Saturday, December 8, 2012

Kedatangan Tuhan: Wujud Kesetiaan-Nya, Pemurnian Umat-Nya (Maleakhi 3:1-4)


Khotbah Minggu Adven II, 09 Desember 2012
Pdt. Alokasih Gulo

3:1   Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.
3:2   Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.
3:3   Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.
3:4   Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan menyaksikan banyaknya orang (terutama para pejabat pemerintah) yang mendapat hukuman karena berbagai kasus yang menimpa mereka, terutama kasus korupsi. Kita memang tidak tahu pasti bagaimana reaksi mereka ketika ‘harus’ menjalani hukuman, demikian juga reaksi mereka setelah bebas dari penjara. Tentu reaksi mereka tidaklah sama satu dengan yang lain, tergantung dari bagaimana setiap orang berefleksi pasca hukuman tersebut. Ada yang mencoba belajar dari pengalamannya itu dengan melakukan perubahan dan komitmen untuk hidup lebih baik ke depan; ada juga yang justru tidak peduli dengan hukuman yang pernah dijalaninya itu dan malah dengan semakin berani mengulangi perbuatannya itu. Karena keterbatasan konteks kita saat ini, saya tidak akan menguraikan di sini satu-persatu kemungkinan apa saja yang menggambarkan reaksi mereka.

Bagaimana dengan umat Tuhan, dhiorang Yehuda, ketika mereka mendapatkan hukuman dari Tuhan dengan mengalami pembuangan ke negeri orang? Bagaimana reaksi mereka setelah mereka kembali ke tanah mereka di Palestina? Apakah mereka mencoba berefleksi dan belajar dari kesalahan mereka, dan kemudian bertobat? Atau, apakah mereka justru semakin “menggila” dalam melakukan perbuatan yang tidak baik? Atau bagaimana?

Secara umum, pasca pembuangan itu orang Yahudi bereaksi secara ‘negatif’. Mereka mengalami kesusahan dan kemunduran rohani bahkan dalam berbagai aspek kehidupan yang lain. Mereka menjadi sinis, meragukan kasih dan janji Allah, menyangsikan keadilan-Nya dan tidak percaya lagi bahwa ketaatan kepada perintah Tuhan itu berguna. Seiring dengan memudarnya iman, maka pelaksanaan ibadah juga menjadi asal-asalan, bahkan cenderung menghinakan nama Tuhan. Mari kita lihat sejenak apa saja persoalan mendasar tersebut yang mengelilingi nas renungan kita hari ini.

1)      Praktik ibadah/persembahan kepada TUHAN
      - Fangaohasi Lowalangi : TUHAN tidak dihormati dan ditakuti (1:6), korban persembahan yang ditujukan untuk TUHAN dihinakan (1:12 dst). Pelaku utama dari perbuatan ini adalah para imam.
      - Fa lö ba dödö fawu’usa li khö Lowalangi (mengabaikan perjanjian dengan Allah). Pada intinya perjanjian dengan Allah pada satu sisi adalah kehidupan, dan pada sisi lain mesti diresponi oleh umat Tuhan dengan ketakutan kepada-Nya (2:5). Sayang sekali, umat TUHAN melanggar perjanjian itu dengan tidak takut kepada TUHAN, malah membuat umat TUHAN itu tergelincir ... (2:8-9). Pelaku utama dari kesalahan ini lagi-lagi para imam.
2)      Lalimo Lowalangi fe’era (menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, 2:13) : “air mata buaya”
3)      Tidak setia terhadap perkawinan mereka yang sah (2:14 dst).
4)      Ketidaksetiaan kepada Tuhan dan Berbagai Tindakan Ketidakadilan (3:5)

Itulah sebabnya Maleakhi mengajak para imam dan umat Tuhan untuk bertobat, kembali kepada Tuhan, dan menaati perjanjian dengan-Nya. Maleakhi mengingatkan bahwa Tuhan pasti datang dengan didahului oleh kedatangan utusan-Nya (3:1). Kedatangan Tuhan tersebut merupakan wujud dari kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya, dan pada saat yang sama kedatangan-Nya itu juga merupakan tindakan pemurnian umat-Nya (bnd. ilustrasi pemurnian dan pentahiran perak/emas di ayat 2). Tentu, dalam tindakan pemurnian/pentahiran itu ada proses yang harus berlangsung, dan bagi Maleakhi tidak ada seorang pun yang dapat mengelak dari proses itu. Hal ini juga mau mengatakan bahwa segala bentuk kenajisan umat Tuhan akan ditahirkan; dalam kerangka itulah hukuman Tuhan diberlakukan. Tujuannya apa? Ayat 3 dan 4 menjawabnya: “supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah”.

