Saturday, February 19, 2022

Mengasihi dengan Istimewa (Lukas 6:27-37)

Khotbah Minggu, 20 Februari 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

6:27 “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”
6:37 “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.


Kita sudah lama terbiasa dengan tradisi “balas-membalas”, faoma tasulöni nilau nawöda khöda, baik perbuatan yang jahat maupun yang baik. Kita ingat misalnya ungkapan: “faoma ono nama ita”, “olifu laosi ba lö olifu dandrawa”, fataria so zangoroi’ö ba ndraononia hewisa wolau nawönia khönia si lö baga. So göi meföna nifotöi “fatanö luo”, “falulu ba halöwö”, “tolotolo ono matua”, “zulözulö”, btn.

Saya yakin bahwa sebagai orang Kristen, kita selalu berupaya untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, Alkitab sudah mengajarkan kita akan hal itu, dan pada hari ini ajaran itu ditegaskan kembali dengan tidak membalas kejahatan kepada orang yang mengutuk kita, mencaci kita, dan menampar pipi kita. Kita malah dianjurkan untuk berdoa memohonkan berkat bagi mereka yang menyakiti kita, dan yang paling aneh adalah memberikan pipi kita yang lain ketika ada orang menampar kita, serta memberikan baju kita kepada orang yang mengambil jubah (lembe). Kita sudah tahu semua ini, tetapi dalam praktiknya amat sulit dilakukan. Intinya adalah kita harus mengasihi orang-orang yang membenci kita, musuh kita; suatu hal yang amat sulit dilakukan. Tetapi, itulah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita, dan kita harus terus menerus berupaya melakukannya.

Kata-kata Yesus yang amat sulit ini sebenarnya masih ada kaitannya dengan perkataan-Nya sebelumnya di ayat 22: “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.” Yesus mengingatkan murid-murid dan seluruh pengikut-Nya, untuk siap menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi oleh karena mengikut Yesus, terutama kemungkinan diperlakukan dengan tidak baik. Mengikut Yesus berarti siap mengambil risiko memikul salib yang adalah simbol penderitaan itu. Jadi, kalau ada orang yang menampar pipi kita yang satu misalnya, maka kita harus mampu menunjukkan kepadanya bahwa apa pun yang dia lakukan kepada kita, kita tetap mengikut Yesus, kita bahkan sudah siap ditampar lagi (pipi yang lain); demikian juga dengan jubah (lembe) dan baju. Kita hendak menyatakan kepada mereka yang menyakiti kita oleh karena mengikut Yesus, silakan lakukan apa pun yang engkau inginkan, saya tidak akan membalasnya dengan perbuatan jahat kepadamu, saya sudah siap menghadapi penghinaanmu, dan itu tidak akan menghentikan saya untuk tetap mengikut Yesus. Hal ini juga yang ditegaskan oleh Paulus kepada jemaat Kristen di Roma, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:35, 38, 39).

Hari ini, Yesus meminta kita untuk mengasihi siapa pun secara istimewa, yaitu mengasihi mereka yang membenci kita oleh karena mengikut Dia, mengasihi mereka yang memusuhi kita oleh karena kita tetap berpegang pada kebaikan dan kebenaran, mengasihi mereka yang menganiaya kita dengan berbagai cara oleh karena kita tidak mau meninggalkan Tuhan Yesus, mengasihi mereka yang mengkafir-kafirkan kita oleh karena kita tetap percaya pada berita salib.

Yesus mengajak kita untuk meninggalkan kebiasaan lama kita dengan hukum “saling membalas” itu, baik dalam hal kejahatan maupun kebaikan. Beberapa contoh yang diberikan oleh Yesus, ada di ayat 32, 33, dan 34. Kalau kita hanya berbuat baik kepada mereka yang berbuat baik kepada kita, apa istimewanya kita sebagai pengikut Kristus? Bukankah orang jahat dapat melakukan hal yang sama kepada sesamanya penjahat? Kalau kita menolong sesama kita oleh karena dia pernah menolong kita, atau menolong dia supaya kelak dia juga menolong kita, apa istimewanya kita sebagai pengikut Kristus? Bukankah orang-orang jahat dapat melakukan hal sama? Kalau kita, misalnya, hanya meminjamkan uang/barang kepada orang yang pernah membantu kita, atau kepada orang yang kita yakini dapat melunasinya nanti (ditambah dengan bunganya), apa hebatnya kita sebagai pengikut Kristus? Kalau kita, seperti yang biasa dalam adat Nias, memberi makan orang lain oleh karena dulu dia pernah memberi kita makan, atau supaya nanti juga dia memberi kita makan, apa kelebihan kita sebagai pengikut Kristus? Orang berdosa pun, demikian kata Yesus, dapat melakukan hal yang sama. Sebagai pengikut Kristus, mestinya kita bermurah hati, mengasihi musuh berbuatlah baik kepada mereka dan memberi pinjaman kepada mereka dengan tidak mengharapkan balasan (ay. 36, 35).

Terakhir, Yesus mengajak kita untuk selalu berbuat baik, apa pun situasinya, itulah maksud dari kata-kata-Nya di ayat 31 “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka”. Kita, tentunya, menghendaki kebaikan dari orang lain, maka berbuat baiklah kepada orang-orang di sekitar kita, lakukanlah kebaikan dengan tidak mengharapkan balasan, maka, kata Yesus: “upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi”. Kalau pun ada orang yang berbuat salah kepada kita, maka “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni” (ay. 37).

Thursday, February 10, 2022

Memilih untuk selalu Mengandalkan TUHAN (Yeremia 17:5-10)

Bahan Khotbah Sekber UEM, Minggu, 13 Februari 2022
Disusun oleh: Pdt. Alokasih Gulo

5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?
10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."


A. Pendahuluan
Nabi Yeremia bernubuat di Israel Selatan (Yehuda) pada saat-saat paling kritis di negara itu. Pada masa-masa inilah terjadi peristiwa yang amat bersejarah bagi bangsa itu: Yerusalem yang di dalamnya ada Bait Allah dihancurkan, dan bangsa itu dibuang ke Babel. Ada banyak pergolakan politik di Timur Dekat dan bangsa-bangsa saling berkonflik. Sementara pengaruh Asyur berkurang, Mesir dan Babel masing-masing mencoba untuk menguasai daerah Bulan Sabit yang Subur. Itulah sebabnya terjadi banyak pertempuran sengit di wilayah ini, dan banyak kota besar yang hancur, tak terkecuali Yerusalem. Akibatnya, pada zaman nabi Yeremia ini, para pemimpin bangsa Yehuda bergantung pada skema, kesepakatan, kompromi dan aliansi dengan bangsa lain. Untuk kepentingan ini, dibutuhkan biaya yang amat besar, sehingga perhatian terhadap kesejahteraan rakyat banyak hampir tidak ada. Mereka membuat kesepakatan-kesepakatan dengan berbagai pihak, terutama bangsa yang dianggap lebih kuat. Dengan kesepakatan seperti ini, mereka beranggapan bahwa masalah selesai, aman, dan bisa hidup dengan tenang. Memang, pada waktu itu raja Yosia sempat melakukan reformasi, tetapi raja-raja sesudahnya tidak meneruskan sepenuhnya reformasi tersebut.

Hal inilah yang kemudian dikecam oleh TUHAN melalui nabi Yeremia, bahwa rasa aman itu hanyalah sementara, tidak lebih sebagai rasa aman palsu. Yeremia mengingatkan bangsa itu untuk tidak menaruh pengharapan kepada bangsa lain, untuk tidak menaruh pengharapan kepada kekuatan manusia, sebab itu tidak menyelesaikan masalah. Keamanan yang diberikan oleh sesama manusia hanyalah sementara, bahkan dapat menjadi bumerang bagi mereka. Semakin bergantung kepada orang atau bangsa lain, semakin besar upeti yang harus dibayarkan, dan itu berakibat buruk bagi mereka.

