Friday, June 1, 2012

LOGOTERAPI: Sebuah Pendekatan Hidup Bermakna Dalam Konseling Pastoral


Prepared and Posted by Alokasih Gulo
Program Magister Sosiologi Agama (MSA)
Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga


Pengantar
Setiap orang pasti menginginkan sebuah kehidupan yang bermakna. Namun harus diakui bahwa dalam realitasnya banyak orang yang mengalami kehampaan hidup. Tidak sedikit orang yang menjalani hidup dengan tanpa makna. Di sana-sini kita bisa mendengar keluhan kekosongan hidup bahkan tidak jarang diungkapkan oleh mereka yang mengalami kesuksesan dalam karier dan keuangan. Kalau begitu, sikap apa yang sebaiknya ditempuh manusia supaya mengalami hidup yang bermakna? Apakah masih mungkin manusia menemukan makna hidup dalam situasi menderita, sakit, atau gagal? Konseling eksistensial mencoba memberikan jawaban atas permasalahan ini dengan mengedepankan renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia. Tulisan ini akan mengupas logoterapi sebagai salah satu pendekatan konseling eksistensial dalam upayanya menemani manusia dalam menemukan makna hidupnya.

Substansi Logoterapi
Logoterapi merupakan sebuah psikoterapi eksistensial yang diperkenalkan oleh Viktor Frankl, seorang dokter ahli penyakit saraf dan jiwa (neuro-psikiater). Logoterapi berasal dari kata “logos” yang dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning) dan juga rohani (spirituality), sedangkan terapi adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.
Intisari pemikiran logoterapi ini terletak pada konstatasi bahwa esensi darikeberadaan manusia adalah tanggung jawab. Viktor E. Frankladalah orang yang berpikir dan berusaha serta memahami bahwa yang paling penting dalam kehidupan ini adalah makna(Frankl, 1985:117-157). Dalam bukunya yang pertama ia mengisahkan penderitaan yang dialaminya di kamp konsentrasi di Jerman. Pengalaman penderitaan itulah yang menjadi inspirasi bagi penemuannya tentang konsep “logoterapi”. Bagi Frankl permasalahan kehidupan yang sangat penting adalah hakikat kehidupan. Kehidupan yang bermakna akan dimiliki seseorang bila dia mengetahui apa makna dari sebuah pilihan hidupnya. Makna hidup ini bermula dari adanya sebuah visi kehidupan, harapan dalam hidup, dan adanya alasan mengapa seseorang harus terus hidup. Jika seseorang memiliki visi kehidupan dan harapan hidup, maka ia akan tangguh di dalam menghadapi kesulitan hidup sebesar apapun. Makna adalah kekuatan hidup yang selalu mendorong seseorang untuk memiliki komitmen kehidupan. Kebermaknaan hidup dapat diwujudkan dalam sebuah keinginan untuk menjadi orang yang berguna bagi orang lainnya (anak, isteri, keluarga dekat, komunitas, negara, dan bahkan umat manusia). Apa yang sangat dibutuhkan adalah suatu perubahan fundamental dalam sikap hidup kita. Kita harus belajar dari diri kita sendiri, selanjutnya, mengajarkan kepada orang yang putus asa, bukan apa yang kita harapkan dari hidup, tetapi sebaliknya apa yang hidup harapkan dari kita. Setiap orang ditanya oleh kehidupannya dan dia hanya bisa menjawab kehidupan dengan menjawab hidupnya sendiri sebab untuk hidup dia bisa merespons dengan menerima tanggung jawab.
Ketika seseorang mendapati bahwa takdirnya menderita, dia mesti menerima penderitaan itu sebagai tugasnya, dengan kesendirian dan keunikan tugasnya. Dia harus mengakui kenyataan bahwa bahkan dalam penderitaan itu dia adalah unik dan sendiri di dunia. Tidak seorang pun dapat membebaskan diri dari penderitaannya atau membebaskan derita dari tempatnya. Pemikiran di atas memperlihatkan, bahwa keinginan untuk memaknai,dalam hal ini ketika menghadapi penderitaan, adalah substansi pertama logoterapi.
Agar makna dapat ditemukan, Frankl menawarkan tiga pendekatan. Pertama,melalui nilai-nilai pengalaman, yakni dengan cara memperoleh pengalaman tentang sesuatu atau seseorang yang bernilai bagi kita. Kedua, melalui nilai-nilai kreatif, yaitu dengan “bertindak”. Ketiga, melalui nilai-nilai bersikap (attitudinal). Nilai mencakup kebaikan seperti penyayang, keberanian dan selera humor yang baik (Boeree, 2004:396-399).
