Saturday, June 6, 2020

Kembali ke Jati Diri sebagai Gambar dan Rupa Allah (Kejadian 1:26-31)


Khotbah Minggu, 07 Juni 2020
Disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo

26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
29 Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.
30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.
31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Nas khotbah pada hari ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pasal 1 hingga awal pasal 2 (Kej. 1:1 – 2:1-4a). Pada bagian ini, dituliskan narasi tentang bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Narasi ini dimulai dengan gambaran alam semesta yang kacau balau (belum berbentuk dan kosong) dan masih dikuasai oleh kegelapan, tetapi kemudian ditata sedemikian rupa oleh Allah Sang Pencipta sehingga menjadi teratur dan sungguh amat baik. Pekerjaan menciptakan (baca: menata) yang dilakukan oleh Allah diceritakan dengan ringkas hari demi hari (hari pertama hingga hari keenam), terpola dengan sistematis dan indah.

Apa artinya?
Penulis/editor kisah ini hendak memperlihatkan keajaiban, keagungan Allah melalui penataan alam semesta yang dilakukan-Nya. Walaupun sebelumnya alam semesta begitu kacau dan gelap, tetapi Allah kini telah membuat semuanya menjadi teratur dan indah. Walaupun sebelumnya alam semesta begitu kacau dan gelap, tetapi kini Allah memunculkan kehidupan yang begitu teratur dan indah. Sungguh suatu karya/pekerjaan yang penuh dengan kebijaksanaan, suatu karya yang penuh dengan kedamaian.

Nah, kalau dalam nas khotbah pada hari ini disebutkan bahwa Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, itu artinya manusia dijadikan oleh Allah dalam roh (semangat) keajaiban, keagungan, dan kebijaksanaan-Nya yang mendatangkan keteraturan, keindahan, dan kedamaian bagi alam semesta. Dengan kata lain, Allah menghadirkan manusia di alam semesta dengan maksud supaya manusia itu merefleksikan keajaiban, keagungan, dan kebijaksanaan ilahi. Dalam refleksi seperti ini, manusia dapat menjadi “mitra” Allah yang mendatangkan keteraturan, keindahan, dan kedamaian di alam semesta.

Implikasinya ialah manusia (diminta untuk) beranak cucu dan bertambah banyak, serta memenuhi bumi, menaklukkan dan menguasainya, dalam kerangka mendatangkan keteraturan, keindahan, dan kedamaian, bukan justru menjadi sumber kekacauan dan kegelapan. Hal ini semakin dipertegas oleh penekanan di ayat 27 bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupa-Nya. Semangat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tercermin di ayat ini, dan itu merupakan suatu keindahan yang patut disyukuri. Penegasan senada muncul juga di ayat 29, di mana manusia hanya diperbolehkan memakan segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, dan bukan daging binatang/ternak apa pun. Artinya, manusia tidak diperkenankan menumpahkan darah binatang/ternak sekalipun, sebab manusia itu dijadikan oleh Allah untuk mendatangkan kedamaian, bukan kekacauan, bukan pertumpahan darah. (Lalu, mengapa kita sekarang makan daging binatang/ternak? Jangan kuatir, kita tidak berdosa untuk itu, bacalah Kejadian 9:3).

Akhirnya, Allah sendiri melihat segala yang dijadikan-Nya, termasuk manusia, sungguh amat baik. Keteraturan, keindahan, dan kedamaian memang amat baik, demikianlah karya Allah yang begitu ajaib dan agung serta penuh dengan kebijaksanaan. Keagungan Allah ini digaungkan juga oleh pemazmur di kitab Mazmur 8, termasuk keajaiban Allah atas manusia, dari makhluk biasa menjadi hampir seperti Allah (Mzm. 8:4-5).

Bagaimana dengan dunia kita saat ini? Dengan cepat kita dapat mengatakan bahwa dunia di mana kita berada sedang merintih kesakitan, bukan saja karena pandemi Covid-19 melainkan karena ulah manusia yang merusak alam semesta beserta kehidupan yang ada di atasnya.