B. Kutuk dan Berkat (17:5-8)
Di tengah-tengah situasi yang sulit tersebut, Yeremia menegaskan bahwa hanya ada dua opsi bagi bangsa Israel, mengandalkan manusia atau mengandalkan TUHAN. Mereka yang memilih opsi pertama, mengandalkan manusia, akan terkutuk (ay. 5-6), tetapi mereka yang memilih opsi kedua, mengandalkan TUHAN, akan diberkati (ay. 7-8). Firman TUHAN yang disampaikan Yeremia pada teks ini mirip dengan Mazmur 1, yang mengucapkan berkat-berkat bagi mereka yang “kesukaannya ialah Taurat TUHAN” (Mzm. 1:2). Orang-orang seperti itu ibarat “pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mzm. 1:3). Sebaliknya, orang fasik ibarat “sekam yang ditiupkan angin” (Mzm. 1:4) sehingga mereka pun “tidak akan tahan dalam penghakiman” (Mzm. 1:5). Dengan kata lain, teks Alkitab (baik Yeremia maupun Mazmur) hendak memperlihatkan kepada kita bahwa mereka yang hidup menurut kehendak TUHAN akan diberkati, sebaliknya mereka yang hidup menurut keinginan manusia akan dikutuk.

(1) Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia (17:5-6)
TUHAN Allah mengecam dan bahkan mengutuk orang yang mengandalkan manusia, mengandalkan kekuatannya sendiri, dan hatinya menjauh dari pada TUHAN. Kecaman ini tidak terlepas dari sikap dan tindakan bangsa Yehuda yang lebih cenderung membangun koalisi dengan bangsa-bangsa yang dianggap dapat melindungi mereka dari serbuan bangsa besar lainnya. Situasi politik yang tidak kondusif membuat mereka kehilangan pegangan hidup, sayangnya mereka bukan mencari perlindungan TUHAN melainkan mencari pertolongan sesama manusia. Dalam teks ini, nabi TUHAN hendak mengingatkan raja-raja Yehuda untuk berfokus pada reformasi internal mereka, kembali ke jalur yang benar, mendekatkan diri kepada TUHAN, bukan mencari perlindungan dari bangsa-bangsa lain.

Kita sering mendengar kata-kata motivasi bahwa seseorang harus berani menghadapi berbagai persoalan hidupnya, dan harus yakin bahwa dia bisa mengatasi masalah itu. Manusia harus yakin dengan potensi atau kekuatan yang dia miliki, sebab dipercaya bahwa Tuhan memberikan potensi atau kekuatan bagi setiap orang. Kata-kata motivasi ini tidak salah, tetapi dalam konteks Yehuda pada zaman nabi Yeremia, ceritanya berbeda. Manusia yang mengandalkan kekuatannya, baik kekuatan sesama maupun kekuatannya sendiri, seringkali bersikap dan bertindak arogan, dan bahkan hidup menjauh dari TUHAN. Hal inilah yang dikecam oleh TUHAN melalui nabi Yeremia, bahwa bangsa Yehuda tidak boleh mengandalkan kekuatan manusia dalam menghadapi ancaman dari bangsa-bangsa lain, tidak boleh mengandalkan kekuatan negara lain untuk melawan musuh-musuh mereka. Mengandalkan kekuatan manusia, atau mengandalkan kekuatan perlindungan dari negara lain, hanya akan mendatangkan kesulitan dan penderitaan bagi mereka. Ada harga yang harus dibayar ketika mereka meminta pertolongan dan perlindungan dari orang/bangsa lain, upeti yang besar, dan bahkan ikut menyembah ilah-ilah bangsa lain itu.

Mereka yang mengandalkan manusia dan sejenisnya, diibaratkan seperti semak bulus di padang belantara yang tidak akan mengalami datangnya keadaan baik, tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Tanaman ‘semak bulus’ dapat ditemukan di wilayah Timur Dekat, tetapi hampir tidak pernah menikmati baiknya kehidupan. Pada musim panas, terik matahari dapat mengubah tanah menjadi debu, akibatnya semak bulus itu menyusut layu dan kering, sehingga tidak bermanfaat sama sekali. Demikianlah gambaran bangsa Yehuda yang mengandalkan kekuatan manusia atau mengandalkan kekuatannya sendiri tetapi hidup jauh dari TUHAN. Itulah maksud dari perkataan “tidak akan mengalami datangnya keadaan baik, tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk”. Apabila bangsa itu tidak bertobat, tidak kembali ke jalan TUHAN, mereka akan bernasib seperti semak bulus, dan akan dibuang ke negeri orang, tidak menghasilkan buah yang bermanfaat, dan mereka akan diasingkan. Mereka akan tinggal di negeri padang asing yang tidak berpenghuni, yaitu tanah yang telah ditaburi dengan garam yang berlebihan sehingga berubah menjadi tanah beracun. Tinggal di tanah beracun seperti itu menggambarkan kesulitan dan penderitaan yang akan dialami oleh bangsa Yehuda kalau mereka mengandalkan kekuatan manusia. Perkataan ini juga hendak mengingatkan bangsa Yehuda akan perbudakan yang pernah dialami oleh leluhur mereka di Mesir, dan bahwa Mesir tidak mungkin memberikan perlindungan yang sejati kepada mereka. Sayang sekali, di kemudian hari, bangsa Yehuda tetap meminta pertolongan dari bangsa Mesir (lih. Yer. 42:14), dan akibatnya mereka di buang ke Babel.

(2) Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN (17:7-8)
Setelah menyampaikan kecaman dan atau kutukan TUHAN atas mereka yang memohon perlindungan dari orang/bangsa lain, kini Yeremia menyampaikan berita sukacita bagi mereka yang mengandalkan TUHAN, mereka yang menaruh harapannya pada TUHAN. Tidak seperti hidup orang yang mengandalkan kekuatan manusia, mereka yang memilih percaya pada perlindungan TUHAN akan menikmati hidup yang bahagia, hidup yang penuh dengan berkat TUHAN. Mereka yang hidup menurut jalan TUHAN diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Pohon yang ditanam di tepi air merupakan metafora untuk kehidupan yang jauh lebih baik daripada semak bulus. Tumbuhan membutuhkan air untuk bertahan hidup, bertumbuh, dan berbuah. Pohon yang ditanam di tepi aliran air akan selalu mendapatkan persediaan air yang melimpah, tidak mengenal musim panas, tidak mengalami kekeringan. Demikianlah hidup orang yang percaya pada pertolongan dan perlindungan TUHAN, akan berakar kuat, bertumbuh, dan berbuah. Mereka tidak akan mengalami kekurangan kebutuhan, sebab TUHAN sendiri yang akan menyediakan makanan dan minuman bagi mereka hingga berkelimpahan. Ini merupakan gambaran yang kontras dengan mereka yang lebih mengandalkan kekuatan manusia tadi. Orang yang mengandalkan TUHAN dalam hidupnya, akan senantiasa mendapatkan pemeliharaan Allah, pemeliharaan yang terus menerus, pemeliharaan yang tidak perlu dibayar dengan upeti apa pun.

