Friday, August 21, 2020

Kebebasan Kristiani di Era Kemajuan Teknologi (1 Korintus 6:12-20)


Bahan Khotbah Minggu, 23 Agustus 2020
Disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo

12  Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.
13   Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.
14   Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya.
15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!
16   Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: “Keduanya akan menjadi satu daging.”
17   Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.
18  Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.
19  Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
20  Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Teks ini membahas topik yang dianggap problematis, yaitu percabulan dengan pelacur (6:16) yang pada waktu itu cukup "laris manis" di Korintus. Dianggap problematis karena ada kesan Paulus mendiskreditkan para pelacur, padahal percabulan terjadi tidak hanya dengan mereka saja, tetapi bisa juga dengan orang lain. Topik ini semakin problematis apabila menggunakan kacamata "pejuang HAM" zaman modern, sebab Paulus sepertinya menyamaratakan tuduhannya kepada para pelacur seolah-olah mereka itu orang paling berdosa, padahal banyak di antara mereka terpaksa menjadi pelacur, atau terjerumus ke dalam pelacuran karena, misalnya, faktor ekonomi, dll. Oleh sebab itu, perlu disadari bahwa fenomena pelacuran di Korintus (dan berbagai dosa lainnya yang sejenis) terjadi tidak seperti fenomena pelacuran modern tersebut. Praktik "haram" ini ada hubungannya dengan pelacuran sakral yang dipromosikan oleh para pelacur kuil penyembahan Venus pada waktu itu. Inilah yang dikenal sebagai pelacuran bakti, yaitu praktik pelacuran atas nama "agama", dan tentunya para imam kuil menjadi pihak yang pertama-tama dan terutama "menikmati" pelacuran tersebut. Jadi, teguran atau kecaman Paulus terhadap kesalahan jemaat Korintus tidak hanya terletak pada tindakan percabulan itu sendiri, tetapi juga pada konsep teologis yang salah yang mendorong mereka melakukan hal itu. Mereka menganggap bahwa tindakan perzinahan itu bukanlah suatu hal yang memberi pengaruh buruk atas diri manusia, malah dianggap sebagai bagian dari "penyempurnaan" kehidupan mereka, bagian dari "penyempurnaan" kesakralan ibadah mereka di kuil-kuil tersebut. Mereka juga menganggap bahwa manusia memiliki kebebasan atas tubuhnya, toh tidak menjadi persoalan, dan anggapan seperti ini bersumber dari konsep mereka yang salah tentang kebebasan Kristiani dan tubuh (6:12-13).

Sebelumnya, Paulus telah mengecam mereka yang bercabul dengan isteri ayahnya dan malah bangga dengan percabulan itu (5:1-2). Pada teks khotbah hari ini, Paulus lagi-lagi mengecam jemaat yang, tanpa rasa malu, melakukan percabulan dengan pelacur. Alih-alih merasa malu, mereka bahkan mencari berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan yang salah itu. 

Menanggapi kasus ini, pertama-tama Paulus mengoreksi konsep teologis mereka yang salah tentang kebebasan Kristiani dan tubuh (6:12-14). Menurut Paulus, kebebasan di dalam Kristus tidak berarti kebebasan atau hak untuk melakukan segala sesuatu yang kita inginkan. Kebebasan Kristiani haruslah memperhatikan paling tidak dua hal, yaitu (1) pertimbangan kebebasan diri dan kepentingan bersama dalam komunitas (6:12a), serta (2) pertimbangan kebebasan dan perbudakan atas diri sendiri (ay. 12b). Setiap orang harus merenungkan secara mendalam kedua pertimbangan ini ketika hendak menggunakan kebebasannya sebagai orang Kristen, bukan semau gue.

Selanjutnya Paulus memberikan argumen yang mendukung pandangannya itu (6:15-20). Ada tiga argumen yang masing-masing dimulai dengan pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu” (bnd. ay. 15, 16, 19). Di ayat 15 dia menegaskan bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus yang tidak boleh diserahkan kepada percabulan. Di ayat 16-18 dia mengajarkan bahwa orang percaya sudah diikatkan dengan Kristus dalam roh, sehingga mereka tidak boleh lagi mengikatkan diri dengan pelacur. Terakhir, di ayat 19-20 Paulus mengingatkan bahwa tubuh mereka adalah bait Roh Kudus, sehingga tidak boleh dicemarkan dengan dosa percabulan.

