Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
Thursday, December 24, 2020
Imanuel – Emanu’eli – Awöda Lowalangi (Mat. 1:23)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
Saturday, December 19, 2020
Ketika Allah Menyatakan Rahasia Ilahi-Nya kepada Manusia (Roma 16:25-27)
- Untuk menegaskan bahwa pada akhirnya Allah berkenan menyatakan (menyingkapkan) sendiri rahasia ilahi yang telah disimpan berabad-abad itu, tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Pernyataan rahasia ilahi itulah yang terwujud melalui kedatangan Yesus Kristus ke dunia, yang kelahiran-Nya akan kita rayakan beberapa hari lagi. Ini adalah berita sukacita yang amat besar, sebab oleh karena kasih dan kuasa-Nya Allah menyatakan rahasia ilahi-Nya kepada umat manusia yang penuh dengan dosa, kepada kita semua. Dengan menyatakan rahasia-Nya kepada kita, berarti Allah berkenan membuka diri-Nya terhadap kita, suatu hal yang tidak mungkin terjadi kalau memakai ukuran duniawi. Sebagai perbandingan misalnya, apakah seorang presiden dapat menyatakan rahasianya kepada siapa saja? Apakah dia dapat membuka rahasia negara kepada semua orang? Tentu tidak bukan? Idealnya, presiden mengungkapkan rahasia negara hanya kepada orang-orang tertentu saja, orang-orang yang menurutnya “layak” mengetahuinya. Namun, Allah melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan oleh presiden dunia ini. Allah mengungkapkan rahasia ilahi itu kepada kita, bukan karena kita “layak” untuk itu, melainkan karena kasih-Nya. Hal itulah yang ditegaskan oleh penulis Injil Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Oleh sebab itu, kerelaan Allah untuk menyatakan rahasia ilahi-Nya kepada kita, seharusnya mendorong kita untuk senantiasa bersyukur dan memuliakan nama-Nya, bukan justru menyalahgunakannya.
- Untuk menegaskan bahwa keselamatan yang dari Allah itu kini dapat dinikmati oleh seluruh umat manusia, bukan hanya orang Israel atau orang Yahudi saja. Berita ini mendatangkan sukacita bagi kita semua, membawa pengharapan baru bagi kita, yaitu bahwa oleh karena kasih-Nya yang begitu besar Allah berkenan mengaruniakan keselamatan bagi kita. Oleh karena itu, keselamatan yang dari Allah tersebut haruslah membimbing kita kepada ketaatan iman, bukan justru menjadikan kita ogah-ogahan.
Saturday, December 12, 2020
Hidup Tak Bercacat hingga Kedatangan Tuhan (1 Tesalonika 5:16-24)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
16Bersukacitalah senantiasa. 17Tetaplah berdoa. 18Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. 19Janganlah padamkan Roh, 20dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. 21Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. 22Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan. 23Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. 24Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.
Dalam surat 1 Tesalonika ini, Paulus menyampaikan beberapa nasihat penutup kepada jemaat, sebagai tindak lanjut dari nasihat sebelumnya tentang, antara lain: “hidup yang menyenangkan Tuhan” atau hidup kudus (1Tes. 4:3), mengurus persoalan sendiri dan hidup dengan sopan (1Tes. 4:11-12), hidup dengan tertib (1Tes. 5:4), serta tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (1Tes. 5:15). Pada teks renungan hari ini, Paulus mengakhiri nasihatnya pada surat yang pertama ini dengan beberapa petunjuk praktis yang mesti diterapkan oleh jemaat Kristen di Tesalonika.
Bersukacita dan Bersyukur Senantiasa (ay. 16, 18)
Sukacita (Yun. chairete, dari akar kata chairo) dan kegembiraan adalah tema umum di seluruh PL dan PB. Pesta-pesta yang harus dirayakan oleh orang Israel ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah mereka, mis. pesta Paskah untuk merayakan pembebasan mereka dari perbudakan di Mesir, dan hari-hari untuk bersukacita (Bil. 10:10). Ada juga sukacita karena istri di masa muda (Amsal 5:18), atau karena keselamatan (Mazmur 51:12). Dalam PB, kata chairo muncul ketika Maria menerima informasi bahwa dia akan memiliki seorang bayi (Luk. 1:14), dan ketika Elizabet memberikan tanggapan atas kunjungan Maria (Luk. 1:44).
Bagaimana dengan Paulus? Agak aneh memang, sebab Paulus menyerukan panggilan untuk bersukacita, sementara kita tahu betapa sulitnya kehidupan Paulus setelah menerima dan menjadi rasul Yesus. Bisakah kita bersukacita saat kita sakit — atau di penjara — atau berduka? Bisakah kita bersukacita ketika kita baru saja kehilangan pekerjaan dan tidak tahu ke mana harus berpaling? Bisakah kita bersukacita ketika baru saja mengalami kekalahan pilkada? Bisakah kita bersukacita ketika kehilangan barang berharga atau orang yang dikasihi? Ini jelas tidak mudah!