Mungkin saja muncul persoalan yang dapat membuat kita bingung. Dalam faktanya, banyak orang yang percaya kepada Tuhan yang justru hidup dalam kesulitan, banyak orang yang setia kepada Tuhan tetapi justru menderita. Ayub tahu itu, begitu pula Yesus. Namun demikian, orang yang percaya kepada TUHAN senantiasa mendapatkan pemeliharaan Allah, bahkan dalam kesulitasn sekalipun. Mengapa? Karena orang-orang yang percaya pada TUHAN akan berakar dalam hubungan yang baik dengan Dia, dan hubungan itu yang memampukan mereka untuk menghadapi berbagai kesulitan dan menjauhkan mereka dari keputusasaan.

C. TUHAN tahu Isi Hati Manusia (17:9-10)
Kita sering mendengar ungkapan: “Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu?” Peribahasa ini memiliki arti bahwa akan sangat sulit bagi kita untuk menduga dan memastikan pikiran dan hati seseorang. Persoalannya lagi ialah kalau hati seseorang itu penuh dengan rencana jahat, pikiran kotor, hati yang licik. Siapa yang bisa menduganya? Siapa yang mampu mengetahuinya? Itulah pertanyaan yang juga diajukan oleh Yeremia (17:9). Ini tidak terlepas dari sikap bangsa Yehuda yang tidak sesuai dengan kehendak TUHAN, hati mereka cenderung menjauh dari TUHAN. Apabila kita membaca ayat-ayat sebelumnya, maka akan terlihat betapa hati bangsa itu dipenuhi dengan penyembahan berhala (17:1-4). Allah telah menolong leluhur mereka, telah menghantarkan mereka tiba di tanah perjanjian, tetapi bangsa Yehuda justru menyimpang dengan liciknya dari jalan TUHAN.

Sepintas, orang tidak tahu kalau hati bangsa itu semakin menjauh dari TUHAN, secara formal mereka terlihat seperti orang yang masih takut akan TUHAN. Benarlah yang dikatakan Yeremia bahwa hati mereka licik, dan manusia biasa tidak mampu mengetahuinya. Namun demikian, TUHAN mengenal semuanya, tidak ada yang tersembunyi kepada-Nya. Firman TUHAN berkata: “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya” (17:10). Dengan demikian, manusia tidak bisa bersembunyi dari hadapan TUHAN, isi hati manusia dikenal seluruhnya oleh TUHAN, tidak ada yang bisa mengelak.

Harus kita akui bahwa sulit bagi kita untuk memahami hati orang lain, karena orang menyembunyikan pikiran dan perasaannya yang terdalam untuk menunjukkan sisi terbaiknya. Jika orang lain bisa mengetahui setiap pikiran kita, hidup kita akan sangat berbeda. Lebih jauh lagi, kita sering menemukan hati kita sendiri terbagi dan membingungkan. Rasul Paulus mengaku, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Roma 7:15). Kita semua mendapati diri kita terkoyak oleh nilai-nilai dan keinginan yang saling bertentangan. Jika kita kesulitan memahami hati kita sendiri, bagaimana kita bisa berharap untuk memahami hati orang lain?

Syukurlah bahwa Tuhan tidak seperti manusia yang penuh dengan keterbatasan. Kita tidak bisa menipu Tuhan, Dia tahu isi hati kita. Tuhan pernah berkata kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Samuel 16:7). Manusia boleh saja tampil seperti orang yang percaya kepada Tuhan, atau seperti orang yang lurus hatinya, tetapi percayalah tidak ada satu pun yang tersembunyi bagi Tuhan. Kita mungkin saja bisa mengakali sesama, atau orang lain dapat mengakali kita, tetapi hal itu tidak bisa kita lakukan bagi Tuhan. Penulis surat Ibrani telah mengingatkan kita akan hal ini: “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibr. 4:13).

D. Penutup
Dalam hidup ini selalu ada pilihan, dan setiap pilihan selalu ada konsekuensinya. Firman Tuhan pada hari ini mengajarkan kita bahwa apabila bangsa Yehuda memilih jalan mereka sendiri, yakni mengandalkan kekuatan manusia, akibatnya buruk, dan itu telah terjadi ketika mereka dibuang ke Babel. Kita juga belajar bahwa apabila bangsa Yehuda taat kepada Tuhan, mengandalkan dan menaruh harapannya pada Tuhan, hidup mereka dapat berakar, bertumbuh, dan berbuah dengan baik. Pertolongan Tuhan selalu tersedia bagi mereka yang percaya kepada-Nya, dan itu yang pernah dinikmati oleh para pendahulu bangsa Yehuda sejak di Mesir hingga di tanah perjanjian.

Kita masih berada pada masa-masa sulit, pandemi covid-19 belum selesai, virus itu terus menghantui kehidupan kita. Kita memang harus taat pada prokes dan ikut program vaksinasi yang dilaksanakan oleh pemerintah. Dalam kepercayaan dan pengharapan penuh kepada Tuhan, kita menjalani kehidupan kita dengan bijak, memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada untuk menghadapi situasi sulit. Kita jangan menyerah, kita percaya bahwa Tuhan memiliki banyak cara untuk menolong dan memelihara kita. Mari memilih untuk tetap mengandalkan Tuhan.



Sunday, February 6, 2022

Menjadi Pengikut Yesus – Tobali Solo’ö Yesu (Markus 1:16-20)

Khotbah Minggu, 06 Februari 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.
17 Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”
18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu.
20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.


Teks ini berisi kisah tentang pemanggilan para murid Yesus dalam rangka proklamasi Kerajaan Allah. Yesus, berjalan di sepanjang Danau Galilea, melihat dua bersaudara Simon dan Andreas, nelayan, menebarkan jala mereka di danau. Dia memanggil mereka untuk mengikuti, dan dengan segera, dalam ketaatan, mereka meninggalkan jala mereka dan mengikuti-Nya. Hal yang sama terjadi dengan Yakobus dan Yohanes. Kata Yunani “kai euthys” (dan segera) pada ayat 18 dan 20, menunjukkan urgensi panggilan tersebut. Waktunya telah tiba, kerajaan Allah sudah dekat; tidak ada waktu untuk menunda-nunda, marilah, ikutlah Aku! Demikianlah kira-kira perkataan Yesus dalam versi Markus ini.

Sangat menarik bahwa keempat orang ini (dengan segera) meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus jika mereka belum mengenal-Nya. Beberapa ahli biblika beranggapan bahwa mereka benar-benar mengenal Yesus, atau tahu tentang Dia, sebelum Dia memanggil mereka ke dalam pemuridan (lih. Yoh. 1:35-40). Kalau benar mereka mengenal Yesus seperti disebutkan oleh para ahli biblika tersebut, maka dapat diartikan bahwa pengenalan akan Yesus tersebut telah mendorong mereka untuk segera meninggalkan perahu mereka dan mengikuti Yesus.

Mengenal Yesus berarti mengikut Dia. Artinya, pengenalan akan Yesus tidak sebatas pengenalan kognitif, tidak sekadar mampu menjelaskan atau berkhotbah tentang Dia, tetapi bagaimana seluruh kehidupan diarahkan untuk mengikut Dia. Banyak orang Kristen yang pengetahuannya akan Yesus amat luas; banyak tokoh Kristen yang mampu berdebat tentang Yesus apalagi di YouTube; banyak orang Kristen yang setiap saat menyanyikan lagu tentang Yesus; banyak hamba Tuhan yang telah berkhotbah tentang Yesus; banyak para ahli yang menulis tentang Yesus; tetapi belum tentu semuanya telah menjadi pengikut Yesus yang sesungguhnya. Berefleksi dari kisah keempat murid pertama ini, pengenalan akan Yesus mestinya mendorong kita untuk mengikut Dia sepenuh hati. Mengikut seperti apa?