Tuhan datang untuk membuktikan bahwa Dia itu setia pada perjanjian-Nya, yaitu perjanjian keselamatan dan kehidupan bagi kita. Pada saat yang sama Tuhan datang untuk mentahirkan dan memurnikan kita, tentu dengan cara-Nya sendiri dan dengan segala konsekuensinya. Untuk apa? Menyenangkan hati Tuhan sendiri, itulah intinya! Wow, mulia betul ..., menyenangkan hati Tuhan; saya teringat sebuah lagu rohani “... menyenangkan-Mu hanya itu kerinduanku ...”. Pertanyaannya ialah bagaimana kita menyenangkan hati Tuhan selama ini? Atau, karena Tuhan pasti datang, bagaimana kita menyenangkan hati-Nya? Apakah perayaan kita menyenangkan hati Tuhan, atau jangan-jangan hanya menyenangkan “nafsu” kita sendiri? Apakah cukup dengan persembahan kita? Apakah cukup dengan berbagai persembahan melalui kegiatan diakonia karitatif itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini masih dapat diteruskan lagi menurut kedalaman refleksi kita di minggu-minggu adven ini. Hanya saja, perlu kita sadari bahwa Tuhan tidak dapat kita permainkan dengan persembahan yang kita berikan, dengan ibadah berbagai model, dengan air mata dan sejenisnya. Tuhan hanya meminta kita untuk setia, setia kepada-Nya, setia terhadap tugas dan tanggung jawab masing-masing, setia terhadap perkawinan, dan menjadi pelaku keadilan dalam segala aspek kehidupan.


Saturday, December 1, 2012

Janji dan Pengharapan Orang Percaya (Yeremia 33:14-16)

Bahan Khotbah Minggu Adven I, 2 Desember 2012
by. Pdt. Alokasih Gulo

33:14 “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda.
33:15 Pada waktu itu dan pada masa itu Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri.
33:16 Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka akan dipanggil: TUHAN keadilan kita!

Hari ini, tanggal 2 Desember 2012, kita mulai memasuki masa adven. Adven berasal dari bahasa latin “adventus”, yang berarti kedatangan, dan dalam konteks kekristenan adven berarti kedatangan Tuhan. Dalam hal ini, kita menantikan/merayakan kedatangan Tuhan Yesus yang telah lahir di bumi ini sekaligus menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam penantian itu kita mempersiapkan diri seutuhnya, merenungkan bagaimana kita telah diselamatkan oleh kasih Tuhan, dan bagaimana kita menjalani kehidupan kita di dunia ini. Untuk menolong kita melakukan perenungan itu, maka setiap minggu adven dilakukan penyalaan lilin, dan hari ini adalah lilin pertama. Lilin pertama ini disebut sebagai Lilin Pengharapan/Lilin Nubuat/Lilin Nabi (Minggu Pengharapan). Lilin Pengharapan ini mau menyatakan bahwa kedatangan Tuhan Yesus, atau yang pada zaman perjanjian lama lebih dikenal dengan sebutan Mesias, telah dinubuatkan oleh para nabi. Salah satu nabi yang menubuatkan kedatangan Mesias itu adalah nabi Yeremia.

Ini adalah suatu janji pengharapan bagi Yeremia sendiri, dan bagi bangsa Israel, terutama bangsa Yehuda, yang pada waktu itu sedang berada dalam situasi terpuruk, baik dalam aspek ekonomi, hukum, sosial-budaya, fisik, psikis, mental bahkan spiritual. Keterpurukan ini disebabkan oleh ketidakpedulian bangsa itu, terutama para pemimpinnya pada upaya perbaikan kehidupan bangsa dalam berbagai aspek tadi. Mereka tidak peduli pada keadilan dan kebenaran, bahkan tidak peduli pada teguran yang sering disampaikan oleh nabi Yeremia sendiri. Sementara itu bangsa-bangsa lain di sekitar mereka datang menyerbu dan menguasai Yehuda. Jadi, bangsa Yehuda pada zaman itu benar-benar bobrok, kesuraman menguasai mereka, dan ancaman menghampiri mereka dari segala penjuru. Kita bisa membayangkan bagaimana keadaan orang-orang yang hidup pada zaman itu. Dalam situasi seperti itulah Tuhan melalui nabi-Nya Yeremia menjanjikan suatu harapan, yaitu kehidupan masa depan yang jauh lebih baik, dan itu terjadi ketika Allah sendiri datang memulihkan bangsa-Nya. Allah tahu bahwa bangsa Yehuda membutuhkan pemulihan, dan pemulihan itu hanya dimungkinkan jika Allah sendiri yang mengerjakannya.

TUHAN dalam pemberitaan Yeremia ini menegaskan bahwa Ia pasti menepati janji-Nya. Apa saja janji yang hendak ditepati-Nya itu? Pemulihan apa saja yang hendak dilakukan-Nya?
-          Menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud àkepemimpinan bangsa Yehuda yang selama ini sangat jauh dari prinsip-prinsip keadilan akan segera dipulihkan oleh Tuhan, dan itu berasal dari keturunan raja Daud.
-          Melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri (Yehuda) à apa yang dirindukan oleh rakyat selama ini, yaitu keadilan dan kebenaran, akan dilaksanakan oleh Allah sendiri melalui pemimpin yang ditumbuhkan-Nya itu.
-          Membebaskan Yehuda àpembebasan dari penindasan para penguasa yang lalim, dari penindasan bangsa lain, dan dari keterpurukan.
-          Memberikan kehidupan yang tenteram bagi Yerusalem àtidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi intimidasi, tidak ada lagi kekuatiran, tidak ada lagi kegelisahan, tidak ada lagi keputusasaan; sebaliknya yang adalah rasa aman, rasa nyaman, feel at home, dan rasa damai.
Atas dasar itulah kemudian kaum Israel dan Yehuda akan dipanggil “TUHAN keadilan kita”.


