Wednesday, June 10, 2020

Menjalani New Normal: antara Siap dan Tidak Siap …


Gegap gempita masyarakat kita menyambut pelonggaran PSBB di beberapa daerah, dan atau penerapan kebijakan new normal (kenormalan baru), sungguh luar biasa. Istilah new normal menjadi populer sampai hari ini, dan lambat laun orang-orang mulai “melupakan” pandemi Covid-19 sebab sepertinya masih “terhipnotis” dengan new normal. Di mana-mana kita mendengar dan atau membaca “new normal”, mulai dari diskusi warung, hingga webinar yang diselenggarakan oleh banyak pihak.

Sebelumnya, hampir 3 minggu yang lalu, saya pernah menulis tentang new normal ini, yang intinya mempertanyakan kesiapan kita menghadapi era kenormalan baru tersebut (baca: Sudah Siap?). Walaupun ada beberapa orang yang tidak setuju dengan pandangan saya pada tulisan tersebut, karena seolah-olah “kehilangan harapan” padahal saya adalah hamba Tuhan (cieeee …), tetapi toh masih banyak yang berakal sehat dengan mengajukan pertanyaan yang sama, apakah kita ini sudah siap menjalani kehidupan di era yang baru “the new normal” karena pandemi Covid-19? Pertanyaan ini memang tidak perlu dijawab dengan terburu-buru, sebab yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana kita berefleksi dan mempersiapkan diri menjalani kenormalan baru tersebut.

Pada akhir Mei 2020, tepatnya pada minggu perayaan turunnya Roh Kudus, banyak gereja yang sudah mulai melaksanakan kebaktian di gedung gereja setelah sekitar 3 bulan dialihkan ke rumah. Katanya, kebaktian yang dilakukan tersebut tetap mengikuti himbauan pemerintah soal protokol kesehatan, intinya berkebaktian ala new normal dengan berbagai prosedur yang harus disiapkan dan dilaksanakan. Sebenarnya, tidak ada yang terlalu baru dengan protokol kesehatan new normal tersebut, seperti yang dikatakan oleh Pengkhotbah bahwa tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari (baca: New Normal yang Tidak Baru). Pertanyaannya ialah apakah benar semua gereja-gereja yang melaksanakan kebaktian tersebut sudah mengikuti protokol kesehatan yang seharusnya? Tolong dijawab dengan jujur ya …

Pada tanggal 6 Juni 2020, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), merilis Pedoman Umum Mempersiapkan Ibadah Minggu pada masa Transisi, bagi yang belum membacanya silakan baca di sini: Pedoman Ibadah di New Normal. Pada pedoman tersebut, ada empat (4) bagian tahap persiapan, yang semuanya berisi 28 butir pedoman, lumayan banyak. Nah, saya sendiri mengajukan pertanyaan “apakah kita sudah siap”? Maksudnya, apakah kita sudah siap beribadah sesuai dengan pedoman dari PGI tersebut? Atau, kita hanya siap beribadah tanpa terlalu memusingkan diri dengan protokol kesehatan dan tanpa mengindahkan pedoman dari PGI? Biasanya, gereja-gereja di wilayah yang masih belum terpapar Covid-19, alias zona aman/hijau, merasa tidak harus mengikuti himbauan PGI tersebut, dan bahkan di beberapa tempat merasa aman-aman saja, yang penting jangan sampai ketahuan sama aparat.

Setelah memasuki minggu ke-2 bulan Juni ini, apakah kita sudah siap dengan kenormalan baru itu? Sulit rasanya mengatakan “belum/tidak siap” sebab kita sudah melaksanakan kebaktian di gedung gereja yang mestinya menandakan bahwa kita sudah siap untuk itu. Tetapi, apakah itu menjadi jaminan kesiapan kita? Menurut saya, kebaktian yang sudah kita laksanakan kembali di gedung gereja serta aktivitas masyarakat yang berangsur pulih, belum dapat dikatakan bahwa kita sudah siap menjalani kehidupan dengan kenormalan baru itu. Walaupun ada beberapa poin dari pedoman PGI tersebut yang menurut saya tidak realistis, tetapi paling tidak PGI telah mengambil bagian penting dalam upaya menciptakan persekutuan ibadah yang membuahkan kehidupan di tengah pandemi Covid-19. Kalau membaca kembali 28 butir pedoman umum yang diterbitkan oleh PGI tadi, berapa persenkah yang sudah kita penuhi? Jawab dengan jujur ya … Jadi, sebenarnya, kita ini berada pada posisi antara sudah siap dan belum/tidak siap menjalani kehidupan dengan kenormalan baru.