Dengan segera, demikianlah menurut Markus, keempat orang tersebut meninggalkan “segalanya” dan mengikut Yesus. Simon dan Andreas meninggalkan jala mereka, Yakobus dan Yohanes malah meninggalkan ayah mereka bersama orang-orang upahannya. Pada zaman itu, perikanan merupakan industri utama di Galilea, dengan sub-industrinya pengasinan ikan. Pada saat pergolakan sosial di Galilea, kedua industri ini saling mendukung dan tetap stabil.

Pemanggilan murid-murid ini dapat diartikan sebagai tantangan untuk meninggalkan (sumber) pendapatan dan stabilitas atau, seperti yang biasa kita katakan, untuk keluar dari “zona nyaman”. Secara khusus Yakobus dan Yohanes, dikatakan bahwa mereka meninggalkan ayah mereka Zebedeus bersama dengan “dengan orang-orang upahannya” (ay. 20). Tentu saja Yakobus dan Yohanes bukanlah orang-orang upahan atau buruh harian, melainkan pelaku bisnis keluarga mereka yang relatif sukses. Tidak hanya jala yang ditinggalkan, tetapi juga sang ayah, perahu, dan seluruh usaha/bisnis mereka yang selama ini cukup sukses. Dapat dikatakan bahwa untuk mengikuti Yesus, setiap orang mesti menunjukkan kesediaan untuk membiarkan identitas, status, dan nilai-nilai yang dimiliki ditentukan dalam hubungannya dengan Yesus.

Kesediaan para murid untuk meninggalkan stabilitas seperti itu cukup luar biasa. Stabilitas ekonomi bukan lagi tujuan utama mereka untuk bekerja. Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa Yesus tidak menolak panggilan duniawi atau usaha duniawi, tetapi Dia mengarahkan panggilan duniawi tersebut dalam rangka Kerajaan Allah. Yesus menyebut Simon dan Andreas sebagai “penjala manusia” (Mrk. 1:17), sehingga dengan demikian menegaskan pekerjaan mereka sebelumnya sebagai gambaran dari peran baru yang akan mereka penuhi. Mengikut Yesus berarti siap dan bersedia meninggalkan situasi yang selama ini telah membuat kita cukup stabil dan nyaman, demi mencapai suatu situasi baru dalam rangka Kerajaan Allah. Mengikut Yesus berarti menempatkan diri dan segala pekerjaan kita dalam rangka Kerajaan Allah dengan segala nilai-nilai Kerajaan tersebut.

Hal mengikut Yesus juga tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan tugas dan tanggung jawab atas orang-orang di sekitar kita, atau atas keluarga. Murid-murid yang pertama tidak pernah disuruh untuk mengabaikan sama sekali situasi mereka sebelumnya (pekerjaan sebagai nelayan, keluarga/ayah). Meninggalkan segalanya dan mengikut Yesus tidak berarti memisahkan diri sama sekali dari segala sesuatu di dunia ini, dan menjadi tidak peduli dengan apapun yang dianggap urusan duniawi. Yesus tidak pernah bermaksud seperti itu. Sekali lagi, Yesus tidak pernah menolak sama sekali panggilan, pekerjaan, usaha duniawi! Yesus memanggil kita untuk menempatkan semuanya itu dalam landscape yang baru, dalam bingkai Kerajaan Allah. Apa pun pekerjaan atau usaha kita, mesti bercirikan nilai-nilai Kerajaan Allah, nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, nilai-nilai kehidupan.

Sebagian orang dipanggil untuk meninggalkan profesi duniawi mereka untuk menjadi hamba Tuhan sepenuhnya. Tetapi, pemanggilan para murid dalam teks ini tidak selalu bermaksud demikian. Kebanyakan orang Kristen tidak dipanggil untuk harus meninggalkan pekerjaan mereka dan menjadi pengkhotbah yang mengelilingi dunia. Inti dari pemanggilan kita adalah menempatkan identitas kita di dalam Kristus. Entah meninggalkan pekerjaan atau tidak, identitas seorang murid bukan lagi “nelayan”, “pemungut cukai”, atau apapun selain “pengikut Yesus”. Apa pun jenis pekerjaan atau usaha yang sedang kita geluti sekarang, kita mesti menyadari bahwa kini identitas kita adalah pengikut Yesus. Implikasinya ialah bahwa kita harus menahan diri dari berbagai godaan yang dapat mengaburkan identitas Kristen kita dalam pekerjaan atau usaha kita masing-masing.

Saturday, January 29, 2022

Dipanggil untuk Mengasihi - Tekaoni ba Wangomasi’ö (Yeremia 1:4-10)

Khotbah Minggu, 30 Januari 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1:4

Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:

1:5

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

1:6

Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.”

1:7

Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.

1:8

Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.”

1:9

Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.

1:10

Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.”

1Kor. 13:4

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong! - Fa’omasi andrӧ, ba no sebolo tӧdӧ, no sebua tӧdӧ; fa’omasi andrӧ ba lӧ i’afӧkhӧi tӧdӧ nawӧnia, lӧ isuno ia, lӧ mohokha.


Kita sudah tahu bersama bahwa Allah begitu mengasihi umat Israel, bangsa pilihan-Nya itu. Berbagai cara dilakukan oleh Allah untuk menunjukkan betapa Dia mengasihi umat-Nya. Sepanjang sejarah bangsa Israel, Allah selalu mencari jalan terbaik untuk menolong dan menyertai mereka, sebab Dia mengasihi mereka. Sayang sekali, bangsa Israel seringkali menyalahartikan dan menyalahgunakan kasih Allah atas mereka. Bangsa itu berulangkali mengkhianati Allah dengan menyembah allah lain, dan melakukan berbagai tindakan ketidakadilan. Hal itu juga yang dapat kita baca dalam kitab Yeremia.

Situasi kehidupan orang Israel pada zaman nabi Yeremia ini memang sangat menyedihkan; mereka yang tadinya dijadikan sebagai umat pilihan Allah, sekarang justru menjadi sumber masalah yang menyedihkan hati Tuhan dan mendatangkan murka-Nya atas mereka sendiri. Tuhan telah menguduskan mereka sebagai umat kesayangan-Nya, tetapi mereka justru menyembah allah lain, menaruh pengharapannya pada kekuatan manusia dan bangsa-bangsa lain, melakukan berbagai tindakan kecurangan, ketidakadilan dan ketidakbenaran. Hal ini dapat kita baca misalnya dalam pasal 2 ayat 13, yaitu bahwa mereka meninggalkan Allah yang adalah sumber air yang hidup, dan mereka menuju pada kolam yang bocor, yaitu pada landasan kehidupan yang tidak memberikan pengharapan yang benar. Mereka juga tidak suka ditegur, tidak mau dinasihati, dan tentunya tidak suka dengan kritikan. Itulah sebabnya mereka selalu mengancam setiap orang yang mencoba menasihati mereka supaya bertobat, termasuk Yeremia sendiri di kemudian hari. Bahkan Yeremia sendiri pernah dipukul dan dipenjarakan oleh para penguasa (pemerintah dan agama) pada waktu itu, dan juga diancam dengan hukuman mati, karena dia terus memberitakan firman Tuhan yang menubuatkan kehancuran Israel karena ketidaktaatan mereka pada Allah sumber air hidup itu (Yeremia 20:1-2; 26:7-11). Dan, sebagai orang Israel yang lahir, tumbuh, dan tinggal di tengah-tengah bangsanya itu, Yeremia tentunya tahu persis apa dan bagaimana situasi ini, terutama kekerasan kepala para penguasa pemerintahan dan agama pada waktu itu, serta ketidaksukaan mereka kalau mereka ditegur, dinasihati, dan diancam oleh hukuman Tuhan. Yeremia sadar bahwa bangsa Israel yang adalah bangsanya sendiri sudah menjadi bangsa yang berbalik melawan Tuhan, tidak mau mendengarkan firman-Nya, dan tidak mau diarahkan ke jalan-jalan Tuhan.

