakhaitania ba khö Keriso. Faoma itegu ira Faulo ba wamahaöra da’e, ihöndrögö sibai wanguma’ö wa ha ba khö Keriso so wangorifi, tenga ba wolo’ö oroisa; ba lö göi fao dödö Waulo ba niha si lö ba dödö oroisa, imane wanguma’ö: “ba no tobali samamaha yaʼita goroisa andrö, ba khö Keriso, enaʼö moroi ba wamati andrö atulö ita, iwaʼö Lowalangi” (ay. 24). Eluahania, no sia’a goroisa andrö fatua lö na tohare Yesu Keriso, ba iada’e Yesu Keriso samösa sa’ae zia’a, Ya’ia Zangorifi niha, tenga oroisa. Moguna goroisa tobali samamaha ma samobawa lala (penuntun) ba khö Keriso.

Ba hewisa me no tohare Yesu Keriso? Hadia zoguna? Famati! Da’ö zoguna, famati ba khö Keriso, tenga sa’ae barö gamatöröwa goroisa so niha, ba tenga göi da’ö geluaha tola ilaulau manö zomasi dödönia niha. Me no so Keriso, aefa niha moroi ba wangosawuyu horö, aefa niha moroi ba wamatörö goroisa, ba iada’e so ira barö wamatörö Yesu Keriso. Lö irai iwa’ö Yesu ba he göi ira sinenge-Nia wa lö eluaha goroisa. Imane Yesu: “böi miwaʼö tödömi, ba wowuʼai oroisa, awö zura zamaʼeleʼö andrö, möi ndraʼo; tenga ba wowuʼai, ba woloʼö oroisa möi ndraʼo” (Mat. 5:17). Aefa niha moroi barö mbawa goroisa, börö me no isalahini niha Yesu Keriso wolo’ö fefu oroisa andrö, ba iada’e no ba khö Keriso so niha, ba fa’auri Keriso zi so khöra. Da’ö sambua geluaha wamayagö idanö ba khö Keriso, tandra wa ba khö Keriso so niha, nukha Keriso ni’oguna’ö, tenga nukha goroisa, tenga nukha zawuyu, tenga göi nukha horö (ay. 27). Modanedane ba da’e, tekaoni dozi samati “ono Lowalangi moroi ba wamati andrö khö Keriso Yesu” (ay. 26).

Andrö börö da’ö, me no ba khö Keriso so zamati, me tenga sa’ae barö mbawa goroisa so ira, ba lö moguna sa’ae mufaehufaehusi niha molo’ö bosi wa’auri zamösana. Da’ö niwa’ö Waulo ba ayati 28: “Ba daʼö lö niha Yehuda, ba lö Dawa Heleni, lö sawuyu ba lö si tenga sawuyu, lö ira matua, ba lö ira alawe; dozi ami sa, ba ha samösa, ba khö Keriso Yesu”. Lö fao dödö Waulo na so niha Keriso samaehumaehuni awönia, lö faudu da’ö iwa’ö ba nösi wamati niha Keriso. I’ila Faulo sa wa tebai mu’osilömilagö wa so niha Yehuda ba gotalua zamati khö Yesu, so Ndrawa Heleni, so zawuyu, so zi tenga sawuyu, so ndra matua, so ndra alawe. Ba hiza, tebai mubali’ö danedane wa’afaehufaehu da’ö ba wangöhöndrögö awö, ma ba wayawasa khö nawö. Imane wanguma’ö: “dozi ami sa, ba ha samösa, ba khö Keriso Yesu” (ay. 28b).

Hadia geluaha wehede Waulo “dozi ami sa, ba ha samösa, ba khö Keriso Yesu” ba zurania andre? Ya’ia da’ö, dozi niha samati ba khö Keriso ba no ha sambua ira ba khö Keriso Yesu, ha samösa zangorifi ya’ira, fagölögölö manö, lö fabö’ö zangorifi niha Yehuda moroi ba Ndrawa Heleni, lö fabö’ö zangorifi si tenga sawuyu moroi ba zawuyu, lö fabö’ö zangorifi ira matua moroi ba ndra alawe. Ha samösa zangorifi fefu, ya’ia Yesu Keriso. Niha Yehuda sanema’ö oroisa, ha ba khö Yesu lasöndra wangorifi. Dawa Heleni si lö manema’ö oroisa niha Yehuda, ha ba khö Yesu lasöndra wangorifi. Simanö göi zawuyu awö zi tenga sawuyu, ira matua ba ira alawe. Sedöna iwa’ö Faulo ba da’e ya’ia da’ö wa tanö föna Lowalangi, ma ba khö Keriso, no oi fagölögölö manö niha, no oi mamazökhi horö ira fefu, ba hiza no i’orifi ira Keriso Yesu, fefu oi sanema ondröita dali gamabu’ula li Lowalangi khö Gaberahamo (ay. 29).