Mengapa saya mengatakan bahwa kita ini berada pada posisi antara siap dan tidak siap? Karena himbauan dan ketaatan pada protokol kesehatan tersebut belum menjadi gerakan bersama, terutama di akar rumput. Dalam pengamatan saya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, salah satu himbauan yang paling sering dilanggar adalah soal jaga jarak (minimal 1 meter). Perhatikan dengan cermat jarak kita di gedung gereja, apakah sudah memenuhi jarak minimal ke samping kiri-kanan dan depan-belakang? Perhatikan dengan cermat kegiatan pembagian bansos (bantuan sosial) di beberapa tempat seperti Kantor Pos, di Kecamatan, atau di desa-desa, apakah tidak saling bersentuhan bahkan berdesak-desakan? Perhatikan harimbale, dan perhatikan juga beberapa pusat perbelanjaan/pasar di Gunungsitoli, atau di daerah lain, apakah ada jaga jarak minimal 1 meter? Apakah semua pakai masker? Apakah semua cuci tangan? Apakah kita langsung membersihkan diri sepulang dari pasar, harimbale, atau tempat kerja? Apakah saudara-saudara kita yang baru datang dari luar daerah sudah mengisolasi dirinya secara mandiri? Apakah pemeriksaan di pelabuhan dan bandara dilaksanakan dengan ketat dan jujur?

Bagi yang hendak melakukan perjalanan ke luar daerah, perlu diingat bahwa Anda harus melengkapi surat keterangan sehat yang melampirkan hasil non reaktif covid-19 dengan biaya mandiri. Selain biayanya yang lumayan besar (silakan cari sendiri ya di google biaya rapid test mandiri Covid-19), pemeriksaan ini juga tidak bisa dilakukan oleh semua rumah sakit. Bagi mereka yang ada di zona merah, ya lebih ketat lagi.

Sudahlah, di sini saya tidak menginventarisasi sebanyak mungkin rincian kesiapan atau ketidaksiapan kita. Silakan selidiki sendiri, dan beri penilaian tingkat kesiapan atau ketidaksiapan kita. Kalau sudah siap, ya pertahankan dan tingkatkan, dan kalau ternyata masih belum siap … ya jangan menyerah … mari kita bekerja keras dan bekerja sama untuk menyiapkan diri dengan lebih baik. Sehubungan dengan itu, kita harus menyadari bahwa penyiapan diri ini tidak hanya mengikuti protokol kesehatan ketika ibadah, tetapi bagaimana kita siap menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan beribadah, untuk bangkit kembali dari keterpurukan yang sempat kita alami, dengan menjaga diri, orang lain dan komunitas kita, sebab kita terpanggil untuk menghadirkan kehidupan.

Jangan paranoid, ah! Seperti bukan orang Kristen saja, tidak beriman! Percuma kau hamba Tuhan, seperti tidak punya harapan saja! Kau terlalu pesimis, anak-anak Tuhan itu harus optimis, kita kan mempunyai Allah yang mampu mengatasi segala perkara!

Itulah beberapa perkataan yang sering dilontarkan oleh beberapa orang ketika kita menyerukan pentingnya kewaspadaan dan penyiapan diri sehubungan dengan pandemi Covid-19 dan the new normal. Bro/sis, Yesus sendiri berulang kali mengingatkan para murid dan pengikut-Nya untuk waspada dan berjaga-jaga. Apakah Yesus kurang beriman atau kurang berpengharapan atau kurang optimis? Silakan jawab sendiri!