Kita tentunya sudah pernah mengalami masa-masa sulit: dalam keluarga, dalam studi, dalam persahabatan, bahkan dalam kehidupan bergereja. Dalam kondisi yang sulit, dalam keadaan terjepit, secara manusiawi apa pun bisa dilakukan; percaya atau tidak, banyak orang yang berperilaku aneh akhir-akhir ini untuk menutupi suasana hatinya yang gundah-gulana, banyak orang yang pura-pura gila atau sakit ketika masalah terasa begitu berat membebani, banyak juga yang benaran gila ketika masalah datang silih berganti dan akhirnya membuatnya stres/depresi. Banyak remaja/pemuda yang bunuh diri karena broken-heart, banyak anak yang tidak terurus karena broken-home, banyak yang tidak fokus belajar lagi karena SMS-nya tidak dibalas oleh si-dia atau pesan FB-nya tidak ditanggapi, atau mungkin karena uang belanja yang belum dikirim oleh orangtua. Pada saat-saat pencobaan, pada saat-saat adanya tekanan, kita biasanya merindukan terjadinya hal-hal yang dahsyat atau pun mukjizat. Dalam situasi yang terjepit, kita kemungkinan mau melakukan apa pun, bahkan sekalipun hal itu salah. Dalam keadaan darurat, segala kemungkinan bisa saja kita lakukan, sekalipun mungkin membahayakan diri kita sendiri. Ketika kita diperhadapkan pada situasi yang sulit, bukan tidak mungkin kita bisa kehilangan pegangan dan harapan. Dalam situasi dan kondisi penyakit yang tidak menentu, kita bisa saja “kecewa” dengan Tuhan, dan mungkin berkata: “apa lagi Tuhan yang Engkau inginkan dariku? Katanya Engkau adalah Allah yang dahsyat, sumber mukjizat, tapi mana ….???”. Bukan tidak mungkin kita bisa saja alergi dengan hal-hal yang rohani! Di bawah tekanan, di bawah ancaman, di dalam kesulitan, di dalam penderitaan, di dalam kesesakan, di dalam kekecewaan (patah hati), di dalam kebingungan, dan dalam situasi yang tidak menentu, kita bisa saja menghalalkan segala cara, berbohong, pura-pura gila, tidak mau makan, berontak, pesimis, bahkan menghujat Tuhan pun bisa saja terjadi. Sdra/i, orang yang hidup tanpa pengharapan sesungguhnya sudah tidak memiliki hidup. Mereka yang sudah tidak punya pengharapan adalah mereka yang hidup dalam kehampaan, tidak mempunyai tujuan hidup, tidak memiliki semangat hidup, serta melihat hidup ini sebagai sesuatu yang membebani dan tidak berguna.

Namun, pada hari ini kita disemangati oleh Firman Tuhan, bahwa seburuk dan separah apapun kondisi dan situasi kita saat ini, Tuhan pasti mampu berkarya, Dia mampu memulihkan kita. Itulah pengharapan kita, dan kita percaya bahwa Tuhan pasti menepati janji-Nya itu. Pengharapan Kristen adalah sebuah pengharapan yang diletakkan kepada Tuhan, bahkan walaupun segala sesuatunya sudah nampak mustahil bagi manusia. Oleh sebab itu, pengharapan kita hanya ditujukan kepada Allah saja. Segala sesuatu yang kita miliki saat ini tidak dapat menjanjikan pengharapan yang kekal bagi kita. Pekerjaan atau jabatan apapun memang sangat penting, namun tidak dapat menjanjikan kedamaian dan ketenteraman bagi kita, bahkan seringkali pekerjaan atau jabatan itu menjadi masalah ketika kita menyalahgunakannya. Institusi pemerintah dan swasta, termasuk institusi pendidikan dan penegak hukum, juga tidak dapat memberi kita pengharapan yang sempurna dalam hal penegakkan kebenaran dan keadilan, bahkan seringkali institusi itu menjadi sumber ketidakbenaran dan ketidakadilan. Keluarga, teman-teman, rekan kerja, demikian juga kepandaian bahkan uang, tidak dapat menjanjikan sesuatu yang pasti bagi kita. Oleh sebab itu kita tidak dapat menaruh pengharapan kita sepenuhnya di atas semuanya itu. Tetapi Tuhan itu setia terhadap janji-Nya dan Dia berkuasa melaksanakan janji-Nya.