Frankl berpendapat bahwa hati nurani adalah inti dari keberadaan manusia dan merupakan sumber integritas personal kita (Boeree, 2004:388). Hati nurani adalah sesuatu yang sangat intuitif dan bersifat pribadi. Hati nurani adalah semacam spiritualitas alam bawah sadar, yang sangat berbeda dari insting-insting alam bawah sadar seperti yang dikatakan Freud. Dengan hati nurani manusia tidak saja dimungkinkan untuk menemukan makna, tetapi lebih dari itu supra-maknaatau transendensi. Supra makna adalah ide bahwa dalam hidup pasti ada makna hakiki, makna yang tidak bergantung pada makna lain, pada benda-benda atau pada ketegaran. Makna ini merujuk pada Tuhan atau makna spiritual.  Bagi Frankl dalam penderitaan tetap saja terbuka kemungkinan memperdalam kehidupan spiritual. Frankl hendak berargumentasi bahwa peristiwa-peristiwa sosial yang dialami tidak hanya akan mengakibatkan ketegangan “psikodinamik”. Ketegangan yang dialami bukan sekadar persoalan psikologis, tetapi lebih daripada itu, yakni berkaitan dengan aspek spiritual. Menekankan pentingnya memperhatikan aspek spiritual selain psikologis pada orang yang mengalami ketegangan adalah substansi kedua dari logoterapi.
Upaya pencarian makna dapat juga berakhir dengan, atau mengakibatkan keputusasaan dan mempengaruhi dinamika psikologis maupun spiritual. Keputusasaan menyebabkan orang yang mengalaminya menjalani kehidupan dengan perasaan hampa, tidak bermakna, tanpa tujuan, tanpa arah. Sebagai kompensasi, dapat terjadi hal-hal yang aneh yang pada gilirannya destruktif. Perilaku menyimpang dapat dicontohkan dengan mengisi hidup dengan kesenangan tanpa batas, makan melebihi kewajaran, seks bebas, hidup dengan cara glamour, berburu kekuasaan, menghancurkan apa-apa dan siapa-siapa yang dipikirkan dapat menghambat dan sebagainya. Menjalani hidup dengan cara-cara demikian dan sejenisnya hanya akan mengakibatkan kita tidak pernah merasa cukup atas apa yang telah dilakukan atau didapatkan. Jika seseorang mengalami kondisi sedemikian, maka menurut Frankl, orang tersebut sedang mengalami neurosis “yang menyiksa” (Boeree, 2004:391). Kondisi demikian dipengaruhi oleh beberapa kecemasan, yakni: antisipatoris, hiper-intensi, hiper-refleksi. Itulah sebabnya kevakuman eksistensial merupakan substansi ketiga dari logoterapi.
Oleh sebab itu, memahami diri adalah upaya implikatif dari konsep logoterapi ini. Dalam sejarah perkembangan psikologi terdapat setidaknya tiga pendekatan yang biasanya dipergunakan untuk memahami diri (Simons, 1980:3-25). Pendekatan pertama dikenal dengan sebutan psikoanalisis sebagaimana yang dikembangkan oleh Freud dan pengikut-pengikutnya. Setiap orang hanya akan dapat dipahami melalui aspek ketidaksadaran(unconscious) yang dimulai sejak masa kanak-kanak. Mereka ini yakin bahwa jawaban atas pertanyaan penting menyangkut kejiwaan manusia tersembunyi di balik tirai, di dalam alam bawah sadar.
Pendekatan kedua disebut dengan nama behavioristik, dipelopori oleh B.F.Skinner, Albert Bandura dll. Manusia hanya dapat dipahami melalui pengamatan yang saksama terhadap perilaku dan lingkungan serta relasi keduanya.
Pendekatan ketiga dikenal dengan nama humanistik, tokohnya adalah Abraham Maslow, Carl Roger dll. Menurut pendekatan ini perilaku setiap orang merupakan refleksi emosi, sikap dan perasaan mereka.
Setiap pendekatan menekankan aspek tertentu dari manusia yang sekali pun berbeda satu dengan yang lainnya, tetapi tidak dapat dipisahkan. Manusia harus dipahami dalam totalitas, secara holistik. Memahami diri adalah hal yang sangat penting, sebab dengan pengenalan diri seseorang akan dapat mengetahui siapa dirinya, dimana kelebihan dan kekurangannya. Mengenal diri akan membawa seseorang untuk mengerti keterbatasannya dan memahami ketidakterbatasan Allah. Empat hal akan dikemukakan sehubungan dengan upaya memahami diri.