Tetapi, Paulus mendemonstrasikan bahwa bersukacita di tengah kesulitan bisa saja terjadi. Di awal pelayanannya, ketika ditangkap, dia dan Silas menyanyikan himne dan berdoa di sel penjara mereka (Kis. 16:25). Kemudian, di penjara menunggu persidangan, dia menulis surat singkat kepada gereja di Filipi di mana dia menggunakan sejumlah kata “sukacita” atau “bersukacita” (Fil. 1:4, 18, 25; 2:2, 17-18, 28-29; 3:1; 4:1, 4, 10). Dalam beberapa ayat, dia mendorong orang Filipi untuk bersukacita, tetapi di ayat lain dia berbicara tentang kegembiraannya sendiri. Jadi, Paulus pun sekarang memanggil orang-orang Kristen di Tesalonika untuk bersukacita juga — untuk selalu bersukacita. Sukacita seperti inilah yang kemudian memberikan semangat hidup bagi jemaat sekalipun mereka berada dalam situasi sulit.
Tetap Berdoa (ay. 17)
Berdoa (Yunani: proseuchesthe) tanpa henti (Yunani: adialeiptos), mengacu pada semua jenis doa. Tetapi, di sini Paulus menekankan ‘tanpa henti’ (berdoa dengan tetap). Doa mengasumsikan bahwa ada hubungan antara orang tersebut dan Tuhan, sehingga orang tersebut dapat percaya bahwa Tuhan mendengarkan dan akan menanggapi permohonannya. Hal ini tidak berarti bahwa Tuhan akan selalu menjawab doa yang kita minta. Namun, semakin erat hati kita selaras dengan kehendak Tuhan, semakin besar kemungkinan kita akan menerima apa yang kita minta. Berdoa dengan tetap (tanpa henti) di sini tidak berarti kita menghabiskan waktu hanya untuk berdoa sehingga tidak punya waktu lagi, misalnya, untuk bekerja atau mengurus keluarga, mengurus diri sendiri, dll. Tetapi kita bisa hidup setiap saat dengan keyakinan bahwa kita terhubung dengan kasih Tuhan. Keterjalinan dengan Tuhan ini hanya mungkin terwujud kalau kita menghidupi doa-doa yang kita naikkan kepada-Nya. Kita bisa meminta bimbingan Tuhan saat kita perlu membuat keputusan.
Jangan Padamkan Roh dan Jangan Meremehkan Nubuat (ay. 19-20)
Roh yang dimaksud di sini adalah Roh Kudus. Paulus memberi tahu orang-orang ini untuk tidak menghalangi pekerjaan Roh Kudus di tengah-tengah mereka, yang dapat terwujud misalnya melalui nubuatan-nubuatan yang mungkin saja muncul di tengah-tengah jemaat. Nubuatan di sini berisi pesan dari Tuhan kepada manusia, bukan sekadar ramalan spekulatif tentang masa depan. Sebagian besar nubuatan alkitabiah terjadi dalam Perjanjian Lama, tetapi Perjanjian Baru pun memberika beberapa catatan tentang nubuatan (Kis. 11:27-28; 13:1; 15:32).
Dalam surat pertamanya ke jemaat Korintus, Paulus memberikan petunjuk yang lebih rinci tentang berbicara dalam bahasa roh dan nubuat, yang secara keseluruhan bertujuan untuk “membangun” (Yun. oikodome), nasihat (Yun. paraklesis), dan penghiburan (Yun. paramythian) (1Kor. 14:3).
Oikodome terkait dengan kata oikia (rumah), dan biasanya dikaitkan dengan membangun sebuah bangunan. Di sini Paulus menggunakannya secara metaforis untuk memaksudkan pembangunan atau pembangunan jemaat. Paraklesis melibatkan nasihat atau dorongan, yaitu membantu orang untuk melihat berbagai kemungkinan yang ada dalam mengatasi rintangan atau memenangkan pertempuran. Paramythian adalah kata lembut yang berkaitan dengan menghibur atau menghibur.
Menguji Segala Sesuatu dan Memilih Kebaikan (ay. 21-22)
Kata Yun. dokimazo berarti menguji sesuatu dalam rangka menentukan kualitas atau keasliannya. Mengingat konteksnya, Paulus bermaksud agar orang-orang Kristen Tesalonika ini mencoba untuk melihat kualitas atau keaslian apa yang tampaknya merupakan pekerjaan Roh Kudus (ay. 19) dan apa yang tampak seperti nubuat (ay. 20). Sayangnya, Paulus tidak memberi tahu lebih rinci/jelas lagi bagaimana cara membuat penilaian tersebut.