Menantikan kedatangan Tuhan berarti menanti janji-Nya; menanti janji-Nya berarti hidup dalam pengharapan, atau seperti judul salah satu buku: “bergumul dalam pengharapan” (struggling in hope). Dan pengharapan kita ialah bahwa Tuhan akan melaksanakan kebenaran dan keadilan di negara kita ini, secara khususnya di kota Gunungsitoli dan kepulauan Nias tercinta (bnd. ay. 15b).

Monday, November 26, 2012

Apakah nama saya sudah tercatat dalam kitab kehidupan? (Wahyu 20:11-15)

Siapakah yang tercatat namanya dalam kitab kehidupan? Bagaimana supaya kita juga tercatat namanya? Ukurannya apa? Bagaimana ciri-ciri orang yang telah mulai tercatat namanya? Setiap saat petugas surgawi melakukan pendataan terhadap seluruh penduduk atau umat manusia, menuliskan siapa saja yang dilayakkan tercatat dalam stambuk surgawi (kitab kehidupan). Ibarat pendataan orang yang mendapat bantuan rumah. Sekali pun rumahnya telah roboh, tetapi kalau dia belum tercatat atau terdata dalam daftar, maka dia tidak akan mendapat bantuan rumah dimaksud. Tentu ada beberapa persyaratan tertentu yang harus dipenuhi supaya namanya masuk dalam daftar penerima bantuan rumah (atau gedung gereja kita). Misalnya: akta tanah (surat keterangan bahwa tanahnya tidak sedang bermasalah), dan masih ada syarat-syarat lokal tertentu. Artinya, robohnya rumah tidak secara otomatis menjadikan rumah itu dibangun oleh BRR. Demikian juga halnya dengan pendataan kitab kehidupan. Memang penekanan bukan pada syarat-syaratnya, sebab pendataan itu tidak mempunyai syarat seperti sering kita bayangkan. Yang mau saya katakan di sini adalah bahwa identitas sebagai orang Kristen, sebagai hamba Tuhan, dll, tidak otomatis menjamin bahwa kita sudah tercatat dalam kitab kehidupan.

Setiap tindakan kita dicatat/ditulis setiap saat oleh juru tulis Allah, entah perbuatan/tindakan baik ataupun yang tidak baik. Berdasarkan yang tercatat itulah kita diseleksi, apakah masuk dalam kerajaan surga atau tidak. Tidak ada pengecualian, yang mati, yang masih hidup, bahkan yang mati di laut, yang tubuhnya terpisah-pisah ketika mati, tetap harus mendapat penghakiman menurut perbuatan masing-masing.

Tidak dipungkiri bahwa banyak orang yang tidak sempat tercatat namanya dalam kitab kehidupan, karena belum sempat memanfaatkan waktu hidupnya untuk kebajikan dan kemuliaan Tuhan. Kita seringkali ribut ketika dalam posisi tertentu di dalam gereja nama kita tidak tercatat, tetapi kita tidak pernah bertanya dan merenungkan “apakah nama saya ada dalam kitab kehidupan?” Mereka yang sudah mati tidak mungkin mengulangi lagi proses kehidupan mereka untuk berupaya mendapatkan formulir isian masuk kitab kehidupan, kita juga yang hidup tidak mungkin lagi memperjuangkan supaya nama mereka tercatat, sebab itu bukan hak kita lagi; dan lagi pula kita juga sedang sibuk dan bersusah payah mendapatkan formulir isian dimaksud.

Adakah kemungkinan nama kita tidak tercatat dalam kitab kehidupan itu? Ada!
Alasan utamanya ialah kegagalan kita bertahan hidup di tengah gelombang kehidupan yang sarat dengan kebobrokan ini, sarat dengan penderitaan, sarat dengan kenikmatan duniawi, sarat dengan berbagai pengaruh duniawi, dlsbg. Peristiwa perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke tanah Kanaan, hanya dua orang yang sampai di tanah perjanjian itu, Kaleb dan Yosua. Banyak yang mati di tengah jalan, dipagut ular, ditelan tanah, dimakan api dari TUHAN, bahkan banyak yang mati kekenyangan. Mengapa? Karena harapan masa depan telah hilang dari pandangan mata iman mereka. Demikian juga kita, ketika harapan masa depan itu kehilangan dari mata hati atau mata iman kita, yakinlah bahwa sekecil apa pun godaan duniawi kita pasti tersesat dan gagal mengatasinya. Sebaliknya, sebesar apa pun godaan duniawi, bahkan penderitaan dan kematian sekali pun, kalau kita tetap memandang terus pada pengharapan surgawi itu, kita tidak akan tersesat/gagal.

Bagaimana Susahnya Anda?

Suatu hari ada teman yang sudah biasa mengangkat semen, biasanya satu sampai dua zak
Dia berkata kepadaku bahwa semakin lama dia mengangkat semen itu semakin berat. Lalu dia bertanya“Menurutmu berapa kira-kira berat semen itu?”
Lalu saya pun menjawab “sekitar 50 kilogram”.
Dia pun kemudian berkata, “Ini bukanlah masalah berat sobat, tapi tergantung berapa lama saya mengangkatnya.
Jika saya mengangkatnya selama satu menit, tidak ada masalah.
Jika saya mengangkatnya selama tiga puluh menit, bahu saya sudah pegal.
Dan jika saya terus mengangkatnya selama setengah hari saja, mungkin saya akan pingsan.
Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya mengangkatnya, bebannya akan semakin berat rasanya.
Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah meletakkan semen tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.”