“Karena itu, berjaga-jagalah,
sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya”
(Mat. 25:13)

Saturday, June 6, 2020

Kembali ke Jati Diri sebagai Gambar dan Rupa Allah (Kejadian 1:26-31)


Khotbah Minggu, 07 Juni 2020
Disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo

26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
29 Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.
30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.
31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Nas khotbah pada hari ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pasal 1 hingga awal pasal 2 (Kej. 1:1 – 2:1-4a). Pada bagian ini, dituliskan narasi tentang bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Narasi ini dimulai dengan gambaran alam semesta yang kacau balau (belum berbentuk dan kosong) dan masih dikuasai oleh kegelapan, tetapi kemudian ditata sedemikian rupa oleh Allah Sang Pencipta sehingga menjadi teratur dan sungguh amat baik. Pekerjaan menciptakan (baca: menata) yang dilakukan oleh Allah diceritakan dengan ringkas hari demi hari (hari pertama hingga hari keenam), terpola dengan sistematis dan indah.

Apa artinya?
Penulis/editor kisah ini hendak memperlihatkan keajaiban, keagungan Allah melalui penataan alam semesta yang dilakukan-Nya. Walaupun sebelumnya alam semesta begitu kacau dan gelap, tetapi Allah kini telah membuat semuanya menjadi teratur dan indah. Walaupun sebelumnya alam semesta begitu kacau dan gelap, tetapi kini Allah memunculkan kehidupan yang begitu teratur dan indah. Sungguh suatu karya/pekerjaan yang penuh dengan kebijaksanaan, suatu karya yang penuh dengan kedamaian.

Nah, kalau dalam nas khotbah pada hari ini disebutkan bahwa Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, itu artinya manusia dijadikan oleh Allah dalam roh (semangat) keajaiban, keagungan, dan kebijaksanaan-Nya yang mendatangkan keteraturan, keindahan, dan kedamaian bagi alam semesta. Dengan kata lain, Allah menghadirkan manusia di alam semesta dengan maksud supaya manusia itu merefleksikan keajaiban, keagungan, dan kebijaksanaan ilahi. Dalam refleksi seperti ini, manusia dapat menjadi “mitra” Allah yang mendatangkan keteraturan, keindahan, dan kedamaian di alam semesta.

Implikasinya ialah manusia (diminta untuk) beranak cucu dan bertambah banyak, serta memenuhi bumi, menaklukkan dan menguasainya, dalam kerangka mendatangkan keteraturan, keindahan, dan kedamaian, bukan justru menjadi sumber kekacauan dan kegelapan. Hal ini semakin dipertegas oleh penekanan di ayat 27 bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupa-Nya. Semangat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tercermin di ayat ini, dan itu merupakan suatu keindahan yang patut disyukuri. Penegasan senada muncul juga di ayat 29, di mana manusia hanya diperbolehkan memakan segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, dan bukan daging binatang/ternak apa pun. Artinya, manusia tidak diperkenankan menumpahkan darah binatang/ternak sekalipun, sebab manusia itu dijadikan oleh Allah untuk mendatangkan kedamaian, bukan kekacauan, bukan pertumpahan darah. (Lalu, mengapa kita sekarang makan daging binatang/ternak? Jangan kuatir, kita tidak berdosa untuk itu, bacalah Kejadian 9:3).

Akhirnya, Allah sendiri melihat segala yang dijadikan-Nya, termasuk manusia, sungguh amat baik. Keteraturan, keindahan, dan kedamaian memang amat baik, demikianlah karya Allah yang begitu ajaib dan agung serta penuh dengan kebijaksanaan. Keagungan Allah ini digaungkan juga oleh pemazmur di kitab Mazmur 8, termasuk keajaiban Allah atas manusia, dari makhluk biasa menjadi hampir seperti Allah (Mzm. 8:4-5).

Bagaimana dengan dunia kita saat ini? Dengan cepat kita dapat mengatakan bahwa dunia di mana kita berada sedang merintih kesakitan, bukan saja karena pandemi Covid-19 melainkan karena ulah manusia yang merusak alam semesta beserta kehidupan yang ada di atasnya.