Setelah mereka menguji segala sesuatu, Paulus mengatakan kepada jemaat untuk berpegang teguh (Yun. katecho) pada yang baik, menerimanya, meraihnya, dan menjadikannya sebagai milik mereka. Apa contoh dari apa yang baik? Salah satu pendekatan untuk menjawab pertanyaan itu adalah dengan melihat ‘pengujian” yang disebutkan sebelumnya. Sesuatu akan baik jika meninggikan Kristus, sesuai dengan kitab suci, membangun jemaat, dll. Kita harus ingat konteksnya. Paulus berbicara tentang pekerjaan Roh (ay. 19) dan nubuatan (ay. 20), sehingga yang baik adalah pekerjaan Roh dan nubuat yang lulus ujian keaslian.
“Menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan“ berarti menahan diri ketika menghadapi kejahatan. Bahasa Yunani apecho untuk kata ‘menjauhkan diri’ merupakan jenis pengekangan yang mungkin dilakukan oleh kapten kapal ketika mencoba untuk menjaga kapalnya agar tidak kandas. Jadi, Paulus menasihati jemaat untuk tidak kandas oleh berbagai jenis kejahatan, untuk tidak ikut-ikutan dalam berbagai bentuk kejahatan. Waspadalah!
Berkat Pengharapan dan Panggilan untuk tetap Setia (ay. 23-24)
Pada dua ayat ini Paulus menyampaikan semacam berkat pengharapannya atas jemaat untuk tetap dikuduskan oleh Tuhan supaya mereka tidak bercacat dan tetap setia memenuhi panggilan Tuhan atas mereka. Demikianlah adanya kehidupan orang Kristen, hidup kudus, tak bercacat, dan tetap setia pada panggilan Tuhan dalam hidupnya sampai Yesus datang kembali.
Sunday, November 29, 2020
Menyambut Raja Kemuliaan (Mazmur 24:7-10)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
24:8 “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” “TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!”
24:9 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!
24:10 “Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?” “TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!”
Mazmur 24 ini merupakan bagian dari trilogi mazmur (Mzm. 22, 23, 24), yang masing-masing menampilkan Tuhan sebagai Gembala, dan dalam PB semuanya berlaku untuk Yesus. Mazmur 22 menggambarkan Gembala yang Baik mati demi domba-dombanya. Dalam Yohanes 10:11 Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Mazmur 23 menggambarkan Gembala Agung yang merawat domba-domba bahkan dalam lembah kekelaman. Dalam Ibrani 13:20, Yesus digambarkan sebagai “Gembala Agung segala domba.” Mazmur 24, teks khotbah hari ini, menyajikan Gembala Agung yang datang untuk domba-dombanya. 1 Petrus 5:4 mengatakan, “Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.”
Jadi, Mazmur 24 ini berbicara tentang kedatangan Gembala Agung. Tradisi Israel mengatakan Mazmur ini dibuat oleh Daud dan dinyanyikan ketika dia membawa tabut Tuhan dari rumah Obed-Edom di Kiryat-Yearim ke gunung Sion (2 Sam 6:12-23). Tabut, menurut tradisi, dibuat oleh Bezaleel untuk Musa di padang gurun Sinai (Keluaran 37:1-9), sebagai simbol kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat-Nya. Dalam suatu pertempuran dengan bangsa Israel, orang Filistin merampas tabut tersebut, dan selama tujuh bulan (1Sam. 6:1) mereka menyimpan dan memindah-mindahkannya dari satu tempat ke tempat lain karena justru mendatangkan malapetaka atas mereka (lih. 1Sam. 4:1-10, 1Sam. 5:1-12), sampai pada akhirnya orang Filistin mengembalikan tabut itu kepada bangsa Israel (lih. 1Sam. 6).
Daud sendiri berupaya keras untuk membawa tabut tersebut ke Yerusalem setelah dia merebut benteng Sion dari orang Yebus. Ketika tiba waktunya untuk membawa pulang tabut itu, Daud cs amat bersukacita. Perjalanan tersebut diiringi dengan musik dan tarian, sukacita yang menandai masuknya tabut dengan kemenangan ke Yerusalem. Mazmur 24 ini menyajikan lagu kebangsaan Israel yang menunjukkan perjalanan dan kedatangan tabut di sepanjang jalan hingga memasuki kota (tua) Yerusalem.
Pada permulaan ayat 7 dan ayat 9 ada kata-kata menarik: “Angkatlah kepalamu”. Apa maksudnya? Begini, perampasan tabut Tuhan dari bangsa Israel oleh orang Filistin merupakan suatu peristiwa yang amat memalukan bagi bangsa Israel, membuat mereka amat terpukul, sebab simbol kehadiran Allah telah dirampas, dan bagaimana mungkin mereka masih berharap kepada Allah yang simbol-Nya telah dirampas itu? Ini bukan sekadar kekalahan dalam perang, tetapi ‘kekalahan’ Allah yang selama ini mereka percayai. Tetapi, peristiwa memalukan itu telah memberikan mereka pelajaran berharga bahwa bukan Allah yang kalah dalam perang, tetapi bangsa itulah yang tidak setia kepada-Nya, dan Allah menghukum mereka melalui kekalahan yang memalukan tersebut. Allah tetap perkasa dalam perang, bahkan Dia adalah Tuhan semesta alam. Nah, kini, ketika tabut Tuhan dibawa ke dalam kota tua Yerusalem, dengan pintu-pintu gerbangnya, pemazmur menyerukan ‘angkatlah kepalamu’; dengan seruan ini pemazmur hendak menegaskan kepada bangsanya bahwa masa-masa yang amat memalukan itu telah berakhir, tidak perlu lagi terus tertunduk karena merasa kalah dan malu; Raja Kemuliaan, Gembala Agung, datang, dan kemenangan telah datang, maka ‘angkatlah kepalamu’, berdirilah semua secara bersama-sama, berdiri kokoh dalam sukacita kemenangan baru di dalam Tuhan.