1)    Memahami Adanya Perbedaan
Banyak orang melihat  perbedaan sebagai ancaman bagi eksistensinya. Perbedaan lebih dipahami sebagai sesuatu yang merusak daripada sebagai aset yang sangat potensial untuk membangun kerja sama dalam hal apa saja. Perbedaan seharusnya dilihat sebagai suatu anugerah yang patut disyukuri, sehingga setiap orang akan bangga dengan potensi/talenta yang ada padanya dan berani untuk mengaktualkan keunikan diri sendiri sebagai talenta yang harus dilengkapi oleh orang lain dalam membangun komunitas sejahtera. Berbeda itu menarik, namun sering ditakuti oleh banyak orang. Banyak orang berusaha untuk menjadi sama dengan orang lain. Jika seseorang merasa bahwa dia tidak memiliki seperti yang dimiliki orang lain, maka sering mengakibatkan rasa iri hati, merasa kecil, gagal, tidak mampu, putus asa. Keinginan untuk menjadi sama dengan orang lain dapat membuat seseorang tidak jujur terhadap diri sendiri. Oleh karena itu untuk berbeda seseorang harus sanggup untuk menghargai diri sendiri. Penghargaan terhadap diri sendiri membuat seseorang menilai diri secara positif, dan penghargaan terhadap diri sendiri secara positif ini akan membuat seseorang menjadi dinamis, optimis, kreatif dalam mengembangkan potensi/talenta yang ada padanya. Menghargai diri sendiri berarti mengembangkan apa yang Tuhan karuniakan  sepenuhnya, sehingga kita dapat melihat dan mengenali kekhususan kita, menghargai karunia Allah, dan menerima orang lain sebagaimana adanya.

2)    Memahami Adanya Perubahan
Banyak orang merasa takut untuk berubah, karena berpikir bahwa berubah itu berarti kehilangan(Monte, 1980:484-487). Perubahan merupakan proses untuk mendapatkan dan bukan untuk kehilangan. Erik H. Erikson berargumentasi bahwa setiap orang akan menempuh sebuah siklus kehidupan yang terdiri dari delapan tahap (Erikson, 1982:143). Secara bertahap dimulai dari Infancy, Early Childhood, Play Age, School Age, Adolescence, Young Adulthood, Adulthood, Old Age.Erikson memahami bahwa pada setiap tahapan perkembangan akan terjadi krisis psikososial. Dengan demikian tahapan perkembangan seseorang selalu akan dipengaruhi oleh aspek sosial. Setiap orang bertumbuh dengan realitas perjumpaan potensi dari dalam diri dan lingkungan sosialnya. Ide pokoknya adalah setiap individu bertumbuh dan setiap pertumbuhan menghasilkan perubahan. Sejalan dengan pemikiran ini Gordon W. Allport berpendapat bahwa setiap orang berada dalam proses menjadi, belum sempurna (Monte, 1980:545). Setiap tahap perkembangan yang akan dilalui oleh manusia bersifat psikososial dan merupakan krisis.Pertumbuhan dan perubahan merupakan akumulasi hasil dari perjumpaan potensi dari dalam diri dan pengaruh lingkungan sosial. Augusto Blasi mengatakan bahwa pemikiran Erikson merupakan hasil dari studinya yang bersifat empiris dan disebut dengan nama theory of personality development (Blasi, 1988:226). Setiap orang akan mengalami perubahan sebagai yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial/peristiwa sosial. Peristiwa sosial dapat menjadi krisis bagi  orang yang mengalaminya dan menghadirkan dampak baik negatif maupun positif.

