Sunday, November 18, 2012

Bijak Mengarungi Gelombang Kehidupan (Daniel 12:1-3)

Jemaat BNKP Gada, Minggu, 18-11-2012
Yehezkiel 36:25-31; Ibrani 10:19-25; Daniel 12:1-3; Daniel 12:3
BZ: 12, 289, 292, 295


12:1   Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu.
12:2   Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.
12:3   Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.

Siapa di antara kita yang mau bebas dari berbagai tantangan hidup? (Hadia so zomasi ba gotaluada andre ma’ökhö na mutayaigö manö ngawalö wolohi?). Siapa di antara kita yang mau supaya segala bentuk badai kehidupan dapat berakhir dan tidak pernah datang lagi? (Haniha zomasi ena’ö lö hadöi sa’ae ngawalö wanandraigö, fökhö, famakao, btn ba wa’auri andre? Haniha zomasi ena’ö böi tohare sa’ae ngawalö wanandraigö ba folohi andrö?) Hadia fetua ma lala nitörö? Mate!  Mangifi!

Fatua so ita ba gulidanö andre, ba lö manö irai fabali khöda nifotöi folohi, fa’amarase, famakao, fondröni dödö, btn. Selagi kita hidup di dunia ini, badai kehidupan tidak akan pernah meninggalkan kita, masalah tidak akan pernah berhenti. Dia selalu datang dalam berbagai bentuk, wujud, dan cara! Persoalannya bukan bagaimana menghentikan atau mengakhiri segala macam badai, pencobaan, kesesakan (famakao) atau masalah itu, melainkan bagaimana kita sebagai umat percaya memahami, menyikapi atau menanggapi semuanya itu. Kalau demikian, bagaimana kita seharusnya memahami, menyikapi atau menanggapinya? Sebelum menjawab pertanyaan ini, maka mari kita lihat sejenak konteks perikop ini.

Dulu, umat Tuhan, secara khusus Daniel dkk, berada dalam pergumulan yang luar biasa karena berbagai tantangan yang mengancam mereka, tantangan yang hendak menghancurkan bangsa mereka, tantangan yang memaksa mereka untuk meninggalkan iman mereka kepada Tuhan Allah. Daniel dan kawan-kawan menghadapi risiko kehilangan jabatan, bahkan mengancam kehidupan mereka, baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa atau umat Tuhan. Di tengah situasi yang seperti itu, di tengah puncak pergumulan mereka itu, Tuhan melalui Daniel menjanjikan suatu harapan, yaitu bahwa kerajaan duniawi yang tidak memberi kenyamanan dan keamanan bagi mereka itu akan diganti dengan kerajaan Allah yang kekal, dan Allah sendiri yang memimpinnya. Karenanya, perikop ini mendorong pembaca untuk tetap menempuh jalan hikmat dan kebenaran, sekalipun dihina atau dibunuh, karena kehinaan sekarang akan diganti dengan kemuliaan ketika kerajaan Allah terwujud.

Nah, kembali ke pertanyaan tadi, bagaimana kita seharusnya memahami, menyikapi atau menanggapi berbagai tantangan dalam hidup ini? Bagaimana kita menjalani gelombang kehidupan ini? Perikop ini secara sederhana tetapi mendalam hendak mendorong umat Tuhan, baik dulu maupun sekarang, untuk menjadi bijak dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan, godaan, ancaman, dlsbg. Menjadi bijak menurut perikop ini berarti “hidup bergantung pada Tuhan Sang Pemimpin Kerajaan Allah, kemudian cerdik, cermat, jeli, dan hati-hati”. Orang bijak akan bercahaya, akan mendapat hidup yang kekal, baik mereka yang masih hidup saat ini, maupun mereka yang sudah meninggal (telah tidur di dalam debu tanah, ay. 3). Hanya orang bijak yang namanya didapatkan dalam kitab kehidupan. Mengapa? Karena orang bijak itu mampu menjalani kehidupannya seturut dengan kehendak Allah sekali pun ada banyak tantangan, godaan, bahkan ancaman dalam hidupnya. Orang bijak tidak akan pernah meninggalkan Tuhan Allahnya dalam situasi apa pun, tidak pernah memperjualbelikan kebenaran, dan malah menuntun orang lain kepada kebenaran (lö ifaelungu nawönia, lö idönisi nawönia ba zi lö sökhi). Sebaliknya, orang yang tidak bijak menjalani kehidupan dengan aneka tantangan ini,  akan mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal, baik mereka yang masih hidup saat ini maupun mereka yang sudah meninggal (telah tidur di dalam debu tanah, ay. 3). Baik orang yang bijak menjalani kehidupannya, maupun yang tidak, pada akhirnya sama-sama mendapat bagian pada kesudahan zaman. Daniel sendiri mendapat bagiannya kelak (Dan. 12:13). Hanya, bagian masing-masing pasti berbeda, pilihan ada di tangan kita masing-masing.

Kepada si(apa)kah manusia dewasa ini sering menggantungkan hidup, masa depan, karir, dlsbg?
·         Materi (uang, tanah, harta milik, usaha, dlsb)
·         Jabatan
·         Kenalan (keluarga, sahabat, rekan, dlsb)
·         Fisik
Banyak orang yang berlindung di balik semua ini. Bahkan kita sering melihat dan memperlakukan sesama kita berdasarkan pada hal-hal di atas, bukan pada keberadaannya sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Nias, terutama kota Gunungsitoli, sudah banyak berubah. Kita dapat melihat bagaimana perkembangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi saat ini, suatu perubahan yang sebenarnya patut disyukuri. Namun, di samping kemajuan itu semua, ternyata muncul juga suatu gaya hidup baru, gaya hidup yang sangat jauh berbeda dengan gaya hidup sebelum terjadinya gempa bumi di Nias. Gaya hidup dimaksud antara lain yaitu gaya hidup “mewah” dan mementingkan “gengsi”, konsumtif dan instant, berorientasi uang, materialistis dan individualistis, berkurangnya rasa solidaritas dan kekeluargaan, serta kurangnya kepedulian terhadap kegiatan adat dan gereja. Berbagai jenis kejahatan juga merebak, antara lain: pencurian, penculikan, judi, miras dan narkoba. Pergaulan bebas dan praktik pelacuran – termasuk di kalangan anak-anak sekolah – sudah menjadi rahasia umum. Kawin kontrak, poligami, perselingkuhan, dan perceraian, yang merupakan sesuatu yang sangat langka di Nias sebelum gempa, sekarang sudah menyebar mulai dari kota hingga ke pedalaman (desa). Banyak keluarga yang berantakan, dan dililit hutang (terutama karena judi dan alkoholisme). Penampilan lebih diutamakan, susah diatur, tidak peduli dengan sekolah, tidak peduli dengan orangtua dan keluarga.

Pada zaman sekarang, banyak orang rela melakukan apa saja demi mempertahankan nyawanya, malah demi sebuah jabatan banyak orang “menjual’ keyakinan dan prinsip hidupnya. Bagaimana mau bercahaya sebagai pemegang jabatan jika kita tidak “berjalan lurus”. Betapapun tuntunan zaman dan tekanan kebutuhan mendesak, kita mesti tetap berjalan lurus dan tinggal dalam iman kepada Kristus, walaupun berisiko nyawa kita.  Dalam situasi perkembangan zaman sekarang inilah kita mesti bijak menanggapinya, hati-hati, dan hidup bergantung kepada Tuhan. Kita memang mesti menyesuaikan diri dengan zaman ini, namun jangan sampai terbawa arus yang pada akhirnya mematikan kehidupan kita sendiri.

No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...