Thursday, May 26, 2022

Menjadi Saksi Kristus sampai ke Ujung Bumi – Tobali Samaduhu’ö Keriso Irugi Wondrege Danö (Kisah Rasul 1:6-11)

Khotbah Kenaikan Yesus ke Surga, Kamis, 26 Mei 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

6 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”
7 Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
11 dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

Yesus berbicara tentang masalah Kerajaan Allah di ayat 3, sehingga wajar kalau kemudian para rasul bertanya kepada-Nya tentang kerajaan Israel, yang mereka samakan dengan Kerajaan Allah. Ketika Yesus menampakkan diri kepada Kleopas dan murid lainnya di jalan ke Emaus, Kleopas berkata, “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (Luk. 24:21). Pembebasan bangsa Israel adalah perhatian utama murid-murid Yesus.

Pemahaman para rasul tentang Kerajaan Allah terkait erat dengan bangsa Israel. Mereka percaya bahwa Tuhan akan memulihkan Israel ke situasi kekuasaan politis sebelumnya, dan mereka menyamakan pemulihan itu dengan Kerajaan Allah yang diajarkan Yesus. Janji Yesus bahwa para rasul akan menerima karunia Roh Kudus (ay.5) terdengar bagi mereka sebagai awal dari pemulihan itu—pintu terbuka yang melaluinya kerajaan akan datang. Meskipun salah arah, pertanyaan para rasul cukup wajar.

“Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” (ay.7). Sebenarnya para murid sudah pernah diberitahu bahwa hanya Bapa saja yang tahu soal saat dan waktunya, tetapi sesaat sebelum Yesus naik ke surga mereka masih menanyakan-Nya. Itulah sebabnya Yesus kembali menegaskan soal waktu itu di ayat 7 tadi. Yesus tidak bermaksud bahwa Israel tidak akan dipulihkan. Sebaliknya, Dia memberi tahu mereka bahwa “saat atau waktu” dimaksud adalah urusan Tuhan—bukan urusan mereka. Biarkan Allah yang mengurus waktunya, para murid lebih baik menyelesaikan urusan mereka, yaitu menjadi saksi Kristus hingga ke ujung bumi. Kalau dalam bahasa anak-anak zaman now, Yesus seolah-olah berkata: “kalian jangan terlalu kepo, tuntaskan saja tugas dan tanggung jawabmu”. Böi fökhöi högöu ba zi tenga urusanmö.

Walaupun demikian, Yesus menjanjikan adanya kuasa yang akan turun atas para murid-Nya, yaitu Roh Kudus. Para rasul bertanya tentang waktu pemulihan kekuatan politik Israel (ay. 6), sementara Yesus memberi tahu mereka bahwa Roh Kudus akan turun atas mereka. Kuasa dari Tuhan itulah yang kemudian memampukan para murid untuk menjadi saksi.

Yesus berkata: “Kamu akan menjadi saksi” (Yunani: martures—kata dari mana kita mendapatkan kata martir) (ay. 8b). Syarat bagi orang yang akan menggantikan Yudas sebagai rasul adalah bahwa ia menjadi saksi kebangkitan—bahwa ia telah melihat Kristus yang bangkit (1:22). Dalam khotbahnya pada hari Pentakosta, Petrus menegaskan bahwa semua rasul adalah saksi kebangkitan Yesus (2:32). Saksi di mana? Mulai dari Yerusalem, seterusnya di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (ay.8c).

Yerusalem adalah kota Suci, tempat bait suci, pusat kehidupan religius Yahudi. Yudea adalah wilayah di mana Yerusalem berada. Samaria adalah wilayah di sebelah utara Yudea. Mendengar bahwa mereka akan menjadi saksi Samaria akan menjadi kejutan. Orang Yudea dan Galilea menganggap diri mereka sebagai umat Allah, tetapi mereka menganggap orang Samaria sebagai orang yang murtad. Tetapi, berita tentang Kristus pun harus disampaikan di Samaria. “Bagian paling ujung bumi” adalah wilayah bangsa lain (non-Yahudi), dan ini pun menjadi kejutan berikutnya setelah Samaria. Kesaksian tentang Yesus sampai ke ujung bumi, walaupun bagi orang Yahudi bangsa-bangsa lain itu lebih rendah. Jadi, menjadi saksi Kristus dimulai di tempat di mana kita berada, dan secara bertahap menyebarkannya ke lingkaran yang lebih luas hingga ke ujung bumi.

“Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (ay. 9). Ini adalah berita tentang kenaikan Yesus ke surga, disaksikan oleh para murid, dan oleh para malaikat (ay. 10-11). Kenaikan Yesus ini, tentu saja, mengakhiri penampakan kebangkitan. Itulah yang kita rayakan hari ini, peristiwa kenaikan Yesus ke surga, dengan mandat setiap orang percaya menjadi saksi-saksi-Nya di bumi.

“Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka” (ay. 10). Ada dua orang juga yang berdiri dekat kuburan Yesus ketika Dia bangkit. Dua adalah jumlah minimum yang diperlukan untuk saksi oleh hukum Yahudi (Ul. 19:15). Artinya, kesaksian mereka tentang kenaikan Yesus tidak perlu diragukan lagi.

Ketika para murid masih terpesona dengan kenaikan Yesus ke surga, maka kedua orang itu menyadarkan mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (ay. 11). Apa maksudnya? Para murid, menjadi saksi bagi Kristus, tidak saja sehubungan dengan kebangkitan-Nya, tetapi juga mengenai kenaikan-Nya ke surga. Para malaikat ini menegaskan janji bahwa Yesus yang mereka saksikan naik ke surga akan kembali ke bumi “dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” Jadi, para murid tidak ditugaskan untuk mencari tahu waktu pemulihan Kerajaan Israel, tetapi menjadi saksi kebangkitan dan kenaikan Yesus.

Setiap orang percaya adalah saksi bagi Kristus yang bangkit dan naik ke surga. Walaupun secara fisik kita belum bertemu dan melihat langsung Tuhan Yesus seperti para murid-Nya dulu, tetapi kita memiliki tulisan-tulisan yang mencatat peristiwa tentang Yesus itu. Kesaksian seperti apa yang dimaksud oleh Yesus? Berdasarkan konteks tulisan Lukas dalam Kisah para Rasul ini, maka kesaksian yang mesti kita nyatakan adalah kesaksian yang digerakkan oleh Roh Kudus. Oleh sebab itu, mari menjadi saksi yang digerakkan oleh Roh Kudus, mulai dari lingkungan terdekat kita, kemudian secara perlahan ke lingkungan yang lebih luas, hingga ke ujung bumi.


No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...