No te’efa’ö ita moroi ba wangosawuyu hörö, no te’efa’ö ita moroi ba wamatörö zi lö sökhi, owuawua dödöda iada’e. Ba hiza, tenga da’ö geluaha, tola manö tafalua zomasi dödöda, irege tebai sa’ae nifatörö wa’aurida. Tenga da’ö geluaha ena’ö tatörö lala nösi niha, satulönia faoma talau zi sökhi, tatolo nawöda moroi ba wa’omasi andrö (Gal. 5:13).

So niha sanguma’ö ba ginötö andre wa lö salania na tafalua zi lö sökhi asala böi olifu ita wangondrasi ahe röfa Yesu dania. Niha sangaohangaoha zamalua simane da’e, sanandrawaisi halöwö Geheha Zo’aya ba wa’aurinia. Atulö sa wa no i’orifi ita Yesu Keriso, isasai horöda do-Nia andrö ni’amoni’ö, ba hiza böi tobali fa’aganunoda da’ö wolau si lö atulö wanguma’ö “ibologö sa dödö-Nia dania So’aya na möido zui tanö föna-Nia wangandrö fangefa horö”. Tenga amuata niha Keriso sindruhu zimanö, amuata niha baero samotöi ya’ia niha Keriso.

Hewisa niha samati ba khö Keriso, niha si no aefa moroi ba wangosawuyu zi lö sökhi? Hewisa ia ba wahasambuata? Imane Faulo mege: “ha samösa ba khö Keriso Yesu”, ha sambua ira ba wahasambuata ba khö Keriso Yesu. Andrö lö faudu ba lö moadu na so niha ifakiko wahasara dödö ba khö Keriso, ma ibali’ö ia börö wamabali orahua mbanua niha Keriso. Niha samati khö Yesu, i’ila irorogö wahasambuata ba khö Keriso Yesu, tobali ia samaeri orahua mbanua niha Keriso, tobali howuhowu ia gofu heza so ia.

Hewisa göi gamuata niha samati ba khö Keriso ba wariawösa ba nawönia? Satulönia, niha samati ba lö ifaehufaehunia niha molo’ö dadaoma ma fetaro bakha ba mbanua ba ba wamareta.

Asese tesöndra nasa niha samaehumaehuni awönia niha, abölö ifosumange niha si so fetaro salawa (pejabat, nga’ötö mbalugu/si’ulu), ba lö ba dödönia niha si to’ölö manö (siwarawara, masyarakat biasa). Fataria alua zimane da’e göi ba halöwö ba gosali, so nifotöi “tokoh agama” ba so nifotöi banua niha Keriso sato (si to’ölö, warga jemaat biasa). Abölö lafonaha wehede ndra “tokoh agama” (pejabat, niha so kefe, segebua ame’ela ba gosali, btn), la’o’ö manö niwa’öra, ba lö sa lafondrondrongo wehede mbanua niha Keriso sigide’ide. Lö faudu ba gamuata zamati zimane da’e, börö me sindruhunia ha samösa ma ha sambua ita ba khö Keriso, fagölögölö sanema ondröita ita khö Lowalangi. Na Lowalangi samösa, lö ebua zambuana dödö-Nia ba niha, ba hana dania wa ya’ita andre tafaehufaehuni wamaigi awöda niha?

So ösa ndra sohalöwö ba wamareta ba ba gosali, ha sambua daokania na ikaoni ia niha si so dadaoma salawa, alio ia wanema li ba HP, alio ia wo-sms ma W.A, ba na niha si to’ölö, ma niha niwa’önia tounia so wetaro da’ö, ba i’osilömamondrongo ma i’osolifugö na so wogaoni da’ö ba HP/sms/W.A.

So göi nasa gamuata ni’ilada ba gotalua mbanua niha Keriso, ni’ilada ba wa’auri sero ma’ökhö, ya’ia da’ö famaehumaehuni niha molo’ö ngasi ndra matua ba ngasi ndra alawe. Tesöndra nasa ba gotalua mbanua niha Keriso sabölö mamosumange ira matua moroi ba ndra alawe, so ösa göi zi lö mamonahia ma’ifu fehede ndra alawe, he yomo ba nomo, he ba gotalua wa’atalifusöta, he ba mbanua, ba he göi bakha ba gosali. Abölö lafonaha wehede ndra matua, hulö na alawa mbosi ndra matua moroi ba ndra alawe, ba sindruhunia ha sa sambua ita mege iwa’ö Faulo ba khö Keriso, lö ira matua ba lö ira alawe.