Sehubungan dengan pandemi Covid-19, Uskup gereja Katolik Roma, Romo Ignatius Kardinal Suharyo, mengatakan bahwa secara kolektif kita telah berbuat dosa terhadap alam semesta. Menurutnya, dalam bahasa iman, wabah muncul karena dosa ekologis, yaitu dosa yang dilakukan oleh manusia dengan merusak tatanan dan harmoni alam. Perusakan ini membuat alam tidak seimbang lagi, dan akibatnya sangat luas dan beragam, antara lain pemanasan global, perubahan iklim, polusi yang mengotori semua elemen alam semesta, dan munculnya berbagai penyakit baru, termasuk Covid-19. Ketidakseimbangan alam semesta tersebut membuat tubuh manusia tidak seimbang pula, akibatnya imunitas melemah sehingga membuat kita menjadi lebih rentan (rapuh) terhadap wabah. Seharusnya, alam memiliki caranya sendiri untuk meredam wabah, tetapi nafsu, keserakahan dan kesombongan manusia yang merusak alam justru membuat wabah tidak terbendung. Kita sudah jenuh berdiam, belajar, bekerja, dan beribadah di rumah, akhirnya kita nekat keluar rumah, tentu dengan pola atau tatanan kehidupan yang baru (new normal).

Paus Fransisikus mengatakan bahwa dengan keserakahannya, manusia hendak menggantikan tempat Allah, dan dengan demikian membangkitkan pemberontakan alam. Artinya, manusia sepertinya tidak puas kalau dirinya diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, manusia mau menjadi Allah. Kita semua terlibat di dalam dosa terhadap harmoni alam yang telah diciptakan oleh Allah dengan amat baik pada mulanya. Itulah dosa ekologis yang kita lakukan. Dengan pandemi Covid-19 ini, kita diberi peringatan keras bahwa kita telah mengingkari jati diri kita sebagai citra Allah yang seharusnya bertugas untuk menjaga harmoni alam, untuk menata dan mengatur alam supaya indah dan penuh kedamaian, bukan justru merusaknya.

Pada mulanya, manusia diciptakan untuk merefleksikan keajaiban, keagungan, dan kebijaksanaan Allah dengan mendatangkan keteraturan, keindahan, dan kedamaian di bumi atau pun di alam semesta, untuk menciptakan harmoni alam semesta. Tetapi apa yang terjadi dewasa ini? Dengan sengaja, banyak orang yang justru mendatangkan kekacauan di mana-mana, malah ada yang mendatangkan kekacauan itu atas nama agama. Banyak orang yang merusak alam semesta dengan berbagai cara, sampai kita kehilangan keindahannya. Baru-baru ini ribuan babi mati di Nias, sayang sekali banyak masyarakat kita yang membuangnya di sungai, di laut, termasuk di sepanjang pantai Laowömaru-Gunungsitoli. Kita seolah-olah tidak memikirkan dampak buruk yang terjadi karena pembuangan babi-babi mati tersebut.

Bagaimana dengan kedamaian? Wah, manusia justru menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Karena pandemi Covid-19, berbagai bantuan pemerintah (dan gereja) mengalir kepada masyarakat kita, BLT (Bantuan Langsung Tunai), BST (Bantuan Sosial Tunai), BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), program PKH, sembako, dll. Tetapi, bantuan-bantuan ini telah banyak menimbulkan persoalan di tengah-tengah masyarakat kita, semoga saja tidak akan terjadi pertumpahan darah.

Ini semua menunjukkan betapa kita telah mengingkari jati diri kita sebagai gambar dan rupa Allah yang seharusnya mendatangkan keteraturan atau harmoni, keindahan, dan kedamaian dalam kehidupan kita di bumi ini. Oleh sebab itu, marilah kita “bertobat”, kembali ke jati diri kita yang sebenarnya, kembali menghadirkan kebaikan di bumi kita, sebab pada mulanya Allah melihat bahwa segala yang dijadikan-Nya itu amat baik.

Tuesday, June 2, 2020

The New Normal yang Tidak Baru Sama Sekali


“Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari”
(Pengkhotbah 1:9)

Pandemi Covid-19 telah memaksa kita untuk memasuki babak baru dalam kehidupan di dunia ini, tidak peduli kita siap atau tidak. Secara perlahan, kita memasuki era baru yang dikenal dengan istilah new normal, kenormalan baru, yaitu suatu era dimana kita akan kembali ke kehidupan normal tetapi dengan tatanan yang baru setelah beberapa bulan “terkurung” di rumah untuk meminimalkan penyebaran virus corona. Saya tidak membahas lagi seperti apa kehidupan dengan kenormalan baru itu, bisa dibaca di sini: Kita Bisa, Kalau Kita Disiplin. Saya juga tidak membahas pro-kontra atas wacana the new normal (kenormalan baru) tersebut, bacaan di sini mungkin bisa membantu: Sudah Siap Menjalani Kehidupan New Normal? Saya yakin bahwa istilah “new normal” (kenormalan baru) bukan lagi istilah yang terlalu asing bagi kita, masyarakat kita secara perlahan mulai diperkenalkan dengan istilah tersebut dan bahkan diajak untuk menghidupinya.