Adalah hal yang wajar kalau Yeremia merasa “tidak siap” dan “tidak mampu” menjalankan tugas sebagai nabi di tengah-tengah bangsa yang tegar tengkuk itu. Itulah sebabnya pada awalnya dia berusaha menghindar dari tugas kenabian yang diamanatkan Tuhan kepadanya. Dia merasa sedang berada di tengah-tengah gerombolan singa yang siap memangsanya, sehingga dia merasa takut atau enggan bergerak. Dia beralasan bahwa dia masih muda, dan karenanya tidak pandai berbicara. Apa artinya?

Pertama, Yeremia merasa tidak mampu berhadapan dengan para tua-tua Israel yang umurnya jauh di atas umur Yeremia. Secara psikologis hal ini sangat berpengaruh dalam diri Yeremia, dia merasa tidak “pantas” menasihati orang yang lebih tua darinya; dia merasa tidak “cocok” menasihati orang-orang yang memiliki jabatan atau kedudukan yang lebih tinggi darinya. Mengapa muncul perasaan-perasaan yang seperti itu? Karena Yeremia sudah tahu bagaimana karakter bangsanya itu, merasa hebat dengan umur mereka yang sudah tua, apalagi dengan jabatan yang mereka miliki. Jadi, sulit rasanya menembus tembok kehidupan orang-orang yang seperti itu.

Kedua, Yeremia merasa bahwa dia tidak bisa “menyenangkan” hati bangsanya, apalagi para pemimpin pemerintahan dan agama di Israel; dia merasa tidak dapat “memoles” kata-kata untuk menyenangkan mereka; dia tidak bisa menyampaikan kata-kata yang memuji-muji para pemimpin sekalipun kehidupan mereka bobrok. Yeremia tidak bisa mengatur kata-katanya sedemikian rupa untuk memuaskan hati dan keinginan bangsa Israel yang bobrok itu. Yeremia sadar sepenuhnya bahwa dia pasti mengkritik mereka, dia pasti mengecam gaya hidup mereka, dia pasti mengeluarkan kata-kata yang pedas yang tentunya tidak menyenangkan hati para pemimpin bangsa itu. Hal ini merupakan masalah serius bagi Yeremia, karena pada satu sisi dia tidak bisa dan tidak mau berpura-pura hanya untuk mencari selamat atau menyenangkan hati bangsa yang jahat itu, dan pada sisi yang lain dia harus mengatakan kata-kata pedas kepada mereka. Nah, sangat dilematis memang! Itulah sebabnya Yeremia mengatakan bahwa dia tidak pandai berbicara, dia tidak pandai merayu orang-orang Israel yang jahat itu dengan kata-kata yang manis, dia tidak bisa bermuka manis kepada bangsa yang keras kepala itu.

Dengan alasan-alasan ini Yeremia berharap bahwa Tuhan tidak lagi menyuruhnya menjadi nabi di Israel. Tapi, ternyata Tuhan tetap “memaksanya” untuk bernubuat bagi bangsa Israel. Tuhan meneguhkan Yeremia untuk tetap maju sebagai nabi Allah apa pun risikonya. Tuhan pertama-tama menegaskan bahwa Dia telah mengenal Yeremia bahkan lebih dari pengenalan Yeremia sendiri akan dirinya. Itulah makna kata-kata Tuhan di ayat 5, yaitu bahwa apa pun alasan Yeremia untuk mengelak dari tugas itu, termasuk alasan ketidakmampuan, namun Tuhan sudah tahu bahwa Yeremia memiliki potensi untuk itu, bahkan secara radikal Tuhan menegaskan bahwa Dialah yang merancang kehidupan Yeremia untuk menjadi nabinya. Jadi, siapa yang dapat menolak, mengelak, dan menghindar dari rancangan dan keputusan Tuhan itu? Sebagai buktinya, di ayat 9 disebutkan bahwa Tuhan menjamah mulut (dan kehidupan) Yeremia untuk menjawab alasannya tadi bahwa dia tidak pandai berbicara.

Selanjutnya, Tuhan menegaskan kepada Yeremia bahwa tidak ada yang perlu ditakuti dalam tugas itu. Kalau Tuhan sendiri yang mengutus, tentu dia juga menyertai; jadi, si-apa lagi yang harus ditakuti. Rasul Paulus di surat Roma 8:31 berkata “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Ba hadia niwa’öda ba da’ö? Na i’o’awögö ita Lowalangi, ba ha niha zi fa’udu khöda?).

Di ayat 8 Tuhan dengan tegas mengatakan bahwa Yeremia tidak perlu takut kepada si-apa pun, karena ada Tuhan yang kuasa dan kekuatan-Nya jauh melebihi kuasa dan kekuatan para pemimpin yang keras kepala itu. Dan di ayat 10 Tuhan bahkan menegaskan bahwa melalui nabi Yeremialah terletak masa depan bangsa itu, yaitu bahwa kuasa Tuhan akan bertindak melalui pemberitaan atau nubuatan Yeremia. Ini adalah peneguhan dan pemberian harapan yang nyata dan pasti dipenuhi oleh Tuhan. Jadi, kunci keberhasilan, atau kegagalan/kehancuran, ada dalam kuasa Tuhan; bukan pada umur, bukan pada kepandaian/kebodohan, dan bukan juga pada tinggi-rendahnya jabatan/kedudukan yang dimiliki. Maka, Tuhan mendorong Yeremia untuk tidak takut, karena Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang yang diutus-Nya, dan Tuhan tidak pernah membiarkan orang yang diutus atau diberi-Nya kepercayaan terpisah dari kasih kuasa-Nya. Rasul Paulus pun pernah berkata bahwa tidak ada si-apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (baca: Roma 8:35, 38-39). Oleh sebab itu, karena Tuhan sudah merancang kehidupan kita sedemikian rupa, menempatkan kita dalam kasih kuasa-Nya, dan pasti menyertai kita dalam tugas pelayanan/pengabdian di tengah-tengah dunia yang semakin kacau ini.

Kecaman-kecaman yang disampaikan oleh nabi Yeremia sesungguhnya merupakan ekspresi keprihatinan Allah atas umat yang dikasihi-Nya itu. Allah telah mengasihi mereka, tetapi bangsa itu malah berjalan dalam jalan mereka sendiri yang sesat. Tidak ada jalan lain bagi Tuhan untuk menyelamatkan mereka karena kasih-Nya itu, selain menyampaikan teguran keras dan bahkan menghukum mereka. Teguran dan hukuman itu sebenarnya lebih sebagai wujud kasih Allah supaya bangsa itu tidak terus menerus masuk ke dalam jalan kesesatan. Dalam rangka itulah umat Tuhan dipanggil: DIPANGGIL UNTUK MENGASIHI. Tentu saja, cara Allah menyatakan kasih-Nya tidak hanya satu: kadang cara yang lembut, kadang juga cara yang agak keras, bahkan amat keras. Intinya, Allah mengasihi kita, dan kita pun mesti meneruskan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari.