Mazmur ini dinyanyikan dengan cara yang responsif, yaitu ada orang yang akan bernyanyi dan yang lainnya akan menanggapinya. Dalam tradisi liturgis, mazmur ini diterima sebagai bagian dari upacara keagamaan yang diadakan selama Tahun Baru Yahudi untuk menandai masuknya tabut Tuhan ke tempat suci. Upacara itu diadakan tahun demi tahun sedemikian rupa sehingga setiap orang dapat mengambil bagian, dari raja hingga rakyat biasa, dalam pembaruan kesetiaan kepada Tuhan. Bagi orang Israel/Yahudi, lagu ini merupakan salah satu himne yang paling mulia dan agung dalam kitab Mazmur, dan kini orang Kristen mengambilnya sebagai suatu mazmur yang menggambarkan kedatangan Yesus Kristus yang dipercaya sebagai Raja Kemuliaan.
Pada zaman dulu, baik PL maupun PB, pintu gerbang berfungsi sebagai pintu masuk; pintu masuk ke sebuah rumah (Luk. 16:20), masuk ke kota (1Raj. 17:10), masuk ke istana (Est. 5:13), masuk bait Allah (Kis. 3:2), atau masuk ke dalam kehidupan seseorang (Yes. 60:11). Pada teks khotbah hari ini, di ayat 7 dan ayat 9, ada seruan yang ditujukan kepada ‘pintu-pintu gerbang’ dan ‘pintu-pintu yang berabad-abad’. Ini merupakan seruan kepada seluruh komunitas yang ada di dalam ‘kota’ atau ‘tempat’ tersebut untuk membuka ‘pintu-pintunya’ supaya ‘Raja Kemuliaan’ masuk ke dalamnya. Lalu, di ayat 8 dan 10 diajukan pertanyaan: “siapakah Raja Kemuliaan itu”? Raja Kemuliaan adalah TUHAN semesta alam yang jaya dan perkasa dalam peperangan (ay. 8, 10). Pada ayat-ayat sebelumnya, disebutkan bahwa “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai” (Mzm. 24:1-2). Raja Kemuliaan (seperti) itulah yang sedang dalam perjalanan dan kini semakin mendekat dan mau masuk ke dalam ‘kota’ di mana ada banyak ‘makhluk’ di dalamnya. Mazmur ini hendak mengatakan: “Sambutlah Raja Kemuliaan dalam Kehormatan Besar, bukalah pintu-pintumu supaya Dia dapat masuk dengan penuh kehormatan”.
Hari ini merupakan minggu adven pertama, dengan tema: “Nubuat tentang Kedatangan Raja Kemuliaan” (Fama’ele’ö We’aso Razo Solakhömi). Minggu dengan tema yang luar biasa ini hendak mengajak kita untuk menantikan kedatangan Kristus Tuhan dalam pengharapan yang teguh. Sementara teks khotbah hari ini hendak mengajak kita untuk membuka ‘pintu-pintu gerbang’ kehidupan kita, baik secara personal maupun komunal, supaya Raja Kemuliaan, Yesus Kristus, yang kita nanti-nantikan itu, dapat masuk ke dalamnya, dan kita dapat merasakan sukacita yang besar karena kehadiran-Nya tersebut.
Sampai hari ini, dunia kita terus merintih kesakitan karena Pandemi Covid-19. Angka yang terkonfirmasi positif Covid-19 terus bertambah, tetapi tingkat kesembuhan juga jauh lebih menggembirakan. Artinya, dalam situasi sulit seperti itu, pengharapan akan penyembuhan dan pemulihan tetap ada, dan itu telah terbukti. Dua hari yang lalu (27/11/2020), kita dikejutkan dengan peristiwa pembunuhan sadis satu keluarga (4 orang) di Desa Lemba Tonga, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dan telah menebar teror yang menyebakan ketakutan bagi warga, terutama yang tinggal di sekitar rumah korban. Ini merupakan peristiwa yang amat memilukan, tindakan teror yang tidak bisa diterima akal sehat. Dunia mencekam, dunia mengerang, dan kita pun hidup dalam kekuatiran dan ketidakpastian. Dalam situasi yang seperti itu, pemazmur membangkitkan optimisme kita bahwa Tuhan akan datang, Gembala Agung kita akan hadir dalam kehidupan kita, Dia datang dan hadir baik ketika kita sedang bersukacita maupun ketika kita sedang mengalami kegalauan yang luar biasa oleh karena berbagai beban hidup yang menghimpit kita. Oleh sebab itu, pemazmur mengajak kita untuk membuka ‘pintu-pintu gerbang’ kehidupan kita, membuka ‘pintu-pintu gerbang’ kota kita, membuka ‘pintu-pintu gerbang’ gereja kita, membuka ‘pintu-pintu gerbang’ kampung kita, membuka ‘pintu-pintu gerbang’ keluarga kita, … supaya Raja Kemuliaan, Gembala Agung yang rela menyerahkan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya, dapat masuk dengan leluasa. Dengan demikian, kita dapat merasakan kehadiran-Nya yang ‘merengkuh’ setiap orang yang membuka diri kepada-Nya, melawat kita dalam situasi apa pun.