Dalam perenungan saya akhir-akhir ini, saya menemukan bahwa kenormalan baru (new normal) yang sedang kita masuki karena pandemi Covid-19 ternyata bukan sesuatu yang baru sama sekali. Pola atau tatanan kehidupan normal baru tersebut lebih sebagai “re-produksi” dari apa yang sebelumnya pernah ada, lebih sebagai “re-kreasi” dari apa yang sebelumnya pernah kita lakukan. Mungkin inilah salah satu yang pernah diungkapkan oleh Pengkhotbah ribuan tahun yang lalu, bahwa sebenarnya tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari (Pengkhotbah 1:9); sesuatu yang pernah ada, itulah yang akan ada lagi, dan sesuatu yang telah diperbuat, itulah yang akan diperbuat lagi, demikian seterusnya.

Pembaca tulisan ini boleh saja tidak setuju dengan pernyataan bahwa kenormalan baru (the new normal) yang akan kita jalani bukanlah sesuatu yang baru sama sekali. Kalau masih menganggap the new normal tersebut merupakan sesuatu yang baru, pertanyaan saya adalah apanya yang baru? Bukankah pola hidup yang perlu dikembangkan di era the new normal tersebut pernah ada atau pernah dilakukan? Jadi, oleh karena tidak ada sesuatu yang baru sama sekali di bawah matahari, mestinya kita tidak terlalu terkejut apalagi tergagap menyikapi dan menjalaninya. Kita hanya berupaya untuk kembali melatih diri menghidupi pola hidup sehat yang dari dulu juga sudah diperkenalkan kepada kita. Di sinilah kemudian kita menyadari bahwa siapa pun mesti mampu beradaptasi dengan segala situasi, dan sebenarnya Tuhan telah menganugerahkan kita kemampuan untuk itu, kemampuan untuk berubah dan beradaptasi untuk bertahan hidup. Kuncinya adalah kemauan untuk kembali mendisiplinkan hidup yang mungkin selama ini sudah terlalu lama terlena dengan berbagai kemudahan yang ada. Pada tulisan sebelumnya, saya pernah mengatakan bahwa “kita bisa – kalau kita disiplin” (baca: Kita Bisa, Kalau Kita Disiplin).

Sekarang saya mau menunjukkan ketidakbaruan beberapa pola hidup sehat yang sedang digaungkan saat ini untuk menghadapi pandemi Covid-19. Kita mulai dengan pemakaian masker (kalau keluar rumah), yang sebenarnya bukan sesuatu yang baru sama sekali. Bagi tenaga medis, pemakaian masker sudah menjadi kewajiban terutama ketika menangani pasien tertentu, mis. pasien penyakit dalam, pasien operasi, dll. Kita, sebagai masyarakat biasa (non-medis), sebelumnya kadang-kadang memakai masker ketika membawa kendaraan roda dua misalnya. Di kota-kota besar dengan tingkat polusi yang tinggi seperti Jakarta, pemakaian masker ketika keluar rumah sudah merupakan tindakan yang lumrah. Jadi, pemakaian masker bukanlah sesuatu yang baru sama sekali.

Kita pun dihimbau untuk sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, atau memakai hand-sanitizer, serta melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan masing-masing. Inti dari himbauan ini adalah jagalah selalu kebersihan diri dan lingkungan. Lha, apa yang baru dengan ini? Sejak saya SD pun selalu ada himbauan “jagalah kebersihan”, dan kalau mau lebih rohani “kebersihan adalah bagian dari iman”. Mungkin ada yang mengatakan: “pemakaian hand-sanitizer kan baru”. Lho, kalau baru sama sekali maka produk hand-sanitizer itu tidak pernah ada, faktanya kan kita sudah bisa mendapatkannya, bahkan beberapa orang sudah biasa menggunakannya, jauh sebelum pandemi Covid-19. “Tetapi kan pernah mengalami kelangkaan, sulit didapat, kalau pun ada maka harganya tinggi”. Nah, ini terjadi lebih karena mental masyarakat kita saja yang suka borong dan melakukan penimbunan barang-barang tertentu, ada yang terlalu kuatir sehingga memborongnya, ada juga yang begitu tamak atau ingin cepat kaya sehingga melakukan penimbunan dan akan dijual dengan harga yang tinggi. Jadi, perihal kebersihan (baik mencuci tangan dan pemakaian hand-sanitizer) bukanlah sesuatu yang baru sama sekali.