 (sumber gambar: https://www.hipwee.com/narasi/demokrasi-dan-kebebasan-era-milenial/)

Esensi Kebebasan Kristiani (ay. 12)
Para ahli biblika memahami bahwa frase “segala sesuatu adalah halal bagiku” merupakan slogan jemaat Korintus, yang dikutip atau disebutkan oleh Paulus sebanyak 4 (empat) kali di surat Korintus ini, yaitu di 6:12 (2 kali) dan 10:23 (2 kali). Kata “halal” dalam Alkitab TB LAI seharusnya diterjemahkan “diperbolehkan/diizinkan, legal”. Nah, soal tentang “boleh” atau “tidak boleh”, atau dengan kata lain “kebebasan” ini merupakan pokok penting bagi jemaat Korintus. Mengapa? Karena jemaat ini memang sudah lama terbiasa hidup dalam kebebasan tanpa memperhatikan orang lain, kebebasan “tanpa batas atau kebebasan tanpa aturan” (keras kepala dan rewel), dan kadang-kadang mereka menolak si-apa pun yang mengganggu kebebasan mereka itu (bnd. 7:35). Ketika Paulus memberitakan “kebebasan” di dalam Kristus (bnd. Rm. 6:14), banyak jemaat Korintus yang menyalahartikan dan menyalahgunakannya, salah satunya adalah dengan membenarkan percabulan dengan pelacur. Banyak di antara mereka yang tidak mau hidup menurut aturan hukum yang berlaku, bahkan tidak peduli lagi dengan nilai-nilai moralitas Kristen.

Karena itu, Paulus menegaskan bahwa kebebasan haruslah membawa kegunaan/keuntungan/manfaat (ay. 12a “tetapi bukan segala sesuatu berguna”). Dalam pasal 10:23-24 kata ini disejajarkan dengan “membangun” dan hal ini dikaitkan dengan kepentingan orang lain. Di pasal 12:7 kata ini muncul lagi dalam konteks kepentingan bersama. Artinya, Paulus di 6:12a tidak sedang membicarakan keuntungan yang akan diterima oleh orang per orang, tetapi kepentingan untuk seluruh jemaat, kepentingan bersama. Dengan kata-kata ini, Paulus hendak mengatakan bahwa tindakan kebebasan tanpa batas yang dilakukan oleh jemaat justru akan mencoreng reputasi gereja (obou ba abӧu dӧi jemaat). Tindakan ini juga bisa berdampak buruk bagi jemaat yang lain seandainya mereka terpengaruh dan meniru tindakan ini, sama seperti ragi yang mencemari seluruh adonan (5:7-8). Banyak orang Kristen di Korintus dan di zaman kita sekarang yang ngotot dengan “ke-benar-an” yang dia anut, tetapi tidak peduli dengan kebutuhan/kepentingan orang lain, bahkan seringkali menjadi batu sandungan bagi sesama orang percaya (8:8-9). Situasi ini semakin diperparah dengan kecenderungan banyak orang yang sering kali menganggap benar apa yang sebenarnya salah, hanya karena hal itu sudah biasa dilakukan, istilahnya “membenarkan kebiasaan”, bukan “membiasakan kebenaran”.

Seterusnya Paulus memperingatkan jemaat agar berhati-hati dengan kebebasan, karena kebebasan seringkali justru menjadi perbudakan (ay. 12b “tetapi aku tidak mau diperhamba oleh suatu apa pun”). Kata “diperbudak” (LAI:TB) berarti “menguasai”, bnd. 7:4). Dengan kata lain, kita dapat memahami ayat 12b sebagai berikut: “segala sesuatu bagiku diperbolehkan (aku punya kuasa), tetapi aku tidak akan dikuasai oleh suatu apa pun”.

Nasihat Paulus ini merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Kita memang seringkali beranggapan bahwa kita bebas berpikir, bebas berekspresi, dan bebas bertindak, tetapi ketika kita tidak bisa mengontrol pikiran, ekspresi, dan tindakan kita, maka sesungguhnya kita telah menjadi budaknya, dan keinginan kita itu justru telah merampas kebebasan kita. Jadi, kebebasan kristiani adalah kebebasan dalam rangka membangun kehidupan dan kepentingan bersama.
  
Tubuh untuk Si-Apa? (ay. 13-14)
Di ayat 13-14, Paulus mengoreksi kesalahpahaman lain yang dipegang oleh jemaat Korintus, yaitu tentang tubuh. Mereka mengatakan bahwa “perut adalah untuk makan dan makan untuk perut, sedangkan dua-duanya akan dibinasakan oleh Allah” (ay. 13a). Maksudnya, jika semua hal yang berkaitan dengan materi (tubuh kita) akan dibinasakan, maka semua hal itu tidak terlalu penting. Semua itu tidak berpengaruh terhadap kerohanian kita maupun terhadap kekekalan. Implikasinya adalah bahwa keinginan terhadap seks dan tubuh juga dianggap tidak penting, sama seperti keinginan terhadap makanan dan perut yang tidak penting, maka berkembanglah ke arah tindakan yang buruk.

Makanan dan perut memang berkaitan dengan kebutuhan biologis, demikian juga dengan “seks”. Namun demikian, hal itu bukan berarti bahwa makanan, perut, dan seks (kebutuhan biologis) tidak penting sama sekali. Di sini Paulus meluruskan pola pikir yang salah ini.

