Friday, June 26, 2020

Bersikap dan Berelasi sebagaimana mestinya di dalam Tuhan (Kolose 3:18-21)


Rancangan Khotbah Minggu, 28 Juni 2020
Disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo

18  Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
19  Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
20  Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.
21  Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

Catatan khusus bagi para bapak/ibu pengkhotbah:
Ada satu hal penting yang mesti diperhatikan dengan cermat sebelum mengkhotbahkan teks khotbah ini. Kita jangan terjebak dengan hanya membaca dan berfokus saja pada teks ini, terutama ketika memberitakannya pada kebaktian minggu. Ada empat sikap dan relasi yang disinggung dalam teks ini, yaitu istri-suami (ay. 18), suami-istri (ay. 19), anak-orangtua (ay. 20), orangtua-anak (ay. 21). Persoalannya ialah bagaimana kalau ada warga jemaat yang kebetulan belum mempunyai istri dan atau suami? Bagaimana juga dengan pasangan suami-istri yang masih belum mempunyai anak? Bagaimana dengan warga jemaat yang mungkin saja tidak mempunyai orangtua karena misalnya telah meninggal dunia? Nah, pertanyaan-pertanyaan ini kiranya dapat membantu kita supaya cermat dalam menyampaikan firman Tuhan berdasarkan teks ini. Di sinilah pentingnya semacam sensitivitas sosial, atau empati sosial, dimana kita harus peka terhadap situasi jemaat supaya sebisa mungkin khotbah kita tidak mendiskreditkan mereka yang kebetulan belum memiliki anak misalnya, atau telah kehilangan orangtua, dll.

Oleh sebab itu, kita sebaiknya memahami nas khotbah ini dalam konteks tema besar surat Kolose tentang “Keutamaan Kristus”, yang kemudian berimplikasi pada sikap dan relasi orang-orang Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Tentang ini, ada beberapa contoh lain yang sebenarnya terungkap dalam surat Kolose, tetapi untuk hari ini contoh yang diberikan adalah sikap dan relasi dalam kehidupan keluarga. Dengan demikian, kita tentu mengkhotbahkan bagian ini, tetapi kita juga bisa memperluas implikasi praksisnya dengan penekanan pada “keutamaan Kristus” dalam kehidupan kita.



Keutamaan Kristus sebagai Dasar Kesetaraan
Ajaran tentang “keutamaan Kristus” dalam surat Kolose ini muncul sebagai tanggapan atas menjamurnya pengajar-pengajar palsu yang hendak menggantikan Yesus Kristus sebagai inti kepercayaan Kristen. Dalam upaya mereka memengaruhi jemaat untuk beralih dari Kristus, para pengajar palsu ini mencampuradukkan ajaran Kristen dengan tradisi-tradisi Yahudi tertentu serta filsafat gnostik. Dengan kata lain, para pengajar palsu ini hendak mereduksi ke-Tuhan-an Kristus menjadi setara dengan tradisi Yudaisme dan filsafat gnostik tersebut. Salah satu implikasi dari pengajaran palsu ini adalah adanya kelompok yang memandang dirinya sebagai kelompok dengan kelas yang lebih tinggi dari yang lain, sebab pengetahuan mereka akan Allah lebih tinggi dan lebih dalam dari orang biasa. Tentu, pandangan ini akan terus berimplikasi dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah dalam kehidupan keluarga, dimana akan berkembang sikap dan relasi dengan pola “superior-inferior”.

Oleh sebab itu, jemaat dihimbau untuk hidup dengan tetap menempatkan Kristus sebagai yang “Sulung” atau yang “Utama” dalam kehidupannya, yang kemudian harus tampak dalam sikap dan relasi mereka satu dengan yang lain, yaitu bahwa pada prinsipnya semua orang setara di dalam Kristus, satu-satunya yang “sulung” dan atau yang “utama” adalah Kristus sendiri. Hal ini tidak serta merta menafikan adanya perbedaan; setiap orang memiliki peran yang khas yang mesti dijalani dengan penuh tanggung jawab di dalam Kristus, tetapi peran-peran tersebut tidak boleh dipahami dalam paradigma “superior-inferior”. Hal itulah yang mendapat penekanan penting dalam kehidupan keluarga, bahwa masing-masing anggota keluarga mempunyai peran/fungsi yang harus dijalankan dalam kerangka saling melayani (Kol. 3:18 – 4:1).