Seringkali tanpa disengaja kita membawa beban hidup kita terus-menerus. Akibatnya, setiap hari kita cenderung merasa susah, kuatir, bahkan stres karena beban-beban itu rasanya menekan kita. Beban itu pun akan semakin berat karena kita cenderung mengkuatirkan hari-hari esok.
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak menanggung kesusahan hari esok, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Bahkan Tuhan sendiri meminta kita untuk menyerahkan segala beban yang kita tanggung kepada-Nya.

Cara memecahkan masalah adalah bukan dengan mempersoalkannya, tetapi bagaimana menyelesaikannya.

Matius 6:34
Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.
Tuhan Yesus Menyertai
dan
Memberkatimu

Saturday, November 24, 2012

Mau Hancur? Atau Mau Langgeng? Libatkan Tuhan! (Mazmur 2:1-6)

Bahan PA Minggu, 25 Nopember 2012
Pdt. Alokasih Gulo

2:1       Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
2:2       Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya:
2:3       "Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!"
2:4       Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka.
2:5       Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya:
2:6       "Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!"


Mazmur ini dapat disebut sebagai mazmur kerajaan. Hal ini terlihat dari adanya semacam pertentangan yang ditampilkan sedemikian rupa antara para raja dan bangsa lain dengan TUHAN yang dalam hal ini dapat diartikan sebagai raja dan bangsa Israel. Sebagai suatu mazmur kerajaan, maka raja umat TUHAN ditampilkan sebagai pilihan TUHAN sendiri, sedangkan para raja dan bangsa lain yang sesungguhnya lebih merupakan lawan umat TUHAN (atau raja pilihan TUHAN) akan berhadapan dengan TUHAN. Tentu, hasil akhirnya sudah diketahui, yaitu bahwa para bangsa dan raja lain itu akan kalah.

Ayat 1-3 berbicara mengenai pemberontakan bangsa-bangsa, sayang sekali, tidak ada petunjuk yang jelas tentang bangsa-bangsa dimaksud. Pemazmur mempertanyakan “keriuhan” bangsa-bangsa lain dalam upaya mereka melawan dan memberontak kepada TUHAN serta orang yang diurapi-Nya (dhi raja Israel). Hal ini menjelaskan bahwa perlawanan kepada orang pilihan TUHAN sama artinya melawan TUHAN sendiri; sungguh suatu upaya “legitimasi kekuasaan”, atau mungkin juga bentuk kepasrahan terhadap TUHAN. Bagi pemazmur, apapun, siapapun, dan bagaimanapun mufakat bangsa-bangsa dalam melawan TUHAN, hanyalah suatu kesia-siaan saja.

Ayat 4-6 mengungkapkan reaksi TUHAN Allah atas rencana bangsa-bangsa untuk melawan-Nya. Disebutkan bahwa TUHAN justru tertawa dan mengolok-olok mereka. Allah tidak pusing, tidak bingung, tidak takut, tidak merasa terancam, tidak kuatir, dlsbg; sebaliknya TUHAN mempermalukan bangsa-bangsa yang hendak melawan dan memberontak terhadap-Nya; Ia justru membuat mereka jatuh. Setiap bangsa, bahkan setiap orang yang berencana dan bermufakat melawan kehendak Allah, pasti akan gagal, karena rencana dan mufakat itu mencerminkan keangkuhan mereka, dan keangkuhan itu sendiri yang menggagagalkan mereka. Akhirnya, pemazmur menegaskan bahwa raja yang sedang berkuasa di Sion adalah raja pilihan TUHAN, raja yang diurapi-Nya. Jelas sekali bahwa pemazmur menekankan “keterlibatan” Allah dalam keberhasilan ke-raja-annya. Dalam arti tertentu, nas ini dapat mencerminkan suatu upaya “legitimasi kekuasaan raja” Israel yang pada zaman itu sering berhadapan dengan aneka pemberontakan dan ancaman baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri (bangsa-bangsa lain).

Teks ini menggambarkan paling tidak tiga hal penting:
1)      Pertentangan (permusuhan) antara raja (dan bangsa) “pilihan” TUHAN dengan raja (dan bangsa) lain. Pertentangan antar bangsa pada zaman itu seringkali dipahami sebagai pertentangan antar tuhan.
2)      Kecenderungan raja (bangsa) lain untuk menunjukkan keangkuhannya terhadap raja (bangsa) pilihan TUHAN, bahkan hingga melawan TUHAN sendiri. Inilah sumber utama kegagalan raja (bangsa) lain.
3)      Kerinduan raja (bangsa) pilihan TUHAN untuk merasa “rendah diri” berhadapan dengan raja (bangsa) lain itu, dan karenanya berserah penuh kepada TUHAN. Kerinduan dan kepasrahan ini juga menunjukkan upaya raja/bangsa pilihan TUHAN itu untuk mempertahankan eksistensi ke-raja-an pilhan TUHAN dimaksud. Inilah kunci keberhasilan raja (bangsa) pilihan TUHAN.