Tentu saja, kita mesti bersukacita menyambut Raja Kemuliaan itu, walaupun kita mungkin saja sedang berada dalam situasi yang tidak baik. Ini tidak berarti bahwa, misalnya, kita pura-pura sehat (bagi yang sakit), atau pura-pura kenyang (bagi yang lapar), atau pura-pura kuat (bagi yang lemah), atau pura-pura berkecukupan (bagi yang kekurangan), dan lain sebagainya. Menyambut Raja Kemuliaan tidaklah manipulatif, dan tidak boleh seperti itu. Namun demikian, persoalan yang kita hadapi tidak boleh menghalangi kita untuk menyambut-Nya secara terhormat. Sebab, bagaimana mungkin Gembala kita itu dapat menolong kita kalau kita sendiri tidak bersedia membuka diri dan memperkenankan-Nya masuk ke dalam kehidupan kita? Mazmur ini merupakan ajakan bagi kita untuk bergerak bersama dalam iring-iringan ilahi memasuki dan menyambut kedatangan Raja Kemuliaan, Gembala Agung kita.
Saturday, November 21, 2020
Kanan atau Kiri? (Matius 25:31-46)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
Khotbah Yesus mencakup beberapa perumpamaan yang menekankan pentingnya persiapan untuk menyambut kedatangan kembali Yesus. Perumpamaan-perumpamaan tersebut adalah:
- Perumpamaan tentang ‘hamba yang setia & bijaksana’, serta ‘hamba yang jahat’ (24:45-51), memberi penekanan pada kesiapan (yang bijaksana atau sebaliknya jahat) menjelang kedatangan Kristus yang tidak terduga.
- Perumpamaan tentang ‘gadis bijaksana dan bodoh’ (25:1-13), memberi penekanan pada persiapan yang cermat dalam penantian kedatangan ‘pengantin’ (kedatangan Kristus).
- Perumpamaan tentang ‘talenta’ (25:14-30), memberi penekanan pada kesetiaan para hamba dalam penatalayanan talenta sang tuan.
Sang Raja, Anak Manusia, yaitu Kristus, tampil sebagai Hakim atas bangsa-bangsa. Pesan ini yang hendak disampaikan oleh Yesus di bagian ini adalah tentang bagaimana kita memperlakukan mereka yang membutuhkan. Dalam kisah ini, ketika Yesus kembali dalam kemuliaan-Nya, Ia akan duduk di takhta-Nya. Kedatangan kembali Yesus di sini memang kontras dengan kedatangan-Nya yang pertama (sejak lahir hingga disalibkan dan mati). Pada kedatangan pertama, kedatangan pertama, Yesus datang dalam segala “perendahan diri” atau pengosongan diri (lih. Fil. 2:5-11), tetapi pada kedatangan kembali ini Dia datang dalam segala kemuliaan-Nya.
Yesus datang kembali sebagai Raja dan Hakim, Dia memisahkan orang-orang “seperti gembala memisahkan domba dari kambing” (Mat. 25:32). Kata “gembala” sering digunakan dalam kitab suci untuk Allah dan Tuhan Yesus, dan kata “domba” adalah metafora yang sering digunakan untuk umat Tuhan. Domba dan kambing dipisahkan, domba ditempatkan di sebelah kanan, sedangkan kambing ditempatkan di sebelah kiri. Sebelah kanan merupakan tempat yang lebih terhormat daripada sebelah kiri (ingat cerita permintaan ibu anak-anak Zebedeus, lih. Mat. 20:20-21). Namun demikian, dalam pengajaran Yesus tentang penghakiman ini, sebelah kanan disebutkan sebagai tempat bagi mereka yang diselamatkan, sedangkan sebelah kiri merupakan tempat bagi mereka yang akan dibinasakan. Mengapa domba di sebelah kanan sedangkan kambing di sebelah kiri? Belum jelas alasannya, tetapi secara umum domba dikenal sebagai hewan yang lembut dan mudah diatur, tidak melawan, lebih mudah mengikuti dan dapat mendengar suara gembalanya. Sebaliknya kambing lebih sulit diatur, cenderung ‘melawan’. Apakah Yesus menggunakan ‘perumpamaan’ domba dan kambing dengan alasan umum tersebut? May be yes, may be no!