Pertama, tubuh adalah untuk Tuhan (ay. 13b). Tubuh bukan hanya untuk sesuatu yang sifatnya sementara (tidak kekal), bukan hanya untuk sesuatu yang ragawi, misalnya makanan dan seks, tetapi untuk sesuatu yang memang kekal, yaitu untuk Tuhan. Implikasinya ialah bahwa kita tidak boleh membiarkan dosa menguasai tubuh kita, justru kita harus menggunakan tubuh ini untuk melayani Allah (Rm. 6:12-13).

Kedua, Tuhan adalah untuk tubuh (ay. 13c-14). Apa maksud dari ungkapan ini? Berdasarkan konteks yang ada, maka ungkapan ini tampaknya berhubungan dengan kebangkitan (ay. 14) dan penebusan (ay. 20). Kristus tidak hanya menebus roh atau jiwa kita, tetapi Dia juga menebus tubuh kita. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa tubuh kita pun akan dibangkitkan di akhir zaman (15:20-23; bnd. Rm. 8:11; Kol. 1:18). Allah yang membangkitkan Tuhan Yesus juga akan membangkitkan tubuh kita kelak (6:14). Poin tentang kebangkitan tubuh ini selanjutnya akan dibahas Paulus secara panjang lebar (15:51-54) ketika dia menegur sebagian jemaat yang tidak mempercayai kebangkitan orang mati (15:12).

Jikalau Allah dan Kristus sangat menghargai tubuh kita – yang dibuktikan dengan penebusan dan jaminan kebangkitan – maka kita pun seharusnya menghormati tubuh kita. Moroi khӧda zumangeda, demikianlah ungkapan populer Nias. Oleh sebab itu, kita harus menjaga tubuh ini dari semua dosa, terutama dari dosa-dosa yang langsung bersentuhan dengan tubuh kita tersebut, misalnya percabulan dengan pelacur (bnd. 6:18 “orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri”). Orang Kristen yang masih terjebak pada percabulan adalah orang-orang yang tidak menghargai tubuhnya padahal Tuhan sendiri menghargainya. Tuhan sudah melakukan segala sesuatu untuk tubuh kita (6:13c), bahkan sampai membelinya dan harganya telah lunas dibayar; saya kira kita sepantasnya juga memberikan tubuh kita untuk Dia, untuk memuliakan Allah kita itu (6:13b, 20).

Tema minggu ini (sebagaimana tertulis di perikopen BNKP) adalah “pengendalian diri terhadap teknologi”. Tema ini memang kurang memiliki hubungan langsung dengan teks khotbah, karena perkembangan teknologi pada zaman Paulus tidak seperti kemajuan saat ini. Namun demikian, perkembangan zaman dan teknologi dewasa ini telah melahirkan berbagai problematika dalam kehidupan manusia, terutama sehubungan dengan kebebasan yang hampir tanpa batas. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang yang menggunakan kemajuan teknologi untuk hal-hal yang destruktif, hal-hal yang dapat merusak diri sendiri, merusak sesama, merusak komunitas, bahkan merusak alam semesta. Atas nama kebebasan berekspresi misalnya, apalagi atas nama HAM, banyak orang yang tanpa filter menyebarkan berita bohong (hoax), ujaran kebencian, dan ungkapan-ungkapan provokatif (nyinyir) yang justru memecah belah dan menimbulkan konflik horizontal di tengah-tengah masyarakat kita. Banyak juga orang yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memuaskan keinginan dagingnya, antara lain pornografi dan pornoaksi, perselingkuhan, percabulan, kumpul kebo, dll. Dari waktu ke waktu, semakin banyak keluarga Kristen yang hancur karena penyalahgunaan kemajuan teknologi, semakin banyak pula orang Kristen yang relasinya satu terhadap yang lain menjadi rusak. Pada masa pandemi Covid-19 ini, kemajuan teknologi, terutama teknologi komunikasi, memang amat penting, tetapi penyalahgunaan kemajuan tersebut akan berakibat buruk bagi kehidupan umat manusia.

Oleh sebab itu, bijaklah, supaya kita memanfaatkan berbagai kemajuan itu untuk membangun kehidupan bersama, dan supaya kita tidak diperbudak oleh kemajuan dimaksud. Demikianlah seharusnya kebebasan kristiani di tengah-tengah kemajuan teknologi dewasa ini. Kita memang manusia bebas, tetapi ingatlah bahwa kebebasan kita haruslah dapat mendatangkan kebaikan bagi kehidupan bersama. Kita bebas untuk tidak bebas! 
(sumber gambar: https://www.warungsatekamu.org/2016/02/6-cara-pandang-baru-tentang-kebebasan/)




No comments:

Post a Comment

Apa yang ada di pikiranmu?

Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...