3)    Memahami Dinamika dan Karakteristik Waktu
Carl Rogers dalam teorinya tentang kepribadian yang berfungsi baikdiantaranya mengemukakan pemikiran mengenai kehidupan eksistensial (Boeree, 2004:328). Rogers memahami kehidupan eksistensial sebagai kehidupan di sini dan sekarang. Masa sekarang adalah satu-satunya realitas yang kita miliki, sebab kita tidak hidup di masa lalu atau masa yang akan datang. Masa yang lalu telah berlalu dan masa yang akan datang belum terjadi. Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu mengenang/belajar dari masa lalu atau kita tidak bisa merencanakan atau berangan-angan tentang masa yang akan datang. Menurut Rogers sesuatu harus dipandang sebagaimana adanya, kenangan dan angan-angan adalah sesuatu yang kita alami di sini dan sekarang.
Dalam upaya memahami diri kita, mustahil kalau tidak menggali apa yang pernah terjadi pada masa lampau. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menyimpan dan terus merasakan kembali pahit getirnya pengalaman masa lampau, tetapi bermaksud untuk melihat pengaruh masa lampau terhadap kepribadian kita. Menggali masa lampau berarti tidak takut membicarakan masa lampau yang suram. Bagi banyak orang masa lampau merupakan hal yang sangat menakutkan, sehingga tidak menyenangkan untuk diungkapkan kembali. Untuk menggali masa lampau, harus ada kesanggupan untuk membuka rahasia yang selama ini terselubung dan mengganggu serta menghambat perkembangan kepribadian secara penuh.

4)    Memahami Adanya Keunikan/Kekhususan yang Dimiliki
Albert Ellis mengemukakan bahwa setiap orang perlu memiliki kerelaan untuk menerima diri sendiri (Boeree, 2004:199). Sebagai upaya untuk memahami diri, dalam teorinya tentang inferioritas, Alfred Adlermengemukakan bahwa pada kenyataanya setiap orang memiliki kelemahan, sekaligus kelebihan tertentu, baik secara anatomi maupun fisiologi maupun psikologis (Boeree, 2004:158-162). Dengan mengakui kelemahan diri, seseorang tidak berkeinginan menguasai segala sesuatu, dan pada sisi yang lain berarti mengharapkan pertolongan dari Tuhan serta bersedia menerima pertolongan dari orang lain untuk mengatasi kelemahannya itu. Dengan sukarela dan tidak mengharapkan imbalan, orang yang menikmati kekhususan dapat memberi diri untuk bekerja sama dengan orang lain. Jika seseorang menikmati kekhususannya, maka dengan rendah hati ia akan dapat menikmati kekhususan orang lain.