Bagaimana pemisahan itu dilakukan? Pemisahan itu tergantung pada bagaimana kita memperlakukan orang yang membutuhkan. Itulah yang Dia sampaikan kepada ‘kelompok domba’ di ayat 24-36. Sebaliknya, kepada ‘kelompok kambing’, Dia berkata bahwa mereka belum menunjukkan kepedulian kepada orang-orang yang membutuhkan, dengan demikian mereka tidak peduli dengan Yesus (ay 41-44). Yesus menutup penjelasan-Nya tentang kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan dengan menegaskan bahwa “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40, 45). Artinya, apapun yang kita lakukan kepada sesama di dunia ini, atau seperti apa pun cara kita memperlakukan mereka yang membutuhkan, demikianlah sesungguhnya kita memperlakukan Tuhan Yesus.
Baik secara individu maupun komunal, kita dipanggil untuk menolong mereka yang membutuhkan. Oleh sebab itu, kita tidak bisa mengabaikan penderitaan manusia yang mengalami kelaparan, kehausan, ketelanjangan, tunawisma, penyakit, atau penjara. Kita memang bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri, tetapi kita juga memiliki sesuatu untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan (bnd. Ibr. 13:1-3). Pada zaman Matius, memang banyak orang yang hidup dalam penderitaan: ketiadaan makanan dan minuman, ketiadaan pakaian dan rumah yang layak, ketiadaan perawatan yang layak atas sakit penyakit mereka, keterasingan karena berbagai faktor, dll. Orang-orang inilah yang, menurut Yesus, harus diperlakukan dengan baik, diperlakukan layaknya manusia, bukan justru ditindas dan diperas. Maka, Yesus menegaskan bahwa orang yang masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah orang yang dalam hidupnya di dunia ini telah menunjukkan kepedulian sosial yang tulus tanpa harus memamerkannya, bahkan kemudian mereka yang diselamatkan itu tidak menyadari kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan kepada orang-orang yang membutuhkan. Orang-orang yang setia dan bijaksana inilah yang akan masuk ke dalam hidup yang kekal, sedangkan orang-orang ‘bodoh’, ‘jahat’ dan tidak setia, akan masuk ke tempat siksaan yang kekal (bnd. dengan perumpamaan sebelumnya, dan ay. 46).
Di sekitar kita begitu banyak orang yang membutuhkan, tidak sulit mencari dan mendapatkan mereka. Jumlah mereka semakin banyak karena resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19. Itulah sebabnya, dalam konteks Indonesia, pemerintah menggelontorkan triliunan rupiah untuk membantu orang-orang dan usaha-usaha masyarakat yang terdampak Covid-19, bahkan para PNS pun mendapatkan sebagian dari ‘berkah’ itu. Mungkin saja ada di antara kita yang menerima (berbagai) bantuan pemerintah tersebut, padahal sebenarnya tanpa bantuan itu pun kita masih bisa hidup dengan layak. Mungkin juga, ada banyak orang yang seharusnya mendapatkan bantuan tersebut, tetapi entah karena alasan apa, mereka belum mendapatkannnya. Apakah kita rela memberikan ‘bagian’ kita tersebut (bantuan yang kita terima) kepada mereka yang lebih membutuhkan? Atau, kita hanya berkata, “loh, ini kan berkat Tuhan buatku, halal”. Kalau rela, maka kita bisa bergerak lebih maju lagi, memberikan sebagian hasil kerja keras kita sendiri (bukan bantuan) untuk menolong mereka yang membutuhkan, apalagi pada masa-masa sulit ini. Kalau tidak rela, maka dapat dipastikan kita pun tidak mau memberikan hasil jerih lelah kita kepada orang-orang yang membutuhkan.
Entah mengapa Yesus menjadikan “perlakukan dan kepedulian kita kepada orang-orang yang membutuhkan ini” sebagai dasar bagi-Nya untuk memisahkan ‘domba’ dan ‘kambing’. Tetapi, tampaknya Yesus sangat prihatin akan kondisi kehidupan sosial yang amat tidak berpihak kepada masyarakat kecil pada waktu itu. Dalam situasi seperti itu, Yesus sebenarnya mendorong orang-orang yang ‘lebih beruntung’ untuk ‘berbagi kasih’ dengan mereka yang membutuhkan. Itulah esensi dari berita Kerajaan Allah, esensi dari kehidupan yang kekal. Kalau kita sudah melakukannya, maka kapan pun Yesus datang, kapan pun penghakiman itu dilaksanakan, kita sudah siap untuk itu. Kanan atau kiri? Itu adalah pilihan kita masing-masing!