Bagaimana dengan jaga jarak? Jangankan manusia, kendaraan saja dihimbau untuk jaga jarak. Tidak percaya? Silakan lihat foto berikut:

Lagi pula, kita tidak mungkin tidak jaga jarak dengan sesama kita, selalu harus ada jarak – jarak aman dan nyaman, bahkan suami-istri pun tidak mungkin lengket terus kayak perangko 😍😍. Tetapi kan, sekarang kita dihimbau jaga jarak minimal 1 meter. Benar, kalau boleh jaraknya lebih dari 1 meter. Lalu, apa yang baru dengan itu? Maksud inti dari himbauan untuk “jaga jarak” adalah supaya kita terhindar dari saling menularkan Covid-19, karena kita tidak tahu siapa di antara kita yang telah terpapar virus kecil tersebut. Sebelum pandemi Covid-19, himbauan ini pun sudah ada, kita mesti menjaga jarak dengan orang-orang yang mengidap penyakit menular, kalau di rumah sakit ada ruang isolasi untuk mereka (jadi, isolasi atau karantina juga bukan sesuatu yang baru sama sekali). Dalam Alkitab pun, diceritakan bahwa Yesus (dan murid-murid-Nya) pernah mengambil jarak dari orang banyak, mengambil waktu khusus untuk diri-Nya sendiri (lih. Mrk. 9:2; 6:31). Tidak ada yang baru sama sekali kan?

Tapi kan ada pengukuran suhu tubuh! Hmmm, apa yang baru dengan itu? Mengukur suhu tubuh adalah hal yang sudah biasa dilakukan sejak dulu, terutama ketika anak-anak sedang kurang sehat, orang tua saja kalau demam, suhu tubuhnya diukur. Artinya, tanpa pandemi Covid-19 pun pengukuran suhu tubuh sudah dan terus dilakukan. Demikian juga dengan etika batuk/bersin (harus tutup mulut/hidung), menghindari menyentuh wajah dengan sembarangan (lha, iya lah, masa tangan yang tidak bersih pegang wajah???), menjaga kesehatan misalnya dengan suplemen makanan/vitamin (lho, dari zaman tempoe doeloe juga ini penting). So, tidak ada yang baru sama sekali bukan?

Lalu, karena tidak ada yang baru sama sekali dengan the new normal tersebut, apakah kita boleh mengabaikannya? Nah, ini merupakan pola pikir yang memprihatinkan. Ada orang yang mengabaikan protokol kesehatan di era pandemi Covid-19 karena merasa memiliki kekebalan atau imunitas tubuh yang kuat, tetapi mengabaikan kesehatan orang lain. Ironisnya, ada juga orang yang mengabaikan protokol kesehatan tersebut dengan mencari legitimasi (pembenaran) atas tindakannya itu melalui pencomotan ayat-ayat Alkitab tertentu, misalnya Markus 16:17-18. Seorang pendeta di Kamerun (Afrika) meninggal dunia karena Covid-19 padahal sebelumnya dengan penuh kepercayaan diri dia mengaku bisa menyembuhkan orang-orang yang terpapar virus corona (baca: Pendeta Corona).

Karena tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari seperti dikatakan oleh Pengkhotbah, maka mestinya kita mudah beradaptasi dengan the new normal atau kenormalan baru dengan segala tatanan barunya tersebut, toh kenormalan baru tersebut lebih sebagai “pengulangan” (re-produksi, re-kreasi) dari kenormalan yang dulu juga pernah ada atau pernah dilakukan. Sekarang, kita tinggal membiasakan diri kembali untuk melakukan atau mengikuti protokol kesehatan di era pandemi Covid-19 ini. Orang yang sudah terbiasa hidup dalam ketaatan dan kedisiplinan yang baik, tidak akan mengalami kesulitan dari new normal yang tidak baru sama sekali tersebut. Bagaimana dengan Anda?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...