Relevansi Logoterapi dalam Konteks Paradigma Orang Nias
            Upaya mencari tahu suatu makna di balik suatu fenomena atau fakta kehidupan sangat kuat dalam paradigma orang Nias. Hampir tidak ada peristiwa – entah peristiwa yang sifatnya umum atau pun personal – yang tidak dimaknai sesuai dengan pemahamannya masing-masing. Dalam menghadapi setiap peristiwa dalam kehidupannya, secara khusus peristiwa yang berkaitan dengan penderitaan, orang Nias biasanya selalu memaknainya secara spiritual. Kita bisa memperhatikan hal ini misalnya lewat kata-kata: “la’ua, yawara hetawisa, oi so gunania andrö khö Lowalangi” (biarlah begitu, apa boleh buat, toh kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sudah terjadi kok, semuanya ada hikmahnya, terj. bebas). Hari Sabtu yang lalu, tepatnya tanggal 7 Maret 2012, seorang ibu (umur ± 36 tahun) harus menerima kenyataan pahit karena suaminya tewas dalam kecelakaan lalu lintas di daerah Telukdalam, Nias Selatan. Dalam percakapan saya dengan dia lewat telepon, dia memang menangis, tetapi saya sangat terkesan ketika dia akhirnya mengatakan: “yawara hetawisa amagu fandrita, oi amatöröwa Lowalangi, tebai mutimbagö” (apa boleh buat pak pendeta, semuanya sudah kehendak Tuhan, kita tidak bisa menolaknya, terj. bebas).
            Pada satu sisi ungkapan kata-kata yang seperti ini memang mencerminkan “ketidakberdayaan atau kepasrahan” akan apa yang telah terjadi dalam hidupnya, tetapi pada sisi yang lain sebenarnya bisa menjadi suatu kekuatan untuk bertahan dalam kondisi apa pun. Nah, dalam konteks paradigma yang seperti inilah menurut hemat saya seharusnya gereja BNKP bisa memanfaatkan logoterapi ini sebagai salah satu pendekatan penting dalam melakukan konseling pastoral kepada jemaat yang bermasalah tentang makna hidupnya. Artinya, paradigma memaknai kehidupan sudah ada dalam diri orang Nias, karenanya gereja BNKP, dalam hal ini para konselornya, mesti memanfaatkan paradigma itu ke arah yang positif dengan tetap realistis terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Hal ini penting dilakukan atau dikembangkan secara khusus karena berbagai gempuran perubahan sosial di Nias pasca gempa bumi 28 Maret 2005 sangat gencar, sehingga kompleksitas masalah jemaat semakin meningkat.
            Dalam kerangka berpikir seperti inilah menurut saya gereja BNKP harus mempersiapkan pada konselornya untuk lebih maksimal dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada dalam menolong jemaat atau masyarakat. Karenanya, model konseling pastoral eksistensial “logoterapi” menjadi sesuatu yang penting dikembangkan oleh gereja BNKP, karena hidup ini memang bermakna.

Daftar Pustaka


Abu. Ahmadi. Psikologi Sosial (Jakarta: Rineka Cipta, 1991)
Boeree. C. George Personality Theories, terj. oleh Inyiak Ridwan Muzir (Yogyakarta: Prismasophie, 2004)
Erikson. Erik H. The Life Cycle Completed (New York: W.W. Norton & Company, 1982)
Frankl. Viktor E. Mans Search For Meaning (New York: Washington Square Press, 1985)
___________, Mans Search For Ultimate Meaning (Cambridge, Massachusetts: Perseus, 2000)
Howard. B Kaplan. Sosial Psychology of Self-Referent Behavior(New York: Plenum Press, 1986)
Hunter. Rodney J. (General Editor), Dictionary of Pastoral Care And Counseling(Nashville: Abingdon Press, 1990)
Kushner. Harold S. Derita, Kutuk atau Rahmat (Yogyakarta: Kanisius, 1987)
Meier. Paul D. et. al. Pengantar Psikologi & Konseling Kristen, terj. oleh Johny, (Yogyakarta: Andi Offset, 2004)
Monte. Christopher F. Beneath The Mask – An Introduction To Theories Personality –second edition (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1980)
Nouwen. Henri J.M. The Wounded Healer (New York: A Division of Doubleday & Company, Inc., 1979)
Osborn. Cecil G. Seni Memahami Diri –terj. oleh Fenny Veronica (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001)
Simons. Joseph. The Search For Self: An Introduction To Personal And Social Adjustment (Lexington: D.C. Heath And Company, 1980)
Switzer. David K. The Minister as Crisis Counselor(Nashville: Abingdon, 1983)
Walgito. Bimo. Pengantar Psikologi Umum(Yogyakarta: Andi, 2002)
Wirawan. S. Sarlito. Psikologi Sosial – Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial (Jakarta: Balai pustaka, 1999)
_________(penyadur). Teori-teori Psikologi Sosial(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995)
Wright. H. Norman. Crisis Counseling (California: Regal Books, 1993)

No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...