Saturday, October 24, 2020
SUMBER KEHIDUPAN (AIR & MAKANAN) YANG SESUNGGUHNYA (Yohanes 4:5-14)
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”
8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
10 Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”
11 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”
13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”
Setiap orang pasti ingin hidup, dan karena itu manusia melakukan segala upaya untuk tetap hidup. Salah satu upaya itu adalah dengan makan dan minum, dan hampir tidak ada orang yang tidak pernah makan dan minum, sebab itu merupakan kebutuhan dasar manusia sejak dulu sampai sekarang. Mengapa? Karena dalam kodratnya manusia memang memiliki rasa lapar dan haus, dan tidak ada yang bisa menghentikan itu.
Yesus pun dalam kemanusiaan-Nya, mengalami ke-lapar-an dan ke-haus-an itu, salah satu peristiwa itu adalah ketika Dia sampai ke sebuah kota di Samaria bernama Sikhar sebagaimana terungkap dalam ayat 5 teks renungan kita pada hari ini. Setelah melakukan banyak pekerjaan dan menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya Yesus pun lapar (sehingga menyuruh murid-murid-Nya pergi ke kota membeli makanan, lih. ay. 8, 31-33), dan dalam teks khotbah hari ini disebutkan Yesus sangat letih (dan karena itu Dia haus). Itulah sebabnya Dia meminta air kepada seorang perempuan yang pada saat itu datang menimba air di sebuah sumur yang disebut dengan sumur Yakub (lih. ay. 7).
Lalu, bagaimana respons perempuan yang disebut sebagai perempuan Samaria itu? Pada awalnya dia enggan memberikan air minum kepada Yesus, terutama karena Yesus adalah orang Yahudi sedangkan dia adalah orang Samaria. Dalam sejarahnya, orang Yahudi dan orang Samaria itu tidak boleh bergaul, lih. ay. 9, sebab di antara orang Yahudi dan Samaria telah ada permusuhan yang turun temurun; sehingga rasanya aneh kalau sekarang Yesus (yang adalah orang Yahudi) meminta air kepada perempuan itu (yang adalah orang Samaria). Ini memang aneh, bahkan percakapan Yesus dengan perempuan Samaria itu pun termasuk aneh, sebab dalam tradisi mereka Rabi Yahudi (dimana Yesus adalah Rabi) tidak boleh bertegur sapa dengan perempuan di tempat umum apalagi berasal dari suku yang bermusuhan selama ini.
Namun, Yesus melakukan sesuatu yang tidak lazim, menerobos batas-batas dan menghancurkan tembok-tembok yang selama ini dibangun oleh (pemahaman) manusia. Yesus hendak menunjukkan bahwa sumber kehidupan yang sesungguhnya, yaitu keselamatan, memang datang dari bangsa Yahudi (ay. 22), namun kini dialirkan kepada bangsa-bangsa lain, dan tidak bisa dibatasi/dihentikan oleh si-apa pun. Sumber kehidupan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam percakapan-Nya dengan perempuan Samaria itu, yaitu bahwa Dia datang sebagai air hidup, air yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal (ay. 15). Hal yang sama juga ditegaskan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya nanti ketika mereka pulang dan membawa makanan dari kota, Yesus mengatakan bahwa ada makanan yang jauh lebih penting daripada sekadar makanan fisik itu (Yoh. 4:31-32), yaitu melakukan kehendak dan pekerjaan Allah Bapa, yakni pemberitaan keselamatan bagi manusia (Yoh. 4:34).
Kini, keselamatan itu disampaikan sendiri oleh sumber utamanya yaitu Yesus yang disebut sebagai Mesias atau Kristus, dan berita itu menjawab seutuhnya rasa lapar dan haus umat manusia akan kehidupan yang kekal. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia ini hanya ada di dalam Yesus, dan oleh Yesus sendiri pemenuhan kebutuhan dasar tersebut tidak dapat dibatasi oleh suku/ras (Yahudi – non Yahudi) serta jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Berita ini pun bahkan disampaikan langsung oleh Yesus kepada seorang perempuan yang nampaknya kurang diterima dalam masyarakat sebab ternyata dia sudah memiliki 5 suami dan sekarang dia tinggal bersama dengan laki-laki yang bukan suaminya. Kita sudah dapat membayangkan kehidupan perempuan ini, cukup buruk dalam pandangan masyarakat, tetapi Yesus tidak menghakiminya, Dia malah memahami situasinya, dan kini memberitakan keselamatan kepadanya.
Tidak hanya itu, keselamatan yang dari Yesus itu pun tidak dapat dibatasi oleh tempat tertentu. Selama ini orang Samaria menyembah Tuhan di gunung Gerizim sedangkan orang Yahudi menyembah-Nya di gunung Sion di Yerusalem (ay. 20). Namun, kini Yesus menunjukkan bahwa penyembahan Tuhan itu bukan hanya di tempat-tempat tertentu saja, sebab Tuhan sendiri hadir di segala tempat dan segala waktu. Penyembahan yang sesungguhnya adalah penyembahan dalam roh dan kebenaran (ay. 23-24). Fasumangeta si duhu, ya’ia na mufosumange Lowalangi (bakha) ba Geheha ba (bakha) ba wa’aduhu, ba tenga nahia wamalua fasumangeta zangahonogöi da’ö. Lowalangi andrö ba no Eheha, ba dozi sangalulu khö-Nia, ba geheha ba ba wa’aduhu ya mangalulu ira khö-Nia (Yoh. 4:23-24).