Saturday, January 22, 2022

Yesus Penggenapan Firman Allah – Ba khö Yesu no Tefaulugö Daromali Lowalangi (Lukas 4:14-21)

Khotbah Minggu, 23 Januari 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

4:14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.
4:15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.
4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
4:18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Setelah berhasil melewati pencobaan (Luk. 4:1-13), Yesus kembali ke Galilea (Luk. 4:14-15), dan kini Dia tiba di kota asalnya, Nazaret (Luk. 4:16). Kota ini digambarkan sebagai “tempat Ia dibesarkan”, tempat dia bertumbuh dan berkembang. Ketika hari Sabat, Yesus melakukan apa yang biasa Ia lakukan, yaitu pergi ke rumah ibadat. Ketika Dia ada di sana, Dia berdiri untuk membaca Alkitab, suatu kegiatan yang sudah menjadi tradisi di Israel sejak dulu, dan kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya. Dia membukanya dan memilih teks yang ingin Dia baca, dan Dia menemukan teks Yesaya 61:1-2, dan itulah yang Dia baca di ayat 18-19 tadi.

Yesus membaca kutipan teks Yesaya yang merujuk pada Roh Allah, Roh yang sama yang membawa-Nya ke Nazaret. Kita tahu bahwa Roh Kudus dalam Lukas membimbing dan memberdayakan orang-orang untuk pelayanan kenabian. Dalam kutipan ini, Roh Tuhan mendiami pembicara dengan maksud memberitakan kabar baik kepada orang miskin - kepada mereka yang secara ekonomi kurang beruntung dan terpinggirkan. Bersama dengan orang miskin sebagai kelompok besar, kabar baik juga diberitakan kepada kelompok tertentu: para tawanan/tahanan, orang-orang buta, dan orang-orang yang tertindas. Apa maksudnya kabar baik di sini? Bagian akhir dari ayat 19 menyatakan bahwa kabar itu merupakan “tahun rahmat Tuhan”. Tahun rahmat Tuhan di sini menggambarkan tahun Yobel, yaitu tahun ketika Tuhan akan memulihkan Israel, memulihkan umat yang dikasihi-Nya.

Orang-orang miskin dalam Lukas merupakan orang-orang yang secara ekonomi kurang/tidak beruntung, mereka terpinggirkan, umumnya disebabkan oleh karena sistem yang tidak adil, sistem yang lebih banyak menguntungkan orang-orang kaya serta para pejabat pemerintah dan agama pada waktu itu. Mereka adalah orang-orang yang berada di lapisan bawah masyarakat, orang-orang yang tidak diperhitungkan sama sekali. Banyak dari antara orang miskin ini menjadi tawanan/tahanan, ada yang menjadi tawanan perang, tawanan karena utang, juga karena masalah “kriminal” demi memperjuangkan kelangsungan kehidupan, dan mereka tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya. Banyak dari mereka yang sakit secara fisik, antara lain buta, dan mereka tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menyembuhkan penyakitnya. Dalam arti tertentu, orang-orang buta ini juga dapat berarti mereka yang secara fisik sehat tetapi tidak dapat melihat dengan jernih dunia sekitarnya karena terlalu mementingkan diri sendiri. Banyak dari orang miskin ini yang tertindas karena kesulitan ekonomi yang tidak dapat mereka atasi, tertindas karena orang-orang kaya dan para pejabat berlaku tidak adil atas mereka, tertindas karena tidak mampu membebaskan diri dari situasi yang amat sulit itu.

Namun demikian, mereka inilah yang justru dipilih oleh Roh Allah sebagai penerima kabar baik. Kabar baik yang diberitakan oleh Yesus, dan dengan demikian kabar baik yang diproklamasikan oleh orang Kristen, adalah kabar baik bagi orang miskin, bagi mereka yang kurang beruntung secara ekonomi, bagi mereka yang “buta” dan tertindas, dan bagi mereka yang terpinggirkan dalam masyarakat kita. Itulah tugas gereja, tugas kita, memberitakan tahun yobel, tahun rahmat Tuhan. Jadi, gereja bukan sekadar persekutuan ibadah, gereja hadir untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan dalam kehidupan nyata.

Secara tradisional, tahun yobel sendiri dirayakan setiap tahun ke-50. Tahun yobel ini merupakan tahun untuk pembebasan dan pemulihan, orang-orang miskin harus dibebaskan dari utang-utang mereka, supaya mereka bisa menikmati hidup sebagai manusia; para tawanan yang menjadi budak harus dibebaskan, dan inilah tahun yang dinanti-nantikan oleh banyak orang, sebab Allah memulihkan umat-Nya.

Ketika Yesus selesai membaca, Dia duduk, dan mata semua orang tertuju kepada-Nya, dan mereka mulai mendengarkan pengajaran-Nya. Yesus mulai menjelaskan Alkitab, secara khusus teks yang tadi Dia baca, dengan memberi tahu mereka bahwa teks tersebut tergenapi melalui kehadiran-Nya. Jadi, Yesus sendiri adalah penggenapan dari nubuatan Yesaya tersebut, walaupun nanti kita lihat di ayat-ayat berikutnya, orang-orang di kampung-Nya itu tidak menerima pengajaran-Nya tersebut (lih. ay. 22-30). Dalam kuasa Roh Tuhan, Yesus adalah orang yang telah dipilih (diurapi) untuk memberitakan kabar baik dari Allah. Yesus adalah penggenapan Firman Allah. Dalam pasal-pasal berikutnya, Yesus melakukan perjalanan dari kota ke kota, dan ke mana pun Ia pergi, Ia mengajar dan menyembuhkan, sehingga banyak orang dapat melihat keselamatan dan pemulihan yang ditawarkan Allah.

Apakah Yesus datang memberitakan kabar baik hanya kepada orang-orang miskin dan sejenisnya? Apakah orang-orang kaya, para pejabat, atau orang-orang yang hidupnya secara ekonomi lebih baik, tidak mendapat bagian dari kabar baik itu? Kalau melihat konteks Injil Lukas sendiri, Yesus tampaknya lebih banyak memberi perhatian kepada orang-orang miskin dan sejenisnya, karena pada waktu itu kemiskinan menjadi persoalan serius, sayang sekali hampir tidak ada upaya dari para pemimpin untuk mengatasi persoalan tersebut. Jadi, Yesus datang untuk menghadirkan pengharapan yang pasti bagi mereka, bukan memberi harapan palsu seperti yang biasa dan sedang dilakukan oleh banyak para politisi kita dewasa ini. Ini bukan berarti bahwa orang-orang kaya, para pemimpin, atau orang-orang yang hidupnya lebih baik secara ekonomi dan sosial, tidak mendapatkan kabar baik sama sekali. Injil Lukas ini sendiri dialamatkan kepada seorang pejabat Romawi, yang tentunya memiliki kehidupan ekonomi yang baik, yaitu kepada Teofilus (1:1). Tidak ada persoalan sebenarnya dengan menjadi pejabat atau menjadi kaya, masalahnya adalah kalau jabatan dan kekayaan itu didapatkan dengan cara yang tidak benar, bahkan dengan mengorbankan masyarakat biasa. Masalahnya adalah semakin menipiskan kepekaan sosial manusia terhadap orang-orang di sekitarnya yang lebih membutuhkan. Itulah sebenarnya makna kedatangan Yesus ke dunia, menyatakan solidaritas ilahi atas manusia yang miskin, buta, ditawan/dipenjara, dan tertindas. Di dalam Yesus, rencana Allah untuk memulihkan umat-Nya tergenapi (ay. 21).

Apa artinya? Firman Tuhan ini pada satu sisi menjadi sumber pengharapan kita, bahwa Tuhan pasti memulihkan keadaan kita dengan segala cara yang seringkali sulit dipahami oleh manusia. Dengan pengharapan itu, muncul semangat baru bagi kita untuk bangkit dari keterpurukan, untuk semakin maju, untuk move-on bagi mereka yang sulit melangkah karena kegagalan yang dialami selama ini, dan untuk melihat bahwa kehidupan belum berakhir, masih ada kesempatan untuk bangkit dan memperbaiki diri.