Orang yang (mengaku) percaya kepada Tuhan sering “menghakimi” kelompok ateisme sebagai kelompok yang harus dibuang, dihukum, disingkirkan, dlsbg, walaupun pilihan mereka menjadi ateis itu sesungguhnya sama berharganya dengan pilihan kita untuk (mengaku) percaya kepada Tuhan. Mengapa? Karena kelompok ateisme dicap sebagai kelompok yang “melawan/memberontak” kepada Tuhan, dan karenanya Tuhan harus dibela.

Mari kita renungkan sejenak! Perlawanan/pemberontakan kepada Tuhan pada zaman sekarang tampil dalam berbagai bentuk, dan tidak dapat dituduhkan secara sepihak kepada kelompok yang menganut paham ateisme, atau kelompok yang berbeda pengajaran dengan kita. Kita, sebagai orang yang (mengaku) percaya kepada Tuhan, dapat saja suatu saat melawan/memberontak kepada Tuhan dengan aneka cara, wujud, dan metode. Ketika kita mengandalkan kemampuan yang kita miliki dalam hidup ini, merendahkan sesama kita, dan mengabaikan Tuhan, sesungguhnya pada saat itu kita sedang melawan dan memberontak kepada Tuhan. Kebanggaan berlebihan dan keangkuhan adalah bentuk nyata perlawanan dan pemberontakan kepada Tuhan pada zaman sekarang; dan pada saat itu sebenarnya kita menuju pada kehancuran.

Sekarang, mau langgeng? Libatkan Tuhan! Hanya dengan “melibatkan” Tuhan segala rencana, tindakan, mufakat, dlsbg, dapat membuahkan hasil. Melibatkan Tuhan yang dimaksud di sini tentunya dalam pengertian positif. Melibatkan Tuhan berarti dalam kerendahan hati menyadari dan mengakui kelemahan atau keterbatasannya, dan karenanya bersandar penuh pada Tuhan. Apakah kita mau kehidupan rumah tangga kita bertahan? Libatkan Tuhan! Karir/pekerjaan/usaha berumur panjang? Libatkan Tuhan! Studi, rencana, kebersamaan, dll, berhasil? Libatkan Tuhan!

Sunday, November 18, 2012

Bijak Mengarungi Gelombang Kehidupan (Daniel 12:1-3)

Jemaat BNKP Gada, Minggu, 18-11-2012
Yehezkiel 36:25-31; Ibrani 10:19-25; Daniel 12:1-3; Daniel 12:3
BZ: 12, 289, 292, 295


12:1   Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu.
12:2   Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.
12:3   Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.

Siapa di antara kita yang mau bebas dari berbagai tantangan hidup? (Hadia so zomasi ba gotaluada andre ma’ökhö na mutayaigö manö ngawalö wolohi?). Siapa di antara kita yang mau supaya segala bentuk badai kehidupan dapat berakhir dan tidak pernah datang lagi? (Haniha zomasi ena’ö lö hadöi sa’ae ngawalö wanandraigö, fökhö, famakao, btn ba wa’auri andre? Haniha zomasi ena’ö böi tohare sa’ae ngawalö wanandraigö ba folohi andrö?) Hadia fetua ma lala nitörö? Mate!  Mangifi!

Fatua so ita ba gulidanö andre, ba lö manö irai fabali khöda nifotöi folohi, fa’amarase, famakao, fondröni dödö, btn. Selagi kita hidup di dunia ini, badai kehidupan tidak akan pernah meninggalkan kita, masalah tidak akan pernah berhenti. Dia selalu datang dalam berbagai bentuk, wujud, dan cara! Persoalannya bukan bagaimana menghentikan atau mengakhiri segala macam badai, pencobaan, kesesakan (famakao) atau masalah itu, melainkan bagaimana kita sebagai umat percaya memahami, menyikapi atau menanggapi semuanya itu. Kalau demikian, bagaimana kita seharusnya memahami, menyikapi atau menanggapinya? Sebelum menjawab pertanyaan ini, maka mari kita lihat sejenak konteks perikop ini.

Dulu, umat Tuhan, secara khusus Daniel dkk, berada dalam pergumulan yang luar biasa karena berbagai tantangan yang mengancam mereka, tantangan yang hendak menghancurkan bangsa mereka, tantangan yang memaksa mereka untuk meninggalkan iman mereka kepada Tuhan Allah. Daniel dan kawan-kawan menghadapi risiko kehilangan jabatan, bahkan mengancam kehidupan mereka, baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa atau umat Tuhan. Di tengah situasi yang seperti itu, di tengah puncak pergumulan mereka itu, Tuhan melalui Daniel menjanjikan suatu harapan, yaitu bahwa kerajaan duniawi yang tidak memberi kenyamanan dan keamanan bagi mereka itu akan diganti dengan kerajaan Allah yang kekal, dan Allah sendiri yang memimpinnya. Karenanya, perikop ini mendorong pembaca untuk tetap menempuh jalan hikmat dan kebenaran, sekalipun dihina atau dibunuh, karena kehinaan sekarang akan diganti dengan kemuliaan ketika kerajaan Allah terwujud.