Sikap dan Relasi yang Patut di dalam Kristus
Sekarang, kita akan melihat bagaimana implikasi praktis dari keutamaan Kristus ini dalam kehidupan keluarga, dengan catatan bahwa implikasi ini dapat juga diterapkan dalam kehidupan yang lebih luas, misalnya kehidupan bergereja dan bermasyarakat.

Pada bagian sebelumnya telah disebutkan bahwa ada empat sikap dan relasi yang disinggung dalam teks khotbah ini, yaitu istri-suami (ay. 18), suami-istri (ay. 19), anak-orangtua (ay. 20), orangtua-anak (ay. 21).

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan” (ay. 18). Kata “tunduk” di sini dalam bahasa Yunani adalah “hupatassō”, yang berarti “penyerahan diri” (submit). Pada satu sisi, kata ini menunjukkan hubungan “superior-inferior”, atau hubungan “atasan-bawahan”, tetapi pada sisi lain muncul kata-kata berikutnya pada ayat ini “sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan”. Artinya, patokan “ketundukan” istri di sini adalah Tuhan, bukan suami; istri “tunduk” kepada suaminya sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan, bukan sebagaimana seharusnya di dalam suami. Jadi, ayat ini tidak bisa dipakai oleh para suami untuk “menjajah” istrinya; sebaliknya para istri juga jangan menyalahgunakan apalagi memutarbalikkan teks ini, dari “tunduk” kepada suami menjadi “tanduk” suami. Teks ini (dalam bahasa Indonesia) dengan jelas mengatakan “hai isteri-isteri, TUNDUKLAH kepada suamimu …”, bukan “hai isteri-isteri, TANDUKLAH suamimu …”. Para istri yang berjalan bersama Kristus, atau menjadikan Kristus sebagai yang utama dalam kehidupannya, akan lebih mudah untuk “tunduk” kepada suaminya, tentu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.

“Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (ay. 19). Melalui kata-kata ini, para suami dinasihati untuk “mengasihi”, itu sikap yang seharusnya dimiliki oleh suami terhadap istrinya, dan berdasarkan sikap itu suami membangun relasinya kepada istrinya. Kata “mengasihi” (Yun. agapaō) di sini sebenarnya masih abstrak, maka disusul kemudian dengan konkretisasinya, yaitu “janganlah berlaku kasar terhadap istri” (Yun. pikrainō). Artinya, suami yang sungguh-sungguh mengasihi istrinya tidak boleh menyakiti istrinya dengan alasan apa pun, baik secara verbal maupun non-verbal; suami tidak boleh menyakiti hati istrinya misalnya dengan sindiran-sindiran tertentu (embitter) atau lelucon-lelucon tertentu yang sebenarnya lebih sebagai sindirian yang menyakitkan atau sindirian yang melecehkan; atau secara harfiah suami tidak boleh memberi “kepahitan” kepada istrinya, tidak boleh berlaku kasar kepada istrinya. Para suami yang berjalan bersama Kristus, atau menjadikan Kristus sebagai yang utama dalam kehidupannya, akan lebih mudah untuk “mengasihi” dan tidak berlaku kasar kepada istrinya.

“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan” (ay. 20). Di sini anak-anak diminta untuk taat kepada orangtuanya, mematuhi orangtua, mendengarkan dan mengikuti sepenuh hati nasihat dan atau “perintah” orangtuanya, bahkan dalam segala hal. Jadi, tidak boleh ada alasan bagi anak-anak untuk tidak taat kepada orangtuanya, dengan sendirinya anak-anak tidak boleh memperlakukan orangtuanya dengan cara-cara yang tidak baik. Nasihat ketaatan anak-anak kepada orangtuanya di sini, apalagi dalam segala hal, dapat menimbulkan persoalan, apalagi dalam masyarakat modern dewasa ini. Para pegiat HAM akan mempersoalkan nasihat ini, karena terkesan tidak memberi ruang atau kebebasan bagi anak-anak untuk menikmati masa kanak-kanak mereka, dan terkesan orangtua dapat bertindak otoriter terhadap anak-anaknya. Tetapi, perhatikanlah kata-kata berikutnya “karena itulah yang indah di dalam Tuhan”. Sama seperti “ketundukan” istri tadi kepada suaminya (ay. 18), ketaatan anak-anak kepada orangtua di sini juga harus dalam kerangka “menyenangkan/memuaskan” Tuhan, bukan sekadar menyenangkan/memuaskan orangtua. Bahasa Yunani yang dipakai adalah “euarestos”, yang dapat diartikan menyenangkan, memuaskan, atau berterima/disetujui. Nah, ukurannya di sini adalah Tuhan sebagai yang Utama, bukan orangtua. Jadi, orangtua tidak boleh menyalahgunakan teks ini untuk menyenangkan atau memuaskan keinginannya dengan bersikap dan berlaku otoriter terhadap anak-anaknya. Hal ini lebih jelas nanti pada ayat berikutnya (ay. 21). Anak-anak yang berjalan bersama Kristus, atau menjadikan Kristus sebagai yang utama dalam kehidupannya, akan lebih mudah untuk “taat” kepada orangtuanya dalam segala hal, tentu untuk menyenangkan hati Tuhan.

“Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (ay. 21). Setelah menasihati anak-anak untuk taat dalam segala hal kepada orangtuanya, dan supaya orangtua tidak menyalahgunakan posisinya terhadap anak-anaknya, maka langsung saja penulis surat Kolose ini meminta “bapa-bapa” untuk tidak menyakiti hati anak-anaknya. Kita kurang tahu mengapa dalam nasihat ini hanya disebutkan “bapa-bapa”, seolah-olah “ibu-ibu” tidak termasuk di dalamnya. Tampaknya, hal ini ada kaitannya dengan budaya patriarkat, dimana bapa-bapa lebih dominan ketimbang ibu-ibu. Tetapi, hal ini tidak berarti para ibu boleh bebas menyakiti anak-anaknya, menurut saya, nasihat ini juga berlaku untuk para ibu, kecuali ibu-ibu tidak mengakui kalau anak tersebut sebagai anaknya. Lalu, apa maksudnya “janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” dalam teks ini? Kata Yunani yang dipakai untuk “menyakiti hati” di sini adalah erethizō, yang secara harfiah berarti memprovokasi, membangkitkan amarah, menghasut, memancing supaya marah atau memberontak, atau dalam bahasa Nias “böi mi’andrö wönu ndraonomi”. Mengapa orangtua tidak boleh “menyakiti” hati anak-anaknya, dalam pengertian tidak boleh “memancing amarah” anak-anaknya? “Supaya jangan tawar hatinya”, “fa böi ada’uda’u ira”. Kata Yunani yang dipakai adalah athumeō, yang berarti patah semangat, tidak bersemangat, berkecil hati, kecut hatinya. Nah, berapa kali kita, orangtua, menyakiti hati anak-anak kita dengan nasihat atau teguran yang sebenarnya justru kasar, keras, dan mematahkan semangat anak-anak kita? Kalau kita jujur, kita akan mengakui bahwa – sadar atau tidak sadar – kita seringkali tidak mendengarkan anak-anak, kita menasihati atau menegur mereka dengan cara dan dengan kata-kata yang justru memancing pemberontakan mereka, atau yang justru membuat mereka menjadi anak-anak yang kehilangan rasa percaya dirinya. Bapa-bapa, orangtua yang berjalan bersama Kristus, atau yang menjadikan Kristus sebagai yang utama dalam kehidupannya, tidak akan menyakiti hati anak-anaknya, sebaliknya dia akan menjadi pemberi semangat hidup bagi anak-anaknya, meluangkan waktu untuk mendengarkan anak-anaknya, berdoa bersama mereka, membantu mereka mengembangkan keterampilan atau potensi mereka dan menjadikan rumah sebagai tempat paling bahagia dan terbaik di dunia.

Demikian juga halnya dengan kehidupan kita di bidang yang lain, kalau Kristus yang utama dalam kehidupan kita, maka akan lebih mudah bagi kita untuk saling melayani, bukan saling mendominasi atau saling menguasai. Memang, keegoisan kita seringkali membawa perpecahan dan atau konflik di dalam keluarga, di gereja, di tempat kerja, dan di mana saja. Dengan menjadikan Kristus sebagai yang utama dalam kehidupan kita, maka akan lebih mudah bagi kita untuk bersikap dan berelasi dengan siapa pun sebagaimana layaknya di dalam Tuhan.

 

2 comments:

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...