Pada sisi lain, firman Tuhan ini menjadi semacam “cambuk” bagi gereja, bagi orang Kristen, untuk hadir dan memberitakan tahun rahmat Tuhan bagi dunia di mana kita berada. Memberitakan tahun rahmat Tuhan berarti membebaskan orang-orang yang selama ini mungkin terlilit utang dan tidak terus melilit mereka dengan utang-utang baru. Memberitakan tahun rahmat Tuhan berarti menolong mereka yang membutuhkan, menolong dalam pengertian yang sesungguhnya, yaitu membebaskan bukan membebani. Memberitakan tahun rahmat Tuhan berarti membimbing dan menunjukkan jalan keluar terbaik bagi mereka yang hampir kehilangan pegangan dan pengharapan, bukan sebaliknya memanfaatkan kekurangan, kelemahan, dan ketidakberdayaan mereka untuk kepentingan diri sendiri. Memberitakan tahun rahmat Tuhan berarti meringankan beban mereka yang tertindas, bukan sebaliknya menimpa mereka dengan beban baru seperti sebuah ungkapan: “sudah jatuh ketimpa tangga”.

Ini tidak mudah, tetapi orang-orang yang telah didiami oleh Roh Tuhan pasti mampu melakukannya.

Saturday, January 15, 2022

TUHAN adalah Kasih dan Setia – Yehowa Sebua Fa’omasi ba si lö Faröi (Mazmur 36:6-11)

Khotbah Minggu, 16 Januari 2022
Disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo

6 Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan.
7 Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kauselamatkan, ya TUHAN.
8 Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu.
9 Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu.
10 Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.
11 Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati!

Untuk memahami dengan baik teks khotbah hari ini, penting untuk membaca seluruh pasal 36. Pada ayat 1-5, pemazmur (Daud) memperjelas situasi mereka yang menaikkan doa permohonan di tengah-tengah orang yang tak bertuhan, yang dia sebut sebagai orang fasik. Dalam diri orang fasik hanya ada dosa dan mereka tidak mengakui keberadaan Tuhan (ay. 1). Orang-orang fasik ini hanya berpusat pada diri mereka sendiri dan dikuasai oleh penipuan dan ketidakjujuran. Mereka bahkan merencanakan kejahatan sambil berbaring di tempat tidur mereka, ketika mereka harus tidur (ay. 2-4). Dengan demikian, pemazmur menyadari bahwa masih banyak orang yang melawan Allah dengan berbagai cara, dan umat TUHAN hidup di tengah-tengah orang fasik itu.

Ayat 6-10 mengungkapkan inti dari Mazmur ini, bahwa kasih setia TUHAN jauh melampaui kejahatan orang-orang fasik tersebut. Di dunia ini masih banyak orang yang hidup dalam kefasikan, tetapi umat TUHAN tetap dipelihara oleh cinta kasih TUHAN yang tak berkesudahan. Berbeda dengan penipuan dan kejahatan manusia, kasih setia Allah tinggi sampai ke awan, keadilan-Nya seperti gunung-gunung yang tinggi dan kokoh, hukum-Nya amat luas dan dalam seperti samudera raya. Dengan demikian, kefasikan manusia tidak ada apa-apanya di hadapan kasih setia, keadilan, dan hukum Allah. Rahmat Allah sungguh luar biasa, mengalahkan segala kejahatan, manusia bahkan hewan pun diselamatkan-Nya (ay. 7).

Kata-kata pemazmur yang terekspresikan pada ayat 6-10 ini merupakan kata-kata pujian dan kepercayaan pada kebijaksanaan dan kasih setia Allah yang begitu tinggi, luas, dan dalam, tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk hewan (ay. 7). Kata-kata ini menggambarkan TUHAN yang menakjubkan dan penuh dengan cinta yang teguh. TUHAN itu seperti burung yang menyediakan tempat berlindung untuk anak-anaknya (berlindung dalam naungan sayap TUHAN, ay. 7b), atau seperti tuan rumah yang menyediakan makanan dan minuman yang mengenyangkan (ay. 8). TUHAN adalah air yang memberikan kehidupan (ay. 10a), atau cahaya dalam dunia kegelapan (ay. 9), kontras dengan dunia yang sebelumnya dideskripsikan suram atau penuh kejahatan (ay. 1-4).

Pemazmur tidak berhenti pada keyakinan akan kasih setia TUHAN yang begitu menakjubkan, tetapi dia pun melanjutkan mazmurnya dengan doa memohon pertolongan TUHAN di ayat 10-12. Untuk dapat bertahan hidup di tengah-tengah generasi fasik dibutuhkan pertolongan TUHAN. kita yakin bahwa TUHAN tetap menyediakan pertolongan-Nya, tetapi penting juga untuk selalu menyampaikan doa mohon pertolongan TUHAN tersebut. TUHANlah yang melindungi orang yang percaya kepada-Nya, dan TUHAN juga yang akan “menghancurkan” orang-orang fasik.

Kita memiliki Tuhan yang luar biasa yang mengasihi semua makhluk di bumi, manusia dan non-manusia (ayat 6-10). Ini menjadi pegangan kita dalam menjalani hari-hari kita ke depan yang mungkin saja banyak diwarnai oleh tantangan dan masalah. Rasul Paulus menyatakan kayakinannya bahwa tidak ada satu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (lih Rm. 35, 38-39). Tuhan memiliki banyak keberanian dan belas kasihan yang meluas ke bangsa-bangsa di dunia dan bahkan untuk makhluk non-manusia (ay. 7-8). Jadi, kalau Tuhan di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Rm. 8:31).

Ada renungan khusus pada Mazmur ini, yaitu tentang kepedulian Allah kepada makhluk non-manusia. Pemeliharaan Tuhan terhadap hewan seharusnya mendorong kita untuk merawat bumi yang menopang kita. Kita dipanggil untuk menjaganya (Kej. 2:15), untuk menguasainya secara bertanggung jawab. Memelihara bumi adalah tugas ilahi yang harus dilaksanakan oleh manusia (Kej. 1:24-31; Mzm 8). Memelihara bumi berarti memelihara kelangsungan hidup manusia juga. Merefleksikan cinta Tuhan untuk makhluk non-manusia dapat mengingatkan kita bahwa manusia seringkali menipu dan mengabaikan sesama makhluk yang juga diciptakan oleh Allah. Kalau Allah sendiri begitu pedulu dan berkenan merawat kehidupan makhluk non-manusia, mengapa kita tidak?

Kita masih mengingat tema natal tahun 2021, dan bahkan masih ada yang merayakan natal tersebut sampai hari ini. Cinta kasih Kristus yang menggerakkan persaudaraan. Allah menciptakan langit dan bumi karena cinta kasih; Allah memelihara seluruh ciptaan-Nya karena cinta kasih; Allah menghukum manusia pun karena cinta kasih, sebab Dia tidak mau kalau manusia semakin terjerumus dalam dosa; Allah menyelamatkan manusia dengan mengutus anak-Nya yang tunggal ke dunia karena cinta kasih (Yoh. 3:16). Begitu tinggi, luas, dan dalam cinta kasih Tuhan bagi kita; cinta kasih itu pula yang membuat hidup kita terpelihara sampai hari ini. Maka, sudah sepatutnya kita pun mengasihi Allah dengan segenap hati, dan meneruskan cinta kasih itu kepada sesama dan seluruh makhluk.