Sehubungan dengan pandemi Covid-19, Uskup gereja Katolik Roma, Romo Ignatius Kardinal Suharyo, mengatakan bahwa secara kolektif kita telah berbuat dosa terhadap alam semesta. Menurutnya, dalam bahasa iman, wabah muncul karena dosa ekologis, yaitu dosa yang dilakukan oleh manusia dengan merusak tatanan dan harmoni alam. Perusakan ini membuat alam tidak seimbang lagi, dan akibatnya sangat luas dan beragam, antara lain pemanasan global, perubahan iklim, polusi yang mengotori semua elemen alam semesta, dan munculnya berbagai penyakit baru, termasuk Covid-19. Ketidakseimbangan alam semesta tersebut membuat tubuh manusia tidak seimbang pula, akibatnya imunitas melemah sehingga membuat kita menjadi lebih rentan (rapuh) terhadap wabah. Seharusnya, alam memiliki caranya sendiri untuk meredam wabah, tetapi nafsu, keserakahan dan kesombongan manusia yang merusak alam justru membuat wabah tidak terbendung. Kita sudah jenuh berdiam, belajar, bekerja, dan beribadah di rumah, akhirnya kita nekat keluar rumah, tentu dengan pola atau tatanan kehidupan yang baru (new normal).

Paus Fransisikus mengatakan bahwa dengan keserakahannya, manusia hendak menggantikan tempat Allah, dan dengan demikian membangkitkan pemberontakan alam. Artinya, manusia sepertinya tidak puas kalau dirinya diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, manusia mau menjadi Allah. Kita semua terlibat di dalam dosa terhadap harmoni alam yang telah diciptakan oleh Allah dengan amat baik pada mulanya. Itulah dosa ekologis yang kita lakukan. Dengan pandemi Covid-19 ini, kita diberi peringatan keras bahwa kita telah mengingkari jati diri kita sebagai citra Allah yang seharusnya bertugas untuk menjaga harmoni alam, untuk menata dan mengatur alam supaya indah dan penuh kedamaian, bukan justru merusaknya.

Pada mulanya, manusia diciptakan untuk merefleksikan keajaiban, keagungan, dan kebijaksanaan Allah dengan mendatangkan keteraturan, keindahan, dan kedamaian di bumi atau pun di alam semesta, untuk menciptakan harmoni alam semesta. Tetapi apa yang terjadi dewasa ini? Dengan sengaja, banyak orang yang justru mendatangkan kekacauan di mana-mana, malah ada yang mendatangkan kekacauan itu atas nama agama. Banyak orang yang merusak alam semesta dengan berbagai cara, sampai kita kehilangan keindahannya. Baru-baru ini ribuan babi mati di Nias, sayang sekali banyak masyarakat kita yang membuangnya di sungai, di laut, termasuk di sepanjang pantai Laowömaru-Gunungsitoli. Kita seolah-olah tidak memikirkan dampak buruk yang terjadi karena pembuangan babi-babi mati tersebut.

Bagaimana dengan kedamaian? Wah, manusia justru menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Karena pandemi Covid-19, berbagai bantuan pemerintah (dan gereja) mengalir kepada masyarakat kita, BLT (Bantuan Langsung Tunai), BST (Bantuan Sosial Tunai), BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), program PKH, sembako, dll. Tetapi, bantuan-bantuan ini telah banyak menimbulkan persoalan di tengah-tengah masyarakat kita, semoga saja tidak akan terjadi pertumpahan darah.

Ini semua menunjukkan betapa kita telah mengingkari jati diri kita sebagai gambar dan rupa Allah yang seharusnya mendatangkan keteraturan atau harmoni, keindahan, dan kedamaian dalam kehidupan kita di bumi ini. Oleh sebab itu, marilah kita “bertobat”, kembali ke jati diri kita yang sebenarnya, kembali menghadirkan kebaikan di bumi kita, sebab pada mulanya Allah melihat bahwa segala yang dijadikan-Nya itu amat baik.

No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...