Perjumpaan dan percakapan Yesus dengan perempuan Samaria ini mengajarkan kita satu hal penting, yaitu bahwa kita tidak hanya memerlukan air dalam arti kebutuhan jasmani, itu memang penting, namun yang paling penting adalah mendapatkan air kehidupan yang diberikan oleh Yesus, sehingga kita tidak akan haus sampai selama-lamanya. Itulah kebutuhan paling mendasar manusia, air hidup, keselamatan yang dari Tuhan. Manusia boleh saja memiliki persediaan kebutuhan (makanan dan minuman) yang sangat banyak, tetapi semuanya itu akan busuk dan tidak akan pernah mengatasi rasa lapar dan rasa haus kita akan kehidupan yang kekal. Hari ini kita boleh saja mengkonsumsi makanan dan minuman yang enak, tetapi percayalah beberapa jam kemudian rasa lapar dan haus itu muncul kembali, dan demikian selanjutnya, tiada henti. Namun, hari ini Yesus mengingatkan kita untuk tidak hanya fokus pada kebutuhan fisik itu, tetapi melihat sesuatu yang jauh lebih penting, jauh lebih mendasar dalam kehidupan ini, yaitu air hidup yang hanya ada di dalam Yesus Kristus, kepuasan yang kekal itu hanya ada di dalam Dia.
Maka, betapa menyedihkannya kehidupan manusia yang hanya tahu memenuhi kebutuhan fisiknya dengan menghalalkan segala cara, namun dia gagal mendapatkan sumber kehidupan yang sesungguhnya di dalam Yesus Kristus. Lihatlah, betapa semakin banyaknya orang yang berkonflik hanya karena memperebutkan sumber kehidupan fisik: konflik karena memperebutkan jabatan tertentu (termasuk jabatan di dalam gereja), konflik karena memperebutkan proyek tertentu, konflik karena memperebutkan harta warisan orangtua, konflik karena memperebutkan cowok/cewek idaman tertentu, konflik karena memperebutkan perhatian dan kasih sayang dari orangtua atau orang-orang tertentu, dst. Akibatnya, banyak orang yang tidak bertegur sapa, kehilangan sukacita, kehilangan senyuman dan tawa, kehilangan rasa damai, dan pada akhirnya kehilangan sumber kehidupan yang sesungguhnya, air kehidupan yang ditawarkan oleh Yesus, kehidupan untuk selama-lamanya.
Yesus tidak meminta kita untuk tidak lagi memikirkan dan mengusahakan pemenuhan kebutuhan jasmaniah kita sehari-hari, itu penting. Namun, hari ini Yesus menyadarkan kita untuk melihat dan mencari sesuatu yang jauh lebih penting, jauh lebih mendasar, yaitu kebutuhan yang sungguh-sungguh memberi kehidupan kekal bagi kita semua, dan itulah firman Tuhan, berita keselamatan, penyembahan Tuhan dalam roh dan kebenaran. Yesus menawarkan sesuatu yang amat baik bagi kita, yaitu air kehidupan, dan kini saatnya kita minum air kehidupan itu, sebab dengan demikian kita tidak akan haus sampai selama-lamanya.
Thursday, October 22, 2020
Thoughts in Solitude
Thoughts in Solitude - Pemikiran(ku) dalam Kesunyian (by Thomas Merton)
Ya Tuhanku,
aku tidak tahu ke mana tujuanku;
aku tidak melihat jalan di depanku;
aku tidak tahu pasti di mana ini akan berakhir.
Aku juga tidak benar-benar mengenal diri saya sendiri,
dan fakta bahwa saya pikir saya mengikuti kehendak-Mu tidak berarti bahwa saya benar-benar melakukannya.
Tetapi saya percaya bahwa KEINGINAN untuk menyenangkan-Mu sebenarnya sudah menyenangkan-Mu;
dan aku berharap saya memiliki KEINGINAN itu dalam semua yang saya lakukan;
aku berharap bahwa saya tidak akan pernah melakukan apa pun selain KEINGINAN itu.
Dan saya tahu bahwa jika saya melakukan ini,
Tuhan akan menuntun saya ke jalan yang benar, meskipun saya mungkin tidak tahu apa-apa tentang itu.
Oleh karena itu saya akan selalu mempercayai-Mu,
meskipun saya mungkin tampak tersesat dan berada dalam bayang-bayang kematian.
Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)
Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...
-
(1) Kalau mau mengikuti pertemuan virtual dengan tampilan yang lebih baik, maka pakailah laptop atau PC (personal computer). Boleh sih m...
-
Bahan Khotbah Minggu, 28 Maret 2020 Oleh: Pdt. Alokasih Gulo 8 Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab En...
-
Bahan Khotbah Minggu, 18 Juli 2021 Disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo 11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu--sebagai orang-orang bukan...