Saturday, January 8, 2022

Yesus adalah Anak Allah – Yesu Ono Lowalangi: Apa Respons kita? (Lukas 3:15-17 + 21-22)

Khotbah Minggu, 09 Januari 2022
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

15 Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias,
16 Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
17 Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”
21 Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit
22 dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”


Setelah sekian lama umat Tuhan (Israel) menantikan kedatangan Mesias, muncullah Yohanes pembaptis. Dia adalah sosok yang sangat berani dan tegas, menyerukan pertobatan orang banyak. Ketika beberapa pihak bertanya kepadanya: “Apa yang harus kami perbuat?” (lih. Luk. 3:10, 12, 14a), dengan sangat tegas Yohanes meminta mereka untuk menghasilkan buah-buah pertobatan yang diwujudkan melalui keadilan dan kebenaran (lih. Luk. 3:11, 13, 14b). Dia tidak takut menegur raja wilayah Herodes karena berbagai kejahatannya (ay. 19), walaupun berakibat pada pemenjaraan (dan mungkin pembunuhan) dirinya. Tentu saja, seruan pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes ini cukup mengejutkan banyak orang, sekaligus memunculkan harapan baru bagi mereka yang sedang mengharapkan kedatangan Mesias pada waktu itu (lih. Luk. 3:3-9). Secara eksplisit Lukas mencatat anggapan orang banyak itu terhadap Yohanes, “jangan-jangan orang ini adalah Mesias yang kita nantikan itu” (ay. 15).

Pada waktu itu, Mesias yang dinantikan adalah tokoh yang dipercaya dapat membebaskan mereka (secara politik) dari penjajahan kekaisaran Romawi pada waktu itu, dan orang banyak tersebut mencoba mengaitkan tokoh Mesias dengan Yohanes pembaptis. Yohanes pembaptis mengetahui suasana hati orang banyak itu, dan dia pun segera memberikan klarifikasi. Dirinya bukanlah Mesias seperti yang mereka harapkan. Dengan penuh kerendahan hati, Yohanes pembaptis ini menegaskan bahwa dirinya tidak ada apa-apanya dibanding dengan Mesias yang sesungguhnya itu (ay. 16, 17). Mesias yang akan datang tersebut lebih berkuasa, membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api, di tangan-Nya sudah ada alat penampi (alat untuk membersihkan, sejenis nyiru) untuk memisahkan gandum dan jerami (ay. 16-17). Terakhir dan yang paling penting, Mesias yang diberitakan Yohanes itu adalah Yesus, yang ditandai dengan tahbisan atau pengurapan ilahi ketika Dia dibaptis: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (3:21-22). Kata-kata seperti dirumuskan pada ayat 22 ini biasanya hanya disampaikan pada waktu dan kepada orang yang diurapi oleh Allah menjadi tokoh penting sekelas raja atau imam besar. Sekarang, kalimat itu dialamatkan kepada Yesus, yang artinya sebuah penegasan ilahi bahwa Yesus adalah Mesias yang sesungguhnya, yaitu Mesias yang berasal dan mendapat legitimasi dari Allah sendiri. Oleh karena itu, orang banyak yang sudah cukup lama menanti dan berharap akan kedatangan Mesias, kini boleh bersukacita kembali, sebab Mesias itu telah datang. Berita tentang Mesias ini tentu sangat penting bagi pembaca awal Injil Lukas, memberi pengharapan dan kepastian tentang berita kerajaan Allah yang diberitakan oleh Yohanes pembaptis dan terutama dinyatakan oleh Yesus sendiri.

Pemberitaan tentang Mesias oleh Yohanes pembaptis seperti terungkap pada ay. 16-17, dan pengukuhan Yesus sebagai Mesias sebagaimana disebutkan pada ay. 21-22, memberi kepastian bagi kita bahwa Tuhan akan selalu datang tepat pada waktunya, dan penantian kita tidak pernah sia-sia. Berita ini seharusnya semakin mengokohkan harapan dan semangat kita untuk menjalani kehidupan yang sangat dinamis ini, termasuk dalam situasi kehidupan yang sepertinya sangat memprihatinkan. Tuhan selalu menyatakan diri-Nya bagi setiap orang yang berharap kepada-Nya, selalu menyatakan kuasa-Nya dengan berbagai cara yang seringkali jauh melebihi apa yang kita doakan dan pikirkan (bnd. Ef. 3:20). Tuhan selalu menyatakan diri-Nya dalam berbagai cara bahkan ketika kita sedang berada dalam situasi yang menyedihkan; Dia dapat menyatakan diri dalam berbagai cara bahkan ketika kita hampir tidak bisa bangkit dari keterpurukan.

Namun, pemberitaan tentang Mesias dan pengukuhan-Nya tersebut tidak sekadar memberikan pengharapan, semangat, dan kepastian bagi kita. Kedatangan-Nya juga sekaligus menegaskan bahwa kita harus rela dan siap untuk dibersihkan, tentu dengan berbagai konsekuensi. Seruan pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes pembaptis, dan alat penampi di tangan Mesias, seharusnya mendorong kita untuk mengoreksi diri, memperbaiki tingkah laku, dan bertobat. Kita baru saja merayakan Natal, atau mungkin masih ada yang sedang merayakannya. Tema perayaan Natal kita sangat menarik: “Cinta kasih Kristus yang menggerakkan persaudaraan – Fa’omasi Keriso danedane wamalua fa’omasi ba dalifusö” (1 Ptr. 1:22). Tema ini memberi penekanan bahwa dalam menghadapi berbagai tekanan, cobaan, dan penderitaan, penting sekali untuk memelihara semangat persaudaraan dalam arti yang seluas-luasnya. Natal 2021 mengingatkan kita untuk saling mengasihi dengan segenap hati dalam kasih persaudaraan yang tulus dan ikhlas melalui tindakan belarasa. Tema ini masih relevan untuk dijalankan pada tahun 2022 ini. Tantangan global sehubungan dengan covid19 belum selesai, belum lagi berbagai persoalan yang kita alami masing-masing. Setiap keluarga, setiap komunitas, setiap jemaat, akan dapat menghadapi berbagai tantangan dan persoalan hidup tersebut dengan tetap memelihara semangat kasih persaudaraan. Artinya, kesulitan (seharusnya) mendorong kita untuk semakin saling mengasihi, sebab hanya dengan cinta kasih itu kita dapat menghadapi kesulitan. Itulah yang mestinya kita pelihara dan kembangkan pada tahun 2022 ini, dengan segenap hati hidup dalam kasih persaudaraan yang tulus satu terhadap yang lain. Demikianlah seharusnya kita merespons kedatangan Mesias, Anak Allah yang sesungguhnya.

Dalam menjalani tahun 2022, kita harus selalu berjalan dalam kebenaran dan keadilan sebagai buah-buah dari pertobatan yang diserukan dalam teks renungan kita pada hari ini. Berita tentang penyataan dan pengukuhan diri Mesias ini harus mendorong kita untuk mengoreksi diri, memperbaiki tingkah laku, dan bertobat. Kedatangan Mesias hanya akan bermakna apabila kita meresponsnya dengan buah-buah pertobatan, menjalankan kebenaran dan keadilan, hidup dalam kasih persaudaraan yang tulus, dan siap sedia untuk berbela-rasa dengan mereka yang berada dalam situasi yang tidak menguntungkan. Kalau cinta kasih Kristus telah mengakar dalam diri kita, maka: afökhö khöda zafökhö khö nawöda, omuso dödöda ba zomuso dödö nawöda.

1Yoh. 4:15
Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah - Na so zanehe, Ono Lowalangi Yesu, ba ba dödönia lö tebulö Lowalangi, ba ya’ia, ba lö tebulö ba khö Lowalangi.

Pengakuan yang paling hakiki bahwa Yesus adalah Anak Allah, tercermin dalam semangat dan hidup persaudaraan yang didorong dan berlandaskan ada cinta kasih Kristus.

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...