Nah, kembali ke pertanyaan tadi, bagaimana kita seharusnya memahami, menyikapi atau menanggapi berbagai tantangan dalam hidup ini? Bagaimana kita menjalani gelombang kehidupan ini? Perikop ini secara sederhana tetapi mendalam hendak mendorong umat Tuhan, baik dulu maupun sekarang, untuk menjadi bijak dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan, godaan, ancaman, dlsbg. Menjadi bijak menurut perikop ini berarti “hidup bergantung pada Tuhan Sang Pemimpin Kerajaan Allah, kemudian cerdik, cermat, jeli, dan hati-hati”. Orang bijak akan bercahaya, akan mendapat hidup yang kekal, baik mereka yang masih hidup saat ini, maupun mereka yang sudah meninggal (telah tidur di dalam debu tanah, ay. 3). Hanya orang bijak yang namanya didapatkan dalam kitab kehidupan. Mengapa? Karena orang bijak itu mampu menjalani kehidupannya seturut dengan kehendak Allah sekali pun ada banyak tantangan, godaan, bahkan ancaman dalam hidupnya. Orang bijak tidak akan pernah meninggalkan Tuhan Allahnya dalam situasi apa pun, tidak pernah memperjualbelikan kebenaran, dan malah menuntun orang lain kepada kebenaran (lö ifaelungu nawönia, lö idönisi nawönia ba zi lö sökhi). Sebaliknya, orang yang tidak bijak menjalani kehidupan dengan aneka tantangan ini,  akan mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal, baik mereka yang masih hidup saat ini maupun mereka yang sudah meninggal (telah tidur di dalam debu tanah, ay. 3). Baik orang yang bijak menjalani kehidupannya, maupun yang tidak, pada akhirnya sama-sama mendapat bagian pada kesudahan zaman. Daniel sendiri mendapat bagiannya kelak (Dan. 12:13). Hanya, bagian masing-masing pasti berbeda, pilihan ada di tangan kita masing-masing.

Kepada si(apa)kah manusia dewasa ini sering menggantungkan hidup, masa depan, karir, dlsbg?
·         Materi (uang, tanah, harta milik, usaha, dlsb)
·         Jabatan
·         Kenalan (keluarga, sahabat, rekan, dlsb)
·         Fisik
Banyak orang yang berlindung di balik semua ini. Bahkan kita sering melihat dan memperlakukan sesama kita berdasarkan pada hal-hal di atas, bukan pada keberadaannya sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Nias, terutama kota Gunungsitoli, sudah banyak berubah. Kita dapat melihat bagaimana perkembangan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi saat ini, suatu perubahan yang sebenarnya patut disyukuri. Namun, di samping kemajuan itu semua, ternyata muncul juga suatu gaya hidup baru, gaya hidup yang sangat jauh berbeda dengan gaya hidup sebelum terjadinya gempa bumi di Nias. Gaya hidup dimaksud antara lain yaitu gaya hidup “mewah” dan mementingkan “gengsi”, konsumtif dan instant, berorientasi uang, materialistis dan individualistis, berkurangnya rasa solidaritas dan kekeluargaan, serta kurangnya kepedulian terhadap kegiatan adat dan gereja. Berbagai jenis kejahatan juga merebak, antara lain: pencurian, penculikan, judi, miras dan narkoba. Pergaulan bebas dan praktik pelacuran – termasuk di kalangan anak-anak sekolah – sudah menjadi rahasia umum. Kawin kontrak, poligami, perselingkuhan, dan perceraian, yang merupakan sesuatu yang sangat langka di Nias sebelum gempa, sekarang sudah menyebar mulai dari kota hingga ke pedalaman (desa). Banyak keluarga yang berantakan, dan dililit hutang (terutama karena judi dan alkoholisme). Penampilan lebih diutamakan, susah diatur, tidak peduli dengan sekolah, tidak peduli dengan orangtua dan keluarga.

Pada zaman sekarang, banyak orang rela melakukan apa saja demi mempertahankan nyawanya, malah demi sebuah jabatan banyak orang “menjual’ keyakinan dan prinsip hidupnya. Bagaimana mau bercahaya sebagai pemegang jabatan jika kita tidak “berjalan lurus”. Betapapun tuntunan zaman dan tekanan kebutuhan mendesak, kita mesti tetap berjalan lurus dan tinggal dalam iman kepada Kristus, walaupun berisiko nyawa kita.  Dalam situasi perkembangan zaman sekarang inilah kita mesti bijak menanggapinya, hati-hati, dan hidup bergantung kepada Tuhan. Kita memang mesti menyesuaikan diri dengan zaman ini, namun jangan sampai terbawa arus yang pada akhirnya mematikan kehidupan kita sendiri.