Niha Keriso si no tobali ono Lowalangi moroi ba wamati, so khönia gamuata nono Lowalangi andrö simane si no muzarazara moroi yawa mege.

Saturday, June 11, 2022

Tuhan kita Mulia dan Agung – Solakhömi ba Salawa Yehowa andrö (Mazmur 8:1-10)

Khotbah Minggu, 12 Juni 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud.
2 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.
3 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.
4 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:
5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:
8 kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;
9 burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.
10 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!


Mazmur 8 pada satu sisi merupakan himne pujian yang ditujukan kepada Tuhan, tetapi pada sisi lain berbicara tentang manusia, baik menyangkut kekuasaan yang dimilikinya maupun menyangkut hubungannya dengan ciptaan lainnya. Secara sederhana pemazmur menegaskan bahwa kekuasaan atau kedaulatan manusia (atas ciptaan lainnya) hanya dapat dipahami dengan baik dan atau harus ditempatkan dalam terang kedaulatan ilahi, Sumber kekuasaan/kedaulatan yang sesungguhnya.

Pujian kepada TUHAN dalam teks ini hendak menyatakan bahwa TUHAN itu sungguh mulia, agung, dan penuh kuasa. Pemazmur menegaskan bahwa TUHAN (Yahweh) adalah Tuhan, Penguasa. Kata-kata yang menegaskan ketuhanan dan kedaulatan TUHAN merupakan kata-kata yang biasa digunakan untuk seorang raja (lih. 1Raj. 1:11, 43, 47). Pujian dan penegasan ini sekaligus merupakan pengakuan akan kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan, dan tidak ada satu pun musuh yang dapat bertahan di hadapan-Nya. Wilayah kekuasaan TUHAN meliputi seluruh bumi, dan bahwa seluruh ciptaan berada di bawah kedaulatan-Nya.

Frasa “dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu …” (ay. 3) agak sulit dipahami. Namun demikian, frasa ini sepertinya hendak menunjukkan kekuatan Tuhan yang mengatasi “musuh dan pendendam”, yaitu segala kekuatan kekacauan yang pernah Tuhan kalahkan dalam penciptaan. Kata-kata pemazmur ini mengingatkan kita pada kisah penciptaan langit dan bumi dalam Kejadian 1. Pada kisah penciptaan tersebut, Tuhan Allah mengubah kekacaubalauan (yang dibahasakan dengan kalimat “bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya”) menjadi suatu keteraturan yang begitu indah, sehingga “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kej. 1:31).

Ekspresi pemazmur dalam teks ini mencerminkan kekaguman atas karya Allah yang luar biasa. Pada ayat 4 pemazmur menggambarkan langit dengan ungkapan yang indah sebagai “buatan jari TUHAN”, serta bulan dan bintang-bintang ditempatkan sedemikian rupa oleh TUHAN sehingga menghasilkan suatu tatanan kosmos yang luar biasa. Mengagumi keajaiban penciptaan alam semesta hanya mungkin muncul dari dalam diri orang yang sungguh-sungguh menghayati keindahan karya Allah dalam hidupnya. Semakin kita dekat dengan TUHAN, semakin kita melihat dan menikmati kemuliaan dan keagungan karya-karya-Nya. Alam semesta diciptakan sedemikian rupa dalam tatanan yang begitu indah: bulan dan bintang-bintang dengan cahayanya yang lembut pada malam hari, matahari dengan cahayanya yang terang pada siang hari, bumi (lautan dan daratan) dengan segala isinya yang melimpah. Sungguh, Tuhan kita mulia dan agung!

Kemuliaan dan keagungan TUHAN semakin nyata dengan pemberian “kekuasaan” bagi manusia yang diciptakan-Nya. Tetapi ada kesadaran yang amat dalam di sini, bahwa manusia sebenarnya tidak “pantas” menerima sebagian dari kekuasaan ilahi itu. Hal ini terungkap melalui pertanyaan-pertanyaan di ayat 5: “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Pertanyaan seperti ini terungkap juga di Mazmur 144:3 “Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya?” Pemazmur pun dengan singkat memperjelas seperti apakah manusia itu: “Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat” (Mzm. 144:4). Kata-kata ini mengingatkan kita akan kefanaan manusia, kerapuhan kita sebagai manusia. Hanya orang yang sadar akan kefanaan dan kerapuhannya yang mampu mengisi hidupnya dengan sesuatu yang “kekal”, sesuatu yang bisa menolong dirinya mendekatkan diri dengan Allah yang kekal. Persoalannya ialah banyak manusia yang mengisi hidupnya dengan banyak hal yang sebenarnya “fana” seolah-olah dia tidak akan berlalu, sehingga dia lupa untuk mengabdikan dirinya untuk TUHAN.

Namun demikian, di sini, di Mazmur 8, tanpa mengabaikan kefanaan dan kerapuhan manusia, pemazmur menemukan kemuliaan dan keagungan TUHAN yang begitu menakjubkan, yaitu bahwa Allah yang menetapkan tatanan langit sebenarnya amat peduli terhadap manusia, untuk kita, untuk saya. Itulah maksud dari pertanyaan pemazmur di ayat 5. Berefleksi dari Kejadian 1:26-27, bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, pemazmur menyatakan bahwa manusia, hanyalah manusia biasa, dibuat sedikit kurang dari ilahi (ayat 6a). Kita menyandang gambar dan rupa Allah di dunia. Seperti Allah Tuhan kita, kita “dimahkotai” dengan “kemuliaan dan kehormatan” (ayat 6b). Dengan kata lain, dalam hubungan kita dengan dunia, kita mencerminkan karakter Tuhan sebagai Yang Berdaulat.

Tuhan telah memberi kita “kekuasaan” atas dunia ciptaan-Nya, dan meletakkan segala sesuatu di bawah kaki kita (ayat 7). Jangkauan kekuasaan kita, seperti milik Tuhan, mencakup segalanya, dari hewan peliharaan hingga hewan liar, burung, dan makhluk laut (ayat 8-9). Kita dibuat untuk berbagi dalam pemerintahan Tuhan atas dunia, untuk melayani sebagai perwakilan dari kekuasaan Tuhan sendiri. Namun demikian, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kekuasaan atau kedaulatan manusia (atas ciptaan lainnya) harus ditempatkan dalam terang kedaulatan ilahi, Sumber kekuasaan/kedaulatan yang sesungguhnya. Tuhanlah yang sesungguhnya berdaulat atas seluruh ciptaan, dan manusia diberi semacam kepercayaan untuk berkuasa atas ciptaan-ciptaan itu. Tuhan telah menyediakan segala sesuatu bagi kita, Dia pun menginginkan kebaikan kita, dan memampukan kita untuk mencerminkan citra Allah dalam tata kelola yang benar dari sesama makhluk di alam semesta ini. Jadi, tidak ada kekuasaan dan kedaulatan mutlak dari manusia; kedaulatan yang mutlak itu hanya milik Allah.

Dunia yang ada di kaki kita (ay. 7) bukan untuk kita injak-injak semena-mena. Kita justru ditugaskan untuk merawat, memelihara, dan mengelolanya untuk kebaikan semua, sama seperti Allah pada mulanya menciptakan dengan amat baik. Dalam kekuasaan kita atas ciptaan lainnya, kita harus mengingat perjanjian dan perintah Tuhan, dan tidak mencari kebaikan kita sendiri dengan mengorbankan dunia sekitar kita. Menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Allah berarti bertanggung jawab atas sesama makhluk, dan kita harus mengambil tanggung jawab itu dengan sangat serius.

Selain itu, Mazmur 8 pada satu sisi mengakui kekuasaan kita, tetapi pada sisi lain mengingatkan kita akan kerendahan hati kita. Kita masing-masing masih menjadi manusia normal yang terpesona menatap bintang-bintang dengan takjub. Kita menyandang gambar dan rupa Allah, tetapi kita bukanlah Tuhan; kita masih dan tetap manusia biasa. Oleh sebab itu, kita harus menyadari adanya keterbatasan kita dalam menjalankan tanggung jawab kita atas ciptaan Tuhan di dunia ini. Kita juga diingatkan bahwa kita adalah bagian dari ciptaan yang dikaruniakan Allah kepada kita kekuasaan. Kita tidak berdiri terpisah dari sesama makhluk, tetapi kita berdiri bersama mereka.

Semua makhluk, termasuk manusia, hidup dalam ketergantungan satu sama lain. Semakin kita memiliki kekuasaan atas ciptaan, kita juga bergantung pada ciptaan lain tersebut untuk kesejahteraan kita. Kedaulatan kita tidak pernah bisa berarti bahwa kita menempatkan diri kita di atas ciptaan lain. Sebagai “tuan” atas ciptaan lain, kita sebenarnya adalah pelayannya. Dengan menyadari dan menerapkan kekuasaan dan kedaulatan seperti ini, maka kemuliaan dan keagungan Tuhan semakin nyata dalam diri kita dan siptaan lainnya.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...