Saturday, November 17, 2012

Mazmur 146:1-10

Mazmur ini diawali dengan pujian pribadi sang pemazmur kepada TUHAN Allah (ay. 1-2), dan diakhiri dengan pujian pengakuan tentang kekekalan kekuasaan TUHAN sebagai Raja (ay. 10). Pujian ini sekaligus ajakan kepada kita untuk memuji TUHAN Allah, dan peringatan untuk tidak berharap pada para penguasa duniawi dan sejenisnya.

Mengapa kita diajak untuk tidak bergantung atau tidak menggantungkan hidup kepada para penguasa, anak manusia? Karena mereka tidak mampu menyelamatkan kita, kalau pun misalnya mereka bisa “menyelamatkan” maka itu tidak selamanya, toh mereka juga suatu saat “berakhir”, mati, kembali ke tanah, dan rencana/maksud mereka sendiri berakhir. Jadi, untuk apa menggantungkan hidup, menggantungkan masa depan kepada sesuatu atau seseorang yang pada akhirnya binasa sendiri? Bukankah itu suatu kebodohan? Bukankah itu suatu tindakan yang gegabah?
                Kepada si(apa)kah manusia dewasa ini sering menggantungkan hidup, masa depan, karir, dlsbg?
·         Materi (uang, tanah, harta milik, usaha, dlsb)
·         Jabatan
·         Kenalan (keluarga, sahabat, rekan, dlsb)
·         Fisik
·         dsb
Banyak orang yang berlindung di balik semua ini. Bahkan kita sering melihat dan memperlakukan sesama kita berdasarkan pada hal-hal di atas, bukan pada keberadaannya sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Sekarang, pemazmur mengajak kita untuk menggantungkan hidup dan masa depan pada TUHAN Allah Yakub. Kita tahu bahwa Yakub dulu sering berada dalam situasi yang kritis, hampir tidak ada titik cerah untuk harapan dan masa depan (mis. ancaman kakaknya Esau, kesulitan di rumah pamannya Laban, bahaya yang selalu mengancam dalam pelarian, ketegangan antara kedua istrinya sampai dia harus bersetubuh dengan para pembantunya karena tuntutan isterinya, bahaya pada masa tuanya ketika anaknya Dina diperkosa misalnya hingga kepergiannya ke tanah Mesir, dlsbg). Namun, pada akhirnya, Yakub bisa melalui itu semua karena pertolongan Tuhan. Tuhan yang seperti inilah yang menurut pemazmur dapat memberikan pertolongan, kehidupan, dan masa depan yang terjamin.
Alasan penting lainnya mengapa kita seharusnya menggantungkan hidup pada TUHAN Allah Yakub itu adalah karena Dia itu pemilik, penguasa, dan sumber segala sesuatu dalam hidup ini (antara lain: menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya), Dia itu setia (tidak seperti penguasa yang hanya nampak setia ketika dia membutuhkan kita, bandingkan misalnya Jokowi yang memang untuk saat ini sangat baik, tetapi dari sudut kesetiaan, Jokowi tidak setia terhadap janjinya untuk menjadi walikota Solo sampai akhir masa jabatannya), kesetiaan Tuhan itu tidak dikondisikan, tidak dibuat-buat.
Selanjutnya, Allah yang oleh pemazmur patut kita puji dan jadikan sebagai tempat bernaung adalah Tuhan yang pro-keadilan dan kebenaran, berpihak kepada mereka yang tertindas, yang lapar, yang terpenjara, yang buta, yang berbeban berat atau yang terjatuh, orang asing, anak yatim (piatu) dan janda. Maka, sangat aneh kalau ada orang yang katanya mencintai Tuhan dan memuji-Nya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari selalu mengabaikan, menyepelekan, atau memandang sebelah mata orang-orang yang menurut ukuran dunia tidak memiliki si(apa)-si(apa). Karenanya, pemazmur menegaskan bahwa Tuhan Allah itu sangat menentang segala bentuk kefasikan. Jadi, pemazmur mengarahkan kita untuk tidak salah pilih, tidak salah tempat! Pertolongan, perlindungan, pengharapan, dan kehidupan yang sesungguhnya hanya ada di dalam Tuhan yang seperti ini, demikianlah kata pemazmur.
Akhirnya, pemazmur mengajak kita untuk menyuarakan pujian pengakuan bahwa TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya. Intinya: Pertolongan dari manusia : sementara, tidak tetap, tidak stabil, tergantung situasi à manusia fana à tidak aman dijadikan sebagai tempat bergantung, tempat berharap, tempat berlindung, dst; sedangkan Pertolongan dari Tuhan : tetap, abadi, tidak dipengaruhi oleh kondisi apa pun à kekal à aman dijadikan sebagai tempat bergantung, tempat berharap, tempat berlindung, dst.


Allah Memperhitungkan Iman sebagai Kebenaran (Roma 4:18-25)

Rancangan khotbah Minggu, 25 Februari 2024 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Ab...